CERITA : ANJING : CERITA : ANJING
Sebuah Catatan
Sejak kecil sejauh ingatan saya mampu melakukan tugasnya; yaitu mengingat, saya sudah (dan sampai sekarang masih) mempunyai anjing. Jadi anjing bagi saya bukan sekedar peliharaan, tapi juga merupakan perwujudan sesuatu yang natural, yang memang selalu ada dalam sistem kehidupan saya (dan keluarga).
Tidak terhitung sebenarnya berapa jumlah anjing yang pernah saya miliki bila diakumulasikan sejak saya kecil hingga sekarang, atau lebih dari 25 tahun. Saya akui tidak selalu mengingat setiap individu anjing yang pernah singgah dalam hidup saya. Tidak semua anjing mempunyai kenangan spesifik di hati saya. Mungkin juga karena ada masa-masa dimana secara psikologis fokus saya sedang tidak tertuju pada sahabat terbaik manusia yang saya miliki saat itu. Mungkin ada masanya saat perhatian saya sedang tertuju pada hal-hal lain, semisal saat saya menginjak remaja dan permasalahan (yang sebenarnya sepele) amat sangat terasa besar saat itu dan membuat perhatian saya sama sekali tidak tertuju pada anjing-anjing saya maupun tetek bengek kepengurusannya. Dalam hal ini mungkin saya harus memberi salut kepada ayah dan ibu saya yang secara konsisten menjaga keberlangsungan hidup anjing-anjing saya.
Namun, kami sekeluarga tetap harus dan mau tidak mau (entah ini dorongan darimana) merasa punya keharusan dan tentu saja punya kebutuhan untuk memelihara anjing. Mengapa ? Saya juga tidak tahu. Mungkin entah mengapa kami merasa kurang utuh bila tidak memiliki anjing yang mendampingi hidup kami.
Saya ingin mencoba meresapi apa arti seekor anjing dalam kehidupan kami sekeluarga. Mengapa kami seperti tidak bisa lepas dari kebutuhan untuk memeliharanya. Saya tekankan lagi : KEBUTUHAN UNTUK MEMELIHARANYA. Suatu kalimat yang cukup kuat dan cukup dalam saya rasa. Saya BUTUH untuk memelihara anjing.
#1. KASIH SAYANG TANPA BATAS, KETULUSAN
Ada orang yang mengatakan : mengapa umur anjing begitu pendek ? Kemudian ada yang menjawab dengan jawaban sangat meyakinkan dan walaupun entah itu jawaban yang tepat atau tidak, saya pribadi yakin itulah jawabannya. “Lha wong umur anjing yang pendek saja kalau kita ditinggalkan olehnya terasa sangat menyedihkan, apalagi jika dia berumur panjang. Bisa-bisa kita tidak kuat menanggung kesedihannya.”
Lalu yang jadi pertanyaan : Mengapa demikian ? Apa sih yang sebenarnya dilakukan seekor anjing dalam kehidupannya sehingga bagi manusia (yang menyadari) akan merasa bahwa makhluk satu ini adalah makhluk yang istimewa ?
Pernahkan kita sadari atau merasakan ketika kita pulang ke rumah, ke kost, atau kemanapun, kita benar-benar ‘pulang dan berada di rumah’ ? Pernahkah ketika keseharian begitu membuat kita penat kita pulang dan mendapati hati terasa begitu sejuk, bahagia, dan penuh cinta ?
Saya yakin banyak dari kita yang pulang tidak mendapat sambutan yang hangat, suami cemberut karena istrinya belum masak, anak merengek minta mainan baru, istri cemberut karena capek, ayah ibu yang terlalu sibuk sehingga menoleh pada kita dan mengucapkan selamat datang ke rumah sambil tersenyum pun tidak sempat, saudara yang bahkan tidak peduli pada kita dan setumpuk contoh lain. Tapi saya pribadi pernah merasakan sambutan penuh cinta seperti yang saya tanyakan tadi. Oleh siapa ? Justru oleh anjing-anjing saya. Saya tidak mengatakan keluarga saya atau orang-orang terkasih saya tidak sempurna. Saya yakin sekali bahwa mereka pun penuh cinta dan kasih. Namun manusia sering terhambat oleh batas-batas dan penghalang dalam menunjukkan perhatian dan kasih sayang secara tulus dan total tanpa ada pretensi tertentu. Anjing berbeda. Mereka melakukan segala sesuatu dengan tulus. Betapa membahagiakan ketika pulang dalam kondisi lelah, saya terlebih dahulu disambut dengan sangat gembira oleh anjing-anjing saya. Saya sendiri heran, saya ini bukanlah siapa-siapa, bukan artis, bukan yang tercantik sedunia, bukan yang terpandai sedunia, tidak punya prestasi apa. Dan mendadak dalam sekejap di mata anjing saya, saya adalah orang yang terpenting di dunia. Semua label, atribut tidak lagi penting, saya merasa begitu istimewa dan yang terpenting : saya merasa begitu dicintai, tidak peduli siapapun saya. Bagi saya itu adalah perasaan terhebat di dunia.
Teringat di benak saya ketika anjing saya yang berusia 11 tahun bernama Brino meninggal, kami sekeluarga menangis tersedu-sedu, sampai tetangga kami berdatangan dan menanyakan ada apa. Dan ketika kami jawab bahwa anjing kami meninggal, mereka semua memandang kami seakan kami adalah orang aneh. Namun kami tidak peduli. Coba saja mereka tahu bagaimana Brino menyayangi kami dan mewarnai hidup kami selama 11 tahun, betapa dia telah menjadi teman yang begitu setia dan tidak pernah sekalipun menyakiti kami, mereka akan mengerti bahwa air mata kami adalah cermin kesedihan yang begitu mendalam.
#2. KESETIAAN dan KENANGAN YANG UNIK TAK TERLUPAKAN
Untuk yang satu ini saya tidak banyak punya pengalaman. Namun Ibu saya tercinta lah yang pasti punya segudang pengalaman akan kesetiaan anjing-anjing kami. Mungkin ibu adalah satu dari sedikit orang yang beruntung di dunia ini. Betapa tidak? Pernahkah kita pergi ke tempat kerja dan ketika merasa penat dengan mudahnya, cukup sekali toleh kita akan mendapatkan sumber ketenangan dalam hidup? Ibu saya setiap hari mengalaminya. Dianugerahi tempat kerja yang sangat dengan dengan rumah, anjing-anjing kami tidak jarang ikut Ibu ‘ngantor’. Dan mereka menghabiskan waktu dengan menunggu Ibu di ruang kerjanya, tidur di bawah kakinya, dan bahkan pernah sampai menunggui Ibu mengajar di kelas. Sungguh, mendengar cerita-cerita Ibu tentang tingkah polah anjing-anjing kami bila ikut Ibu bekerja merupakan sebuah cerita yang kocak, sekaligus begitu menyentuh. Ada “Kumbang”, anjing yang hobi menunggui Ibu sampai masuk ke kelas, tidur di depan kelas, sampai-sampai mahasiswa takut kalau disuruh Ibu maju ke depan kelas karena takut pada Kumbang. Ada “Badut” anjing kami yang cukup pintar untuk mengingat jadwal mengajar Ibu. Suatu kali ketika jam pelajaran hampir usai kelas Ibu diketuk dari luar, setelah dibuka ternyata Badut lah yang mengetuk-ketuk pintu. Lalu Ibu berkata pada mahasiswanya : “Karena saya sudah diperingatkan untuk berhenti mengajar karena waktunya memang sudah habis maka saya sudahi sampai disini kuliah hari ini.” Sontak para mahasiswa pun tertawa dan kemudian hal itu menjadi kebiasaan yang cukup dikenal di kantor Ibu. Bila Ibu mengajar Badut akan pulang ke rumah dulu, kemudian jika jam pelajaran sudah habis maka Badut akan datang ‘menjemput’ Ibu.
Ketika Kumbang dan Badut tiada, bisa dibayangkan betapa kehilangannya Ibu, dan mungkin juga bahkan rekan-rekan sekerja Ibu dan mantan-mantan muridnya dulu.
#3. TERAPI PSIKOLOGI DAN KONTEMPLASI
Anjing-anjing saya adalah sumber kontemplasi dan penjaga kewarasan bagi saya. Ketika saya sedang dalam perasaan putus asa dan mempunyai beban berat, saya berkaca pada hidup anjing-anjing saya. Mungkin bagi yang membaca ini akan mengerutkan kening : kok bisa ?
Saya punya anjing berusia 9 tahun, bernama Neo. Dia tergolong bodoh untuk ukuran anjing, mungkin juga karena pernah mengalami tragedi diracun namun (puji syukur) bisa diselamatkan. Akan tetapi kejadian itu bukan tanpa akibat. Semenjak itu kecerdasan Neo yang sebenarnya sudah sangat pas-pasan itu mengalami penurunan. Dan yang paling parah adalah betapa Neo sekarang berubah menjadi sangat penakut. Boleh dibilang Neo menjadi sosok anjing yang pasif dan tidak berguna (maafkan pemilihan kata saya yang terlalu kasar, tapi sebenarnya itu adalah bahan guyonan kami selama ini ; bahwa Neo adalah anjing tidak berguna). Namun apakah semua itu mengurangi kasih sayang kami kepadanya ? Tidak. Kami malah semakin sayang padanya. Mengapa ? Sekali lagi tanyalah pada rumput yang bergoyang, karena kami tidak tahu jawabnya. Kembali ke bahasan awal. Percaya atau tidak Neo sering menjadi bahan kontemplasi saya akan keagungan Tuhan yang Maha Kuasa. Kok Bisa ? Saya sering merenungkan betapa besar kuasa Tuhan, karena bahkan sosok anjing tidak berguna seperti Neo saja ternyata ada yang menyayanginya (yaitu kami), ada yang mengurus (yaitu kami), yang membuat saya turut menyadari bahwa kami adalah perpanjangan tangan Tuhan untuk mengasihi Neo. Neo mungkin tidak sadar tapi ternyata Tuhan begitu menyayangi dia (melalui kami). Itu membuat saya berpikir, apalagi saya yang adalah manusia, pasti juga lebih disayangi oleh Tuhan. Jadi untuk apa saya kuatir lagi? Saya tidak sendirian, Tuhan pasti punya jalan untuk menyayangi saya dan menjaga saya. Itulah yang membuat saya berhenti mengkuatirkan hidup saya dan lebih percaya pada cinta Tuhan yang ternyata banyak contoh nyatanya.
TETAPI jangan berpikiran bahwa memelihara anjing itu melulu memelihara kesenangan semata. Sama seperti semua komitmen, maka tentu saja akan selalu ada masa-masa dimana rasa sedih, marah, letih, jenuh, jengkel menghinggapi. Betapa ketika anjing saya sakit, terluka, dan saya harus bersusah payah menjadi perawatnya, hati saya sedih, pusing sampai kadang tidak bisa tidur. Atau ketika anjing saya bertingkah nakal setengah mati, atau justru ketika anjing saya terlalu lamban dan bodoh sehingga sulit menuruti kemauan saya. Ketika harus melewati masa-masa seperti itulah kesabaran dan kekuatan kita serasa diuji. Namun seberat apapun semua itu tidak mengurangi keindahan memelihara anjing yang telah menjadi seni hidup tersendiri yang telag mendarah daging dalam hidup saya. Ketika masa-masa berat datang, saya mencoba selalu berpikiran positif dan justru menganggap semua itu adalah berkah, kesempatan untuk menempa diri menjadi pribadi yang lebih kuat, tidak gampang mengeluh, dan selalu optimis.
Maka disinilah saya, membuat sebuah catatan ini, bukan hanya untuk anda, tapi untuk saya sendiri. Karena ketika membaca catatan saya sendiri ini, entah mengapa, hati saya menjadi damai, diliputi kerinduan pada anjing saya, dan satu perasaan yang saya suka adalah : saya merasakan kasih sayang yang nyata mengalir dengan alaminya dalam diri saya dan ingin berbuat lebih baik lagi, bukan hanya untuk anjing-anjing saya tapi untuk semesta.
#CATATAN KAKI 1 : ANJING-ANJING SAYA SEKARANG (SUMBER INSPIRASI SAYA)
MILO : berusia 17 tahun. Sangat sayang pada Ibu. Anjing favorit saya karena sangat patuh, dan sopan. Dan yang pasti kami semua sangat menghormati Milo karena merupakan anjing tertua yang pernah kami miliki. Dan kini kami menjaganya baik-baik karena usianya yang cukup tua. Namun kami kagum karena di usianya yang ke 17 tahun ini Milo masih bersemangat, energik, dan aktif.
NEO : Anjing kesayangan kami semua. Dibeli Ibu dari tetangga seharga Rp. 75 rb. Semula tetangga kami itu hendak menjualnya untuk disembelih. Ibu tidak tega lalu memutuskan untuk membelinya. Pada usia sekitar 1 tahun Neo diracun namun berhasil diselamatkan. Kejadian ini membuatnya menjadi anjing yang sangat penakut, pasif, dengan level kelambanan yang cukup akut. Tapi kami semua sangat menyayanginya, mungkin karena dia ganteng??? 🙂
Kin-Kin : Anjing betina ini Ibu dapat dari mahasiswa yang menyelamatkannya dari tempat sampah. Karena mahasiswa tersebut telah menyelesaikan studi dan hendak pulang ke kampung halaman yang jauh yang tidak memungkinkannya membawa anjing dalam perjalananan maka Kin-Kin diberikan kepada Ibu. “Sebagai hadiah kelulusan”, katanya dulu. Maka sejak itu Kin-Kin menjadi anggota baru keluarga kami. Sungguh berbeda dari Neo, Kin-Kin sangat lincah, aktif, hobinya berlari-lari kian kemari. Namun sifatnya ini justru sekarang sedikit demi sedikit mengobati sikap penakut dan pasif Neo.
Timo : Anggota termuda dalam keluarga kami ini baru kami dapatkan pada awal tahun ini. Pada mulanya kami tidak berencana menambah anggota baru dalam kawanan anjing keluarga kami, tapi ketika mendengar anjing saudara kami melahirkan banyak anak yang mirip dengan Neo (kami terobsesi ingin punya anjing yang mirip Neo), kami langsung memutuskan untuk mengambil salah satu (dengan catatan yang mukanya mirip Neo). Maka kami datang ke rumah saudara kami dan justru jatuh cinta pada anak anjing yang lain. Walaupun warna bulunya tidak sama dengan Neo tapi tingkah polahnya membuat kami jatuh cinta. Maka sejak hari itu Timo menjadi anggota keluarga kami yang termuda.Kini Timo juga turut mengisi hari-hari kami dengan segala kelucuan yang lazim dimiliki oleh anak anjing 🙂
# CATATAN KAKI 2 : SARAN
Kami mungkin bukan pemilik anjing paling berdedikasi atau berkomitmen, namun sepenggal kisah perjalanan keluarga kami dalam memelihara anjing ini saya harap bukan hanya untuk hiburan saja, tapi alangkah lebih baik juga dijadikan inspirasi untuk beberapa hal :
- Milikilah hewan peliharaan (apa saja, tapi jangan hewan liar maupun dilindungi ya) terutama sejak anak-anak. Hal ini akan memberikan pelajaran, akan kelembutan dan menggugah perasaan kasih sayang kepada alam dan sesama manusia. Dengan terdidik untuk menyayangi dan merawat hewan peliharaan maka akan membangun karakter manusia yang lembut, penuh kasih sayang, dan mengurangi sifat kekerasan.
- O iya, memang mungkin memilih apa yang hendak kita makan adalah hak asasi tapi melalui tulisan ini saya mohon bagi yang gemar mengkonsumsi daging anjing, tolong selagi masih ada sumber makanan lain, hentikanlah makan daging anjing. Saya tidak dapat memberikan argument apapun bagi yang ingin berdebat, namun dari kisah saya di atas mengenai anjing saya rasa cukup jelas mengapa saya benar-benar menentang budaya makan daging anjing. Saya cukup yakin bahwa hewan-hewan seperti anjing mempunyai jiwa dan perasaan. Selagi masih ada bahan makanan lain saya mohon jangan makan daging anjing, apalagi hanya untuk gagah-gagahan.
Dan kemudian tiba saat saya menutup catatan saya ini. Saya tahu catatan saya yang panjang ini hanya memberi gambaran sedikit saja tentang dunia anjing dan suka duka proses pemeliharaannya. Saya sarankan jika ingin merasakan sensasinya, segeralah memelihara anjing atau hewan peliharaan lainnya sesuai selera anda (tapi jangan hewan yang hampir punah dan dilindungi ya). Berbeda dengan pesan-pesan yang sering ditayangkan di TV : “Kids, don’t try this at home”, untuk yang satu ini saya ingin menutup dengan pesan : Kids, please try this at home!!!!















