2

Uang

Bagi siapapun yang sudah bekerja atau berwirausaha dan mandiri pasti tau bagaimana enaknya punya penghasilan sendiri. Setiap bulan nggak perlu mengandalkan kiriman orangtua, rekening sudah terisi dengan sendirinya hasil kerja keras sebulan sebelumnya. Saya benar2 menikmati saat-saat seperti itu, masih muda, belum menikah dan mandiri. Rasanya hepi karena belum punya tanggungan, bisa ngejajanin orang tua dan adik, bisa nraktir temen, bisa jalan-jalan, bisa belanja juga. 🙂

Seiring berjalan nya waktu namun kadang saya menjadi lupa diri. Sepertinya uang adalah segalanya. Rela dikasih pekerjaan tambahan oleh senior karena tau pasti akan ada bonus tambahan juga. Rela kerja keras, lembur sampai pagi dengan ikhlas karena saya  tau saya akan dapat imbalan lebih dari semua itu. Nggak salah sih, di saat muda memang harus kerja keras supaya energinya nggak terbuang sia-sia dan bisa bersantai di saat tua nanti. Lagipula saya mengerjakan pekerjaan saya dengan passion  dan kecintaan yang besar bisik saya dalam hati.

Tapi kemudian, saya mulai menilai beberapa hal dengan uang. Menerka -nerka penghasilan rekan kerja, menaksir posisi pekerjaan yang mungkin gajinya besar. Lagi-lagi itu semua nggak ada salahnya, toh kata orang gantungkan cita-cita setinggi langit. Dan gak perlu bohong kalau mau realistis orang hidup butuh uang dan kerja pun karena ingin dapat uang. 🙂

Suatu saat ketika saya sedang libur kantor dan sedang pulang ke rumah, ibu pernah bilang… “Nak, uang itu gak di bawa mati” . Saya sering dengar kata-kata itu, cuma baru saat itu saya merenungkan maknanya secara dalam. Saya langsung mengingat semua orang yg sudah dipanggil yg Maha Kuasa tidak ada satupun yg membawa uang nya ke liang kubur. Saya jadi malu, kenapa terkadang orang sulit sekali ikhlas jika bersangkut paut dengan uang padahal uang itu nggak akan menolongnya ketika ditanyai sepasang malaikat penanya kubur.

Sampai sekarang pun, saya masih belajar untuk ikhlas. Ikhlas untuk menyadari bahwa uang bukanlah segalanya, namun kita tetap butuh uang untuk bisa beramal di dunia. Tidak munafik, sampai kapanpun jika saya masih sanggup dan bersemangat saya ingin tetap bisa mencari uang sendiri, namun semoga saya tidak dibutakan oleh uang-uang di dunia. Amin. 🙂

4

T.E.M.A.N

Teman bisa menjadi seperti pedang, menjadi pelindungmu di saat bahaya atau menusukmu sendiri ketika kamu tidak berhati-hati menggunakannya. Teman bisa menjadi seperti air, menyejukkan kerongkonganmu di saat kering atau menenggelamkanmu apabila kamu tidak waspada akan besar volumenya. Teman bisa menjadi seperti selimut, menyelimutimu ketika dingin, tapi bisa membuatmu merasa kegerahan apabila dipakai ketika hawa sedang panas..

Namun, teman bisa juga menjadi seperti matahari; membantu tumbuh-tumbuhan berfotosintesa, memberi kehangatan untuk alam semesta, memimpin rantai kehidupan, menjadi sumber energi dan pencahayaan yang tidak pernah habis, dan yang paling aneh adalah  selalu diam walaupun ada saja manusia yang menghujat akan panas yang diberikannya, walaupun panas itu berguna. Dan meskipun sinar UV nya bisa menyerang langsung ke kulit dan akan membunuh sel-sel yg bekerja membuat sel kulit baru, anggaplah itu sebagai kekurangannya atas segala kelebihannya yang banyak.

Semua teman di dunia berhak memilih ingin menjadi teman yang seperti apa. Dan setiap orang di dunia berhak juga memilih berteman dengan teman jenis apapun. Karena pasti tidak ada ciptaan yang sia-sia.

Tapi sekali lagi, terimakasih untuk teman-teman yang telah memilih menjadi seperti matahari ketika berteman. Kehangatanmu dan cahayamu akan selalu berguna bagi oranglain. 🙂

 pustaka : http://www.harian-global.com

2

What a Life. What a World….

Sempat beberapa saat dipusingkan dengan cerita si A mau menikah, si B sudah menikah, si C sedang hamil, si D sudah melahirkan, si E sedang sibuk membesarkan anak-anaknya. Diam sejenak sedetik kemudian mendengar kabar lain lagi tentang  si F dapat beasiswa ke Tanzania, si G sudah bekerja di Perusahaan beken di Barbados, si H membangun kerajaan bisnis di Tonga, Si I menyatukan kembali terusan Suez………. (??!!#$%$^%^!@@##*&$%)

What a life. What a world…. Saya mengupdate semua berita tentang teman-teman saya hanya dalam hitungan jam. Memantaunya seperti seorang pialang yang sedang memantau bursa saham yang nilainya berubah2 begitu cepat. Setiap berita baik datang, seberusaha mungkin untuk ikut berbahagia. Namun jika berita buruk yang datang, seberusaha mungkin juga untuk paling tidak ikut bisa ‘berada di sana’.

What a life. What a world…. Begitu pusingnya saya dengan update-an berita dari teman-teman saya, saya sampai lupa mengupdate berita tentang diri sendiri. Sibuk menyelamati mereka yang sedang berbahagia, sibuk menyemangati mereka yang sedang berusaha mewujudkan cita-cita, dan sibuk menghibur mereka ya kebetulan sedang berduka membuat saya ingin terlihat sebagai teman yang sempurna. Saya berusaha kuat meraih prestasi untuk menjadi teman dengan label ‘paling peduli, paling pengertian dan paling manis’ :”>

What a life. What a world…. Ternyata bersikap (berusaha) sempurna terhadap oranglain lebih mudah ketimbang bersikap (berusaha) sempurna untuk diri sendiri. Seperti yang tadi saya sudah bilang, akhirnya saya lupa mengupdate berita diri sendiri, dan malah hanya puas dengan prestasi ‘teman yang (berusaha) sempurna’.

What a life. What a world…. Kata seorang teman, dalam menghadapi segalanya yang diperlukan paling pertama adalah keberanian. Kalau dihitung menggunakan rumus statistik paling mutakhir, mungkin keberanian saya untuk menghadapi segalanya hanya 17% saat ini. Ohh… pantes prestasi saya hanya mentok sampai sebatas ‘teman yang (berusaha) sempurna’ membatin dalam hati, lah wong ternyata untuk jadi orang berprestasi di bidang yg lain konon kadar keberanian harus mencapai paling tidak 49%. Mm.. ya ya.

What a life. What a world…. Saya sebenarnya agak sedikit bingung kenapa hanya 49 % keberanian yang dibutuhkan untuk berprestasi di bidang yang lain itu. Kemudian teman saya menjelaskan lagi, dia bilang, ‘Karena paling maximal keberanian yg harus kamu punya itu 50 %, 50 % sisanya keberanian itu harus diredam untuk diserahkan kepada Yang Maha Kuasa’.

What a life. What a world…. Saya menghadap peta dunia. Ada ratusan atau bahkan ribuan tempat yang belum pernah saya datangi. Saya belum pernah berenang di Samudera Pasifik, belum pernah melihat city light dari puncak Gunung Everest, belum pernah makan kurma langsung dari bawah pohonnya di oase Gurun Sahara, belum pernah mengukur sendiri dengan meteran berapa luas Greenland yang sebenarnya.

What a life. What a world…. Mungkin saya harus berprestasi di bidang lain dulu untuk bisa mewujudkan pergi jalan-jalan ke tempat yang saya inginkan tadi. Menjadi ‘teman yang (berusaha) sempurna’ saja rasanya belum cukup bisa membawa saya ke temapt-tempat itu. Baiklah, mulai sekarang saya akan berusaha mengupdate berita diri sendiri dulu ketmbang selalu membaca update-an berita dari teman terus. Dan ya mungkin salah satu modalnya itu adalah 50% berani 50% berserah…..

0

Kalau lagi Galau

“Semoga perasaan ini gak salah….. Semoga segalanya memang begitu adanya… Semoga terus begitu…… “, berucap sendiri dalam hati kemudian menangis tanpa sebab. Haha, Ya begitulah wanita jika sedang galau karena memasuki masa pre menstruasi syndrome. Semuanya yang seharusnya terlihat normal- normal saja menjadi berlebihan dan ditanggapi secara emosional.

Saya begitu menikmati ketika menangis. Seoalah-olah menangis adalah sebuah terapi kesembuhan atas sakit hati yang luar biasa dalam; kerinduan yang begitu besar dan kebahagiaan yang tulus dari suatu pencapaian yg sangat indah. Semuanya kadang terbayar hanya dengan sekedar menangis.

Waktu kecil saya menangis ketika kumis ayah sedang mau dicukur. Keadannya ketika itu kami hanya tinggal berdua. Ibu sedang dirawat inap di rumah sakit untuk perisiapan melahirkan caesar. Sebelum kita akan mendampingi proses persalinan ibu, ayah mampir dulu di tempat cukur langganannya. Saya duduk manis menemani di samping beliau. Setelah sang tukang cukur selesai merapikan rambut ayah, kemudian dia mengelurkan alat cukur janggut dan kumis. Entah kenapa tiba-tiba saya jadi takut kumis ayah dicukur, karena pasti wajahnya akan berubah.  Saya tidak mau tinggal hanya berdua dengan seseorang yang wajahnya tidak familiar. Lalu saya menangis sejadi-jadinya. Sang tukang cukur pun panik dan bingung, akhirnya kumis ayah tidak jadi diekskusi.

Ya begitulah, ternyata menangis juga bisa membawa kenangan tersendiri. Jika ingat kejadian hampir 18 tahun yang lalu itu saya jadi kangen ayah yang sekarang sedang bertugas jauh dari rumah.

Saya bukan orang yang ekspresif. Tidak pernah mengungkapkan perasaan di depan umum. Namun jika sudah berada sendirian saya bisa menjadi sangat terbuka dengan diri sendiri. Jika sedang merasa galau (seperti saat pms tadi), emosional atau merasa dunia seperti sedang  menolak membantu mewujudkan cita-cita saya, saya kemudian segera mengahadap kaca sejenak. Melepaskan emosi terdalam saya dan memulai ritual menangis. Kemudian saya ingat ayah… Ingat perkataannya yang menenangkan bahwa segalanya pasti akan baik-baik saja. Lalu, setelah energi cukup habis terkuras  saya akhiri tangis saya, makan lebih banyak makanan dan bahagia kembali.

Memang terlihat sedikit cengeng dan melankolis. Tapi  saya menganggap sebagai salah satu  karakter yang unik, sentimentil dan menyembuhkan. Setiap orang punya cara tersendiri untuk mengahargai dirinya. Dan salah satu cara saya adalah menangis ketika sedang ingin menangis. Terdengar sedikit agak naif, tapi memang begitu adanya. Yang terpenting dari semuanya, puasakanlah diri ini dengan cara yang paling baik untuk memuaskannya. Jika ingin menangis ya menangis saja….. Tidak perlu malu-malu apalagi takut dianggap lemah. Begitu kan seharusnya….

2

Wanita & Cintanya.

Entah kenapa seorang wanita bisa begitu berjuang untuk sesuatu yang dicintainya. Seorang ibu bisa tidak pernah mengeluh walaupun capek luar biasa mengurus anaknya siang dan malam, seorang istri bisa tanpa pamrih mendorong dan menemani sang suami menggapai obsesi dan impiannya meski cita-cita pribadinya jadi tersingkirkan, seorang anak perempuan bisa ingin terus bertahan di rumah orangtuanya demi merawat dan menjaga mereka ketika tua..

Entah dari mana energi mencinta seorang wanita berasal. Yang jelas energi itu terpancar ketika seorang wanita sedang  dan memang mencintai sesuatu. Mereka sangat berjuang untuk cintanya…

Kata ibu, wanita sudah diajari Tuhan untuk bertanggungjawab sejak dia masih di awal baligh. Menstruasi yang membuatnya harus menahan rasa sakit, mengatur emosi, dan mengurus kebersihan dirinya sendiri membuat seorang anak wanita menjadi lebih dewasa ketimbang anak laki-laki di umur yang sama. Belum lagi ketika hamil dan melahirkan, walau belum pernah merasakannya, tapi berdasarkan cerita orang, seorang wanita yang hamil kemudian melahirkan  memperjuangkan rasa sakitnya sendirian.

Salah caranya mungkin jika kita ingin berhitung dengan seorang wanita. Dengan begitu banyak pengorbanan yang dia berikan dan setelah itu masih ditambah dengan energi mencintainya yang tidak pernah padam, maaf mungkin harus sering kita berikan saat mereka melakukan sedikit kesalahan.

Suatu saat ada seorang pria bilang bahwa dia tidak mengerti dengan jalan pikiran seorang wanita yang rumit dan emosional. Saya kemudian bilang dalam hati, kenapa kamu tidak berusaha mempelajarinya dengan lebih bersabar. Karena ketika kamu sudah mendapatkan cintanya, dia tak akan lagi menghitung apa yang dia berikan untukmu karena dia terus akan berjuang untuk mencintaimu….

*Ini semua terinspirasi dari eyang putriku, dan ibuku tentunya

3

Cantiknya Zebra..

Kebiasaan saya tiap bangun tidur, sebelum ke kamar mandi atau ke meja makan untuk sarapan, adalah mendengarkan 2 – 3 lagu dari ipod mini saya sambil berjalan – jalan keliling ruangan. Pagi ini baterai ipod saya tiba – tiba habis, entah kenapa saya jadi sedikit sedih.. Berlebihan memang. Tapi saya benar – benar kehilangan sedikit mood di pagi hari.

Waktu kecil saya punya teman khayalan. Namanya Ibi. Semenjak bisa bicara hingga masuk kelas 2 sd Ibi selalu bersama saya. Entah dari mana saya bisa menemukan nama Ibi. Jika teman – teman rumah sedang tidak bisa di ajak main, saya bermain dengan Ibi. Ibu dan ayah sempat khawatir dengan kondisi saya. Mereka pikir saya berhalusinasi. Dikonsultasikan lah saya ke dokter anak. Tapi kata dokter waktu itu semuanya normal malahan bagus berarti saya sedang membangun imajinasi dalam pikiran saya dan itu tidak boleh dilarang. Semenjak itu saya dibiarkan saja jika sedang bermain dengan Ibi.

Setiap manusia dibangun jiwanya oleh elemen-elemen yang berbeda. Dari satu sumber kehidupan yang sama, dari rahim dan mani yang sama bisa dilahirkan berbagai manusia dengan karakter yang tidak sama. Dan sepertinya memang itu disengaja..

Beruntunglah saya tidak dianggap aneh kalau sedang berjalan-jalan mengililingi kamar sendirian hanya sambil mendengarkan ipod selama sekitar 30 menitan, atau dianggap aneh juga waktu punya teman khayalan saat kecil dulu.

Suatu saat saya melihat teman yang memiliki gaya dan sikap yang berbeda dengan saya. Saya berusaha memaklumi memang sepertinya kita diciptakan untuk saling mengisi dan memberi. Walaupun sikap mereka terkadang tidak sesuai dengan hati dan prinsip saya, kemudian saya berpikir, bahkan zebra pun diberi warna gari-garis hitam putih dan mereka tetap terlihat cantik.

Ya.. Tidak pernah ada salahnya untuk berbeda…….

0

Cinta Dalam KeyakinanNya..

Ada seorang teman yang pernah mengaku kalau dia sedang jatuh cinta. Dia seorang muslim dan seorang santri yang baik, taat beribadah, santun dan setau saya sangat menghormati lawan jenis. Dia bercerita betapa si wanita yang dicintainya itu cantik wajahnya, lucu sikapnya dan menarik cara berpikirnya. Saya sendiri sampai terharu dan kagum mengetahui bagaimana dia mencintai si wanita idamannya itu. Selama ini berteman dengannya baru tau bisa juga dia kasmaran. Karena dalam prinsipnya saya paham betul bahwa berpacaran sebelum menikah buatnya adalah sebuah larangan.

Tapi setelah selesai dengan ceria menggambarkan isi hatinya tiba-tiba teman saya mendadak murung. Dia bilang, cinta ini menurut agamanya terlarang dan tidak seharusnya dilanjutkan. Hanya saja hatinya masih belum bisa untuk tidak melanjutkannya.

Lalu saya kaget. Ada apa gerangan.. Bagaimana seorang teman saya yang taat beribadah ini bisa dengan berani merasakan sesuatu yang tidak boleh dia rasakan dalam kepercayaannya.

Akhirnya dia melanjutkan ceritanya. Letak kemurungannya adalah karena si wanita idaman memiliki keyakinan yang berbeda dengannya. Memiliki kepercayaan yang berbeda. Si wanita idaman adalah seorang kristiani yang taat.

Jujur ketika teman itu mengatakan letak masalah percintaannya, saya menjadi agak kaget dan cukup tersentak. Bukan karena saya kecewa dengannya atau marah dengannya atau tidak setuju dengan sikapnya. Bukan.. Tapi karena tiba – tiba saya menjadi tahu bahwa cinta secara bersamaan adalah sebuah anugerah dan ujian. Bahkan seseorang yang dengan sadar terus menerus menjaga hatinya bisa mendapatkan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan akalnya. Saya pun tidak mengerti. Belum menemukan penjelasan untuk ini. Cerita ini nyata dan tidak direkayasa.

Mungkin ada yang tidak setuju dengan cerita ini. Mungkin ada juga yang bilang, kalau saja hati dan pikiran lebih bisa dijaga, hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan bisa dihindari. Mungkin ada lagi yang bilang, “terus kenapa kalau berbeda keyakinan… “

Namun saya hanya meyakini satu hal. Mungkin, Dia Sang Maha Pencipta hanya ingin kita manusia merenung dan makin memaknai hidup kita masing-masing. Ketika semua nya dalam kekusutan, serahkan padaNya, dan biarkan Dia yang menunjukkan. Dan mungkin dengan jutaan alasan lain yang saya tidak tau dan masih menjadi misteri, dengan halus kita diberitau bahwa sebagai manusia kita tidak boleh saling menghakimi. Karena apapun bisa terjadi. Saya pun akhirnya hanya bisa mendoakan teman saya. Semoga dirinya diberi jawaban yang terbaik.

0

Renungan Hari Ini…

Waktu itu Gede Prama, salah seorang motivator Indonesia, pernah bercerita bahwa dia adalah anak bungsu dari 13 bersaudara. Banyak penderitaan yang beliau terima sebagai seorang anak bungsu dengan banyak saudara, tapi semua penderitaannya itu beliau simpan ke dalam, dibiarkan menyatu dengan dirinya, dan diikhlaskan sampai akhirnya beliau mendapat kekayaan hati dari segala penderitaannya itu. Sehingga pada suatu saat belia mengerti mengapa Tuhan memberinya itu semua.

Apa yang semua beliau katakan menginspirasi saya. Bahwa seharusnya manusia bersyukur dengan segala cobaan yang datang, karena pada suatu saat pelajaran dari cobaan itu akan memerperkaya diri kita. Sejak saat itu saya meyakinkan diri saya, bahwa saya boleh bersedih atas segala cobaan, tetapi harus ikhlas untuk menerimanya.

Namun, sebagai seorang manusia biasa, pada kenyataannya saya harus berjuang keras untuk bisa betul betul memaknai petuah Gede Prama. Masalah yang kecil sudah saya anggap sebagai cobaan besar, saya meratapinya, dan bertanya tanya mengapa saya harus mengalaminya. Padahal mungkin masalah saya tidak ada bobotnya apabila dibandingkan dengan masalah orang-orang kelaparan di Afrika sana.

Seorang teman pernah berkata, “jangan pernah kau lawan rasa sakitmu, biarkan dia berkompromi dengan dirimu, maka kalian berdua akan menjadi teman baik”.

Oleh karena itu, dalam perjalanan diri saya menjadi seorang manusia yang lebih dewasa, saya ingin mengingatkan diri terus menerus. Bahwa kesenangan dan kesedihan mungkin hanyalah sebuah cara Yang Maha Kuasa untuk terus menyeimbangkan alamnya. Manusia hanya harus selalu bersyukur karena masih bisa diberi kesempatan untuk merasakannya.