Skip navigation

HIDUP berjalan tanpa bisa kita cegah. Di dalamnya barangkali satu-dua kali kita pernah merasa ditipu oleh kenyataan. Siapa pun bisa ditipu dan menipu. Saya pernah merasakannya dan saya yakin saudara pun demikian. Tapi, sudahlah. Hidup memang tak selalu bisa bersih dari keserbamubaziran. Namun, percayalah dan ikuti anjuran sepotong dalil kudus, “Hari ini harus lebih baik dari kemarin!”

Jumat, 28-08-2009

MENULIS status. Barangkali inilah cara paling elegan untuk membungkus sejumput rasa sesal dan menelantarkannya di kubangan masa lalu bernama kenangan. Saya yakin kesibukan kerja akan menjadikannya puak-puak purba yang tertindih dengan sendirinya oleh lupa. Ingin saya lalui jalan panjang ke depan tanpa menolehnya lagi. Saya berangkat…

Jumat, 28-08-2009

BARANGKALI sudah takdir kota jadi lumbung asap yang tengik. Ada pepohonan tapi tak kuasa meruapkan bau embun yang bersarang di ujung-ujung daunnya saat pagi mulai mengintip. Tapi keadaan ini agaknya yang disuka jamak orang termasuk saya. Hilir mudik manusia dengan tetek bengek urusan mereka ikut menyumbang kota dengan bau sampah dan gas karbonmonoksida.

Jumat, 28-08-2009

MENGUSIR rasa kangen tak segampang menyuruh pergi ayam yang beraksi di teras rumah. Kangen tiba-tiba saja datang. Ujug-ujug menyergap lalu membuat perasaan tak keruan. Rasanya berat tanpa kemungkinan ada obat atau penawar yang dijual di apotek pinggir jalan. Repot. Tapi, agaknya juga kita harus berterima kasih pada kangen. Setidaknya, kehadirannya menandakan bahwa kita masih punya ingatan dan perasaan.

Jumat, 28-08-2009

TERNYATA bukan cuma perempuan Islam yang mengenakan penutup rambut atau jilbab. Orang-orang Yahudi modestinik juga melakukan itu. Saya baru tahu setelah membaca buku karya Miranda Risang Ayu, Purnama Hati.

Miranda mengaku awalnya tidak tahu siapa Yahudi modestinik itu hingga penerbit Mizan mengiriminya sebuah buku karya Wandy Shalit. Konsep modestinik dalam buku Shalit adalah konsep yang membahas sebuah etika yang percaya bahwa perempuan adalah eksistensi feminim yang unik; subyektivitasnya justru semakin mengemuka, baik bagi dirinya maupun lingkungan sosialnya, justru karena ia tersembunyi. Menyembunyikan diri, bagi perempuan, adalah proses meneguhkan eksistensinya yang khusus, dicari, dan tentu saja bagi perempuan itu sendiri: yang berbeda dan terpisah dari semua hal yang jelas dihadapannya.

Penyembunyian diri, menurut catatan Miranda, adalah bahasa sosial yang untuk menyatakan bahwa, “Saya adalah perempuan; saya adalah eksistensi yang unik karena memiliki sesuatu yang amat pribadi, rahasia, dan bermakna. Ketertutupan membuat saya berharga tinggi, aman untuk dimiliki, dan dapat mengamankan diri saya sendiri.”

Etika ini, ketika diterjemahkan dalam hubungan dengan lawan jenis, menjadi etika yang santun dan paralel dengan nilai-nilai Islam. Sekalipun sudah bertunangan, misalnya, etika modestinik melarang sepasang lelaki dan perempuan saling menyentuh.

Saya setuju dan menyeru: Jangan sudi menjadi perempuan pembangkit gairah lelaki sebelum saudara tercatat secara resmi dan meyakinkan sebagai isteri lelaki itu.

Selasa, 25-08-2009

MEREMEHKAN tapi tak sadar? Mungkin saja itu terjadi. Dan sungguh saya mengalaminya. Kesombongan itu begitu samar sehingga saya sendiri baru menyadarinya kemarin petang.

Saya meremehkan seorang teman yang saya kenal baik. Selama ini ada kebiasaannya yang saya anggap keliru. Tapi entah saya biarkan saja. Ingin menegur tapi rasanya berat. Dan itu berlangsung hampir sepanjang saya mengenal dia. Enam bulan lamanya.

Petang kemarin, persisnya saat saya duduk di majelis ilmu di masjid dekat rumah, saya baru menyadari kesalahan itu. Apa yang menjadi kebiasaannya, yang selama ini saya anggap keliru, ternyata adalah sebuah kebenaran.

Segera saya beristigfar saat itu juga. Batin saya menangis karena menyesal. Selama ini saya telah sombong. Saya meremehkan orang lain tanpa saya sadari. Semoga Allah mengampuni kesalahan saya.

Kepada teman baik itu, saya minta maaf. Dan dia bingung lantaran apa saya bersikap demikian. Dia menganggap saya aneh. Karena saya tak jelas. Tapi memang saya sengaja merahasiakannya. Biar hanya Allah dan saya yang tahu.

Saya bersyukur kepada Allah atas petunjuk-Nya. Saya pun tak lupa berterimakasih kepada kawan yang selama ini bersedia menjadi teman bicara. Bicara apa saja. Tentang hidup dan kehidupan. Tentang manisnya cinta dan duka lara menyeranta.

Kehadirannya seperti memberi kaca untuk menemukan kelemahan diri saya di bulan samudera berkah, Ramadhan.

Senin, 24-08-2009

PADA dua hari permulaan puasa ini saya bisa merasakan gairah beribadah jamaah yang membuncah. Ada hawa bahagia menyelimuti batin saya. Saya saksikan para tetangga yang selama ini jarang terlihat hadir di masjid, alhamdulillah pada awal Ramadhan ini mereka datang dengan semangat yang hanya Allah yang tahu kadarnya. Kebahagiaan saya timbul karena kami bisa saling berucap salam seraya bersalaman dengan senyum yang beradu.

Dalam liputan kebahagiaan seperti itu saya berdoa, mudah-mudahan suasana indah itu dapat berlangsung lama. Saya ingin terus melihat pemandangan semarak di masjid. Saya ingin merasakan siraman cahaya yang memancar dari dahi-dahi para peshalat tarawih. Dari doa-doa yang mereka panjatkan, saya ingin merasakan hawa kesejukannya mengalir teduh.

Semoga memang bukan hanya di bulan Ramadhan pemandangan itu ada. Bulan suci ini hanya sebuah training yang amat singkat. Setelah Ramadhan lewat, medan perang terbentang. Tantangan untuk membuktikan bahwa kita telah memiliki bekal selama berpuasa akan nyata.

Sanggupkah kita membuktikan? Kita harus punya gairah sebesar yang kita punya selama berpuasa. Jika selama bulan Ramadhan masjid penuh sesak, selepas itu keadaan mestinya tak berubah. Kesibukan kita sama antara bulan puasa dan bulan-bulan lainnya. Maka, kalau selama Ramadhan kita bisa, kenapa pada bulan-bulan lainnya tidak? Buktikan!

Ahad, 23-08-2009

SEPERTI kemarin, tadi jamaah sholat isya dan tarawih di masjid luber. Entah menurut inisiatif siapa, kali ini jamaah anak-anak dipisahkan. Anak-anak tak menolak ditempatkan di luar masjid dengan alas sebuah karpet yang digelar memanjang dari barat ke timur. Karpet itu terletak sekitar 2 meter di luar serambi.

Tempat itu sehari-hari dipakai untuk parkir kendaraan jamaah. Tapi sehubungan dengan kegiatan Ramadhan, tempat parkir dipindah sementara ke lapangan basket. Lokasinya persis di utara masjid. Beberapa meter dari tempat yang diduduki anak-anak itu sekarang.

Masih seperti kemarin, saya pun hanya mendapat tempat sholat di serambi. Persis di muka pintu masuk ke ruang utama masjid. Di situ saya melihat dan mendengar jelas kegaduhan anak-anak. Sebelum sholat sampai saat sholat berlangsung pun mereka masih saja ramai. Seperti ada sesuatu yang tampaknya jauh lebih penting buat mereka daripada urusan sholat. Tapi begitulah anak-anak. Saya memaklumi. Saya dulu juga seperti mereka.

Tapi kenyataan itu tak semua orang bisa menerima. Seorang bapak yang saat sholat persis ada di belakang saya ternyata geram melihat anak-anak yang tak mau diam. Ketika jeda sesaat setelah empat rakaat tarawih berlangsung, bapak itu berteriak-teriak. Sambil menunjuk-nunjuk ke arah anak-anak itu mulutnya merutuk. “Hei jangan ramai, kalau ramai pulang sana. Ini masjid, tempat sholat!” Mendengar suara keras itu, semua jamaah menoleh ke arah bapak tadi. Termasuk jamaah di ruang utama. Anak-anak diam seketika.

Sholat berlanjut. Keramaian anak-anak pun kembali dimulai. Namanya juga anak-anak. Wajar, pengetahuan mereka tentang etika beribadah belum sesempurna para orang tua.

Tapi, sungguh pun demikian kehadiran mereka di masjid merupakan hal yang pantas dihargai. Apapun alasannya, menghardik anak-anak di masjid bukan sikap yang bijak dan terpuji. Apalagi dilakukan oleh orang yang mengaku dirinya tua.

Saya punya cerita berkenaan dengan hal itu. Saya telah mencatatnya beberapa bulan lalu. Anda bisa membacanya sekarang. Dan Anda akan segera tahu mengapa saya tak setuju dengan sikap keras orang tua kepada anak-anak apalagi itu terjadi di masjid. Sebuah balai suci tempat akhlak mulia seharusnya dibentuk dan ditata sedemikian rupa sehingga menjadi mulia.

“Jangan menyebut masjid sebagai rumah Tuhan jika di sana hanya diselenggarakan sembahyang dan mengaji. Masjid bukan ruangan steril yang dibangun sebagai tempat pertobatan para orang tua yang menyadari saat kematiannya semakin dekat.

Syahdan, masjid juga diperuntukkan bagi anak-anak sebagai ruang habituasi pendidikan agama. Jelas anak-anak bukan orang tua. Karena itu berharap anak-anak tertib seperti pak ustadz sungguh berlebihan. Biarkan anak-anak akrab dengan masjid. Maafkan anak-anak jika kehadiran mereka sedikit mengurangi kekhidmatan suasana sholat. Jangan menghardik mereka karena menciptakan kegaduhan di sana. Mereka butuh waktu untuk mengetahui apa yang boleh dan tidak dalam beragama.

Djoyoredjo kecil rajin ke masjid. Tapi kebiasaan baiknya itu menjelma amarah dan dendam sampai mati. Suatu hari, usai shalat maghrib ia dan beberapa kawannya pijit-pijitan di ruang utama masjid. Mereka asyik pijit-pijitan sambil bercanda. Pak kyai, “penguasa masjid itu”, tidak berkenan dengan aktivitas Djoyoredjo dan teman-temannya. Rupanya pak Kyai tak sabar. Ia menghardik anak-anak itu. “Ini masjid bukan rumahmu, kalau mau pijit-pijitan pulang sana!”

Djoyoredjo tak bisa terima dengan ucapan pak kyai. Ia dan kawan-kawannya pergi meninggalkan masjid. Sejak saat itu Djoyo bersumpah tidak akan menginjak serambi masjid lagi.

Dan benar, Djoyoredjo tak pernah hadir lagi di rumah Tuhan itu bahkan untuk sholat hari raya sekalipun. Ketika ia beranjak dewasa Djoyoredjo memutuskan “pindah agama”. Ia mengikuti sebuah aliran kepercayaan PERGURUAN ILMU SEDJATI. Pusatnya di Caruban, Madiun.

Sebelum kematiannya, Djoyoredjo yang sudah renta itu menceritakan pengalaman getirnya kepada saya. Ya, Djoyoredjo adalah kakek saya yang meninggal enam tahun lalu.”

Semoga ini bisa menjadi pelajaran. Cintailah anak-anak tanpa syarat!

Ahad, 23-08-2009

PUASA bukan hanya untuk menghikmati saat berbuka yang menawarkan seribu godaan di belakangnya, tetapi yang utama justru untuk mensyukuri bahwa kehadiran-Nya adalah kenikmatan yang meniadakan segala kenikmatan yang pernah ada.

Lalu kenapa persiapan menjelang berbuka puasa tampaknya justru membuat para ibu lebih repot dari biasanya? Pengeluaran ibu-ibu untuk belanja meningkat selain karena harga-harga naik, juga karena memang belanjaan bertambah ragamnya.

Lima belas hari dalam sebulan saya berpuasa. Saat berbuka, saya makan makanan yang tersedia. Yang tersedia adalah makanan yang dimakan orang se-rumah. Tanpa suguhan yang aneh-aneh seperti kurma, kolak, es buah dan sebagainya.

Ketika Ramadhan seperti sekarang, melihat makanan macam-macam serupa itu saya justru merasakan keanehan. Tanpa sajian tambahan pun tak apa-apa sebetulnya. Tapi sering kita mengada-ada. Bahkan tampaknya berlebihan. Mungkin juga terlampau memaksakan.

Sederhanalah. Bukankah puasa artinya menahan. Menahan diri untuk tidak berbuat sesuatu yang tak perlu. Dan mengalihkan perhatian kepada hal-hal yang jauh lebih esensial.

Sabtu, 22-08-2009

SUBUH 1 Ramadhan sungguh bukan subuh biasa. Tidak biasa karena memang pemandangan di masjid menunjukkan hal berbeda. Ruang utama masjid penuh. Ada jamaah wanita yang bahkan harus rela sholat di serambi. Ramadhan memberikan tarikan yang sungguh dahsyat. Semangat beribadah jamaah tampak menyala-nyala. Semoga semangat itu tetap terang pasca Ramadhan seterang harapan datangnya lebaran.

Sabtu, 22-08-2009

Design a site like this with WordPress.com
Get started