Menjadi PNS (komuin) di Jepang adalah suatu kebanggaan bagi setiap masyarakat Jepang. Profesi ini memiliki prestise tersendiri dan terhormat di Jepang. Namun jangan bayangkan komuin di sana hidup mewah. Komuin di Jepang gajinya tidaklah berlebihan. Boleh dikatakan sama dengan standar penggajian yang berlaku di Jepang.
Saat pertama kali diterima menjadi komuin, seseorang yang berijasah S1 akan mendapatkan gaji sekitar 200 ribu Yen atau sekitar Rp 17 juta. Suatu jumlah yang tergolong biasa untuk ukuran di Jepang mengingat biaya hidup yang tak murah. Jumlah ini juga tak berbeda dengan gaji di perusahaan swasta bagi lulusan sarjana yang baru.
“Untuk diri sendiri gaji sebesar itu cukup untuk hidup di Tokyo, tapi untuk keluarga dengan satu anak tentu tidak cukup. Tapi semakin lama bekerja gaji tentu akan naik,” jelas Sayoko Imai (31) seorang PNS (komuin) di Kota Mushashino, Tokyo.
Bagi Sayoko Imai dan banyak Komuin lainnya di Jepang berpendapat gaji boleh pas-pasan, tetapi untuk urusan kinerja jangan ditanya. Bahkan mereka begitu semangat, cekatan dan ramah melayani masyarakat.
“ Sederhana saja, kami hanya tak ingin membuat masyarakat menunggu terlalu lama,” papar Sayoko Imai seorang komuin yang bekerja di Kota Mushashino, Tokyo.
Menurut Sayoko yang telah bekerja sebagai komuin selama 6 tahun, etos kerja seperti itu sebenarnya sudah menjadi budaya orang Jepang. Semua orang Jepang apapun profesinya akan berbuat seperti itu. Penuh disiplin, teliti dan memberikan yang terbaik.
Untuk masalah sehari-hari yang mungkin sepele seperti buang sampah, antri sampai janji dengan seseorang, masyarakat Jepang memiliki kedisiplinan yang tinggi. Saat membuang sampah, misalnya, dengan teliti mereka memilah dan mebuang sampah sesuai dengan jenisnya dan disiplin menaati jadwal yang telah ditentukan.
Untuk urusan antri, jangan ditanya lagi. Sejak kecil mereka sudah ditanamkan budaya antri di sekolah dan juga di rumah dan di masyarakat.. Sehingga meski tak ada yang mengatur atau mengawasi mereka akan dengan sendirinya tertib mengantri. Mereka akan merasa malu kalau menyerobot orang di depannya.
Minta Maaf Meski Tidak terlambat
Begitu pula saat berjanji untuk bertemu dengan seseorang. Mereka akan berusaha datang lebih awal. Jangan sampai mereka menjadi pihak yang ditunggu.
Seperti hari itu, ketika saya bertemu dengan Sayoko Imai. Sebelumnya melalui e-mail disepakati kami akan bertemu jam 17.00 di Shinjuku Eki (stasiun) di kawasan Tokyo. Setengah jam sebelum jam tersebut, HP saya berdering. Ia mengatakan telah sampai di Shinjuku Eki.
Untungnya, saya dan seorang kawan PNS dari Kalimantan Timur, Fitriana, serta seorang dosen UI Jakarta yang tengah mengajar bahasa Indonesia di Keio, Totok Suhardiyanto, juga sudah duluan sampai di tempat tersebut. Dan benar kata orang, kalau janji dengan orang Jepang harus on time, kalau perlu datang lebih awal supaya tidak malu.
“Maaf telah menunggu. Sudah lama menunggunya, “ katanya sambil membungkuk khas orang Jepang dengan bahasa Inggris yang cukup lancar. Meski tidak terlambat, dia langsung minta maaf begitu melihat kami.
Permintaan maaf itu bukan basa-basi, namun memang sudah menjadi ciri khas masyarakat Jepang. Meski tidak terlambat, tetapi telah membuat rekan atau orang lain menunggu, mereka akan segera minta maaf. Barangkali beginilah cara mereka menghargai waktu.
Menghargai waktu
Budaya menghargai waktu ini juga tercermin dari kinerja para komuin. Kalau bukan saatnya istirahat, mereka konsentrasi pada pekerjaannya masing-masing. Tidak hanya di front office yang melayani dan menghadapi masyarakat secara langsung, di back office pun tak ada yang menganggur.
Tapi kalau waktunya istirahat, tak ada kompromi. Tepat pukul 12.00, semua akan bergegas keluar untuk makan siang. Saya pernah mengalaminya bersama dua kawan dari Indonesia saat mengurus re-entry permit di Nyuukokukanrikyoku (Kantor Imigrasi Jepang).
Setelah mengambil nomor antri di queue machine dan menunggu setengah jam, tiba-tiba kantor tutup karena pagawainya istirahat makan siang. Sekedar tanya jam istirahatnya sampai jam berapapun tidak sempat, karena pegawainya sudah meninggalkan ruangan. Terpaksalah, menunggu satu jam.
Namun, harga yang didapat karena menunggu istirahat mereka selesai tidak sia-sia. Begitu kantor buka kembali, dalam dua puluh menit re-entry permit telah diberikan kepada kami.. Wow, dalam dua puluh menit urusan di imigrasi selesai!
Namun bukan waktu yang cepat saja yang patut dipuji, kepekaan petugas terhadap kepentingan orang yang dilayani juga layak diacungi jempol. Tahu kalau kami bertiga telah menunggu lebih dari satu jam, passport kami dan juga pasport dua orang asing dari Amerika Latin lalu diminta untuk dikumpulkan jadi satu. Petugas itu lalu mengecek dan mencocokan dengan data di komputer sebentar, terus meminta kami membayar 3000 Yen untuk biaya single entry yang kami minta di loket pembayaran. Setelah membayar passport dikembalikan, tentunya dengan sticker hologram re-entry permit tertempel manis di passport.
Dilatih Untuk Melayani
“Kalau kami tidak bekerja sungguh-sungguh dan tidak cepat melayani masyarakat, media massa akan menyorot dan masyarakat akan memprotes,” jelas Sayoko Imai saat saya bercerita kalau terkesan dengan kinerja komuin di Jepang.
“Begitu seseorang diterima menjadi komuin, ia akan dilatih untuk melayani masyarakat dan memberikan yang terbaik untuk masyarakat, “ lanjutnya.
Tanpa ditanya ia lalu bercerita kalau tengah belajar bahasa Mandarin. Masyarakat di Mushashino, banyak orang China. Ia merasa perlu belajar bahasa Mandarin agar bisa memberikan pelayanan yang baik pada mereka.
Bukannya orang Jepang terkenal sangat bangga dengan bahasa Jepang-nya dan ogah belajar bahasa asing? Namun, Sayoko Imai mengaku tengah belajar bahasa Mandarin agar bisa melayani lebih baik.
Tak terasa satu jam lebih telah terlewati.. Makanan yang kami pesan telah habis kami lahap. Dan berbincang dengan Sayoko Imai, seorang komuin di Kota Mushashino, memberikan kesan tersendiri.

Posted by massetyo 
