Quote 4

31Mar08

Sebuah petikan syair dari Burdah Al Bushiri :

“Jangan kau tundukkan nafsumu dengan maksiat.
Sebab makanan justru perkuat nafsu si rakus pelahap.

Nafsu bagai bayi, bila kau biarkan akan tetap menyusu.
Bila kau sapih ia akan tinggalkan menyusu itu.

Maka kendalikan nafsumu, jangan biarkan ia berkuasa.
Jika kuasa ia akan membunuhmu dan membuatmu cela

Gembalakanlah ia, ia bagai ternak dalam amal budi.
Janganlah kau giring ke ladang yang ia sukai.

Kerap ia goda manusia dengan kelezatan yang mematikan.
Tanpa ia tahu racun justru ada dalam lezatnya makanan.

Kumohon ampunan Allah karena bicara tanpa berbuat.
Kusamakan itu dengan keturunan bagi orang mandul.”

(diambil dari sini)


Quote 3

19Mar08

Maka ketika kaya, sadarilah miskinmu. Tatkala menang, sadarilah kalahmu. Di waktu jaya, renungilah keterpurukanmu. Pada saat engkau hebat, ingat-ingatlah kemungkinan konyolmu (Emha Ainun Nadjib 2002)


Ketika bus yang mengantar saya kembali ke kota Jogjakarta melewati perempatan gejayan-ring road, sekilas saya melihat baliho promosi dari sebuah tempat  hiburan di jogja. Dalam baliho tersebut terpampang informasi sebuah acara dengan tajuk “In Bed with Bandung’s Model”. Jujur, dalam pikiran saya selintas ketika itu, timbul pertanyaan, inikah pertanda bahwa anak muda Jogja sekarang semakin permisif alias pergaulan yang lebih bebas semakin diterima dalam budaya hidupnya?. Continue reading ‘In Bed with Bandung’s Models’


Ayat-ayat Cinta

11Mar08

Lagi pengen nyari-nyari tulisannya Mustofa Bisri. Eh, malah nyantol di blognya mbak Helvy Tiana Rosa. Ternyata mbak Helvy lagi abis merayakan milad pernikahannya yang ke 13. Nah, beberapa tulisan terakhirnya di blog tersebut bertema nostalgia pernikahannya. Salah satunya berjudul Mahar.

Dalam tulisan Mahar itu, mbak Helvy menceritakan tentang seorang sahabatnya yang meminta tanggapan mbak Helvy untuk novelnya yang akan terbit. Novel yang juga akan menjadi mahar bagi pernikahan sahabat tersebut dengan wanita terkasihnya. Ternyata, sahabat mbak Helvy tadi adalah Habiburahman El Shirazy, si penulis Ayat-ayat Cinta. Jadi, novel Ayat-ayat Cinta adalah saksi bisu dalam perayaan cinta Habiburahman El Shirazy, sekaligus sebuah persembahan bagi sang terkasih untuk memulai sebuah fase kehidupan yang baru. Hmm..cukup romantis yah.

Jika Habiburahman El Shirazy dan Muyasarotun Sa’idah memulai biduknya berdua dengan Ayat-ayat Cinta, Kira -kira besok saya gimana ya waktu akan mempersunting mbak siapa gitu..:-)) ?? Jadi pengen berkhayal nih. Ada usul dari para pembaca ? tapi jangan ngusulin Ayat-ayat setannya kang Salman Rushdie ya…hehehehe


Quote 2

03Mar08

…Bosannya hidup bukan karena tak pernah dapatkan yang diinginkan, tapi karena tak pernah memberi ….


Lagi bingung pengen nulis tentang apa. Entah,kayaknya lagi pengen banget bulis, tapi pikiran serasa kosong. Padahal biasanya kejadian sehari-hari di sekitar lingkungan saya jadi sumber inspirasi buat nulis. Makanya tulisan kali ini gak usah serius-serius amat. Maklum, otak ini rasanya lagi males buat mikir njlimet n mbulet. Kita penyegaran dulu. Nah, sekarang, saya akan cerita tempet makan enak hasil wisata kuliner saya beberapa hari ini. Continue reading ‘Bakmi Jawa dan Nasi Kalong’


Selain dampak perubahan iklim, bencana alam yang terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia juga akibat kelalaian manusia. Manusia cenderung hanya mengambil keuntungan dari alam tanpa mau melestarikannya. Akibatnya daya dukung lingkungan lemah dan bumi pun menjadi rawan bencana (Kompas, 30 Desember 2007)

Continue reading ‘Memilih Untuk Kolaps’


Pada suatu pagi, di sebuah rumah di Jalan Aceh, kota Bandung, terjadi sebuah diskusi menarik tentang prioritas pengajaran agama kepada anak kecil. Saya yang merujuk dari pernyataan di kitab Ta’lim Muta’alim bahwa ilmu yang paling utama adalah ilmu yang berkaitan  dengan (kewajiban) diri sendiri mengutarakan pendapat untuk mengajarkan agama oleh orang tua kepada anak prioritas pertama adalah mengajarkan mengenai ibadah wajib yang harus dilakukannya. Sedangkan seorang teman berpendapat bahwa seharusnya pengajaran dilakukan dengan menyampaikan nilai-nilai fundamental terlebih dahulu, mulai dari masalah keyakinan hingga nilai-nilai spiritual yang lain, baru kemudian dimunculkan kesadaran melaksanakan ibadah ritual sesuai nilai-nilai tadi. Sebenarnya, menurut saya, kedua pendapat kami memiliki kesamaan sccara substansi dan pada akhirnya akan bermuara pada tujuan yang sama yaitu pemahaman agama secara integral pada diri anak tadi. Perbedaannya hanya pada masalah teknis mengenai prioritas dan cara penyampaian. Continue reading ‘Pendidikan Keluarga’


Guru

07Dec07

Aku menjadi hamba seorang yang telah mengajarku walaupun satu huruf (Imam Ali r.a,. dikutip dari kitab Ta’lim Muta’alim, fasal IV)

Continue reading ‘Guru’


Malin Kundang

07Dec07

Setelah menjadi saudagar kaya raya, si Malin tak mau mengakui sang ibunda yang miskin papa. Berbohong pula ia pada istrinya, anak saudagar kaya nan terpandang, bahwa wanita tua tak berpunya dihadapannya bukanlah ibu yang mengandung dan mengasuhnya. Akhirnya terkutuklah Malin menjadi batu beserta kapal dagang kebanggaannya. Dingin dan membatu diterpa ombak lautan sepanjang masa, sebagai pelajaran bagi manusia. Continue reading ‘Malin Kundang’




Design a site like this with WordPress.com
Get started