Raja Durjana Masa Kini

Raja itu pemimpin, entah bagaimanapun kualitasnya, ia akan mengarahkan siapa-siapa yang dipimpinnya ke arah mana harus mengejar.

Tak banyak raja di dunia ini yang memimpin karena dipilih oleh rakyatnya. Kebanyakan dari mereka berpaham monarki, hanya ingin keturunannya yang meneruskan kepemimpinannya. Mungkin itu sebabnya, banyak yang berpendapat kalau sistem kerajaan tak cocok untuk zaman kekinian. Rakyat ingin yang paling kredibel yang memimpin mereka.

Ada banyak contoh raja yang durjana, sangat kejam kepada banyak penduduk negerinya. Sayangnya, tetap saja dia dituruti karena ketakutan akan murkanya yang akan semakin menyengsarakan siapapun yang protes. Contohnya, raja Namrud, raja Firaun, dan raja Jenghis Khan. Di antara kekejian mereka adalah mereka membuat banyak nyawa orang yang tak bersalah melayang begitu saja.

Kalau raja, tetapi dipilih oleh rakyat, ada juga contohnya yang paling terkenal: Nabi Daud alaihissalaam. Beliau dipilih karena sikap pemberani dan kebijaksanaannya. Di kisahnya ketika melawan panglima Jalut yang berbadan besar, Nabi Daud masih berusia belia. Cara yang beliau gunakan untuk melawan sang panglima juga bukan menggunakan senjata besar, melainkan menggunakan ketapel. Rekam jejak dalam menunjukkan kebijaksanaannya jugalah yang membuat raja sebelumnya percaya untuk menyerahkan kekuasaan kepada salah satu nabi yang namanya disebut di Al-Qur’an ini.

Kembali ke cerita raja durjana, kebanyakan dari mereka diceritakan kalau kekuasaannya runtuh mengenaskan. Si raja tersebut nista oleh serangan nyamuk, tenggelam di dalam laut, dan sebagainya. Tak ada yang menginginkan kematian seperti itu. Akan tetapi, akibat dari salah kaprahnya cara kepemimpinan mereka dirasakan oleh rakyatnya, bahkan setelah kekuasaan mereka lenyap.

Anak-anak bayi yang dibunuh oleh Namrud dan Firaun tak akan bisa hidup kembali. Kita yakin bahwa anak-anak akan menempati tempat yang baik ketika mereka kembali ke haribaan-Nya belum membawa dosa. Akan tetapi, kita juga bisa membayangkan seberapa besar duka dan trauma yang dialami keluarga mereka. Bani Israil, setelah FIraun wafat, diriwayatkan terluntang-lantung di negeri di seberang benua Afrika itu.

Banyak zaman telah berlalu. Negeri kita kini bernama negeri demokrasi. Pemimpinnya tak bisa seperti raja yang monarki, atau membuat aturan tanpa bisa diberi oposisi. Demokrasi yang bangsa Indonesia pilih, idealnya, tak bisa membuat pemimpin tertingginya, presiden, dituruti keinginannya untuk menjadikan keturunannya menjadi pemimpin selanjutnya. Memang tidak apa-apa kalau rakyat yang mau keturunannya yang melanjutkan, tetapi kalau rakyat diset supaya mau seperti itu, apa jadinya?

Anak-anak yang katanya tergolong miskin, tak punya cukup uang untuk memenuhi kebutuhan pokok, mengelu-elukan program makan gratis, walau ternyata terwujudnya masih sangat lama. Alih-alih makan gratis, program berhutang dengan jumlah yang fantastis segera terlihat di depan mata setelah pemimpin yang bagai raja kita akan berakhir masa jabatannya. Mereka yang miskin pun punya tanda hutang triliyunan yang transparan, hanya bisa dilihat oleh lembaga keuangan luar negeri.

Mereka yang sedikit tidak miskin dipaksa menabung untuk hunian. Oh, Kakak-kakak, siapa di antaramu yang mengeluarkan ide gila ini? Siapa diantaramu yang menyetujuinya, bahkan tanpa tahu dengan cermat maksudnya apa? Apa tidak sungkan kalian untuk menetapkan aturan itu, tanpa sungkem dulu kepada Pak Satpam atau petugas kebersihan?

Jangan sampai presiden kita menjadi raja durjana di masa kini. Kita tidak boleh membiarkan, apalagi memilih yang semacam itu. Ayo bangun dan berpikir! Kita kuat dengan pengetahuan yang seharusnya semakin murah didapatnya. Baca, cermati yang durjana, dan hapuskan ide-idenya. Bersatu kita teguh untuk saling mengingatkan kembali ke cita-cita pembangunan bangsa.

Mencintai Negara Kita dengan Bahasa

Siniar dari Raditya Dika dengan bintang tamu Ivan Lanin tersebut langsung saya tonton ketika muncul di beranda Youtube. Alasannya, tentu saja karena sang tamu adalah yang sudah dikenal banyak orang sering berurusan dengan dunia kepenulisan dan karena saya termasuk fan beliau.

Penggunaan ejaan bahasa Indonesia yang benar sudah pasti menjadi salah satu tema yang dibahas. Kita tahu baik pewawancara maupun yang diwawancarai adalah sesama penulis. Akan tetapi, ada juga hal-hal yang kita diingatkan kembali, yaitu tentang mengapa menggunakan bahasa Indonesia dengan baik itu penting sekali.

Negara tercinta kita ini usianya tergolong muda dibandingkan banyak negara besar di dunia. Namun demikian, buku sejarah manapun menjelaskan kalau niat banyak pulau di Indonesia untuk bersatu menjadi kesatuan sudah ada 18 tahun sebelum pendiri bangsa kita memproklamasikan kemerdekaan. Saat apakah itu? Jawabannya ialah ketika momen sumpah pemuda pada tahun 1928.

Pada saat itu, para pemuda dengan pemikiran yang jauh ke depan, seperti Bung Karno dan Bung Hatta, berkumpul. Mereka berdiskusi dan kemudian mengakui bahwa untuk menjadi bangsa yang makmur, beradab, serta setara dengan negara lain, bangsa kita harus kuat dan bersatu. Cara yang mereka pilih untuk bersatu, lalu dirumuskan menjadi tiga butir sumpah penting.

Ada satu butir isi sumpah yang tak lekang oleh waktu masih menjalankan tugas persatuannya dengan baik. Sumpah itu berisi janji untuk menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Di antara banyak bahasa yang digunakan oleh suku-suku di seluruh nusantara, bahasa Jawa tidak dipilih, walaupun jumlah penuturnya paling banyak. Alasannya adalah karena bahasa Jawa mempunyai unggah-ungguh yang rawan membuat ketidaksetaraan para penggunanya. Di sisi satunya, bahasa Indonesia lebih bersifat egaliter, setara, sehingga tidak menjadikan seseorang lebih tinggi atau rendah dibanding yang lain.

Ide politik untuk menggunakan bahasa sebagai alat pemersatu sangat brilian, seperti disebutkan dalam siniar. Bahasa ini, setelah itu, menjadi alat yang digunakan untuk membangun sebuah negara. Proklamasi kemerdekaan menggunakan bahasa Indonesia. Penyusunan aturan-aturan negara dan pengumumannya juga. Dari Sabang hingga Merauke memahaminya. Kita tidak perlu takut mengunjungi pulau tetangga karena kesulitan bahasa. Sangat bermanfaat, bukan?

Di sisi lain, namanya juga bahasa, ia selalu berkembang mengikuti zamannya. Cara bicara kita terkadang sedikit berbeda akibat pengaruh dialek dan kebiasaan di daerah tertentu. Apa yang membuat kita tetap bisa mengkomunikasikan ide dan gagasan tanpa banyak menimbulkan salah paham? Kan salah paham bisa berujung pada konflik yang tidak mempersatukan kita lagi.

Pasti jawaban dari hal itu adalah menggunakan bahasa dengan baik dan benar. Untuk itulah, negara kita melestarikan dan menentukan tata cara dan aturan berbahasa, baik tulis maupun percakapan. Hasil dari ketentuan itu misalnya adalah EYD V dan KBBI. Wah, rugi sekali berarti, ya, kalau kita tidak mencermati pelajaran bahasa Indonesia di sekolah.

Kadang kita merasa kalau menggunakan bahasa baku membuat nuansa tulisan kita menjadi kaku, atau bahkan aneh. Ini pendapat saya, sih, sebenarnya tidak juga. Memang ada tantangan tersendiri untuk membuat karya tulis kita dekat dengan target pembaca dan benar-benar masuk dalam pemahaman pihak lain. Akan tetapi, bagaimana kalau budaya menulis sesuai dengan ketentuan kita lestarikan? Bisa jadi, hal inilah yang akan menjadi tren sehingga menulis seperti ini menjadi lazim. Walaupun memang, bahasa percakapan bisa berbeda sekali pola penyampaiannya.

Yang penting harus kita sadari setelah ini adalah bahasa sebagai alat berkomunikasi yang bersimpul pada prinsip baik negara kita untuk bersatu, harus selalu kita hargai. Dengan harga itu, ada kepatutan bagi semua orang untuk belajar dan menggunakan bahasa Indonesia dengan baik. Hal yang mungkin remeh, tetapi merupakan sumbangsih kita untuk tetap menyatukan negara, dan sebagai bentuk cinta kita kepada tanah air negara kesatuan republik Indonesia.

Untukku Istanaku

Jam menunjukkan pukul delapan malam. Namun, Pak Ju belum kembali ke rumahnya. Istrinya menunggu dengan sabar sambil melipat baju. 

Tok … tok.

Istri Pak Ju, Bu Is berbinar matanya. Namun, raut mukanya segera berubah. Ia mengernyitkan alis.

“Bu Iiis!” teriak seorang perempuan dari balik pintu rumah.

Dari dalam rumah, perempuan itu berjalan ke arah ruang depan. Helaan napas menandakan kalau bukan suara itu yang ia harapkan. Akan tetapi, Bu Is tetap penasaran mengapa ada tamu di jam-jam segini.

Kunci pintu dibuka, dan terlihatlah siapa yang mengetuk pintu. Sang tamu adalah orang yang sering dilihatnya karena rumahnya hanya terpisah beberapa nomor dari rumah ini. Senyuman manis terlihat.

“Bu, ini kotak pensilnya Nak Mbarep tadi ketinggalan di rumah,” ungkap perempuan muda itu.

“Oh, iya, Bu Mar. Terima kasih banyak, ya. Mbarep lupa sepertinya,” jawab Bu Is.

Anak mereka sering belajar bersama. Tugas kelompok dari sekolah tadi dikerjakan di teras Bu Mar.

“Sudah malam, saya pamit dulu, ya,” ujar tamu tersebut dengan segera.

“Iya. Maaf, ya, Mbarep jadi merepotkan Bu Mar untuk mengantar ini.”

“Tidak apa-apa, Bu. Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.”

Bu Is lalu menutup kembali pintu rumah, menguncinya, dan segera memasukkan kotak pensil ke tas putra sulungnya. Dia berpikir pasti besok buah hatinya itu akan membutuhkan benda itu di sekolah.

Tidak lama setelah itu terdengarlah suara dari kejauhan. Brrmm … brrmm …. Suara itu cukup fasih terlontar dari kendaraan yang ia tahu. Senyuman Bu Is sedikit membuncah.

Ia sibakkan rok panjangnya supaya bisa berjalan cepat ke arah depan rumah lagi. Bu Is menyingkap korden jendela untuk memastikan siapa yang datang. Hatinya berdegup, walaupun ia sudah bersama dengan belahan hatinya itu selama lebih dari sepuluh tahun.

Cahaya lampu motor sampai duluan di jalanan depan teras. Bu Is yakin kali ini yang datang adalah yang ia tunggu-tunggu.

Sepuluh detik berlalu bagaikan sepuluh tahun. Wanita yang mencintai suaminya itu teringat bagaimana dia selalu diistimewakan. Ia terbayang kue tar kecil yang dibelikan di hari ulang tahunnya, tidak peduli seberapa deras hujan turun. Sebelum putranya lahir, bersama sang suami, Bu Is sering nge-date ke warung Mi Godhog sambil bertukar pantun cinta. Sungguh lucu dan menggelikan kenangan-kenangan seperti itu.

Suara motor semakin mendekat, dan Bu Is menyaksikan benar suaminya yang mengendarai kendaraan butut beroda dua. Akan tetapi, motor pujaan hatinya terus berlari, tidak berhenti di depan rumah. Senyum Bu Is belum hilang, hanya matanya yang sedikit melongo menyaksikan dari kiri ke kanan motor lewat.

“Eh, Bapak ke mana??”

Perempuan berusia empat puluh tahunan ini menjadi gundah. Mau ke mana lagi suaminya mendekati pukul sembilan ini? Ia duduk di kursi ruang tamu, kemudian segera berdiri menuju ruang tengah. Bu Is meletakkan ponsel pintarnya di meja depan televisi. Ia harus mengkonfirmasi yang barusan ia lihat.

Sebuah aplikasi untuk saling mengirim pesan ber-icon hijau ia buka. Satu nama ia pilih, dan kata demi kata dengan lancar dan cepat ia ketikkan.

Bebarengan dengan tombol kirim yang Bu Is tekan, suara motor masuk ke dalam teras rumah. Pesan yang barusan ia kirimkan sepertinya tidak berguna. Bu Is akan memastikan langsung apa yang telah terjadi.

Pak Ju dan Bu Is hampir bersamaan memegang gagang pintu, tetapi sang suami lebih cepat.

“Assalamualaikum, Dek!” ujar Pak Ju langsung.

“Waalaikumsalam, Mas! Tadi ke mana?” tanya Bu Is juga langsung.

“Ke mana? Ya, ke kantor.”

Pak Ju masuk rumah setelah Bu Is mencium tangannya. Bapak yang usianya sekitar lima tahun lebih tua dari istrinya tersebut duduk di kursi ruang tamu. Terasa baginya kursi yang masih hangat karena tadi Bu Is lama duduk di situ.

Istri Pak Ju duduk di sebelahnya, siaga untuk melemparkan pertanyaan-pertanyaan.

“Setelah ke kantor, Pak! Tadi kok sudah sampai rumah, tapi bablas ke sana?” ungkap Bu Is sambil menunjuk ke arah yang ia maksud.

“Iya, maaf. Jadi lama, ya?”

“Kok masih nanya? Aku tadi sudah menunggu lama, Mas. Sudah kusiapkan makanan untukmu.”

“Maaf, ya, Dek. Jangan marah, dong!”

“Jadi, tadi ke mana?”

“Tadi ke ….”

Belum sempat Pak Ju menjelaskan, Bu Is tidak sabar. Ia penasaran.

“Ke rumah yang bak istana di ujung jalan itu, ya?”

“Aku tahu, Mas suatu hari bercita-cita punya rumah sebesar itu. Mas setiap lewat selalu memandanginya. Tapi, ya tidak usah segitunya, malam-malam mampir memandangi dulu sebelum pulang,” tambah Bu Is

“Hehe, tadi tukang nasi goreng kesukaanmu berhenti di depan rumah istana itu, Dek. Ini buatmu,” jelas Pak Ju.

Laki-laki itu lalu berkata lagi, “orang yang kekayaannya juara satu mungkin bisa punya istana. Tetapi, aku, Juari, punya Istini yang lebih cantik dari rumah manapun.”

Bu Is tersipu-sipu. Ia berusaha menyembunyikan merah pipinya dengan segera mengambil bungkus nasi goreng ke dapur.

Restoran Ramah Anak

Beberapa waktu lalu, saya sempat menuliskan kegundahan saya atas sedikitnya fasilitas bermain umum untuk anak. Bahkan, hanya sekedar perosotan atau ayunan pun susah mencarinya, terutama di daerah lingkungan saya tinggal, di Singosari.

Mungkin karena menunggu program pemerintah yang entah kapan akan membantu anak-anak dengan tempat bermain yang cukup, pihak swastalah yang turun tangan. Tentunya, dengan caranya sendiri. Namanya juga usaha swasta, bagaimanapun juga akan membuat yang menghasilkan keuntungan.

Mungkin sekitar 5 tahun terakhir, tidak hanya kafe yang merebak di berbagai kota di Indonesia, restoran ramah anak juga. Biasanya mereka menawarkan tempat bermain baik yang berbayar ataupun gratis. Memang mengerti sekali pengusaha-pengusaha itu. Mereka tahu kalau orang tua sering kerepotan membawa anak makan di luar. Mainan-mainan tersebut bisa sedikit ayah dan ibu makan dengan lebih tenang. Anak-anak pun jadi lebih aktif mengajak orang tuanya ke tempat makan favoritnya dengan pengait mainan-mainan itu.

Kemarin, keluarga kami pergi ke sebuah restoran ramah anak di daerah Lowokwaru, Malang, namanya Chaiyoo Eatery. Karena kemarin adalah akhir pekan, kami harus membayar biaya 20 ribu rupiah per anak supaya anak bisa bermain di playground yang disediakan. Permainannya lumayan menyenangkan, ada perosotan yang bisa dipanjat, dan banyak permainan yang juga ramah untuk batita.

ikutan cooking class membuat mochi di chaiyoo eatery (foodcourt Melati)

Tidak hanya Chaiyoo Eatery, dari pengalaman mengunjungi tempat makan seperti ini, anak-anak sangat menikmati berada di sana. Keringat membasahi badannya, lumayan menguras tenaga sehingga setelah itu anak capek dan cepat tidur.

Akan tetapi, saya rasa akan jauh semakin ramah, kalau restoran ramah anak juga menyediakan menu-menu yang ramah untuk kesehatan anak. Mbok, ya, banyakin sayurnya. Di tempat kemarin, menu yang disediakan, sekitar 70% adalah makanan ringan yang manis. Mbok, ya, selain menangkap kegundahan para ayah bunda akan kekurangan tempat main, juga menangkap kegundahan kami akan berita terkenanya sakit ginjal dll. karena terlalu banyak mengkonsumsi ultra processed food dan gula.

Ayo, semangat, para pengusaha! Semakinlah menuju yang lebih baik dan baik lagi.

Kemenangan-kemenangan Kecil di Rumah

Punya anak balita itu membuat badan sangat capek, apalagi kalau lebih dari satu, seperti yang saya alami sekitar tiga tahun yang lalu. Di rumah ada tiga balita: 0, 2.5, dan 5 tahun waktu itu. Tiga tahun berjalan masih terasa melelahkam, tetapi semakin banyak kami merasakan kemenangan-kemenangan kecil yang hampir semua bisa dirayakan dengan senyuman.

Kemenangan yang sering terjadi adalah ketika saya berhasil membantu anak-anak mandi tanpa rewel. Ritual harian yang semakin teratur membuat mereka bisa mengira-ngira harus bagaimana. Bahkan, kebiasaan cuaca dingin di Jepang yang membuat kami kebanyakan hanya mandi sekali dalam sehari sudah bisa kami adaptasikan menjadi dua kali. Ini pencapaian luar biasa bagi saya yang memandikan tiga anak dalam sekali waktu.

Kemenangan lain adalah ketika semua anak mau menghabiskan makanan yang kami sediakan di meja makan. Masih banyak PR yang harus diperbaiki soal makan ini, tetapi saya rasa semakin baik. Anak-anak semakin bisa makan sendiri, walaupun tetapi harus dibantu, terutama anak kedua dan ketiga.

Ada juga saat-saat anak-anak mau saling membantu, mau saling berterima kasih, mau meminta maaf. Enggak selalu lancar seperti itu memang, masih sering juga pertengkaran menyeramkan terjadi.

Yang melegakan sekali adalah ketika saya bisa menahan emosi menghadapi suasana chaos akibat para buah hati yang bertindak di luar harapan. Keadaan semacam ini bisa dibilang hampir setiap hari, dan masih juga sering keluar teriakan dan kemarahan dari diri sendiri. Makanya, waktu bisa menahan emosi adalah hal yang patut dirayakan supaya lestari.

Anak-anak ini adalah hadiah sekaligus titipan Dari Allah Swt. untuk kami. Semoga Allah Swt. senantiasa menganugerahkan rasa kasih sayang kepada kami untuk sabar merawat mereka.

Utopia Sekolah Masa Depan

Sekolah di Indonesia, image-nya adalah kurikulum gonta-ganti sesuai siapa menteri pendidikannya, membuat pengajar harus beradaptasi terus-menerus, dan membuat orang tua harus ingak-inguk, terkadang kebingungan, harus memberi dukungan apa untuk anaknya.

Namun, saya yakin sebenarnya, sebenarnya pemerintah pun selalu mengevaluasi dan mencari tahu sistem atau cara pembelajaran yang seperti apa yang paling cocok dan paling baik untuk anak Indonesia. Di akar rumput, sekolah, terutama sekolah swasta, mengutak-atik lagi panduan dari pemerintah supaya semakin sesuai dengan gambaran ideal bagaimana seharusnya anak-anak belajar.

Apa mungkin terjadi, ya, suatu saat nanti, kita berada di negeri utopia. Di sana semua anak-anak memperoleh hak belajar sehingga dia merasa senang karena bertambahnya berbagai kemampuan. Semua penerus generasi mendapatkan masa depan yang lebih baik dari hasil belajar itu. Bangsa Indonesia dapat menjadi negara yang beradab, meninggikan derajat rakyat sendiri dan dunia, dan menjadi teladan yang dihormati dan disayangi para tetangga.

Saya rasa, kita tidak bisa saling menyalahkan untuk menuju dunia utopia sekolah masa depan. Pembelajaran pertama dan yang paling lama sebenarnya dialami anak-anak di rumah. Saya pun menyadari itu ketika pindah tempat tinggal, dan tempat sekolah anak-anak juga pindah. Bagaimana akhirnya anak bisa menuntaskan target belajar dari sekolah juga tergantung bagaimana di rumah ia merasa aman dan tersokong.

Model belajar idaman, walaupun kadang kita berada dalam kondisi keteteran untuk menuju ke sana, semoga kita tidak lelah untuk menggapainya.

Palang Besi Idaman Biar Otot Kuat

Karena masih beberapa bulan tinggal di Indonesia, ya, kami masih heboh membanding-bandingkan banyak kebiasaan sehari-hari. Namun, kalau diperhatikan, banyak juga keseruannya. Banyak hal masih harus kami adaptasi dan pelajari.

Dari tidak banyak taman bermain yang kami temukan di lingkungan sekitar, ada alat main sederhana yang jarang ada di Indonesia. Dialah, tetsubou atau palang besi. Alat ini simpel, hanya palang besi, sesuai namanya. Biasanya, di banyak taman bermain di Jepang, tinnginya macam-macam, dapat digunakan anak sesuai tinggi badannya.

Mungkin banyak di antara kita yang menonton anime Doraemon atau yang lain pernah melihat tokoh karakternya bermain dengan palang ini. Anak-anak bisa memutar-mutarkan badannya dengan berbagai gaya di situ. Jangan salah, orang-orang semacam saya yang waktu kecil tidak pernah bermain seperti ini tidak sanggup bergelantungan di sana.

Kalau di Jepang, alat ini tidak hanya ada di taman bermain umum, tetapi biasanya selalu ada di halaman sekolah, dan sepertinya masuk di kurikulum olahraga. Saya lihat banyak anak sudah diajarkan dari usia balita. Latihan-latihan yang dilakukan dengan besi horisontal ini bisa melatih kekuatan otot tangan, kaki, perut, dan juga melatih keberanian. Kalau otot kuat, insya Allah badan menjadi lebih sehat tidak hanya ketika berusia muda, tetapi juga ketika sudah berumur banyak.

Oleh karena itu, kami sangat mengidam-idamkan untuk memasang alat serupa di rumah kami nanti. Akan tetapi, saya masih kesulitan untuk mencari tahu di mana bisa membelinya. Di toko hijau itu, ada tidak, ya?

WordPress.com で次のようなサイトをデザイン
始めてみよう