SEPERTI kemarin, tadi jamaah sholat isya dan tarawih di masjid luber. Entah menurut inisiatif siapa, kali ini jamaah anak-anak dipisahkan. Anak-anak tak menolak ditempatkan di luar masjid dengan alas sebuah karpet yang digelar memanjang dari barat ke timur. Karpet itu terletak sekitar 2 meter di luar serambi.
Tempat itu sehari-hari dipakai untuk parkir kendaraan jamaah. Tapi sehubungan dengan kegiatan Ramadhan, tempat parkir dipindah sementara ke lapangan basket. Lokasinya persis di utara masjid. Beberapa meter dari tempat yang diduduki anak-anak itu sekarang.
Masih seperti kemarin, saya pun hanya mendapat tempat sholat di serambi. Persis di muka pintu masuk ke ruang utama masjid. Di situ saya melihat dan mendengar jelas kegaduhan anak-anak. Sebelum sholat sampai saat sholat berlangsung pun mereka masih saja ramai. Seperti ada sesuatu yang tampaknya jauh lebih penting buat mereka daripada urusan sholat. Tapi begitulah anak-anak. Saya memaklumi. Saya dulu juga seperti mereka.
Tapi kenyataan itu tak semua orang bisa menerima. Seorang bapak yang saat sholat persis ada di belakang saya ternyata geram melihat anak-anak yang tak mau diam. Ketika jeda sesaat setelah empat rakaat tarawih berlangsung, bapak itu berteriak-teriak. Sambil menunjuk-nunjuk ke arah anak-anak itu mulutnya merutuk. “Hei jangan ramai, kalau ramai pulang sana. Ini masjid, tempat sholat!” Mendengar suara keras itu, semua jamaah menoleh ke arah bapak tadi. Termasuk jamaah di ruang utama. Anak-anak diam seketika.
Sholat berlanjut. Keramaian anak-anak pun kembali dimulai. Namanya juga anak-anak. Wajar, pengetahuan mereka tentang etika beribadah belum sesempurna para orang tua.
Tapi, sungguh pun demikian kehadiran mereka di masjid merupakan hal yang pantas dihargai. Apapun alasannya, menghardik anak-anak di masjid bukan sikap yang bijak dan terpuji. Apalagi dilakukan oleh orang yang mengaku dirinya tua.
Saya punya cerita berkenaan dengan hal itu. Saya telah mencatatnya beberapa bulan lalu. Anda bisa membacanya sekarang. Dan Anda akan segera tahu mengapa saya tak setuju dengan sikap keras orang tua kepada anak-anak apalagi itu terjadi di masjid. Sebuah balai suci tempat akhlak mulia seharusnya dibentuk dan ditata sedemikian rupa sehingga menjadi mulia.
“Jangan menyebut masjid sebagai rumah Tuhan jika di sana hanya diselenggarakan sembahyang dan mengaji. Masjid bukan ruangan steril yang dibangun sebagai tempat pertobatan para orang tua yang menyadari saat kematiannya semakin dekat.
Syahdan, masjid juga diperuntukkan bagi anak-anak sebagai ruang habituasi pendidikan agama. Jelas anak-anak bukan orang tua. Karena itu berharap anak-anak tertib seperti pak ustadz sungguh berlebihan. Biarkan anak-anak akrab dengan masjid. Maafkan anak-anak jika kehadiran mereka sedikit mengurangi kekhidmatan suasana sholat. Jangan menghardik mereka karena menciptakan kegaduhan di sana. Mereka butuh waktu untuk mengetahui apa yang boleh dan tidak dalam beragama.
Djoyoredjo kecil rajin ke masjid. Tapi kebiasaan baiknya itu menjelma amarah dan dendam sampai mati. Suatu hari, usai shalat maghrib ia dan beberapa kawannya pijit-pijitan di ruang utama masjid. Mereka asyik pijit-pijitan sambil bercanda. Pak kyai, “penguasa masjid itu”, tidak berkenan dengan aktivitas Djoyoredjo dan teman-temannya. Rupanya pak Kyai tak sabar. Ia menghardik anak-anak itu. “Ini masjid bukan rumahmu, kalau mau pijit-pijitan pulang sana!”
Djoyoredjo tak bisa terima dengan ucapan pak kyai. Ia dan kawan-kawannya pergi meninggalkan masjid. Sejak saat itu Djoyo bersumpah tidak akan menginjak serambi masjid lagi.
Dan benar, Djoyoredjo tak pernah hadir lagi di rumah Tuhan itu bahkan untuk sholat hari raya sekalipun. Ketika ia beranjak dewasa Djoyoredjo memutuskan “pindah agama”. Ia mengikuti sebuah aliran kepercayaan PERGURUAN ILMU SEDJATI. Pusatnya di Caruban, Madiun.
Sebelum kematiannya, Djoyoredjo yang sudah renta itu menceritakan pengalaman getirnya kepada saya. Ya, Djoyoredjo adalah kakek saya yang meninggal enam tahun lalu.”
Semoga ini bisa menjadi pelajaran. Cintailah anak-anak tanpa syarat!
Ahad, 23-08-2009