Title: Lullaby
Author: Ica
Genre: Fantasy
Type: straight
Status: Oneshot
Rating: T
Casts: Cho Kyuhyun, Lee Noonja (Sylphida), Choi Ah Ra
Theme Song: It’s Love, River Flows In You, & Fur Elise
Lullaby— When the music begins

Special thanks to: curiouscraven for the poster
She is singing everywhere and her song is meant for me.
What’s important now is we stay together.
Two hopeful hearts, two lands apart, together there’s no end to what’s our dream can start.
Everything can happen if you believe it!
(credit: Disney quote)
[align=center]***[/align]
Alunan musik masih terdengar begitu merdu. Dengan berbagai rangkaian nada, bercampur bersatu padu menghasilkan sebuah melodi yang indah. Seorang gadis dengan gaun putih yang terbuat dari kain beludru sepanjang lutut menggerakkan tubuhnya mengikuti alunan nada. Setiap tarikan nafas, bahasa tubuh serta hentakkan kakinya sangat berirama bahkan dapat dikatakan menyatu dengan musik. Seakan musik dan tarian itu adalah belahan jiwa yang tidak dapat dipisahkan dari dalam dirinya. Seolah tanpa musik dan tarian, hidupnya tidak akan lagi berwarna.
Dengan cahaya remang-remang yang dihasilkan oleh bulan, setiap malam gadis itu terus menggerakkan anggota tubuhnya. Mulutnya tidak berhenti menyenandungkan kata-kata yang dapat dirangkai menjadi sebuah lirik lagu.
Semua ini di mulai di tengah gulitanya malam saat orang-orang sedang terlelap di dalam alam bawah alam sadar mereka. Hanya alunan melodi yang keluar dari kotak musik itu yang menjadi saksi bisu— pertemuan kau dan aku.
[align=center]***[/align]
Kyuhyun menghempaskan tubuhnya di kasur. Rasa letih telah memerintahnya untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak. Ternyata bekerja itu amat melelahkan dari yang ia bayangkan. Tidak heran kalau banyak orang yang segan untuk pergi bekerja.
Menurutnya, bekerja itu seakan memaksanya untuk memakai sebuah topeng kehidupan yang baru di tengah panggung dunia yang penuh dengan sandiwara. Di mana ia harus beramah-tamah dengan sesama serta mematuhi segala peraturan yang ada. Ini jelas sekali berbeda kontras dengan dirinya yang penyendiri dan selalu menutup dirinya atau bahkan ia malah beranggapan bahwa di dunia ini hanya ada dirinya seorang sedangkan orang lain hanya sebagai pelengkap maupun angin lalu dalam hidupnya.
Ia seakan memberikan tembok yang kuat dan kokoh dalam dunianya agar tidak ada seorang pun yang dapat melaluinya. Semua berubah ketika Kyuhyun mendapati kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan naas itu. Kejadian itu masih terpatri dengan jelas di dalam benaknya. Saat di mana, untuk pertama kali ia merasakan dunianya hancur seketika itu juga. Saat di mana, ia harus kehilangan kedua orang yang berharga untuk selamanya. Saat di mana, ia harus mendapati kenyataan yang begitu pahit ketika semua orang mencemoohnya dan tak seorang pun mengindahkannya. Saat di mana, ia harus berhutang budi pada orang yang dengan terpaksa mau menampungnya. Sungguh ia amat tidak suka dengan semua yang menimpanya ini, walaupun ia tahu sekeras apapun ia mencoba ia tidak akan pernah bisa melawan sebuah takdir. Hal yang tidak mungkin dapat dilakukan semudah ia membalikkan telapak tangan.
Andai saja kalau waktu itu ia tidak mendesak kedua orang tuanya untuk pergi mengantarkannya. Andai saja kalau waktu itu ia tidak membiarkan egonya untuk bekerja memenuhi hasratnya. Andai saja kalau waktu itu ia tidak menyuruh ayahnya untuk menambah kecepatan mobil di tengah hujan. Andai saja, andai, dan andai. Terlalu banyak kata andai yang ada di dalam benaknya sampai ia tak tahu harus berbuat apa untuk mengenyahkan semua pikiran itu dalam benaknya. Ia tahu bahwa tidak baik jika kita hidup dalam penyesalan— seperti yang di katakan ibunya. Ia juga tahu bahwa tidak baik untuk terus larut dalam kesedihan dan selalu mengenang orang yang sudah meninggal. ia mengetahui itu
semua di luar kepala tapi hatinya memilih untuk mengindahkannya.
Jam berdentang dua belas kali dengan nyaring yang menandakan hari sudah larut malam. Angin berhembus kencang masuk melalui celah-celah jendela yang tidak tertutup rapat. Kyuhyun membuka kedua matanya dengan perlahan— hampir saja ia telah melewatkan salah satu aktivitas penting yang sudah lama ia lakukan.
Dengan cepat ia membuka laci mejanya yang menimbulkan suara decit yang memekakan telinga. Ia menarik sebuah kotak musik yang terbilang usang dan kuno dengan warna cokelat tua beserta ukiran=ukiran di setiap sudutnya. Ia membuka kotak musik itu yang kemudian segera mengeluarkan alunan lagu dengan sebuah miniatur balerina menari di tengah-tengah panggung kecil. Ini satu-satunya hal yang dapat membuat Kyuhyun merasa tenang dan tidak sendiri. Harta yang begitu amat berharga yang ia miliki di dunia ini. Ia masih ingat bagaimana senangnya saat ia menerima kotak musik itu sebagai hadiah ulang tahun dari ibunya.
Dan tahukah kau apa yang terjadi selanjutnya setelah alunan lagu usai? Seorang gadis dengan gaun yang terbuat dari kain beludru sepanjang lutut muncul dan tersenyum kepadanya. Itu semua memang di luar logika manusia jika dipikirkan secara baik-baik. Bagaimana mungkin sebuah miniatur balerina yang berada di kotak musik dapat keluar dan menjelma menjadi seorang manusia? Awalnya Kyuhyun juga tidak mempercayai itu semua karena memang dia tidak terlalu mempercayai mitos ataupun hal-hal yang berbau mistis. Namun bagaimanapun ia harus mengakui bahwa memang ada kehidupan lain di luar dunianya yang selama ini selalu ia sangkal.
“Hai Sylphida, senang dapat melihatmu hari ini. Kau tahu aku sudah menantikan kedatanganmu.” Ya, seiring berjalannya waktu Kyuhyun mulai terbiasa dengan kehadiran Sylphida atau kau dapat juga memanggilnya dengan sebutan Lee Noonja. Sylphida hanyalah julukan yang Kyuhyun berikan padanya— karena bagi Kyuhyun, Noonja itu seperti pelita yang membuat ia dapat bertahan hidup di dunia ini.
Ketika semua orang melihat Kyuhyun sebagai orang yang gagal, Noonja melihat Kyuhyun melebihi seorang pemenang. Ketika tak seorang pun mengindahkannya, Noonja hadir dan selalu menemaninya setiap malam, memberinya dukungan dan tidak pernah lelah mendengarkan keluh-kesahnya. Ketika ia sendiri dan merasa bahwa dunia pun telah menolaknya, Noonja datang dan menyentuh hatinya dengan kasih yang sempurna. Kyuhyun tidak tahu dengan pasti kapan dan bagaimana ia bisa begitu tergantung dengan seseorang yang bernama Lee Noonja. Yang ia tahu bahwa hidupnya akan kembali sepi jika tidak ada seorang Lee Noonja.
“Ya! Cho Kyuhyun, atas dasar apa kau mengubah namaku?” katanya setengah merajuk. Ia mengerucutkan bibirnya untuk meyakinkan bahwa ia sedang kesal. Melihat hal itu Kyuhyun hanya tertawa begitu renyah, ia amat senang melihat ekspresi Noonja yang ke kanak-kanakkan seperti itu.
“Aku tidak peduli. Aku lebih menyukai panggilan yang kuberikan padamu.” Mendengar ucapan Kyuhyun, Noonja terlihat semakin kesal. Ia menghentak-hentakkan kedua kakinya ke lantai dan meracau tidak jelas.
“Pokoknya aku mau kau memanggilku dengan Noonja saja. Titik!” sungutnya begitu tegas. Sekali lagi Kyuhyun tertawa melihat tingkahnya itu. Entah kenapa jika bersamanya ia dapat tertawa lepas seperti ini.
“Ehm, daripada kita terus berdebat bagaimana kalau kita berdansa saja? Sudah lama aku tidak berdansa denganmu. Jadi, apa kau mau?” Kyuhyun mengbungkukkan badan dan mengulurkan tangan kanannya— menunggu sambutan uluran tangan Noonja.
“Bagaimana ya? Aku mau saja berdansa denganmu jika kau berjanji tidak akan memanggilku dengan sebutan ‘Sylphida’. Cukup adil bukan?”
“Baiklah, aku berjanji.” Dan selanjutnya Noonja menerima uluran tangan Kyuhyun sambil tersenyum senang. Baginya, senyum Noonja terlihat lebih hangat dibandingkan sinar matahari. Ia akan melakukan apa saja untuk melihat senyum seorang Lee Noonja.
Kyuhyun melingkarkan tangannya di pinggang Noonja dan meletakkan tangan Noonja di lehernya. Mereka terlihat amat menikmati menari di tengah sinar rembulan dan di iringi dengan alunan lagu dari kotak musik. Gerakan tubuh serta tarikan nafas mereka terlihat begitu seirama sebagaimana para penari profesional melakukannya. Dan Kyuhyun begitu menikmati setiap detik yang ia lewatkan bersama Noonja sebelum sang surya datang untuk mengakhiri ini semua.
[align=center]***[/align]
Kyuhyun menghela nafas dengan berat dan membuka pintu apartemennya itu. Terlihat seorang gadis dengan rambut sebahu tersenyum senang dan menggoyang-goyangkan kantung belanjaannya. Tanpa menunggu Kyuhyun mempersilahkannya, gadis itu segera masuk dan menaruh kantungnya itu di atas meja. Ia menyandarkan tubuhnya di salah kursi yang sudah tersedia.
“Kau tidak senang melihatku datang Kyuhyun? Setidaknya bisakah kau menyambut kedatanganku dengan sebuah senyuman? Kau sama sekali tidak romantis.” sungutnya kesal melihat reaksi Kyuhyun yang terlihat datar. Kyuhyun malah melengoskan wajahnya ke arah lain karena ia tidak mau bertatapan langsung dengan gadis itu. Merasa diacuhkan gadis itu beranjak dari kursi dan menghampiri Kyuhyun—- memeluk tubuh Kyuhyun dengan sangat erat.
“Kau tahu aku sangat merindukanmu. Sudah tiga hari kita tidak bertemu tapi rasanya sudah seabad aku tidak melihat wajahmu. Apa kau juga merindukanku?” tanya gadis itu dengan penuh harap. Walaupun Ia tahu bahwa apapun yang ia lakukan percuma saja karena Kyuhyun tidak akan pernah melihatnya. Kyuhyun hanya menganggapnya sebagai putri dari direktur di mana ia bekerja dan tidak akan pernah lebih dari itu. Bahkan ayahnya pula yang membiayai semua kebutuhan dan kehidupan Kyuhyun agar nantinya Kyuhyun layak mendampinginya.
Ia tidak tahu bagaimana caranya ia dapat menyukai seorang Cho Kyuhyun yang dingin itu. Tapi sinaran mata Kyuhyun mampu membuatnya tidak dapat berpaling. Sinaran mata itu seakan memaksanya untuk terus diperhatikan. Dan sejak saat itu, ia tidak bisa menghilangkan bayangan Kyuhyun dari dalam benaknya. Setiap hari pikirannya selalu dipenuhi dengan nama Cho Kyuhyun. Setiap detik waktunya terbuang hanya untuk memikirkan seorang Cho Kyuhyun.
“Sudahlah Ah Ra, jangan bersikap seperti itu. Kau membuatku risih. Jadi apa tujuanmu datang kesini?” ucap Kyuhyun sambil melepaskan tangan Ah Ra yang berada di tubuhnya.
“Memangnya salah kalau aku ingin mengunjungi tunanganku? Aku hanya ingin mengantarkan makanan untukmu karena aku tahu kau pasti belum makan ketika sibuk bekerja.”
“Hanya itu saja? Lain kali kau tidak perlu repot-repot datang membawakanku makanan karena aku dapat merawat diriku sendiri. Lebih baik kau pulang saja masih banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan.” ucap Kyuhyun dengan tegas membuat Ah Ra semakin kesal karena Kyuhyun sama sekali tidak menghargai perhatiannya itu.
“Baiklah kalau itu maumu. Maaf jika aku mengganggu waktumu, Tuan Cho Kyuhyun.” Ah Ra beranjak keluar dan membanting pintu dengan keras. Kyuhyun adalah orang pertama yang memperlakukannya seperti itu. Jika ia mau, dengan mudah ia akan mendapatkan lelaki lain untuk menjadi pendampingnya. Tapi ia tidak bisa melakukannya karena Kyuhyun telah mengambil alih hatinya.
[align=center]***[/align]
Kyuhyun menatap lekat Noonja yang sedang menari mengikuti suara alunan musik— tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun. Dengan melihatnya saja sudah membuat hati Kyuhyun bergetar hebat— seperti ada aliran listrik yang menyengat tubuhnya. Ada perasaan aneh yang menyelubungi hatinya. Setiap kali ketika Kyuhyun sendiri, hanya Noonja yang memenuhi pikirannya. Selalu saja terbesit kenangan-kenangannya bersama Noonja.
Secara kebetulan tatapan mata mereka bertemu tepat di satu titik. Kyuhyun dapat melihat dengan jelas senyum yang mengembang di wajah Noonja. Kyuhyun segera menundukkan kepala untuk menyembunyikan rona merah yang ada di wajahnya.
Dalam hati Kyuhyun bertanya pada dirinya sendiri, ‘Apakah Noonja mengetahuinya?’
‘Apakah sekarang Noonja dapat menyadari apa isi hatinya?’ Cinta yang mendekat tanpa bersuara, membuat hati ini bergetar tidak karuan.
‘Apakah ia dapat mendengar?’ Cinta yang mendekat setapak demi setapak dengan sinar yang menghangatkan hatinya yang dingin.
Cinta yang seolah-olah menyerupai air hujan yang membasahi hatinya. Membuat pertahanan yang ia buat runtuh dengan begitu mudahnya.
“Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Noonja mengembalikan ia dari lamunannya itu.
Kyuhyun terlihat salah tingkah saat mendapati Nonnja menatap wajahnya dengan lekat. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal untuk mengurangi rasa gugupnya.
“Ehm, aku sedang memikirkan cara untuk menghilangkan insomniaku ini.” Noonja membuka mulutnya membentuk huruf ‘o’ sebagai tanda ia mengerti. Tapi, tidak lama kemudian ia menjentikkan jari telunjuknya dengan cepat.
“Sepertinya aku dapat membantumu, jika kau tidak keberatan. Bolehkah aku bernyanyi untukmu?” tanya Noonja dengan riang.
“Maksudmu, seperti Lullaby huh?”
“Tepat sekali. Lullaby itu memang sengaja diciptakan sebagai lagu pengantar tidur. Jadi bagaimana, kau mau atau tidak?”
“Baiklah kalau begitu.” Setelahnya hanya terdengar suara Noonja yang menyenandungkan sebuah lagu pengantar tidur tidur untuk seorang Cho Kyuhyun.
[align=center]***[/align]
“Jadi menurutmu mana undangan yang cocok untuk pertunangan kita, yang berwarna putih atau yang berwarna biru laut?” tanya Ah Ra dengan antusias sambil memperlihatkan kedua undangan itu. Namun sayangnya Kyuhyun tidak memperhatikannya, ia lebih tertarik untuk menatap kotak musik kesayangannya. Membayangkan apa lagi yang akan ia lakukan bersama Noonja jika malam tiba.
“Ya, Kyuhyun! Bisakah kau serius untuk kali ini saja?” bentak Ah Ra membuat Kyuhyun tersentak dari khayalannya. Ia menatap Ah Ra dengan kesal karena Ah Ra telah mengganggu kesenangannya.
“Apalagi yang kau inginkan Choi Ah Ra? Apa kau belum puas menggangguku?” sungut Kyuhyun sambil mendecak sebal.
“Aku hanya meminta pendapat mu untuk memilih mana undangan yang tepat untuk pertunangan kita! Apa itu salah?” tanya Ah Ra keheranan melihat sikap Kyuhyun yang tak kunjung berubah juga padanya.
“Jelas itu sangat salah. Aku tidak sama sekali mencintaimu Ah Ra. Jadi aku tidak dapat bertunangan denganmu. Mungkin dengan uang ayahmu yang banyak itu kau dapat membeli apa yang kau inginkan bahkan dunia sekalipun, tapi sayangnya kau tidak akan bisa membeli hatiku. “
“Aku tidak mendengar… Aku tidak mendengar… Aku tidak mendengar perkataanmu!” Ah Ra menutup kedua telinganya dengan rapat dan berteriak histeris menyangkal semua kenyataan yang ada. Ia tidak mau melepaskan Kyuhyun begitu saja. Ia harus memiliki seorang Kyuhyun.
“Kau harus sadar Ah Ra. Jalan hidupmu masih panjang dan jangan kau sia-siakan hidupmu hanya untuk mengejar sesuatu yang mustahil.”
Ah Ra menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat, ia tidak mau menghadapi kenyataan yang ada di depannya. Kalau perlu tuli kan saja telinganya untuk hari ini agar ia tidak mendengar apa yang Kyuhyun ucapkan.
“Cukup! Hentikan semuanya. Memangnya apa yang kurang dari ku sehingga kau selalu menolakku? Aku sudah menyerahkan hatiku seutuhnya untukmu, apa itu belum cukup? Aku juga punya banyak harta, kekuasaan, dan kedudukan. Apa itu semua tidak cukup bagimu?” ucap Ah Ra dengan nada tinggi. Dan kali ini air matanya sudah sukses berjatuhan.
“Ya, itu semua masih belum cukup untuk ku. Tidak ada satu pun yang kurang dari dirimu Ah Ra kau bahkan terlalu sempurna, hanya saja aku sudah menetapkan hatiku untuk orang lain bukan pada dirimu melainkan pada kotak musik ini.”
Ah Ra terkejut mendengar perkataan Kyuhyun yang terdengar begitu konyol dan tidak masuk akal. Tidak dapatkah Kyuhyun mencari alasan yang lebih masuk akal untuk menolaknya?
“Kau tahu Kyuhyun, Kau itu sudah gila! Bagaimana bisa kau mencintai benda rongsokkan seperti huh?” dengus Ah Ra kesal sambil tersenyum meremehkan.
“Aku tidak peduli kau mau mempercayainya atau tidak. Lebih baik sekarang kau pulang saja untuk mendinginkan kepalamu.” Kyuhyun menarik tangan Ah Ra untuk membawanya keluar dari apartemen namun dengan cepat Ah Ra menghempaskan tangan Kyuhyun dan berlari mengambil kotak musik itu.
“Kau bilang kau lebih mencintai kotak musik ini kan? Aku tahu aku memang gila di buatmu sampai-sampai aku dapat cemburu dengan benda mati seperti ini. Jika aku tidak dapat memilikimu maka kau juga tidak boleh memiliki kotak musik ini.” ucap Ah Ra seraya mengangkat kotak musik itu tinggi-tinggi.
“Hei Ah Ra apa yang kau la-“ ucapan Kyuhyun terhenti saat ia melihat Ah Ra membanting kotak musik itu dan menginjak-injak nya sampai mengeluarkan serpihan kayu. Kyuhyun meringis saat membayangkan apa yang akan menimpa Noonja yang berada di dalam kotak musik itu.
PLAK- Kyuhyun menampar Ah Ra dengan keras sampai-sampai tubuh gadis itu terhuyung ke belakang.
“Kau lihat Kyuhyun, sekarang kotak musik yang kau cintai itu sudah hancur. Apa kau masih tetap mencintainya hah?” tanya Ah Ra dengan penuh kesenangan walaupun sebenarnya ia masih tidak puas menghancurkan kotak musik milik Kyuhyun.
“Kau itu sudah tidak waras Ah Ra! Lebih baik kau pergi sekarang sebelum aku kehilangan kesabaran. Dan satu lagi, jangan pernah kau tampakkan mukamu padaku untuk selamanya.”
[align=center]***[/align]
Kyuhyun tertawa ketika mengingat semua kenangannya bersama Noonja. Saat ia tertawa dengan lepas, saat ia mengerucutkan bibir ketika kesal, saat ia mengerutkan dahi ketika bingung dan masih banyak ekspresi lain yang dimilikinya. Ia masih ingat betul bagaimana hari-hari yang ia lewati bersama Noonja terutama saat mereka berdansa di tengah cahaya bulan dan juga saat Nonnja menyanyikan lagu pengantar tidur untuknya. Namun semua ini hanya akan menjadi kenangannya saja.
Kyuhyun membetulkan kembali posisi duduknya yang tidak benar. Ia menengadahkan kepalanya ke langit untuk melihat rasi bintang yang berkelip di atas sana. Malam itu langit bersinar dengan terang di tengah gulitanya malam.
“Ya Kyuhyun, apa yang sedang kau lihat?” suara lembut itu menginterupsi pikirannya yang entah melayang ke mana.
“Aku sedang melihat rasi bintang.”
“Apa itu rasi bintang? Coba kau tunjukkan beberapa untukku.”
“Lihat kumpulan bintang yang membentuk ikan itu adalah pisces. Lalu di sebelah sana, kumpulan bintang yang membentuk kepiting itu adalah Cancer. Dan masih banyak lagi rasi bintang lainnya yang di miliki langit.” Ia menatap gadis itu sejenak dan tersenyum simpul saat mendapati wajah gadis itu keheranan.
“Kenapa kau melihatku seperti itu? Memangnya ada yang salah dengan wajahku?’
“Tidak, tidak ada sedikitpun yang salah dengan wajahmu. Hanya saja kau terlalu indah untuk di pandang.” ucapan Kyuhyun sukses membuat wajah Noonja merona merah. Noonja melengoskan wajahnya dan meracau tidak jelas.
“Sejak kapan kau belajar merayu seperti ini hah?” sindir Noonja seraya memukul lengan Kyuhyun dengan pelan.
“Ehm aku mempelajari ini semua sejak aku mengenalmu, sejak kau masuk ke dalam hidupku, dan sejak aku mencintaimu.” Kyuhyun memegang tangan Noonja yang bebas dan mencium punggung tangan itu dengan lembut.
“Jadi maukah kau menjadi Sylphida-ku untuk selamanya?” lanjut Kyuhyun dengan antusias.
“Ehm, bagaimana ya? Tergantung, jika kau terus merayuku seperti itu aku tidak akan segan-segan untuk menolak. Lagi pula bagaimana mungkin aku menolak orang yang merelakan lengannya untuk menjadi sandaran hidupku.” Ya, sejak Ah Ra menghancurkan kotak musik itu sekarang Noonja bertahan hidup di lengan Kyuhyun jika malam telah tiba.
“Jadi kau menerimaku?” tanya Kyuhyun sekali lagi untuk memastikan pada dirinya sendiri bahwa ia tidak salah mendengar. Namun bukan jawaban yang ia dengar melainkan sebuah pukulan yang diterimanya.
“Ya, apa kau mau membuat kita berdua jatuh?” tanya Kyuhyun sambil tertawa ketika melihat Noonja menggelengkan kepala dan segera menghentikan pukulannya.
“Kalau begitu duduklah dengan manis.” perintah Kyuhyun.
Malam ini akan menjadi lembaran baru untuk Kyuhyun dan Noonja ditemani senyuman sang bulan serta sinar sang bintang. Dimana hanya ada Noonja dan Kyuhyun dalam dunianya yang baru. Dan kali ini ada kau dan aku sebagai saksi kisah cinta kedua insan tersebut.
END
Ok di tunggu kritik dan saran dari para pembaca karena ica tau masih banyak kekurangan dalam ff ini 😀
Thanks -peace-