Hilang kontrol emosi biasa berawal dari kelelahan dan kelaparan.
Entah kenapa 2 hal ini yang memicu stress saya. Kalau saya sudah marah2 karena hal kecil, dua kemungkinan saja, saya sedang capek banget atau saya menahan-nahan lapar.
Contoh kecil, ketika saya ingin memperkenalkan Zayd toilet training. Belajar pipis di kamar mandi. Pipis aja dulu, belum BAB ya.
Pertama kali saya coba2 toilet training Zayd waktu dia dalam masa penyembuhan setelah kena campak, November 2019 lalu. Sebenarnya ini kebodohan saya sebagai emak. Kalau ditinjau-tinjau kembali, memang saya bodoh sekali waktu itu. Sama sekali tidak logis dan kejam. Bagaimana mungkin anak yang belum genap berusia 2 tahun dan dia sedang terkena campak malah saya toilet training. 😭😭😭 So sorry my little honey.
Campak Zayd muncul berupa bintik2 merah yang sangat banyak di pantatnya. Sehingga dia tidak mau pakai popok (popok kain maupun diapers). Alhasil pipisnya berserakan. Saya, saat itu memasang standar terlalu tinggi untuk pipis bayi. Pokoknya wktu itu ga nyaman jika rumah bau pipis (kejadian ini menurunkan standar saya. Bahwa jika dibersihkan dengan baik, ga bau pipis kok).
Zayd waktu campak tidak mau pakai sehelai benangpun. Pasti sakit dan gatal sama dia. Jadi, petunjuk dia mau pipis, saya tengok di penisnya. Jika menggembung, berarti dia mau pipis.
Namun apa daya. Sejak dia demam, saya tidak tidur dengan benar. Sebelum campak, ia demam tinggi hingga 39 smpai 40 derajat Celcius. Semalaman saya tidak bisa tidur. (Saya ngga menduga itu demam campak). Sekali sejam saya oles MHS campur bawang merah ke tubuhnya. Sekali 3 jam saya mengelap tubuhnya dengan washlap hangat. Alhamdulillah suhu tubuhnya turun. Kalau naik lagi, saya lap dengan washlap hangat, lalu saya oles lagi MHS bawang.
Paginya suhu tubuh Zayd alhamdulillah sudah turun. Namun dia berteriak2 kesakitan memegang sendi2nya seperti lutut dan pergelangan kaki. Saat itu mulai tidak mau pakai popok. Mendekati siang bruntus2 mulak muncul di pantatnya, lalu tangan, lutut, dan paha. Dia nangis2 tak henti. Tangisnya berhenti hanya jika saya digendong.
Saya mulai lelah. Waktu itu, usia kehamilan saya masuk 3 bulan, masih mual2 dan tidak selera makan. Zayd juga masih ASI waktu itu. Saya mulai panik dan menghubungi Papa Zayd yg bekerja. Sorenya kami ke klinik.
Malam hari Zayd berteriak2 kesakitan. Mata kami tidak dapat terpicing. Saya mulai lelah dan kelaparan. Saat itu saya mulai marah2. Saat Zayd pipis di kasur saya bilang:
“Zayd, kalau mau pipis, kita ke kamar mandi ya…”
Pertama kali berhasil.
Berikutnya, dia pipis di rumah (Zayd masih tidak mau berpakaian sehelaipun krn tubuhnya masih penuh bentol2 campak). Saya mulai kesal, karena badan rasanya capek, terpikir alas kasur, kain lap, semua sudah kotor. Sedangkan untuk mencucinya mau minta tolong papa Zayd tp harus tunggu beliau pulang dulu, dan keringnya juga baru besok!!! 😖😖😖
Saya mulai naik spanning.
“Zayd, kan sudah mama bilang pipis di kamar mandi!”
Saya bersihkan. Lalu pipis lagi di rumah.
“Kenapa Zayd ga kasihtau mama kalau mau pipis? Pas mama bawa ke kamar mandi ga mau pipis. Keluar kamar mandi malah pipis di rumah!” Saya membentak. 😓 Rasanya ingin teriak sekeras2nya tp capek. Dan malu juga sama tetangga.
Iya, Zayd, mungkin karena bentol2nya masih perih, dia ga suka tersiram air waktu saya cebokin. Jadi ketika saya amati penisnya tampak kayak mau pipis, saya gendong ke kamar mandi, dia tahan pipisnya. Sekeluarnya dr kamar mandi malah dia pipis 😓.
Kondisi saya ngga fit jadi ga kepikiran itu.
Beberapa waktu kemudian saya rilekskan diri, baru saya sadari. Zayd ga mau disiram air, karena itu takut ke kamar mandi. Syukurlah kekasih hati akhirnya pulang kerja. 😭😭😭.
Kemudian saya ikhlaskan Zayd pipis di rumah. Namun satu hal yg kami pahami, Zayd belum siap toilet training sekarang. Dia harus fit dulu. Harus benar2 sembuh dulu.
Berfikir logis, hal itu yang bisa menyelamatkan kita dari amarah kepada anak2. Ibu yang tidak pernah marah, tentu berusaha paham jika kemampuan anaknya belum sampai ke sana.
Dan ga bisa logis tanpa logistik. 🤑
Dak bisa logis juga tanpa suami yang pengertian dan mau selalu bersedia membantu.