Halo para traveler!!
Yang sekarang lagi baca postingan saya kali ini pasti pelancong yang sedang berencana untuk pergi ke Wakatobi dan disasarkan kesini oleh mbah gugel, atau teman2 subscriber, atau teman2 yang saya paksa buat baca biar jumlah visitornya nambah .
Anyway , siapapun kalian, pastinya ngga akan rugi membaca tulisan saya berikut ini. Postingan ini akan panjaaaanggg karena saya akan menceritakan dari awal banget, which means dari planning sampai eksekusi. Bisa jadi panduan untuk merencanakan bepergian ke wakatobi, baik dari sisi budget dan destinasi. Plus drama ala reality show di tipi2 swasta.
Seperti biasa, agenda dive trip tahunan saya dan buddy Puji , kami rencanakan akan dilaksanakan sekitaran bulan Maret- April, dimana cuaca sedang peralihan (spot ngga terlalu rame dan cuaca sudah mulai panas).
Karena kami cewe , maka labilitas muncul pula dalam menentukan destinasi tahun ini. Kami berganti site beberapa kali, dengan pertimbangan,
- Budget –> Masih kuli. Masih banyak cicilan. Masih butuh duit makan.
- Waktu –> (Lagi) masih kuli. Masih terbatas cutinya. Tergantung mood Bos. Proyek belum selesai.
- Lokasi –> Kali ini mau yang jauhan. Biar bisa pamer di Instastory. Bosen kan kalo Bali mulu (sombong).
Pilihan awal adalah Bunaken – Lembeh, atau Takabonerate. Gugur karena lama di jalan. Minder juga kalau ke Lembeh kameranya masih belum canggih (canggihpun belum tentu bisa make. Ha ha)
Saya ajukan opsi Pulau Weh tapi buddy ngga mau terlalu drastis jauhnya. Ujung Indonesia semacem ujung dunia gitu ya.
Derawan terlalu banyak destinasi yang “wajib”dikunjungi dan tampaknya rugi kalau cuma diving doang disana. Plus tiketnya mahal dan perjalanan darat-lautnya pun lama. Hitung2 kalau cuma pergi berdua, Rugi.
Akhirnya kami memutuskan untuk tahun ini mau agak “mewah”destinasinya. Antara Wakatobi atau Raja Ampat.
Kenapa ngga Komodo?
Karena . Buddy mau kesana bareng rombongan lain bulan Mei nanti. Banyak duit emang doi.
Singkat cerita akhirnya kami memilih Wakatobi sebagai destinasi terakhir. At least once in a lifetime kami harus ngerasain diving di salah satu lautan dengan biodiversity terbesar di dunia.
Beli tiket sudah dari bulan Desember apa Januari awal ya. Lupa. Tentu saja saya pakai cicilan dan promo traveloka. Buddy enggak, dia kan banyak duit. Hotel aja saya dibayarin. (wakakaka, japri saya kalo mau temenan ama doi).
Awalnya kami cari alternative termurah. Naik pesawat sampai Kendari atau Bau bau, lalu naik kapal selama 10-12 jam ke Tomia. Ohya, bagi yang belum tau, sebutan Wakatobi sendiri itu berasal dari 4 pulau besar yang ada di daerah tersebut. Wangi-wangi/ Wanci, Kaledupa, Tomia dan Binongko .

Spot diving paling banyak ada di sekitaran Tomia, so, kami memutuskan untuk stay disana dan menggunakan DC lokal Tomia.
Karena tujuan utama kami adalah diving, maka efektivitas waktu sangat diperlukan. Sudah pasti 2 hari (1 hari awal dan 1 hari akhir) akan habis di jalan. Kalau kami naik kapal, dengan laut yang tak bisa diprediksi, bisa jadi hari ke-2 kami masih di tengah lautan. Hilang sudah 1 hari dive. Mana Puji nemu berita kapal hilang pula diperairan selepas Bau Bau. Galau lah kami. Yang satu belum kawin, satu lagi banyak cicilan, cemana mau mati muda.
Akhirnya saya menghubungi kontak diving kami di Tomia untuk konsultasi. DC ini very recommended buat yang mau diving di Wakatobi. Tomia Scuba Dive. Pemiliknya, dokter Yudi, biasa kami panggil masdok, sangat friendly dan tau banget spot2 keren underwater. Ya iyalah pasti tau, kalo engga ngapain bikin DC. Kelelep ntar tamunya.
Masdok menyarankan untuk mengambil rute teraman, walaupun sedikit lebih mahal. Beliau juga memberi saya kontak rental car yang bisa antar jemput dari airport, beserta kontak boat yang akan membawa kami ke Tomia dari Wangi- wangi. Bereslah.
Akhirnya setelah memutuskan untuk naik pesawat, mulailah kami hunting tiket. Yang pas dengan keberangkatan boat (yang Cuma sekali sehari ) ke Tomia adalah connecting flightnya Garuda. Yasudahlah, sekali2 mevvah naek Garuda. Untuk pulangnya, kami menyesuaikan jadwal kereta dari Jakarta yang akan membawa saya balik ke tempat saya nguli. Dan yang ada Cuma Wings Air.
Jadi , untuk berangkat naik Garuda, transit Makassar dan Kendari, berangkat dari CGK jam 5 WIB pagi, sampai di Wangi2 jam 1 siang WITA. Boat yang ke Tomia jam 2 siang. Perjalanan airport – jetty sekitar 30 menit. 30 menit sisanya adalah spare waktu untuk nunggu bagasi, yang mana bawaan kami tidak mencerminkan bentuk tubuh . Semacem minion ngangkatin truk, gitu.
Boat dari Wangi2 ke Tomia ditempuh dalam waktu 3 jam, sehingga pada pukul 5 sore waktu setempat kami sudah berlompatan gembira di jetty Tomia.
Untuk pulangnya, kami mengambil pesawat dari Wangi2 jam 6 WITA pagi, yaitu Wings air, yang setelah transit ribet bin drama di Kendari dan Makassar, nyampe juga di Jakarta sekitaran jam 1 WIB siang. Saya langsung ke Gambir untuk mengejar kereta Bangunkarta yang akan berangkat dari ibukota jam 3 sore. 4,5 jam kemudian, setengah 8 malam, saya sudah sampai Pekalongan dan dijemput swami terkeren di dunia (karena selalu ngijinin saya melakukan aktivitas yang saya suka). Happy wife, happy life. Yeah!
- Hari pertama – Kamis 29 Maret 2018
Perjalanan dari Jakarta ke Tomia.
Saya sampai di Bandara sekitar tengah malam, karena hari Rabu sore berangkat dari Pekalongan dengan kereta Argo Muria. Awalnya sempet mau sok budget traveler, beli tiket Jayabaya (ekonomi). Lalu beberapa minggu sebelumnya teman saya naik Jayabaya dan telat beberapa jam. Plus saya mencoba naik Jayabaya ke Surabaya untuk mengira2 kadar kenyamanan diri sendiri dan sekitar dan akhirnya memutuskan , untuk dive trip dengan equipment bag segede dan seberat karung beras, belum lagi carrier 45 l yang jelas2 makan tempat,daripada ngerepotin orang lain dan ribet, saya tukarlah si Jayabaya dengan Argo Muria. Dan, bener. Dari 2 raksasa yang saya bawa, tidak satupun yang muat di bagasi atas. Untung saya masih dapet single seat, jadi barang2 itu saya letakkan di samping dan depan seat. Fyi, total bagasi saya adalah 30 kg. Lolos dan gratis lewat stasiun pekalongan, CGK dan Wangi2 airport. Kena charge di Gambir pas pulangnya. (T___T).
Saya tidur di terminal 3 Soekarno Hatta Airport (CGK) yang keren dan nyaman (maap norak, jarang naik Garuda), ketemu Puji jam 3-an, check-in, sarapan, sempet b***r juga, lalu naik pesawat dan mengudara sekitar jam 5an.
Transit Makassar , dan kami tidak diperbolehkan turun.
Transit Kendari, ganti pesawat. Walaupun mau tetap di pesawat, tidak boleh, harus turun. Kelaperan, dan karena kami (sok) anak kota, maunya ngupi2 cantik. Setelah observasi beberapa kedai kopi, kami memutuskan untuk singgah di kedai yang tampak paling ramah di kantong. Mesen Kopi panas dan Es kopi, beli ciki2an, beng2, UC 1000, daaannn pemirsah, taukah anda, berapa kami harus bayar?
117 rebu (bold, larger font).
Defak.
Lebih mahal dari sarapan kami berdua di bakmi GM dan myKOpi O tadi pagi.
Mending kalo yang ngeladenin mas2 barista cakep. Ini, emak2 tampang judes yang ogah ditanyain berapa harga dagangannya per biji.
Ya sudahlah.
Pesan moral : di airport Kendari, sebelum beli, makan dan minum sesuatu, tanya dulu harganya.

Lanjut perjalanan dengan pesawat baling2 yang alhamdulillah mendarat dengan selamat di Bandara Matahora Wangi wangi. Puji langsung nelepon Bapak rental mobil, yang ternyata beken di seantero pulau sehingga bisa bantu nelponin tukang kapal untuk nunggu kami berdua kalau2 telat datang. Perjalanan darat hanya sekitar 30 menit saja, langsung cari posisi yang enak di kapal. Kami sempat tidur beberapa menit di kapal dan setelah perjalanan 3 jam, akhirnya sampailah di jetty Tomia!

Labore Stay
Kami menginap selama satu hari di Labore Stay, hotel backpacker yang juga recommended, murah meriah tapi sangat layak huni, dengan pemiliknya mas Fahmi, yang ramah dan ringan tangan. Labore stay ini depan laut banget dan dekat dengan jetty, jadi kami jalan kaki saja kesana dengan carrier di punggung. Equipment bag? Pake motorlah. Siapa yang mau tenteng tas seberat 20 kg??
Setelah istirahat dan mandi, saya dan Puji langsung nuris (men-turis, beraksi layaknya turis). Kami berjalan kaki menuju alun2, yang juga sekitar 10 menit berjalan kaki. Alun2nya tidak besar, dan di pinggir laut juga. Kami menunggu sunset disana. Amazing !
One of the best sunset I’ve ever experienced !

Setelah puas bersunset ria, kami makan cemilan lokal di alun2. Pisang goreng nya juara, crunchynya pas dan gada di Jawa yang model begini. Puji sampai bungkus beberapa (yang saya makan juga beberapa. Ha ha ha).
Kami juga mencoba minuman sejenis bandrex yang diberi nama Saraba. Manis dan gurih rasanya.
- Hari kedua – Jumat 30 Maret 2018
Dini hari jam 3 saya bangun.
Kebangun aja gitu.
Trus pas keluar kamar, kondisi gelap gulita. Di Tomia, listrik harus berhemat. Untuk Labore Stay sendiri, dari pagi jam 6 sampai 3 sore, listrik mati.
Saya duduk di teras Labore dan takjub dengan banyaknya bintang di lautan. Duduk di teras Labore berarti duduk di pinggir laut. Debur lembut ombak, jutaan bintang, angin sepoi2….dan saya bersyukur bisa mendapatkan kesempatan merasakan ini semua.
Sampai beberapa ekor nyamuk gendut menyerang.
Bubar deh.
Jam 8 pagi kami dan masdok berangkat untuk 3 dive hari pertama. Ohya, untuk praktisnya, kami mengambil paketan 3d2n nya Tomia Scuba Dive . Plus 3x dive yang tidak termasuk paket. Jadi total 6 dive di Tomia dan 2 malem nginep di akomodasi yang disediakan masdok. Udah include makan.
Kami dive di 3 spot, Mari mabuk, Fan Garden, dan Gunung Waitii. Semuanya amazing dan di dalam air tak henti2nya saya mengucap syukur kepada Allah SWT atas kesempatan ini. Visibility di atas 15 m, airnya bening, coral dan karangnya sehat, ikannya banyak banget dan beraneka rupa . Kami juga sempat bertemu schooling Barracuda, banyak anemone fish, dan nudibranch di spot Mari Mabuk.

Saya, Mbak Puji Buddy yang rajin nabung, dan masdok, Guide terkeren sejagad raya Tomia

Nemo

Lunch di boat sambil ngeliatin Laut bening dan Pulau kelapa berpasir putih di seberang. MasyaAllah!
Di Fan Garden kami bertemu beberapa penyu, satu diantaranya lagi leyehan di ceruk wall . Gendaaatsss dan gemesin . Namanya makhluk darat ya, liat penyu yang instagrammable gitu langsung deh kami heboh kecentilan pepotoan. Jengah liat kelakuan kami, tak berapa lama minggatlah penyu itu.

Lagi enak2 bobok digangguin. Sebel.
Di spot ketiga saya berhasil motret makhluk laut kesukaan saya, Nudibranch! Alias siput laut, gendats juga doi. Gilak, hidup underwater ini ga mikir utang dan segala macem yak, pantes makhluknya gendut2.

Nudi Sapi yang saking gendutnya mau naek atas coral aja ngga nyampe2. Olahraga broh!
Selesai diving, kami masih punya waktu untuk menikmati sunset di Puncak Khayangan, salah satu puncak tertinggi di Tomia. Perjalanan dari hotel sekitar 1 jam naik motor rentalan. Ohya, hari kedua dan ketiga ini kami pindah ke penginapan Abi Jaya, paketannya masdok. Abah sama ibu nya ramah banget, masakannya enak dan kamarnya pake AC.
Trus saya masuk angin.
Ndeso.

Puncak Khayangan. Ga dapet sunsetnya, ketutup awan. Model adalah mbak backpacker tetangga sebelah kamar.
- Hari ketiga – Sabtu 31 Maret 2018
Dive hari kedua. Agak nggak fit gara2 kena angin pas ke Puncak Khayangan dan sedikit suudzon sama AC kamar yang dinginnya ga wajar itu. Kami dive di 3 spot, Ali Reefs, Roma dan Waha Bay.
Masih amazing. Cuman di spot Ali Reef, arusnya lumayan. Karena berarus, banyak ikan berkumpul di situ. Ada schooling Barracuda dan Giant Trevally yang kata kami, IKAN TONGKOL. Keren2 di Indonesia namanya jadi tongkol yak.

Masdok dan Ikan Tongkol
Di spot kedua, Roma, kami bertemu Pygmy Seahorse, kuda laut ukuran upil yang warnanya nyaru dengan tempat mereka menempelkan diri. Mohon maaf kamera saya hanyalah action cam, tak mampu mengambil gambar Macro, tapi saya lampirkan foto dari masdok, yang mana hak cipta karsanya ada pada beliau. Yudi Tomia Scuba Dive .

Ini poto yang saya dapatkan maksimal dengan Action cam. Can you spot the Pygmy?

Ini Picture taken by masdok. Copyright milik beliau ya, Tomia Scuba Dive. Jadi beginilah penampakan seahorse segede upil. Kameranya canggih!
Di spot ketiga, mask saya bermasalah. Air terus menerus masuk. Saya terus menerus mask cleaning. Pas dikencengin, sakit. Pas dilonggarin air masuk. Pas disuruh pose sama masdok, ya tetep pose sih, cuman hasilnya ga maksimal. Padahal harapannya bisa kek Nadine, gitu.

Sesaat setelah descent, langsung disambut karpet hijau. Saya masih mask cleaning. Mbak Puji sudah pose. Pic taken by masdok dengan kamera kerennya.

Nadine Kw Pasar Atom ngeliatin ikan teri. Pic yang keren2 gini sudah pasti taken by masdok.
Spot ketiga ini dasarnya pasir putih dan banyak rumput lautnya. Bukan Tae Kae Noi ya, ini rumput laut beneran yang masih hidup. Di sini ada garden eel, ikan teri (kata kami), dan banyak sekali anemone fish. Ini spot kesukaan Puji dari semuanya.
Sepulang diving, kami bermotoran lagi sekitar 2 jam ke Pantai Huntete, yang kata penduduk lokal adalah Hidden Paradise. Pantainya cantik dan sepi, berasa milik berdua saya dan Puji. Misal kami saling tikam di sini juga kayanya gada yang tahu.

Beneran Pantai pribadi ni

Mbak model menatap lautan. Nunggu dugong jantan lewat.
- Hari keempat – Minggu 1 April 2018
Pagi2 sudah drama.
Jadi karena pesawat balik ke Jakarta berangkat pada pukul 6 pagi, maka sehari sebelumnya kami harus sudah berada di Wangi2. Boat dari Tomia berangkat jam 6 pagi, kami sudah siap duduk manis dalam kapal, bersama rombongan emak2 dan beberapa pemuda pemudi (Indonesia). Saya sudah sekitar sejam setengah tidur, ketika drama dimulai. Ombak yang lumayan tinggi, membuat panik para emak ini. Mereka berteriak2 heboh, dari melafadzkan nama Allah, bertakbir, minta pelampung dan yang paling epic, minta kapalnya muter dan pindah haluan ke jetty di sisi lain Wangi2.
Dan diturutin sama nahkodanya.
Trus, kandas.
Trus balik lagi ke jalur semula.
Sempurnalah dramanya.

Kandas diketawain Patrick. Can you spot him???
Yang harusnya nyampe Wangi2 sekitar jam 9, akhirnya jam 12 siang kami sandar. Karena sudah ada janji dengan Mas Ayub , Instruktur Dive yang bekerja di Taman Nasional Wakatobi, untuk penyelaman terakhir , maka kami langsung berpacu menuju perkampungan suku bajo, dimana boat kami akan berangkat menuju Shark Point.

Backdrop ini ada di Wasabi Nua, karena sebenernya lokasi Shark Point ini pas depan Hotel
Ombak memang sedang tinggi2nya, di surface cukup mabok digoyang ombak, betis saya sempat terbentur kapal saking dahsyatnya ombak. Berlawanan dengan itu, kondisi underwaternya amazingly sangat tenang tanpa arus. Kami sempat bertemu beberapa ekor ular laut, dan tentu saja, 4 ekor White Tip shark di kedalaman sekitar 35 m.
Daaann lagi2 mask saya bermasalah. Saya kencengin dan sibuk mask cleaning, sampai tidak sadar rasa sakit yang menyengat mata dan kepala saya. Ternyata karena terlalu kencang, mata saya bengkak. Macam KDRT lah ini. Habis dibuli sama buddy deh.

Habis digebuk pake Ikan Tongkol
Di hari terakhir ini, kami menginap di Hotel Wasabi Nua. Very2 highly recommended hotel kalau memang berniat stay di Wangi2. Mereka punya restoran yang berada di karang yang lokasinya beberapa meter di laut. Dan dihubungkan dengan jembatan kayu. Sunsetnya juara dan Kerapu Grilled nya gada yang ngalahin dari semua ikan bakar yang pernah saya coba!

Kamar di Wasabi Nua

Salah satu sudut Wasabi Nua

Restoran Wasabi Nua di saat Sunset
- Hari kelima – Senin 2 April 2018
Pulang!
Perjalanan pulang dengan Wings Air ini alhamdulillah on time dan tidak ada drama semacem tragedi kopi di Kendari kapan hari, hanya merasa ribet dan aneh saja karena waktu transit Makassar kami disuruh turun dari pesawat, hanya untuk konfirmasi transit dan langsung naik lagi. Di pesawat dan seat yang sama.
Kalau anda ingin naik Garuda, penerbangan dari Wangi2 hanya ada di siang hari. Saya tidak bisa mengambil itu dikarenakan harus mengejar kereta ke Pekalongan.
Di Gambir, tas saya kena charge. Per kilonya kena 10 ribu. Ya sudahlah, setelah ngotot beberapa saat akhirnya saya ngalah. Ketimbang disita yekan?
Sekian cerita dari Dive Trip saya dan buddy ke Wakatobi, apabila ada yang membutuhkan nomer kontak Beliau2 di atas, silakan komen di postingan saya ini.
Yang ingin tahu detail Budget , juga silakan komen, akan saya share, termasuk bagian pait2nya. Ha ha ha.

Eh ada Barry. Bawa satu ah buat oleh2 Swami. Pic by masdok.

















Recent Comments