Dilema AI: Probabilitas vs. Determinisme dalam Pengembangan Software

Kemungkinan yang Hidup di Antara Kepastian

Beberapa tahun lalu, kalau ada bug aneh di production, kita biasanya tahu harus menatap ke mana.
Ke commit terakhir. Ke log yang mencurigakan. Ke asumsi yang ternyata hanya hidup di kepala pembuatnya.

Singkatnya: ke manusia.

Hari ini, ceritanya sedikit berubah. Ada satu “anggota tim” baru yang sering ikut duduk di ruangan itu. Diam. Rapi. Jarang salah sintaks. Namanya AI.

Menariknya, AI hampir tidak pernah terlihat salah. Kodenya bersih. Komentarnya masuk akal. Penjelasannya meyakinkan. Kadang malah terdengar lebih yakin daripada developer yang membacanya. Dan justru di situlah dilema itu mulai terasa.

AI tidak pernah ragu.
Padahal, dalam engineering, sedikit ragu sering kali adalah tanda kedewasaan.


Contoh Nyata: Fitur yang Jalan, Tapi Tidak Masuk Akal

Saya ingat satu fitur yang secara teknis nyaris sempurna.
Semua unit test hijau. Tidak ada error. Tidak ada alarm. Monitoring tenang.

Fitur itu dibuat dengan bantuan AI: validasi input, alur logika, bahkan komentar kodenya terlihat “rapi dan profesional”. Tapi setelah beberapa minggu dipakai, ada pola aneh. Sistem tidak rusak, tapi keputusan-keputusan kecil yang diambilnya terasa tidak selaras dengan cara bisnis sebenarnya berjalan.

Misalnya, AI menyederhanakan sebuah query karena terlihat terlalu panjang dan “redundant”. Secara logika umum, perubahan itu masuk akal. Query jadi lebih ringkas, lebih cepat, dan tetap lolos semua test. Masalahnya, satu kondisi kecil ikut hilang: pembatas data per tenant.

Tidak ada error. Tidak ada warning. Tapi perlahan, data milik satu pelanggan mulai bisa terbaca oleh pelanggan lain. Bukan karena bug klasik, tapi karena AI menganggap aturan itu tidak penting—karena ia hanya melihat pola, bukan konteks bisnis yang tidak pernah tertulis. Ada yang bilang sistem buatan AI bekerja untuk 10 data pertama, data berikutnya akan menunjukkan sisi sebenarnya. Tapi…

AI tidak tahu.
Ia hanya melihat pola.

Secara statistik masuk akal.
Secara sistem, tidak waras.


Halusinasi AI dan Dunia Probabilitas

Di titik itu saya mulai memahami sesuatu yang penting: halusinasi AI bukan bug. Ia adalah sifat dasar.

AI bekerja di dunia probabilitas—dunia kemungkinan. Artinya, ia tidak pernah benar-benar “tahu”. Ia memperkirakan. Ia memilih jawaban yang paling mungkin benar berdasarkan pola yang pernah ia lihat.

Ini bukan hal buruk. Justru di situlah kekuatannya.

Tapi penting untuk disadari: paling mungkin benar bukanlah pasti benar.

Dan perbedaan kecil itu menjadi masalah besar ketika AI dipakai di tempat yang menuntut kepastian.


Dunia Deterministik yang Kita Bangun Selama Ini

Sebagian besar software yang kita bangun hidup di dunia deterministik.
Sedikit istilah, tapi sederhana maknanya: input yang sama harus menghasilkan output yang sama, kapan pun dijalankan.

Sistem pembayaran bekerja seperti ini.
Sistem otorisasi bekerja seperti ini.
Audit dan laporan keuangan hanya mengenal dunia ini.

Rekening bank tidak boleh berubah karena sistem hari ini “merasa” transaksinya masuk akal. Sistem izin akses tidak boleh longgar hanya karena model menilai risikonya kecil. Audit tidak mengenal istilah hampir benar.

Sekali saja meleset, dampaknya bukan sekadar bug. Bisa jadi insiden. Bisa jadi masalah hukum.

Dan di sinilah konflik itu muncul: probabilitas bertemu determinisme.


Vibecoding dan Ilusi Kendali

Benturan ini makin terasa sejak muncul budaya vibecoding. Menulis prompt dengan rasa percaya. Menjelaskan maksud, lalu berharap sistem menangkap niat kita.

Awalnya terasa seperti sihir. Fitur cepat jadi. Produktivitas melonjak. Tapi pelan-pelan muncul pertanyaan yang lebih penting: siapa yang sebenarnya memegang kendali?

Saya pernah melihat vibecoding dipakai untuk membangun workflow bisnis penuh—approval, validasi, bahkan perubahan data sensitif. Secara teknis, tidak ada yang salah. Semua berjalan.

Sampai seseorang bertanya:
“Kalau AI salah menafsirkan satu aturan, siapa yang bertanggung jawab?”

Pertanyaan itu tidak dijawab dengan cepat. Dan itu sudah cukup jadi sinyal.


Masalahnya Bukan AI, Tapi Perannya

Masalahnya bukan pada AI. Dan bukan juga pada vibecoding. Masalahnya ada pada peran.

Kita sering lupa bahwa probabilitas dan determinisme berasal dari dua dunia yang berbeda. Yang satu cair, adaptif, penuh kemungkinan. Yang lain kaku, membosankan, tapi bisa dipercaya.

Sistem deterministik memang tidak kreatif. Tapi justru karena itu ia bisa diaudit, dijelaskan, dan dipertanggungjawabkan.

AI tidak hidup di dunia itu.


Ketika Probabilitas Menghadapi Akuntabilitas

Probabilitas adalah musuh alami akuntabilitas.

Ketika sebuah sistem ditanya, “kenapa hasilnya seperti ini?”, sistem deterministik bisa menunjuk aturan. Sistem probabilistik hanya bisa berkata, “karena model menilai ini paling mungkin.”

Jawaban yang terdengar cerdas, tapi tidak pernah benar-benar memuaskan.

Di sinilah arsitektur seharusnya berperan sebagai orang dewasa di ruangan itu.


AI sebagai Penasihat, Bukan Hakim

AI yang matang tidak duduk di kursi hakim. Ia duduk di bangku penasihat. Ia boleh memberi saran, membuka kemungkinan, dan menunjukkan pola yang tidak terlihat.

Tapi palu keputusan harus dipegang oleh sesuatu yang kaku: aturan eksplisit, validasi deterministik, atau manusia yang siap bertanggung jawab.

Sejak itu, saya mulai memegang satu prinsip sederhana: semua output AI diperlakukan seperti input dari user anonim. Tidak dipercaya secara default. Harus divalidasi. Harus bisa ditolak.

Pendekatan ini memang tidak se-seksi demo AI di media sosial. Tapi justru di situlah letak kedewasaannya.


Penutup: Pertanyaan untuk Kamu yang Membangun Sistem

Menariknya, semakin jelas batas peran ini, AI justru semakin berguna. Ia berhenti menjadi sumber risiko, dan mulai menjadi sumber leverage. Ia mempercepat hal yang tepat, tanpa mengaburkan tanggung jawab.

Di era ketika semua orang bisa menulis kode dengan bantuan AI, nilai seorang engineer tidak lagi diukur dari seberapa cepat ia mengetik. Nilainya ada pada kejelasan berpikir. Pada kemampuan membedakan mana yang boleh spekulatif, dan mana yang harus mutlak.

Maka mungkin pertanyaannya bukan lagi “seberapa pintar AI yang kamu pakai?”, tapi:

  • Di sistem yang kamu bangun sekarang, di mana AI ditempatkan?
  • Apakah ia hanya memberi saran, atau diam-diam sudah mengambil keputusan?
  • Jika besok ada audit atau insiden, apakah kamu bisa menjelaskan setiap keputusan sistem tanpa berkata, “karena AI bilang begitu”?

Kalau pertanyaan-pertanyaan itu terasa tidak nyaman, mungkin bukan AI-nya yang perlu dikurangi.
Mungkin batasnya yang perlu diperjelas.

Dan di situlah, biasanya, arsitektur yang dewasa mulai lahir.

Memahami Cara Kerja Memori ChatGPT: Token, Konteks, dan Optimasi

“Sebenarnya seberapa besar memori ChatGPT dalam satu sesi percakapan?”

Banyak pengguna ChatGPT sering bertanya: “Sebenarnya seberapa besar memori ChatGPT dalam satu sesi percakapan?” atau “Bagaimana cara menghitung token yang dipakai saat ngobrol?”. Artikel ini akan membahas tuntas bagaimana sistem ini bekerja, perbedaan kapasitas antara versi gratis dan premium, serta strategi praktis untuk mengoptimalkan penggunaannya.


Apa Itu Token?

ChatGPT tidak menghitung teks dalam bentuk karakter atau kilobyte seperti komputer biasa. Ia menggunakan satuan bernama token.

  • Token = potongan kata atau bagian dari kata.
  • Contoh:
    • "Halo dunia!" → 3 token (Halodunia!)
    • "Programmer Laravel suka coding" → 5 token

Rata-rata:

  • Bahasa Inggris → 1 kata ≈ 1 token
  • Bahasa Indonesia → 1 kata ≈ 1,2 token (karena kata cenderung lebih panjang)

Kapasitas Memori Berdasarkan Model

GPT-5 (Premium)

  • 128k token ≈ 100.000 kata ≈ 300–400 halaman teks.
  • Cocok untuk proyek besar: analisis dokumen, kode ribuan baris, atau laporan panjang.

GPT-4o mini (Free)

  • 32k token ≈ 24.000 kata ≈ 50 halaman teks.
  • Cukup untuk artikel panjang, diskusi teknis, atau kode beberapa file besar.

🔑 Mekanisme sama di kedua model:

  • Setiap kali kamu mengirim pesan, semua percakapan sebelumnya + instruksi awal + pesan baru dihitung ulang dalam token.
  • Kalau sudah melewati batas, bagian awal percakapan otomatis terhapus (sliding window).

Bagaimana Token Dihitung?

Bayangkan percakapan sederhana:

  1. Kamu: “Halo” (1 token)
  2. ChatGPT: “Hai, apa kabar?” (4 token)
  3. Kamu: “Baik, tolong jelaskan closure di Rust” (8 token)

➡️ Saat ChatGPT menjawab poin ke-3, sistem menghitung ulang:

  • Input total = 1 + 4 + 8 = 13 token
  • Output (jawaban ChatGPT) misalnya 150 token
  • Total terpakai = 163 token

Optimasi Pemakaian Model Gratis (32k Token)

Agar lebih efisien, ada beberapa tips:

  1. Ringkas pesan panjang
    • Potong data besar jadi poin-poin inti (chunking).
  2. Pisahkan data dan instruksi
    • Kirim data mentah dulu, lalu instruksi di pesan berikutnya.
  3. Gunakan prompt singkat & jelas
    • Hindari kalimat panjang bertele-tele.
  4. Reset sesi bila terlalu panjang
    • Mulai sesi baru dengan membawa ringkasan diskusi sebelumnya.
  5. Gunakan tabel atau bullet point
    • Lebih hemat token & lebih mudah diproses.
  6. Simpan data mentah di luar
    • Gunakan link (Google Docs, GitHub, dsb.) dan beri instruksi spesifik.

Tambahan Detail Penting

  1. Token vs Karakter
    • 1 token rata-rata = 3–4 karakter teks.
    • Jadi 1.000 karakter (±150–200 kata) ≈ 250–300 token.
  2. Menghitung Token Sendiri
    • Gunakan OpenAI Tokenizer.
    • Atau library seperti tiktoken (Python), gpt-tokenizer (JavaScript).
  3. Token untuk Kode
    • 500 baris kode ≈ 2.000–3.000 token.
    • Dalam satu sesi 32k token, bisa muat puluhan file kode sedang.
  4. RAG (Retrieval-Augmented Generation)
    • Kalau data sangat besar (misalnya ribuan halaman), gunakan RAG: data disimpan di luar, lalu diambil per bagian sesuai kebutuhan.
    • Ini menghemat token dan tetap memungkinkan ChatGPT mengakses pengetahuan luas.

Penutup

Memahami konsep token adalah kunci agar penggunaan ChatGPT lebih efektif.

  • GPT-5 (128k) → untuk proyek serius, memuat buku tebal sekaligus.
  • Free Model (32k) → sudah cukup besar, tapi perlu optimasi agar tidak cepat penuh.

Dengan teknik ringkasan, pemisahan instruksi, dan manajemen token yang cerdas, bahkan model gratis pun bisa dimanfaatkan secara maksimal.


👉 Jadi, lain kali sebelum menempelkan teks panjang, cek dulu jumlah token-nya. Dengan begitu, percakapan tetap efisien dan kamu tidak kehilangan konteks penting di tengah jalan.

Kau Tahu Kan?

Kau tahu kan,
Rizkimu tak akan pernah tertukar?
Lalu, mengapa gelisah?

Kau tahu kan,
Orang lain takkan mengerjakan amalmu?
Lalu, mengapa tak sibuk dengannya?

Kau tahu kan,
Kematian akan datang tiba-tiba?
Lalu, mengapa tak mempersiapkan?

Kau tahu itu, kan?
Kau tahu itu!!

Empat Balik (Kontemporer 2)

Yang menawar akan ditawan
Yang ditawan akan menawar
Yang menawan akan ditawar
Yang ditawar tentu menawan

Yang diinjak telah melawan
Yang melawan telah diinjak
Yang menginjak telah dilawan
Yang dilawan kini balik menginjak

Yang tertawa telah ditipu
Yang ditipu malah tertawa
Yang tertipu kini ditertawakan
Yang ditertawakan kini balik menipu

Yang dholim kini minta keadilan
Yang minta keadilan kini didholimi
Balik lagi
Kita terus begini

2 Dini Hari

Aku tak bisa tidur dan masih berbincang dengan pikiranku sendiri. Dalam hidup terkadang lebih mudah melempar senyum daripada menjelaskan mengapa bersedih. Jika ada yang mampu masuk ke pintu hatimu, apa yang ingin ditunjukkan tak perlu lagi dijelaskan. Dan yang tak sampai mengetuknya, mereka hanya mendapatkan dugaan.

Kita semua punya makna. Dan rahasia adalah malam yang menolak diterangi. Jika ada yang menyalakan pijar, maka kamu harus menutup matamu sendiri.

Jam 2 pagi, aku masih butuh kopi segelas lagi.
20 Feb 2019

Bertanya Tentang Manusia

Ketika aku bertanya tentang manusia, kau melihat warna-warni yang tak ingin disamakan. BerEgo ingin memperbaiki negeri, tapi menolak memperbaiki diri.

Ketika kau bertanya tentang manusia, aku melihat nasib kita. Terjebak hidup di bumi dengan jangkauan lengan yang pendek dan harapan yang panjang.

Pada akhirnya kita mengenal manusia sebagaimana adanya. Bagaimana pun juga, manusialah yang membuat penjara, tetapi manusia juga menjadi penghuninya.

20 Feb 2019

@mesbach #sajakjaiz

Sejalan Satu

Aku tak mernah menjadi diriku sendiri selama beberapa waktu ini.
Darah di dalam tubuhku mengalir berat laksana merkuri. 
Kadang-kadang bergelora, membuatku lelah dan demam. 
Memisahkan kesadaran dan perasaraan.
Membuat tawar jalanan, sumbang sesuaraan, juga makanan dan seluruh tidur di setiap malam.

Aku bisa saja menangis dengan sebelah atau kedua mataku. 
Kegilaan dan kekacauan yang tak biasa diceritakan dengan tawa.
Juga kekacauan, dalam kedipan mata yang cepat, dan nafas yang lambat-lambat.
Seperti pengemis yang kelaparan, atau penenun yang kehabisan benang.

Aku bisa tertawa dengan sebagain atau seluruh kepura-puraanku.
Dan senyum adalah dinding benteng teguh.
Seperti langit yang berpura-pura biru, dan sekar malam yang bercahaya

Ada sesuatu yang lepas dari sela jemari.
Sesuatu yang tak kusadari, kini kucari.

@mesbach
#SajakJaiz

Peron Stasiun


Debur mesin kereta menusukku dari peron stasiun
Menjadi batas yang datang dan yang pulang
Yang tidak ada dan tidak kembali
Ada sesuatu yang terlepas dari jemari, lalu pergi
Jadi sedingin tugu, aku tahu.

Kau tahu, Hidup adalah upaya memahami
dan menyanggupi apa yang tidak kau kehendaki
Dan sekali ini aku menulis puisi untukmu di alam raya pada malam sepi
Lalu kubiarkan diriku bersulang sendiri


@mesbach
#SajakJaiz

Menjadi dan Memiliki

Kelelawar adalah spesies yang istimewa. Khususnya karena memiliki sistem ekolokasi yang sangat efisien. Kelelawar tidak menggunakan alat melainkan dikembangkan didalam diri mereka. Kasus seperti ini terjadi juga pada banyak binatang seperti Paus dan beberapa jenis Burung.

Hal ini berbeda dengan Manusia. Manusia memiliki gairah untuk menciptakan sesuatu, untuk memiliki sesuatu.

Ketika Manusia ingin menjadi Kaya, mereka terus berusaha memiliki banyak Harta dan tidak menjadikan diri sendiri Kaya dengan mengembangkan sifat Qonaah. Kasus seperti ini berakhir banyak harta dan hati yang merasa kurang dan terus berkekurangan.

Kasus yang lain adalah menjadi Pintar, mereka terus belajar dan mengumpulkan banyak informasi Namun sama sekali tidak menjadikan dia terpelajar. Ilmu dan pengetahuannya tidak menjadikannya terpelajar, melainkan untuk memenangkan keinginannya untuk mengalahkan orang lain, menyalahkan orang lain, mencari aib orang lain dsb. Orang yang banyak memiliki Ilmu namun sama sekali tidak menerangi hatinya.

Hal ini memunculkan sebuah pertanyaan yang bisa menjadi refleksi bersama.

Apakah kita sebagai manusia lebih peduli dengan “memiliki” daripada “menjadi”?

Kerja Akal

Akal bekerja sesuai dengan konsep kebenaran. Nafsu dan kepentingan pribadi menjadi penyebab akal terhijabi dari kebenaran dan memilih untuk terkurung dalam sesuatu yang tidak perlu.

Akal bekerja untuk menuntun kepada kebenaran, bukan pada subtansi materi, tapi pada konsep. Contohnya ketika akal menentukan aksioma 1+1 = 2. Satu kayu ditambah satu kaya hasilnya adalah dua kayu. Bukan berarti jika kayunya tidak ada, kemudian satu ditambah satu tidak sama dengan dua. Meskipun percobaan empirik yang dilakukan adalah penjumlahan materi satu kayu ditambah satu kayu.

Mungkin dan Tidak Mungkin
Mungkin dan tidak mungkin adalah konsep yang dimiliki oleh akal yang banyak terpengaruhi oleh kepentingan dan pengalaman. Banyak orang yang menentukan mungkin dan tidak mungkin berdasarkan pengalaman, dan bukan pada kebenaran. Contohnya, apakah mungkin orang mati hidup lagi? beberapa orang akan mengatakan tidak mungkin, sebab mereka tidak pernah menjumpai. Aneh, mereka hanya penonton tapi mengatakan tidak mungkin, padahal tidak memiliki peran/kemampuan dalam menghidupkan/mematikan.

Kadang manusia lancang mengatakan tidak mungkin seolah-olah dia berkuasa atas segala sesuatunya. Perhatikan konsep SPO berikut ini.

“Zilong membuat mobil”

Namun ketika mobil buatan zilong hancur, beberapa orang akan mengatakan mobil tersebut tidak akan bisa kembali seperti sedia kala. Orang tersebut mengatakan hal tsb karena orang tersebut tidak bisa memperbaiki dan parahnya mewakili peran sebagai pembuatnya.

Subjeknya adalah Zilong, Predikatnya adalah membuat, dan objeknya adalah mobil. Jika yang dimaksud mobilnya bisa kembali lagi seperti sedia kala tanpa subjek, maka hal tersebut tidak mungkin, tapi jangan lupakan Subjek yang menguasi objek tersebut.