PAHLAWANMU PAHLAWANKU, PAHLAWAN KITA PAHLAWAN SAJA
Oleh: Lufi Pratama Ardyon
Anggota Sanggar Kepenulisan Forum Lingkar Pena Ranting UM
Seorang pemuda bercelana jeans pensil dengan bangganya berjalan di depan saya. Sebuah gambar di T-shirt nya menarik perhatian saya. Seorang laki-laki memakai topi merah berlambang bintang kuning, matanya memandang ke arah saya seakan hendak bertanya “kamu siapa?”. Saya yakin betul bahwa itu merupakan gambar dari Che Guevara. Seorang revolusioner yang lahir di Argentina berjuang di Kuba dan meninggal di Bolivia. Seorang tokoh yang menjadi idola para pemuda sejak tahun 90-an (padahal meninggal tahun 60-an). Ide pemikirannya diminati semua kalangan pemuda dan seperti menjadi obor semangat bagi mereka melakukan berbagai kegiatan yang menuntut sebuah perubahan.
Timbul sebuah pertanyaan di benak saya, “kenapa harus Che? Kenapa generasi muda kita lebih menggandrungi pejuang negara lain dibanding pejuang di negaranya sendiri?”. Bukankah Indonesia memiliki puluhan bahkan ratusan pahlawan dan pejuang yang mirip dengan Che Guevara.
Berbagai pertanyaan sejenis terus terlontar dan mengalir bagai derasnya air Bengawan Solo.
Di Indonesia kita tercinta, arti kata “pahlawan” mengalami perluasan makna. Jika dahulu kata tersebut berarti seorang baik hati yang melawan penjajah, tapi kini menjadi siapa saja yang menolong/membela pihak yang tidak berdaya. Siapa saja bisa menjadi pahlawan sekarang ini. Ikut-ikutan demonstrasi lalu tertembak terkena peluru nyasar, bisa menjadi pahlawan. Melaporkan teman sekantor yang kedapatan korupsi karena tidak mendapatkan uang tutup mulut, bisa juga menjadi pahlawan. Atau mungkin berpakaian muslim menjadi terpidana mati karena telah membunuh ratusan orang dengan alasan jihad, dan berkoar di media masa menyertakan nama agung Tuhan, bisa juga menjadi pahlawan bagi sebagian orang. Sangat mudah menjadi pahlawan, tapi sangat sulit menjadi seorang pejuang.
Kembali pada pokok permasalahan. Para pahlawan kita sebagian bukanlah pejuang sejati. Mereka sebagian tidak murni berjuang demi memerdekakan bangsa ini dari tangan penjajah. Kepentingan pribadi mendasari niat mereka melakukan pemberontakan ataupun peperangan. Salah satu contoh adalah seorang pahlawan yang memerangi penjajah karena tanah leluhurnya digusur lalu dibuat jalan raya oleh penjajah. Ada juga pahlawan yang memberontak ke penjajah karena ingin merebut sebuah kerajaan. Dan yang hangat diperbincangkan adalah seorang perwira tinggi yang disinyalir melakukan kudeta terselubung, menjadi pahlawan dengan memimpin pemerintahan selama berpuluh tahun. Mungkin karena beberapa pahlawan yang tidak murni itulah menyebabkan citra buruk menyebar ke semua profil pejuang kemerdekaan yang lain. Kewibawaan yang tercoreng menjadikan generasi pemuda sekarang kurang menaruh hormat kepada para pejuang Indonesia yang telah susah payah menjaga kedaulatan negara ini.
Sebenarnya Indonesia memiliki pejuang patriotik seperti Che, dia adalah Tan Malaka. Sama-sama beraliran kiri dan sama-sama dikhianati oleh negara yang dibelanya. Nama besar Tan malaka lebih terkenal di luar negeri dibandingkan di Indonesia. Kiprahnya memperjuangkan kaum tertindas dinilai terlalu ekstrim karena berbau komunis. Dan sebagai negara pembenci ajaran komunisme, Indonesia sengaja menghilangkan nama Tan Malaka dari sejarah kemerdekaan.
Sekarang kembali pada pribadi kita masing-masing. Sebagai bahan perenungan menuju kedewasaan berfikir, marilah kita hentikan sejenak euforia heroik ini. Kenapa harus import pahlawan jika kita mempunyai yang lebih berkualitas? Toh ide pokok pemikiran mereka sama. Marilah kita belajar mencintai kebudayaan sendiri, termasuk membanggakan pahlawan dan pejuang dari negara kita sendiri. Dan tidak lupa mencontoh semangat perjuangan mereka yang tanpa pamrih dalam menjaga kedaulatan negara kita tercinta, Indonesia. Mengutip kata bijak kepala sekolah SD Muhammadiyah Gantong dalam Laskar Pelangi The Movie, “Hidup adalah untuk memberi sebanyak-banyaknya dan bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya”. Marilah kita berjuang demi hidup yang lestari, adil dan makmur. Salam Merdeka!
Malang, 10 November 2008
