
Kisah ini berawal di Andalusia, Spanyol, di sebuah wilayah yang perbukitan hijau bertemu dengan laut biru. Di sana, hiduplah seorang pemuda bernama Santiago. Ia bukan seperti pemuda desa lainnya yang memilih menetap di satu tempat. Santiago menjalani hidup sebagai penggembala domba, sebuah pilihan yang disengaja dan penuh makna baginya. Hidup ini dipilihnya bukan tanpa alasan; jauh di lubuk hatinya, Santiago memiliki keinginan yang membara untuk melihat dunia, sebuah Legenda Pribadi yang lebih besar dari sekadar menetap di satu tempat. Menjadi penggembala memberinya kebebasan untuk bergerak, melintasi berbagai desa dan lanskap, merasakan hembusan angin dari tempat-tempat yang belum pernah ia kunjungi. Ia menemukan kebahagiaan dalam kesederhanaan, ditemani domba-dombanya yang setia yang memberinya rasa aman dan rutinitas yang menenangkan, buku-buku yang membuka jendela dunia dan imajinasi tentang tempat-tempat jauh, serta kebebasan untuk merenung di bawah langit terbuka yang luas. Ia bisa membaca buku-buku tebal di bawah pohon rindang, atau sekadar mengamati awan dan memikirkan kehidupan. Setiap hari adalah petualangan kecil, melintasi padang rumput yang berbeda, bertemu dengan orang-orang baru di desa-desa yang disinggahi, belajar tentang kebiasaan mereka, dan merasakan denyut kehidupan di tempat-tempat yang berbeda. Namun, di balik ketenangan dan kebebasan itu, ada kegelisahan halus yang terusik oleh mimpi yang berulang. Dalam mimpi itu, di reruntuhan gereja tua yang kini menjadi kandang dombanya, di bawah pohon sycamore besar yang tumbuh di sakristi, seorang anak kecil muncul dan memberitahunya tentang harta karun yang tersembunyi di dekat Piramida Mesir. Mimpi itu begitu jelas, begitu persisten, seolah alam semesta sendiri yang berbisik kepadanya, memanggilnya menuju sesuatu yang lebih besar, sebuah takdir yang menunggunya.
(lebih…)