Feeds:
Pos
Komentar

ACHTUNG

tulisan saya selanjutnya akan singgah di alamat yang baru

ikafitrias.wordpress.com

dan jika kau bertanya

dan jika kau bertanya apa itu ikhlas

kuberi tahu kau seperti ia yang mengajari kami

bahwa ikhlas itu

saat kau percaya pada diri sendiri

dan saat kau percaya kepada Tuhanmu pada saat yang bersamaan

lalu jika kau mempertanyakan realita yang sebenarnya kamuflase

kujawab bahwa semua manusia memiliki dunia kamuflase dalam hidupnya

membangun istana kaca dengan air mata atau tawa

tapi kau, bahkan aku, selalu lebih terkesima dengan ilusi istana kaca

dan aku tak tau apakah istana kaca itu bentuk tiga dimensi dari ikhlas

Ikhlasku untukmu

tak akan pernah bisa kau baca hanya melalui matamu

perlu hatimu bahkan untuk sekedar berkenalan dengan permukaannya

maka biarkan ia

selalu menjagaku agar kau selalu bisa menjaga hatimu

dan bagi engkau jiwaku:

Teruslah bergerak hingga KELELAHAN itu LELAH mengikutimu..

Teruslah berlari hingga KEBOSANANAN itu BOSAN mengejarmu..

Teruslah berjalan hingga KELETIHAN itu LETIH bersamamu..

Teruslah bertahan hingga KEFUTURAN itu FUTUR menyertaimu..

(df)

dan jika kau bertanya apa itu ikhlas

kuberi tahu kau seperti ia yang mengajari kami

bahwa ikhlas itu

saat kau percaya pada diri sendiri

dan saat kau percaya kepada Tuhanmu pada saat yang bersamaan

lalu jika kau mempertanyakan realita yang sebenarnya kamuflase

kujawab bahwa semua manusia memiliki dunia kamuflase dalam hidupnya

membangun istana kaca dengan air mata atau tawa

tapi kau, bahkan aku, selalu lebih terkesima dengan ilusi istana kaca

dan aku tak tau apakah istana kaca itu bentuk tiga dimensi dari ikhlas

Ikhlasku untukmu

tak akan pernah bisa kau baca hanya melalui matamu

perlu hatimu bahkan untuk sekedar berkenalan dengan permukaannya

maka biarkan ia

selalu menjagaku agar kau selalu bisa menjaga hatimu

Teruslah bergerak hingga KELELAHAN itu LELAH mengikutimu..

Teruslah berlari hingga KEBOSANANAN itu BOSAN mengejarmu..

Teruslah berjalan hingga KELETIHAN itu LETIH bersamamu..

Teruslah bertahan hingga KEFUTURAN itu FUTUR menyertaimu..

Tetaplah berjaga hingga KELESUAN itu LESU menemanimu..

Ingatlah ALLAH akan memberi apa YANG… KITA BUTUHKAN, bukan sekadar YANG KITA INGINKAN

hari ini (saja)…

kuping saya panas

kuping saya merah

terlalu lama dan berulang-ulang

 

hati saya memerah

mulut saya membungkam

kepala saya tertunduk

 

balik kanan grak!

maju jalan!!!

 

 

*semoga esok hujan, jadi saya cuman merasa merah hari ini saja

Suatu hari saya ingin menapaki belahan bumi lainnya. Melihat seksama bagaimana Tuhan telah mencipta dunia dan kita seharusnya bisa selalu bersyukur dengan seksama. Dan entah mengapa jiwa penat saya tiba-tiba teringat akan kawan lama saya. Kawan lama saya yang satu ini memang tidak dikaruniai tangan dan kaki untuk bergerak. Tapi ia memiliki roda-roda sumbu dan besi-besi hidraulik untuk bergerak. Dan pergerakannya bisa mengantar berpasang-pasang nyawa dengan segera ke tujuan mereka. Bukan karena ia cacat, tapi memang seperi itulah rupa dirinya. Keutuhannya bisa bermanfaat saat rangkaian-rangkaian gerbongnya disatukan dan dikepalai satu gerbong spesial yang biasa dipanggil lokomotif.

Kawan lama saya itu berupa gabunga-gabungan lembaran, serpihan, dan batangan besi baja yang dilas sedemikian rupa hingga berwujud tangguh dan kuat seperti saat saya dulu, sekitar 16 tahun yang lalu, saat saya bisa mengingat kegembiraan yang selalu ada saat saya bermain bersamanya. Mungkin hanya saya seorang yang tau persis perasaan apa yang menelisik dan menguap saat saya berada dalam salah satu daftar kenyamanan saya. Setidaknya saat bersamanya saya merasa dunia selalu lebih indah.

Memandangi mata kacanya menembus dunia di luar sana membuat saya yakin akan selalu ada dunia yang lebih indah saat saya mau sedikit membuka mata dan fokus akan pemandangan apa yang ada di luar sana. Bukan hanya pada retak kacanya saja. Tuhan memang selalu punya cara kreatif dalam mendidik manusiaNya.

Saya merindu bertemu lagi dengan teman saya yang satu ini. Rindu berpetualang kembali melewati jalanan, pinggiran-pinggiran rumah yang ada di sekitar rel, melewati gunung, memasuki terowongan, berjalan di atas sungai yang selalu bisa ditebak dari efek suara yang timbul, dan bagian terbaiknya adalah saat melewati pintu perlintasan kereta apai, saat semua kendaran lain mengalah dan diam menunggu kami lewat. Sudah lama ya saya tidak berkunjung lagi ke rumahmu. Tunggu sesaat lagi. Saya akan kembali berpetualang lagi denganmu. Entah sendiri atau bersama yang lainnya. Semoga kau belum rapuh ditelan karat karat itu.

kawan saya si tuan keretaapi
kawan saya si tuan keretaapi
sang argogede
sang argogede

tunggu saya berpetualang lagi denganmu

Untukmu penantang angin

Setiap malam mulai semakin gelap dan aku bukan sedang berada di tempat seharusnya, aku sadar ada hati lain yang merasa menanggung beban tanggung jawab akan keamanan diriku. Ya, aku yakin selalu ada dalam dirinya keinginan untuk menjamin keamanan dan mungkin kenyamanan diriku. Dan mungkin selalu ada dilema dalam hatinya saat inginnya berbentrokan dengan kenyataannya. Akan konsekuensinya. Akan keletihannya. Akan amanah-amanah dan tugas-tugas lainnya yang tidak bisa menunggunya. Akan semua yang mengejarnya dan membuatnya selalu merasa seperti berlari-lari.

Dan untukmu yang sedang merasa letih. Aku tau diriku tak akan pernah bisa sempurna bahkan hanya untuk sekedar mengurangi letihmu. Dan aku membenci diriku saat aku menyadari kau  mulai menancapkan gas semakin kencang menantang  angin-angin itu. Karena waktu terus berlari dan kau khawatir kita tertinggal hanya karena kita berjalan. Dan aku membenci diriku, saat tak ada hal berarti yang bisa aku lakukan, untuk sekedar mengembalikan tawamu, untuk sekedar membuatmu cepat tidur dan juga tidak lupa makan malam. Bukan aku tidak mau, tapi aku tidak tau. Ruang lingkupku terhalangi oleh diammu.

Dan untukmu yang merasa resah. Aku tau mimpi-mimpimu menjadi fokusmu saat ini. Dan aku tak akan cengeng hanya untuk meminta diperhatikan olehmu. Mimpi-mimpimu merupakan cita-cita hidupmu. Hidupmu merupakan aplikasi dari dirimu. Bahagiaku bukanlah hanya oleh kilometer jarak yang telah kita lalui demi hilang satu khawatirmu terhadap diriku, ataupun pundi-pundimu yang selalu mau kau bagi terhadapku. Meskipun sungguh aku terharu dan bangga akanmu oleh hal itu, tapi bahagiaku adalah saat aku bisa mensyukuri kebersyukuranmu. Kebersyukuranmu akan hidupmu, akan dirimu, dan akan mimpimu itu. Bagiku itu lah sebenaranya keinginanku akan hidupmu. Saat aku bisa mensyukuri kebersyukuranmu. Saat aku bisa mensyukuri kebahagiaanmu.

Dan untukmu. Barangkali mengerti akan diriku adalah hal sulit. Sifat anomali dalam diri ini entah seberapa banyak telah membuatmu mengerti dengan rumus toleransi. Akan suatu hal, seperti saat ini, saat hatiku lebih banyak berbicara daripada pikiranku, kukenalkan kamu pada sisi terdalamku. Mungkin entah berapa toleransi lagi yang harus kau penuhi untuk mengerti ini. Tapi setidaknya, saat telingamu tidak bisa mendengarkannya, semoga hatimu cukup tau untuk bisa merasakannya.

Ikhlasku pada setiap doa agar kau selalu ikhlas akan bahagiamu.

Terima kasih, aku tahu aku masih sangat jauh dari mengenalmu, dari mengerti akan apa yang menjadi kebutuhanmu. Tapi kini mengenalmu menjadi amalan seumur hidupku. Terima kasih, aku tahu aku masih sangat jauh dari sempurna, tapi ketika Dia memang menetapkan untuk menitipkanku padamu aku yakin Dia ingin menyempurnakanku dengan keberadaanmu.

let the words which said

for you

my parents

my friends

and my man…

i just wish you

for the best

trully.deeply.honestly.

*best regards from me

welcome back fighter

Saya mengakui selama beberapa pekan ini atau mungkin sebenarnya beberapa bulan ini saya mengalami siklus keababilan saya (buat saya ini wajar terjadi buat siapa saja, asal tidak berlarut2 dan dijadikan pembenaran untuk tidak produktif saja. *inget apa yang udah diomongin sendiri!) Masa-masa dimana tingkat ke-mellow-an saya menjajahi pemikiran, perasaan, dan kehidupan saya. Hanya disisakan saja sedikit ruang untuk teman-temannya : si sanguine, si koleris, dan si plegmatis. Nampaknya jeng mellow sedang bertahta dalam kehidupan saya. Dan saya ternyata terjajah dengan kudetanya si jeng mellow ini. Dan saat ini jeng mellow harus menyadari keegoisannya untuk berlama2 mengkudeta hidup saya bukanlah suatu hal terpuji dan bermanfaat. Dan akhirnya kini ia bukan hanya turun tahta tapi juga membuat system pemerintahan yang lebih bijak, yaitu yang berhak menduduki tahta dalam kehidupan saya saat ini bukanlah siapa yang terkuat tetapi siapa yang paling solutif dalam melakukan pertempuran melawan kerajaan masalah yang telah, sedang, dan akan selalu menyerang.

Perasaan saya berantakan *kayak kamar saya kalo udah mau uts atau uas tapi kayaknya sehari2 juga emang udah berantakan ding :P* dan saya sungguh terbutakan dengan apa yang saya sebut sebagai arogansi dikotomi. Kecenderungan manusia untuk memilah2 apapun menjadi 2 kubu, menjadi 2 poros yang jika ditelusuri lebih lanjut akan membawa spesifikasinya masing2 untuk diidentifikasi. Kecenderungan manusia memang selalu mengkotak-kotakkan apapun dalam hidupnya. Mengkotak-kotakkan kemudian memfilter agar yang masuk dalam kehidupan adalah hal yang paling sedikit kerugiaannya. Dan yang sering terlupakan adalah parameter kerugiaannya itu divalidasi hanya oleh dirinya sendiri. Kadang sering tidak adanya system control yang menjaga kevalidan kadar rugi menurut orang lain atau mungkin sebenarnya kerugian massal. Dan buat saya itu adalah kefatalan yang baru saya lakukan. Bahkan saat saya merasa melakukan itu semua demi kebahagiaan orang lain dan saya memilih mendikotomikan jalan saya agar tetap ada bahagia, walaupun semu bagi saya, dan itu berarti saya mengkhianati hati dan harga diri saya. Tapi itu pilihan yang saya ambil. Ya. Saya memilihnya. Dan ternyata identifikasi dikotomi saya salah besar!! Dan namanya pilihan selalu berjodoh dengan yang namanya konsekuensi. Dan konsekuensi yang saya hadapi saat ini, apapun itu, akan benar-benar saya hadapi. Akan benar-benar saya selesaikan. Akan benar-benar saya cari solusinya! Dan kan benar2 saya konkretisasi!! *sekali lagi, ingat kata2mu ini!!!*

Dan tidak ada lagi pembenaran bahwa ini dilakukan demi membahagiakan orang yang disayang hingga pasrah terhadap semua keadaan. Yeah. I was loose my mind! Sebenarnya karena saya takut kehilangan. Saya takut kehilangan kamu. Saya takut kehilangan ini. Saya takut kehilangan itu. Saya takut kehilangan semua yang sudah saya perjuangkan. Saya takut kehilangan semua kenyamanan. Saya takut kehilangan kesenangan. Saya cuman takut kehilangan kenyamanan. Padahal sebenarnya kita tak perlu takut kehilangan sesuatu yang secara hakiki memang bukan miik kita. Jadi sebenarnya apa yang kamu takutkan??! See?!! Nothing!!! Sebenarnya kamu cuman takut untuk kehilangan. Oh betapa terbutakannya saya. Padahal kalau saja disadari, kapan kenyamanan itu muncul? Apakah saat kamu meminta suatu kenyamanan lalu tiba2 dengan sekali kedip keadaan berubah sesuai definisi nyamanmu itu? Bahkan dalam sejarah hidupmu kapan kenyamanan itu kau dapatkan???saat kau merengek pada orang tuamu kah? Bukan kan (bahkan orang tuamu tak pernah mengajarkan kau untuk selemah ini)?! Tapi saat kau mengusahakan kenyamananmu itu sendiri. Saat kau berusaha mewujudkan bahagiamu sendiri. Saat kau bermanfaat bagi sekitarmu. Saat kau mensyukuri semua bagian hidupmu. Bukankah itu kenyamanan menurut definisimu sendiri yang sudah kau sepakati dengan hatimu setidaknya sampai saat ini?!

Dan kenyataannya ada kelemahan yang terjadi. Saat kau berucap tidak suka, kau menjauhinya dan memilih untuk meninggalkan sejauh2nya. Padahal bukankah kau pernah diajari kata2 bijak dari Alquran bahwa boleh jadi kau membenci sesuatu padahal hai itu baik bagimu , dan boleh jadi sesuatu yang kau sukai membawa kebinasaan bagimu. Jadi hadapi dulu, resapi dulu, pikirkan baik2 dulu. Jangan langsung pasrah dan menyerah begitu saja ika fitria!!!

confession#1

mengabdi kepada masyarakat

itu pasti

itu kewajiban

mengabdi sebagai ahli farmasi

itu belum pasti

itu pilihan

terkadang…

Aku ingin menghilang

Barang sejenak atau dua jenak

Menghilang terbang

Menguap hilang

Bersama debu bintang

Bukan berarti aku pecundang

Karena sebenarnya aku sedang merasa sangat tertantang


Aku seperti sedang menangisi suatu kepergian sebelum kepulangan



051009

dan hujan belum berhenti sampai malam ini

dalam heningku

aku mulai meragu

Tuhan…

kumohon bimbing dan yakinkan hati ini

karena aku yakin

hati ini tak kan pernah mengkhianati tuannya sendiri

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai