Kupandangi makan siangku. Kemenangan dari kelas 8-C menguap begitu cepat karena kelasku dikalahkan kelas 8-A. Tanganku sudah tidak bisa digerakkan lagi untuk mendribble bola. Jadi aku tidak ikut pertandingan. Eka melarang aku turun. Dia mengancam Ica kalau aku ikut bertanding dia tidak akan ikut main dan akan melaporkan Ica ke kepala sekolah. Dan sebagai gantinya Ica yang bermain dan hasilnya kalah tiga puluh angka.
Hal itu malah membuatku tersenyum. Ica bukannya main malah marah-marah. Kerjaannya hanya memberi instruksi. Dan dalam pertandingan seperti itu mana ada yang mau mendengarkan. Dia cocoknya jadi pelatih saja. Dari pada merintah gak jelas di lapangan, lebih baik dia berteriak dari pinggir lapangan sekalian.
Akhirnya tanganku sedikit bisa diajak kompromi. Walaupun pelan aku bisa menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutku. Aku tidak mungkin tidak makan siang karena tenagaku akan terkuras selama dua jam untuk latihan. Kantin penuh dengan anak eskul basket. Tapi segini belum apa-apa. Yang datang hanya anak kelas delapan dan beberapa anak kelas tiga. Anak kelas tujuh hanya latihan setiap minggu sore. Itu juga hanya sebulan dua kali. Tapi saat kelas tujuh kemampuanku tetap berkembang karena aku punya pelatih pribadi di rumah yang bisa mengajariku tanpa harus dibayar.
“Vira, aku suapin ya?” kata Anita yang duduk di depanku. “Aku aja udah udah abis sepiring. Kamu setengah juga belum. Aku suapin ya?”
“Gak usah. Aku bisa makan sendiri kok,” jawabku.
“Tapi kapan beresnya?” tanya Ziqri yang kebetulan lewat di belakang Anita. “Keburu kak Dan teriak ‘semuanya kumpul’.”
“Ya makannya terpaksa bersambung,” kataku pada Ziqri.
“Emangnya tangan kamu kenapa?” tanya Anita sambil makan gorengan yang ada di depannya.
“Nonjok pohon,” jawab Eka lalu meminum es jeruknya yang ke dua.
Ya ampun! Si Eka tukang minum. Si Anita tukang makan. Padahal dua-duanya jagoan.
Mita yang sedang asik minum es kelapa tiba-tiba batuk. Dia menekan dadanya sambil berusaha untuk bernafas lagi. Kukira dia sedang menikmati tenggorokannya yang terbasahi. Rupanya nguping juga, padahal dari tadi dia diam saja.
“Kayak gak ada yang bisa ditonjok aja,” kata Mita setelah berhenti batuk.
“Aku gak punya pelampiasan,” kataku.
“Tonjok aja anak kelas 8-E. Ada yang malakin aku kemaren. Untung ada Adam.”
Kulanjutkan makan lebih cepat. Sebentar lagi jam satu dan itu berarti kak Dan akan segera teriak-teriak. Sepertinya akan ada kejutan untukku dan teman-temanku. Jarang sekali kakak kelas yang hadir sebanyak itu—padahal tadi hanya sedikit. Mungkin acara hukuman. Karena biasanya kalau banyak yang hadir itu pertanda buruk.
Aku melihat kak Anissina—adik kak Dan—datang bersama kak Lola. Alumni juga hadir. Ini lebih dari sekedar pertanda buruk. Tapi aku tidak melihat malaikat pelindungku.
Uke mana ya?