Beberapa kilometer arah selatan dari Soledad, Sungai Salinas mengalir merapat ke tepian sungai di sisi bukit dan merembah dalam dan hijau. Airnya hangat, mendesir di pasir kuning di bawah sinar matahari sebelum sampai ke penggalan sungai yang dangkal. Di satu sisi sungai, lereng kaki bukit yang keemasan melekuk menuju Pegunungan Gabilan yang kukuh dan berbatu, tetapi di sisi bukit, sungai itu dipagari pepohonan–dedalu segar dan hijau di setiap rantingnya, membawa sisa-sisa banjir musim dingin di ujung urat daun; dan pohon-pohon ara dengan batang berbintik putih, menggampai, dan ranting-ranting yang melengkung di atas telaga. Di tepi sungai berpasir di bawah pohon, dedaunan terbaring kaku dan begitu kering hingga seekor kadal membuat bunyi kerisik lantang ketika berlari melintas. Kelinci-kelinci keluar dari semak-semak untuk duduk di pasir kala senja dan permukaan pasir yang lembap penuh dengan jejak malam para rakun, juga telapak kaki anjing-anjing peternakan, dan jejak kuku belah rusa-rusa yang datang untuk minum dalam gelap.
Kemanakah Jalan Hidupku?
Bertahun-tahun aku telah hidup dalam bayang-bayang orang lain.
Bertahun-tahun aku hidup tanpa benar-benar bisa bersuara.
Seolah-olah bayanganku, jasadku, semua tidak menyatu dengan gerak pikirku.
Aku berpikir apa, tetapi tubuhku melakukan apa.
Aku ingin kembali pada waktu dimana seluruh jemariku bersatu dengan perasaanku.
Aku tidak hidup dalam ruang dan waktu milik orang lain.
Aku ingin mengambil kembali apa yang telah lama hilang.
Seperti seorang tuan yang kehilangan kucingnya, aku ingin bertemu kembali dengan kucingku itu.
Kucing yang selalu bisa aku ajak berbicara, kucing yang selalu bisa aku sentuh–kusentuh lembut bulu halusnya.
Kucing yang kemanapun aku pergi, ia akan selalu membuntutiku.
Aku telah menyaksikan bagaimana riuh-riuh di sekitar membuatku terdiam, tersunyi, terpinggirkan.
Seolah-olah aku tidak bisa berbuat apa-apa. Atau seolah-olah aku wajib berbuat apa-apa–yang bukan aku inginkan.
Aku hanya ingin menulis dan bersuara. Aku hanya ingin berguna dan terus bersuara. Aku hanya ingin berusaha untuk diriku sendiri, untuk apa yang aku anggap penting, untuk apa yang aku anggap baik. Bukan karena orang akan bertepuk tangan atau tulisan yang kubuat laris terjual untuk memenuhi pundi-pundi uang.
Aku tidak ingin hidup lagi dalam bayang-bayang itu.
Aku ada untuk berbuat.
Allah menakdirkan aku untuk mampu menulis, untuk mampu bersuara. Tetapi ternyata, cara yang aku ambil adalah jalan penuh duri dan batu. Meski begitu, jalan itu bisa membawaku kepada titik ini. Titik kesadaran dimana aku tidak ingin lagi hidup untuk orang lain.
Aku ingin hidup untuk berbuat karena Allah mau aku seperti itu.
Bukan kebetulan semenjak kecil aku suka menulis, bukan, itu bukan kebetulan. Bukan kebetulan juga sejak aku bersekolah aku ingin membuat cerita. Sejak SD pun aku suka membuat cerita dalam kesendirian. Aku suka menulis apa yang aku mau. Sejak dulu aku tidak pernah menulis karena orang lain melainkan tulisan itu bermakna untukku sendiri.
Aku tidak ingin pendapat orang lain menghentikan apa yang telah ada dalam diriku. Aku tidak mau lagi hidup karena orang lain. Karena aku merasa ‘harus’ seperti itu, bukan karena ini ‘penting’ untukku.
Pagi ini aku dibuat berpikir dan tidak bisa berhenti menuliskan ini. Aku akan kembali mengambil alih diriku sendiri, keinginanku, arah jalan hidupku.
Aku bukan tidak butuh orang lain, tapi aku butuh mendengarkan diriku sendiri. Lebih banyak mendengarkan diriku sendiri setelah bertahun-tahun mendengarkan orang-orang di sekitar.
Aku kira dulu aku ingin menjadi pebisnis, tetapi setelah melihat blog-ku sendiri, aku tidak menyebutkan apapun tentang uang. Aku tidak pernah betul-betul ingin menjadi pebisnis. Sejak sekolah pun aku sudah tahu bahwa aku tidak akan menjadi pebisnis sebetulnya, aku ingin tidak bekerja ke luar rumah, jauh dari anak-anakku sendiri. Aku ingin menjadi tempat berpulang anak-anak ketika mereka merasa pilu.
Aku ingin menjadi tempat bernaung anak-anak saat mereka merasa membutuhkannya.
Sekarang aku sepertinya sudah tahu, apa yang bisa aku berikan kepada masyarakat di sela-sela waktuku yang banyak ini, yang Allah berikan ini.
Pagi ini memang aku sakit, tetapi ini titik balik, titik balikku untuk memasuki lagi ke dalam dunia ‘Rani’ yang telah lama redup entah kemana.
Dunia yang diisi oleh ceramah-ceramah, arah-arah, dan buah pikir orang lain yang tidak sejalan dengan nalurinya sendiri.
Rani yang dulu mungkin telah lama hilang entah kemana, sehingga sekarang ia menjadi-jadi dan berantakan.
Saat pagi ini aku melihat Haruki Murakami, memandanginya dan bagaimana caranya bekerja, ternyata aku ingin seperti dia di satu sisi. Haruki Murakami telah menjadi inspirasiku pagi ini.
Dia adalah sosok penulis yang tidak muncul ke permukaan. Seperti aku yang HSP– muncul ke permukaan hanya memberikan rasa menyengat dalam dada, melihat dan menyaksikan apa saja yang berseliweran di dunia maya tidak memberikan aku apa-apa kecuali kepusingan.
Aku akan berlatih menjadi diriku sendiri. Menjadi versi terbaik diriku sendiri.
Aku menyukai dunia anak-anak, tetapi aku juga menyukai dunia orang dewasa. Aku tidak harus sepenuhnya menjadi seperti apa yang orang lain inginkan tentangku.Misalnya, aku merasa aku harus membuat humor-humor ala anak-anak. Tidak, aku hanya suka menikmati sajian tulisan lucu tapi aku tidak begitu tergerak ke arah sana. Aku tidak perlu menjadi apa-apa kecuali diriku sendiri dengan segala potensi yang Allah beri.
Bukan.
Aku bukan ingin jadi apa-apa tetapi aku ingin menjadi seperti yang Allah inginkan. Seperti yang telah Allah berikan, seperti kemampuan, daya nalar, sensitivitas, kreativitas.
Aku ingin menjadi diriku sendiri, versi terbaik dari diriku, dan aku tidak ingin gegabah.
Who is Walt Disney Pt2
Chapter I
The Farm
On December 5, 1901, Walter Elias Disney was born in an upstairs bedroom of a two-story cottage on North Trip Avenue in Chicago.
Walt’s father, Elias, had built the house himself. Walt’s mother, Flora, was trained as a teacher. But she gave up a career to raise her five children. She was as friendly and warm as her husband was short-tempered and stern.
By the time Walt was four, the neighborhood was going rough. So the family moved to a farm in Marceline, Missouri. It was the happiest time in Walt’s childhood.
taken from “Who Was Walt Disney” written by Whitney Stewart.
New vocabs:
– stern: tegas, keras, tanpa kompromi
Writing-Time!
Walt Disney liked being the class clown. He once said that he would do anything for attention. His schoolmates in Marcheline, Missouri, loved his performances.
Once he caught a field mouse and made a leash for it out of a string. He waltzed into class and paraded his new pet around the room.
Somebody saw a little critter and screamed. Walt’s teacher marched right over, put an end to the mischief, and punished Walt. But he didn’t care.
He and his mouse were famous on a day.
Walt Disney didn’t know it then. But one day another mouse — one named Mickey — would make him famous all over the world.
Important Vocabs:
1. leash: pengikat binatang
2. critter: m.hidup, binatang
3. mischief: kenakalan
Winnie the Pooh
Pooh woke up one morning after dreaming of honey all night long.
The dream must have made Pooh’s tummy very hungry,
because it was demanding attention by making loud noises, such as GURGLE! and POP!
Pooh knew that the fastest way to quiet his tummy was to find it some delicious honey.
His cupboard was empty–so he went off into the Hundred-Acre Wood.
Pooh’s search took him right past his friend Eeyore’s house.
Unfortunately, Eeyore did not have a pot of honey for Pooh to share.
Pooh noticed something was missing.
“Eeyore, what has happened to your tail?”
Eeyore didn’t know, so the two friends set out to find it.
New Vocabs:
- Gurgle : suara kayak owok owok ludah di mulut.
- took him right past : membawanya melewati
- Set Out: berangkat
He makes a gurgling sound that seems unpleasant to be heard
The brook gurgling over the rock.
The baby gurgling in his crib.
His boat took him right past the West Coast.
They set out to learn something from the Wizard.
Gigi set out across the country.
Pooh and the rest of his friends in the Hundred-Acre Wood decided to hold a contest.
Whoever found Eeyore a new tail would receive a pot of honey.
Pooh almost won–until Eeyore sat on the Pooh-koo clock Pooh had given him.
“Oh, dear. So sorry, Pooh.”
Akulah yang Tertuduh
Malam ini aku membuka buku yang lama tidak pernah aku buka. Buku itu berjudul “At-Tafakkur” karya Utsman Nur Topbas. Beberapa halaman depan sungguh membenamkan diriku pada pemikiran bahwa ‘selama ini memang akulah tersangkanya’.
Pada buku At-Tafakkur, Utsman Topbas mengajak kita untuk meletakkan tafakkur (berpikir) sebagai aspek yang sangat penting pada kehidupan kita di dunia.
Tanpa bertafakkur mengenai Allah, Kekuasaan-Nya, sesungguhnya bangunan ruhani kita sangat rendah sehingga membuat kita mudah goyah dan silau pada ketiga hal berikut :
- Palsu
- Fana
- Sirna
Tanpa tafakkur, iman kita sungguh rapuh. Ia mudah tertarik pada ketiga hal tadi. Hal-hal yang bersifat palsu seperti dunia ini. Kita disuguhi banyak kepalsuan dalam kehidupan di dunia ini.
- Kepalsuan, mungkin yang bisa menggambarkan kepalsuan ini adalah, hal yang kita kira membahagiakan, rupanya mendorong kita pada jurang kesengsaraan. Kita berpikir bahwa dengan memiliki banyak harta, sebanyak-banyaknya, akan selalu bahagia dalam kehidupan ini. Padahal itulah kepalsuannya. Karena rendahnya bangunan iman dan ilmu, kita mudah terseret pada kepalsuan ini.
- Fana, hal yang bersifat sementara di dunia ini yang kita pikir akan bersama kita selamanya. Keluarga, tempat tinggal, barang berharga, yang kita pikir akan selalu bersama-sama dengan kita, rupanya tidak akan menetap dan suatu hari akan Allah ambil.
- Sirna, hal yang kita pikir akan selalu kokoh hingga selamanya, rupanya akan menghilang kebermanfaatannya sedikit demi sedikit. Kulit kita yang kencang saat muda akan berubah menjadi kisut dan keriput. Rambut kita yang hitam legam, lama kelamaan akan memutih seiring berlalunya hari. Gigi yang lengkap, yang selalu kita rawat dan jaga kebersihannya, akan tanggal pada waktunya. Jasad yang tegap, suatu hari akan membungkuk dan berjalan dengan tergopoh-gopoh.
Tafakkur yang ditopang dengan kesadaran iman akan membawa pada kebahagiaan. Sebaliknya, akal yang gersang akan membuat seseorang semakin :
- Rakus
- Egois
- Sombong
- Rakus.
Ketika kita selalu merasa kekurangan dan ingin terus mendapat manfaat atas sesuatu dengan dunia. Kamu merasa selalu kurang dalam mendapatkan pujian. Kamu berharap terus menerus mendapatkan sanjungan, pujian, dan selalu ingin seperti itu. Ketika mendapatkan satu pujian itu, kamu berharap mendapatkan ratusan atau ribuan pujian.
Ketika kamu telah mendapatkan bukit, kamu ingin mendapatkan gunung, setelah mendapatkan bukit dan gunung, kamu pun ingin mendapatkan ombak, setelah mendapat ketiganya, kamu pun ingin mendapatkan lautan dan isinya, seperti itu terus hingga maut memisahkan ruh dari ragamu.
Ketika kamu banjir orderan, kamu mengharapkan orderan yang lebih dari sebelumnya, sampai ketika orderanmu tidak sebanjir dan seramai yang sebelumnya, kamu bermurung hati dan bermuram durja sampai-sampai lupa mengucap syukur pada Sang Pemberi.
- Egois
Selalu ingin ia yang menjadi prioritas pertama, paling atas, paling terdahulu tanpa memikirkan nasib orang-orang atau makhluk di sekitarnya.
Saat sulit mendera, hanya ingin menyelamatkan dirinya sendiri tanpa memerdulikan nasib yang lain.
Saat ada kesempatan emas, hanya terbersit untuk mementingkan kepentingan dirinya tanpa peduli bagaimana kepentingan orang lain.
Egois timbul karena ia berpikir mengenai “selalu di sini”, kita akan selalu di sini, untuk menang di sini, untuk bertahan di sini (dunia fana). Ia lupa mengenai kampungnya di akhirat nanti, tempat sesunnguhnya memanen semua jerih payahnya selama di dunia.
- Sombong
Selalu mengira bahwa usahanya dan nasibnya adalah yang hal paling berjasa atas segala sesuatu yang terjadi dalam hidupnya.
Seseorang yang mengira harta yang ia dapatkan begitu banyak adalah karena hasil kerja keras, kecerdasan, usaha yang ia lakukan sehingga ia mengira semua yang ia lakukan mampu menghasilkan harta dalam jumlah banyak.
Seseorang yang mengira bahwa prestasi duniawi yang ia dapatkan adalah karena kecerdasan yang ada pada dirinya, padahal Allah-lah yang memudahkan raganya, akalnya dalam melalui tes demi tes, ujian demi ujian, sehingga ia bisa mendapatkan dunia tersebut.
Seseorang yang mengira bahwa banyaknya shalat, sujud, dan zikir yang ia lakukan adalah karena kegigihannya dan konsistensinya semata. Padahal tanpa bimbingan dan kesehatan fisik yang Allah beri padanya, ia mungkin takkan bisa melakukan semua itu.
It is better to stick what you know than try out new things
First time I came into the Children’s Book’s world, I was confused. It was like, i wanted to learn everything and I didn’t know which one I should focus on, from where should I start. I wanted to learn how to do sketching, on the other side I wanted to sharpen my writing skills. As a result, i didn’t have anything. After a short time, I realized that i better to stick on a single activity, that is sharpening my illustration’s skill. For this reason, I knew that focus on a thing is better, maybe much better than try out new things. The following situations from my experience as a designer indicate the importance of FOCUS.
Anger and Stress, A contemplation Part 1
Why am i Angry?
Why did i become stress?
Dua hal ini sebenarnya adalah sifat alami seorang manusia, respon yang ditangkap atas sebuah kejadian yang menimpanya. Tapi ia juga bisa membinasakan tuannya, pemilik ruh sekaligus tubuhnya. Bagaimana kita menghadapinya?
Sebelum masuk lebih jauh pada pembahasan stres dan marah itu sendiri, mari kita dengarkan sekali lagi penjelasan Yasmin Mogahed di bawah ini :
Bagaimana kita mampu memiliki sebuah ‘shelter’ dalam kehidupan yang penuh badai ujian ini?
Ada orang orang yang mampu memilikinya, tapi juga ada yang tidak mampu. Apakah sebenarnya shelter itu?
Jawabannya adalah “HEALTHY HEART”
Bagaimana kita membangun shelter ini? There are 3 prescription from Allah,
- First, 5 times daily prayer
Shalat bagaikan oksigen bagi hati. Jika tidak shalat maka hati pun mati. Ia butuh oksigen setiap harinya.
Ya, shalat.
Pastinya dengan kekhusyukan, kemarin sempat mendengar kajian soal shalat khusyu’. Lebih pentingnya adalah persiapan sebelum shalat itu sendiri, bagaimana ketika kita tidak diburu-buru, bagaimana kita bisa meninggalkan dunia, bagaimana tidak ada urusan dunia yang masih nyangkut di hati, bahkan sampai urusan kamar mandi. Dan yang paling penting dalam poin shalat adalah bagaimana kondisi setelah salat itu sendiri. Apakah shalat itu memengaruhi kita? Kondisi keimanan kita? Jika kelihatannya sudah khusyu, sudah tumaninah, tapi akhlak dan iman kita belum tercermin, maka bertanyalah pada hati, apakah shalat sudah benar-benar ditujukan ke Allah atau hanya ingin terlihat khusyu atau belum sepenuhnya minta tolong sama Allah?
- Quran
Quran, ini hal yang sangat penting karena ia adalah pedoman hidup kita. Segala obat bagi penyakit hati ada di dalam Quran.
Sama juga, Quran dijalankan dengan khusyu’, selalu minta pertolongan Allah untuk memasukkan Quran ke dalam hati kita dan tercermin dalam amal. Pernahkah ketika kita merasa sudah baca Quran banyak, murajaah banyak tapi hati amburadul, marah, atau sedih berlebihan atau sebaliknya, lupa sama Allah karena berbuat hal yang sia-sia sekalipun itu menyenangkan, seperti nonton film berjam-jam atau mendengarkan musik atau menggosipi orang mungkin. Astagfirullah, A’udzubillah :”(((((
- Adhkar
Dzikr bagaikan makanan dan minuman bagi hati. Ketika hati tidak cukup atau sama sekali tidak mendapat nutrisi bagi tubuh, ia akan sakit lama kelamaan.
Dalam dzikr ini diperlukan khusyu’ tingkat tinggi juga, sama dengan shalat. Karena rentan ditunggangi syaithan dengan berbagai aktivitas atau pikiran-pikiran lain. Fokus dzikir hanya kepada Allah dengan posisi yang mendukung, bukan seperti orang bermalas-malasan. Sadar penuh terhadap apa yang ia ucapkan pada lisannya.
Ketiga hal tersebut jika insya Allah kita rutin melakukannya, akan Allah kasih ‘shelter’ untuk kita, insya ALLAH jika diiringi doa untuk terus istiqomah, hanya untuk Allah. Bukan untuk dilihat oleh manusia.
Baiklah, kita maju ke part 2 ya.. biar ga capek 🙂

A seek for happiness
Fatimah dan Ali tengah resah menunggu kesembuhan kedua anaknya. Mereka pun sedang tak punya apa-apa untuk dimakan. Kemudian ‘Ali menawarkan diri kepada tetangganya yang seorang Yahudi untuk membantunya memintalkan bulu domba. Fatimah lah yang memintalnya kemudian diberi imbalan gandum yang bisa dimakan oleh lima orang dalam sehari. Tapi kemudian ada seorang renta dan lusuh datang ke rumah mereka meminta makanan. Lalu Ali memberinya gandum yang terakhir yang mereka miliki. Sehingga keluarganya harus kembali berpuasa untuk menahan lapar.
Seperti itu potret kehidupan sehari-hari keluarga ‘Ali dan perempuan mulia, Fatimah Az-Zahra. Kehidupannya diwarnai dengan kekurangan finansial yang sangat pilu untuk didengar. Seketika kita menjadi paham mengapa Fatimah Az-Zahra adalah termasuk empat wanita mulia.
Fatimah. Ia mengajarkan kita tentang arti kesabaran dan kesyukuran. Bukan. Bukan sabar lagi, tapi keridhaan. Bahwa kondisi keluarganya yang ia jalani memang seperti itu hingga ia menemui Allah ta’ala. Tapi hal itulah yang membuatnya menjadi salah satu wanita mulia penghuni syurga.
Sebuah kejadian dalam hidup, atau rangkaian peristiwa yang menimpa kita datang untuk suatu alasan. Begitu juga kehidupan keluarga Fatimah dan Ali. Allah ingin memberi makna pada kita sebagai umat Rasulullah melalui potret hidup putri seorang Rasulullah ini. Kesabarannya, tawadhunya, ridhanya.
Fatimah mengajarkan kita yang hidup di zaman ini untuk selalu bersyukur. Seolah olah ia ingin menyampaikan pesan kepada kita melalui kisah kisahnya bahwa kebahagiaan dunia hanyalah semu dan sesaat. Tak ada yang abadi. Fatimah mengajarkan kita untuk mencari kebahagiaan hakiki yaitu cinta kepada Allah dan Rasulullah sallallahu alaihi Wasallam.
Kini di zaman dimana semua serba terekspos. Manusia yang satu dengan mudahnya mampu melihat kebahagiaan manusia yang lain. Dunia menjadi kian sempit. Sehingga ruang ruang syukur dan ridha sering tak ada di hati kita. Ruang hati kita senantiasa dipenuhi dengan kecintaan pada dunia. Dan kita mengira itu semua dapat membahagiakan kita. Lantas hati kita menjadi sesak dengan rasa tak bersyukur. Sesak dengan materi. Sesak dengan prestasi duniawi. Sibuk untuk menyamai apa yang orang lain capai. Sibuk untuk terus mencari kebahagiaan dunia yang tak akan pernah habis untuk dicari.
Kebahagiaan dunia menjadi yang utama. Sehingga luput lah akhirat di mata kita. Luput lah nikmat yang telah Allah berikan pada kita. Kita mengira kebahagiaan letaknya pada harta. Tapi tidak ternyata. Qarun tenggelam bersama hartanya di perut bumi. Kita mengira kebahagiaan terletak pada jabatan, popularitas sehingga hal itu berdesakan dan menjadi pikiran utama kita setiap detik. Bagaimana supaya hal tersebut tercapai dsb.
Padahal suatu hari kita akan binasa dan kelak menyesalkan karena lupa memikirkan akhirat, tujuan utama kita.
” Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga) – Ali Imran : 14
Hati tak akan pernah puas karena manusia tabiatnya adalah mencintai dunia dan mencari kebahagiaan padanya. Tak pernah tenang meskipun harta bertumpuk di bank. Tak pernah tenang karena takut hilang pekerjaan / jabatan.
Kebahagian tidak terletak pada dunia melainkan kecintaan pada Allah yang akan melahirkan benih ridha, syukur dan sabar.
Catatan Bunda untuk Anakku (1)

Hai Anakku, Bunda baru saja membaca buku Tazkiyatun Nafs yang ditulis dan diringkas oleh Said Hawwa. Kali ini Bunda ingin memberi tahu kalian apa yang telah Bunda baca yaitu Mengetahui Pintu Masuk Setan ke dalam Jiwa & Menutup Jalannya.
Ternyata, Nak. Setan itu ibarat tentara tentara yang selama dua puluh empat jam penuh akan berusaha menerobos benteng pertahanan kita, yaitu hati kita. Dan tugas kita adalah menjaga setiap pintu-pintu yang mudah diterobos oleh mereka. Ya, Nak. Bunda juga sangat sering lupa bahwa hidup kita di dunia ini adalah pertarungan diri kita dengan syaithan dan juga hawa nafsu. Karena sering lupa dan lalai, Bunda ingin menuliskannya untuk kalian. Inilah pintu-pintu yang menjadi incaran syaithan dan sangat mudah diterobos pertahanannya.
- Marah & Syahwat
Nak, ketika kalian marah, akal kalian kebanyakan tidak berfungsi. Maka pesan Ayahmu adalah jangan pernah mengambil keputusan saat marah karena marah dapat membius akal sehat kita. Banyak orang kehilangan nyawa karena amarah yang membiusnya. Banyak orang yang tega membunuh karena akalnya telah kalah oleh amarah. Disinilah syaithan akan mempermainkan kita seperti anak kecil memainkan bola.
- Dengki dan Tamak
- Kenyang
Nak, jangan juga terlalu kenyang dalam makan. Ingat Rasulullah beserta para sahabat adalah orang yang suka berpuasa. Kenapa sih Bunda ga boleh kenyang-kenyang banget? Iya kalau kata Imam Ghazali,
Pertama, menghilangkan rasa takut kepada Allah dalam hati
Kedua, menghilangkan kasih sayang kepada makhluk karena mengira mereka semua kenyang.
Ketiga, menghambat ketaatan.
Keempat, tidak tanggap apabila mendengarkan ucapan hikmah.
Kelima, tidak menyentuh hati apabila menyampaikan nasihat dan hikmah.
Keenam, menimbulkan banyak penyakit.
Tahukah kamu nak, dulu Umar bin Khattab juga pernah menegur seseorang yang perutnya buncit karena hal itu akan membuatnya malas beribadah.
- Suka Bermegahan dengan Perabotan, Pakaian, dan Rumah
Nak, tahukah kamu Imam Ghazali mengingatkan bahwa apabila otak kita sudah terpenuhi dengan pikiran ini, hidup kita akan cenderung menginginkan hal duniawi terus menerus. Sampai kita masuk ke liang lahat dan tak ada yang mampu kita bawa satupun kecuali amal-amal shalih kita, Nak. Dan apabila itu semua telah mendominasi hati kita (bermegahan) setan akan bertelur dan menetas di hati kita. Ingat surat At-Takatsur ayat 1 yah Nak…
- Tamak
Nah, kalau yang ini cari muka di hadapan orang yang dikaguminya bahkan sampai menjadikan ia sesembahannya. Nak. Tujuannya untuk mendapatkan keuntungan baginya. Jangan bergantung pada makhluk, Nak. Allahusshamad…
Itu saja dulu ya, Nak. 5 POIN yang harus kita ingat jika kita hampir hampir di tepian jurang akibat perbuatan yang sudah Bunda sebutkan tadi. Tolong ingatkan Bunda juga ya, Nak bila Bunda lupa.. Love you all so much 🙂
From Bunda