“Turning away from all the problems concerning ethics or values, there are a number of purely theoretical problems, which are of great importance, and which science, at least at present, cannot answer. Do we live again after death, and if so, is our life temporary or eternal? Can souls have dominion over matter, or do each have a limited freedom? Does the universe have a purpose? Or does it move solely by blind necessity? Or is it a jumbled mess, in which the laws of nature we claim to discover are nothing more than a figment of our own love of order? If the universe is designed, does life have more meaning in it than astronomy would have us believe, or is the importance we attach to life nothing more than parochialism and selfishness? I have no answers to these questions, and I don’t believe anyone else does. But I think human life would lose its meaning if these questions were ignored, or if the answers were accepted without sufficient evidence. Keeping attention on such questions and carefully examining the answers offered is one of the tasks of philosophy.”
Bertnard Russell
7-9-2025
Tentang tugas filsafat
“Beralih dari segenap masalah yang berkaitan dengan etika atau dengan nilai, terdapat sejumlah masalah yang murni bersifat teoretis, yang artinya sangat penting, dan tidak bisa dijawab oleh sains, paling tidak sekarang ini. Apakah kita akan hidup lagi setelah mati, dan jika ya, apakah hidup kita kali itu untuk sementara waktu atau untuk selamanya? Dapatkah jiwa menguasai benda, atau apakah masing-masingnya mempunyai kemerdekaan terbatas? Apakah alam raya ini punya tujuan? Atau apakah ia bergerak semata-mata karena keniscayaan yang buta? Atau apakah ia melulu kekacauan yang campur aduk, di mana hokum-hukum alam yang kita anggap kita temukan tidak lain khayal yang timbul berkat kecintaan kita sendiri pada ketertiban? Jika benar alam raya itu terancang, apakah hidup lebih berarti di dalamnya dibanding dengan gagasan-gagasan yang diinginkan oleh astronomi agar kita mempunyai, atau apakah arti penting yang kita berikan pada kehidupan tak lain dari parokialisme dan sikap mementingkan diri sendiri? Saya tidak mempunyai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini, dan saya tidak percaya bahwa ada orang lain yang punya. Tapi saya kira hidup manusia akan kehilangan arti jika pertanyaan-pertanyaan itu diabaikan, atau jika jawaban-jawaban diterima tanpa bukti-bukti yang memadai. Menjaga agar tetap ada perhatian pada pertanyaan-pertanyaan demikian serta meneliti dengan seksama jawaban-jawaban yang disodorkan merupakan satu tugas filsafat.”