CERITA : ANJING : CERITA : ANJING

Sebuah Catatan

Sejak kecil sejauh ingatan saya mampu melakukan tugasnya; yaitu mengingat, saya sudah (dan sampai sekarang masih) mempunyai anjing. Jadi anjing bagi saya bukan sekedar peliharaan, tapi juga merupakan perwujudan sesuatu yang natural, yang memang selalu ada dalam sistem kehidupan saya (dan keluarga).

Tidak terhitung sebenarnya berapa jumlah anjing yang pernah saya miliki bila diakumulasikan sejak saya kecil hingga sekarang, atau lebih dari 25 tahun. Saya akui tidak selalu mengingat setiap individu anjing yang pernah singgah dalam hidup saya. Tidak semua anjing mempunyai kenangan spesifik di hati saya. Mungkin juga karena ada masa-masa dimana secara psikologis fokus saya sedang tidak tertuju pada sahabat terbaik manusia yang saya miliki saat itu. Mungkin ada masanya saat perhatian saya sedang tertuju pada hal-hal lain, semisal saat saya menginjak remaja dan permasalahan (yang sebenarnya sepele) amat sangat terasa besar saat itu dan membuat perhatian saya sama sekali tidak tertuju pada anjing-anjing saya maupun tetek bengek kepengurusannya. Dalam hal ini mungkin saya harus memberi salut kepada ayah dan ibu saya yang secara konsisten menjaga keberlangsungan hidup anjing-anjing saya.

Namun, kami sekeluarga tetap harus dan mau tidak mau (entah ini dorongan darimana) merasa punya keharusan dan tentu saja punya kebutuhan untuk memelihara anjing. Mengapa ? Saya juga tidak tahu. Mungkin entah mengapa kami merasa kurang utuh bila tidak memiliki anjing yang mendampingi hidup kami.

Saya ingin mencoba meresapi apa arti seekor anjing dalam kehidupan kami sekeluarga. Mengapa kami seperti tidak bisa lepas dari kebutuhan untuk memeliharanya. Saya tekankan lagi : KEBUTUHAN UNTUK MEMELIHARANYA. Suatu kalimat yang cukup kuat dan cukup dalam saya rasa. Saya BUTUH untuk memelihara anjing.

#1. KASIH SAYANG TANPA BATAS, KETULUSAN

Ada orang yang mengatakan : mengapa umur anjing begitu pendek ? Kemudian ada yang menjawab dengan jawaban sangat meyakinkan dan walaupun entah itu jawaban yang tepat atau tidak, saya pribadi yakin itulah jawabannya. “Lha wong umur anjing yang pendek saja kalau kita ditinggalkan olehnya terasa sangat menyedihkan, apalagi jika dia berumur panjang. Bisa-bisa kita tidak kuat menanggung kesedihannya.”

Lalu yang jadi pertanyaan : Mengapa demikian ? Apa sih yang sebenarnya dilakukan  seekor anjing dalam kehidupannya sehingga bagi manusia (yang menyadari) akan merasa bahwa makhluk satu ini adalah makhluk yang istimewa ?

Pernahkan kita sadari atau merasakan ketika kita pulang ke rumah, ke kost, atau kemanapun, kita benar-benar ‘pulang dan berada di rumah’ ? Pernahkah ketika keseharian begitu membuat kita penat kita pulang dan mendapati hati terasa begitu sejuk, bahagia, dan penuh cinta ?

Saya yakin banyak dari kita yang pulang tidak mendapat sambutan yang hangat, suami cemberut karena istrinya belum masak, anak merengek minta mainan baru, istri cemberut karena capek, ayah ibu yang terlalu sibuk sehingga menoleh pada kita dan mengucapkan selamat datang ke rumah sambil tersenyum pun tidak sempat, saudara yang bahkan tidak peduli pada kita dan setumpuk contoh lain. Tapi saya pribadi pernah merasakan sambutan penuh cinta seperti yang saya tanyakan tadi. Oleh siapa ? Justru oleh anjing-anjing saya. Saya tidak mengatakan keluarga saya atau orang-orang terkasih saya tidak sempurna. Saya yakin sekali bahwa mereka pun penuh cinta dan kasih. Namun manusia sering terhambat oleh batas-batas dan penghalang dalam menunjukkan perhatian dan kasih sayang secara tulus dan total tanpa ada pretensi  tertentu. Anjing berbeda. Mereka melakukan segala sesuatu dengan tulus. Betapa membahagiakan ketika pulang dalam kondisi lelah, saya terlebih dahulu disambut dengan sangat gembira oleh anjing-anjing saya. Saya sendiri heran, saya ini bukanlah siapa-siapa, bukan artis, bukan yang tercantik sedunia, bukan yang terpandai sedunia, tidak punya prestasi apa. Dan mendadak dalam sekejap di mata anjing saya, saya adalah orang yang terpenting di dunia. Semua label, atribut tidak lagi penting, saya merasa begitu istimewa dan yang terpenting : saya merasa begitu dicintai, tidak peduli siapapun saya. Bagi saya itu adalah perasaan terhebat di dunia.

Teringat di benak saya ketika anjing saya yang berusia 11 tahun bernama Brino meninggal, kami sekeluarga menangis tersedu-sedu, sampai tetangga kami berdatangan dan menanyakan ada apa. Dan ketika kami jawab bahwa anjing kami meninggal, mereka semua memandang kami seakan kami adalah orang aneh. Namun kami tidak peduli. Coba saja mereka tahu bagaimana Brino menyayangi kami dan mewarnai hidup kami selama 11 tahun, betapa dia telah menjadi teman yang begitu setia dan tidak pernah sekalipun menyakiti kami, mereka akan mengerti bahwa air mata kami adalah cermin kesedihan yang begitu mendalam.

#2. KESETIAAN dan KENANGAN YANG UNIK TAK TERLUPAKAN

Untuk yang satu ini saya tidak banyak punya pengalaman. Namun Ibu saya tercinta lah yang pasti punya segudang pengalaman akan kesetiaan anjing-anjing kami. Mungkin ibu adalah satu dari sedikit orang yang beruntung di dunia ini. Betapa tidak? Pernahkah kita pergi ke tempat kerja dan ketika merasa penat dengan mudahnya, cukup sekali toleh kita akan mendapatkan sumber ketenangan dalam hidup? Ibu saya setiap hari mengalaminya. Dianugerahi tempat kerja yang sangat dengan dengan rumah, anjing-anjing kami tidak jarang ikut Ibu ‘ngantor’. Dan mereka menghabiskan waktu dengan menunggu Ibu di ruang kerjanya, tidur di bawah kakinya, dan bahkan pernah sampai menunggui Ibu mengajar di kelas. Sungguh, mendengar cerita-cerita Ibu tentang tingkah polah anjing-anjing kami bila ikut Ibu bekerja merupakan sebuah cerita yang kocak, sekaligus begitu menyentuh. Ada “Kumbang”, anjing yang hobi menunggui Ibu sampai masuk ke kelas, tidur di depan kelas, sampai-sampai mahasiswa takut kalau disuruh Ibu maju ke depan kelas karena takut pada Kumbang. Ada “Badut” anjing kami yang cukup pintar untuk mengingat jadwal mengajar Ibu. Suatu kali ketika jam pelajaran hampir usai kelas Ibu diketuk dari luar, setelah dibuka ternyata Badut lah yang mengetuk-ketuk pintu. Lalu Ibu berkata pada mahasiswanya : “Karena saya sudah diperingatkan untuk berhenti mengajar karena waktunya memang sudah habis maka saya sudahi sampai disini kuliah hari ini.” Sontak para mahasiswa pun tertawa dan kemudian hal itu menjadi kebiasaan yang cukup dikenal di kantor Ibu. Bila Ibu mengajar Badut akan pulang ke rumah dulu, kemudian jika jam pelajaran sudah habis maka Badut akan datang ‘menjemput’ Ibu.

Ketika Kumbang dan Badut tiada, bisa dibayangkan betapa kehilangannya Ibu, dan mungkin juga bahkan rekan-rekan sekerja Ibu dan mantan-mantan muridnya dulu.

#3. TERAPI PSIKOLOGI DAN KONTEMPLASI

Anjing-anjing saya adalah sumber kontemplasi dan penjaga kewarasan bagi saya. Ketika saya sedang dalam perasaan putus asa dan mempunyai beban berat, saya berkaca pada hidup anjing-anjing  saya. Mungkin bagi yang membaca ini akan mengerutkan kening : kok bisa ?

Saya punya anjing berusia 9 tahun, bernama Neo. Dia tergolong bodoh untuk ukuran anjing, mungkin juga karena pernah mengalami tragedi diracun namun (puji syukur) bisa diselamatkan. Akan tetapi kejadian itu bukan tanpa akibat. Semenjak itu kecerdasan Neo yang sebenarnya sudah sangat pas-pasan itu mengalami penurunan. Dan yang paling parah adalah betapa Neo sekarang berubah menjadi sangat penakut. Boleh dibilang Neo menjadi sosok anjing yang pasif dan tidak berguna (maafkan pemilihan kata saya yang terlalu kasar, tapi sebenarnya itu adalah bahan guyonan kami selama ini ; bahwa Neo adalah anjing tidak berguna). Namun apakah semua itu mengurangi kasih sayang kami kepadanya ? Tidak. Kami malah semakin sayang padanya. Mengapa ? Sekali lagi tanyalah pada rumput yang bergoyang, karena kami tidak tahu jawabnya. Kembali ke bahasan awal. Percaya atau tidak Neo sering menjadi bahan kontemplasi saya akan keagungan Tuhan yang Maha Kuasa. Kok Bisa ? Saya sering merenungkan betapa besar kuasa Tuhan, karena bahkan sosok anjing tidak berguna seperti Neo saja ternyata ada yang menyayanginya (yaitu kami), ada yang mengurus (yaitu kami), yang membuat saya turut menyadari bahwa kami adalah perpanjangan tangan Tuhan untuk mengasihi Neo. Neo mungkin tidak sadar tapi ternyata Tuhan begitu menyayangi dia (melalui kami). Itu membuat saya berpikir, apalagi saya yang adalah manusia, pasti juga lebih disayangi oleh Tuhan. Jadi untuk apa saya kuatir lagi? Saya tidak sendirian, Tuhan pasti punya jalan untuk menyayangi saya dan menjaga saya. Itulah yang membuat saya berhenti mengkuatirkan hidup saya dan lebih percaya pada cinta Tuhan yang ternyata banyak contoh nyatanya.

TETAPI jangan berpikiran bahwa memelihara anjing itu melulu memelihara kesenangan semata. Sama seperti semua komitmen, maka tentu saja akan selalu ada masa-masa dimana rasa sedih, marah, letih, jenuh, jengkel menghinggapi. Betapa ketika anjing saya sakit, terluka, dan saya harus bersusah payah menjadi perawatnya, hati saya sedih, pusing sampai kadang tidak bisa tidur. Atau ketika anjing saya bertingkah nakal setengah mati, atau justru ketika anjing saya terlalu lamban dan bodoh sehingga sulit menuruti kemauan saya. Ketika harus melewati masa-masa seperti itulah kesabaran dan kekuatan kita serasa diuji. Namun seberat apapun semua itu tidak mengurangi keindahan memelihara anjing yang telah menjadi seni hidup tersendiri yang telag mendarah daging dalam hidup saya. Ketika masa-masa berat datang, saya mencoba selalu berpikiran positif dan justru menganggap semua itu adalah berkah, kesempatan untuk menempa diri menjadi pribadi yang lebih kuat, tidak gampang mengeluh, dan selalu optimis.

Maka disinilah saya, membuat sebuah catatan ini, bukan hanya untuk anda, tapi untuk saya sendiri. Karena ketika membaca catatan saya sendiri ini, entah mengapa, hati saya menjadi damai, diliputi kerinduan pada anjing saya, dan satu perasaan yang saya suka adalah : saya merasakan kasih sayang yang nyata mengalir dengan alaminya dalam diri saya dan ingin berbuat lebih baik lagi, bukan hanya untuk anjing-anjing saya tapi untuk semesta.

#CATATAN KAKI 1 : ANJING-ANJING SAYA SEKARANG (SUMBER INSPIRASI SAYA)

MILO : berusia 17 tahun. Sangat sayang pada Ibu. Anjing favorit saya karena sangat patuh, dan sopan. Dan yang pasti kami semua sangat menghormati Milo karena merupakan anjing tertua yang pernah kami miliki. Dan kini kami menjaganya baik-baik karena usianya yang cukup tua. Namun kami kagum karena di usianya yang ke 17 tahun ini Milo masih bersemangat, energik, dan aktif.

NEO : Anjing kesayangan kami semua. Dibeli Ibu dari tetangga seharga Rp. 75 rb. Semula tetangga kami itu hendak menjualnya untuk disembelih. Ibu tidak tega lalu memutuskan untuk membelinya. Pada usia sekitar 1 tahun Neo diracun namun berhasil diselamatkan. Kejadian ini membuatnya menjadi anjing yang sangat penakut, pasif, dengan level kelambanan yang cukup akut. Tapi kami semua sangat menyayanginya, mungkin karena dia ganteng??? 🙂

Kin-Kin : Anjing betina ini Ibu dapat dari mahasiswa yang menyelamatkannya dari tempat sampah. Karena mahasiswa tersebut telah menyelesaikan studi dan hendak pulang ke kampung halaman yang jauh yang tidak memungkinkannya membawa anjing dalam perjalananan maka Kin-Kin diberikan kepada Ibu. “Sebagai hadiah kelulusan”, katanya dulu. Maka sejak itu Kin-Kin menjadi anggota baru keluarga kami. Sungguh berbeda dari Neo, Kin-Kin sangat lincah, aktif, hobinya berlari-lari kian kemari. Namun sifatnya ini justru sekarang sedikit demi sedikit mengobati sikap penakut dan pasif Neo.

Timo : Anggota termuda dalam keluarga kami ini baru kami dapatkan pada awal tahun ini. Pada mulanya kami tidak berencana menambah anggota baru dalam kawanan anjing keluarga kami, tapi ketika mendengar anjing saudara kami melahirkan banyak anak yang mirip dengan Neo (kami terobsesi ingin punya anjing yang mirip Neo), kami langsung memutuskan untuk mengambil salah satu (dengan catatan yang mukanya mirip Neo). Maka kami datang ke rumah saudara kami dan justru jatuh cinta pada anak anjing yang lain. Walaupun warna bulunya tidak sama dengan Neo tapi tingkah polahnya membuat kami jatuh cinta. Maka sejak hari itu Timo menjadi anggota keluarga kami yang termuda.Kini Timo juga turut mengisi hari-hari kami dengan segala kelucuan yang lazim dimiliki oleh anak anjing 🙂

# CATATAN KAKI 2 : SARAN

Kami mungkin bukan pemilik anjing paling berdedikasi atau berkomitmen, namun sepenggal kisah perjalanan keluarga kami dalam memelihara anjing ini saya harap bukan hanya untuk hiburan saja, tapi alangkah lebih baik juga dijadikan inspirasi untuk beberapa hal :

  1. Milikilah hewan peliharaan (apa saja, tapi jangan hewan liar maupun dilindungi ya) terutama sejak anak-anak. Hal ini akan memberikan pelajaran, akan kelembutan dan menggugah perasaan kasih sayang kepada alam dan sesama manusia. Dengan terdidik untuk menyayangi dan merawat hewan peliharaan maka akan membangun karakter manusia yang lembut, penuh kasih sayang, dan mengurangi sifat kekerasan.
  2. O iya, memang mungkin memilih apa yang hendak kita makan adalah hak asasi tapi melalui tulisan ini saya mohon bagi yang gemar mengkonsumsi daging anjing, tolong selagi masih ada sumber makanan lain, hentikanlah makan daging anjing. Saya tidak dapat memberikan argument apapun bagi yang ingin berdebat, namun dari kisah saya di atas mengenai anjing saya rasa cukup jelas mengapa saya benar-benar menentang budaya makan daging anjing. Saya cukup yakin bahwa hewan-hewan seperti anjing mempunyai jiwa dan perasaan. Selagi masih ada bahan makanan lain saya mohon jangan makan daging anjing, apalagi hanya untuk gagah-gagahan.

Dan kemudian tiba saat saya menutup catatan saya ini. Saya tahu catatan saya yang panjang ini hanya memberi gambaran sedikit saja tentang dunia anjing dan suka duka proses pemeliharaannya. Saya sarankan jika ingin merasakan sensasinya, segeralah memelihara anjing atau hewan peliharaan lainnya sesuai selera anda (tapi jangan hewan yang hampir punah dan dilindungi ya). Berbeda dengan pesan-pesan yang sering ditayangkan di TV : “Kids, don’t try this at home”, untuk yang satu ini saya ingin menutup dengan pesan : Kids, please try this at home!!!!

Pengetahuan

Ada yang berkata :

‘Kau harus belajar. Selalu belajar.’

Ada yang berkata :

‘Sia-sia kau belajar. Kau hanya akan menemukan jalan yang tak berujung.’

Ada yang berkata :

‘Haus akan pengetahuan akan menjerumuskanmu ke jurang kehancuran.’

Aku berkata : pengetahuan itu ada. Dan kita harus menuju kesana.
Jika belum sampai, teruslah berjalan.
Jika terlalu jauh, kita harus mampu mengendalikan diri, dan kembali.

[dari catatan lama : 2 Februari 2008]

Yang Di Atas [Inspired by Yann Arthus Bertrand’s La Terre vue du Ciel / Earth From Above]

Aku ini bagian dari sesuatu

Aku ini berarti

Aku bagian dari warna warni

Aku bagian dari tujuan tertentu

Aku tak berdiri sendiri

Kini aku tahu :

Mengapa kita berdoa pada “Yang di Atas”

Mengapa kita berharap pada “Yang di Atas”

Karena

”Yang di Atas” yang lebih tahu

”Yang Di Atas” melihat arti diriku

”Yang di atas” melihat lebih luas

”Yang di Atas” melihat keindahanku

Sekawanan naga biru menukik, bara tertinggal dalam jejaknya, menjadikan semburat jingga menari indah, keliaran yang cantik…

[adalah terjemahan bebas dari : Pjorsa River, Islandia, photographed by Yann Arthus Bertrand-Earth From Above]

 

Dalam kelam, cahaya terbias. Gelap nan pekat, terkuak oleh bulir-bulir putih, dan bagai cat warna sang pelukis nan tak sengaja tertumpah, meliuklah dia, noda yang memperindah…..

[adalah terjemahan bebas dari : Magadi Lake, Kenya, photographed by Yann Arthus Bertrand-Earth From Above]

 

Jalan hidup, pilihan yang bercabang, jalan yang kau tempuh, yang tak kau tempuh, atau yang belum kau tempuh. Terkadang kau hanya berputar, menemui realita yang sama.

[adalah terjemahan bebas dari : La lagune de Venise, Vénétie, Italie/Laguna Venesia, Italia, photographed by Yann Arthus Bertrand-Earth From Above]

 

Berpusat, menuju satu tujuan. Kreativitas menuju efektivitas.

[adalah terjemahan bebas dari : Ricefield, Bali, Indonesia, photographed by Yann Arthus Bertrand-Earth From Above]

Ketika bumi membahasakan cinta… Bahwa bumi dan isinya punya jiwa…

[adalah terjemahan bebas dari : Nouvelle Calédonie : Coeur de Voh en 1990/Hati Voh pada tahun 1990, Kaledonia Baru, photographed by Yann Arthus Bertrand-Earth From Above]

 

Dua warna yang mencoba membaur. Dua komponen, dua yang berbeda, namun bertetangga. Dan simbiosis pun menjadi sebuah keniscayaan. Keindahan dua yang berbeda ketika mencoba saling memahami, saling mengerti, saling menerima…

[adalah terjemahan bebas dari : Australie : Banc de sable littoral de l’ile de Whitsunday, Queensland/Pasir Pantai Whitsunday Island, Queensland, Australia, photographed by Yann Arthus Bertrand-Earth From Above]

 

Biru,

Kuning,

Hijau,

Merah,

Jingga,

Putih,

Coklat,

Adalah pantulan warna keindahan alam. Inilah alam yang cantik, bukan karena sama, tapi karena bermacam. Biodiversity.

[adalah terjemahan bebas dari : Pabrik Kapas, Rajasthan, India, photographed by Yann Arthus Bertrand-Earth From Above]

 

Titik-titik merah muda. Ribuan titik merah muda. Flaminggo.

Burung buatan manusia yang membayanginya. Jejak manusia yang menutupi wajah bumi nan lestari.

[adalah terjemahan bebas dari : Kenya – Lac Nakuru/Nakuru Lake, Kenya, photographed by Yann Arthus Bertrand-Earth From Above]


THE ONE ABOVE

This is what made me realize
Uncover a speck of my horizon
It turns out I was part of something
I mean something
I’m part of the colorful earth
I’m part of a particular purpose

I’m not standing alone

This is what made me realize :

Why do we pray to ‘The One Above’

Because..

(what we called) ‘The One Above’ knows better

(what we called) ‘The One Above’ sees more

(what we called) ‘The One Above’ sees the beauty of me and all of us

Sumber Inspirasi : Yann Arthus Bertrand, Jurnalist, Fotografer, dan Environmentalist asal Prancis.

Link untuk melihat dan merenungi keindahan bumi dari atas lainnya :

http://www.futura-sciences.com/galerie_photos/showgallery.php/cat/503

http://arts.photos.fluctuat.net/La-terre-vue-du-ciel-alb178-1.html

http://grandcanyon.free.fr/images/vueduciel2/thumb.html

This is what made me realize
Uncover a speck of my horizon
It turns out I was part of something
I mean something
I’m part of the colorful earth
I’m part of a particular purpose

I’m not standing alone

This is what made me realize
Make me know:
Why do we pray to The Above
Why do we expect on what we called “The Above

Because (the one we called) “The Above” knows better
(the one we called) “The Above” sees the sense of me
(the one we called) “The Above” sees broader
(the one we called) “The Above” sees my beauty

INDONESIA : DI Ambang Delegitimasi Kekuasaan (Kembali)?

*sebuah catatan anak bangsa*

[Prolog]

Sejarah delegitimasi adalah sebuah repetisi yang tak henti terjadi di negeri ini. Berulangkali sebuah era diakhiri dengan sebuah proses delegitimasi. Era orde lama diakhiri dengan proses delegitimasi habis-habisan terhadap sosok Soekarno, hingga segala sesuatu yang merupakan simbol bagi proklamator kemerdekaan ini, dari pemikiran, sampai karyanya pun tak luput dari proses penghapusan besar-besaran. Harapannya tentu saja adalah penghapusan memori rakyat terhadap segala hal yang ‘berbau’ Soekarno. Apapun dilakukan untuk menghilangkan ‘aroma’ Soekarno yang terdeteksi oleh 5 panca indra rakyat Indonesia. Semua dibabat habis. Inilah era de-soekarnoisme oleh rezim orde baru.

Era Soeharto cukup langgeng. 32 tahun. Namun delegitimasi terhadap sosok Soekarno belum 100 % terpenuhi. Hal ini yang membuat Soeharto cukup geregetan. Karena mau dibasmi dengan cara apapun, selalu ada ‘virus’ Soekarnoisme yang bisa lolos. Menyelusup dari ambang-ambang penjara-penjara bawah tanah ingatan purba rakyat Indonesia. Terkomunikasikan secara sembunyi-sembunyi. Hingga pada titik frustasi ini, Soeharto pun kehilangan akal dan ketakutan. Dan ketakutan ini menjadikannya membabi buta. Obsesi untuk menghapus Soekarno (yang sebenarnya adalah suatu angan yang nyaris mustahil; karena bagaimanakah mungkin menenggelamkan sosok yang terlalu fenomenal semacam Soekarno ini?) kemudian terejawantahkan menjadi proses pelenyapan secara brutal kepada segala sesuatu pembangkangan (apapun bentuknya, seberapapun kadarnya) terhadap pemerintahannya. [Sebenarnya bukan hanya Soekarno yang jadi sasaran, paham komunisme pun begitu membuat rezim Soeharto alergi, dan untuk yang satu ini, rakyat cukup berhasil dibuat turut alergi]. Satu hal, Soeharto sebenarnya ketakutan. Karena dia tahu, lambat laun legitimasi pemerintahannya akan jebol. Satu hal yang dia tidak tahu (tidak sadar) adalah : Justru kebijakannya dan polahnya sendirilah penyebabnya. Bukan Soekarno, atau faham-faham terlarang, atau musuh-musuh bebuyutan politiknya yang lain.

Era soeharto berkuasa di atas pondasi ketakutan yang amat sangat.

Dan kemudian, justru sebagai imbas terhadap tindakannya sendiri, proses delegitimasi terhadap era Soeharto ini mau tak mau mulai terjadi. Ketidakpuasan yang bertumpuk, itulah penyebabnya. Dan walaupun berlangsung lambat (butuh 32 tahun), delegitimasi terhadap rezim Soeharto ini berbuah ledakan revolusi, yang kini lebih dikenal sebagai peristiwa reformasi politik Indonesia.

Apakah demokrasi yang menjadi salah satu roh pendorong terjadinya reformasi itu akan menyebabkan pengulangan sejarah delegitimasi di Indonesia berakhir? Seharusnya iya. Secara teori bisa. Atau paling tidak delegitimasi kekuasaan dapat diminimalisir. Karena bukankah pemerintahan yang terbentuk dengan proses demokrasi mempunyai nilai partisipasi rakyat dan dukungan rakyat terhadap pemerintah yang tinggi?

Ternyata tidak juga. Ternyata hal itu tidak secara otomatis terjadi. Mungkin hal ini dapat dimaklumi sebagai imbas proses demokrasi abal-abal, dan demokrasi yang keblabasan yang ternyata justru berjalan di atas rel reformasinya Indonesia. Yang dibangun oleh darah dan perjuangan mahasiswa dan rakyat kala itu.

Delegitimasi berpangkal dari ketidakpuasan yang berawal dari ketidakadilan.

Maka itulah mengapa sejak era reformasi presiden kita selalu berganti. Bahkan almarhum Gusdur tidak sampai satu periode menjabat sebagai presiden. Demikian pula penggantinya, Megawati Soekarnoputri.

Entah mengapa hal ini terjadi :

1.      Apakah tokoh-tokoh pemegang kekuasaan dengan pemerintahan yang dipegangnya tersebut bukan penyelenggara kenegaraan yang handal ?

2.      Apakah rakyat Indonesia secara psikologis (sebagai akibat terlalu dikekang pada era rezim Soeharto) merupakan rakyat yang sangat sulit dibuat terkesan dan cenderung terlalu penuntut, sulit dipuaskan, dan juga menderita euforia kebebasan berpendapat sehigga justru sekarang menjadi sulit menerima pendapat yang berbeda ?

3.      Ataukah sebenarnya rakyat Indonesia beserta tokoh-tokoh poliltiknya sebenarnya belum siap untuk menyelenggarakan Negara dengan aplikasi konsep demokrasi sehingga cenderung gagap selama lebih sepuluh tahun era reformasi ini ?

4.      Atau penyebab yang lain ?

Sekilas fakta : Tercatat Susilo Bambang Yudhoyono lah yang sukses mempertahankan tahtanya. Setelah menang meyakinkan pada pemilu pertamanya (2004), dan menang dengan angka telak meyakinkan namun secara ‘meragukan’ pada pemilu kedua (2009).

 

[Indonesia : Di Ambang Delegitimasi Kekuasaan (Kembali)?]

Kini awal tahun 2011. Satu tahun lebih sedikit pemerintahan SBY kedua. Catat : baru satu tahun lebih sedikit. Penyelenggaraan Negara sudah berjalan tak tentu arah. Pemerintah dan penyelenggara Negara seperti bingung dan kalang kabut menentukan prioritas. Setiap hari rakyat hanya dibuat muak oleh polah tingkah tak menentu para penyelenggara negara dengan kebijakan-kebijakannya yang nyaris absurd dan tak profesional. Penyelenggara negara seakan terombang-ambing, dan rakyat juga turut pusing mengikuti manuver-manuver, kebijakan , dan kelabilan mental para petinggi negara itu. Kebijakan-kebijakan yang tak populis, perseteruan politik antar golongan/partai politik, lembeknya gaya pemerintahan pemegang tampuk kekuasaan eksekutif (presiden), carut marut kinerja legislatif, cakar mencakar elit-elit politik, trend politik pencitraan yang cenderung sudah mengarah ke arah narsisme, sepak terjang karir perkorupsian pejabat, kemunafikan, melempemnya proses penegakan hukum/penyelenggaraan kekuasaan yudikatif dan segudang polah merusak lainnya yang akhirnya hanya bermuara kepada menurunnya kualitas penyelenggaraan negara adalah seribu satu wajah pemerintahan SBY periode kedua ini. Nyaris tiada prestasi yang tertoreh pada setahun lebih masa pemerintahan yang kedua ini. Atau paling tidak nyaris tidak ada prestasi yang terdengar oleh masyarakat, entah salah siapa.

Dan penyelenggara negara harus hati-hati. Disinilah proses delegitimasi akan mulai bersemi.

Dan bisa disaksikan sendiri. Saat ini, di setahun lebih pemerintahan SBY, proses delegitimasi diam-diam telah berbiak. Terutama di salah satu sarana yang kini sedang tumbuh subur : yaitu media. Di era nya bebas bicara, dan berpendapat, dan ditunjang dengan media-media komunikasi serba canggih, berbagai komentar, pendapat, mulai dari saran, kritik halus, hingga caci nan sarkatis menghiasi berbagai media komunikasi yang didominasi oleh media jejaring sosial di dunia maya. Semua berpangkal dari ketidakpuasan. Gerakan –gerakan semacam group 1 juta f*********s dukung ini itu, anti ini itu, berbagai sindiran-dari yang masih berbau komedi hingga yang benar-benar mengandung benci.

Dan satu persatu lapis pelindung dan benteng legitimasi pemerintah pun luruh olehnya.

Terdapat imbas berbahaya bagi penyelenggaraan negara : pesimisme berbuah apatisme dan memburuk menjadi antipati rakyat yang berbuah ledakan delegitimasi.

Apatisme merupakan kehilangan kepercayaan yang menjurus kepada sikap antipati kepada penyelenggara negara dan kekuasaan beserta segala kebijakannya. Hal ini sebenarnya sudah mulai terjadi. Ketika hampir semua kebijakan pemerintah hampir pasti segera menuai protes dari rakyat. Satu kata terkecap dari pemerintah sudah langsung tidak disetujui rakyat. Berpendapat berbeda dan menentang pemerintah hampir menjadi trend. Semua pihak beramai-ramai menyatakan pertentangannya terhadap pemerintah, entah karena betul-betul menguasai materi dan tahu titik kesalahannya, atau karena sekedar ikut kanan kiri saja. Dan budaya ”Waton Sulaya”/ asal berbeda (dengan pemerintah) pun berkembang dimana-mana.

Intermezzo : Peran media

Entah ini sehat atau tidak, tapi apakah kita memperhatikan bahwa kebijakan pemerintah yang terekspos media adalah kebijakan yang kebetulan tidak pro rakyat. Pernahkan kita bertanya, sebobrok-bobroknya pemerintahan ini, masa sih tidak ada satu dua kebijakan yang bagus ? Atau memang sebenarnya ada, tapi karena oleh media kebijakan yang bagus tidak menjual karena bernilai rating rendah dibanding kebijakan jelek bila ditayangkan. Ingat prinsip media saat ini adalah : bad news is a good news. Dan sangat disayangkan pula banyak media yang terbawa arus. Pemberitaan yang ditayangkan selalu mengikuti alur pemilik media tersebut. Dan jika media tersebut dimiliki oleh seseorang anti pemerintah maka tak ayal dan tak dapat dipungkiri pemberitaan akan berisi seputar rusak parahnya penyelenggaraan negara.

Dalam sebuah episode di Oprah Winfrey Show pun pernah dibahas permasalahan mengenai media dan jurnalisme ini. Kala itu membahas tentang perang Irak. Dan memang permasalahan jurnalisme murni vs industri jurnalisme ternyata merupakan permasalahan global. Industri jurnalisme yang berpihak pada rating memang akan memilih pemberitaan yang menarik pasar/pemirsa yang sayangnya tampak lebih tertarik kepada berita yang buruk.

Jadi, ‘a bad news is a good news’ theory tampaknya memang telah teraplikasi.

Kembali ke pokok awal, dengan peran media seperti ini, maka tak ubahnya seperti bensin yang diguyurkan pada titik api. Dan sungguh, entah jadi apa nantinya jika api sudah berkobar membesar, dan tak lagi bisa dikendalikan.

Tampaknya semua pihak sudah mengambil langkah yang kurang bijak.

Pemerintah yang terlalu dicampuri konflik kepentingan sana-sini, sehingga kehilangan taring dan ketegasan, dengan wibawa yang nyaris jatuh ke tanah. Pemerintah ini mulai limbung karena penyakit di dalam yang bukannya coba disembuhkan tetapi malah saling bunuh antar organ, yang sebenarnya sama-sama penting.

Rakyat dengan ketidakpuasan yang memuncak, amarah yang udah di ubun-ubun, sikap antipati dan segala keputusasaan yang menjadi bahaya tersendiri karena berimbas hilangnya sikap arif dan bijak dalam menyalurkan aspirasi.

Media yang sebenarnya hanya bertugas sebagai penyampai fakta dan kebenaran, kini beralih fungsi menjadi pembentuk opini.

Satu hal yang hilang dari seluruh komponen bangsa ini : niat baik, cinta negeri, dan determinasi [ketetapan hati].

Pemerintah telah terpecah belah menjadi pecahan-pecahan individu, partai politik, trah, dan dinasti dengan berbagai kepentingan sendiri.

Rakyat yang kadang terlalu lapar perutnya sehingga hilang akal sehatnya. [Yang walaupun demikian merupakan pihak yang paling tidak boleh dan bisa dipersalahkan, karena rakyat bukan pemegang kewenangan].

Media yang mengejar kemenangan perang rating yang kadang malah menjadi penyulut ketidakharmonisan, dan jarang memberikan solusi. [Apa beda berita dengan infotainment sekarang ?]

Sekarang semua harus kembali kepada niat : mau dibawa kemana negeri ini, apa tujuan setiap tindakan kita [Dimanapun kita berperan, baik sebagai pemerintah, rakyat, maupun media].

Pemerintah dapat berhenti bermanuver tidak perlu, bebaskan dari segala kepentingan di luar kepentingan rakyat, dan bekerja hanya untuk kemajuan bersama. Perlu digarisbawahi : BERSAMA.

Rakyat dapat berperan sebagai rakyat yang cerdas, tidak mudah terbawa pengaruh-pengaruh, isu-isu, dan mampu menyaring informasi, untuk kemudian bertindak arif dan bijak. Jangan berpendapat hanya untuk dianggap paling pintar. Kritiklah dengan penuh kasih sayang. Dengan didorong oleh niat baik terhadap bangsa, dan sesama. Berikan pendapat hanya untuk kebaikan bersama. Sekali lagi : BERSAMA

Media dapat bertindak sebagai penyejuk kondisi yang sedang panas. Bebaskan dari berbagai kepentingan. Ajaklah rakyat untuk belajar bersama, untuk membangun negeri. Untuk membudayakan berpendapat dengan kepala dingin dan dengan hati yang diliputi keinginan untuk menjadi baik bersama. Dan lagi : BERSAMA

Kini harus diakui penyelenggara negara berada di ambang delegitimasi, dalam standar tertentu. Penyelenggara negara harus hati-hati, jika tidak ingin proses delegitimasi ini bermuara pada sebuah ledakan kembali. Jika ingin menutup masa pemerintahan dengan prestasi dan buah yang manis. Dengan niat baik dari rakyat dan media, saya rasa masih ada asa. Walaupun sedemikian kompleks masalah yang dihadapi bangsa ini, tapi saya yakin masih ada harapan disana.

-Hanya butuh : Niat baik, cinta negeri, dan determinasi.-

 

[Epilog]

Bila keadaan masih terus seperti sekarang ini, apa jadinya dengan sisa 4 tahun pemerintahan ini. Kalaupun pemerintahan bisa survive [baca : tidak terguling] sampai 4 tahun ke depan, sebagai rakyat saya rasa saya akan mengalami kebosanan akut. Saya bosan tidak puas, saya bosan membaca koran pagi dan mengomel, saya bosan menyetel TV dan melihat berita kegagalan, konflik, polemik, perang statement, perang citra, saya bosan membuka akun jejaring sosial dan membaca status tak puas, ejekan, sindiran, caci maki, kebencian, anti ini, anti itu, dan saya bosan merasa malu.

Ada beberapa kekuatiran saya sebagai anak bangsa. Tidak, saya tidak kuatir akan ada revolusi berbentuk penggulingan kekuasaan secara ekstrim, seperti yang pernah terjadi di masa lalu. Karena saya pikir rakyat Indonesia tidak lagi dalam kapasitas dan karakter menggulingkan. Saya khawatir sikap apatisme lah yang akan terbentuk, terutama justru di kalangan generasi muda. Karena sudah sangat bosan dan kehilangan harapan kepada penyelenggaraan negara, maka saya justru kuatir pada kesuksesan penyelenggaraan demokrasi dalam bentuk pelaksanaan pemilu tahun 2014 mendatang. Dengan adanya sikap apatisme yang lahir dari sebuah kemuakan publik kepada manuver-manuver tak sehat oleh elit-elit politik yang sudah terjadi bahkan jauh hari sebelum 2014 ini, maka ditakutkan partisipasi masyarakat akan melorot tajam, dan ini berimbas pada lemahnya legitimasi pemerintahan yang akan terbentuk nantinya. Dan ketika legitimasi suatu pemerintahan rendah, apa jadinya negara ini nanti ?

Saya ingin tersenyum dan merasa bangga, ketika diucap kata INDONESIA. Hanya itu yang saya dambakan. Dan saya ingin melakukan sesuatu yang saya bisa, semampu saya. Seperti menulis catatan ini.

CANDU : [Rock Star]

Entah sudah berapa kali seperti ini, aku tak pasti.

Selalu seperti yang pertama bagiku.

Dengan kegugupan yang memelukku. Ketidaktahuan akan apa yang terjadi; begitu mengundang. Antisipasi yang bertumpuk. Lutut yang bergetar sedikit; terimbas dari degupan kencang; darah yang terpompa lebih cepat. Keterkejutan yang tak dibuat-buat. Ini semua candu bagiku.

Kau adalah candu bagiku. Melihatmu adalah candu bagiku.

Hingga aku pun menjadi ekor kometmu. Mengikutimu dengan kecepatan yang memecahkan kehadiranku sendiri. Dan aku pun terserak dengan sukarela. Pecah dalam partikel. Menjadi riak di ayunan iramamu.

Dan kali ini pun semua berputar lagi di hadapku, sama seperti yang terakhir kali. Mungkin juga sama seperti yang pertama. Aku melihatmu dalam kilatan cahaya. Kepulan asap yang menyelimutimu sejenak. Membentuk bayang-bayang samar akan sosok yang kugila.

Kau ada di atas sana. Aku ada disini.

Aku ada disini. Di tengah panas tubuh yang berhimpitan di sekelilingku. Sambil sesekali terdorong sedikit. Maju sedikit. Geser sedikit. Mundur sedikit. Menghabiskan tenaga untuk menahan tubuh dan terus berusaha mendongak. Hanya untuk mengulangi lagi momen suci ini. Sebisa mungkin menyimpannya dalam memori. Untuk kuulangi setiap kali.

Kilatan cahaya menyapu wajahmu lagi, dari segala arah. Kadang hijau, kadang merah. Oh, caranya menyentuhmu membuatku ingin berteriak, berharap akulah cahaya itu. Yang bisa sapukan biasku pada kehadiranmu.

Dan kau bergerak di sana. Suara yang kudambakan. Yang menjadi kidung suciku. Katamu adalah mantra. Yang bahkan berdengung di bawah sadarku.

Rautmu masih sama seperti selalu kumengingatmu. Tak peduli, tak sadar, hanya melakukan yang kau cinta, yang kau suka. Hadirku tak ada pengaruhnya. Atau hadirnya kumpulan tubuh yang saling berhimpit ini. Kau hanya melakukan yang kau cinta, yang kau suka. Dan kau indah seperti ini. Kau indah apa adanya. Hingga aku rela tak kau sadari. Agar kau tetap indah.

Kini kupejamkan mata. Dalam bising, nyaris pekak. Dalam suhu yang memanas. Dalam geliat. Dalam sesak. Dentum apakah itu? Jantungku, atau sekedar anganku? Ah, aku hanya ingin jadi lagu, yang keluar dari mulutmu. Ingin jadi denting yang terpetik dari gitarmu. Ingin jadi inspirasi, yang keluar dari benakmu. Ingin jadi satu. Jadi alasan keberadaanmu. Namun kau masih disana. Aku masih disini. Dengan jarak langkah yang menggaris nyata.

Berdentum tiada henti. Kau terus menyapukan sensasimu padaku. Ini momenku. Ini kemabukan yang aku damba. Dan aku melayang.

Terpecah lagi. Terserak lagi.

Terpecah lagi. Terserak lagi.

Terpecah. Terserak.

Lagi. Lagi.

Lagi

Lag

La

L

Kutukar segalanya.Untuk menghirup sedikit aroma, yang memberi efek anggukan kepala, sepatah kata ’ya’.

Ya : kau sadari aku ada

Tak Heran, Nickelback pernah melagukan :

I’m gonna trade this life
For fortune and fame
I’d even cut my hair
And change my name
‘Cause we all just wanna be big rockstars
And live in hilltop houses, drivin’ fifteen cars
The girls come easy and the drugs come cheap
We’ll all stay skinny ’cause we just won’t eat

And we’ll hang out in the coolest bars
In the VIP with the movie stars
Every good gold digger’s gonna wind up there
Every Playboy bunny with her bleach blond hair

And well, hey, hey, I wanna be a rockstar
Hey, hey, I wanna be a rockstar

Karena rumput mati terinjak di keesokan hari, dengan sampah berserakan sana-sini inilah saksi. Semalam pemujaan terjadi. Sebuah pemujaan yang adalah harta karun bagi seorang bintang. Dan alat tukarnya? Tak lain adalah segalanya.

Nova Carmina : [New Song]

Kuncup pertama mekar

Embun mengering

Tangis pertama bayi

Nafas terakhir manusia

Kata pertama

Permintaan terakhir

Ciuman pertama

Ciuman perpisahan

Langkah pertama balita

Denyut terakhir nadi

Cinta pertama

Cinta terakhir

Selamat Datang

Selamat Jalan

[Bermantralah]

Waspadalah hai kau tua-tua

Kami jiwa yang muda

Yang punya bara dalam diri

Terbakarlah kau tua-tua

Kami jiwa yang muda

Yang punya mimpi

Yang tersembunyi dalam sunyi

Tergelincirlah kau tua-tua

Dalam kesombongan dan kekuasaanmu

Kami jiwa yang muda

Sedang menggalang asa

Putaran roda

Siklus

Sesuatu dimulai

Sesuatu berakhir

Hari ini rumputmu segar, esok mengering

Suatu siang terlewati seakan tak pernah terjadi

Waktu berjalan dengan diam-diam, hingga tak kau dengar ketuk hak sepatunya

Waktu tak pernah menunggu, hingga sering kau tertinggal olehnya

Dan terbuang sudah hartamu satu-satunya

Waktu dan Kesempatan

Dan setiap kali kau hanya merasa kecurian

[Bermantralah]

Waspadalah hai kau tua-tua

Yang kering

Yang mendengki

Jaman telah berganti

Waktu telah bergeser

Kami jiwa yang muda

Yang segar

Yang bersemi

Yang akan mewarisi bumi

Saatnya telah tiba untuk berkata

Tahun telah jadi baru

Dan kau menjalani perjalanan yang merugi; jika kau tak bermekar dan bersemi

la revelación

[pict. source : freedomdance.blogspot.com]

٭karena bahkan dewa pun berkata : menarilah, dan kami akan melihatmu

Sebuah pemujaan kepada salah satu dewa tertinggi; Quetzalcoatl. The Morning Star. Bintang Fajar. Untuk anugerah berupa kesuburan dan terhapusnya kekeringan. Untuk turunnya hujan. Beratus tahun tradisi kota kuno, El Tajin, dihidupi. Sekelompok penari suku Indian kuno, Totonac, berpakaian putih, bercelana merah. Berbagai aksesoris berutamakan warna merah, kain mengelilingi dada simbolisasi darah, topi berhias bunga, kaca, pita warna-warni simbolisasi kesuburan, matahari, dan pelangi. Iringan seruling dan gendang kecil memberikan irama, menyapukan magis pada ritual. Ritual yang mewujud dalam sebuah tarian. Untuk menarik perhatian dewa. Musik memulai ketukan pertama, berputarlah penari-penari itu mengelilingi satu tiang, dengan kaki dan pinggang terikat dengan tali. Dalam kekhusukan yang semakin dalam, semakin jauh ke dalam batin dan alam rasa, mulailah tiang dinaiki. Setiba penari-penari di atas , orang terakhir yang memanjat adalah sang pendeta. Di atas tiang itu, di ketinggian 30 meter, sang pendeta – sang penghubung dewa dan manusia- duduk diatas gendangnya, merapal berdoa ke empat penjuru arah mata angin. Setelah purna sang pendeta meniup seruling dan mulailah tarian udara. Penari-penari itu menerjunkan diri, tali yang tertambat pada tiang menahan berat mereka, dengan kepala di bawah berputarlah penari-penari bagai terbang di udara. Dan jadilah mereka burung. Mereka menari, berharap dewa mengamati mereka dan mengabulkan semua permohonan.

Bagi los Voladores, para penari terbang, tarian adalah doa, harapan, dorongan untuk diperhatikan dan didengar, rasa hormat dan kebersatuan pada alam.

[De baile, y nos estaremos viendo. Menarilah, dan Kami akan melihatmu]

٭la libertad de baile

Ketika tubuh mulai mengikuti irama. Menjelmalah sebuah gerakan. Gerakan yang adalah sebuah ekspresi. Tentang keinginan terdalam, yang selama ini hanya mengintip secara sembunyi-sembunyi. Kini yang tercipta hanya jujur. Menjelma jadi bebas dan lepas. Kini tubuh menjadi penghubung rasa dan sensansi. Tubuh hanya tahu merasakan. Tidak lagi menolak. Tidak lagi berpura-pura. Dan hati menjadi akarnya, bermula dari segala gejolak yang ada. Mendorong keluar untuk merasakan dan dirasakan.

Tubuh kini berpeluh, energi tak lagi milik sendiri. Luapannya kini memenuhi. Menyapukan jejaknya di dinding, di langit-langit, di lantai dansa. Pada tubuh orang di samping kiri dan kanan. Yang mengalami ekstase serupa.

Sentuhan menjadi kebutuhan. Untuk merasakan dan dirasakan. Untuk mengerti dan dimengerti. Dan tubuh adalah sarana untuk mengungkapkan gejolak rasa. Hati kini mengambil alih. Dan pikiran memilih untuk tidur sejenak. Turut menikmati.

Este es el baile de la libertad : TANGO.

Dan kau berputar, pinggulmu bergoyang, iringan musik adalah kereta kencana, mengantarmu pada pembebasan diri. Dan ramai di lantai dansa, pada hembusan nafas dalam riuhnya.Terhimpit oleh goyangan tak tentu di sana-sini. Semua sibuk sendiri. Keriutan pada satu-satunya kipas angin usang di langit-langit. Lampu warna-warni yang menyala sporadis, memperjelas bayang. Membiarkannya menari, membuatmu penasaran akan kesamaran. Kau sentuh dia sedikit, kau sentuhkan dirimu sedikit. Dia membelaimu, dalam pejaman mata kau menikmati. Kau bergoyang, dia menikmatimu. Dia bergoyang, kau mengikuti. Kau serahkan dirimu padanya, kau bertumpu padanya. Kau pegang kendali, dan dia tunduk pada kekangmu. Kau menggoda, dia tergoda. Kau berpeluh, dia berpeluh. Sensualitas. Keliaran. Energi memenuhi. Inilah kekuatanmu. Kau berputar kibaskan debu, galau, dan pikiran kelabu. Semakin menuntut untuk lagi, dan lagi. Dan irama menghentak, melambungkanmu lebih jauh lagi. Kau dalam surga, kau bahagia. Kau percaya. Kau tak lagi bermimpi, kau kini telah ada di dalamnya. Kau berpeluh, kau terbasuh. Kau jadi manusia baru. Indah. Kau terlihat indah. Bersamanya kau indah, sendiri kau indah. Kau dan cantiknya gerakanmu. Dalam kebebasan. Kau indah karena kau bebas, karena jujur. Dan dahagamu telah terpuaskan. oleh peluhmu. Tubuhmu tersenyum bahagia, karena boleh bebas. Lepas. libre y suelto.

[la libertad de baile : Tarian Kebebasan]

٭the dance is a poem of which each movement is a word (Mata Hari)

Kadang di malam-malam biasa. Tubuh ini menuntut sesuatu yang terasa asing

Betapa ingin aku menari

Seakan aku bebas

Tubuhku ingin merasakan sensasi

Kuharap kau melihatku, diriku sebenarnya

Kuharap kau rasakanku, dalam apa adanya

Kuharap dewa-dewa pun melihatku

[Betapa aku ingin menari]

Drama Sepakbola

[pict.source : http://www.cksinfo.com]

Malam hari, 26 Desember 2010, adalah sebuah anti klimaks. Ego jatuh, kesombongan runtuh. Inilah saatnya kita berhadapan pada realita. Selama berminggu-minggu betapa kita buta, oleh euforia. Karena jaring laba-laba media dan komersialitas yang membungkus indra kita, melumpuhkan logika. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan hal itu. Asal dosisnya cukup. Namun sayangnya, ternyata kita telah mabuk dan overdosis rasa kemenangan dan prestasi [yang bahkan belum pasti dan teruji].

Adalah saya berbicara mengenai penyelenggaraan piala AFF [Asean Football Federation] 2010. Semua berawal dari performa timnas Indonesia yang secara mengejutkan menjadi begitu digdaya. Seperti sulap saja, batin saya kala itu. Semua lawan dilibas habis pada babak penyisihan, dengan skor yang tidak main-main pula. Dan ketika itulah, seiring meningkatnya popularitas timnas, maka meningkat pula aliran dukungan bagi mereka. Prestasi dan popularitas timnas memang sangat menggiurkan bagi kelompok, golongan dan orang-orang dengan mental pendompleng, untuk ikut tenar dan ikut mencicipi anggur manis hasil perasan dan kerja keras segilintir orang di timnas Indonesia.

‘Mendadak suka sepakbola’ pun menjamur dimana-mana. Dalam semalam semua orang tampak begitu fasih berbicara sepakbola. Dan demam sepakbola pun menginfeksi penjuru negeri. Tercampur aduklah semangat nasionalisme dan semangat olahraga. Dalam taraf yang mohon maaf beribu maaf, bagi saya sudah tidak sehat lagi.

Ada titik dimana nasionalisme tidak bisa bercampur dengan semangat olahraga. Dalam semangat nasionalisme, bangsa kita adalah harus nomor satu. Sementara pada olahraga [yang dipertandingkan], ada pihak yang menang dan ada yang kalah. Kita bisa dan boleh kalah dalam sebuah pertandingan. Ketika rasa nasionalisme tidak sehat sudah mulai menginjeksi, maka keharusan menang adalah tuntutannya. Sesuatu yang seharusnya pantang dalam pertandingan olahraga. Sebuah keharusan menang akan membawa kepada semangat-semangat tidak sportif dan penghalalan segala cara. Dan pada saat seperti inilah semangat olahraga dalam sebuah even internasional yang biasanya selalu didengungkan untuk menjalin persaudaraan dan persahabatan antar wilayah justru akan berbalik menjadi pemecah dan penyulut konflik. Sport for peace sudah kehilangan makna.

Dan para penggila bola dadakan itu menggunakan embel-embel nasionalisme untuk mendukung timnas Indonesia. Sebuah dukungan yang saya rasakan berubah menjadi tekanan bagi para pemain timnas sendiri. Bayangkan di pundak mereka secara sepihak kita bebankan harga diri dan martabat bangsa. Sebelas orang di dalam lapangan dengan tugas seberat itu saya sangsikan akan mampu bertanding dengan lugas dan lepas.

Namun euforia nasionalisme ini bukan tanpa alasan. Rasa haus, lapar, dan dahaga yang amat sangat akan prestasi bangsa, dalam segala bidang, membuat logika tak mampu lagi bicara. Dan kini hadir di hadapan kita, sasaran empuknya. Kok ya pas ada Piala AFF 2010. Kok ya pas timnas sedang bagus-bagusnya. Terjadilah seperti percikan api. Semua kehausan memohon untuk dipuaskan oleh sepercik air kemenangan demi kemenangan timnas Indonesia di ajang sepabkbola level Asia Tenggara itu.

Itu baru satu sisi masalah. Karena seperti perkataan Anton Sanjoyo, wartawan olahraga harian KOMPAS, dalam sebuah wawancara di salah satu stasiun TV swasta, fenomena ini sudah cenderung menjadi memuakkan. Ketika sebuah even olahraga sudah tercemari oleh semangat komersialisasi, politisasi, dan hanya menjadi komoditas. Ketika para pemain sepakbola itu terpecah konsentrasinya karena telah menjadi selebritis dadakan. Ya, dengan segala hormat dan beribu maaf saya akui memang memuakkan. Lebih memuakkan lagi ketika semangat nasionalisme dan rasa haus para suporter timnas Indonesia itu digunakan dan dimanipulasi untuk pembenaran kenaikan harga tiket. Belum lagi melihat kekacauan penanganan pelayanan pembelian tiket yang seharusnya tidak terjadi apabila dilaksanakan secara jujur dan tidak ada permainan ‘orang dalam’ dalam pendistribusiannya. Wajar kan saya menuduh seperti ini, karena alternatif lainnya selain ini adalah berarti penyelenggara [PSSI] adalah kumpulan orang-orang goblok dan tak becus. Sungguh saya prihatin.

Dan, 26 Desember 2010, malam hari adalah saatnya. Mata kita harus terbuka. Bahwa mental juara dan tradisi sepakbola tidak dapat dimunculkan dalam 1 atau 2 hari atau dalam beberapa minggu saja. Tidak dapat dipoles dengan seribu satu pemain naturalisasi sekalipun. Jangan disamakan dengan dunia selebriti yang mampu mencetak bintang serba instan semacam Shinta dan Jojo. Inilah akibatnya jika hidup dalam dunia dengan generasi yang terdidik dalam situasi ‘serba instan’. Maunya langsung jadi. Dan penghormatan kepada proses hilanglah sudah. Mengerubungnya fans ketika sebuah komoditi [prestasi dadakan timnas] melejit merupakan gejalanya. Entah nanti ketika timnas ternyata kembali melempem. Beginilah wajah-wajah generasi komersial nan oportunis. Hanya mau mendekat saat situasi serba menguntungkan. Dan perilaku ‘gege mangsa’ pun bertebaran. Belum juara [ASEAN] sudah bersikap seakan juara dunia. Belum juara sudah berpesta.

Pertandingan final Piala AFF 2010 LEG I, Malaysia 3-Indonesia 0. Kecurangan suporter lawan hanyalah sebuah alasan dan pembenaran kekalahan. Mungkin banyak dari kita yang baru sadar inilah wajah sebuah pertandingan sepakbola. Ada menang ada kalah. Apapun penyebabnya, skor telah tertera. Apabila kita kalah apakah harga diri bangsa jatuh? Tidak. It’s just a game. Yang nomor satu adalah sportivitas. Harga diri kita justru terletak pada kemampuan kita menyikapi sebuah kekalahan, menyikapi sikap tak sportif lawan.

Ada terselip kekuatiran pada diri saya menanti 29 Desember 2010 nanti. Bukan, saya tidak kuatir Indonesia kalah. Karena dalam sebuah pertandingan sepakbola, menang kalah itu biasa. Saya mengkuatirkan kemampuan para suporter untuk menerima apabila kita kalah nantinya. Karena sekali lagi dalam sebuah pertandingan sepakbola, kalah itu mungkin. Brasil, Spanyol, Inggris, Real Madrid, Manchester United pun pernah kalah. Namun, saya tidak bisa menyalahkan sepenuhnya para suporter jika tidak mampu menahan diri. Kelelahan lahir batin karena segala himpitan emosi yang mendera sebelum pertandingan adalah salah satu aspek pemicu secara psikologis. Hal itulah yang membuat saya cukup ketir-ketir. Semoga suporter kita mampu menjadi dewasa. Pesan saya kepada para suporter adalah : Nikmati saja pertandingannya, nikmati kebersamaan bersama saudara sebangsa dalam satu suara dukungan pada timnas Indonesia. Just Enjoy The Game, Just Have Fun. Jangan bebankan nama baik bangsa hanya pada sebelas orang yang bermain di lapangan hijau. It’s not fair. Jangan haruskan mereka menang, karena ini baru awal kebangkitan. Jalan masih panjang. Kita harapkan Indonesia mampu menjadi juara sejati nantinya, apapun hasil Piala AFF 2010 ini. Dan untuk menjadi juara sejati butuh sebuah proses. Bagi kita warga Negara Indonesia, perlu kita ingat nasionalisme sejati justru ketika kita tetap mencintai dalam keadaan sulit dan buruk.

Pertanyaan terbesar adalah : apa yang kita cintai; ‘kemenangan’ atau ‘sepakbola’? Jika jawaban anda adalah kemenangan, maka anda datang ke lapangan yang salah.

Charlie Brown’s Christmas

[pict. source : http://www.wikipedia.org]

 

Seorang bocah, Charlie Brown namanya, sungguh sangat gundah. Natal telah dekat. Taburan salju dan cuaca dingin, menjadi pendongkrak keriuhan suasana Natal di kanan kirinya. Namun Charlie Brown masih gundah. Ada gugatan terselip dan tersembunyi di hatinya. Mengapa aku tak merasakan apapun ? Salju, kartu, dekorasi, dan lampu-lampu terang benderang tidak mampu memberikan sentuhan Natalnya hingga ke hati Charlie. Apa arti Natal ? Pertanyaan ini mengusik Charlie.Charlie Brown pun menjelajahi sekitar rumahnya, bertanya kepada teman-temannya. Dan Charlie Brown tidak menemukan jawabnya. Justru gugatannya terhadap perayaan Natal semakin menguat. Sebuah Komersialisasi. Itulah yang dia simpulkan. Terlebih ketika semua temannya mengejek Charlie saat Charlie mencoba menghidupi semangat Natalnya yang sederhana dengan mencoba membuat pohon natal dari sebuah pohon cemara yang begitu sederhana dan mungil : pohon cemara kecil kurus kering. Semakin yakinlah Charlie bahwa perayaan Natal telah terbungkus rapat oleh semangat komersialisasi. Namun Charlie Brown sungguh beruntung. Pertanyaan ‘Apa arti Natal’ nya justru terjawab dari seorang teman yang lugu, Linus namanya, yang mengucapkan untaian kalimat : “Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. Lalu kata malaikat itu kepada mereka : “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa : hari ini telah lahir bagimu juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu : Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan. Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya : kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepadaNya.” Jawaban yang sangat lugu dari Linus, karena ketika ditanya ‘apa arti Natal’ bocah ini hanyalah mengulang kisah kelahiran Yesus Kristus, dari Injil Lukas, yang pasti diceritakan berulang-ulang terutama pada perayaan Natal. Tapi rupanya jawaban lugu ini mampu menjawab gundah Charlie. Dibawanya pohon cemara kecil kurus keringnya, dengan keyakinan pohon itu mampu menjadi ‘pohon terang’ untuk Natalnya kali ini. Dia yakin pohon yang menjadi bahan ejekan teman-temannya [yang terlalu sibuk memoles Natal hingga wajah aslinya terlupakan], akan menjadi pohon Natal yang terindah. Di akhir kisah, ternyata ucapan Linus si lugu juga menyentuh hati teman-teman Charlie Brown. Berbondong-bondong mereka menyusul Charlie untuk ikut memberikan dukungan pada si gundah hati itu. Mereka akhirnya pun menyadari keindahan si ’pohon kecil kurus kering’ yang menjadi simbol semangat Natal non komersialisasi.

Kisah itu adalah sebuah film kartun : A Charlie Brown Christmas. Disiarkan oleh CBS, tanggal 9 Desember 1965. Mungkin banyak dari kita yang tidak begitu tahu siapa Charlie Brown. Untuk sedikit petunjuk : Jika kita ingat karakter kartun Snoopy, maka kita tentu ingat anak lelaki yang sering tampil bersamanya. Sering digambar di sampingnya. Ya, itulah si bocah Charlie brown, majikan Snoopy yang kalah tenar dibandingkan peliharaannya sendiri. Namun Charlie Brown pun punya serial TV sendiri ternyata. A Charlie Brown Christmas adalah debut pertamanya sebagai tokoh serial kartun di layar perak.

A Charlie Brown Christmas, film kartun anak-anak yang unik. Charlie Brown digambarkan sebagai anak yang kritis, dan cenderung sinis dalam menghadapi dunia sekitarnya. Mungkin karakter seperti ini lebih cocok dihadapkan pada audiens dewasa. Alur cerita pun mengalir dengan bumbu komedi berbumbu satir di sana sini. Charlie Brown adalah wakil penyindir kondisi sekitarnya.

Namun sungguh, film kartun tahun 1965 ini ternyata punya pesan moral yang masih relevan bahkan 45 tahun setelahnya. Peristiwa kelahiran Kristus yang menjadi batu monumen perayaan Natal telah kehilangan esensinya. Dan perayaan Natal kini hanya merupakan sebuah industri. Sebuah Komersialisasi, seperti gugatan Charlie Brown. Kini semua orang perlu dekorasi untuk membawa Natal ke dalam hati.

Mungkin kita semua perlu mencari ‘pohon cemara kecil kurus kering’ untuk lambang Natal kita kali ini. Seperti Charlie Brown yang mampu menangkap makna semangat kesederhanaan dari peristiwa yang begitu besar : kelahiran Kristus 2010 tahun lalu. Karena bahkan sang penyelamat berada dalam balutan kesederhanaan ketika hadir secara monumental di tengah umat manusia. Kelahiran Kristus, seperti kata Linus si lugu, adalah merupakan monumen untuk semangat kesederhanaan yang membawa kemuliaan. Kita tidak perlu mencari, karena pohon terang ilahi sudah hadir dalam diri kita, bagai bayi mungil di palungan yang hina. Lihatlah dalam diri, hapus semua polesan, Tuhan sudah beserta kita di dalam diri kita. Kita sudah dibebaskan, dimuliakan. Dan kini saatnya kita menyebarkan semangat pembebasan dan pemuliaan bagi jiwa-jiwa yang terbungkus oleh dunia yang komersial.

Selamat Natal, Charlie Brown. Selamat karena kau telah menemukan arti Natal sejati. Dan bayi mungil kemuliaan telah lahir kembali dalam dirimu.

Kini, apakah kita sudah layak menerima ucapan ‘Selamat Natal’ tahun ini ? Mampukah kita menangkap jiwa Kristus yang tahun ini lahir untuk ke 2010 kali?

Selamat Natal : semoga ucapan ini layak untukmu, untukku, untuk kita semua.

[pict.source : spoonsucker.blogspot.com]

DICTUM [Kami Berkata dari Sidang Rakyat Yogyakarta]


Ijinkan aku bercerita kepadamu kawan.

Tentang sebuah negeri tak jauh dari tempatmu berdiri.

Negeri dengan budaya dan tradisi yang telah lama terpatri.

Negeri yang telah selesai menempatkan sang jati diri.

Ijinkan aku mengingatkanmu kawan.

Bahwa negeri ini telah ada sebelum negerimu,

semangat kamilah yang meniup bara untuk api penggerak negerimu,

keikhlasan kamilah yang rela menjadi pupuk tumbuh suburnya negerimu,

kamilah ibu yang menyusuimu kala kau bahkan belum sanggup berdiri sendiri,

uluran tangan kamilah yang menuntunmu menuju langkah-langkah pertamamu.

Kami tak menuntut kau sebut kami yang terhebat,

Kami tak minta kau bayar seluruh hutang budi,

Karena jiwa kami adalah jiwa seorang ibu,

Kami hanya tahu mengasihi,

namun kami juga bisa sakit hati, kawan.

Negeri ini, tempat manunggaling kawula gusti.

Maka jangan heran betapa kami tidak menakar hubungan kawula dan gusti dengan harta duniawi.

Interaksi kami bukan proses jual beli.

Seperti inilah kami selalu dididik dan diajari.

Betapa syukur kami punya pemimpin yang hamengku dan hamengkoni, memangku kami, kawulanya.

Pemimpin kami TIDAK menduduki tahta, kawan. Karena di negeri ini tahta adalah untuk rakyat.

Maka jangan kau herani, tatkala kami serentak membela pemimpin kami, karena ketahuilah kawan, sebenar-benarnya kamilah yang terlebih dahulu dibela. Kami yang ’hanya’ kawula ini. Kami ini punya harga diri, kawan.

Mungkin ini yang tak kau mengerti kawan.

Karena nalarmu telah tersumpal, otakmu menjadi bebal, tersaput oleh ambisimu sendiri. Ambisi yang nyaris menjadi sebuah obsesi. Oleh kepentingan kotor yang terbungkus manis dalam sebuah misi ’menegakkan demokrasi’. Oh, betapa seakan sungguh indah label itu kawan. Namun di tengah kecongkakanmu berdiri disana, betapa kau lupa banyak hal kawan. Kau lupa jati dirimu, jati diri negerimu. Hatimu pun seakan kebas, tak mampu merasa. Matamu pun buta, telingamu tuli. Tak kau dengar jeritan kami, tak kau lihat keinginan kami. Dan siapa sekarang yang sebenarnya monarki kawan? Kala kau berdiri disana, bagai seorang raja, bagai seorang kaisar, dengan kata yang tampaknya tak terbantahkan.

Kami disini, di negeri tentram damai ini,

kami menolak cara yang kau titahkan, yang hendak kau injeksi paksa ke dalam tatanan kami.

Kami menolak konsep demokrasi yang kau tawarkan. Karena kawan, orang buta pun tahu, semanis apapun mulutmu bicara, demokrasi uanglah yang akan terterapkan. Kau ini lupa kawan, bahkan bukan cara itu yang dipakai oleh negerimu untuk menerapkan sebuah demokrasi. Jadi kini, bercerminlah kawan, siapa sebenarnya sang pengkhianat konstitusi?  Inilah kawan akibat demokrasi komersial yang kau terapkan, yang dahulu mendongkrakmu naik ke tahta yang kau duduki sekarang, kau merasa kau sudah membeli suara rakyatmu, jadi kau berhak berbuat semaumu. Betapa kejamnya kini sebaliknya : kau berikan cap bahwa kami ini pelanggar konstitusi, dan anti demokrasi.

Ijinkan kami mengambil sikap kawan.

Dengan kesantunan dan kebersatuan, yang mungkin asing kau temui.

Kami telah menentukan sikap kami.

Tidak, kami tidak memohon kawan. Kami berkata kepadamu. Karena seperti sejak sediakala, kami tidak pernah meminta darimu, dari negerimu. Kamilah yang pernah memberimu. Maka kami kini berdiri bersama, bersatu, bulat, mufakat, manunggaling kawula gusti. Inilah bagi kami maknaning demokrasi. Ijinkan kami berkata kepadamu.

Disini, dari sidang rakyat.

Ini bukan sekedar kisah, kawan.

Sebaiknya kau renungkan sebelum tidur malammu, kau insyafkan dalam istighfarmu.

Karena ini bukan sekedar kisah.

Kami bukan sekedar kisah. Kami yang berdiri disini saat ini.

Design a site like this with WordPress.com
Get started