Home

“When the moonlight shines, all the stars are smiling. Now the time has come, you leave me all behind.” —Mocca, Circa 2002

Ayu Rianna is author of That Summer, Definitely Love, Ora (Kata Kota Kita), Teater Boneka, and There’s Something Between Us. This blog is a home for her feral thoughts, stories and dreams.

Photo by Jess Loiterton on Pexels.com
Photo by Zain Ali on Pexels.com
Photo by Rakicevic Nenad on Pexels.com

When The Moonlight Shines

PROLOG Kaia selalu beranggapan bahwa teori “jatuh cinta pada pandangan pertama” itu seharusnya tidak pernah ada. Karena cinta seharusnya dimulai dari hati—bukannya mata, karena cinta seharusnya tidak memandang penampilan visual seseorang, dan masih banyak rangkaian argumen lainnya yang dimiliki Kaia. Namun ternyata hatinya sendiri berkhianat pada seluruh prinsip dalam kepalanya, ketika Kaia bertemu dengan pria itu dan dibuat jatuh cinta setengah mati hanya karena melihat senyuman dan mendengar suaranya. Hari itu, Kaia datang terlambat ke acara bulanan A Little Hope Foundation, yayasan kanker anak yang terbesar di Propinsi Quebec, tempat Kaia aktif sebagai relawan selama dua tahun terakhir. Saat ia…

Keep reading

Love In The End

Kim Sung Jae memandangi ponselnya dengan tatapan tak percaya. Pikirannya mendadak keruh. Beberapa detik yang lalu ia baru saja mendengarkan laki-laki berengsek itu bicara, nadanya tenang namun penuh ancaman. Mengulang kembali tentang balapan terakhir yang merenggut nyawa kekasihnya. Mengulang kembali soal pembalasan. Soal kekejaman yang bisa dilakukannya untuk membuat Sung Jae sangat menderita. Lalu ada suara gadis itu. Tidak berteriak, hanya mengucapkan peringatan agar Sung Jae tidak datang, dan membisikkan kata-katanya yang terakhir. “Aku mencintaimu, Sung Jae ya.” Suaranya yang lirih terus bergema di telinga Sung Jae, tanpa henti, seolah ingin beradu dengan dentaman jantungnya yang kelewat nyaring. Ada sekelumit rasa…

Keep reading

Just One Day

Mereka bilang dunia berputar, segalanya selalu dan akan terus berubah. Bunga-bunga bermekaran di musim semi, daun-daun berganti warna dan meranggas di musim gugur, orang-orang berpikir dan bersikap dengan cara yang berbeda saat mereka tumbuh dewasa. Semua hal berubah, semua orang berubah. Kecuali satu yang dikenal Claire sebaik ia mengenal pola dan garis di telapak tangannya sendiri. Namanya Tyler Kim. Lelaki paling aneh dan menjengkelkan di dunia, sahabat sekaligus musuh nomor satu Claire, yang tak pernah berhenti dirindukan dan dibencinya pada saat yang bersamaan. Keduanya berkenalan pada hari pertama masuk sekolah menengah. Ketika itu, Tyler yang baru datang dari kampung halaman…

Keep reading

Hello

Choi Jin Hee tersenyum kecil ketika mendengarkan suara tawa tiga belas laki-laki dari earphone yang terpasang di telinga kanannya, sementara kedua matanya sama sekali tak lepas dari layar MacBook Pro yang terbuka di atas meja kerjanya. Terima kasih pada koneksi internet yang kecepatannya nyaris melebihi kecepatan cahaya, jadi saat ini Jin Hee dapat melihat wajah yang familiar itu dan mendengar suaranya dengan sangat jelas, meski mereka berada ribuan mil jauhnya. Selama setengah menit berikutnya ia menonton siaran live streaming itu dengan penuh perhatian, sama sekali tidak mau kehilangan satu detik pun ketika tiba gilirannya berbicara nanti. Jin Hee tak melewatkan…

Keep reading

Light and Shadow

Hanna mendesis dalam hati ketika matanya menangkap satu rombongan besar, sangat besar—nyaris mencapai dua puluh kalau menghitung petugas keamanan dan staf—berjalan beriringan di koridor menuju ke ruang tunggu keberangkatan Bandara Internasional Incheon. Di antara semua tempat yang ada di seluruh penjuru Korea Selatan, kenapa mereka harus ada di sini? Kenapa mereka memilih berada di sini, saat ini, saat Hanna juga berada di tempat yang sama? Dan di antara semua orang yang ada di bandara ini, kenapa Hanna harus bertemu mereka? Kenapa harus dia, yang sedang tertawa dan berbagi lelucon dengan salah seorang staf? Kenapa harus dia, yang hari ini tampak…

Keep reading

Something went wrong. Please refresh the page and/or try again.

Upcoming Novel

A Love Like This

But then, I saw love, deeply hidden in his eyes.”

Lei, manajer restoran The Capital Beijing, baru saja kembali dari liburan ketika melihat seorang wanita yang tak dikenal di dapur pastry. Sosok itu tidak mengenakan seragam kerja, rambutnya bahkan hanya dicepol asal-asalan di puncak kepala—sedang berdiri membelakangi pintu masuk sehingga Lei hanya bisa melihat bahu dan punggungnya yang kurus.

Siapa dia? Lei mengerutkan kening. Ia berdeham keras dan berpura-pura batuk untuk menarik perhatian wanita yang sedang sibuk bekerja itu. Kalimat teguran sudah ada berada di ujung lidahnya, namun segalanya langsung berantakan ketika sosok itu akhirnya menoleh dan menatap Lei.

Ternyata Lei sudah mengenalnya selama lebih dari dua puluh tahun. Dan setelah bertahun-tahun mereka berhenti mencari tahu tentang kehidupan satu sama lain, kini wanita itu datang kembali membawa kabar yang begitu mengejutkan, mengingatkan Lei pada segala kenangan masa muda, pahit yang tertinggal dan manis yang tak sempat dikecap.

“Let me live, love, and say it well in good sentences.”

— Sylvia Plath