Saat kelahiranya, Yohanes telah menimbulkan buah tutur di kalangan penduduk di daerah pegunungan Yudea (Luk 1: 65). Tatkala Zakaria menuliskan di batu tulis “namanya adalah Yohanes”, orang bukan hanya heran krn nama iyu asing bagi keluarga Zakaria. Tak ada nenek moyang mereka yang mengambil nama demikian. Akan tetapi justru pilihan nama itulah yang hendak menjadikan nyata bagi banyak orang bahwa “Tuhan berbelas kasih”. Tuhan bukan saja menunjukkan belaskasihNya lewat mengandungnya Elisabet, namun juga lewat terlepasnya “pengikat” lidah Zakaria. Supaya belas kasih Allah sungguh nyata lewat perbuatan tanganNya.
Yohanes diartikan sebagai Tuhan berbelas kasih, sebagaimana kita temukan ketika “murid yang dikasihi” Yesus dipercayai sebagai Yohanes(bdk. Yoh 21:7). Nama menyimpan makna dan memiliki daya sekaligus. Adakah kita juga menyadari akan makna dan daya dibalik makna nama kita?
The Cross (Luke 9, 2-25)
Published Februari 13, 2013 by misstreeantozMy beloved brothers, Jesus said to all: “whoever wishes to be my follower must deny his very self, take up his cross each day and follow in my steps”. Because of this revolutionary announcement, he was persecuted and he was not afraid to deliver his own life. The Cross is the consequence of the free commitment. The cross of Jesus Christ leads to freedom and victory over sin and death. What is the cross which Christ commands us to take up each day as his disciples? When our will crosses with his will, then his will must be done. The way of the cross involves sacrifice, the sacrifice of laying down my life each and every day for Jesus’ sake.
So… let us give Him our hands to do His work.
Let us give Him our feet to go His way.
Let us give Him our eyes to see as He does.
Let us give Him our tongue to speak His words.
Let us give Him our mind that He may think in us.
Let us give Him our spirit that He may pray in us.
Above all, let us give Him our heart that He may love in me,
His Father, and all mankind.
Let us give Him our whole self that He may grow in us,
so that it is He, Lord Jesus, who live and work and pray in us.

mengapa kita harus datang misa sejak awal?
Published Juni 27, 2012 by misstreeantozJudul tulisan ini adalah sebuah pertanyaan: “Mengapa kita harus datang misa sejak awal?”
alasan-alasan yang menjadi jawaban atas pertanyaan tersebut bertujuan untuk menggugah kesadaran umat untuk tidak datang terlambat pada waktu perayaan Ekaristi. Atau juga untuk mengingatkan kembali kepada mereka yang sudah aktif dan rajin datang tidak terlambat, supaya mau mengingatkan saudara-saudara yang belum tahu atau masih belum sadar.
ada beberapa poin yang menjadi jawaban atas pertanyaan di atas:
- Karena Ekaristi adalah tindakan Kristus bersama umat Allah yang tersusun secara Hirarkis. Tujuannya adalah agar para pelayan dan umat beriman dapat berpartisipasi dalam perayaan itu menurut tugas dan peran masing-masing, serta memetik buah hasil Ekaristi sepenuh-penuhnya.
- Karena pada hakikatnya perayaan Ekaristi adalah perayaan umat yang terwujud secara nyata dalam kehadiran dan partisipasi aktif umat.
- Karena Ekaristi penuh dengan tanda-tanda inderawi, termasuk saat pembukaan ketika perarakan masuk diiringi lagu sampai doa pembuka. Berkaitan dengan soal terlambat datang waktu misa, berarti perlu kita lihat kembali beberapa bagian, misalnya ritus pembuka. Ritus pembuka yang terdiri dari perarakan masuk, salam, kata pengantar, pernyataan tobat, Tuhan Kasihanilah, Kemuiaan, dan doa pembuka; semuanya memiliki ciri sebagai pembuka, pengantar, dan persiapan. tujuannya adalah untuk mempersatukan umat yang berhimpun dan mempersiapkan mereka supaya dapat mendengarkan sabda Allah dengan penuh perhatian dan merayakan Ekaristi dengan layak.
Antara Kata dan Aku
Published Mei 2, 2012 by misstreeantoz“Tetapi Yesus berseru kata-Nya: “Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia bukan percaya kepada-Ku, tetapi kepada Dia, yang telah mengutus Aku; (Yoh 12 : 44)
Kata-kata memang bisa mewakii orang yang mengatakannya
Kala aku percaya dengan kata yang dia ucapkan maka aku percaya pada dia yang mengatakannya.
Sementara waktu aku ndak percaya pada apa yang dikatakan,
Aku secara tidak langsung juga tidak percaya pada Dia,
Dari sebab itu….
marilah kita selalu waspada
manakala kita bertutur-kata, manakala kita berbicara
apalagi saat dunia sekarang menawarkan aneka bentuk kemudahan media
dalam bertutur kata dan berbagi cerita
sebab dari kata kita, dari tutur kita, dari bicara kita,
orang akan menaruh percaya atau tidak terhadap diri kita
Pekerjaan
Published Mei 1, 2012 by misstreeantoz…”Perkenalkan nama saya Romeo, kerjaan saya di Telkom…”
“Perkenalkan, nama saya Buds, saya direktur MLM…”
“Nama saya Bent, saya kerja di Hotel…”
“Saya Paino, setiap hari saya kerja mulung sampah di pasar, selesai itu saya narik becak sampai malem…”
suka atau tidak suka, sadar atau tidak, kita kerap melihat identitas seseorang berdasarkan pekerjaannya. Dan itulah kenyataan yang kita hadapi dan juga dialami oleh banyak orang. Orang mempercayai kita karena pekerjaan. Orang juga tidak mempercayai kita karena pekerjaan. Bahkan orang juga bisa tidak percaya dengan pekerjaan yang kita miliki.
Tidak jarang tampang dan penampilan kita yang tidak sesuai dengan pekerjaan ternyata menimbulkan keraguan di mata orang banyak. Dan akhirnya…. betapa sulitnya kita menaruh sebuah kepercayaan atas seseorang. hanya karena pekerjaannya tidak jelas, atau pekerjaan yang dikatakannya tidak sesuai dengan penampilannya.
Yesus sendiri mengalami hal yang serupa, di mana ia diragukan dan dituntut kejelasan identitasNya. sampai-sampai ia menjawab: “Aku telah mengatakannya kepada kamu, tetapi kamu tidak percaya; pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan dalam nama Bapa-Ku, itulah yang memberikan kesaksian tentang Aku, (Yoh 10: 25) Orang melihat Yesus dan sulit untuk percaya karena kurang melihat lebih dalam pada apa yang dilakukannya.
Kalau kita tidak percaya lagi pada pekerjaan yang dimiliki seseorang, cobalah kita melihat pribadinya dari pekerjaan-pekerjaan yang dilakukannya. Sekalipun ia seorang manajer, direktur atau apalah…. cobalah juga melihat bagaimana ia melakukan pekerjaan itu, maka kita akan mengenal identitas dan kesejatian orang tersebut. Sekalipun kita berhadapan dengan seorang pemulung, penarik becak atau apalah namanya, tetapi jika kita melihat secara lebih dalam ketulusan, semangat, persembahan dirinya pada apa yang dilakukannya dengan pekerjaan itu, maka kita akan melihat hal yang luar biasa dan kita percaya pada dia.
Cobalah tidak hanya melihat sekadar pekerjaan, tetapi sekaligus bagaimana seseorang melakukan pekerjaannya.
20 April 2012
Published April 19, 2012 by misstreeantoz(Kis 5:34-42; Yoh 6:1-15)
“Sesudah itu Yesus berangkat ke seberang danau Galilea, yaitu danau Tiberias. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat mujizat-mujizat penyembuhan, yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit.Dan Yesus naik ke atas gunung dan duduk di situ dengan murid-murid-Nya. Dan Paskah, hari raya orang Yahudi, sudah dekat. Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat, bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus: “Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?” Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu, apa yang hendak dilakukan-Nya. Jawab Filipus kepada-Nya: “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.” Seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya: “Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?” Kata Yesus: “Suruhlah orang-orang itu duduk.” Adapun di tempat itu banyak rumput. Maka duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya. Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki.Dan setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya: “Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang.” Maka mereka pun mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan. Ketika orang-orang itu melihat mujizat yang telah diadakan-Nya, mereka berkata: “Dia ini adalah benar-benar Nabi yang akan datang ke dalam dunia.” Karena Yesus tahu, bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir pula ke gunung, seorang diri.” (Yoh 5:1-15)
Terapi Emosi Rasional
Published Desember 19, 2011 by misstreeantozTerapi emosi rasional merupakan cara pendekatan konseling pastoral untuk membantu konseli mengatasi masalah psikologis/emosional dengan mengubah cara pikir atau pandangan pribadi yang irasional tentang diri, manusia, lingkungan hidup dan wujud tertinggi.
Pada dasarnya manusia menderita terutama bukan karena hal-hal eksternalnamun dari dalam dirinya sendiri. oOleh karena itu orang yang yang mengalami gangguan emosional (cemas, gelisah, marah, sakit hati, depresi, neurosis, dll) harus dibantu dengan meninjau kembali cara berpikirnya yang tidak rasional dan menggantinya dengan yang rasional.
Manusia adalah makhluk unik yang memiliki karakter rasional sekaligus irasional. Karakter rasional menyangkut pola pikir yang efisien, fleksibel, dan ilmiah. Sementara karakter irasional mencakup seluruh sikap, perasaan, tingkah laku, dan tindakan yang tidak efisien, kaku, dan tidak logis yang kerap merugikan diri sendiri dan menghalanginya untuk bisa sampai pada kebahagiaan. Dalam praktek hidup, manusia kerap menggunakan kombinasi antara kedua karakter ini.
KISAH SENGSARA MENURUT YOHANES
Published Desember 10, 2011 by misstreeantozDalam kisah sengsara Yesus Kritus menurut Inji Yohanes berciri sebagai beriut: Yesus digambarkan sebagai tokoh besar yang menguasai situasi orang-orang. Yesus adalah seorang pribadi agung mengingat ia digambarkan sebagai pribadi yang berani maju saat akan ditangkap. Ciri lainnya adalah Yesus digambarkan sebagai raja. Hal ini tampak misalnya dalam kisah Yesus yang dimahkotai duri, disalib di antara dua penjahat…
St. John Gabriel Perboyre’s Prayer
Published Juli 4, 2010 by misstreeantozO my Divine Saviour
Transform me into Yourself.
May my hands be the hands of Jesus.
May my tongue be the tongue of Jesus.
Grant that every faculty of my body
May serve only to glorify you.
Above all,
Transform my soul and all its powers
So that my memory, will and affections
May be the memory, will and affections
Of Jesus.
I pray to you
To destroy in me
All that is not of you.
Grant that I may live
But in You, by You and for You,
So that I may truly say with St. Paul,
“I live now, not I,
“But Christ lives in me.”
Selibat, doa dan relasi dengan masyarakat: antangan imam jaman sekarang
Published Januari 26, 2010 by misstreeantozFernando Lugo Mendez adalah seorang uskup San Pedro, Paraguay. Ia menunjukkan kedekatannya kepada orang miskin dan tertindas selama ia menjadi seorang imam dan uskup. Pada tahun 2007 ia masuk partai polotik dan dapat disebut berkecimpung dalam politik praktis hingga ia memenangkan pemilu presiden pada 20 April 2008. Akhirnya paus Benediktus XVI melepas status Lugo sebagai imam SVD (Hidup No.31 tahun ke-63-2 Agustus 2009). Fenomena yang diwakili oleh Lugo adalah salah satu dari sekian banyak fenomena yang dihadapi oleh imam jaman sekarang. Kehidupan imam sekarang ii memang penuh dengan tantangan. Jatuh bangun dalam kehidupan seorang imam merupakan jalan menuju kekudusan. Kudus dalam pengertian perjanjian Lama adalah konsep pribadi yang dikhususkan. Akan tetapi seorang imam juga adalah manusia biasa yang bisa jatuh dalam dosa. Dalam konteks Perjanjian Baru dan jaman sekarang, kesucian imam tidak hanya dilihat dari kerohanian belaka. Kesucian juga perlu dikaji dari segi daya tahan seorang imam dalam menjalankan imamatnya.
Pada akhir-akhir ini banyak imam yang disorot oleh banyak orang terutama kalangan umat karena soal perilaku yang terlalu ‘berpihak’ pada umat yang kaya atau ‘kedekatan’pada ibu-ibu muda atau sejenisnya( Presbyterium Edisi 11 tahun3, November-Desember 2009). Disamping itu juga ada sekian banyak persoalan yang berkaitan dengan tantangan hidup seorang imam dalam jaman sekarang. Bagaimanapun juga seorang imam adalah pemimpin yang menjadi sorotan bagi banyak orang terutama umat. Setiap tingkah laku dan kegiatan para imam selalu mendapat perhatian dan menjadi bahan perbincangan. Jika demikian, apa sebenarnya yang menjadi tantangan seorang imam jaman sekarang?
Tantangan terbesar bagi imam jaman sekarang adalah soal kemampuan imam berdialog dengan umat. Secara harafiah dialog dapat diartikan sebagai percakapan antara satu pribadi dengan pribadi yang lainnya. Dalam hubungaannya dengan peran seorang imam, dialog dapat dipahami sebagai percakapan antara imam dan umat dalam hubungannya dengan persoalan-persoalan yang saat ini dihadapi imam maupun umat. Bagaimana seorang imam mampu berdialog untuk memecahkan persoalan yang ia hadapi baik secara pribadi maupun berhubungan dengan umat. Dialog bukan hanya seputar pemecahan persoalan, namuan mencakup soal menjadi seorang pribadi yang dekat dengan umat apapun latar belakangnya(Presbyterium Edisi 11 tahun3, November-Desember 2009)
Tiga kenyataan yang ada di atas, mulai dari tantangan keberpihakan pada orang miskin yang berbenturan dengan hirarki Gereja, sorotan umat terhadap tingkah laku seorang imam, maupun tantangan imam sebagai pemimpin untuk mampu berdialog dengan umat sebagai seorang gembala yang sejati adalah sebagian kecil dari sekian banyak kenyataan yang menghadirkan bahwa hidup seorang imam tidak akan terlepas dari tantangan yang berasal dari dalam dirinya sendiri maupun dari pihak luar. Apakah kenyatan itu akan menjadikan masa depan seorang imam semakin suram? Ataukah tantangan tersebut justru memicu semangat para caln imam jaman ini? Berawal dari paparan di atas tulisan ini akan mengulas tiga poin berhubungan dengan hidup seorang imam, yaitu doa, selibat dan relasi dengan masyarakat.
Imam dan Doa
Seorang imam disebut ‘a man of prayer’, manusia pendoa. Imam dipanggil untuk memperbarui dan memperdalam relasi umat dengan Kristus. Doa adalah relasi seseorang dengan Kristus, suatu sikap hati atau suatu keberadaan kita di hadapan Kristus. Doa bersama memang penting untuk seorang imam, namun tidak menutup kemungkinan pada pentingnya doa pribadi. Doa-doa pribadi sering menjadi kekayaan pribadi untuk membangun hidup doa bersama(Kevin J. Fitzpatrick; 1992, hlm.25). beberapa komentar yang berkaitan dengan kehidupan para imam jaman sekarang ini adalah perbandingan dengan imam-imam dalam era duapuluh tahun yang lalu. Para imam sekitar duapuluh tahun yang lalu sering hadir dengan memegang rosario ketika berjalan atau bepergian. Berbeda dengan imam jaman sekarang, di mana para imam bepergian atau berjaan-jalan dengan membawa handphone. Apakah hal ini disebut sebagai kemerosotan dalam hidup rohani? Banyak umat mengajukan kritik terhadap fenomena sekarang itu. Akan tetapi menurut hemat kami ada hal positif yang sebenarnya masih dapat diambil dibalik fenomena yang ada. Handphone sekarang ini telah banyak dilengkapi dengan fasilitas untuk membantu pengembangan hidup rohani, mulai dari ayat Kitab Suci sampai dengan renungan dan doa. Persoalannya adalah pengendalian diri dan penggunaan fasilitas yang sesuai dengan perkembangan jaman ini oleh seorang imam, apakah para imam menggunakan fasilitas yang ada ini sebagai sarana untuik semakin membangun hidup doa dan tidak kalah dengan para imam yang setia mendoakan rosario mereka sepanjang hari? Inilah tantangan yang harus dihadapi oleh para imam jaman ini. Bisakah sarana-sarana yang mereka miliki saat ini menjadi pemicu dan pendekat hati mereka untuk membangun relasi yang semakin intim dengan Yesus Kristus?
Bagaimana Gereja menyikapi krealitas yang ada untuk pembinaan para calon imam dalam menghasilkan imam-imam yang kuat dalam menghadapi tantangan jaman ini? Dalam komunitas pembinaan banyak seminari yang saat ini masih menerapkan prosedur larangan dan hukuman. Ketika situasi di luar seminari banyak anak muda berhadapan dengan aktivitas narsis dan tidak bisa lepas dari teknologi. Seminari tidak menutup diri terhadap realitas tersebut. Banyak seminari mulai membuka diri dengan berusaha melek teknologi dan informasi. Akan tetapi masih ada sekat-sekat yang tetap dipertahankan oleh beberapa seminari, misalnya penggunaan teknologi yang dibatasi. Sementara pengembangan hidup rohani dikaji kembali. Ini adalah sebuah usaha yang bagus dimana seminari bertanggungjawab untuk membentuk kader-kader pemimpin Gereja atau para imam yang memiliki hidup rohani yang tinggi; relasi yang dekat dengan Allah. Akan tetapi apakah visi seminari ini sudah dipahami dengan sungguh oleh para subyek bina; dimana mereka masih berpikir soal yang menyenangkan dan sesuai dengan tren jaman sekarang? Bahaya yang perlu diantisipasi adalah kesadaran dari masing-masing pribadi untuk menangkap apa yang dituju oleh seminari dan secara khusus Gereja universal. Jika masing-masing pribadi belum sampai pada pengertian bahwa pembudayaan di seminari itu untuk mencetak imam yang memiliki kualitas hidup doa tinggi, maka hasilnya adalah pelampiasan ketika seminaris keluar dari seminari. Mereka akan lupa jatidiri mereka sebagai orang yang ‘dikuduskan’. Mereka akan jatuh pada arus jaman dan semua yang dibina selama di komunitas pembinaan adalah sebuah kenangan yang sekarang tidak lagi dipegang. Hidup doa menjumpai tantangan yang berat ketika berbenturan dengan teknologi dan infornasi yang semakin pesat.
Imam dan Selibat
Selibat adalah salah satu topik yang tidak pernah akan habis untuk dibicarakan dalam gereja Katolik Roma. Bnayak orang selalu bertanya, mengapa imam harus selibat? Pandangan yang sempit melihat selibat sebatas pada soal seseorang tidak kawin. Akan tetapi ada orang yang dapat memahami selibat sebagai kebebasan menyerahkan diri kepada Kristus dan sesama(Kevin J. Fitzpatrick; 1992, hlm. 66). Kardinal Carlo Martini dalam sebuah tanya jawab dengan umat mengungkapkan bahwa hidup selibat memang dimasukkan dalam hukum Gereja Katolik Roma. Jika kita berada di gereja ritus timur, kita akan menjumpai banyak imam yang tidak selibat karena memang disana diijinkan. Dalam jawabannya, kardinal Martini membedakan dua unsur selibat, yaitu segi spiritual dan sosial. Kebiasaan selibat dalam ereja katolik Roma berawal dari tradisi monastik(para rahib)yang ingin memberikan diri mereka seutuhnya secara bebas kepada Allah. Mereka ingin meneladan cara hidup Yesus yang memilih untuk htidak menikah. Dalam perkembangannya gereja katolik Roma menetapkan disiplin selibat sebagai peraturan yuridis dalam konsili trente pada abad XVI.
Pendapat sekilas yang ada di awal tulisan ini mengenai fenomena para imam yang disorot oleh b anyak orang karena ‘kedekatan’ dengan para ibu muda atau janda-janda memang cukup gencar. Tambahan lagi ketika ada seorang imam yang keluar atau melepaskan diri dari imamatnya. Komentar atau tanggapan yang pertama kali muncul adalah karena soal perempuan atau selibat. Inilah realitas yang ditampilkan dan harus dihadapi oleh para imam jaman sekarang. Meskipun demikian, apakah realitas ini harus kita pahami sebagaimana yang ada ataukan kita perlu menelaah kembali lebih dalam, apa yang ada di balik semua fenomena ini? Imam adalah sebiah pilihan dan pilihan ini dilandasi dengan kebebasan yang telah dibangun selama bertahun-tahun berada dalam pembinaan. Mengapa para imam harus disayangkan ketika berhadapan dengan tantangan selibat yang awalnya adalah pilihan bebas dan kemudian dipungkiri? Ingat bahwa selibat ini bukan dogma melainkan soal peraturan. Maka disposisi batin dalam kaitannya dengan peraturan kiranya perlu ditelaah ulang, sejauh mana peraturan itu bukan hanya mengikat tetapi juga membangun kesadaran yang dihidupi karena para imam menaruk kebebasan mereka untuk menaati peraturan tersebut.
Imam dan masyarakat kecil
Masyarakat dalam arti sempit untuk tulisan ini adalah mereka yang berada di bawah, mereka yang miskin, tidak memiliki ruang dan suara untuk memperbaiki hidup mereka. Kasus yang dihadapi oleh Fernando Lugo adalah kenyataan ketika seorang imam melihat penderitaan umatnya, Ia tidak bisa menutup diri dan lari dari keprihatinan atau jerutan suara hatinya. Ia berusaha utnuk dekat dengan umat, ikut berjuang bersama mereka dan berusaha keras untuk membangkitkan kesejahteraan masyarakat kecil. Akan tetapi dalam gereja Katolik roma ditekankan untuk tidak terlibat aktif dalam politik praktis. Sekalipun seorang imam memiliki keprihatinan yang mendalam dengan kemiskinan, ia tidak pernah diperkenankan terjun dalam politik praktis. Kasus yang dialami oleh Lugo adalah ketika pilihannya berbenturan dengan aturan Gereja. Akhirnya Gereja melepaskan statusnya sebagai seorang imam. Bahaya lain yang bisa menjadi tantangan para iman jaman sekarang ini adalah jatuh pada dktivisme, dimana hidup akttif menjadi kebanggaan sementara hidup rohani atau doa kurang diperhatikan.
Pada dasarnya semua berbenturan pada yang namanya peraturan. Setiap institusi memiliki aturan main dan ketentuannya masing-masing. Setiap pribadi yang ingin menggabungkan diri pada institusi tersebut tidak dapat dengan semaunya sendiri menentukan pilihan tanpa mengindahkan peraturan yang ada dalam institusi tersebut. Persoalannya adalah ketika peraturan tidak ditangkap sebagai sesuatu yang menumbuhkan. Dengan demikian tantangan yang dihadapi oleh para imam jaman sekarang baik yang berhubungan dengan doa, selibat dan masyarakat pada dasarnya bukan tantangan yang baru. Semua hendaknya dipahami sebagai penyaturagaan pribadi ke dalam institusi. Jika setiap imam telah memiliki integritas yang tinggi terhadap apa yang mereka imani, maka mereka tidak akan jatuh dalam satu ekstrem, atau lari dari ketentuan yang ditetapkan.



