Fakultasku yaitu Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sriwijaya (FMIPA UNSRI) akan mengadakan pemilu untuk memilih Gubernur dan Wakil Gubernur Mahasiswa FMIPA UNSRI pada 31 Oktober 2013. Kalau begitu berapa banyak yang sudah tahu? Tampaknya pesta demokrasi di fakultasku tahun ini meriah dengan 3 kandidat pasangan calon yang kabarnya berjanji memberikan hal-hal positif untuk FMIPA. Menunjukkan bagaimana nantinya kerja mereka kita memimpin suatu badan yang menjadi garda terdepan eksekutor mahasiswa di FMIPA. Padahal dalam kacamata pribadi saya, jika ingin melihat track record BEM KM FMIPA UNSRI, organisasi ini seperti belum menunjukkan taringnya, bahkan terkesan kalah glamour dengan himpunan-himpunan yang berada di FMIPA.
Kita ketahui bahwa FMIPA adalah pencetak generasi yang berbasis keilmuan dengan segala kesibukannya. Mulai dari praktikum di laboratorium, membuat laporan praktikum, ditambah kegiatan kuliah lapangannya serta agenda lain yang menyita banyak waktu mahasiswa FMIPA itu sendiri yang pada akhirnya berpengaruh terhadap kinerja BEM itu sendiri
Selama ini negara kita (Indonesia) dicap sebagai negara berkembang, dan tidak tahu sampai kapan? Seperti tidak ingin menjadi negara maju. Karena apa? Banyak ilmuwan-ilmuwan jenius kita yang pergi meninggalkan negeri ini untuk memilih berkarir di negara lain karena TIDAK DIHARGAI! Pemerintah nyatanya tidak pernah belajar bahwa sumber daya manusia di Indonesia sudah saatnya difasilitasi dengan tidak hanya melihat hasil instan
Walaupun pemerintah sudah lebih “care” dalam hal ini terhadap riset-riset penelitian, menghargai peneliti dalam negeri dengan fasilitas-fasilitas yang lebih baik, nyatanya itu masih jauh dari harapan. Keluhan susahnya dana keluar, fasilitas laboratorium yang tidak pernah diperbaharui membuat ilmuwan kita lebih nyaman dengan bantuan hibah negara lain yang sangat aktif dalam bidang sains dan teknologi.
Kemana mahasiswa FMIPA UNSRI?
Dibalik kenyataan-kenyataan diatas, apa yang dilakukan mahasiswa FMIPA UNSRI? Saya pribadi melihat ada 4 golongan di fakultasku, yang pertama adalah mahasiswa yang masa bodoh terhadap situasi yang terjadi. Golongan mendominasi karena dari awal kedatangannya di FMIPA hanya untuk lulus. Golongan kedua adalah golongan yang “balik stir”. Kenapa saya golongankan hal tersebut karena mereka bingung dengan prospek di FMIPA. Golongan ini akhirnya lebih memilih tetap kuliah, tapi yang difikirannya hanya tentang politik dan ekonomi di negeri ini. Golongan ketiga adalah golongan akademis. Saya maksudkan akademis karena dibalik itu sebenarnya mereka adalah golongan inti karena memang serius untuk menggeluti tentang sains itu sendiri. Namun ketika lulus bingung mau kemana langkah selanjutnya karena minimnya lapangan kerja ataupun kebutuhan terhadap lulusan FMIPA itu sendiri. Dan terakhir golongan yang rajin organisasi, tiap hari pulang sore, ikut rapat ini itu, biasanya berjiwa sosial tinggi, namun dari segi akademis kalaupun ada yang baik tidak jarang banyak juga yang buruk.
Yang diharapkan dari mahasiswa FMIPA
Jujur tidak adil rasanya melihat tulisan saya diatas sebelumnya dengan menggolongkan kelompok mahasiswa di FMIPA UNSRI itu sendiri. Mungkin banyak perdebatan seperti “eh, ada kok tuh mahasiswa yang rajin organisasi tapi IPKnya bagus-bagus aja, lulusnya cepet lagi”, atau yang bilang “ah, elo sok kritis, padahal sama aja kayak salah satu golongan diatas, lulus aja juga belom”, kalimat-kalimat itu pasti akan ada dan memang sudah dasarnya mahasiswa itu selalu memberikan argumen, tidak hanya diam dan hanya pandai beretorika tanpa aksi yang nyata.
Ada satu yang saya harapkan terutama dari Gubenur dan Wakil Gubernur BEM KM FMIPA itu sendiri, bahwa mereka harus siap untuk membuat satu golongan baru yang siap menjadi instrumen terdepan dalam menunjukkan kualitas dari mahasiswa FMIPA itu sendiri. Apakah itu? Saya mencari mahasiswa organisatoris yang mampu benar-benar mengerti fungsi mahasiswa FMIPA itu sendiri dengan tidak keluar dari jalurnya. Dalam artian mahasiswa tersebut adalah mahasiswa yang tetap konsen dengan bidang ilmunya dan mau memperjuangkannya dengan wadah BEM itu sendiri.
Lupakan kegiatan-kegiatan yang bersifat “event organization” seperti lomba futsal dan olahraga-olahraga lain (karena kita bukan fakultas olahraga). Saatnya BEM KM FMIPA itu bisa sebagai EO yang baik dengan membuat Seminar Tingkat Nasional dengan bisa memanfaatkan dosen-dosen di fakultas kita untuk mencari solusi sains dan teknologi di negeri kita ini (yang saya lihat belum pernah ada), atau Olimpiade FMIPA untuk mengenalkan bagaimana FMIPA itu sendiri (siswa banyak yang ikut olimpiade ketika sekolah, namun ketika tuntutan orangtua atau lapangan kerja mereka tidak meneruskan minatnya di FMIPA dan lebih memilih fakultas lain). Bukan berarti saya menyuruh teman-teman sebagai EO,
Selain tentunya sebagai EO, advokasi terhadap kebijakan birokrasi juga patut diperjuangkan. Yang masih menyita pertanyaan bagi saya adalah kasus bahwa mahasiswa FMIPA tidak ada baju PK2 (Program Pengenalan Kampus) satu-satunya fakultas di UNSRI! Terlihat dari hal sepele mengenai transparansi dana teman-teman di BEM tidak total dalam berjuang (padahal, maaf fakultas lain bisa, walaupun kabarnya baju itu ditukar dengan uang pengganti). Kita perlu forum-forum diskusi yang aktif dengan nuansa ilmiah bukan hanya bahasan politik karena kita FMIPA. Seperti membuat kajian dengan teman-teman HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan) untuk menggalang riset-riset ilmiah yang dijalankan mahasiswa bukan hanya dosen atau mengkritisi birokrasi dengan memperjuangkan nasib para scientist Indonesia kedepannya.
Pada akhir tulisan ini, semoga harapan saya diatas bisa dijadikan acuan kemana arah perjuangan yang pas untuk BEM KM FMIPA. Dan yang terpilih nanti bisa lebih baik lagi dari kepemimpinan selanjutnya.
Hidup Mahasiswa! FMIPA ILMIAH!


