Hari ini kita akan mendiskusikan ttg boarding school. Bagi yang blm tau, boarding school adalah sekolah berasrama, dimana anak tinggal dan hidup di sekolah. Kalau ‘versi islamnya’, seperti pesantren lah. tapi ini BUKAN tentang pesantren. tenang saja.
Diskusi kali ini saya bayangkan akan sangat menarik (baca: kontroversial). jauh sebelum menuliskannya, saya kebayang betapa banyaknya pihak yang kontra (dg apa yg saya tulis), dan dengan semangat ber-api2 mengemukakan ketidaksetujuannya. Tp gk papa. krn utk yang bisa melihat lebih ‘dalam’, akan bisa memahami bahwa saya tidak pro/kontra terhadap boarding schoolnya, sama sekali, tp lebih fokus ke pengasuhan anaknya.
Sebelum saya mulai, saya ingin menceritakan ttg prolog nya. Seorang ibu meminta agar saya menuliskan ttg boarding school krn bliau sdh menitipkan anaknya di salah satunya. Saya jawab, saya tdk begitu pro dg dg itu, nanti kalau saya buat tulisannya, ibu tdk akan sanggup membaca sesuatu yang bertolak belakang dengan apa yg sdh ibu kerjakan. pendek cerita, ibu itu menyanggupi apapun yg saya akan katakan ttg masalahnya, dan mengizinkan saya men-sharenya dengan teman2 smua. Kebetulan banyaaaaak skali yang minta inputnya ttg boarding school, semoga jawaban saya akan skalian menjawab pertanyaan serupa.
Warning: surat nya panjang dan ‘keras’, jika tidak kuat mental, saya sarankan jgn membaca. ini opini pribadi penulis, tanpa bermaksud utk meng’kambing hitam’kan instansi manapun. murni menjawab surat ibu yang bertanya. dan Alhamdulillah ibu tersebut terbantu. Saya meng’edit’ bbrp bagian dari surat beliau utk meng-anonimkan bbrp hal dan juga surat saya, agar bisa menjawab pertanyaan2 yg masuk lainnya..
SIAP?
pertanyaan:
Assalamualaikum bunda, langsung saja ya bunda, saya memasukan anak saya ke salah satu boarding school setamat dia SD.Pada saat itu saya berfikir itulah tempat yang paling baik untuk anak saya setelah melihat kenakalan anak2 pada saat ini. Mengingat saya dan suami bekerja. Kami masih tinggal bersama orang tua (mama saya). Menurut saya anak saya sangat manja karena dia baru punya adik setelah berumur 8 tahun ditambah anak pertama saya itu merupakan cucu pertama ibu saya. Kelakuannya benar2 membuat saya khawatir karena makan masih disuapi (oleh mba atau mama saya) mandi dimandikan sampai kelas 6 oleh mba atau suami saya. Padahal saya sudah bilang kalau sesuatu yang bisa kakak lakukan sendiri tolong dilakukan sendiri. Tapi lagi2 nenek selalu menjadi tempat berlindungnya, apa yang bunda tidak kasih nenek pasti kasih. Ini yang membuat dia menjadi manja (mungkin).
Melihat kejadian ini saya dan suami berfikir untuk memasukan anak saya ke boarding school. Akhirnya kami mencari-cari boarding school yang cocok sampai akhirnya kami menemukan sekolah tempat anak saya sekarang ini. Menurut kami kami sekolah ini cocok untuk anak kami karena dikelola oleh salah satu pakar parenting favorit saya. Beliau memberikan pembelajaran tentang karakter building anak setiap bulan sekali.
Dalam perjalanan, management sekolah berubah dan sang pakar pun tidak lagi mengisi materi karakter building disana, saya sempat khawatir dengan perjalanan sekolah ini, tapi Alhamdulillah semua berjalan baik.
Kembali ke masalah anak saya pada awal masuk asrama sampai 4 bulan kemaren, setiap saya pulang menengoknya (kami menjenguk anak kami seminggu sekali) dia selalu menangis dan ingin pulang, dia selalu bertanya kenapa saya dimasukan ke sekolah ini (berasrama). Awalnyapun saya sempet nangis saat meninggalkannya, sampai akhirnya saya berkonsultasi dengan wali asrama anak saya, Menurutnya ini masalah yang umum terjadi, bila anak dapat melewati 3 bulan fase kritis Insya Allah anak akan baik2 saja. Untuk itu perlu kerjasama dari orang tua dan guru2 agar anak dapat melewati masa ini. Oh iya saya menjawab pertanyaan anak saya begini, ” Bunda ingin kamu menjadi anak yang lebih baik dari yang sebelumnya, untuk itu bunda berikhtiar dengan memasukan kakak ke sekolah ini. Dengan mengambil contoh Rasullullah yang berhijrah dulu untuk menjadi rasul. Semoga kakak dapat memahami maksud bunda.”
Berjalannya waktu Alhamdulillah sejak minggu ke 2 November anak saya sudah tidak menangis lagi dan dia sudah mulai enjoy dengan kehidupan di asrama. Tapi kemabli saya dibuat khawatir dengan nilai UTS yang di email oleh pihak sekolah. Semua nilai pelajaran anak saya dibawah standar minimal KBM. Selama ini saya selalu membimbing anak saya dalam belajar, walaupun hasilnya tidak sempurna tapi nilainya tidak pernah dibawah KBM. Waaalaah kembali saya berkonsultasi denga pihak sekolah dan menurut mereka hal ini lumrah terjadi bunda karena anak sedang mengalami suasana baru dimana dia sedang berada diluar zona nyaman mereka (rumah). Menurut mereka anak saya anak yang cepat dalam menangkap pelajaran (menurut saya juga begitu) jadi kita lihat hasilnya pada saat semester nanti, mudah2an ada perbaikan.
Saya sebai orang tua menginginkan yang terbaik untuk anak saya, tetapi apakah cara yang saya lakukan benar, apakah saya telah “menyiksa” anak saya dengan memasukan dia ke boarding school. Mohon bantuan dari bunda untuk memberikan pandangan bunda tentang boarding school.
Atas perhatian bunda saya ucapkan terima kasih.
Jawaban:
Wa’alaikumussalam ibu,
Biar ‘masalahnya’ urut, saya pake nomer aja ya jawabnya. saya jawab 1-1 (krn mnrt saya masalahnya bkn cm boarding school), jadi saya akan meng copas bbrp kalimat dari surat ibu.jawaban saya akan saya bold-kan, agar ibu bs lbh mudah membedakannya. saya harus wanti2 bahwa jwbn saya mungkin tidak seperti yang ibu harapkan. kalau sekiranya di tulisan saya nanti ada yg tdk cocok, menyinggung, atau lainnya, saya mohon maaf dari sekarang. saya mengambil semua konsekuensi atas perkataan saya dan saya ingin ibu tahu bahwa saya hanya ingin membantu ibu mencari akar masalah dan solusinya kedepan, utk ibu dan anak ibu. gitu ya? kita mulai?
1. Pada saat itu saya berfikir itulah tempat yang paling baik untuk anak saya setelah melihat kenakalan anak2 pada saat ini. –>tempat yang paling baik utk anak ibu adalah dekat ibunya, dimana ibu bisa membimbingnya dan mendidiknya dengan sebaik mungkin, TERUTAMA setelah melihat kenakalan anak2 pada saat ini. ibu harus tahu bahwa anak2 yang masuk boarding school tdk semuanya anak dr kluarga ‘sehat’, ada jg dari mereka yang tdk sanggup lagi ‘mengatasi’ anaknya. mereka datang dari beragam tipe rumah tangga, tipe orangtua, tipe pengasuhan dan membawa ‘segerembeng’ masalah yang di harapkan di betulkan disana. padahal tdk semua masalah tersebut bisa di tangani oleh guru yang ada. Sementara ‘kejelekan’ yang di bawa oleh anak2 itu, bisa berdampak buruk utk anak yang baik2. Allah telah menitipkan dan mempercayai bahwa IBULAH tempat terbaik dimana anak ibu (titipanNya) berada. kok di pindahtangankan total bu?
2. Mengingat saya dan suami bekerja. –> disinilah saya rasa terletak kuncinya. kalau ibu ada di rumah, ibu bisa lebih mengatur agar anak sulung ibu tdk menjadi manja, dia tdk perlu menggunakan neneknya sebagai penolong, dan seterusnya. ini di mulai karena ibu tdk ada utk bisa lebih ‘mencegah’ hal itu terjadi, smua yg lainnya hanya domino effect. nanti saya jelaskan 1-1.
3. Kami masih tinggal bersama orang tua (mama saya). Menurut saya anak saya sangat manja karena dia baru punya adik setelah berumur 8 tahun ditambah anak pertama saya itu merupakan cucu pertama ibu saya. Kelakuannya benar2 membuat saya khawatir karena makan masih disuapi (oleh mba atau mama saya) mandi dimandikan sampai kelas 6 oleh mba atau suami saya. –> maaf, jadi mnrt ibu, kenapa ya anak ibu bisa jadi manja? apakah salah neneknya? mbaknya? ibu atau ayahnya? atau dia?
4. Padahal saya sudah bilang kalau sesuatu yang bisa kakak lakukan sendiri tolong dilakukan sendiri. Tapi lagi2 nenek selalu menjadi tempat berlindungnya, apa yang bunda tidak kasi nenek pasti kasi. Ini yang membuat dia menjadi manja (mungkin).–> oh bukan mungkin lagi, tapi PASTI itu lah sebabnya. kenapa itu bisa menjadi sebab, krn ibu tdk ada di rmh utk terus menerus memberlakukan ‘peraturan’ (misalnya tdk boleh disuapi, dimandikan,dll) dan melakukan pendisiplinan (konsistensi) yang baik. ibu tdk ada di rmh utk mengajarkannya bahwa peraturan ibu lah yang SELALU akan berlaku, BUKAN peraturan nenek. ibu tdk di rmh utk slalu mengingatkan neneknya bahwa peraturan yang bliau buat sdh berlaku untuk ibu saat ibu tumbuh besar dulu. kali ini peraturan ibu lah yang berlaku utk anak ibu. tidak bisa lah cm dengan dibilang doang lantas dia lakukan. kalau semua yang kita katakan pada anak kita, langsung di kerjakan, gk ada deh ibu yg cerewet. lagipula, yg ibu ‘bilang’ itu gk enak. siapa jg gk mau makan dan mandi sndiri, kl ada yg (dengan senang hati) nyuapin dan mandiin? knapa mandiri (dan mengajarkan kemandirian) itu susah? krn belajar mandiri itu gk enak.
5. Melihat kejadian ini saya dan suami berfikir untuk memasukan anak saya ke boarding school. Akhirnya kami mencari-cari boarding school yang cocok sampai akhirnya kami menemukan sekolah tempat anak saya sekarang ini. –> melihat kejadian itu seharusnya ibu berpikir bagaimana cara IBU menyelesaikan masalahnya, bukan mencari cara agar ORANG LAIN yg melakukannya. apalagi dengan ‘melempar’ anak itu ke tempat orang lain tsb. itu kan namanya mengalihkan tanggung jawab yang allah berikan kepada ibu ke orang lain. Anak itu bukan mobil bu, yang bisa ibu ‘taro’ di ‘bengkel’, ‘montir’ yang ‘ngerapihin’, ibu tinggal cari uang dan bayar, kluar dr bengkel, diharapkan semuanya sdh oke. bengkel mobil aja bu, honda pny bengkel sendiri, suzuki sendiri, daihatsu sendiri. ahlinya beda2 krn mesinnya beda2 dan masalah beda2. lah ini tumplek blek di tempat yg sama, keluarnya di harapkan oke? montirnya hebat amat.
6. Menurut kami kami sekolah ini cocok untuk anak kami karena dikelola oleh salah satu pakar parenting favorit saya. Beliau memberikan pembelajaran tentang karakter building anak setiap bulan sekali.–> SEBULAN SEKALI? karakter building itu dilakukan seharusnya PULUHAN KALI SEHARI, berbeda2 pada tiap anak, sesuai dengan kebutuhannya. namanya jg karakter building. karakter anak beda2 toh bu? nah, dimana di cari boarding school yang melakukan character building puluhan kali sehari? tidak ada dibelahan dunia manapun. kenapa? bukan tugas mereka utk melakukannya. tugas siapa? perempuan dan laki2 dari masing2 anak yang allah titipkan pada mereka.
7. Dalam perjalanan management sekolah berubah dan sang pakar pun tidak lagi mengisi materi karakter building disana, saya sempat khawatir dengan perjalanan sekolah ini, tapi Alhamdulillah semua berjalan baik.–> scr kasat mata..
8. Kembali ke masalah anak saya pada awal masuk asrama sampai 4 bulan kemaren, setiap saya pulang menengoknya (kami menjenguk anak kami seminggu sekali) dia selalu menangis dan ingin pulang, dia selalu bertanya kenapa saya dimasukan ke sekolah ini (berasrama).–> kasihannyaaaa anak ibu. ‘dihukum’ atas kesalahan yg tidak dia lakukan :”(
9. Awalnyapun saya sempet nangis saat meninggalkannya, sampai akhirnya saya berkonsultasi dengan wali asrama anak saya, Menurutnya ini masalah yang umum terjadi, bila anak dapat melewati 3 bulan fase kritis Insya Allah anak akan baik2 saja. Untuk itu perlu kerjasama dari orang tua dan guru2 agar anak dapat melewati masa ini. –> sayang sekali ibu tidak mengikuti nurani. padahal menangis adalah cara allah memberitahu / menandakan ada sesuatu yg salah kan ya bu? bahwa ada yang tidak benar, bahwa ada yang menyedihkan. tentunya kalau pilihan ini benar, ibu tidak akan menangis dong kan ya? tentunyaaaaa wali asrama anak ibu akan berkata demikian. kalau dia jawabnya spt kalau saya yg jadi wali: “ya sdh bu, ambil saja anak ibu kembali, didik yg lbh baik di rmh, yang penting dia bahagia, bukannya itu yang diinginkan semua orangtua? anak yg bahagia, ya kan bu?” ya kalo dia bilang bgitu ke semua ibu2 yg anaknya nangis2, ya boarding schoolnya kosong lah buu 🙂
10. Oh iya saya menjawab pertanyaan anak saya begini, ” Bunda ingin kamu menjadi anak yang lebih baik dari yang sebelumnya, untuk itu bunda berikhtiar dengan memasukan kakak ke sekolah ini. Dengan mengambil contoh Rasullullah yang berhijrah dulu untuk menjadi rasul. Semoga kakak dapat memahami maksud bunda.–> respon saya? Hijrah lah bu. dari menitipkan pen’didik’an anak ke tangan orang lain, dan mengambil alih dan lakukan sendiri. saya tdk blg semuaaaa proses pembelajaran hrs ibu yg mengajarkan. sekolah sangat boleh. wajib malah. banyak sekali yang kita tdk bisa ajarkan, saya akui. tp boarding school kan beda lah bu. itu mah menyerahkan sepenuh-penuh-penuhnya 24jam atas keberadaan anak kita, kesehatan fisik dan mentalnya, pendidikan nilai, agama, dan yang lainnya. yang bener aja bu. ada pepatah bahasa inggris yang mengatakan: ‘tempuhlah jalan yang kamu ingin anakmu tempuh”. jadi bu, solusi saya
hanya kutipan kata2 ibu saja yang ibu katakan kepada anak ibu: ” saya ingin ibu menjadi ibu yg lbih baik dari sebelumnya, untuk itu saya ingin ibu ikhtiarkan dengan cara mendidik anak sendiri. dengan mengambil contoh Rasulullah yang ber’hijrah’ dulu untuk menjadi rasul. Rasulullah jg mendidik sendiri anaknya kok bu. semoga ibu dapat memahami maksud saya.”
11. Berjalannya waktu Alhamdulillah sejak minggu ke 2 November anak saya sudah tidak menangis lagi dan dia sudah mulai enjoy dengan kehidupan di asrama. –> sptnya lbh ke: dia belajar bahwa tidak ada gunanya untuk menangis. bhw ibunya akan tetap meninggalkan dia ditempat yg dia tdk suka ini anyway. merampasnya dari kemanjaan yang seumur hidupnya dia rasakan. so, ya sdh, terpaksa di enjoy aja kan?
12. Tapi kembalisaya dibuat khawatir dengan nilai UTS yang di email oleh pihak sekolah. Semua nilai pelajaran anak saya dibawah standar minimal KBM. Selama ini saya selalu membimbing anak saya dalam belajar, walaupun hasilnya tidak sempurna tapi nilainya tidak pernah dibawah KBM. –> penjelasannya sederhana. hati senang, otak menyerap lebih banyak. kalau hati tidak senang???
13. Waaalaah kembali saya berkonsultasi denga pihak sekolah dan menurut mereka hal ini lumrah terjadi bunda karena anak sedang mengalami suasana baru dimana dia sedang berada diluar zona nyaman mereka (rumah). Menurut mereka anak saya anak yang cepat dalam menangkap pelajaran (menurut saya juga begitu) jadi kita lihat hasilnya pada saat semester nanti, mudah2an ada perbaikan.–> kembali pada kasus wali asrama tadi bu, masa iya pihak sekolah akan blg “iya bu, mgkn di skolah yg non-boarding, nilai anak ibu lebih baik lagi, spt di SD kemarin. lagipula kasihan skali bu. baru usia 12-13 sdh di ‘paksa’ hidup di luar zona nyamannya scr tiba2, dengan mata pelajaran yang baru dan lbh susah (SMP sdh dpt fisika kan?), blm lagi kan mau masuk pubertas bu, perlu banyak sokongan psikis dari ibu, jadi monggo bu, bawa pulang ajalah anaknya.” gk mungkin kaaaan??
14. Saya sebagaii orang tua menginginkan yang terbaik untuk anak saya, tetapi apakah cara yang saya lakukan benar, apakah saya telah “menyiksa” anak saya dengan memasukan dia ke boarding school. Mohon bantuan dari bunda untuk memberikan pandangan bunda tentang boarding school. –> oh itu TIDAK saya ragukan. SEMUA orang tua menginginkan yang terbaik utk anak(-anak) nya, itu PASTI, termasuk ibu. cm kadang kita tidak berkaca diri. jadilah dia bu, apakah ibu akan suka di perlakukan demikian? manja selama 12 th, tb2 hrs mandiri? jauh dr org tua? tdr dg mereka yang tdk dia kenal, di tinggal sndirian pula. makanan belum tentu enak, peraturan ketat, dan masih banyak lainnya. ibu aja setelah menikah masih tinggal dengan ibunya ibu, lepas alasannya kenapa, ibu masih mendapat ‘perhatian’ dan pelukan yg ibunya ibu bisa berikan setiap waktu. kenapa ibu merampas hak itu dari anak ibu???
Saya TIDAK anti terhadap boarding school manapun di dunia ini. itu dulu yang perlu ibu pahami. tapi saya ANTI terhadap orangtua yang sudah dititipkan anak oleh allah dan melepaskannya SEPENUHNYA kepada orang lain, mendelegasikan tanggung jawabnya kepada sebuah instansi yang seharusnya TIDAK bertanggung jawab atas kesejahteraan lahir bathin anak itu. ITU saya anti.lepas anak ibu sekarang tersiksa tinggal disitu atau tdk (bisa jadi dia skrg sungggguuuuhhh sanggaaat sukkkkaaaaaa tinggal disitu) saya tdk perduli, apakah boarding itu no. 1 di dunia, sy tdk perduli.Allah menitipkan dia di ‘antara lutut ibu’ dan seharusnya disitulah dia di didik, dan disitulah tempat yang paling baik baginya. kalau ibu merasa kurang ilmu dalam mendidiknya, cari ilmu. kurang waktu? cari waktu. merasa tdk kompeten mendidiknya? cari bantuan yg dtg kerumah, bukan anaknya yang di lempar keluar.
Jutaan orang yang kepengen anak, mengeluarkan berjuta2 utk mendapatkannya, sering malah gk dpt. Ini sdh dpt, malah di kluarkan dari rumah. mau berapa tahun bu? adakah jaminan keluar dr boarding school dia akan menjadi lebih baik? hubungan ibu dengannya setelah dia kembali, bagaimana? kl dia sedih, yg meluk temennya. kalau dia naksir sama seorang perempuan, temennya duluan yg tau. kalau dia gembira, org yg pertama dia share adalah temennya jg. jangan2 kalau dia mimpi basah (atau menstruasi, bagi yg perempuan), yg tau pertama temennya jg bu. ibu gk sedih khilangan semua momen2 itu? kl saya sih sedih. Trus, gmn ibu mengharapkan anak berbakti? ketemu jg cm seminggu sekali..
pendidikan tanggung jawab, kemandirian, dll itu di ajarkan di rmh. bkn di luar. jangan suka mensubkontrakkan tanggung jawab. yang matematika, fisika, bahasa inggris sdh kita subkontrakkan, masa iya semua-mua-mua?? jadi tugas ibu apa dong? cari uangnya?
jadi gitu bu opini saya. sekali lagi, saya minta maaf sebesar-besar-besarnya bila apa yang saya katakan salah, menyinggung dan menyakiti hati ibu. tidak ada niatan saya se dzarrahpun utk melakukan itu. saya hanya mengutarakan opini, itu saja. di terima syukur,tdk jg tdk apa2.
semoga apa yang saya tuliskan bisa memberikan pandangan yang berbeda dr yg slama ini ibu pahami. saya titip pelukan kalau ibu berkunjung menemui anak ibu kembali. semoga allah membantu ibu untuk membuat keputusan terbaik bagi semua.
Salam,
YKBH

“Seiring anak tumbuh remaja, mereka semakin memerlukan kita untuk mengawasinya, lebih dari sebelum-sebelumnya. Masa remaja bukan berarti semakin bisa di lepaskan, justru mereka perlu tempat berpegang, dalam melalui jalan yang sangat bergelombang” -Ron Taffel