This Faith.
December 16, 2011 § Leave a comment
Which you can’t easly destroy it. 🙂
Bermula dari berita yang kubaca hari ini.
Patung Bunda Maria dan beberapa patung lain di rusak di kompleks peziarahan Gua Maria Sendang Pawitra Sinar Surya di Tawangmangu, Solo. Beberapa bagian seperti kepala dan bagian-bagian lain, hilang entah di mana.
Aku yakin, mereka yang menganut Katolik seperti aku pasti mempunyai reaksi berbeda. Macam-macamlah. Sebutkan saja kata kerja dengan tanda serunya. Semuanya pasti bermuara pada rasa terhina.
Aku pribadi juga merasa terhina dengan hal yang biasa terjadi pada manusia ini. Manusia yang hidup. Yang hidup saja bisa tak ada harganya oleh manusia lain, apalagi terhadap patung. Patung lho.
Aku tidak menyayangkan patung-patung yang rusak itu. Itu hanya simbol yang memang mewakili agama yang kuanut saat ini. Itu hanya simbol, yang bisa dibuat lagi dan dipasang seperti sebelumnya, di luar ada nilai-nilai lain yang dirasakan sebagian orang yang kerap berkunjung untuk berziarah di sana.
Tapi aku menyayangkan pribadi-pribadi yang merusaknya. Apakah dengan melakukan hal seperti itu mereka bisa ikut menghancurkan iman yang hidup dalam badan fana ini? Tidak. Sampai jiwa meninggalkan badan pun, jawabannya Tidak.
Jadi, apapun yang mencoba untuk menggoyahkan imanyang hidup dan menyala dalam dirimu, percayalah, Tuhan lebih kuat dari pada sekedar rasa benci yang berasal dari si jahat.
Roma 3:27
“Jika demikian, apakah dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan apa? Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman!”Â
Have a blessed week end, fellas.
Thy blessing on you! 😉

Hidden Ears.
December 10, 2011 § 1 Comment
Listening from a deepest heart.

Bukan cerita seperti ini.
Cerita seorang gadis muda yang mendadak pingsan di kantor, tepat nya di pabrik baru tempat saya bekerja saat ini. Pengakuannya, ia melihat mahluk halus menakutkan yang mencekik lehernya ketika ia keluar dari toilet. Â Mahluk ini konon melakukan itu karena kaget karena gadis ini bisa melihat kehadirannya di sekitar toilet yang akhirnya menjadikan bulu kudukku ikut meremang ketika masuk ke dalamnya.
Well.. bukan seperti itu. Tapi kisah seperti ini..
It was like a word came out from my heart, fully talked in my head. Dengan kondisi under pressure, yang aku pikir aku akan kuat dan selalu terbiasa untuk tetap bangun.. suddenly it was stuck. I was stuck. Â I felt like wanna cry.. make all out.. and angry. Angry to this unfair life.
Couple months, stayed in inappropriate management brought a bit depression in half life. Yang juga berpengaruh pada separuh hidupku di rumah, tempat seharusnya aku merasa nyaman ketika pulang dari hectic life in office.
Then when it came to the max.. this word came out whispered : “Help me, Lord.. let me out of here..”
Just said that word .. all burden started diminish from my head. Aku nggak tahu apa itu membantu atau tidak, tapi setidaknya aku bisa menggerakkan bahu yang seakan baru saja menurunkan beban beberapa kilo.
Haha.. sorry kalau awal cerita aku membawamu pada cerita menyeramkan, tapi menurutku ini memang seram, everybody.
Seperti seseorang yang tidak kelihatan, mendengarkan bisikan hatimu yang kemudian hari terurai menjadi doa.. aku menyebutnya.. blessing. 😀
Tuhan, yang kupikir dia diam saja selama aku ‘menderita’. Setiap ada kejadian yang terlihat seperti “good news” buatku, ternyata nothing. Ternyata tidak “sediam dan tanpa pergerakan apapun” seperti yang kubayangkan. Dia punya telinga.
Dia mendengar.
Did He do the same thing to you?.. listening you? Let me know.
It’s a scary story, isn’t it? .. or.. No? 😉

Twice, enough.
October 21, 2011 § 2 Comments
2 Different Cases, though.

Bagaimanapun ini akan ganjel dan gatel buatku untuk tidak ditulis. Jadi harus ditulis, and sharing for others about this itchy things dan sebagai pembelajaran juga.
Aku bilang, 2 kali. Iya, ini hal ke-2 aku tertipu. Mengecewakan?. Yup!.
Kita mulai aja yaa.. yuk, jepiiiit…. tahaann…. lepaasss… *heeh!
(hihihi.. masih kebayang masuk kelas Pilates kemaren, yang berasa dikelilingin orang-orang melahirkan. Aku ketawa sendiri, ini kelas senam hamil apa senam kegel gitu 😆 ……)
OK.. serius, serius. Tarik nafas dari hidung, keluarkan dari mulut, jepit perut, terus.. teruss… . (PUAAKKK!!!)
Baiklah. Jangan tegang, teman. Aku sedang berusaha membuat semua tulisanku lebih santai dan menghibur. Itu saja 😀
Sebenarnya ini curcol, fellas. Sedikit tentang kebohongan publik. Dimana era digital seperti sekarang ini dan berbagai media untuk membuatmu lebih dikenal dunia luar, selain informasi apapun bisa dengan mudah didapat. The good thing, wawasanmu bertambah dan yang bisa berinteraksi, temanmu pun bisa bertambah, baik secara cyber only maupun kopdar. Asyik kan?. Dan kalau beruntung, kamu akan menemukan pasangan hidupmu di sana. 😉
The other side, bad thing -nya?. Bentar. Let me tell you something. Dari apa yang pernah aku alami, sepertinya.. SEPERTINYA lho ya… Seseorang yang bisa menulis indah, punya imaginasi tinggi, dan menganggap bisa mengutarakan semua perasaannya di media seperti blog, facebook, ataupun twitter, SEPERTINYA (lagi) menginginkan semacam simpati, yang lama kelamaan bisa membuatnya tergoda untuk bertindak lebih. Lebih dalam arti, melebih-lebihkan, LEBAY. Dimana lamunan atau mimpi2 bisa keluar dari kepala dan Happened! Everyone cares about you!!! Horay!!!
-__-” .. aku malah merasa aku yang lebay sekarang. Yaah, namanya juga orang kecewa lagi curhat.
Jadi gini, dimulai dari beberapa tahun yang lalu, sepertinya 2006-2007 gitu deh. Aku yang lagi seneng blogging dan blog walking gitu, terdampar ke sebuah blog yang di link dari satu blog ke blog lain. Blog seorang perempuan muda mungil yang sedang menderita Kanker Darah!!. Tulisannya bagus, mendayu-dayu, sampai bisa memancing airmata. Banyak yang simpati termasuk aku tentunya. Kamipun mulai berteman. Chatting, SMS, bahkan telpon2an.
Mungkin saking simpatinya, aku sampai gak aware soal tulisannya yang ternyata banyak yang menuai cerita baru dan tidak berhubungan dengan cerita sebelumnya. Beberapa orang mulai menjadi ‘detektif’, sementara yang lainnya tetap ‘terpesona’. Sampai ada yang ngecek ke rumah sakit yang disebutnya tempat dia dirawat dan mencuci darah. Sampai ada yang sempat kopdaran segala.
Hah? Kopdar? Ketemuan. Uhyeah, ..tapi itu terbatas untuk orang yang dipilihnya. Targetnya. Lelaki yang menaruh simpati paling banyak, yang avatarnya ganteng, single dan kerjaannya OK. 🙂
Well, kepompong itu gak sabaran ingin jadi kupu-kupu indah rupanya. Perempuan itupun keluar dari sarangnya yang bersamaan dengan kecurigaan semua orang. Semua simpatisannya. Semua pembacanya, termasuk suaminya, dan (mungkin) anak-anaknya.
Fakta: Dia seorang ibu bersuami dengan 2 anak perempuannya, dan bekerja di salah satu NGO di Jakarta. Dan tidak sakit yang berwajah jauh dari foto perempuan mungil, single dan rapuh di blog itu.
Kasus Pertama.
Kasus Kedua?
… kasih tahu nggak eeeaaa???… *alay*…
Seorang cowok. Ganteng bo, secara foto terlampir di blog dan facebooknya.  Tulisannya?.. jangan tanya. Kalau yang kasus pertama orang sakit dan terkesan rapuh, yang ini romantis. Waktu aku gabung di facebooknya, semua friendlist nya mayoritas cewek. Yaah, untung saja aku udah nggak perawan, eeeh.. udah berkeluarga punya anak dan punya pacar vampire, jadi tertariknya sekedar.. seneng punya temen cowok ganteng! 😆
Orangnya lucu, bisa masuk dalam becandaan vulgarku dengan teman2 gilaku lainnya di facebook, dan suka curhat juga soal pacar cybernya.
Itulah kenapa kedua kasus ini beda, karena pada kasus kedua ini orang tidak perlu menyelidiki. Lelaki ini tidak ingin ditemui siapapun. Tapi dia bikin pengakuan, kisanak. Sebelum jadi kupu-kupu, dia udah pasang toa dulu kupu-kupu seperti apa dia. Â Tapi tetap, pada akhirnya seperti kasus pertama, kasus kedua inipun membuat semua orang kecewa.
Fakta: Ia mengaku bahwa ia bukan seperti laki-laki di semua foto di facebooknya (yang sudah dihapus accountnya), bahwa dia adalah seorang perempuan.
Jadi?.. 2 kali saja cukup, bukan?
Audience: Trus Puak, gimana cara menyiasatinya?
Puak: Menyiasati?? .. Ini judulnya tetap dunia cyber, sayang. Dunia maya yang melebihi bumi dan segala isinya. Tapi memang bagusnya membaca blog dan berteman dengan blogger yang banyak memperluas wawasanmu yang menurutmu baik dan menginspirasi.
Audience: lha, blogmu sendiri??
Puak: sapa suruh baca blogku!..
😆
Have a blessed Friday!

Tulis aja dulu.
October 10, 2011 § 1 Comment
Iya. Tulis aja dulu.

Pagi ini, dengan bangga aku katakan, aku b-o-l-o-s. Bolos. (yang baca bolot, pantatnya pasti merah)
Kenapa bangga?..
Pertama, karena aku menjadi simbok sebenarnya bagi Cemplon, anakku. (U-uhh.. so sweeeet).
Ehh.. bentar dulu. Ini simbok maksudnya yang nge-bossy. Cemplon ini rada susah bangun pagi, kalo nggak boss yang ini tegak pinggang dan bersuara dari nge-bass lembut sampai tenor lantang itu tidak berdiri di samping tempat tidurnya, dia akan terus lenyap dalam tumpukan bantal.
Simbok dan Cemplon, adalah perpaduan pasar induk dan para bakul kasarnya. Rame. Jadi kalau ada kami berdua, akan seperti pasar induk, salah satu tak ada akan seperti keraton Solo, dan kalau keduanya gak ada, bapaknya manyun.
Mulai dari bangun, mandi, bedandan, sarapan sampai berangkat… nggak ada yang nggak diributin. Sana ngomong ngomel, sini juga ngomong ngomel.
Satu hal yang agak mengherankan adalah ketika aku mengikat rambutnya.. suasana agak senyap sikit. Kayak berasa ibunya gitu.. hahaha… agak lembut kali ya. Soalnya kalo nariknya kekencengan, merconnya meleduk. 😆
Bangga, kedua.. aku merasa jadi nyonya rumah sepanjang hari. Masak, bersih-bersih dan cerewetin Lila, simbaknya Cemplon. Selesai masak, kami akan duduk bareng makan bersama. Seperti kakak adek akur karena gempalnya sama. hihihi..
Sekarang.. kenapa bolos?..
Pertama, .. karena  aku sedang menghabiskan masa cutiku selama bulan terakhir ini di kantorku. Bulan depan, aku akan memasuki suasana kantor yang baru setelah 7,5 tahun menghabiskan waktu dan menimba banyak pengalaman di kantor lama.
Kedua, .. aku mau nge-gym. hihihi. Ini sih mendukung alasan pertama di atas. Ada unsur malesnya.
Baru semangat cuy!.. bukan mau langsing2 amat sih, mau sehat doang.. tapi bohai seksi. Hiyaaa…  😀
Udahan ah. Simbok harus masak dulu dan berangkat sebelum Cemplon pulang sekolah. Aku mau buang energy dan kolesterol di Fitness First aja, sebelum lemes kalo ketemu Cemplon.
See ya! .. 🙂
*tuh, kan. Aku nulis juga akhirnya.
.

Bizarre.
September 23, 2011 § Leave a comment
Stay close.
[Last story, check :Â Bizarre.]

Mungkin ada yang salah dari jalur hidupnya selama ini. Standard kehidupan secara significant terbagi menjadi suka dan duka. Jelas, gamblang, terbuka, dan kasat mata. Tak bicarapun, orang lain bisa menilainya. Tapi adakah yang tahu apa yang disebut rahasia?, jika yang tertutup ini hanya dia dan orang yang dipilihnya yang tahu.
Will. Ia duduk merunduk menopangkan tangan di atas pangkuannya. Bajunya kusut dan lusuh karena seharian ini belum mandi dan berganti pakaian. Dari kantor ia langsung menuju ke rumah sakit begitu ia tahu Angie masuk rumah sakit dan harus dirawat untuk kesekian kalinya.
Wajah mungil wanita itu terlihat pucat dan lemah ketika Will masuk menemuinya. Selang dan jarum transfusi darah baru saja menggantikan selang dan jarum infus, menusuk kulitnya seakan memberikan kehangatan dan memaksanya sedikit berwarna.
Matanya yang indah itu terbuka perlahan, seakan bisa merasakan kehadiran Will. Hidupnya. Ia seperti memandang tatapan Zeus yang menyihirnya untuk selalu bertahan. Ia bisa membayangkan akhir hidupnya jika Will tak pernah ada menemaninya.
Angie sendiri adalah perempuan penuh kelembutan dan bersahaja yang pernah Will kenal. Seharusnya ia tidak jatuh cinta pada perempuan ini. Seharusnya ia bisa menggunakan akal sehatnya atau perasaannya sekaligus. Seharusnya ia punya 2 hati untuk dibaginya antara Angie dan istrinya, Olivia.
Sesederhana itu. Will tidak bisa melepaskan keduanya. Mereka seharusnya gabungan satu jiwa yang ia inginkan. Seperti air tenang yang mengalir syahdu dengan api panas yang membara. Menghidupkan. Hanya ada suka. Hanya ada surga.
“Sayang..”. Terdengar suara lirih Angie memanggilnya. Mengaburkan secuil mimpinya yang baru saja membayang.
Will mengangkat kepalanya dan menggengam tangan lemah segera. “Ya..?”
“Pulanglah. Aku nggak papa kok. Mama tadi telpon akan datang malam ini dari Lampung..”
Will menggeleng. “Nggak, aku akan disini sampai kamu bisa duduk dan makan. Kalau perlu, sampai mamamu datang..”
Angie mengangkat tangannya dan membelai wajah Will dengan penuh kasih. Ringan seperti bulu, tapi menyentuh jauh ke dalam sanubarinya, mengacaukan lagi akal sehatnya.
“Tapi kamu lelah, sayang. Jangan sampai kau juga akhirnya dirawat di sini karena kau belum makan sejak siang tadi di samping banyak hal yang sepertinya kau pikirkan.”
Will mengecup telapak tangannya, dan beranjak berbaring di sebelah Angie seperti yang kerap dilakukannya ketika Angie sakit seperti ini. “Aku mau dirawat jika kamu mau berbagi ranjang denganku. Aku tidak akan berpikiran apa-apa selain memelukmu begini.”
Angie tersenyum dan berbisik, “seandainya aku bertemu denganmu jauh sebelum aku sakit dan menikah, aku pasti jauh lebih bahagia dari ini, Will..”
“Dia meninggalkanmu. Jangan pernah menyebutnya lagi. Aku akan membunuhnya jika sampai dia datang dan melihatmu seperti ini..”
“Kau tahu, sayang? .. orang menyebutmu selingkuhanku. Aku tidak peduli. Sampai dia datang, tidak ada yang bisa diselesaikan di antara kita berdua. Jadi tenanglah, dan jangan pernah pergi meninggalkanku.”
“Aku mencintaimu, Will. Amat sangat“, tambahnya.
Will menarik nafas dan memejamkan mata. Ia menginginkan hal yang sama, tapi selama apapun ia tidur dan bermimpi, fajar akan membangunkannya mengakhiri semua mimpi itu.
Dan, seandainya Angie tahu.. ada Olive yang mengerti hubungan mereka.., akankah Angie mengatakan hal sama?
Saat ini Will menyadari bahwa ia juga mencintai Angie.
.
 (to be continued. …)
.
.
