Akhir-akhir ini, saya jarang sekali bisa membuat sebuah tulisan yang berkualitas. Itu sebabnya, saya melarang diri saya menulis di blog tentang hal-hal yang tak penting hanya demi blognya terlihat aktif. Setiap kali saya blogwalking, saya malu sekali dengan tulisan sahabat-sahabat lain -yang meskipun hanya berupa tulisan ringan- tapi tetap menambah wawasan atau sekedar menghibur dan membuat pembacanya tersenyum.
Hal-hal tak penting berupa curhat ge-je itu saya tulis di kertas, hanya untuk saya baca sendiri saja, bukan untuk dikonsumsi oleh publik. Jika sudah tak diperlukan, saya bisa membuangnya (karena kebanyakan curhat-curhat seperti itu nadanya negatif).
Tapi kali ini, saya tak tahan lagi, saya pengen curhat, huhuhu… Dan saya putuskan untuk ditulis di sini untuk melihat komentar para sahabat blogger saya tentang sikap saya yang seharusnya, atau mungkin sepantasnya.
Curhat ini berawal dari sebuah rumah kecil bercat biru…
Saya pernah menulis, bahwa pernikahan saya terhitung mendadak, karena kedua keluarga meminta kami untuk menyegerakan kehalalan hubungan itu sesuai ajaran agama (bukan berarti kami melakukan yang ga halal lho ya :D)
Di tengah kehebohan mempersiapkan segala sesuatunya (yang terasa sempit untuk sebuah perencanaan pernikahan), saya dan suami mendadak sadar bahwa kami memerlukan sebuah rumah. Ga lucu jika setelah menikah kami masih tinggal di kos yang berbeda bak mahasiswa 🙂
Jadi, kami mulai berburu kontrakan di beberapa daerah Jogja. Sayangnya, harga sewa rumah di daerah-daerah favorit kami yang strategis tidak terjangkau oleh kantong ‘dua mantan jomblo yang lupa nabung’, hehehe… Kami akhirnya memutuskan mencari di daerah Jl. Wonosari dengan pertimbangan harga yang lebih murah plus kantor stasiun tv lokal tempat kerja suami saya juga berada di situ.
Melalui sebuah iklan di koran, saya dan suami menemukan rumah bercat biru ini. Biasanya, saat saya memasuki sebuah rumah, ada feeling tertentu yang bisa saya rasakan jika rumah itu agak ‘bermasalah’. Hawanya akan terasa tidak enak. Tapi rumah ini tidak memberikan feeling apa-apa. Melihat ruang-ruangnya yang cukup bersih, saya setuju untuk mengontrak di situ. Selain saya sudah lelah mencari kesana-kemari, waktunya juga cukup mepet karena saya harus segera pulang ke Bandung, tak ada waktu lagi untuk mencari rumah idaman lain.
Mulai bermasalah saat kami meminta daya listrik dinaikkan dari 450 Watt ke 1300 Watt. Yang mengiklankan rumah ini ternyata bukan pemilik, melainkan seorang makelar yang tinggal di kompleks yang sama. Saat itu, suami saya meminta nomor kontak empunya rumah untuk meminta surat-surat berkaitan dengan kenaikan daya listrik itu, tapi ditolak oleh sang makelar. Katanya, biar semuanya dia yang urus. Kami tak usah repot-repot menghubungi pemilik rumah.
Saat itu, sempat suuzhan sih… Jangan-jangan harga sebenarnya dari pemilik rumah ga seperti kesepakatan kami dengan sang makelar. Tapi, daripada uang muka yang udah disetorkan hangus, kami pun menyerahkan urusan ini padanya. Dan akhirnya urusan listrik pun selesai.
Masalah lain, sebelum kami kontrak, rumah ini sebenarnya memang akan dijual. Dan inilah gangguannya…
Rupanya, makelar rumah di kompleks ini ternyata bukan hanya si ibu yang berurusan dengan kami. Yang saya tidak tahu, rumah ini ternyata tetap “dipasarkan” oleh beberapa tetangga di sini untuk dijual.
Saya terbengong-bengong ketika suatu siang, saat saya sedang demam, pintu rumah diketuk oleh beberapa orang. Makelarnya bilang mereka adalah calon pembeli rumah, jadi mau masuk lihat-lihat seisi rumah. Saya jelas merasa tidak nyaman memasukkan orang asing untuk melihat ke seluruh penjuru rumah saya, apalagi tanpa seizin suami. Saya sudah berusaha menolak dengan sopan, tapi mereka agak memaksa, “Sebentar saja, Mbak, ini sudah datang jauh-jauh ke sini…”.
Saya bahkan belum sempat menghubungi suami dan mereka sudah berada di dalam rumah. Saat tahu, suami marah dan berkata bahwa lain kali saya harus hati-hati. Memang hare gene, banyak sekali kejahatan dilakukan dengan cara tak terduga. Nah, yang menyebalkan, itu tidak hanya terjadi sekali saja, dengan makelar yang berbeda-beda pula. Kedatangannya juga selalu mendadak, tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
Sungguh, saya tahu menjual rumah itu tidak mudah. Dan saya juga tidak ingin menghalangi rezeki si pemilik rumah. Tapi, saya pikir, selama kami sudah melunasi kewajiban kontrak, kami juga berhak mendapatkan privasi di rumah ini kan? Tidak nyaman jika beberapa orang asing tiba-tiba datang ingin melihat-lihat seluruh sudut-sudut tempat tinggal kita. Dan akhirnya, meski mendapatkan wajah-wajah jutek, permintaan mendadak dangdut seperti ini selalu saya tolak.
Saya ingin sekali menghubungi si pemilik, menyatakan keberatan dengan hal ini. Tapi, saya takut beliau jadi tersinggung dan memutuskan kontrak sepihak (itu mungkin saja, kan?). Sedangkan untuk menyediakan sejumlah uang berjuta-juta rupiah untuk menyewa rumah lain, jelas kami belum mampu.
So, what should I do? Anyone?