Perempuan dari Ghana

“Halo,” katanya di ujung tangga.

Dengan senyum lebar, dia menyapa saya yang baru saja menginjak lantai 1. Selama dua bulan hidup di kota ini, jarang sekali ada orang yang menyapa saya semanis itu. Mumpung ada yang ramah, maka saya balas, sekalian cari informasi.

“Hai. Kamu ikut kelas integrasi juga? Kelas Bahasa Inggris? Di ruangan nomor 3?”

Dia menjawab iya, dan kami satu kelas. Malam tadi sudah pertemuan kedua. Saya sendiri awalnya dijadwalkan memulai kelas integrasi awal Mei, tapi entah kenapa, Oualid Bouker, orang Tunisia yang menangani kontrak integrasi saya di IN-Ghent, menelepon saya Rabu minggu lalu. Dia menawarkan saya kelas Selasa malam yang sudah melalui satu pertemuan. Saya setuju saja. “Biar lebih cepat selesai, dan saya bisa fokus di kelas Bahasa Belanda nantinya,” batin saya. “Biar punya konco,” kata Erwin Novianto, satu kawan Indonesia yang juga sedang mendampingi istrinya menjalani studi di sini.

Namanya Janet Mensah. Dari Ghana. Dari dia, saya jadi tahu ibukota negaranya disebut Accra. “Lokasi negaramu di bawah Sudan?”

No,” katanya dengan n yang ditekan dan o yang mendengung. Seperti yang saya dengar di TV5Monde jika ada seorang narasumber dari Afrika yang diwawancara. Dia menyebut Nigeria sebagai negara yang lebih dekat dengan negaranya secara geografis. Dia mungkin berpikir, Nigeria lebih saya kenal ketimbang dia menyebut Togo atau Burkina Faso.

Dia sudah 7 tahun tinggal di Belgia. Lebih dari setengah dari masa tinggalnya di negara ini, dia habiskan di area Wallonia. “Kamu bisa berbahasa Prancis dong?” tanya saya semangat.

“Ya, sedikit,” jawab dia sambil ketawa, diikuti ekspresi perkenalan diri dalam Bahasa Prancis dengan aksen r yang rigid. “Untungnya pekerjaan saya tidak mewajibkan saya harus bisa bahasa sini.” Dia lama bekerja di perusahaan jasa kebersihan di Liège, sebelum kini bekerja di perusahaan asuransi yang belakangan menempatkannya di Ghent. Dia menyarankan saya untuk lamar saja pekerjaan ke perusahaan yang saya mau, jika mau. “Mampu berbahasa Inggris saja cukup kok,” katanya. Yah, dia berbicara dalam Bahasa Inggris dengan sangat lancar, meski saya sempat bingung saat dia mengatakan work dan pepper–saya pikir dia bilang weg (jalan, dalam Bahasa Belanda) dan pepe (vagina, dalam Bahasa Bugis kasar). Menurutnya, selain bahasa Twi, bahasa yang tampaknya berakar dari budaya Ghana, Bahasa Inggris pun sudah menjadi bahasa resmi negaranya.

Di kelas, saya duduk di samping kirinya. Di sebelah saya yang lain, duduk seorang ibu dari Pakistan. Sebelah kanan Janet, ada kawan dari Filipina. Kami memanggilnya Richard. Sementara ibu dari Pakistan lebih sering diam saat istirahat, saya dan Richard bicara banyak soal apa yang sedang kami lakukan di sini dan apa rencana kami ke depan.

“Richard, kamu kuliah di sini?” tanya saya mulai membuka percakapan. Janet, yang berada di tengah kami, sibuk menonton Youtube sambil mengenakan headset. Belakangan saya tahu dia curi dengar apa yang kami perbicangkan.

“Iya, saya belajar di sini,” jawab Richard. Dia menjelaskan bahwa dia menikahi orang Belgia, dan dia sudah 7 bulan tinggal di Ghent bersama istrinya. Istrinya bekerja sebagai pengajar Bahasa Belanda.

“Wah, kamu gak perlu ambil kelas Bahasa Belanda dong? Tinggal belajar dari istri.”

Gak lah,” balasnya. Menurutnya, dia tetap perlu ambil kelas bahasa sebagai bagian dari program integrasi. Saya paham bahwa sebagian orang yang mendaftarkan diri ke program ini berniat untuk mendapatkan sertifikat integrasi, meski harus mengikuti kelas integrasi dan dua level kelas Bahasa Belanda. Sertifikat ini menjadi modal awal untuk melamar pekerjaan tertentu atau mengajukan kewarganegaraan Belgia setelah 5 tahun tinggal. Lagipula, program ini gratis bagi imigran atau ekspatriat. Bahkan diwajibkan bagi pengungsi.

“Jadi, kamu kuliah di mana?” tanya saya lebih lanjut.

“Ya, di sekolah,” jawabnya

“Maksud saya, di universitas mana? Kan kamu bilang, kamu kuliah.”

“Di college gitu.” Saya berpikir bahwa dia merujuk ke University College Ghent, lembaga pendidikan tinggi yang didanai oleh komunitas berbahasa Belanda (vlaamse gemeenschap)–komunitas ini bertanggungjawab atas pengelolaan pendidikan dan budaya di wilayah Flanders, sementara komunitas lain, pemerintahan regional dan pemerintahan federal bertanggungjawab atas sektor dan atau wilayah lain. Berbeda dengan universitas, university college menanamkan kemampuan profesional pada mahasiswa, membuka jurusan yang terkait erat dengan keterampilan, dan tidak diperkenankan untuk melakukan riset. Di Indonesia, institusi ini mungkin setara dengan politeknik.

“Ambil jurusan apa?”

“Ya itu, saya lagi ambil level satu,” jawabnya sambil menyebut CVO beberapa kali. Ini singkatan dari Centrum voor Volwassenenonderwijs, semacam pusat belajar bagi orang dewasa. Banyak dari kami memilih lembaga ini sebagai tempat belajar Bahasa Belanda, bagian dari program integrasi, alih-alih memilih Universitair Centrum voor Talenonderwijs (UCT), pusat pendidikan bahasa yang berlokasi di universitas, dan sayangnya, berbayar.

Mendengar kata CVO, Muqadas, sang ibu dari Pakistan, tiba-tiba nyeletuk dalam Bahasa Inggris yang minim, “Me, niveau een, at CVO.” Dia mengulangi kalimat yang bagi saya terdengar sama, tapi tampaknya dia bicara banyak hal yang saya tidak mengerti. Pun Richard.

“Saya tidak paham apa yang kamu bilang,” katanya ke Muqadas.

Muqadas lalu menyalakan layar telepon genggamnya, dan memperlihatkan ke saya foto yang memuat informasi mengenai kursus Bahasa Belanda dan CVO, berharap saya bisa memahami dia ketimbang Richard. Foto itu diambil dari halaman Google Translate yang tampaknya menerjemahkan informasi tersebut dari Bahasa Belanda ke Bahasa Urdu, bahasa ibunya. Foto yang ia tunjukkan ialah bagian yang berbahasa Belanda.

“Maaf, Muqadas, saya tidak mengerti Bahasa Belanda,” kata saya. Dengan headset masih menggantung di telinganya, Janet cekikikan. Muqadas ingin bercerita banyak hal, tapi pun dia tidak menyangka bahwa saya juga tidak bisa berbahasa Belanda. Saya lalu mengajaknya sedikit bicara tentang dirinya dalam Bahasa Inggris, dan ia sekedar menjawab yes beberapa kali sebelum guru kami meminta kami diam dan kembali memulai kelas.

Saat jam terakhir kelas integrasi berlangsung, saya sempat berpikir jawaban Richard mengenai studi yang tengah ia jalani. “Kenapa dia tidak menyebut seni atau manajemen saat saya tanya jurusan yang dia ambil? Kenapa dia berulangkali menyebut CVO? Apa mungkin dia tidak menangkap apa yang saya tanyakan atau saya yang bertanya kurang jelas?” batin saya.

Di menit kelas berakhir, semua orang berkemas pergi. Richard, yang ingin kembali saya tanya mengenai jurusan yang dia ambil, secepat tolehan, langsung mengenakan jaket dan melambaikan tangan sembari bilang, “Bye!

Saya dan Janet termasuk deretan orang terakhir yang meninggalkan kelas. Sambil mendorong sepeda, saya menemaninya pulang. Apartemennya di pusat kota, sekitar 20 menit jalan kaki dari tempat kami belajar. “Dari apartemen saya, nanti kamu bisa lurus saja bersepeda menuju arah selatan,” jelasnya menuntun saya ke arah stasiun kereta Sint-Pieters yang lokasinya tidak jauh dari tempat saya dan istri saya tinggal.

Saat kami melewati Het Belfort van Gent, menara serupa Big Ben di London, Janet menunjuk satu pintu belakang menara. “Kantor itu tempat kita bisa meminta uang dari pemerintah lokal,” katanya mulai bercerita. Menurutnya, setiap orang yang berhenti bekerja karena alasan sakit atau alasan lainnya, atau diberhentikan oleh pemberi kerja, dapat mendaftarkan dirinya di tempat tersebut sebagai penerima tunjangan. Besarnya €1500 setiap bulan.

“Itu besar menurut ukuran saya. Saya boleh tidak daftar?”

“Kamu harus kerja di Belgia dulu. Ya minimal satu setengah tahun lebih lah.”

“Kalau nanti sudah dua tahun saya bekerja di sini, lalu berhenti karena alasan malas, bisa tidak?”

“Bisa. Bisa di-gaplok, terus kamu diusir,” celotehnya sambil tertawa. Suara tawa dia terdengar keras, membahana di jalan yang sudah sepi. Meski masih jam 10 malam, masih sore menurut ukuran warga Jakarta, orang-orang sini banyak memilih tinggal di rumah. Pertokoan umumnya tutup sebelum jam 7 malam. Perkantoran dan layanan publik bahkan tutup lebih dini. Hanya dua atau tiga bar yang masih buka.

“Oh ya, kamu tadi dengar kan tadi Richard bilang apa?” tanya saya penasaran.

“Ya, tentu saja.” Dia mulai lagi tertawa. “Kenapa? Kamu bertanya-tanya ya, kenapa dia tidak jawab jurusannya, malah bilang lagi ambil kursus Bahasa Belanda?”

“Iya, kan dia bilang, lagi kuliah di college.”

“Bagusnya kamu tarik telinganya saat kamu bilang major. Lagipula dia juga kayaknya ga tahu apa itu university, apa itu college. Itulah kenapa dia langsung cabut pulang. Biar kamu ga ajakin dia ngobrol lagi.” []

Mulai lagi.

Sudah lama saya tidak menulis di sini. Tepatnya, sudah lama saya tidak menulis. Di mana pun. Sulit. Rasanya kata-kata tidak pernah cukup. Dan sesuatu yang tidak cukup, terasa beberapa tahun belakangan ini, sia-sia. Tapi ya sudah. Ada baiknya memulai lagi. Mencoba lagi. Mungkin bakal lahir perasaan-perasaan baru. Gairah-gairah baru. Cerita-cerita baru.

Barusan saya masuk ke akun wordpress saya, melihat banyak fitur. Saya coba ganti tampilan halaman. Ganti jenis huruf. Menduga-duga mana yang menarik. Saat saya melihat banyak pilihan tampilan, saya berpikir memuat foto juga sama menariknya dengan menulis. Sayangnya, saya tak bakat. Juga tak punya peluru untuk mengambil foto. Hmmm, tapi akan saya coba dengan telepon genggam.

Tak mau terlalu lama dengan banyak fitur, saya akhirnya memilih satu tampilan dengan warna dan pilihan huruf yang mengikutinya. Yang lebih perlu saya lakukan adalah mengisi halaman ini. Saya sempat berpikir untuk mengubahnya dengan domain khusus, tapi itu nanti. Butuh uang. Saya sedang tak punya banyak. Ada satu hal pula yang ingin saya wujudkan: lahirkan halaman khusus terkait sastra anak. Hal yang sempat saya tekuni, lalu tersisihkan karena urusan lain. Saya bakal cari domain gratis. Saya pernah lihat iklannya di Youtube. Nanti saya cari tahu. Doakan saja.

Membaca tiga paragraf di atas, saya tersenyum kecil. Saya ternyata punya banyak mau.

Pratiquer à écrire – 3 – Résumé de « Littérature pour enfants et pour tous »

En 2009, l’Inde a adopté une loi historique afin d’aider des enfants défavorisés, surtout dans le domaine de l’éducation. Cet adoptant a inspiré des écrivains en Inde à tenter de publier des romans d’adolescent ou de jeunesse parlant des thèmes extraordinaires : le harcèlement, les privilèges de classe ou bien l’amitié. Pour l’effectuer, quelques romancières créent des personnages inhabituels en tant que le caractère principal ou secondaire dans l’histoire. Par exemple, l’auteure Shals Mahajan montre des familles monoparentales dans son roman « Timmi in Tangles ».

En effet, le thème un peu tabou n’est parfois pas central dans le livre. Des écrivains l’y mettent seulement en supplément pour l’introduire à la société indienne. C’est à cause des idées sont encore difficile à discuter tranquillement entres des individus, notamment entre des parents et leurs enfants. Mais, d’après l’auteure Payal Dhar, c’est très nécessaire d’expliquer des phénomènes récents en Inde, dont l’existence des homosexuels, aux enfants.

L’autre femme écrivain indienne Himanjali Sankar confirme ce que Payal Dhar a dit. Elle a avoué qu’on trouve rarement des sexualités alternatives dans des romans indiens, même ils sont écrits en anglais. Le sujet est toutefois très problématique et tellement difficile à être admit par la société.

Le problème majeur, c’est qu’il n’y a pas beaucoup d’ouvrages particuliers s’agissant des homosexualités qui ont diffusés. Par conséquence, des enfants ne peuvent pas choisir ce qu’ils veulent à lire. En plus, ses parents ne leur laissent pas de choisir eux-mêmes.

L’observer Balaji Venkataraman assume que les distributeurs aggravent les problèmes en dirigeant seulement des best-sellers. Ils considèrent rarement des livres contenant l’homo sexualité à publier. « Ce n’est pas juste » a dit Balaji.**

28 janvier 2015

* Cet article a été publié par Courrier International N0 1256 du 27 novembre au 3 décembre 2014 page 44. On peut le trouve ici : http://www.courrierinternational.com/article/2014/11/27/litterature-pour-enfants-et-pour-tous