RSS

Presecutor Princess

Gara-gara beberapa saat film Box Office diblokir dan referensi film Jepang yang recommended mulai sepi, akhirnya mulai hobi melototin drama Korea yang ternyata cukup menarik. Salah satu drama Korea yang bikin aku malas beranjak dari layar tv adalah PROSECUTOR PRINCESS.

Awalnya agak underestimate dengan nih film. Pemeran wanitanya (dalam film bernama Ma Hye Ri) menurutku biasa saja. Pemeran prianya (Seo In Woo diperankan oleh Park Shi Hoo) walaupun cakep banget tapi not my style daaah. Hahaha notabene dalam film maupun dalam kehidupan nyata aku lebih suka pria dewasa, berkaca mata, dll (uhuk…uhuk…). Tapi setelah beberapa episode kupelototin, banyak hal yang bisa diambil dalam drama ini.

Ma Hye Ri sebagai seorang jaksa dan Seo In Wo yang seorang pengacara memberikan pelajaran menarik buatku. Bagaimana dalam menganalisa suatu kasus banyak sisi yang harus diperhatikan. Apapun yang tampak belum tentu itu yang sebenarnya. Sebaik-baiknya orang belum tentu dia tidak salah dan seburuk-buruknya orang belum tentu dia bersalah. Informasi sebanyak-banyaknya dan tentunya harus dari banyak sudut sangat diperlukan karena kesalahan mengambil keputusan akan berakibat sangat fatal. Meskipun berbeda profesi, tapi hal itu juga diperlukan dalam pekerjaanku. Bagaimana caranya membuktikan seseorang itu benar atau salah, bukan semata-mata mencari kesalahan orang (seperti pendapat sebagian orang tentang pekerjaanku). Yang perlu dilakukan hanyalah “Always speak with the data and speak with the evidence…”

Sosok seorang Ma Hye Ri mengajarkan tentang sebuah independensi. Bagaimana seorang jaksa yang tetap memproses kasus pembunuhan yang membuat ayahnya sendiri menjadi tersangka. Sebuah sikap yang sangat menarik. Dalam drama ini terlihat betapa sukarnya mengambil keputusan antara profesionalisme dengan keluarga. Berat dalam kehidupan nyata, tapi setidaknya menunjukkan bahwa apa yang seharusnya dilakukan seperti itulah adanya.

Sosok Pengacara Seo In Woo, merupakan sebuah simbol ketulusan, ketegaran, dan sosok yang membuatku memberikan nilai “incredible”. Seorang anak yang hidup karena ingin membersihkan nama ayahnya yang dihukum dan akhirnya meninggal di penjara karena didakwa telah membunuh orang. Bagaimana seorang anak yang berjuang keras hidup di Amerika menjadi seorang pengacara dan menunggu puluhan tahun untuk kembali ke Korea demi tujuan tersebut. Beratnya hidup dan ketidakadilan ternyata tidak membuat seseorang kehilangan ketulusan dan kebaikan hati. Pola pikir yang bagus juga ditunjukkan dari sosok Pengacara Seo In Woo, bagaimana dia mengajarkan kepada Jaksa Ma Hye Ri dalam mengambil keputusan dalam pilihan yang berat. Jangan berfokus pada rasa bersalah karena kita membuktikan kejahatan orang (meskipun itu orang yang dekat atau mungkin orang yang kita sayangi) tapi berfokus pada seseorang yang dirugikan dan dampak buruk dari kejahatan tersebut.

Kalau dari kisah cinta mereka, hmmm mungkin umumnya seperti itu. Seorang wanita pada dasarnya memang membutuhkan pria yang bisa diandalkan. Meskipun seorang wanita seringkali selalu menginginkan pria yang disukainya tapi pada akhirnya akan menyadari bahwa pria yang dibutuhkan adalah pria yang selalu ada buat dia…

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 26, 2011 inci Kehidupan

 

Kita tidak Dipersiapkan untuk Berjalan di Jalan yang Selalu Mulus…

Flashback ke masa yang sudah terlewat, aku melihat jalan yang begitu bergelombang. Kerikil-kerikil tajam, lubang menganga, duri-duri bertebaran, dan banyak lagi yang lain tampak di sana. Ternyata seperti itulah jalan yang sudah kulewati. Bukankah itu dulu jalan yang enggan aku menjejakkan kaki? Ketakutan akan rasa sakit, keraguan dimana jalan itu berujung, kebingungan arah yang harus diambil, dan berbagai macam perasaan tidak menyenangkan. Tapi ternyata aku sudah berada di titik ini, titik dimana aku berhasil melewati itu…

Ahaaaa… Pasti setelah ini Tuhan akan memberiku jalan mulus. Aku tersenyum membayangkannya. Aku membayangkan aku akan melompat-lompat layaknya penari balet karena aku akan disodorkan jalan lurus yang tentu saja mudah untuk dijalani. Tapi ternyata tidak. Jalan di depan lebih beraneka ragam. Gunung terjal, lubang-lubang yang lebih dalam, bahkan jalanan licin yang membuatku tergelincir pun ada. Itulah jalan yang dipersiapkan Tuhan untukku. tapi itu tidak menghilangkan senyumanku. Tuhan, aku akan tersenyum. Meskipun aku tidak menjanjikan air mataku tidak akan jatuh, tapi aku berjanji aku akan memberikan senyumku pada akhirnya…

Bukankah intan yang begitu indah terbentuk dari proses yang sangat berat, begitu pula keramik indah tidak akan terbentuk tanpa ditempa panas yang sangat menyengat. Jadi, ketika jalan yang kita lewati bukan jalan yang begitu nyaman, yakinlah bahwa Tuhan sedang menyiapkan kita menjadi manusia yang begitu istimewa.  Seistimewa intan atau keramik yang selalu tampak indah…

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 8, 2011 inci Kehidupan

 

Perempuan Yang Dicintai Suamiku

Perempuan Yang Dicintai Suamiku

“Pesan” dahsyat buat para suami (dan calon suami) untuk menjaga istrinya…

Dan motivasi hebat buat para istri (dan calon istri) untuk tetap mencintai suaminya…

Kehidupan pernikahan kami awalnya baik2 saja menurutku. Meskipun menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario tampak baik dan lebih menuruti apa mauku. Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam dan pergi ke kantornya bekerja sampai subuh, baru pulang ke rumah, mandi, kemudian mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit, makannya pun sedikit. Aku pikir dia workaholic.

Dia menciumku maksimal 2x sehari, pagi menjelang kerja, dan saat dia pulang kerja, itu pun kalau aku masih bangun. Karena waktu pacaran dia tidak pernah romantis, aku pikir, memang dia tidak romantis, dan tidak memerlukan hal2 seperti itu sebagai ungkapan sayang.

Kami jarang ngobrol sampai malam, kami jarang pergi nonton berdua, bahkan makan berdua diluar pun hampir tidak pernah. Kalau kami makan di meja makan berdua, kami asyik sendiri dengan sendok garpu kami, bukan obrolan yang terdengar, hanya denting piring yang beradu dengan sendok garpu.

Kalau hari libur, dia lebih sering hanya tiduran di kamar, atau main dengan anak2 kami, dia jarang sekali tertawa lepas. Karena dia sangat pendiam, aku menyangka dia memang tidak suka tertawa lepas. Aku mengira rumah tangga kami baik2 saja selama 8 tahun pernikahan kami. Sampai suatu ketika, di suatu hari yang terik, saat itu suamiku tergolek sakit di rumah sakit, karena jarang makan, dan sering jajan di kantornya, dibanding makan di rumah, dia kena typhoid, dan harus dirawat di RS, karena sampai terjadi perforasi di ususnya.

Pada saat dia masih di ICU, seorang perempuan datang menjenguknya. Dia memperkenalkan diri, bernama meisha, temannya Mario saat dulu kuliah. Meisha tidak secantik aku, dia begitu sederhana, tapi aku tidak pernah melihat mata yang begitu cantik seperti yang dia milii. Matanya bersinar indah, penuh kehangatan dan penuh cinta, ketika dia berbicara, seakan2 waktu berhenti berputar dan terpana dengan kalimat2nya yang ringan dan penuh pesona. Setiap orang, laki2 maupun perempuan bahkan mungkin serangga yang lewat, akan jatuh cinta begitu mendengar dia bercerita.

Meisha tidak pernah kenal dekat dengan Mario selama mereka kuliah dulu, Meisha bercerita Mario sangat pendiam, sehingga jarang punya teman yang akrab. 5 bulan lalu mereka bertemu, karena ada pekerjaan kantor mereka yang mempertemukan mereka. Meisha yang bekerja di advertising akhirnya bertemu dengan Mario yang sedang membuat iklan untuk perusahaan tempatnya bekerja.

Aku mulai mengingat 2-5 bulan lalu ada perubahan yang cukup drastis pada Mario, setiap mau pergi kerja, dia tersenyum manis padaku, dan dalam sehari bisa menciumku lebih dari 3x. Dia membelikan aku parfum baru, dan mulai sering tertawa lepas. Tapi di saat lain, dia sering termenung di depan komputernya. Atau termenung memegang Hp-nya. Kalau aku tanya, dia bilang, ada pekerjaan yang membingungkan.

Suatu saat Meisha pernah datang pada saat Mario sakit dan masih dirawat di RS. Aku sedang memegang sepiring nasi beserta lauknya dengan wajah kesal, karena Mario tidak juga mau aku suapi. Meisha masuk kamar, dan menyapa dengan suara riangnya, “Hai Rima, kenapa dengan anak sulungmu yang nomor satu ini? tidak mau makan juga? uhh… dasar anak nakal, sini piringnya”, lalu dia terus mengajak Mario bercerita sambil menyuapi Mario, tiba2 saja sepiring nasi itu sudah habis ditangannya. Dan….aku tidak pernah melihat tatapan penuh cinta yang terpancar dari mata suamiku, seperti siang itu, tidak pernah seumur hidupku yang aku lalui bersamanya, tidak pernah sedetikpun!

Hatiku terasa sakit, lebih sakit dari ketika dia membalikkan tubuhnya membelakangi aku saat aku memeluknya dan berharap dia mencumbuku. Lebih sakit dari rasa sakit setelah operasi caesar ketika aku melahirkan anaknya. Lebih sakit dari rasa sakit, ketika dia tidak mau memakan masakan yang aku buat dengan susah payah. Lebih sakit daripada sakit ketika dia tidak pulang ke rumah saat ulang tahun perkawinan kami kemarin. Lebih sakit dari rasa sakit ketika dia lebih suka mencumbu komputernya dibanding aku.

Tapi aku tidak pernah bisa marah setiap melihat perempuan itu. Meisha begitu manis, dia bisa hadir tiba2,  membawakan donat buat anak2, dan membawakan ekrol kesukaanku. Dia mengajakku jalan2, kadang mengajakku nonton. kali lain, dia datang bersama suami dan ke-2 anaknya yang lucu2.

Aku tidak pernah bertanya, apakah suamiku mencintai perempuan berhati bidadari itu? karena tanpa bertanya pun aku sudah tahu, apa yang bergejolak dihatinya. Suatu sore, mendung begitu menyelimuti jakarta, aku tidak pernah menyangka, hatikupun akan mendung, bahkan gerimis kemudian.

Anak sulungku, seorang anak perempuan cantik berusia 7 tahun, rambutnya keriting ikal dan cerdasnya sama seperti ayahnya. Dia berhasil membuka password email Papanya, dan memanggilku, “Mama, mau lihat surat papa buat tante Meisha?”

Aku tertegun memandangnya, dan membaca surat elektronik itu,

Dear Meisha,

Kehadiranmu bagai beribu bintang gemerlap yang mengisi seluruh relung hatiku, aku tidak pernah merasakan jatuh cinta seperti ini, bahkan pada Rima. Aku mencintai Rima karena kondisi yang mengharuskan aku mencintainya, karena dia ibu dari anak2ku. Ketika aku menikahinya, aku tetap tidak tahu apakah aku sungguh2 mencintainya. Tidak ada perasaan bergetar seperti ketika aku memandangmu, tidak ada perasaan rindu yang tidak pernah padam ketika aku tidak menjumpainya. Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaannya.

Ketika konflik2 terjadi saat kami pacaran dulu, aku sebenarnya kecewa, tapi aku tidak sanggup mengatakan padanya bahwa dia bukanlah perempuan yang aku cari untuk mengisi kekosongan hatiku.  Hatiku tetap terasa hampa, meskipun aku menikahinya.

Aku tidak tahu, bagaimana caranya menumbuhkan cinta untuknya, seperti ketika cinta untukmu tumbuh secara alami, seperti pohon2 beringin yang tumbuh kokoh tanpa pernah mendapat siraman dari pemiliknya. Seperti pepohonan di hutan2 belantara yang tidak pernah minta disirami, namun tumbuh dengan lebat secara alami. Itu yang aku rasakan.

Aku tidak akan pernah bisa memilikimu, karena kau sudah menjadi milik orang lain dan aku adalah laki2 yang sangat memegang komitmen pernikahan kami. Meskipun hatiku terasa hampa, itu tidaklah mengapa, asal aku bisa melihat Rima bahagia dan tertawa, dia bisa mendapatkan segala yang dia inginkan selama aku mampu. Dia boleh mendapatkan seluruh hartaku dan tubuhku, tapi tidak jiwaku dan cintaku, yang hanya aku berikan untukmu. Meskipun ada tembok yang menghalangi kita, aku hanya berharap bahwa engkau mengerti, you are the only one in my heart.

yours,

Mario

Mataku terasa panas. Jelita, anak sulungku memelukku erat. Meskipun baru berusia 7 tahun, dia adalah malaikat jelitaku yang sangat mengerti dan menyayangiku. Suamiku tidak pernah mencintaiku. Dia tidak pernah bahagia bersamaku. Dia mencintai perempuan lain. Aku mengumpulkan kekuatanku. Sejak itu, aku menulis surat hampir setiap hari untuk suamiku. Surat itu aku simpan di amplop, dan aku letakkan di lemari bajuku, tidak pernah aku berikan untuknya.

Mobil yang dia berikan untukku aku kembalikan padanya. Aku mengumpulkan tabunganku yang kusimpan dari sisa2 uang belanja, lalu aku belikan motor untuk mengantar dan menjemput anak2ku. Mario merasa heran, karena aku tidak pernah lagi bermanja dan minta dibelikan bermacam2 merek tas dan baju. Aku terpuruk dalam  kehancuranku. Aku dulu memintanya menikahiku karena aku malu terlalu lama pacaran, sedangkan teman2ku sudah menikah semua. Ternyata dia memang tidak pernah menginginkan aku menjadi istrinya.

Betapa tidak berharganya aku. Tidakkah dia tahu, bahwa aku juga seorang perempuan yang berhak mendapatkan kasih sayang dari suaminya ? Kenapa dia tidak mengatakan saja, bahwa dia tidak mencintai aku dan tidak menginginkan aku ? itu lebih aku hargai daripada dia cuma diam dan mengangguk dan melamarku lalu menikahiku. Betapa malangnya nasibku.

Mario terus menerus sakit2an, dan aku tetap merawatnya dengan setia. Biarlah dia mencintai perempuan itu terus di dalam hatinya. Dengan pura2 tidak tahu, aku sudah membuatnya bahagia dengan mencintai perempuan itu. Kebahagiaan Mario adalah kebahagiaanku juga, karena aku akan selalu mencintainya.

**********

Setahun kemudian…

Meisha membuka amplop surat2 itu dengan air mata berlinang. Tanah pemakaman itu masih basah merah dan masih dipenuhi bunga.

“Mario, suamiku….Aku tidak pernah menyangka pertemuan kita saat aku pertama kali bekerja di kantormu, akan membawaku pada cinta sejatiku. Aku begitu terpesona padamu yang pendiam dan tampak dingin. Betapa senangnya aku ketika aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku mencintaimu, dan begitu posesif ingin memilikimu seutuhnya. Aku sering marah, ketika kamu asyik bekerja, dan tidak memperdulikan aku. Aku merasa di atas angin, ketika kamu hanya diam dan menuruti keinginanku… Aku pikir, aku si puteri cantik yang diinginkan banyak pria, telah memenuhi ruang hatimu dan kamu terlalu mencintaiku sehingga mau melakukan apa saja untukku…..

Ternyata aku keliru…. aku menyadarinya tepat sehari setelah pernikahan kita. Ketika aku membanting hadiah jam tangan dari seorang teman kantor dulu yang aku tahu sebenarnya menyukai Mario.

Aku melihat matamu begitu terluka, ketika berkata, “kenapa, Rima? Kenapa kamu mesti cemburu? dia sudah menikah, dan aku sudah memilihmu menjadi istriku?”

Aku tidak perduli,dan berlalu dari hadapanmu dengan sombongnya. Sekarang aku menyesal, memintamu melamarku. Engkau tidak pernah bahagia bersamaku. Aku adalah hal terburuk dalam kehidupan cintamu. Aku bukanlah wanita yang sempurna yang engkau inginkan.

Istrimu, Rima”

 

Di surat yang lain,

“………Kehadiran perempuan itu membuatmu berubah, engkau tidak lagi sedingin es. Engkau mulai terasa hangat, namun tetap saja aku tidak pernah melihat cahaya cinta dari matamu untukku, seperti aku melihat cahaya yang penuh cinta itu berpendar dari kedua bola matamu saat memandang Meisha……”

Disurat yang kesekian,

“…….Aku bersumpah, akan membuatmu jatuh cinta padaku. Aku telah berubah, Mario. Engkau lihat kan, aku tidak lagi marah2 padamu, aku tidak lagi suka membanting2 barang dan berteriak jika emosi. Aku belajar masak, dan selalu kubuatkan masakan yang engkau sukai. Aku tidak lagi boros, dan selalau menabung. Aku tidak lagi suka bertengkar dengan ibumu. Aku selalu tersenyum menyambutmu pulang ke rumah. Dan aku selalu meneleponmu, untuk menanyakan sudahkah kekasih hatiku makan siang ini? Aku merawatmu jika engkau sakit, aku tidak kesal saat engkau tidak mau aku suapi, aku menungguimu sampai tertidur disamping tempat tidurmu, di rumah sakit saat engkau dirawat, karena penyakit pencernaanmu yang selalu bermasalah…….

Meskipun belum terbit juga, sinar cinta itu dari matamu, aku akan tetap berusaha dan menantinya……..”

Meisha menghapus air mata yang terus mengalir dari kedua mata indahnya… dipeluknya Jelita yang tersedu-sedu disampingnya.

Disurat terakhir, pagi ini…

“…………..Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-9. Tahun lalu engkau tidak pulang ke rumah, tapi tahun ini aku akan memaksamu pulang, karena hari ini aku akan masak, masakan yang paling enak sedunia. Kemarin aku belajar membuatnya di rumah Bude Tati, sampai kehujanan dan basah kuyup, karena waktu pulang hujannya deras sekali, dan aku hanya mengendarai motor.

Saat aku tiba di rumah kemarin malam, aku melihat sinar kekhawatiran dimatamu. Engkau memelukku, dan menyuruhku segera ganti baju supaya tidak sakit.

Tahukah engkau suamiku, Selama hampir 15 tahun aku mengenalmu, 6 tahun kita pacaran, dan hampir 9 tahun kita menikah, baru kali ini aku melihat sinar kekhawatiran itu dari matamu, inikah tanda2 cinta mulai bersemi dihatimu ?………”

Jelita menatap Meisha, dan bercerita, “Siang itu Mama menjemputku dengan motornya, dari jauh aku melihat keceriaan diwajah mama, dia terus melambai-lambaikan tangannya kepadaku. Aku tidak pernah melihat wajah yang sangat bersinar dari mama seperti siang itu, dia begitu cantik. Meskipun dulu sering marah2 kepadaku, tapi aku selalu menyayanginya. Mama memarkir motornya di seberang jalan, Ketika mama menyeberang jalan, tiba2 mobil itu lewat dari tikungan dengan kecepatan tinggi…… aku tidak sanggup melihatnya terlontar,

Tante….. aku melihatnya masih memandangku sebelum dia tidak lagi bergerak……”.

Jelita memeluk Meisha dan terisak-isak. Bocah cantik ini masih terlalu kecil untuk merasakan sakit di hatinya, tapi dia sangat dewasa. Meisha mengeluarkan selembar kertas yang dia print tadi pagi. Mario mengirimkan email lagi kemarin malam, dan tadinya aku ingin Rima membacanya.

Dear Meisha,

Selama setahun ini aku mulai merasakan Rima berbeda, dia tidak lagi marah2 dan selalu berusaha menyenangkan hatiku. Dan tadi, dia pulang dengan tubuh basah kuyup karena kehujanan, aku sangat khawatir dan memeluknya. Tiba2 aku baru menyadari betapa beruntungnya aku memiliki dia. Hatiku mulai bergetar…. Inikah tanda2 aku mulai mencintainya?

Aku terus berusaha mencintainya seperti yang engkau sarankan, Meisha. Dan besok aku akan memberikan surprise untuknya, aku akan membelikan mobil mungil untuknya, supaya dia tidak lagi naik motor  kemana-mana. Bukan karena dia ibu dari anak2ku, tapi karena dia belahan jiwaku….

Meisha menatap Mario yang tampak semakin ringkih, yang masih terduduk disamping nisan Rima. Di wajahnya tampak duka yang dalam. Semuanya telah terjadi, Mario……

Kadang kita baru menyadari mencintai seseorang, ketika seseorang itu telah pergi meninggalkan kita.………………………………………

Sumber : Botefilia

Source deryudi

Shared By Kisah Penuh Hikmah

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Oktober 29, 2010 inci Kehidupan

 

Akhirnya, aku merasa sendiri lagi…

Hampir 6 bulan di Jakarta, sudah cukup banyak peristiwa yang terjadi. Peristiwa yang membuatku sadar, aku harus bisa bertahan disini dengan kekuatanku sendiri. Berusaha keras menekan perasaan untuk kembali berada di samping orang-orang yang kusayangi. Di sini semua serba abu-abu. Mengaburkan mataku dalam menilai orang-orang di sekelilingku…

Aku sempat menemukan seseorang yang cukup bisa kupercaya. Membuatku merasa tidak kesepian dan aku merasa punya saudara di sini. Tapi masa itu sudah terlewat. Akhirnya mataku terbuka. Aku salah menilai dia. Dan yang membuatku terlihat sangat tolol, orang-orang di sekelilingku sudah menyadari dia ibarat racun dalam kehidupanku. Jauh sebelum aku akhirnya tahu, wajah dan ucapan manisnya adalah penipu…

Bersamanya, aku merasa seperti tong sampah. Tiap hari, bahkan tiap saat sepertinya aku harus mendengar keluhannya. Keluhan yang menurutku berlebihan. Berharap sehari saja tidak mendengar keluhannya ibarat berharap turun hujan es di sini. Aku siap mendengarkan dan membantu orang lain sebisa mungkin, tapi mendengar keluhan sepele yang tiap saat dilontarkan membuatku berfikir ternyata ada juga orang seperti itu masih bisa hidup di dunia ini. Permasalahan sepele bisa membuat dia merasa paling menderita sedunia…

Bersamanya, aku juga merasa berada dalam kurungan. Menjauhkan aku dari banyak orang. Tiap aku menemukan seseorang yang cukup membuatku nyaman dan bisa kuajak berbagi, dia selalu menemukan cara untuk menjauhkan aku dari mereka. Mulai menjelek-jelekkan mereka hingga cara yang paling menjijikkan. Benar-benar cara orang yang gak punya harga diri. Jiaaaaaahhhhh!!! Parahnya lagi, dia begitu pandai meyakinkan orang-orang seolah-olah dia begitu menyayangiku. Tapi pelan-pelan dia menghancurkan aku…

Bersamanya, aku merasa teracuni dan racun-racun itu mulai mengalir dalam tubuhku. Otakku selalu dipenuhi dengan obrolan tentang kejelekan orang, tentang sebuah kebanggaan menjadi orang-orang paling diinginkan tanpa melihat status, dsb. Sesuatu yang paling kuherankan ternyata ada juga perempuan yang bisa mencintai dan berani membuat komitmen dengan banyak pria. Dan yang membuatku lebih heran, itu seolah-olah sebuah kebanggaan…

Tapi bersamanya… Aku banyak belajar. Aku menjadi tahu orang seperti apa yang kubutuhkan.
Orang yang bisa membesarkan hati ketika aku bersedih, bukan orang yang menjadi pesaing kita dengan sejuta kesedihannya yang seolah-olah berlebih…
Orang yang bisa mendinginkan pikiran saat aku dilanda amarah, bukan malah membabi buta menambahkan sesuatu yang memperbesar rasa marah…

Orang yang mengajarkan aku berani menghadapi masalah, bukan malah menambahkan ketakutan agar aku menyerah…

Dan itu bukan DIA…

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Oktober 15, 2010 inci Uncategorized

 

Puisi BJ Habibie

 

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu. Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya, dan kematian adalah sesuatu yang pasti, dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu. Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi. Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang. Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada, aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini. Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang, tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik. mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini. Selamat jalan, Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya, kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada. selamat jalan sayang, cahaya mataku, penyejuk jiwaku, selamat jalan, calon bidadari surgaku …. BJ.HABIBIE

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 23, 2010 inci Uncategorized

 

At My New Zone

Bertemu dengan banyak karakter baru… Diam, mengamati, lalu tersenyum dalam hati… Sangat menarik. Kumpulan orang-orang yang sibuk dengan urusan orang lain.  Membicarakan orang lain, timbul konflik, ada yang merasa terasingkan, ada pula yang mengeksklusifkan diri.

Hah… berputar-putar pada masalah yang sangat kekanak-kanakan. Aku merasa diriku belum dewasa, ternyata aku dikelilingi orang-orang yang jauh lebih tua tapi lebih tidak dewasa. Aku mencoba memasuki dunia itu dengan belajar sedikit ingin tahu tentang orang lain tapi aku jadi merasa aneh. Mungkin berlebihan, tapi jujur aku kurang bisa memasukkan dunia seperti itu dalam hidupku. Tampak biasa di luar, tapi dalam hati aku merasa tidak nyaman. Linda yang sebenarnya adalah Linda yang egois. Tidak ambil pusing dengan urusan orang lain. Aku tidak ingin orang lain terlalu ikut campur dengan urusanku maka aku membiasakan diri tidak mencampuri kehidupan orang lain.

Aku hidup bukan karena ucapan orang lain… Aku berhasil pun bukan atas persetujuan orang lain…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 24, 2010 inci Kehidupan

 

Doa…

Rabb…
Aku berdoa untuk seorang pria yang akan menjadi bagian dari hidupku
Seorang yang sungguh mencintai Mu lebih dari segala sesuatu
Seorang pria yang akan meletakkanku pada posisi kedua di hatinya setelah Engkau
Seorang pria yang hidup bukan untuk dirinya sendiri tetapi untuk Mu

Wajah tampan dan daya tarik fisik tidaklah penting
Yang penting adalah sebuah hati yang sungguh mencintai dan dekat dengan Engkau
Dan berusaha menjadikan sifat-sifat-Mu ada pada dirinya
Dan ia haruslah mengetahui bagi siapa dan untuk apa ia hidup sehingga hidupnya tidaklah sia-sia

Seseorang yang memiliki hati yang bijak tidak hanya otak yang cerdas
Seorang pria yang tidak hanya mencintaiku tapi juga menghormatiku
Seorang pria yang tidak hanya memujaku tetapi juga dapat menasehatiku ketika aku berbuat salah
Seseorang yang mencintaiku bukan karena kecantikanku tapi karena hatiku
Seorang pria yang dapat menjadi sahabat terbaikku dalam setiap waktu dan situasi
Seseorang yang dapat membuatku merasa sebagai seorang wanita ketika aku di sisinya

Rabb…
Aku tidak meminta seseorang yang sempurna, namun aku meminta seseorang yang tidak sempurna
Sehingga aku dapat membuatnya sempurna di mata Mu
Seorang pria yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya
Seorang pria yang membutuhkan doaku untuk kehidupannya
Seseorang yang membutuhkan senyumku untuk mengatasi kesedihannya
Seseorang yang membutuhkan diriku untuk membuat hidupnya menjadi sempurna

Rabb…
Aku juga meminta buatlah aku menjadi wanita yang dapat membuatnya bangga
Berikan aku hati yang sungguh mencintai Mu sehingga aku dapat mencintainya dengan sekedar cintaku
Berikanlah sifat yang lembut sehingga kecantikanku datang dari Mu
Berikanlah aku tangan sehingga aku selalu mampu berdoa untuknya
Berikanlah aku penglihatan sehingga aku dapat melihat hal baik dan bukan hal buruk dalam dirinya
Berikanlah aku lisan yang penuh dengan kata-kata bijaksana
Mampu memberikan semangat serta mendukungnya setiap saat, dan tersenyum untuk dirinya setiap pagi

Dan bilamana akhirnya kami akan bertemu, aku berharap kami berdua dapat mengatakan:
“Betapa Maha Besarnya Engkau karena telah memberikan kepadaku pasangan yang membuat hidupku menjadi sempurna”
Aku mengetahui bahwa Engkau ingin kami bertemu pada waktu yang tepat
Dan Engkau akan membuat segala sesuatunya indah pada waktu yang telah Engkau tentukan

Note : Sebuah doa indah yg kubaca dari undangan seorang sahabat…

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Mei 15, 2009 inci Kehidupan

 

Dia yang kucinta

Dia yang kucinta adalah dia yang kuharapkan…
Dia yang kucinta adalah dia yang kehadirannya kubutuhkan…
Dia yang kucinta adalah dia yang selalu datang dalam mimpiku setiap malam…
Dia yang kucinta adalah dia yang kusayang dengan segenap perasaan…
Dan,
Dia yang kucinta adalah dia yang selalu mengabaikan keberadaanku…
Dia yang kucinta adalah dia yang selalu menorehkan luka di hatiku…
Dia yang kucinta adalah dia yang membuatku meneteskan air mata…
Dia yang kucinta adalah dia yang sedikitpun tidak menginginkanku ada dalam pikirannya…
Dia yang kucinta adalah dia yang selalu menganggapku tidak pantas untuknya…
Dia yang kucinta adalah dia yang tidak pernah mau mengerti apa yang kurasa…
Tapi,
Dia yang kucinta tetap dia yang tercinta…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 23, 2009 inci Cinta

 

Seandainya kucing musnah dari muka bumi…

Seandainya itu benar2 terjadi, hal pertama yg kulakukan adalah sujud syukur. Akhirnya doaku dikabulkan. Hmm… Para pecinta kucing pasti akan berfikir aku gila. Emang iya. Aku bisa merasa kalo jiwaku agak terganggu berkaitan dengan makhluk yg satu itu. Sejak dulu dan aku tidak yakin akan bisa sembuh…
Banyak orang yg mengatakan kucing itu binatang kesayangannya Nabi Muhammad, jadi kita tidak boleh menyakiti. Aku jadi kebingungan. Jangankan menyakiti kucing, melihat saja aku bisa nightmare. Mungkin berlebihan, tapi ya itu phobia yang aku derita. Misalnya saja tadi malam, gara2 ngelihat Nirina bawa kucing di acara Bukan Empat Mata nya Tukul, tengah malam aku terbangun mendadak dan hampir histeris gara2 kakiku menyentuh selimutku yg memang aku lipat di bawah kakiku. Aku ngerasa selimutku tiba2 jadi seperti bulu kucing. Akhirnya sampai pagi aku tidak bisa tidur lagi..
Phobia ini sebenarnya sudah aku derita sejak usiaku 4 tahun. Gara2nya sepele. Ada kucing naik ke tempat tidurku dan kupeluk karena kukira guling. Sampe akhirnya aku sadar kalo itu bukan guling dan aku langsung menangis histeris. Hari itu juga badanku langsung demam sampai beberapa hari. Setiap sentuhan tiba2 dari orang2 di sekitarku membuatku ketakutan dan langsung pucat. Seakan-akan tubuh kucing yang menyentuhku…
Insiden terakhir tentang kucing terjadi di kosku. Karena lupa mengunci pintu balkon ada kucing masuk kamarku dan tidur di kakiku. Sejak itu aku sering tidak tenang kalo tidur malam…
Hmm… Dulu pernah berkonsultasi sama kakaknya temenku yang jadi psikolog tentang phobiaku. Kalo tidak salah inget dia mengatakan phobia itu dipengaruhi oleh mindset kita yang selalu menempatkan diri ketakutan ketika melihat sesuatu yang kita takutkan. Tidak salah, tapi kurang tepat kalo berkaitan dengan masalahku. Mindset setelah melihat?!?!? I don’t think so… Ketika asyik ngobrol dg temen2 ato lagi serius ngerjakan sesuatu tanpa mengalihkan pandangan kemanapun aku bisa dengan cepat menyadari keberadaan makhluk itu. Dan ketakutan itu langsung muncul bahkan sebelum aku memastikan makhluk itu benar2 ada. Hal ini bukan berkaitan dg logika, tapi naluri/insting…
Kebingungan juga bagaimana menyembuhkan phobia itu. Sudah dicoba orang tuaku dengan memelihara kucing kecil di rumahku biar aku terbiasa. Dan hasilnya, aku memang terbiasa ketakutan di rumah. So, yang kulakukan di rumah seringkali masuk kamar, mengunci pintu rapat2, atau kalo bener2 ketakutan gangguin kakakku di kamarnya dan minta ditemani tidur. Hehehehe
So, buat temen2 yang seringkali aku teriakin ketika maen2 dg kucing dan ada aku atau bahkan ketika ada sohibku yang memasang gambar kucing di FB or FSnya jgn merasa tersinggung kalo aku tidak mau membukanya ato mengirim comment untuk mengganti gambarnya. Hehehehe i’m really sorry…

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 20, 2009 inci Kehidupan

 

Kenapa banyak orang suka memaksa…

Banyak sekali kalimat yg kudengar akhir-akhir ini
“Sudahlah, mulailah hidup baru”
“Sudahlah, tidak ada gunanya menunggu”
“Sudahlah, lupakan saja orang yg tidak mencintaimu itu”
“Sudahlah, terima saja dia”
“Sudahlah, jgn terlalu sering menolak”
“Sudahlah, ntar kamu kena karma”
Ato, ada yg lebih halus cara mengatakannya
“Kamu harus belajar mencintai, mungkin dia memang jodohmu”
“Wah, dia baik sekali. Sama dia aj deh”

Kalimat-kalimat itulah yg membuatku bungkam. Rasanya bosan untuk memberikan komentar, apalagi untuk bercerita panjang lebar seperti dulu. Begitu mudahnya semua orang mengatakan itu. Tapi tidak banyak yang berfikir jika itu “AKU”.
Apakah mencintai itu segitu mudahnya? Melupakan itu segitu gampangnya?
Sebenarnya apa yg salah dg yang kulakukan…
Aku tidak pernah memaksa orang yg aku cintai untuk mencintaiku…
Aku tidak merugikan siapapun… Dan tidak menyakiti siapapun…
Apakah aku tidak berhak bahagia? Bahagia dg melakukan apapun yg memang kuinginkan
Sekedar mencintai dg bebas dan suatu saat juga akan melupakan dengan bebas…
Haruskah aku mengorbankan kebahagiaanku dengan berpura-pura memberikan cinta untuk orang lain? Jika aku tetap tidak bisa mendapatkan orang yang aku cintai, bukankah suatu kewajaran jika aku juga tetap tidak mau dimiliki oleh dia yang mencintaiku… Bukankah suatu kewajaran pula jika dia yg mencintaiku merasa tersakiti oleh tindakanku? Karena akupun jg pernah merasakan itu… Aku tidak pernah menyalahkan orang yg membuat aku merasa tersakiti, begitu pula aku tidak mau disalahkan karena ada yg merasa aku sakiti…
Aku bukan malaikat yg segitu baiknya selalu mengerti dan menuruti apa yg menjadi harapan orang lain. Aku tidak berharap selalu dimengerti, setidaknya jangan pernah memaksa…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 18, 2009 inci Cinta

 
 
Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai