Lpardyon’s Weblog

November 9, 2008

PAHLAWANMU PAHLAWANKU, PAHLAWAN KITA PAHLAWAN SAJA

Filed under: Tugas IBSN, Uncategorized — Tags: — lpardyon @ 2:30 pm

PAHLAWANMU PAHLAWANKU, PAHLAWAN KITA PAHLAWAN SAJA
Oleh: Lufi Pratama Ardyon
Anggota Sanggar Kepenulisan Forum Lingkar Pena Ranting UM

Seorang pemuda bercelana jeans pensil dengan bangganya berjalan di depan saya. Sebuah gambar di T-shirt nya menarik perhatian saya. Seorang laki-laki memakai topi merah berlambang bintang kuning, matanya memandang ke arah saya seakan hendak bertanya “kamu siapa?”. Saya yakin betul bahwa itu merupakan gambar dari Che Guevara. Seorang revolusioner yang lahir di Argentina berjuang di Kuba dan meninggal di Bolivia. Seorang tokoh yang menjadi idola para pemuda sejak tahun 90-an (padahal meninggal tahun 60-an). Ide pemikirannya diminati semua kalangan pemuda dan seperti menjadi obor semangat bagi mereka melakukan berbagai kegiatan yang menuntut sebuah perubahan.
Timbul sebuah pertanyaan di benak saya, “kenapa harus Che? Kenapa generasi muda kita lebih menggandrungi pejuang negara lain dibanding pejuang di negaranya sendiri?”. Bukankah Indonesia memiliki puluhan bahkan ratusan pahlawan dan pejuang yang mirip dengan Che Guevara.
Berbagai pertanyaan sejenis terus terlontar dan mengalir bagai derasnya air Bengawan Solo.
Di Indonesia kita tercinta, arti kata “pahlawan” mengalami perluasan makna. Jika dahulu kata tersebut berarti seorang baik hati yang melawan penjajah, tapi kini menjadi siapa saja yang menolong/membela pihak yang tidak berdaya. Siapa saja bisa menjadi pahlawan sekarang ini. Ikut-ikutan demonstrasi lalu tertembak terkena peluru nyasar, bisa menjadi pahlawan. Melaporkan teman sekantor yang kedapatan korupsi karena tidak mendapatkan uang tutup mulut, bisa juga menjadi pahlawan. Atau mungkin berpakaian muslim menjadi terpidana mati karena telah membunuh ratusan orang dengan alasan jihad, dan berkoar di media masa menyertakan nama agung Tuhan, bisa juga menjadi pahlawan bagi sebagian orang. Sangat mudah menjadi pahlawan, tapi sangat sulit menjadi seorang pejuang.
Kembali pada pokok permasalahan. Para pahlawan kita sebagian bukanlah pejuang sejati. Mereka sebagian tidak murni berjuang demi memerdekakan bangsa ini dari tangan penjajah. Kepentingan pribadi mendasari niat mereka melakukan pemberontakan ataupun peperangan. Salah satu contoh adalah seorang pahlawan yang memerangi penjajah karena tanah leluhurnya digusur lalu dibuat jalan raya oleh penjajah. Ada juga pahlawan yang memberontak ke penjajah karena ingin merebut sebuah kerajaan. Dan yang hangat diperbincangkan adalah seorang perwira tinggi yang disinyalir melakukan kudeta terselubung, menjadi pahlawan dengan memimpin pemerintahan selama berpuluh tahun. Mungkin karena beberapa pahlawan yang tidak murni itulah menyebabkan citra buruk menyebar ke semua profil pejuang kemerdekaan yang lain. Kewibawaan yang tercoreng menjadikan generasi pemuda sekarang kurang menaruh hormat kepada para pejuang Indonesia yang telah susah payah menjaga kedaulatan negara ini.
Sebenarnya Indonesia memiliki pejuang patriotik seperti Che, dia adalah Tan Malaka. Sama-sama beraliran kiri dan sama-sama dikhianati oleh negara yang dibelanya. Nama besar Tan malaka lebih terkenal di luar negeri dibandingkan di Indonesia. Kiprahnya memperjuangkan kaum tertindas dinilai terlalu ekstrim karena berbau komunis. Dan sebagai negara pembenci ajaran komunisme, Indonesia sengaja menghilangkan nama Tan Malaka dari sejarah kemerdekaan.
Sekarang kembali pada pribadi kita masing-masing. Sebagai bahan perenungan menuju kedewasaan berfikir, marilah kita hentikan sejenak euforia heroik ini. Kenapa harus import pahlawan jika kita mempunyai yang lebih berkualitas? Toh ide pokok pemikiran mereka sama. Marilah kita belajar mencintai kebudayaan sendiri, termasuk membanggakan pahlawan dan pejuang dari negara kita sendiri. Dan tidak lupa mencontoh semangat perjuangan mereka yang tanpa pamrih dalam menjaga kedaulatan negara kita tercinta, Indonesia. Mengutip kata bijak kepala sekolah SD Muhammadiyah Gantong dalam Laskar Pelangi The Movie, “Hidup adalah untuk memberi sebanyak-banyaknya dan bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya”. Marilah kita berjuang demi hidup yang lestari, adil dan makmur. Salam Merdeka!

Malang, 10 November 2008

October 12, 2008

Sebuah Memoar

Filed under: Uncategorized — lpardyon @ 6:11 am

Kalian pernah menikmati suasana setelah hujan di sore hari tidak?

Salah satu keindahan yang disuguhkan Tuhan pada semua makhluknya ini adalah sebuah keajaiban. Mungkin saya tidak terlalu jenius untuk merumuskannya dalam barisan sastra, layaknya Gusti Putri Ayu membatik indah alfabet dalam lembaran sutera putih. Namun sukma ini begitu cekatan menulis ribuan syair indah ungkapkan suasana sore ini. Cahaya yang meredup terasa dingin di mata, udara yang tadinya tercampur panas debu kini bertransformasi menjadi butiran air dalam skala mikro menerpa wajah ini. Namun saya tak mau bergeming dan tetap duduk di beranda rumah sambil melihat taman di depan Mushola kecil kami. Lidah ini kelu tak bersuara namun hati tetap berdetak iringi butiran air yang menetes dari daun Tulip. Bunganya yang putih membius pikiran dan membawa ingatan dalam cerebrum untuk beralih ke beberapa masa silam namun dalam suasana yang sama, sore berhias hujan. Saya terbawa dalam suasana pedesaan di Jember, duduk di depan rumah kayu nenek memandang hamparan padi menguning hiasi sore yang abu-abu. Beranjak lagi terbawa pada suasana santai joglo rumah Bude di Jombang, hangat tubuh usai mandi semakin menambah kesegaran mata ini yang memotret halaman basah. Dan secangkir teh panaspun tersaji dengan senyum ikhlas dari Bude tersayang. Angan ini kembali tercabut dan terlempar pada suasana sore berkabut di kota Malang. Jalanan yang sepi karena banyak warganya yang enggan keluar membuat perjalanan saya mengayuh si biru Polygon semakin lancar. Menghindari genangan air dan menembus dingin sore setelah hujan, adalah kenangan yang sulit terkelupas. Segera hidung ini menghirup oksigen gratis yang terjaja di semua ruang, karbondioksida yang terbalut udara bercampur air harus memendam keinginannya ikut terhirup dalam paru-paru saya. Sayapun tersenyum ringan pada pada sebuah mikrolet, tulisan di buritan kendaraan itu menggaruk pemikiran saya. “Malangku tak lagi dingin, STOP Global Warming!!”, begitu kira-kira stiker yang terpampang. Kalau tidak lagi dingin lalu yang saya rasakan sekarang ini apa ya? Tapi bukan berarti menganggap remeh maksud tulisan itu, toh saat itu saya juga berkendara dengan sepeda gunung.

Akhirnya arwah saya kembali kedalam raganya semula, pikiran saat ini, suasana saat ini, udara ini dan…hi hi hi…..baju dan celana sudah basah akan air yang menetes jarang dari angkasa. Sepertinya sewaktu angan saya berjalan-jalan tadi, tubuh renta ini dengan bodohnya hanya duduk menghadap taman meski hujan rintik yang redup-reda menerpa tanpa sisa.

Saya mendongakkan kepala memandang pekat awan yang bergelayut seraya berdoa:

“Yaa Tuhan, dengan memohon segala keikhlasanMu berikanlah dingin sore ini pada hati setiap insan di negara ini. Agar tak lagi ada kekacauan, ancaman dan anarkisme setan. Dan mereka bisa saling memaafkan setiap kesalahan saudaranya, mumpung masih dalam bulan Syawal awal. Amin”.

September 21, 2008

FLP 14th September 2008

Filed under: Uncategorized — lpardyon @ 11:48 pm

LP ARDYON: Sept, 14th 2008

Pagi ini aku laju motorku dengan kencang, takut terlambat. Memang jarak yang aku tempuh tidaklah terlalu jauh, mungkin sekitar 5 kilometer. Tapi dengan kondisi mata masih melekat akibat tadarus plus sholat tarawih tengah malam semalam membuat perjalananku kali ini terasa, uhh…capek. God! Seandainya Engkau ciptakan buroq untuk kami semua atau mungkin cukup permadani terbang ala aladin pasti semua kegiatanku akan semakin mudah. Uuaahh…. Aku menguap di tengah jalan, untung tak jatuh atau menabrak trotoar karena kalau menguap kan mata terpejam, seandainya kita menguap tanpa terpejam…..??????????
Setelah belokan di jalan kembar Sukarno-Hatta, makin kencang motor ini kurasa padahal hanya kutambah sedikit tenaga memutar tuas gas. Akhirnya, sampailah aku di depan toko buku tempat sanggar kami membekali dirinya membedah sastra para awam. Kulihat hanya sedikit motor yang berjajar, wah pasti masih sepi nih. Di pojok parkiran kulihat sepasang Polygon tenang menanti tuannya seraya berteduh. Pasti itu kendaraan Pak Dian salah satu teman sanggar yang selalu pake sepeda gunung dalam aktivitasnya. Aku tak pernah lihat dia memakai sepeda gunung itu, tapi suatu ketika kulihat dia membawa helm ala biker, sejak saat itu aku beranggapan dialah pemilik polygon di parkiran.
Seperti pengalaman sebelumnya aku masuk kedalam toko, tanpa salam aku hanya mengangguk pada penjaga toko. Entah siapa namanya aku tak pernah mau tahu, sungguh sifat egoisku masih tinggi. Aku berjalan lurus ke dalam toko lalu kutapakkan sepasang kaki berganti meniti tangga ke lantai dua.
Sesampainya di ruang penggemblengan kulihat masih sedikit yang datang. Pak Heri yang duduk di depan terlihat sibuk dengan laptopnya mempersiapkan materi untuk pagi ini, menjelang siang ding!
Pak Dian nah itu orangnya, kumis dan brewoknya membuat wajahnya terlihat teduh. Ato mungkin karna matanya yang sayu, ato mungkin semalem dia juga tadarus plus tarawih? Entahlah tapi yang pasti langsung saja aku salami tangannya begitu juga teman laki-lakiku yang lain, tak ketinggalan Pak Heri yang sedikit lemparkan senyum setelah kujabat tangannya. Mr. Sucipte yang terakhir aku sapa langsung lemparkan pertanyaan mengapa minggu kemarin aku tidak datang, padahal tema yang dibahas keren banget, “Menembus Penerbit”. Kujawab seadanya saja dengan alasan aku ada kerjaan yang tak bisa ditinggal. Sucipte, anak luar Jawa yang mencari peruntungan di Malang ini terlihat lugu kalau diam, tapi tunggu kalo sudah ngobrol wahhh….smakin keliatan lugunya……he he he. Tapi aku yakin dia tegas dalam melangkah. Tangannya yang tak pernah diam selalu goreskan kartun wajah orang sembari dengarkan pemateri bercuap-cuap, lumayan, cukup keren. Bagiku menggambar adalah sebuah pelajaran yang lebih sulit dari matematika, so aku kagum dengan pemuda seperti Sucipte ini, kalo pintar menggambar dia pasti hebat matematikanya, maybe.
Pagi ini tema kami adalah mengenai pembuatan artikel. Sangat cocok memang jika pematerinya Pak Heri, pengalamannya yang bejibun dengan segudang prestasi membuat Pak Munir yang barusan datang terdiam tekun mendengarkan. Asal tahu saja beberapakali pertemuan Pak Munir ini selalu melontarkan pertanyaan tentang karya dan pengalaman pemateri beserta prestasinya. Mungkin beliau ingin menguji validitas pemateri, maklum usianya yang sudah berkepala tiga (kurasa) dan juga sudah berkeluarga membuatnya mencoba untuk bijak sebelum melangkah. Tidak seperti aku yang selalu tidak peduli dengan siapa saja pematerinya, karna bagiku ilmu yang akan kudapat lebih penting dari sekedar gengsi prestisi dan prestasi.
Pak Heri yang memberi wejangan sambil duduk dibantu dengan tampilan slide, membuat aku kagum. Betapa tidak, beberapa artikelnya lolos dalam berbagai lomba dengan menyabet gelar juara, keren ga tuh. Ditambah lagi banyak yang sudah dimuat di media. Ternyata beliau tidak hanya lihai dalam menulis tapi mempunyai banyak koneksi. Di dunia maya, menurut penuturan beliau, banyak sekali kawan baik penting maupun tidak penting. Yang pasti sosial banget deh.
Kucoba lemparkan pandangan ke seluruh ruangan. Kali ini yang kuamatai para kaum hawa dari mulai panitia sampai peserta. Banyak wajah menarik disana, sayang masih puasa, terpaksa kubatasi aktivitas zina mataku. Tapi aku tertarik untuk kesekian kalinya pada sesosok berjilbab besar, berwajah putih bersih, matanya yang polos tak menunjukkan betapa lihainya jari jemarinya goreskan berbaris-baris kata dalam cerpen, puisi, ataupun essay. Indah terdengar dan mungkin bentuk tulisan tangannya juga. Terakhir kudengar namanya Gusti Aisyiah P. Aha sudahlah, tujuanku ikut sanggar ini kan bukan untuk memuji ataupun mendapatkan cewek…………., tapi kalo itu bonus yang akan kudapatkan nanti yaaa Alhamdulillah. He….he……apalagi kalo dia Gusti……….??????????
Kembali ke benang merah cerita ini (perasaan sedari tadi ngomong ngalur ngidul gak ada roten faden nya). Mendadak Pak Heri Mulyo Cahyo mengajak kami semua untuk hangout cari inspirasi katanya. Ha ha asyik…., membebaskan ide emang kaya’ gini. Akhirnya dibawah terik sang surya kami telusuri trotoar depan Pura menuju ke Polinema (Politeknik Negeri Malang). Sesampainya di shuttle Pak HMC menginstruksikan agar kami mengamati beberapa objek terserah kami lalu membuat sebuah tulisan. Lagi-lagi Sucipte berkata lucu, “Luf enaknya apa ya tema yang keren, oh ya aku mau nulis tentang spanduk ah….., kamu jangan mencuri ideku lho ya!” sambil dia singkirkan kertas dari pandanganku. Yaelah lucu banget nih anak, masak segitunya. Aku tersenyum tapi sebenarnya terpingkal-pingkal dalam hati. Cip…….Cip……….Cip……..
Setelah cukup waktu kami hamburkan di tempat itu, sembari mengobrol bagaimana prospek kedepan dari laskar FLP ranting UM ini, aku mencoba melongok kearah teman-teman cewek yang duduk sangat jauh dari kami. Kulihat seorang cewek berjilbab berjongkok di lapangan membenarkan rumput ilalang yang kurang berdiri tegak. Aneh tuh cewek, rumput kering kok disuruh upacara………????? Tapi kaya’e itu GAP deh, so gapapa deh biar dia bereksperimen, hi hi hi. Tapi kasian kan kepanasannnnn…..he….he. ((STOP ngomongin tuh cewek. FOKUS men!)).
Sesampainya lagi di ruangan penggemblengan satu persatu dari kami membacakan tulisan yang dihasilkan dari duduk sekitar 20 menitan di Polinema tadi. Wuihh keren-keren tulisan mereka. Ada yang mengamati kontradiksi antara budaya merokok dengan dengan pendidikan di Polinema. Ada yang melihat konstruksi bangunan dari kampus Polinema dibandingkan dengan UB yang berada tepat di sebelah utara. Ada yang mengamati lapangan sepak bola, rumput ilalang dibandingkan dengan kehidupan sehari-hari, telepon umum yang ternyata komputer informasi, and so on.
Aku sendiri terlalu percaya diri menuturkan mengenai Bus Kampus (simple, ga mbois, ga teratur,……).
Pak HMC menceritakan juga mengenai Ekspansi Rokok dan pengandaian beliau menjadi satpam Polinema. Tapi seandainya beliau jadi satpam keren juga, postur sudah cocok…..???????
Okey kita sampai pada penutup. Sekian dulu coretan dari Saya, semoga pengalaman ini menjadi awal dari sebuah tindakan besar yang akan mengubah wajah sastra di kota kami ini.

August 24, 2008

Perkenalan Wajahku pada dunia……….!

Filed under: Uncategorized — lpardyon @ 3:31 pm

Sebuah cerpen “Terimakasih Nenek”

Filed under: Uncategorized — lpardyon @ 3:26 pm

 

Terimakasih Nenek

 

Jutaan tetes air yang sedari tadi mengguyur joglo kecil ini mulai menjarang dan sedetik berlalu tinggalkan taman kota. Aku, kedua orangtuaku dan beberapa orang yang bernaung di tempat ini mulai melongok keluar joglo. Ada yang menjulurkan tangan kanannya keluar untuk rasakan apakah tetesan air yang terjun dari langit takkan basahi baju mahal mereka. Tapi ada juga yang masih hangat bersenda gurau memeluk mesra pasangannya.

Ayahku sedari tadi nampak gelisah, entah apa yang dipikirkannya. Seharusnya akhir pekan seperti ini membuat dia lega keluar dari rutinitas. Selalu melihat rolex di tangan kirinya dan sesekali keluarkan communicator dari balik jaket pierre cardin nya. Mama yang duduk di sebelah kiriku nampak tak suka melihat gelagat aneh ayah, sesekali menatapnya sambil kerenyitkan dahi lalu membuang pandangan ke arah lain.

“Uhh………..sore yang aneh, kenapa orangtuaku? Seharusnya mereka membahagiakan aku. Mengobrol hangat, tanyakan kegiatanku di sekolah, prestasi apa saja yang telah kuraih, siapa sajakah Toni, Anto dan Aisiyah itu dan bla.. bla.. bla… semua kek! Kenapa tak perhatikan aku? Apakah mereka tak sadar kalau uang jajan berlebih, semua fasilitas hiburan dan pendidikan formal yang disediakan selama ini masih belum cukup damaikan hatiku hah…?”, gerutuku dalam hati.

Tapi kucoba mengusir semua tanya itu. Kuarah kan pandanganku ke seberang jalan setapak di depan kami. Terlihat seorang nenek memakai kerudung coklat sedang duduk menanti pelanggan jagung bakarnya. Kerudung penutup kepalanya sedikit basah terkena cipratan air dari payung yang menaunginya. Meskipun hawa dan suasana seperti ini memungkinkan banyak orang makan jagung bakar, namun kenapa dengan nenek itu? Tidak enakkah jagungnya?

“Maa….!”

“Apa sayang….”, sahut ibuku sambil mengelus dadaku. Wajahnya yang sedari tadi dilipat kini nampak dipaksakan terlihat bahagia.

“Dyon mau jagung bakar di seberang itu”, kataku sambil luncurkan pandangan ke arah nenek tua berpayung usang di seberang joglo kami.

“Itu kan ndak steril Nak…, nanti saja setelah pulang mama buatkan jagung bakar, ato mungkin direbus?”, tawar mama.

“Tapi ma, dyon pengen sekarang…..”, kucoba cekungkan kelopak mata dan sayukan pandangan memelas.

“Terserah kamu lah……….ini……”, serah Mama. Sikapnya seakan enggan keluarkan selembar 5000 an dari dalam tas kecilnya.

“Ingat…….! beli satu saja dan jangan lupa ambil kembaliannya, kalo tidak ada tunggu sampai orangnya punya kembalian!”, sergah Mama.

Aku hanya mengangguk lalu berlari secepat kilat tanpa hiraukan ayah yang sibuk dengan Nokia barunya itu. Semakin dekat dengan sang nenek yang tampak kedinginan itu, aku semakin lapar akan jagung bakar.

“Nek..minta satu ya…”, pintaku sambil terengah-engah.

Nenek itu tampak sangat senang. Wajahnya yang hampir beku kedinginan suguhkan padaku sunggingan yang teramat indah. Sukar lukiskan bagaimana kebijaksanaan yang terpancar dari sela-sela keriput wajahnya. Tangan kirinya yang renta kibaskan kipas lusuh pada jagung mentah di atas bara kemerahan. Mataku tak terpejam ikuti gerak-gerik nenek lakukan ritual bakar tersebut. Hangat….hangat suasana ini yang sedari tadi kudambakan ada diantara aku dan orangtuaku. Pletak….pletok……, letupan-letupan kecil dari si jagung hentakkan segala rasa di jiwa, sungguh kutak pernah lihat mamaku lakukan ini di rumah. Api kecil yang jilati tubuh jagung hadirkan bayang keakraban antar dua elemen berbeda fisik namun tak saling sakiti, panas api mematangkan disambut gembira dengan letupan oleh si jagung seakan berucap terimaksih ia rela tubuhnya berubah warna.

Ini nak…makanlah”, kata nenek itu sodorkan jagung hangat padaku. Wajah cerahnya yang nampak arif tersirat sebuah kehormatan, ia serahkan jagung itu laksana seorang empu yang serahkan keris buatannya pada raja.

“Terimakasih Nek, ini uangnya..”, seraya kuberikan uang dari mamaku tadi.

“Sudahlah Nak, kau menikmati jagung ini saja sudah membuat hati nenek senang. Uang tiadalah berharga bila dibandingkan dengan keramahan dan kebaikanmu. Nenek yakin sebentar lagi pasti jagung-jagung ini habis terjual”, jawab nenek itu berseri.

“Tapi Nek, dari mulai hujan tadi masih belum ada yang beli jagung bakar. Jangankan memesan, yang memeperhatikan nenek aja tak ada”.

“Kamu lucu dan cerdas, berapa umurmu?”

“Delapan tahun Nek”, jawabku tegas.

“Ingat Nak, kita hidup di dunia ini tidak boleh lemah ataupun patah semangat, meskipun tak ada yang perhatikan kita, tak bersedia memandang atau mendengar kita ataupun rayakan keberhasilan kita mungkin. Jangan pernah masukkan dalam hati. Semua itu hanya akan menyesakkan dan mebebani kita dalam melangkah arungi alur hidup ini”, ucap nenek itu dengan sedikit ragu aku mampu mencernanya.

“Lalu nenek meringankan hidup ini dengan memberi sesuatu kepada orang lain, itu kan yang nenek lakukan”

“Kamu……..!?”, nenek itu terperanjat mendengar ceplosan luguku.

“Kamu memang tercipta untuk jadi orang pintar dan bijak Nak”, tambahnya.

“Nek, siapapun kita … semua tercipta dan dimunculkan di dunia ini untuk jadi makhluk yang bermanfaat. Kita tak mungkin sia-sia dihadirkan di bumi ini. Cacing pun sengaja dicipta kecil untuk menggemburkan tanah. Sedangkan batu dipadatkan untuk menahan gunung. Dan kita….pasti ada alasan kuat mengapa kita hadir di sini. Betul kan Nek”, ucapku sambil menggigit butiran kecil jagung bakar.

“Tak kusangka kamu begitu hebat Nak. Orangtuamu pasti bangga mempunyai anak sepertimu”, kata nenek sambil mengusap keningku. Aku tersenyum manis. Sebuah senyum paling lega yang pernah kulepaskan. Sungguh sampai saat ini aku masih belum pernah bicara seperti ini ke orang lain.

“Sayang sampai saat ini mereka masih belum tahu Nek”, jawabku dalam hati.

Dari kejauhan terdengar suara melengking Mama mengajakku pulang.

“Sudah pulanglah …. orangtuamu sudah menunggu. Jika kamu masih ingin bertemu nenek, datanglah ke taman ini kapanpun kamu mau. Telinga ini sangat terbuka lebar untuk menerima lagi celotehanmu. Cepat pulanglah anak hebat”, kata nenek.

“Terimakasih Nek……, sampai jumpa…….”, kulambaikan tangan kananku lalu berbalik dekati suara yang mengajakku pulang.

Temaram senja yang makin memekat hiasi suasana hati yang lega bahagia. Kusandarkan pelan tubuhku di jok belakang mobil kami. Pandanganku menerawang jauh lintasi rimbunnya pohon-pohon penghias taman. Burung-burung terbang tinggi yang pulang ke sarang membawa anganku.

“Seandainya nenek itu nenekku………….”, gumamku.

Jika mama tadi berkata aku sudah dapat rejeki sore ini dengan bisa memakan jagung bakar gratis, sungguh hati nenek lebih bercahaya dari mamaku. Memang menerima selalu terasa menyenangkan, namun memberi dengan sikap tulus akan lebih membahagiakan. Seandainya saja mama tahu itu, apakah mama akan malu? Entahlah…………………….

Akan tetapi kata paman Alexander Pope, semua orang tidak perlu menjadi malu karena pernah berbuat salah selama ia bisa menjadi lebih bijaksana dari sebelumnya, Betul kan?

Keempat roda kendaraan ini terus tergelincir ikuti garis putih di tengah jalan raya yang kami lewati, seakan ia ingin berlomba dengan matahari yang mulai berangsur ke peraduan. Dan aku terlelap dengan senyuman membekas di hati.

 

Lufi P Ardyon, Malang 14 Agustus 2008

 

Terimakasih Nenek (cerpen)

Filed under: Uncategorized — lpardyon @ 3:25 pm

 

Terimakasih Nenek

 

Jutaan tetes air yang sedari tadi mengguyur joglo kecil ini mulai menjarang dan sedetik berlalu tinggalkan taman kota. Aku, kedua orangtuaku dan beberapa orang yang bernaung di tempat ini mulai melongok keluar joglo. Ada yang menjulurkan tangan kanannya keluar untuk rasakan apakah tetesan air yang terjun dari langit takkan basahi baju mahal mereka. Tapi ada juga yang masih hangat bersenda gurau memeluk mesra pasangannya.

Ayahku sedari tadi nampak gelisah, entah apa yang dipikirkannya. Seharusnya akhir pekan seperti ini membuat dia lega keluar dari rutinitas. Selalu melihat rolex di tangan kirinya dan sesekali keluarkan communicator dari balik jaket pierre cardin nya. Mama yang duduk di sebelah kiriku nampak tak suka melihat gelagat aneh ayah, sesekali menatapnya sambil kerenyitkan dahi lalu membuang pandangan ke arah lain.

“Uhh………..sore yang aneh, kenapa orangtuaku? Seharusnya mereka membahagiakan aku. Mengobrol hangat, tanyakan kegiatanku di sekolah, prestasi apa saja yang telah kuraih, siapa sajakah Toni, Anto dan Aisiyah itu dan bla.. bla.. bla… semua kek! Kenapa tak perhatikan aku? Apakah mereka tak sadar kalau uang jajan berlebih, semua fasilitas hiburan dan pendidikan formal yang disediakan selama ini masih belum cukup damaikan hatiku hah…?”, gerutuku dalam hati.

Tapi kucoba mengusir semua tanya itu. Kuarah kan pandanganku ke seberang jalan setapak di depan kami. Terlihat seorang nenek memakai kerudung coklat sedang duduk menanti pelanggan jagung bakarnya. Kerudung penutup kepalanya sedikit basah terkena cipratan air dari payung yang menaunginya. Meskipun hawa dan suasana seperti ini memungkinkan banyak orang makan jagung bakar, namun kenapa dengan nenek itu? Tidak enakkah jagungnya?

“Maa….!”

“Apa sayang….”, sahut ibuku sambil mengelus dadaku. Wajahnya yang sedari tadi dilipat kini nampak dipaksakan terlihat bahagia.

“Dyon mau jagung bakar di seberang itu”, kataku sambil luncurkan pandangan ke arah nenek tua berpayung usang di seberang joglo kami.

“Itu kan ndak steril Nak…, nanti saja setelah pulang mama buatkan jagung bakar, ato mungkin direbus?”, tawar mama.

“Tapi ma, dyon pengen sekarang…..”, kucoba cekungkan kelopak mata dan sayukan pandangan memelas.

“Terserah kamu lah……….ini……”, serah Mama. Sikapnya seakan enggan keluarkan selembar 5000 an dari dalam tas kecilnya.

“Ingat…….! beli satu saja dan jangan lupa ambil kembaliannya, kalo tidak ada tunggu sampai orangnya punya kembalian!”, sergah Mama.

Aku hanya mengangguk lalu berlari secepat kilat tanpa hiraukan ayah yang sibuk dengan Nokia barunya itu. Semakin dekat dengan sang nenek yang tampak kedinginan itu, aku semakin lapar akan jagung bakar.

“Nek..minta satu ya…”, pintaku sambil terengah-engah.

Nenek itu tampak sangat senang. Wajahnya yang hampir beku kedinginan suguhkan padaku sunggingan yang teramat indah. Sukar lukiskan bagaimana kebijaksanaan yang terpancar dari sela-sela keriput wajahnya. Tangan kirinya yang renta kibaskan kipas lusuh pada jagung mentah di atas bara kemerahan. Mataku tak terpejam ikuti gerak-gerik nenek lakukan ritual bakar tersebut. Hangat….hangat suasana ini yang sedari tadi kudambakan ada diantara aku dan orangtuaku. Pletak….pletok……, letupan-letupan kecil dari si jagung hentakkan segala rasa di jiwa, sungguh kutak pernah lihat mamaku lakukan ini di rumah. Api kecil yang jilati tubuh jagung hadirkan bayang keakraban antar dua elemen berbeda fisik namun tak saling sakiti, panas api mematangkan disambut gembira dengan letupan oleh si jagung seakan berucap terimaksih ia rela tubuhnya berubah warna.

Ini nak…makanlah”, kata nenek itu sodorkan jagung hangat padaku. Wajah cerahnya yang nampak arif tersirat sebuah kehormatan, ia serahkan jagung itu laksana seorang empu yang serahkan keris buatannya pada raja.

“Terimakasih Nek, ini uangnya..”, seraya kuberikan uang dari mamaku tadi.

“Sudahlah Nak, kau menikmati jagung ini saja sudah membuat hati nenek senang. Uang tiadalah berharga bila dibandingkan dengan keramahan dan kebaikanmu. Nenek yakin sebentar lagi pasti jagung-jagung ini habis terjual”, jawab nenek itu berseri.

“Tapi Nek, dari mulai hujan tadi masih belum ada yang beli jagung bakar. Jangankan memesan, yang memeperhatikan nenek aja tak ada”.

“Kamu lucu dan cerdas, berapa umurmu?”

“Delapan tahun Nek”, jawabku tegas.

“Ingat Nak, kita hidup di dunia ini tidak boleh lemah ataupun patah semangat, meskipun tak ada yang perhatikan kita, tak bersedia memandang atau mendengar kita ataupun rayakan keberhasilan kita mungkin. Jangan pernah masukkan dalam hati. Semua itu hanya akan menyesakkan dan mebebani kita dalam melangkah arungi alur hidup ini”, ucap nenek itu dengan sedikit ragu aku mampu mencernanya.

“Lalu nenek meringankan hidup ini dengan memberi sesuatu kepada orang lain, itu kan yang nenek lakukan”

“Kamu……..!?”, nenek itu terperanjat mendengar ceplosan luguku.

“Kamu memang tercipta untuk jadi orang pintar dan bijak Nak”, tambahnya.

“Nek, siapapun kita … semua tercipta dan dimunculkan di dunia ini untuk jadi makhluk yang bermanfaat. Kita tak mungkin sia-sia dihadirkan di bumi ini. Cacing pun sengaja dicipta kecil untuk menggemburkan tanah. Sedangkan batu dipadatkan untuk menahan gunung. Dan kita….pasti ada alasan kuat mengapa kita hadir di sini. Betul kan Nek”, ucapku sambil menggigit butiran kecil jagung bakar.

“Tak kusangka kamu begitu hebat Nak. Orangtuamu pasti bangga mempunyai anak sepertimu”, kata nenek sambil mengusap keningku. Aku tersenyum manis. Sebuah senyum paling lega yang pernah kulepaskan. Sungguh sampai saat ini aku masih belum pernah bicara seperti ini ke orang lain.

“Sayang sampai saat ini mereka masih belum tahu Nek”, jawabku dalam hati.

Dari kejauhan terdengar suara melengking Mama mengajakku pulang.

“Sudah pulanglah …. orangtuamu sudah menunggu. Jika kamu masih ingin bertemu nenek, datanglah ke taman ini kapanpun kamu mau. Telinga ini sangat terbuka lebar untuk menerima lagi celotehanmu. Cepat pulanglah anak hebat”, kata nenek.

“Terimakasih Nek……, sampai jumpa…….”, kulambaikan tangan kananku lalu berbalik dekati suara yang mengajakku pulang.

Temaram senja yang makin memekat hiasi suasana hati yang lega bahagia. Kusandarkan pelan tubuhku di jok belakang mobil kami. Pandanganku menerawang jauh lintasi rimbunnya pohon-pohon penghias taman. Burung-burung terbang tinggi yang pulang ke sarang membawa anganku.

“Seandainya nenek itu nenekku………….”, gumamku.

Jika mama tadi berkata aku sudah dapat rejeki sore ini dengan bisa memakan jagung bakar gratis, sungguh hati nenek lebih bercahaya dari mamaku. Memang menerima selalu terasa menyenangkan, namun memberi dengan sikap tulus akan lebih membahagiakan. Seandainya saja mama tahu itu, apakah mama akan malu? Entahlah…………………….

Akan tetapi kata paman Alexander Pope, semua orang tidak perlu menjadi malu karena pernah berbuat salah selama ia bisa menjadi lebih bijaksana dari sebelumnya, Betul kan?

Keempat roda kendaraan ini terus tergelincir ikuti garis putih di tengah jalan raya yang kami lewati, seakan ia ingin berlomba dengan matahari yang mulai berangsur ke peraduan. Dan aku terlelap dengan senyuman membekas di hati.

 

Lufi P Ardyon, Malang 14 Agustus 2008

 

August 21, 2008

WAJAH VETERAN INDONESIA SAAT INI

Filed under: Uncategorized — Tags: — lpardyon @ 5:46 am

…….Kemerdekaan adalah hak segala bagsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan……….

Salah satu bait dalam Preambule UUD 1945 yang selalu didengungkan setiap upacara di sekolah-sekolah ataupun instansi manapun itu mengingatkan kita, bahwa kita semua berhak untuk merdeka. Merdeka dari segala macam bentuk penjajahan dan penindasan, baik jasmani maupun rohani.

Kemerdekaan merupakan sebuah berkah bagi setiap bangsa yang terjajah. Indonesia yang mendapatkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945 setelah harus menunggu selama kurang lebih 3,5 abad, seharusnya sekarang sudah menjadi bangsa yang lebih bermartabat dibandingkan dengan negara Asia sekitar. Tapi dikarenakan budaya negatif yang masih melekat membuat kita semakin terpuruk di umur yang sudah tak lagi muda ini. Budaya tidak cinta tanah air dan budaya korupsi, membuat bangsa ini menjadi pimpinan klasemen dalam urutan atas liga bangsa-bangsa ekonomi mundur.

Padahal apabila kita mau menengok ke belakang, ke enampuluh tiga tahun yang lalu. Para perintis kemerdekaan dan para pemimpin negeri ini memproklamirkan kermerdekaan Indonesia dengan harapan bangsa ini mampu tumbuh sejajar dengan negara-negara maju. Apalagi ditunjang dengan SDA yang sangat melimpah.

Dan apabila kita melongok ke belakang lebih jauh lagi, sebelum Indonesia merdeka dari jajahan Belanda dan Jepang. Kita akan dapat melihat perjuangan keras dari para pahlawan Indonesia untuk merebut tanah air ini dan mengusir para penindas ibu pertiwi. Para pahlawan tersebut rela mengorbankan semua miliknya, uang, rumah, tanah, ataupun keluarganya. Bahkan mempertaruhkan nyawanya yang notabene bukanlah milik manusia.

Di ulangtahun kemerdekaan yang ke 63 ini, apakah kita teringat dengan para pahlawan tersebut? Mungkin ada sebagian dari kita yang sangat ingat dengan para pahlawan tersebut karena mereka adalah keluarga kita. Atau mungkin kita ingat karena ada sebagian yang menjadi pimpinan sebuah instansi. Tapi ingatkah kita dengan para veteran yang hidup di bawah garis kemiskinan? Mereka yang hidup seadanya dengan bantuan dana dari pemerintah tiap bulannya. Pernahkah kita berfikir, apakah cukup uang yang mereka terima untuk menghidupi diri di jaman yang sesulit ini. Dimana harga bahan pokok melambung tinggi atau bahkan hilang di pasaran karena ditimbun oleh cukong-cukong tikus. Bambang W Suharto seorang pemerhati sejarah, dalam acara bincang pagi di sebuah stasiun TV swasta pada tanggal 18 Agustus 2008, mengungkapkan keprihatinannya bahwa di saat para veteran miskin tersebut hidup jauh di bawah ambang kesejahteraan, para pejabat dan pemimpin yang dipercaya malah menghambur-hamburkan uang negara untuk keperluan pribadinya. Padahal tanah air dan bangsa yang ada sekarang ini sedikit banyak adalah upaya perjuangan dari para pahlawan-pahlawan indonesia tersebut. Memang pemerintah sudah menunjukkan perhatiannya kepada para veteran, namun hal itu dirasa kurang dari cukup oleh para veteran. Yusuf Chusein Saputra seorang pensiunan Brigadir Jenderal jaman perjuangan yang sekarang didaulat sebagai Kepala Humas LVRI (Legiun Veteran Republik Indonesia), menceritakan bahwa sudah ada MOU dengan Perum KA yang menyatakan bahwa semua anggota LVRI mendapatkan diskon 50% apabila menggunakan fasilitas kereta api. Namun dalam prakteknya ternyata diskon tersebut dikenakan untuk perjalanan jarak jauh saja, sedangan yang antar kota berdekatan (misal; Bogor – Depok) para veteran tetap membayar tarif normal. Apakah ini yang dinamakan penghargaan untuk para pahlawan?

Selain dari kutipan di atas tentu saja masih banyak polemik yang terjadi di negara kita tercinta ini yang menyangkut masalah para veteran. Hal di atas hanya merupakan contoh soal kecil saja yang nampak oleh publik.

Sekarang yang patut dipertanyakan adalah, apakah patut memekikkan “Merdeka!” jika masih banyak veteran yang tak terperhatikan, jika masih banyak pengangguran, jika hukum hanya berpihak pada para penguasa?. Sepertinya kata “Merdeka” sangat mempunyai arti yang sangat dalam bagi para koruptor tikus negeri ini, dimana mereka bebas merdeka mengeruk harta negara tanpa takut tertangkap.

LP Ardyon

Hello world!

Filed under: Uncategorized — lpardyon @ 5:39 am

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Blog at WordPress.com.

Design a site like this with WordPress.com
Get started