Mungkin sudah banyak blogger-blogger lain yang telah mengulas Laskar Pelangi baik buku dan filmnya. Tetapi saya akan mencoba (duh santun banget bahasanya) untuk membahas dari sudut pandang yang berbeda. sebagai pembuka, saya akan mengunduh postingan seorang teman yang bekerja di BPKP perwakilan Jayapura.
Freeport…
itulah kata yang muncul dalam benakku saat aku landing di bandara Timika…
Batubara dan emas adalah dua kata berikutnya yang muncul dalam benakku seketika kata freeport terbersit….
Kemiskinan adalah kata selanjutnya yang mengikuti setelah freeport, emas, dan batubara…
miris…
sangat ironis…
hatiku teriris…
saat ku memandang keluar pesawat, orang pribumi berlarian tanpa alas kaki di hujan gerimis…
mereka menjadi budak dari kaum bengis…
orang pu kata papua tanah kaya…
namun orang papua hanya mampu makan daun pepaya…
tra ada daya dan upaya…
dorang hanya mampu bermimpi menjadi jaya…
tra ada yang dorang miliki kecuali rawa penuh buaya…
semua harta diangkut ke barat….
pace mace hidup sekarat…
yang tersisa hanya besi berkarat…
yang miskin makin melarat…
tinggal menunggu waktu yang tepat…
sengsara menunggu datangnya kiamat…
dunia lebih gelap dari kulit dorang yang hitam…
dunia memperlakukan dorang dengan kejam…
masa depan dorang telah tergenggam…
terlalu kelam hingga legam…
tra ada cerah siang kecuali sepinya malam…
segala cita dan asa telah karam…
(M Reza Agung Yudhalaksana, 25 September 2008, saat aku transit di Bandara Moses Kilangin-Timika, Papua)
nb:
bukan hanya siswa di Belitong yang tak bisa menikmati kekayaan ibu pertiwi…masih banyak yang mengalami hal serupa dengan apa yang diceritakan dalam Novel Laskar Pelangi.
Kita semua…
Kita tidak pernah menjadi tuan rumah di negeri sendiri…
sungguh menyedihkan bagi bangsa yang mengaku besar dan memiliki kekayaan alam yang sangat besar…
Mochamad Reza Agung Yudhalaksana
BPKP Perwakilan Papua
Jl. Pasifik Indah III
Pasir Dua, Base G
Jayapura
Papua-Indonesia
Baca entri selengkapnya »