Untuk anak sulungku

Jika ditanya, apakah kata yang sangat ingin aku utarakan kepada Zayd, anak sulungku, tentu jawabanku ialah kata “maaf”.

Zayd besar, bertumbuh, seiring dengan bertumbuhnya karakter saya yang dipengaruhi luka innerchild. Usianya baru 3 tahun saat itu, ketika karakter penuh luka ini muncul. Ia adalah karakter yang sangat temperamen dan emosional. Gampang terpicu amarah.

Sekali dua kali, bentakan pemicu rasa takut saya arahkan kepada Zayd. Lalu yang ketiga, keempat, kelima, hingga akhirnya tidak terhitung lagi.

Wajah kecilnya yang awalnya terlihat bingung, semakin kemari tampak semakin takut. Benar kata ahli parenting, bentakan hanya akan memicu ketakutan si anak.

Saya menyadarinya. 100 persen sadar. Tapi karakter itu menguasai saya lebih besar dari yang saya duga.

Sekarang Zayd tumbuh menjadi pembangkang. Di sekolah ia tidak mau belajar, bermain, bekerjasama dengan teman-teman. Dia menjadi anak yang “semau gue”

Kenapa, susah sekali mengendalikan diri? Setiap saya merasa kesal dengan ulah Zayd, tetiba pengalaman masa kecil ketika “dimarahi” melintas di benak saya dan pengalaman itu saya lampiaskan kepada Zayd. Tanpa dapat saya rem, tanpa bisa saya kontrol.

Beruntunglah, orang-orang yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga penyabar. Sangat beruntung. Sebab ketika mendidik anak, pengalaman masa kecil itu benar-benar akan kita copy paste tanpa sadar kepada anak-anak kita.

Akankah masih ada harapan bagi saya untuk membuat Zayd berubah? Seringkali saya berserah kepada Allah, meminta ampun dan memohon bantuanNya untuk menolong saya memperbaiki kerusakan yang saya buat di mental Zayd.

Permintaan egois tapi memang seputus asa itulah saya.

Ibu tidak akan pernah kehabisan cerita

Kenangan terindah bagi seorang ibu mestinya adalah kenangan membesarkan bayi2 mereka. Saya bersyukur, di persalinan kedua ini tidak memberi dampak babyblues seperti sebelumnya.

Saya merasa lebih tenang merawat Tsabita, daripada Zayd. Wajar sebenarnya, karena banyak pelajaran yang telah dianugerahkan Allah dari mengasuh Zayd bahulu.

Tsabita, bagaimana Tsabita berkembang dari bayi kecil mungil? Ya, Tsabita lahir hanya dengan berat 2,475 kg. Mesti baru bisa menyusu di hari ke enam, dia segera bisa mengenal puting saya dan menyedot dengan kuat.

Saking mungilnya, di awal saya sempat kuatir ketika menatap bibirnya dan berkata pada papa Zayd, “Apakah dia bisa menyusu? Bibirnya kecil sekali.”. Puting ibu menyusui tentu besar.

Alhamdulillah, kekuatiran tersebut tidak mematahkan semangat saya untuk memperkenalkan Tsabita dengan makanan fitrahnya. Atas izin Allah dia menyusu lama sampai kenyang. Hati saya yang sempat berduka karena harus terpisah dengannya sejak ia dilahirkan hingga usia 6 hari, seketika ceria bahagia. Akan saya kisahkan di bab khusus tentang kenapa saya baru bisa memeluk Tsabita di hari ke enam ia dilahirkan.

Anteng, Tsabita bayi sangat anteng. Dia tidak rewel. Ketika perutnya kenyang, ia tidur nyenyak sehingga saya masih bisa beraktivitas, bermain dengan Zayd.

Tsabita kecil suka bercanda. Ia tertawa jika digelitik.

Persoalan terbesar ada pada udanya, Zayd yang masih Balita. Ia sangat antusias pada adiknya. Sehingga perlu penjagaan ekstra. Zayd sempat cemburu dengan Tsabita. Ia menampar dan mencubit pipi Tsabita dengan keras.

Alhamdulillah semua membaik saat usia Tsabita memasuki 7 bulan. Di usia tersebut, saya tidak cemas lagi meninggalkan mereka berdua.

Tsabita mulai sayang dengan Zayd. Zayd pun mulai sangat sayang pada Tsabita. Kami memakai metode, mendekatkan mereka berdua dengan cara merengkuh Zayd terlebih dahulu. Saya akui, di awal, kami cenderung memarahi Zayd yang over aktivitas fisiknya di dekat Tsabita. Namun, akibatnya Zayd jadi semakin intens mengganggu Tsabita.

Lalu kami mulai mengalihkan dengan bermain dan bernyanyi bersama. Ketika Tsabita tidur, saya main dengan Zayd. Atau ketika tidur malam, setelah saya tidurkan Tsabita, saya akan tidur sambil peluk Zayd. Its work, Zayd menjadi sayang dengan Tsabita.

Tsabita suka dengan nyanyian saya, Alif Ba Ta Tsa yang sya buat sendiri melodinya.

Setelah mandi, dia sangat suka jika ditawarkan ASI. Dia akan menyedot ASI saya sampai tertidur.

Sewaktu MPASI, di awal MPASI dia antusias. Namun berikutnya mulai susah. Ternyata hampir setiap bayi seperti ini.

Hal yang berbeda dari Tsabita dibandingkan Zayd, Tsabita mudah muntah. Tekstur yg agak berbeda di lidahnya akan membuat dia muntah. Karena itu setiap selesai 1 suap, harus dibantu air minum untuk mendorong makanan ke dalam.

Tsabita suka jagung, pisang, nasi, ikan lele. Rata-rata dia suka buah-buahan.

Namun Tsabita lebih sering makan bubur fortif karena teksturnya yg lembut. Penyebab lainnya, karena saya terlalu sibuk mengurus Zayd yang sangat aktif sehingga tidak sempat memasak. Bubur fortif yang dia suka itu Sun dan Cerelac. Dia kurang suka P.. a, mugkin karena perasanya terlalu tajam.

Tsabita senang digoda. Ia punya ekspresi malu2 yang menggemaskan. Dia juga senang diberikan nyanyian. Yang paling dia suka adalah ASI, lalu tidur dalam pelukan saya. 😇

Kami mencintai Tsabita. Malaikat kecil yang pernah menambah binar di keluarga kecil kami. Kami sangat sangat sayang Tsabita.

Tangisan pelepas rindu

Malam ini, saya lepas penat di peraduan. Nafas-nafas lelah berganti nyenyak. Saya mulai tenggelam dalam alam bawah sadar.

Pikiran (ataukah mimpi?) mengembara pada sosok malaikat kecil berkulit lembut dan empuk. Memori ketika dia berada dalam gendongan, pelukan hangat dan lembutnya kulit bayi yg masih suci.

Lalu mulai terdengar tangisan. Tangisan yang lama dan panjang. Sesekali sesenggukan manja dan sedih. Saya merasa sangat kenal dengan tangisan itu.

Seketika jantung saya berdetak kencang. Itu tangisan Tsabita sayang. Meski penglihatan tidak bisa melihat apapun, serba gelap, saya menahan diri. Saya cukup tahu diri, paham tempat saya yang masih teperangkap dalam dunia yang hina. Tidak ada sedikitpun saya terniat mencari asal suara Tsabita. Entah kenapa. Mungkin kebahagiaan saya terlalu meluap sehingga hanya dengan mendengar tangisnya saja saya sudah sangat bersyukur?

Atau mungkin dalam pikiran saya yang paling logis masih ada terbersit bahwa mungkin saja ini permainan syaithan. Ya, bisa jadi. Saya memilih menangis bahagia

dan diam di tempat.

Mujahidah kami

Jangan dulu

Zayd: "Zayd mau adek bayi"
Saya: 😅 hehe. Insyaa Allah (baru setahun lalu perut mama dibelah nak, sembuh dulu ya, mental dan fisiknya)

Hidup adalah drama

Sejak kembali bekerja, akhir pekan saya habiskan dengan melakukan pekerjaan domestik. Pekerjaan domestik, tentu saja, pekerjaan yang tak ada habis-habisnya. Suami selalu membantu dalam hal ini. Namun tetap saja, tidak akan ada habisnya.

Sehari penuh di hari Minggu, saya biasa berberes dan menghabiskan setengah hari untuk menyetrika. Saya memang cukup lambat menyetrika. Apa mau dikata, tidak senang jika belum licin.

Namun Minggu ini berbeda. Saya merasa dianugerahi ilham. Saya terpikir, besok Senin, pasti seharian akan sibuk berjibaku dengan pekerjaan yang padat. Kenapa tidak beristirahat sejenak dan mencari sesuatu yang membahagiakan di luar? Rekreasi misalnya…

Saya mengiming-imingi Zayd, “Ke Pantai yuk! Nengok laut dan ombak”. Aloha, dia setuju. Dadakan memang. Saya hapuskan rencana masa depan untuk menyetrika pakaian tepat ba’da zuhur nanti.

Kami berencana ke pantai purus. Namun langit sudah gelap di timur sana. Di jalan kami memutar haluan ke arah teluk bayur, menjauh dari awan gelap di langit. Tetap saja awan tak bisa dihadang. Di teluk bayur pun, kami dikepung hujan.

Berteduh di samping kedai yang belum buka.

Hampir sejam menunggu, hujan mulai reda. Sepeda motor berbalik haluan ke mana saja. Mencari jejak kapal teluk bayur. Mencoba menyusuri jalan pelabuhan. Namun nihil.

Perut mulai keroncongan. Alhamdulillah ketika berteduh tadi sempat membeli Sala Lauak untuk bekal.

Di boncengan, saya membuka gmaps. “Papa, bagaimana kalau kita ke pantai air manis? Jauhkah?”

“Tidak juga,” Jawab suami. Kami meluncur ke Pantai Air manis. Sempat mampir makan sih. Jadi tanki sudah penuh.

Melewati jalan kecil yang menikung naik dan tajam ke pantai air manis. Sesekali menukik turun. Suasana jalan ke pantai lantai air manis (dari teluk bayur), cukup ekstrim dan sepi. Namun hanya sebentar perasaan sunyi itu hinggap. Ketika pantai air manis menampakkan diri sebelah kiri bawah sana, perasaan takjub tak terbendung.

Untuk masuk ke kawasan wisata, cuma perlu bayar 23.000. Katanya di pengumuman, orang dewasa kena tarif 10.000, anak-anak 5.000, parkir 3.000. Kenapa kami cuma bayar 23.000? Mungkin Zayd masih balita ya, jadi tidak membayar masuk.

Baru saja memarkir, kami dituruik seorang pemilik motor ATV. Pandai sekali dia menawarkan (atau kami yang terlalu mudah dipengaruhi?), pecah kesepakatan menyewa motor roda empat itu seharga 50.000 untuk 40 menit.

Langit cerah itu tidak asli, namun buatan, dibantu pengedit gambar bawaan hp xi**i.
Alhamdulillah, saya senang.
Ngebut bawa juragan roda empat ini? Siap2 mandi lumpur
Sedang surut, dengan motor bisa mengunjungi pulau

Jam 3, langit kembali mulai gelap. Kami bergegas untuk kembali. Bayangan tumpukan kain untuk disetrika menari-nari di pikiran.

Benarlah, perjalanan pulang kami dilibas hujan, dari rinai menjadi lebat. Dari lebat menjadi rinai. Lalu lebat lagi.

Sesampai di rumah, yang saya cari pertama bukan setrika pertama. Namun, kamar mandi. Saya bersihkan tubuh Zayd dan mengoleskan MHS ke seluruh tubuhnya. Ternyata saya lebih mencemaskan dia sakit, daripada pakaian-pakaian yang tidak akan selesai disetrika.

Sore ini, sangat dingin. Zayd bermain berdua dengan Papanya. Ketika saya menghampiri, papanya berkata.

“Mama, dengarlah yang ditanya Zayd,”

“Mang Zayd tanya apa?” Sahut saya.

“Dia tanya, dimana dedek Tsabita,”

Saya tercenung. Pantai pasti telah mengingatkan Zayd pada adiknya. Beberapa kali kami bergembira bermain di pantai, berempat.

Actually, gadis kecil ini benar-benar kekasih hati suami saya. Moga suami saya tidak membaca post ini.

“Lalu, apa jawaban Papa? “

“Tsabita saat ini bersama Nabi Ibrahim.”

Ya, gadis kecil kami ada bersama Nabi Ibrahim.

He loves her sister

Zayd sangat sayang dengan Tsabita. Beberapa hari setelah Tsabita meninggal, dia bertanya, “Dedek mana?”

Tsabita meninggal d RS Hermina Padang. Dia dimakamkan di kampung saya di Agam Timur. Perjalanan menuju rumah seratus kilometer lebih, menggunakan ambulance, terasa lama dan diam.

Zayd ikut di dalam ambulance. Dia melihat Tsabita yang dibedong kain panjang. Dia cubit pipi adeknya, seperti biasa yang ia lakukan ketika adiknya bernafas.

Dia ikut melihat Tsabita diantar ke makam. Entahlah, apa dia melihat adiknya dimasukkan ke liang lahat. Saat itu dia sibuk bermain dengan kakak sepupunya.

Ketika ia bertanya tentang Tsabita, saya selalu mengatakan bahwa saat ini, Tsabita bersama Nabi Ibrahim. Dia kenal nama Nabi Ibrahim dari nyanyi 25 nabi dan rasul Nussa dan Rarra

Sekarang, jika ia menggambar kami, selalu berempat. Ada Papa, Mama, Zayd dan Dedek. Meski dia mulai berat menyebutkan nama Dedek Bita. Saya bertanya-tanya, kenapa dia berat jika disuruh menyebut nama Tsabita.

Ini gambar Zayd. Dia menggambar kami berempat (Papa, Mama, Adek, Zayd), masing2 sedang tidur di atas kasur, berselimut, ada bantal, dan lampu kamar juga.

Di lain cerita, akan saya kisahkan tentang Zayd memikirkan keberadaan adiknya.

Semua terasa mimpi

Hari ini adalah hari kelahiran Tsabita.

Saya tidak pernah menyangka bahwa usianya tidak akan sampai menginjak 1 tahun.

Secara fisik, dia sehat, tidak gampang sakit. Namun demikianlah Allah menjadikan anak sebagai rahmat sekaligus ujian.

Tsabita anak kedua saya, berjenis kelamin perempuan. Uda nya bernama Zayd, berjenis kelamin laki-laki.

Tsabita cenderung lebih patuh dan manja. Tidak terlalu rewel dan anteng. Kulitnya lembut, berwarna kuning keputih-putihan. Ketika usianya hitungan hari, kulitnya merah. Rambutnya hitam dan lurus di ketika usia beberapa hari. Beberapa minggu kemudian rambutnya berubah menjadi ikal tipis keemasan..

Tangisannya lucu, suaranya agak sengau ke hidung. Sempat kami merasa kuatir dengan suaranya yang tidak biasa, namun ketika mendengar suara tangisan bayi lain yang sengau, kami mulai merasa lega.

Senyuman Tsabita sangat manis. Matanya bulat dan ceria, memancarkan kehangatan. Saya sangat menyukai mata Tsabita. Bertatapan dengannya ibarat candu bagi saya.

Semakin dewasa, dia terlihat tidak menyukai tatapan saya. Sehingga, dia melempar wajahnya. Kapankah dia tidak mau menatap saya? biasanya jika saya menggodanya terlalu intens. Dia akan tersipu malu dan memalingkan wajah. Atau ketika saya melakukan sesuatu yang mungkin tidak ia sukai. Marah-marah, misalnya (ini praduga saya saja ya).

Bicara dan Merayap

Zayd 2 tahun 13 hari

Alhamdulillah Zayd mulai menirukan kata, banyak kata. Setelah sebelumnya emak sempat galau karena dia cuma mau bertanya, “Ini apa?”, “Itu apa?”.

Saat dijawab dia cuma dengerin sambil menyuruh saya mengulang. “Apo?” Sambil menunjuk gambar kupu-kupu

“Itu kupu-kupu nak,” jawab saya

“Apo?” Tanyanya lagi

“Kupu-kupu,” jawab saya

“Apo?” Tanyanya lagi

“Kupu-kupu,” jawab saya.

Demikian sampai maksimal (kuhitung) 20 kali. 😂. Pengalaman yg very amazing rasanya sanggup menjawab pertanyaannya hingga 20 kali.

Kecuali kalau lagi ngerjain sesuatu, pas dia nanya yang ke sekian, saya tanya balik, misal:

“Apo?”

“Bintang,” jawab saya yang ke 4 kali misalnya.

“Apo?” Tanyanya lagi.

Dan saya sedang bekerja jadi ingin mempersingkat percakapan ini. Saya segera balik tanya,

“Ini bin – tang. Yuk Zayd coba sebut. Bin – tang,” jwb saya sambil mengeja. Dan biasanya nihh, dia tu bakal langsung mingkem. Ga mau ngulang kata Bintang. Sekalian ga mau lagi ngulang pertanyaan. 😂. Maaf emak kadang gitu nak…

Alhamdulillah beberapa hari belakangan dia mulai mengeja sendiri . Dimulai dari hari itu. Saat dia membuka boardbooknya sendiri dan menunjuk gambar onta sambil berteriak,

“Nta! Nta! Nta!”

Awalnya saya kaget. Lalu saya tengok, ternyata dia lagi nunjuk onta.

“Waah masya Allah Zayd pintar. Iya, benar, itu onta.”

Lalu dia berseru-seru lagi sampai bosan.

“NTA! NTA! NTA…. ” Sampai capek. Saya ngga persoalkan dulu dia teriak2. Biarlah dulu nnti sedikit-sedikit diajar memelankan suara. Sekarang lagi semangatnya mengulang kata, biarlah dulu.

Lalu kalau ada gambar kupu-kupu. Dia akan teriak, “Pu… Pu.. Pu”.

Jika dia nunjuk lampu, saya jawab, “Lampu”. Dan dia mengulang, “Mpu”. Masyaa Allah. Bahagia sekali ya rasanya…

Pernah dia keceplosan waktu menonton film Upin Ipin. Saat si kembar botak lucu itu nyari temennya Fizi sambil berteriak, “FIZIIII… FIZIII….”

Zayd yg mungkin terlalu menjiwai menonton tanpa sadar ikut teriak,

“Pi – ZIIII…”. Ah, habis teriak itu malah dia yang bengong. Langsung natap aku yang tersenyum tepatnya terpesona.

“Masya Allah. Zayd pintar,” kata saya.

Tapi ya segitu aja yang beneran terlompat dua suku kata dr lidahnya. Sekarang diminta sebut Zi saja sudah ga mau. 😁. Mgkin nanti ada waktunya. Soalnya Zayd makin pemalu.

Makan aja kadang menyuruk2 di belakang badan kita. Ga mau diperhatikan.

Dan soal merayap. Itu kepandaian ekstrim baru. Ketika nonton video kesukaannya di atas kasur, saya tengok dia melompat2 girang, teriak-teriak bahagia, sambil….. sambilll…

Tiba2 seperti ular merayap! Dia merebahkan badan di tumpukan selimut dan bantal, lalu merayap ke kasur, dan seperti air merayap ke lantai. Kakinya duluan.

Ya Allah nak, geleng2 Mama. Senang sekali mengamati perkembanganmu Nak. Apalagi selera makanmu sudah membaik.

Sehat selalu cinta. Jadi anak sholeh. Bermanfaat untuk agama. Kami mencintaimu, sungguh

Ibu yang Tidak Pernah Marah (2)

Hilang kontrol emosi biasa berawal dari kelelahan dan kelaparan.

Entah kenapa 2 hal ini yang memicu stress saya. Kalau saya sudah marah2 karena hal kecil, dua kemungkinan saja, saya sedang capek banget atau saya menahan-nahan lapar.

Contoh kecil, ketika saya ingin memperkenalkan Zayd toilet training. Belajar pipis di kamar mandi. Pipis aja dulu, belum BAB ya.

Pertama kali saya coba2 toilet training Zayd waktu dia dalam masa penyembuhan setelah kena campak, November 2019 lalu. Sebenarnya ini kebodohan saya sebagai emak. Kalau ditinjau-tinjau kembali, memang saya bodoh sekali waktu itu. Sama sekali tidak logis dan kejam. Bagaimana mungkin anak yang belum genap berusia 2 tahun dan dia sedang terkena campak malah saya toilet training. 😭😭😭 So sorry my little honey.

Campak Zayd muncul berupa bintik2 merah yang sangat banyak di pantatnya. Sehingga dia tidak mau pakai popok (popok kain maupun diapers). Alhasil pipisnya berserakan. Saya, saat itu memasang standar terlalu tinggi untuk pipis bayi. Pokoknya wktu itu ga nyaman jika rumah bau pipis (kejadian ini menurunkan standar saya. Bahwa jika dibersihkan dengan baik, ga bau pipis kok).

Zayd waktu campak tidak mau pakai sehelai benangpun. Pasti sakit dan gatal sama dia. Jadi, petunjuk dia mau pipis, saya tengok di penisnya. Jika menggembung, berarti dia mau pipis.

Namun apa daya. Sejak dia demam, saya tidak tidur dengan benar. Sebelum campak, ia demam tinggi hingga 39 smpai 40 derajat Celcius. Semalaman saya tidak bisa tidur. (Saya ngga menduga itu demam campak). Sekali sejam saya oles MHS campur bawang merah ke tubuhnya. Sekali 3 jam saya mengelap tubuhnya dengan washlap hangat. Alhamdulillah suhu tubuhnya turun. Kalau naik lagi, saya lap dengan washlap hangat, lalu saya oles lagi MHS bawang.

Paginya suhu tubuh Zayd alhamdulillah sudah turun. Namun dia berteriak2 kesakitan memegang sendi2nya seperti lutut dan pergelangan kaki. Saat itu mulai tidak mau pakai popok. Mendekati siang bruntus2 mulak muncul di pantatnya, lalu tangan, lutut, dan paha. Dia nangis2 tak henti. Tangisnya berhenti hanya jika saya digendong.

Saya mulai lelah. Waktu itu, usia kehamilan saya masuk 3 bulan, masih mual2 dan tidak selera makan. Zayd juga masih ASI waktu itu. Saya mulai panik dan menghubungi Papa Zayd yg bekerja. Sorenya kami ke klinik.

Malam hari Zayd berteriak2 kesakitan. Mata kami tidak dapat terpicing. Saya mulai lelah dan kelaparan. Saat itu saya mulai marah2. Saat Zayd pipis di kasur saya bilang:

“Zayd, kalau mau pipis, kita ke kamar mandi ya…”

Pertama kali berhasil.

Berikutnya, dia pipis di rumah (Zayd masih tidak mau berpakaian sehelaipun krn tubuhnya masih penuh bentol2 campak). Saya mulai kesal, karena badan rasanya capek, terpikir alas kasur, kain lap, semua sudah kotor. Sedangkan untuk mencucinya mau minta tolong papa Zayd tp harus tunggu beliau pulang dulu, dan keringnya juga baru besok!!! 😖😖😖

Saya mulai naik spanning.

“Zayd, kan sudah mama bilang pipis di kamar mandi!”

Saya bersihkan. Lalu pipis lagi di rumah.

“Kenapa Zayd ga kasihtau mama kalau mau pipis? Pas mama bawa ke kamar mandi ga mau pipis. Keluar kamar mandi malah pipis di rumah!” Saya membentak. 😓 Rasanya ingin teriak sekeras2nya tp capek. Dan malu juga sama tetangga.

Iya, Zayd, mungkin karena bentol2nya masih perih, dia ga suka tersiram air waktu saya cebokin. Jadi ketika saya amati penisnya tampak kayak mau pipis, saya gendong ke kamar mandi, dia tahan pipisnya. Sekeluarnya dr kamar mandi malah dia pipis 😓.

Kondisi saya ngga fit jadi ga kepikiran itu.

Beberapa waktu kemudian saya rilekskan diri, baru saya sadari. Zayd ga mau disiram air, karena itu takut ke kamar mandi. Syukurlah kekasih hati akhirnya pulang kerja. 😭😭😭.

Kemudian saya ikhlaskan Zayd pipis di rumah. Namun satu hal yg kami pahami, Zayd belum siap toilet training sekarang. Dia harus fit dulu. Harus benar2 sembuh dulu.


Berfikir logis, hal itu yang bisa menyelamatkan kita dari amarah kepada anak2. Ibu yang tidak pernah marah, tentu berusaha paham jika kemampuan anaknya belum sampai ke sana.

Dan ga bisa logis tanpa logistik. 🤑

Dak bisa logis juga tanpa suami yang pengertian dan mau selalu bersedia membantu.

Ibu yang Tidak Pernah Marah

Semua orang bisa menjadi orangtua. Namun tidak semuanya mampu menjalankan semua peran orangtua.

Marah, menurut saya adalah momok bagi seorang ibu dalam mendidik anaknya. Seorang ibu, jika dia berada dalam kondisi logisnya, tidak akan mau memarahi anak. Saya jamin, tidak seorang pun. Bila seorang ibu sudah berbangga karena suka memarahi dan membentak anak, tentu ada yang salah dengan psikologi ibu, sehingga dia tidak bisa lagi berfikir logis.

Anak berusia di bawah 7 tahun, menurut saya belum sempurna akalnya. Sepertinya mereka cenderung egois. Nampak sekali pada anak usia di bawah 3 tahun. Dan akan sangat menguras emosi ketika berhadapan dengan usia pertengahannya, 2 tahun.

Saat ini Zayd hampir 2 tahun dan sudah disapih. Pasca penyapihan, dia ibarat anak polos yang menampak pemandangan indah di luar gua, setelah lebih dari 20 bulan berselimutkan hangatnya gua. Dia ingin mencoba semua hal. Kepandaian, keingintahuan, dan secara emosional, jauh loncat level.

Ketika dia masih ASI, mudah sekali mengontrol pria mungil ini. Setiap rengekan mudah sekali menghentikannya. Manis sekali. ASI itu, seperti cairan candu yang membuat dia tunduk dan patuh pada saya, ibunya.

😂😂😂 Then, what next?

Ketika mulai lepas ASI, atau penyapihan, bermalam-malam tidur saya dan suami (terlope2) tidak nyenyak. Setiap jam ASInya, dia akan bangun, berteriak2, menangis, menarik suami saya. Entah apa pergulatan emosi yang Zayd alami.

Zayd disapih dengan disounding, WWP. Jadi dia tetap tidur dengan saya, seperti biasa. Beberapa bulan sebelum disapih saya mulai bicara dengannya, jika dia akan menjadi Uda. Sudah ada adik bayi di perut Mama. Dia juga sudah hampir dua tahun. Sudah besar, jadi tidak nenen lagi.

Saya masih kuat niat untuk menyusui Zayd hingga usianya genap 2 tahun. Namun semakin besar usia kandungan, menyusui semakin menyakitkan rasanya. Kemudian, ASI saya juga tidak banyak. Sedikit. Mungkin karena trisemester awal kehamilan saya kali ini lebih ribet dr kehamilan Zayd. Saya merasakan mual, lemas, sampai muntah. Tidak banyak makanan bernutrisi yang sanggup saya telan.

Saya amati, berat badan Zayd malah tampak makin susut. Saya yakin nutrisi ASI saya sudah menipis. Kami mulai mengalihkan Zayd untuk minum susu bantu, baik UHT maupun EGM. Namun, efek candu ASI masih menguasai nya. Ga ada yang seenak ASI, mgkin itu yang Zayd rasakan. 😂

Durasi dan intensitas mengASI Zayd mulai dikurangi. Semakin jarang dan jarang. Puncaknya, dia dibawa oleh Papanya pulang kampung ke Sijunjung. Sedangkan saya tetap di Padang. Kami berpisah beberapa hari. (Meskipun sehari sebelum berpisah tersebut dia sudah tidak merengek2 histeris minta ASI lagi, tetapi rencana ttp dijalankan. Karena mmg papa nya sudah bbrapa bln tidak silaturrahim dengan keluarganya di sijunjung)

Alhamdulillah, sekembali dari Sijunjung, Zayd tampak jauh lbh bijak. Awal ketemu saya dia peluk2 dan tunjuk botol ASInya. Saya bilang, “Zayd ga boleh nen lagi ya… Nen nya sakit…” Dan dia diam, tidak minta lagi.

Memasuki usia 24 bulan, Zayd sudah disapih. Dan saat itulah, setiap bangun pagi ia terlihat menjadi seseorang yang baru. Tidak tersentuh, tidak mudah dikontrol seperti sebelumnya. Kadang lebih manja, kadang terlalu keras hati ingin mandiri. Dampaknya pada saya?

Saya jadi mudah marah

~ Bersambung