lingkungan ideal

generated by: Nano Banana Pro by Gemini AI

Suatu hari, aku sedang ngyobrol dengan atasanku di suatu proyek. Dari sekian komentar, salah satu yang kuingat adalah

Sepertinya kamu terbiasa hidup di lingkungan yang ideal, ya, Meg. Siapkan back up untuk apapun, ya.

Lingkungan ideal terdengar seperti pujian, tapi ada pesan “hati-hati” di dalamnya.

Akhir-akhir ini aku sering memikirkan tentang ini. Alhamdulillah. Aku ingin dan sedang bersyukur tanpa tapi. Ya, benar, aku memang ditempatkan Allah di tempat yang sangat ideal. Aku dikelilingi keluarga, teman-teman dan lingkungan yang ramah dan baik padaku.

Beberapa kali aku merasa “bersalah”, apakah boleh seperti ini? Aku tumbuh dengan kasih sayang dan pikiranku selalu positif tentang situasi apapun. Hingga datang suatu situasi yang buruk, lalu aku menjadi orang yang paling lemah untuk menghadapinya. Iya, survival instinct-ku ga sekuat manusia lainnya. Kepekaanku di bawah rata-rata. Semua yang kupunya saat ini hanya dari kemurahan Allah padaku saja.

Lalu lama-lama aku berpikir lagi

Ya, inilah AKU

Mungkin inilah tipe manusia yang ada di diriku. Iya aku memang lemah. Aku berusaha, aku berhati-hati. Tapi, aku di dalam sangat lemah, rapuh, dan tidak berguna.

dan ya.. ini aku.

Menulis Bunga tidur

Aku ga terbiasa nulis diari. Suatu hari, tepatnya tanggal 9 Maret 2022, aku punya ide untuk menuliskan mimpi. Kadang kita mengalami mimpi yang entah kenapa cukup membekas dan masih kita ingat dengan baik saat kita bangun tidur.

Nah, jenis mimpi seperti ini yang kutulis di catatan pribadiku.

Semalam aku mengalami mimpi seperti ini lagi setelah sekian lama. Aku mengingat dengan sangat jelas hingga siang hari. Aku pun mencatatnya. Lalu kucoba membaca semua mimpi yang pernah kutuliskan. Hanya ada satu kata, GILA.

Generated by Gemini AI

DARI GAME ONLINE MENGINTIP Sisi gelap dunia

Assalamualaikum teman-teman yang baik.

Apa kabar nih? Semoga sehat selalu ya. Kabarku? Ah.. terima kasih sudah bertanya. Aku lagi sibuk dengan studi, pekerjaan, keluarga dan kesendirianku.. ehm.. 😀

Ngomong-ngomong, baru kali ini aku bikin postingan dengan judul yang click bait hehe.

Generated by AI: Online Game Illustration

Sebelum going further into the details, cerita ini adalah cerita tentang teman-temanku di suatu game online.

Disclaimer: Aku tidak melakukan double check kebenaran dari hal-hal yang aku ceritakan disini. Fakta/fiktif-nya cerita tersebut, tidak jadi fokus di sini. Aku hanya menceritakan ulang apa yang kudengar.

Aku bermain suatu game online. Ini suatu tipe game yang di dalamnya aku bisa berinteraksi dengan pemain lain dan kami bekerjasama dalam sebuah aliansi untuk menjalankan misi-misi harian, misi mingguan hingga misi musiman. Sudah hampir setahun aku bermain game ini. Jujur aja, alasanku bermain game ini adalah untuk mencari hiburan dan karena banyak faktor, aku jadi betah.

Oiya, aku tidak akan menyebutkan nama gamenya karena yang aku akan ceritakan bukan tentang game itu sendiri, melainkan sisi gelap orang-orangnya.. seperti judul post ini. Aku juga tidak menyebutkan username asli ataupun nama asli dari aktor-aktor yang akan kuceritakan. Semuanya adalah nama samaran (bahkan samaran dari samaran 😉 )


Mari kita mulai.

Continue reading

Jurnal Phd mega – ep 1

Assalamualaikum

Udah lama ga nulis. Jadi mau numpang mencurahkan hati aja lah ya. Alhamdulillah aku akan segera masuk ke semester kedua S3 ku di UI. Doakan aku ya teman-teman biar bisa lulus dengan baik dan tepat waktu.

Kujelasin sedikit ya mata kuliah wajib yang diambil di 3 semester pertama berdasarkan kurikulumku.

semestercourseskstotal sks
Semester 1Elective Course A4 sks
Metpen4 sksTotal: 8 sks
Semester 2Elective Course B4 sks
Filsafat Ilmu2 sks
Studi Mandiri4 sksTotal: 10 sks
Semester 3Proposal 6 sksTotal: 6 sks

Di semester lalu, karena aku gatau kalo harus koordinasi soal jadwal matkul yg kuampu dengan matkul yg kuambil, akhirnya aku ga bisa ambil metpen. SM ku juga belum selesai makanya aku mundur dibanding teman-temenku seangkatan. Gini kira2 adjustmentku

SemesterCOurseskstotal sks
Semester 1Elective Course A4 sksTotal: 4 sks
Semester 2Metpen 4 sks
Filsafat Ilmu2 sks
Studi Mandiri4 sksTotal: 10 sks
Semester 3Elective Course B4 sks
Proposal 6 sksTotal: 10 sks

Ada temenku yg malah udah beres semua tuh 10 sks semester pertama padahal dia juga sambil ngajar. ><

Will I survive? huhu. Aku belum yakin sama topikku makanya aku menghindar dari supervisorku. Aku ga boleh gini terus. Aku harus lebih berani ketemu beliau buat dimarahin sekalian kalo perlu. 😦

WISH ME LUCK

Depok, 14 Agustus 2024

Mega

Setetes Rasa Rindu

Bapak Drs. Moh. Ali Suharyono, M.Pd.

Lahir pada tanggal 16 Maret 1960, di Lengkong, Kertosono, Nganjuk, Jawa Timur. Beliau adalah anak terakhir dari 4 bersaudara, putra Bapak Soepangat dan Ibu Lasinem.

Masa kecil ayahku di desa banyak dihiasi cerita. Ayah paling sering menceritakan tentang pengalaman beliau mengembalakan kambing di padang rumput bersama teman-temannya yang lain. Ayahku adalah cucu kesayangan dari kakek buyutku, dan ayah sering diajak memancing atau jika kakek buyut mendapat ikan, yang diingat pertama adalah ayahku. Kehidupan keluarga ayahku sangat sederhana, menjadikan beliau pribadi yang juga sederhana dan hangat pada siapa saja.

Memasuki usia SMP, ayahku merantau ke Probolinggo, mengikuti kakak tertuanya untuk melanjutkan sekolah di Probolinggo. Walaupun kebanyakan orang di desa ayahku tidak memandang penting pendidikan dan bahkan jarang yang menyelesaikan pendidikan SD, kakek dan nenekku sangat mendukung penuh ayahku untuk terus melanjutkan sekolahnya.

Dengan dukungan dan doa dari kakek nenekku, serta bu dhe ku, ayah berhasil menyelesaikan pendidikannya sampai SPG dan menjadi seorang guru. Ayah sudah pernah mengajar di Gresik sebelum beliau ditugaskan ke Sumberbulu, sebuah desa di Probolinggo, tempat ayah bertemu dengan ibuku.

Ayahku melanjutkan studi S1 nya setelah menikah dengan ibuku. Mereka adalah pasangan yang bahu-membahu saling mendukung, membangun semua dari 0 bersama-sama. Aku ingat walaupun samar, aku masih digendong ibu saat menghadiri wisuda S1 ayahku.

Ayahku pribadi yang sangat disiplin dan selalu tampil rapi, bersih dan wangi. Ayahku menjaga dengan sangat baik apa-apa yang beliau miliki, oleh karena itu barang-barang beliau sangat awet dan bisa digunakan sangat lama. Barang yang selalu wajib ada dibawa oleh beliau adalah sisir kecil dan sapu tangan. Sisir kecil melambangkan kerapian, dan sapu tangan melambangkan kebersihan beliau. Beliau bisa menghabiskan waktu cukup lama untuk menyemir sepatu beliau sendiri sampai sangat mengkilat. Kelengkapan seragamnya dipasang dengan hati-hati. Korpri tidak boleh miring, tag nama harus terpasang rapi, kalau belum rapi, akan dicopot dan dibetulkan sendiri sampai rapi.

Ayah sangat disiplin. Jika acara mulai pukul 09.00, bisa dipastikan ayah sudah di tempat tidak lebih dari pukul 08.30. Itu sudah terlalu siang. Seringnya beliau akan sudah siap pukul 08.00.

Ayah adalah orang yang sangat bersih dan jujur. Walaupun di dalam praktik pekerjaannya, sering ada praktik gratifikasi baik kecil ataupun besar, ayah sudah dikenal tidak menerima bentuk gratifikasi amplop tersebut saat menjalankan rutinitas pekerjaannya, karena beliau berprinsip bahwa itu memang bagian dari tanggung jawab pekerjaan.

Ayahku hanya berselera pada makanan khas Jawa. Beliau tidak sepertiku atau ibu yg masih mau mencoba beberapa makanan lain yg “lebih modern”, hehe. Selera beliau sangat khas sehingga tidak sulit bagi kami mengetahui makanan kesukaan beliau.

Ayahku cenderung loyal pada suatu service. Beliau akan mengingat dan mengunjungi toko yang sama, memakai merk yg sama, atau makan di restoran yang sama yg beliau nilai baik.

Ayahku memiliki bakat di bidang seni, terutama seni lukis. Sampai-sampai ayah bilang, ayah hampir menjadi seorang pelukis. Kemampuan lukisnya menurun ke adikku, aku tidak pandai melukis. 😅

Ayahku memiliki ingatan yang panjang. Ayahku pernah bilang bahwa beliau masih bisa menceritakan dengan detail pengalaman-pengalaman masa kecilnya. Ayahku juga bisa langsung hafal dengan jalan yang baru sekali dilewatinya. Ayahku berusaha mengetahui silsilah keluarga besar baik dari sisi ayah maupun dari sisi ibuku.

Ayahku adalah pribadi yang hangat dan ramah kepada siapa saja. Beliau sangat suka menyambung silaturahmi dengan saudara, kerabat dan rekan-rekan beliau.

Aku adalah manusia yang paling diberkahi Allah, yang telah diizinkan lahir dan memiliki seorang ayah yang terbaik seperti Bapak Moh. Ali Suharyono. Walaupun sekarang aku dan ayah berpisah untuk sementara, kelak kami insyaAllah akan berkumpul kembali hingga kekal di surga Allah SWT. Al Fatihah.

– dari seorang putri yang selamanya merindu, berharap dapat menjalankan hidup dengan baik, memberikan ketenangan dan kebanggaan bagi keluarga, serta bagi ayah yang telah mendahului, berusaha berjuang hingga nanti.

A Random Fact About Me

Aku orang yang cerewet. Tapi kalau boleh jujur soal alasannya karena di suatu perkumpulan, aku merasa canggung dengan kondisi dimana orang-orangnya tidak ada yang ngobrol. Aku heran, kenapa bisa orang-orang tahan berkumpul bersama tapi diem2an atau tidak saling ngobrol satu sama lain?

Tapi memulai obrolan bukan pekerjaan mudah bagiku, walaupun anehnya aku sering merasa “bertanggung jawab” untuk melakukan itu.

Kondisi paling melelahkan? Setelah berada dalam keramaian atau berkumpul dengan banyak orang. Iya, aku lebih menikmati duniaku yang privat hanya dengan orang-orang TERdekat. Kalo boleh memilih, aku menghindari reunian atau nongkrong yang lama.

Aku memang tidak dominan introvert. Mungkin karena ada pengecualian seperti aku yang sangat menikmati mengajar. Bertemu peserta didik itu menyenangkan padahal mereka orang asing dan jumlahnya banyak.

Aku juga suka menyanyi (bukan di depan umum). Mentok aku rekam dan share di media sosial. No, jelas bukan di depan umum. Ini juga mungkin pengecualiannya kenapa aku tergolong ambivert.

OVERTHINK? JUST DO IT.

I feel like Deja Vu. I have written a similar title before.

I had to go back to my normal routines after two pandemic years. The world seems to be back to normal too.

I tend to overthink. I am anxious over the smallest thing that is just about to happen.

“Should I wear black or blue?”

“Should I buy the ticket now or a little bit later?”

“Should I ask my question to the group or wait for anyone to ask the same thing?”

“Should I ask them about this issue or just let it slides?”

Then I have my whole day ruined just by thinking of those insignificant matters.

On the other side, Alhamdulillah Allah always has His own way to encourage me. He creates a strong gut in me for a split second that let me forget everything and just do any of it.

At the end of the day, all those matters are indeed insignificant. Don’t let your overthinking ruin your day.

Just do it.

akhirnya ditulis juga…

Aku membayangkan seberapa kacau kalau pikiran ini diungkapkan dalam sebuah tulisan dan benar adanya.

Mega

Sudah setahun lebih beliau meninggalkan kami di dunia ini.

Kadang aku bertanya pada diriku sendiri “Apa yang kamu rasakan?”

Ibuku sering bilang, kalau boleh jujur, sampai detik ini pun, ibu masih sering berpikir, beliau akan pulang ke rumah. Beliau tidak pergi selamanya, hanya sedang bertugas dan akan kembali lagi. Aku tidak sanggup merespon hal tersebut. Karena mungkin di dalam lubuk hatiku yang terdalam, aku pun berpikir demikian.

Aku memang masih harus melanjutkan hidupku dengan kondisi jiwa yang hancur. Rasanya sungguh hampa.

Terlalu amat sangat besar cinta yang beliau berikan sejak aku lahir di dunia ini. Jangankan berpikir “sudahkah aku membalas cinta beliau”, mengingat setiap sakit yang hati beliau rasakan karena aku, rasanya sangat buruk.

Beliau adalah sosok ayah terbaik di seluruh dunia.

Allah memberikanku anugerah terbesar dengan memiliki seorang ayah yang secara tulus menyayangiku jauh melebihi dirinya sendiri. Adekku pernah bilang “Kita bisa meng-claim bahwa kita sangat mencintai ayah. Tetapi bahkan kalau rasa cinta kita bertiga digabungkan dan dibandingkan dengan rasa cinta ayah untuk kita, itu masih jauh tidak sebanding. Masih lebih besar punya ayah ke kita”

Sebagai seorang anak, tentu ada masanya dimana aku berusaha agar ayah tidak terlalu mengkhawatirkanku yang kadang kupikir terlalu besar.

“Kamu belum jadi orang tua. Kamu ga ngerti rasanya jadi ayah”

Itu selalu yg beliau katakan setiap kali aku meminta agar beliau tidak terlalu khawatir karena (setidaknya sampai ayah tidak ada), aku berpikir aku sudah dewasa.

Dewasa darimana? Faktanya, aku tidak bisa apa-apa tanpa ayahku.

“Kamu kalau memperjuangkan sesuatu jangan setengah-setengah. Kalo iya, iya. Kalo ngga, ngga”

“Kenapa ayah menuntutku untuk ini?”

“Ayah hanya tidak mau lagi melihat kamu menangisi kegagalanmu. Kamu menangis hancur kemarin itu sudah sangat menyakitkan buat ayah.”

Aku juga sering berpikir kenapa ayah mengarahkanku begini, kenapa ayah mengarahkanku begitu. Saat aku sudah menyadarinya, ayah ternyata mengarahkanku untuk melakukan apapun hanya dengan aku sebagai pertimbangannya.

“Yah, kenapa ya kok begini kejadiannya? Kenapa aku begini?”

“Apa yang kamu khawatirkan? Allah yang mengatur semuanya. Yang penting kita sudah berusaha, Allah tau yg terbaik”

“Kamu mikir apa kok belum tidur?”

“hmm…”

“Yang sudah ya sudah. Ngapain dipikirkan lagi”

Beliau adalah orang yang sangat menghargai waktu. Tidak pernah datang tepat waktu, pasti sebelum waktunya. Beliau teguh terhadap prinsip yang beliau pegang dan sangat disiplin.

Ayah selalu mengantar dan menjemputku ke terminal Probolinggo kalau aku pulang kampung. Dari rumah ke terminal itu makan waktu 30 menit. Beliau minimal sudah menungguku di terminal 3 jam sebelum kedatanganku. Ya, minimal 3 jam sudah dipastikan ayah sudah sampai di terminal Probolinggo. Begitu pula kalau aku mau kembali ke Depok. Apapun yang terjadi, beliau sendiri yg mengantarku sampai terminal Probolinggo dan menunggu sampai aku naik ke bis.

Lalu bagaimana sekarang? Aku yang sudah terbiasa seperti ini, sekarang harus bagaimana?

Tentu itu hanya hal kecil yang bisa kutuliskan. Rasanya setiap kali aku menceritakan satu hal tentang ayahku, sedetik kemudian aku berpikir “Tidak. Cerita ini tidak cukup bisa menjelaskan aku dan ayahku” Ya.. memang tidak akan pernah bisa.

Ayah kadang suka mengajakku jalan-jalan sore dengan motornya. Sebelum ayah meninggal, aku tidak dibiarkan mengendarai motor sendiri. Aku memang manja jadinya, hanya mau membonceng ayah dan ayah memang selalu mengantarku kemana-mana.

“Nduk, ikut ayah yok”

“Kemana yah?”

“Liat proyek jalan tol”

Sore itu aku bersama beliau melihat proyek jalan tol di dekat rumah kami. Ayah selalu tertarik dengan hal-hal seperti itu. Beliau mudah mengingat landmark dan jalan walaupun baru pertama kali dilewati/dilihat.

“Yah, bagaimana kalo petugasnya tidak mengizinkan motor kita naik ke tol?”

“Yasudah, kalau diminta turun, kita tinggal turun”

Benar saja, kalau menuruti ketakutanku, kami tidak akan melihat pemandangan indah sore itu.

Yah, ada proyek tol baru di Sumberbulu. Sudah kelihatan bentuknya. Ayah pasti senang kalau kesana. Sekarang Mega melewati proyek itu kalau mau menjenguk makam ayah.

“Tidak. Cerita ini tidak cukup bisa menjelaskan aku dan ayahku” Ya.. memang tidak akan pernah bisa.

Ayah selalu memintaku untuk merawat diri dengan tidak banyak jajan yang berlemak. Tapi ayah juga tau aku sangat menggemari bakso. Sesaat beliau akan sangat marah saat melihatku banyak ngemil. Tp sedetik kemudian, beliau akan menawariku bakso. Saat ayah marah, aku hanya berpikir “kenapa ayah memarahiku? Apa beliau tidak menyukai aku yang gendut?”

Yah, begitulah, aku adalah anak yang gagal mengerti bahwa beliau bukan memarahiku karena diri beliau sendiri, melainkan beliau hanya sedang menjagaku. Seperti yang beliau sudah lakukan di sepanjang hidup beliau. Di sisi lain, beliau tidak tega dan ingin menuruti kesukaanku karena aku pulang kampung 2 kali setahun.

“Tidak. Cerita ini tidak cukup bisa menjelaskan aku dan ayahku” Ya.. memang tidak akan pernah bisa.

Ayah sekarang berada di dimensi yang berbeda. Aku memang hanya bisa mengiringi beliau dengan doa sambil berharap beliau akan mengingatku saat kami bertemu lagi kelak. Bahwa kami sekeluarga akan dapat dipertemukan kembali kelak di surga-Nya.

Untuk bisa melanjutkan hidup, aku berjalan dengan keyakinan bahwa beliau tetap bersamaku dan menjagaku. Aku akan berusaha hidup dengan keyakinan itu.

Aku pernah bilang bahwa aku merasa seperti kerang tinggal cangkang yang mengapung di lautan.

Yang jelas, ayah sekarang lebih dekat dengan Allah dan Allah selalu bersamaku dan keluargaku.

Probolinggo, 6 Maret 2022

-Mega