Syair

Berikut adalah beberapa syair dari Al-Imam Asy-Syafi’I yang saya salin dari situs http://www.firanda.com. http://firanda.com/index.php/artikel/sirah/505-biografi-al-imam-asy-syafi-i-rahimahullah. Selamat menikmati keindahan bahasa dan kedalaman maknanya. Semoga bermanfaat.
Diantara sya’ir-sya’ir beliau ;
أمَتُّ مَطَامِعي فأرحْتُ نَفْسي ** فإنَّ النَّفسَ ما طَمعَتْ تهونُ
Aku bunuh sifat tamak yang ada pada diriku, maka akupun menenangkan diriku
Karena jiwa kapan ia tamak maka rendahlah jiwa tersebut

وَأَحْيَيْتُ القُنُوع وَكَانَ مَيْتاً ** ففي إحيائهِ عرضٌ مصونُ
Dan aku hidupkan sifat qona’ah pada diriku yang tadinya telah mati….
Maka dengan mengidupkannya harga dirikupun terjaga…

إذا طمعٌ يحلُ بقلبِ عبدٍ ** عَلَتْهُ مَهَانَةٌ وَعَلاَهُ هُونُ
Jika sifat tamak telah menetap di hati seorang hamba….maka ia akan didominasi oleh kehinaan dan dikuasai kerendahan

Beliau berkata :
نَعِيبُ زمانَنا والعيبُ فِيْنا *** وَما لِزَمانِنا عَيْبٌ سِوانا
“Kita mencela zaman kita, padahal celaan itu ada pada diri kita sendiri…
Dan zaman kita tidaklah memiliki aib/celaan kecuali kita sendiri”

Beliau berkata :
لَمَّا عَفَوْتُ وَلَمْ أحْقِدْ عَلَى أحَدٍ ** أَرَحْتُ نَفْسِي مِنْ هَمَّ الْعَدَاوَاتِ
Tatkala aku memaafkan maka akupun tidak membenci seorangpun…
Akupun merilekskan diriku dari kesedihan dan kegelisahan (yang timbul akibat) permusuhan

إنِّي أُحَيِّي عَدُوِّي عنْدَ رُؤْيَتِهِ ** لِأَدْفَعَ الشَّرَّ عَنِّي بِالتَّحِيَّاتِ
Aku memberi salam kepada musuhku tatkala bertemu dengannya…untuk menolak keburukan dariku dengan memberi salam

وأُظْهِرُ الْبِشْرَ لِلإِنْسَانِ أُبْغِضهُ ** كَمَا إنْ قدْ حَشَى قَلْبي مَحَبَّاتِ
Aku menampakkan senyum kepada orang yang aku benci… sebagaimana jika hatiku telah dipenuhi dengan kecintaan

النَّاسُ داءٌ وَدَاءُ النَّاسِ قُرْبُهُمُ ** وَفِي اعْتِزَالِهِمُ قَطْعُ الْمَوَدَّاتِ
Orang-orang adalah penyakit, dan obat mereka adalah dengan mendekati mereka… dan sikap menjauhi mereka adalah memutuskan tali cinta kasih

Beliau berkata :
بقَدْرِ الكدِّ تُكتَسَبُ المَعَــالي ….ومَنْ طَلبَ العُلا سَهِـرَ اللّيالي
Ketinggian diraih berdasarkan ukuran kerja keras…
Barang siapa yang ingin meraih puncak maka dia akan begadang

ومَنْ رامَ العُلى مِن ْغَيرِ كَـدٍّ …..أضَاعَ العُمرَ في طَـلَبِ المُحَالِ
Barang siapa yang mengharapkan ketinggian/kemuliaan tanpa rasa letih…
Maka sesungguhnya ia hanya menghabiskan usianya untuk meraih sesuatu yang mustahil…

تَرُومُ العِزَّ ثم تَنامُ لَيـلاً …..يَغُوصُ البَحْرَ مَن طَلَبَ اللآلي
Engkau mengharapkan kejayaan lantas di malam hari hanya tidur aja??
Orang yang yang mencari mutiara harus menyelam di lautan…

Beliau berkata :
إِذَا أَصْبَحْتُ عِنْدِي قُوْتُ يَوْمٍ … فَخَلِّ الْهَمَّ عَنِّي يَا سَعِيْدُ
Jika di pagi hari dan aku telah memiliki makanan untuk hari ini…
Maka hilangkanlah kegelisahan dariku wahai yang berbahagia

وَلاَ هُتَخْطُرْ مُوْمُ غَدٍ بِبَالِي … فَإِنَّ غَدًا لَهُ رِزْقٌ جَدِيْدُ
Dan tidaklah keresahan esok hari terbetik di benakku….
Karena sesungguhnya esok hari ada rizki baru yang lain

أُسَلِّمُ إِنْ أَرَادَ اللهُ أَمْراً … فَأَتْرُكُ مَا أُرِيْدُ لِمَا يُرِيْدُ
Aku pasrah jika Allah menghendaki suatu perkara…
Maka aku biarkan kehendakku menuju kehendakNya

Purworejo
Selasa, 17 Desember 2013M / 15 Syafar 1435H

Belajar pada rumah sakit

17052013Gambar di atas adalah satu di antara sekian poliklinik yang ada di RSUD Purworejo. Di depannya berjajar bangku-bangku tunggu pasien. Ratusan orang tiap harinya, berapa kalo seminggu, sebulan, setahun? Anda bisa membacanya di statistik rumah sakit. Betapa banyak orang yang sakit dan menginginkan kesehatan atas dirinya. Lalu kalo sudah sehat? Paham nikmatnya sehat setelah merasakan sakit. Jika itu yang saudara rasakan, kebanyakan orang seperti itu.

Sengaja saya tidak mengambil gambar para pasien yang mengantri di situ, khawatir fokus pembaca jadi lain. Bukan lihat papan poliklinik, malah asyik berkomentar rupa-rupa manusia. Disamping memang banyak di antara pasien yang mengundang komentar. Kurang lebih 80 persennya adalah perempuan. Dan jika saudara adalah laki-laki, mungkin komen ini yang akan keluar: norak kali ni bocah, ga malu kali ya.

Di depan saya puluhan orang mengantri, atau sekedar mengantar, seperti saya Jumat ini. Mengantar simbah kakung. Sebelumnya, sekitar sebulan yang lalu saya juga ke rumah sakit ini, tapi bukan di poli dalam, melainkan poli bedah. Ada sedikit masalah dengan kelingking tangan kanan, orang bilang mata ikan. Ternyata, banyak orang yang mempunyai permasalahan sama dengan saya meski tak serupa. Kalo boleh dibandingkan, mata ikan di kelingking saya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bapak-bapak yang mempunyai tumor besar di lehernya. Itu sudah satu motivasi bagi saya: kamu tidak sendirian, kamu harus tetap bersyukur.

Ada dua poin penting yang bisa saya ringkas dari keberadaan saya di rumah sakit ini:

1. Belajar bersabar.
Lebih khusus lagi, sabar mengantri. Ini satu episode yang harus kita lalui ketika bersangkutan dengan fasilitas umum. Sebab kita bukan orang prioritas. Kecuali jika saudara punya relasi dengan petugas jaga, mungkin bisa memotong panjangnya antrian. Tentu ini tidaklah etis. Mau dapat awal ya berangkat awal. Jika kita pemegang kartu askes atau jamkesmas, maka kesabaran ditambah dengan antrian di loket askes/jamkesmas. Itu berarti kita harus bersedia berangkat lebih awal lagi. Sama seperti saya waktu itu, karena nomor antrian belakang, waktu sudah masuk dhuhur, saya tidak sabar, dan berfikir ada istirahat 1 jam, maka saya ke masjid Agung. E e, balik-balik dah bubar, ruangan kosong. Dan saya tidak jadi berobat. Banyaknya waktu yang telah saya habiskan seolah sia-sia. Jadi, kalo dihitung-hitung, waktu yang dibutuhkan dari daftar sampai dengan pengambilan obat kurang lebih 4,5 jam. Ditambah satu jam lagi pulang pergi ke rumah. Pokoknya, siapkan setengah hari penuh untuk urusan rumah sakit, atau lebih banyak dari itu. Saudara mau yang ringkas, tidak sabar? Sebaiknya ke dokter praktek saja.

2. Melembutkan hati.
Jika selama ini hati terasa keras membatu, susah menerima nasihat, datanglah kemari. Pemandangan yang ada di sini lebih banyak memberi wejangan daripada selusin buku yang ada di rumah. Apalagi bagi yang minat bacanya kurang. Lihatlah orang yang melintas di lorong-lorong itu. Sebagiannya naik kursi roda, bahkan dipan roda. Coba berjalan lagi, mungkin kita akan melihat orang yang sakit mata, sakit telinga, sakit gigi, dan seterusnya. Berbagai macam penyakit ada. Jika kita melihat orang sakit kaki, seakan hati ini berjanji, Alhamdulillah kaki saya sehat, akan ku gunakan sesuai perintahMu, ku jauhkan dari murkaMu. Jika kita melihat orang sakit mata, hati berkata, tak kan sekali pun mata ini ku arahkan pada pandangan maksiat. Tak kan aku lihat itu tivi-tivi yang mengumbar aurot. Jika kita lihat orang sakit telinga, maka hati seolah bersumpah, tak kan ku dengarkan itu lagu mantra-mantra setan, ghibah-ghibah pemakan bangkai saudara. Begitu seterusnya. Banyak janji-janji yang kita ikrarkan, setidaknya dalam hati. Dan kita berharap itu bukan janji palsu, yang begitu keluar rumah sakit kumat lagi penyakit mata liar, lisan, dan kuping tukang ghibah dan umpat. Sering-seringlah singgah si sini saudara. Atau jika mau lebih lembut lagi, kunjungi tempat pemutus kenikmatan dunia: KUBURAN.

Malam ahadan di Serut Semawung, 18 05 2013

Kartu Catetan..

Banyak pembahasan mengenai pentingnya menulis. Jika kita searching di google, maka dengan mudah kita temukan tulisan-tulisan yang memuat dunia tulis-menulis, mulai dari tujuan, teknik, sampai dengan cara menjual tulisan. Karenanya, banyak forum dan organisasi yang didirikan khusus untuk menampung orang-orang yang punya talent menulis. Dalam tulisan singkat ini saya ingin berbagi tips simple untuk membuat tulisan atau catatan. Tidaklah tulisan itu untuk konsumsi orang lain, minimal untuk diri sendiri agar hidup lebih tertata. Betapa sering kita dengar seseorang ingin melakukan atau tidak ingin melakukan sesuatu tetapi gagal, salah satunya karena tiadanya catatan.

1. write what you want to do.
Ini berkaitan dengan jadwal kegiatan yang akan kita lakukan. Sebuah rencana perlu dibreakdown ke dalam sub rencana. Tetapkan waktu dan patuhi. Seringkali kita menganggap remeh sebuah catatan dengan hanya mengandalkan ingatan. Kita menyangka bahwa daya ingat kita kuat. Ternyata, ingatan banyak berdusta, sering hilang ketika dibutuhkan. Akibatnya, kita mudah beralih ke kegiatan lain di luar rencana. Hal ini jelas akan mengaburkan tujuan awal. Jika kita telah merencanakan sesuatu, maka catatlah. Kantongi catatan dalam saku, sehingga dengan mudah kita dapat mengambilnya jika terlupa. Demikian halnya dengan hal-hal yang ingin kita hindari, catat dan patuhi.

2. write what you have done.
Ini kebalikan dari nomor 1. Jika kegiatan telah selesai, jangan ragu untuk menuliskan hasilnya. Dalam jangka pendek, dengan atau tanpa catatan, kita dapat mengevaluasi. Namun, catatan tentu lebih unggul dalam jangka panjang. Kenapa? Dengan catatan kita dapat mengambil kegiatan tanggal berapa pun yang kita mau, sementara ingatan, emang bisa? Catatan merupakan bahan instropeksi sebelum tidur, dengannya kita dapat mengetahui faktor apa yang berpengaruh terhadap keberhasilan maupun kegagalan sebuah rencana. Sembari introspeksi, kita dapat melanjutkan dengan menuliskan poin no 1.

Catatan adalah pengingat paling setia. Sebelum perbuatan dan perkataan dicatat oleh melaikat, hendaknya kita mempersiapkannya untuk mencatat.

*“Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Infithar: 10-12)

Koplak, 10 05 2013

Dilarang DEMO!! Sebuah pelajaran dari Shalat berjamaah.

Ada satu topik menarik untuk saya angkat di sini. Di bumi ini, Indonesia, yang menganut paham demokrasi. Sehingga tidak asing lagi bagi kita melihat berbagai aksi demo di belahan bumi Indonesia. Mulai dari demo damai dengan arak-arakan di jalan, itu saja sudah cukup membuat jalan macet. Sampai demo anarkis memblokir jalan dan membakar ban, bahkan bukan bannya saja, tapi juga mobil berikut isinya. Apanya yang menarik??

Begini, negeri Indonesia kan mayoritas muslim ya? Dan setiap muslim laki-laki, hukumnya wajib sholat berjamaah. Lalu apa hubungannya dengan demo? Erat…erat sekali kawan. Ada pelajaran yang sangat berharga dalam sholat berjamaah yang nampaknya sering terabaikan. Ternyata makmum dilarang DEMO.

Kalau kawan sholat jamaah, atau pernah jadi imam, nampak sekali pelajaran ini. Ketika si imam salah, makmum wajib mengingatkan. Bagi makmum laki-laki boleh angkat suara. Ketika imam terlewat tasyahud awal misalnya, habis sujud mau langsung berdiri, maka makmum laki-laki wajib mengucapkan Subhanallah. Tapi tidak demikian bagi makmum perempuan. Mereka hanya boleh tepuk tangan.

Kalo bacaan si imam yang salah ya ucapkan bacaan benarnya.. Ketika membaca fatihah, habis baca Alhamdulillahirobbil ‘alamin si imam langsung baca maliki yaumiddin, maka makmum laki-laki wajib mengingatkan dengan membaca Arrohmanirrohim. Begitu kira-kira. Coba saja kalo waktu imam salah kemudian makmum rame-rame maju ke depan, berikut makmum perempuannya, sebagai bentuk emansipasi.  Maksudnya si baik, mau mengingatkan, tapi apa jadinya, selesai urusan? Tidak, yang jadi ya jamaah bubar, sholat batal. Semua ada aturannya, ketika dilanggar pasti masalah tambah runyam.

Barangsiapa yang ingin menasihati pemimpin, maka jangan melakukannya secara terang-terangan. Akan tetapi, nasihatilah dia di tempat yang sepi. Jika menerima nasihat, itu sangat baik. Dan bila tidak menerimanya, maka kamu telah menyampaikan kewajiban nasihat kepadanya.” [HR Imam Ahmad]

Pelajaran yang demikian itu bisa diterapkan dalam mengingatkan seorang pemimpin negara. Ada tata caranya. Bukan dengan turun ke jalan, campur baur laki perempuan, apa lagi sampai teriak-teriak mencaci pemimpin itu. Itu bukan cara yang diajarkan agama ini. Ingatkan pemimpin dengan cara sembunyi-sembunyi. Kalau bisa jangan sampai ada yang tahu kalau kita telah menasihati pemimpin. Pemimpin sama juga dengan kita, malu kalo aibnya diketahui umum. Apalagi kalo aibnya dibongkar-bongkar di hadapan masyarakat se Indonesia, bahkan negara tetangga yang nggak tau menahu menjadi tahu semua aib pemimpin kita. Tidakkah kita malu dan merasa berdosa jika telah mempermalukan pemimpin kita?

Mari sholat berjamaah, ikuti aturan mainnya, dan sekali lagi, jangan DEMO!

Pondok Safari Indah, Ahad 12082012
persiapan mudik, khawatir jalan diblokir pendemo

Shodaqoh itu nikmat

Pagi-pagi si Bejo sudah menyapu teras rumah (baca: kontrakan). Orang tak perlu bertanya soal kebiasaan yang satu ini. Menyapu bagi Bejo adalah kewajiban yang harus dituntaskannya sebelum berangkat kerja. Banyak sampah ataupun cuma selembar daun kering, kebiasaan menyapu tidak pernah ditinggalkannya. Tapi, pagi ini nampaknya berbeda. Kali ini dia lebih semangat dibanding hari-hari lainnya. Tanya Kenapa?? Selidik punya selidik, ternyata hari itu adalah hari Jumat. Dan Bejo melaksanakan sunnah rosul yang satu itu, oww..

Lain ladang lain ilalang. Kondisi Bejo sangat kontras dengan si Jono. Hari itu dia bangun kesiangan. Subuh pun terlewat, apalagi sahur, jelas lebih lewat lagi. Al hasil, hari itu hari terberat bagi si Jono yang harus menepuh belasan kilometer untuk sampai kantor. Ditambah kemacetan Jakarta yang semakin siang semakin menjadi. Berarti, kali ini dia harus lebih gesit berebut jalan dengan bus tua Kopaja yang lebih layak masuk museum, plus bonus kabut hitamnya yang khas. Tanya kenapa??(lagi). Ternyata Jono tinggal sendiri di rumahnya, istrinya tinggal jauh di pulau seberang.

Pelajaran pertama, Jono rugi tiga hal: tidak sahur; sholat subuh telat; dan tidak mengerjakan sunnah rosul.

Mereka berdua adalah rekan kerja sekantor yang duduk bersebelahan.
Bejo: “Pa kabar, Jon? Lesu kali nampaknya kau hari ini, ada masalah?”
Jono: “Iya, nih.. Bangun kesiangan lagi gue, sholat telat, boro-boro sahur”
Bejo: “Emang Istri kau gak jadi resign?”
Jono: “Gue sih maunya gitu, istri juga sebenarnya sudah respon, cuma mertua ni, setiap kali si istri mau berhenti, nyokapnya ngomel- ngomel mulu. Jadi deh, nasib gue…”

Pelajaran kedua, Harta itu perlu, tapi bukan segalanya.

Bagi yang sudah berkeluarga, tentang sunnahnya melakukan hubungan suami-istri saya rasa tidak asing lagi. Ibadah yang memang menjadi fitrah manusia. Sering kita mendengar khotib jumat menyampaikan hadist ini:

Rasulullah SAW bersabda, “Dalam kemaluanmu itu ada sedekah.” Sahabat lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita mendapat pahala dengan menggauli istri kita?.” Rasulullah menjawab, “Bukankah jika kalian menyalurkan nafsu di jalan yang haram akan berdosa? Maka begitu juga sebaliknya, bila disalurkan di jalan yang halal, kalian akan berpahala.” (HR. Bukhari, Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah)

Kita doakan bagi mereka yang masih tinggal terpisah agar Allah segera mengumpulkannya. Semoga Allah menuntunnya menjadi keluarga sebagaimana keluarga yang Allah kehendaki.
Bagi keluarga yang tinggal serumah, bersyukurlah telah diberi banyak kesempatan untuk dapat mengikuti sunnah rosul.

Ternyata, shodaqoh itu tidak hanya mudah, tapi juga NIKMAT.

Haji Masjid…

Mosok si haji ning masjid, sing jeneng haji yo ning kono no, Mekkah.
Sebentar, mungkin judulnya kurang tepat ya, tapi maksud saya begini. Bahwa seseorang bisa mendapatkan pahala haji dan umrah secara sempurna hanya dengan brangkat subuhan di masjid, dzikiran nunggu matahari terbit, terus sholat deh dua rakaat.

Sodara, aku mau berbagi. Bukan bermaksud mengajari, apalagi menceramahi, karena untuk urusan itu saya bukanlah orang yang tepat. Saya bukan ustadz, bukan pula orang yang berilmu. Cuma, tadi waktu browsing sempet nemu hadist yang menurut saya cocok buat kita yang pengin haji tapi belom kesampaian. Bunyi hadistnya seperti ini:

Dari Anas bin Malik, Rasulullah bersabda, “Siapa yang shalat shubuh berjamaah kemudian duduk mengingat Allah hingga matahari terbit, kemudian shalat sebanyak dua rakaat, maka untuknya pahala sebagaimana pahala haji dan umrah yang sempurna, sempurna dan sempurna” (HR Tirmidzi no 586, menurut al Albani, ‘sanadnya hasan’).

Ternyata Islam itu luar biasa, cocok untuk segala kalangan. Bagi yang berharta, maupun yang papa. Tentang kewajiban berhaji, selama ia muslim, tidak ada yang mengingkarinya. Haji itu wajib bagi yang mampu, dan ia adalah rukun Islam kelima.
Bagi orang yang berharta, biaya haji bukan persoalan. Namun si papa, biaya adalah masalah terbesar. Dan dengan kemurahan Allah, Islam tidak membebani seseorang di luar kesanggupannya.

So, sempatkan untuk mendapat pahala haji dan umroh yang sempurna di masjid kita, daripada pulang kerumah dan narik slimut, TIDUR.

Pondok Aren, 01082012

Mendapat jauh lebih susah daripada merawat..

Kalimat ini saya rasa sangat akrab bagi telinga sodara. Beli mobil bagus itu ga mudah, tapi jauh lebih susah merawatnya. Tapi sebenarnya istilah itu tidak terbatas pada aset fisik saja, aset non fisik juga sebenarnya berlaku hal yang sama. Cuma, sayangnya yang tertanam pada diri kita sejak kecil terbatas pada hal-hal fisik. Si Bejo dibilang tidak pandai merawat hanya karena sepeda yang dibelikan ayahnya beberapa bulan yang lalu sudah lusuh. Atau si Tini dibilang tidak bisa merawat diri hanya gara-gara baju yang dipakainya tidak disetrika.

Definisi semacam itu memang benar, cuma tidak terbatas pada hal fisik saja. Dan yang ingin saya sampaikan sebenarnya jauh lebih penting daripada perawatan fisik. Saya teringat pada seorang ustadz yang menceritakan bahwa imam Syafi’i pernah mengadukan kepada gurunya tentang buruknya hafalan. Maka, ketika itu gurunya mewasiatkan kepadanya agar meninggalkan maksiat, karena sesungguhnya ilmu adalah cahaya, dan cahaya tidak akan masuk pada hati yang dipenuhi maksiat.

Lhoh, pernah gak ya kita ngaduin buruknya hafalan kita? Ternyata bagi seorang imam hafalan itu aset, tapi kita mungkin belum memandangnya sebagai aset. Bahkan, cerita yang paling mencengangkan adalah hilangnya sebagian hafalan imam Syafi’i karena tanpa sengaja melihat betis seorang wanita.

Oleh sebab itu, kita akan mudah memahami jika ada teman yang tidak mau menonton tivi, apalagi menonton bioskop, padahal dia punya banyak kesempatan untuk itu. Boleh jadi, dia sedang menjaga aset paling berharga dalam dirinya, yaitu HAFALAN.