Komuin Di Jepang, Tak Ingin Masyarakat Menunggu

May 1, 2008

Menjadi PNS (komuin) di Jepang adalah suatu kebanggaan bagi setiap masyarakat Jepang. Profesi ini memiliki prestise tersendiri dan terhormat di Jepang. Namun jangan bayangkan komuin di sana hidup mewah. Komuin di Jepang gajinya tidaklah berlebihan. Boleh dikatakan sama dengan standar penggajian yang berlaku di Jepang.

Saat pertama kali diterima menjadi komuin, seseorang yang berijasah S1 akan mendapatkan gaji sekitar 200 ribu Yen atau sekitar Rp 17 juta. Suatu jumlah yang tergolong biasa untuk ukuran di Jepang mengingat biaya hidup yang tak murah. Jumlah ini juga tak berbeda dengan gaji di perusahaan swasta bagi lulusan sarjana yang baru.

“Untuk diri sendiri gaji sebesar itu cukup untuk hidup di Tokyo, tapi untuk keluarga dengan satu anak tentu tidak cukup. Tapi semakin lama bekerja gaji tentu akan naik,” jelas Sayoko Imai (31) seorang PNS (komuin) di Kota Mushashino, Tokyo.

Bagi Sayoko Imai dan banyak Komuin lainnya di Jepang berpendapat gaji boleh pas-pasan, tetapi untuk urusan kinerja jangan ditanya. Bahkan mereka begitu semangat, cekatan dan ramah melayani masyarakat.

“ Sederhana saja, kami hanya tak ingin membuat masyarakat menunggu terlalu lama,” papar Sayoko Imai seorang komuin yang bekerja di Kota Mushashino, Tokyo.

Menurut Sayoko yang telah bekerja sebagai komuin selama 6 tahun, etos kerja seperti itu sebenarnya sudah menjadi budaya orang Jepang. Semua orang Jepang apapun profesinya akan berbuat seperti itu. Penuh disiplin, teliti dan memberikan yang terbaik.

Untuk masalah sehari-hari yang mungkin sepele seperti buang sampah, antri sampai janji dengan seseorang, masyarakat Jepang memiliki kedisiplinan yang tinggi. Saat membuang sampah, misalnya, dengan teliti mereka memilah dan mebuang sampah sesuai dengan jenisnya dan disiplin menaati jadwal yang telah ditentukan.

Untuk urusan antri, jangan ditanya lagi. Sejak kecil mereka sudah ditanamkan budaya antri di sekolah dan juga di rumah dan di masyarakat.. Sehingga meski tak ada yang mengatur atau mengawasi mereka akan dengan sendirinya tertib mengantri. Mereka akan merasa malu kalau menyerobot orang di depannya.

Minta Maaf Meski Tidak terlambat

Begitu pula saat berjanji untuk bertemu dengan seseorang. Mereka akan berusaha datang lebih awal. Jangan sampai mereka menjadi pihak yang ditunggu.

Seperti hari itu, ketika saya bertemu dengan Sayoko Imai. Sebelumnya melalui e-mail disepakati kami akan bertemu jam 17.00 di Shinjuku Eki (stasiun) di kawasan Tokyo. Setengah jam sebelum jam tersebut, HP saya berdering. Ia mengatakan telah sampai di Shinjuku Eki.

Untungnya, saya dan seorang kawan PNS dari Kalimantan Timur, Fitriana, serta seorang dosen UI Jakarta yang tengah mengajar bahasa Indonesia di Keio, Totok Suhardiyanto, juga sudah duluan sampai di tempat tersebut. Dan benar kata orang, kalau janji dengan orang Jepang harus on time, kalau perlu datang lebih awal supaya tidak malu.

“Maaf telah menunggu. Sudah lama menunggunya, “ katanya sambil membungkuk khas orang Jepang dengan bahasa Inggris yang cukup lancar. Meski tidak terlambat, dia langsung minta maaf begitu melihat kami.

Permintaan maaf itu bukan basa-basi, namun memang sudah menjadi ciri khas masyarakat Jepang. Meski tidak terlambat, tetapi telah membuat rekan atau orang lain menunggu, mereka akan segera minta maaf. Barangkali beginilah cara mereka menghargai waktu.

Menghargai waktu

Budaya menghargai waktu ini juga tercermin dari kinerja para komuin. Kalau bukan saatnya istirahat, mereka konsentrasi pada pekerjaannya masing-masing. Tidak hanya di front office yang melayani dan menghadapi masyarakat secara langsung, di back office pun tak ada yang menganggur.

Tapi kalau waktunya istirahat, tak ada kompromi. Tepat pukul 12.00, semua akan bergegas keluar untuk makan siang. Saya pernah mengalaminya bersama dua kawan dari Indonesia saat mengurus re-entry permit di Nyuukokukanrikyoku (Kantor Imigrasi Jepang).

Setelah mengambil nomor antri di queue machine dan menunggu setengah jam, tiba-tiba kantor tutup karena pagawainya istirahat makan siang. Sekedar tanya jam istirahatnya sampai jam berapapun tidak sempat, karena pegawainya sudah meninggalkan ruangan. Terpaksalah, menunggu satu jam.

Namun, harga yang didapat karena menunggu istirahat mereka selesai tidak sia-sia. Begitu kantor buka kembali, dalam dua puluh menit re-entry permit telah diberikan kepada kami.. Wow, dalam dua puluh menit urusan di imigrasi selesai!

Namun bukan waktu yang cepat saja yang patut dipuji, kepekaan petugas terhadap kepentingan orang yang dilayani juga layak diacungi jempol. Tahu kalau kami bertiga telah menunggu lebih dari satu jam, passport kami dan juga pasport dua orang asing dari Amerika Latin lalu diminta untuk dikumpulkan jadi satu. Petugas itu lalu mengecek dan mencocokan dengan data di komputer sebentar, terus meminta kami membayar 3000 Yen untuk biaya single entry yang kami minta di loket pembayaran. Setelah membayar passport dikembalikan, tentunya dengan sticker hologram re-entry permit tertempel manis di passport.

Dilatih Untuk Melayani

“Kalau kami tidak bekerja sungguh-sungguh dan tidak cepat melayani masyarakat, media massa akan menyorot dan masyarakat akan memprotes,” jelas Sayoko Imai saat saya bercerita kalau terkesan dengan kinerja komuin di Jepang.

“Begitu seseorang diterima menjadi komuin, ia akan dilatih untuk melayani masyarakat dan memberikan yang terbaik untuk masyarakat, “ lanjutnya.

Tanpa ditanya ia lalu bercerita kalau tengah belajar bahasa Mandarin. Masyarakat di Mushashino, banyak orang China. Ia merasa perlu belajar bahasa Mandarin agar bisa memberikan pelayanan yang baik pada mereka.

Bukannya orang Jepang terkenal sangat bangga dengan bahasa Jepang-nya dan ogah belajar bahasa asing? Namun, Sayoko Imai mengaku tengah belajar bahasa Mandarin agar bisa melayani lebih baik.

Tak terasa satu jam lebih telah terlewati.. Makanan yang kami pesan telah habis kami lahap. Dan berbincang dengan Sayoko Imai, seorang komuin di Kota Mushashino, memberikan kesan tersendiri.


Kekuasaan Ada DI Bawah Telapak Kaki Ibu

April 14, 2008

Ada peribahasa yang terkenal di Indonesia. Surga ada di bawah telapak kaki ibu. Lalu, bagaiamana dengan kekuasaan? Kalau mencoba bermain-main dengan kata, saat ini barangkali peribahasa itu cocok untuk menggambarkan kemenangan HADE,  Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf, dalam Pilkada Jawa Barat. Tentunya dengan mengganti kata surga menjadi kekuasaan terlebih dulu. Jadi kemudian menjadi: Kekuasaan Ada Di Bawah Telapak Kaki Ibu.

Coba kita lihat perjalanan pasangan HADE yang diusung PKS dan PAN. Sebelum Pilkada digelar banyak yang meragukan pasangan ini mampu memenangi Pilkada Jawa Barat. Pertama, Jawa Barat sejak dulu dikenal sebagai basis Golkar.

Kedua, banyak yang masih ragu bahkan memandang sebelah mata dengan kemampuan artis yang terjun ke politik. Bahkan ada yang sedikit sinis berkomentar kalau kemunculan artis ke panggung politik untuk sekedar pemanis saja.

Ketiga, barangkali ini yang membuat PAN sedikit ragu menerima pinangan PKS waktu itu untuk memasangkan Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf sebagai calon gubernur dan wakil gubernur, yaitu faktor “masih hijaunya” Dede Yusuf sebagai tokoh yang diharapkan mampu mendongkrak suara bagi HADE. Keraguan itu masih juga sulit dihilangkan bahkan ketika pemilihan sudah dekat. Apalagi banyak polling yang menyatakan pasangan ini berada di posisi buncit.

Lalu, mengapa pasangan HADE bisa menjungkir-balikkan semua analisis, prediksi atau bahkan mesin politik Golkar dan juga PDI P yang memiliki basis massa samapai ke desa-desa.. Apa karena mesin partai tidak jalan?

Persoalannya bukan karena mesin partai yang tidak jalan. Namun, sekali lagi mayarakat Indonesia masih melihat calon bukan pada program-programnya, melainkan lebih pada pesona atau citra calon. Soal popularitas calon ini, dulu SBY-JK pernah merasakan nikmatnya dan melenggang ke istana. Dan kini Hade giliran menikmatinya.

Kalau analisis ini benar, berarti yang berjasa besar mengantar Hade ke kursi Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat adalah ibu-ibu di Jawa Barat. Kalau dilihat dari populasi memang wanita, di banyak tempat, pasti lebih banyak dibanding laki-laki.

Agaknya, hal ini juga disadari oleh tim kampanye HADE. Mereka tidak bicara program atau janji-janji, melainkan mengemas pesan dengan apik, “Saatnya yang muda memimpin Jawa Barat”.

Dengan slogan ini, sudah jelas Dede Yusuf yang diandalkan untuk memanen suara. Jadi tidak heran mengapa yang sangat aktif berkampanye adalah Dede Yusuf, dan bukannya Ahmad Heryawan yang diusung sebagai Calon Gubernur.

Dan memang Dede Yusuf sungguh fenomenal. Dalam waktu singkat ia mampu merebut hati dan simpati, khususnya dari ibu-ibu.

Tetapi mengapa faktor popularitas ini tidak berpengaruh pada diri Marisa Haque waktu  Pilkada Propinsi Banten dan harus kalah dari Ratu Atut. Logika sederhana karena ibu-ibu dan wanita tentu lebih menyanjung tokoh pria dibanding wanita. Masak jeruk minum jeruk. Jadi, Tak berlebihan kalau ibu-ibu berjasa besar mengantar HADE ke kursi Jawa Barat 1 dan 2.

Satu lagi yang tak boleh dilupakan adalah faktor Rahayu Effendi, seorang ibu yang mendukung anaknya habis-habisan,  termasuk menjual assetnya untuk biaya kampanye HADE dan juga menjadi jurkam untuk anaknya. Tentunya ini juga menjadi nilai lebih tersendiri.

Kembali ke peribahasa tadi,  sungguh pas untuk menggambarkan kemenangan HADE.  Kalau begitu para politikus dan partai baik-baiklah sama para ibu. Jangan kecewakan mereka dengan menaikkan minyak tanah atau elpiji, listrik sampai sembako. Karena ibu-ibulah yang pertama kali akan merasakan dampaknya. Dan selalu Ingat, kekuasaan ada di bawah telapak kaki ibu. ***

 


Hadiah Kebahagiaan

April 13, 2008

Lain dari biasanya aku menelepon rumah di pagi hari. Saat itu, tepatnya hari Jumat, tanggal 11 April, (berarti dua hari yang lalu). Jarum jam menunjukkan pukul 08.05 waktu Jepang (ada perbedaan waktu dua jam lebih cepat dengan waktu di Jogja). Siwi, istriku sedang sibuk-sibuknya menyiapkan kebutuhan sekolah Riri (8 tahun) dan Dani (6 tahun), termasuk kebutuhan dirinya sendiri.

Pagi itu aku secara khusus menelepon Siwi untuk mengucapkan Selamat Ulang Tahun Pernikahan kami yang ke-9. Pikirku pagi-pagi adalah saat yang tepat untuk mengucapkannya. Rencana sebenarnya lebih pagi lagi, saat istriku masih tidur, sekitar jam 06.30, karena pas pada jam itu biasanya istriku bangun. Jadi aku tak mengganggu jam istirahatnya. Halah, berlagak jadi suami yang baik. Barangkali itu yang ada dipikiran pembaca. Jujur, saya tidak berlagak. Karena jelas saya bukan suami yang baik. Sering saya membuat marah dan sedih istriku. Sangat egois, mau menang sendiri. Kurang pengertian. Tapi setidaknya saya telah berusaha.

Seperti kali ini, saya berusaha tidak mengganggu istirahat istriku. Tapi biasalah kalau tidak ada yang membangunkan, aku termasuk susah untuk bangun pagi. Jam weker di kamar sekedar jadi pajangan saja, karena berkali-kali berdering tetap tak mampu membangunanku.

Tuh, betul kan saya bukan suami yang baik. Sudah janji pada diri sendiri untuk telepon pagi hari saja tidak ditepati, apalagi sama orang lain. Tetapi setidaknya tanpa berusaha saya telah berhasil tidak mengganggu tidur istriku.

Meski agak terlambat, (dari pada tidak, ya kan?) saya menelepon istriku. Kuucapkan Selamat Ulang Tahun Pernikahan. Tak lupa kuucapkan juga terima kasih karena telah menjadi istri dan ibu yang baik untuk anak-anakku.

Ya, adegan selanjutnya tak perlulah diceritakan di sini karena mungkin tidak menarik. Paling cuma pembicaraan biasa antara suami-istri yang lagi telepon. Mungkin sedikit menarik dan berbeda karena saat ini kami dipisahkan oleh jarak dan waktu, sehingga ada suasana lain yang baru pertama kali kami alami. Ya, ini adalah ulang tahun perkawinan kami yang ke sembilan, sekaligus yang pertama bagi kami untuk tidak melewatkan waktu bersama. Jadi tidak ada istilah jalan-jalan berdua, atau sekedar makan bareng berdua, dilanjutkan ngobrol di tempat tidur sampai pagi (tentunya dengan aktifitas…,ups! Nanti blogku dilarang sama Menkominfo kalau diteruskan).

Agar tidak melenceng alur ceritanya, aku ajak pembaca (yakin amat ada pembacanya) kembali ke saat aku telepon ke rumah. Ya, belum selesai aku ngobrol lewat telepon dengan Siwi, di belakang istriku (atau mungkin di samping, ya?) terdengar suara ribut Riri dan Dani.

” Aku dulu! Aku dulu!,” teriak mereka bersahutan.

Rupanya mereka sedang sarapan. Dan, sedari tadi memperhatikan ibunya yang sedang telepon. Mereka sudah tak sabar lagi untuk menunggu giliran berbicara dengan bapaknya.

“Sudah dulu ya, gantian anak-anak,” kata istriku.

“Pak, selamat ulang tahun pernikahan yang kesembilan, ya,” ucap Riri.

“Selamat ulang tahun pernikahan ya, Pak,” sambung Dani.

Wow, rupanya mereka begitu antusias juga dengan moment ini. Bahkan kata Siwi mereka juga sudah tahu kalau bapak dan ibunya akan ulang tahun pernikahan yang kesembilan. Ah, pasti istriku yang memberi tahu.

“iya, mereka semangat banget mau kasih hadiah segala,” kata Siwi kemudian.

“Adik yang kasih tahu, ya?”tanyaku pada Siwi.

“Nggak. Cuma waktu itu aku buka album foto-foto pernikahan. Anak-anak juga ikut, terus Riri baca undangan pernikahan kita dulu. Dia jadi tahu kalau tanggal 11 April 1999 pernikahan bapak dan ibunya,” jelas istriku.

“Wow,” sahutku. Terbersit rasa bangga dan bahagia juga mendengar penjelasan Siwi.

“Sejak semalam sebenarnya mereka sudah nunggu telepon bapaknya,” sambung Siwi lagi.

Wow, lagi-lagi wow. Ini adalah pertama kalinya aku mendapat ucapan selamat dari anak-anakku di hari ulang tahun pernikahan. Kalau ucapan selamat ulang tahun kelahiran sudah biasa aku mendapat dari mereka setiap tahun. Ini ulang tahun pernikahan, broo. Aku tak menyangka. Meski tidak diajari mereka perhatian juga sama bapak dan ibunya. Sungguh ini hadiah ulang tahun pernikahan kesembilan yang spesial. Yang lebih berharga daripada hadiah arloji atau sepatu atau dasi. Bahkan masih jauh lebih berharga dibanding jalan-jalan ke Bali atau Lombok. Aku tidak mau membandingkan dengan rumah atau mobil, karena aku belum punya, jadi kalau ada yang mau kasih hadiah dua benda itu aku akan menerima dengan ikhlas, mengatakan terima kasih dan juga mengucap ini hadiah spesial juga (he..he..he… emang siapa yang mau kasih?).

Tetapi kalau disuruh memilih, katanya hidup khan harus memilih, jujur aku akan mengatakan kalau “hadiah” dari anak-anak tadi nilainya melebih segalanya. Adakah hadiah bagi seorang suami-istri yang jauh lebih bernilai dibanding kebahagiaan? Bukankah salah satu tujuan orang berumah tangga adalah kebahagiaan? Atau mungkin ada juga orang yang berumah tangga dengan tujuan supaya memiliki rumah bagus atau mobil mewah. Ah, biarlah itu kan pilihan masing-masing. Tetapi bagiku dan pasti bagi mayoritas orang berumah tangga tujuan pernikahan adalah kebahagiaan.

Dan hadiah kebahagiaan itulah yang diberikan anak-anakku untuk Hari Ulang Tahun Pernikahan kami yang kesembilan. Sekali lagi, terima kasih anak-anakku, sayang.

Catatan:

Yeach, akhirnya jadi juga aku menulis cerita ini. Kesibukan tesis membuatku tak ada waktu untuk nge-blog-ria.


Keseringan Jalan, Diprotes Anak

April 9, 2008

Tidak seperti biasanya, Dani (6 tahun) tidak mau menerima telepon dariku, bapaknya. Meski aku sudah mengatakan kalau kangen dan ingin mendengar suaranya, jagoanku itu tetap menolak. Ah, mungkin memang baru sibuk main, pikirku dalam hati.

Tetapi hari itu sudah seminggu Dani tidak mau terima telepon dariku. Rasa ingin tahuku mulai mengusik. Kutanya pada istriku, juga tidak ada jawaban yang pasti. Lalu, kenaapa? Ada apa? Apa Dani marah? Ngambek minta mainan? Rasanya baru kemarin aku kirim mainan untuk dia. Kok sekarang malah tidak mau terima telepon dariku yang sudah sangat rindu mendengar suaranya. Ada apa Nak, batinku.

Aku sangat mengenal Dani dengan baik. Anaknya memang keras. Kalau sudah tidak mau, tidak ada yang bisa memaksa. Meski kugunakan ancaman tidak membelikan mainan lagi, dia tetap bergeming. Kurayu akan dibelikan mainan lagi, tetap nggak ngefek.

“Tolong Dik, bujuk Dani aku pengen dengar ceritanya?”

“Sudah kubujuk, Mas. Dasar anaknya keras. Kalau nggak mau ya nggak mau,”sahut istriku dari seberang telepon. ” Mas mungkin janji apa sama Dani,” lanjutnya.

Karena tidak merasa menjanjikan sesuatu, aku mulai kesal dan marah. Gaya orang tua yang merasa memiliki kuasa, merasa selalu benar plus ego, segera kuterapkan.

“Kalau nggak mau Bapak marah, lo!”ancamku lewat loudspeaker HP istriku.

Mendengar kata marah, Dani segera menerima HP dari istriku.

“Bapak boong !!,” katanya tanpa ba bi bu.

“Boong apa?”

“Katanya pergi ke Jepang belajar. Cuma jalan-jalan saja,” protesnya.

“Looo, bapak bener belajar.”

“Itu foto-fotonya, semua jalan-jalan tidak ada foto belajarnya,” cetusnya. “Aku nggak mau telepon bapak, bapak boong!”

Paham, aku sekarang. Ternyata foto-foto yang kukirim lewat YM-an sama istriku itu penyebabnya. Ya, memang foto-foto itu isinya cuma jalan-jalan semua. Dari mulai ke Enoshima, Kamakura, Akihabara, Imperial Palace sampai foto tersesat di Ofuna juga. Semuanya foto-foto yang sedang narsis.

Benar Dani, tak ada foto yang membuktikan aku sedang belajar. Oh, anakku maafkan bapak yang keseringan jalan. Memang kamu benar. Bapak meninggalkanmu untuk sementara ke Jepang itu untuk belajar, bukan untuk jalan-jalan. Terima kasih sayang, kau telah mengingatkanku. ***


Design a site like this with WordPress.com
Get started