Hati yang Penuh Kasih dan Sayang

Penulis, Akhmad Muhaimin Azzet

Bila ingin hidup bahagia dan disayang oleh Allah SWT, jalan penting yang tidak boleh dilupakan adalah memenuhi hati dengan rasa kasih dan sayang kepada sesama manusia. Rasa kasih sayang ini perlu dikembangkan di dalam hati, baik kepada keluarga sendiri, kerabat, maupun orang lain.

Rasa kasih dan sayang ini penting untuk dimiliki. Sebab, dengan hati yang penuh dengan rasa kasih dan sayang akan membuat sikap seseorang sopan dan santun, lembut atau tidak kasar, perhatian dan peduli, mudah memaafkan, dan senang membantu atau memberikan pertolongan.

Rasulullah Saw. bersabda:

“Barang siapa tidak mengasihi dan menyayangi manusia maka dia tidak dikasihi dan tidak disayangi Allah.” (HR. Bukhari).

Kita bisa membayangkan betapa galaunya hidup ini bila tidak mendapatkan kasih dan sayang dari Allah SWT. Betapa susahnya! Tentu saja kita tidak ingin mengalami kehidupan yang jauh dari rasa bahagia yang seperti itu. Maka, berdasarkan hadits tersebut, membangun rasa kasih dan sayang kepada orang lain adalah jalan yang sangat penting untuk kita lakukan agar mendapatkan kasih dan sayang dari Allah SWT.

Sudah barang tentu orang yang hidupnya penuh dengan rasa kasih sayang akan disenangi oleh banyak orang. Siapakah di antara kita yang senang jika tidak disenangi oleh orang lain? Tentu tidak ada. Betapa tidak enaknya jika orang yang kita dekati pada tidak peduli dengan kita, mendiamkan kita, atau menganggap kita tidak ada. Hal ini bisa terjadi jika di dalam hati kita sudah tidak ada ikatan dengan orang lain. Maka, ikatan itu perlu ditumbuhkan. Ikatan itu perlu dikuatkan. Ikatan itu bernama rasa kasih dan sayang.

Termasuk ikatan seorang hamba dengan Allah SWT. Di samping rasa iman yang menumbuhkan ketakwaan, ikatan itu bernama rasa kasih dan sayang yang akhirnya melahirkan akhlak yang baik.

Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah SAW pernah ditanya tentang perbuatan yang banyak menyebabkan orang masuk surga. Apa jawab beliau?

“Yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Pembaca yang budiman, di samping takwa, ternyata yang banyak menyebabkan orang masuk surga adalah akhlak yang baik. Sungguh, akhlak yang baik ini tidak bisa muncul bila seseorang tidak mempunyai hati yang dipenuhi dengan rasa kasih dan sayang.

Bahkan, tidak hanya Allah SWT yang menyayangi orang-orang yang di dalam hatinya penuh dengan rasa kasih dan sayang, tetapi juga mereka yang di langit atau para malaikat yang selalu taat kepada-Nya juga sayang kepada orang tersebut.

Rasulullah Saw. bersabda:

“Orang yang belas kasihan akan dikasihi ar-Rahman (Yang Maha Pengasih), karena itu kasih sayangilah yang di muka bumi, niscaya kamu dikasihsayangi mereka yang di langit.” (HR. Bukhari).

Inilah hal penting yang tidak boleh kita lupakan bila ingin hidup sukses dan bahagia. Jalan menuju kesuksesan akan terbangun seiring dengan hati kita yang selalu menumbuhkembangkan rasa kasih dan sayang kepada sesama. Bila sudah demikian, tentu kebahagiaan akan merebak sehingga kita bisa menikmati kehidupan ini dengan indahnya.

Salam dari Jogja,
Akhmad Muhaimin Azzet

Dipublikasi di Sukses dan Bahagia | Tag , | Tinggalkan komentar

Kunci Sukses dan Bahagia itu Ibu

Penulis, Akhmad Muhaimin Azzet, saat mengisi pengajian di Mundu.

Saya sungguh terkesan saat Kick Andy menghadirkan KH. Mustofa Bisri dalam salah satu episodenya. Betapa kiai yang sering dipanggil dengan sebutan Gus Mus itu sangat menghormati ibunya. “Sampai ibu saya meninggal, saya tetap mematuhi ibu saya,” demikian ujar Gus Mus. Begitu pula ketika sering kali Pakde Cholik menyebut sebagai Anak Emak, saya seakan tak kuat menahan rindu untuk menemui ibu tercinta.

Duhai yang kini menempuh kehidupan di tengah bisingnya dunia, betapa dahulu ketika kecil usapan kasih dan sayang sang ibu telah menguatkan jiwa kita hingga kini bisa melangkah. Betapa dekapan hangat sang ibu menguatkan sekaligus menenteramkan jiwa kita sehingga sekarang dapat menghadapi segala tantangan.

Sungguh besar peran dan jasa seorang ibu yang tidak bisa tergantikan oleh seorang ayah. Seorang ayah yang merawat dan memberikan kasih sayangnya kepada sang anak tentu masih tak bisa menandingi betapa besar nilai seorang ibu bagi tumbuh dan berkembang anaknya. Bahkan, semenjak dalam kandungan, dan saat telah lahir pun tetes demi tetes air susu sang ibu menguatkan jiwa dan raga anak tercinta.

Maka, sangat dapat dipahami mengapa Rasulullah Saw. sampai-sampai menempatkan ibu sebagai orang pertama yang layak dihormati. Mengenai hal ini, marilah kita renungkan hadits berikut:

“Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Saw. dan bertanya, ‘Ya Rasulullah, siapakah manusia yang paling berhak aku hormati?’ Rasulullah Saw. menjawab, ‘Ibumu.’ Orang itu bertanya, ‘Siapa lagi?’ Rasulullah Saw. menjawab, ‘Ibumu.’ Orang itu bertanya lagi, ‘Lalu siapa lagi?’ Rasulullah Saw., menjawab, ‘Ibumu.’ Lalu orang itu bertanya lagi, ‘Siapa berikutnya?’ Rasulullah Saw. menjawab, ‘Bapakmu.” (HR. Bukhari).

Ada hikmah yang besar tentunya bila Rasulullah Saw. memerintahkan kepada kita untuk menghormati ibu. Tentu hal ini bukan soal membalas jasa sang ibu tercinta yang begitu besar memberikan kasih dan sayangnya kala kita masih kecil. Bukan hanya soal ini. Sebab, menghormati dan berbakti kepada ibu (dan juga bapak tentunya) adalah bagian yang mengikat dalam kesempurnaan iman kita kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya.

Allah Swt. berfirman:

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu-bapakmu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu.” (QS. Luqman: 14).

Sungguh, inilah rahasia sukses yang penting untuk kita ketahui dan lakukan dalam kehidupan ini. Yakni, menghormati dan berbakti kepada ibu. Jangan sampai kita membuatnya bersedih oleh karena perkataan dan sikap kita yang tidak sopan. Kita mesti terus-menerus berlaku baik dan mendoakannya. Mari kita lakukan, lalu buktikan apa yang terjadi. Sebab, orang-orang yang sukses dan bahagia dalam kehidupannya telah membuktikan hal ini.

Salam dari Jogja,
Akhmad Muhaimin Azzet

Dipublikasi di Sukses dan Bahagia | Tag , , | Tinggalkan komentar

Apakah Kita Mau Jadi Orang Kebanyakan?

Penulis, Akhmad Muhaimin Azzet, saat mengisi
kajian di Masjid Al-Amien, Kadisoka.

Saya tertegun pada saat membaca firman Allah Swt., “aktsaran naasi laa yasykuruun” di al-Baqarah ayat 243. Lebih lengkap terjemahannya begini:

“Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.” (QS. al-Baqarah: 243).

Ungkapan “kebanyakan” manusia tidak bersyukur ini juga disampaikan oleh Allah Swt. dalam ayat berikut:

“Allah-lah yang menjadikan malam untuk kamu supaya kamu beristirahat padanya; dan menjadikan siang terang benderang. Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan atas manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.” (QS. al-Mu’min: 61).

Betapa jelas sekali disebutkan bahwa kebanyakan manusia tidak bersyukur? Padahal, bersyukur atas segala nikmat yang telah kita terima adalah kunci penting agar kita bisa merasakan sebuah kebahagiaan.

Bagi orang yang bisa bersyukur, seberapa pun anugerah yang diterima dalam kehidupan ini akan bisa dinikmatinya dengan bahagia. Bahkan, tidak ada istilah anugerah “kecil” dalam hal ini. Semua dianggap besar dan diterima dengan senang hati karena seberapa pun itu dianggap sebagai anugerah yang indah. Sungguh betapa bahagia bagi orang yang seperti ini.

Oleh karena itu, tentu kita tidak ingin menjadi orang kebanyakan. Yakni, orang-orang yang tidak bisa bersyukur atas nikmat dari-Nya. Sebab, orang kebanyakan adalah orang yang merugi. Mengenai hal ini, mari kita perhatikan firman Allah Swt. berikut:

“Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. al-‘Ashr: 2-3).

Meski secara spesifik kata “kebanyakan” tidak disebut dalam surat al-‘Ashr tersebut, namun yang dimaksudkan orang kebanyakan adalah orang-orang yang merugi. Bahkan, lebih mendasar lagi, setiap orang sesungguhnya merugi, kecuali orang yang beriman dan beramal shalih serta saling menasihati dalam kebenaran dan menetapi kesabaran.

Maka, bila ingin menjadi orang yang bisa merasakan kebahagiaan dalam hidup ini, jangan lagi kita menjadi orang kebanyakan. Bila tidak ingin merugi dalam kehidupan, sungguh jangan pula menjadi orang kebanyakan.

Salam dari Jogja,
Akhmad Muhaimin Azzet

Dipublikasi di Sukses dan Bahagia | Tag , | Tinggalkan komentar

Lima Pilar Utama

Penulis, Akhmad Muhaimin Azzet, saat
mengisi di Masjid Al-Mujahidin
.

Rasulullah Saw. bersabda:

“Islam itu dibangun di atas lima perkara, yaitu: Bersaksi tiada sesembahan yang haq kecuali Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, mengeluarkan zakat, mengerjakan haji ke Baitullah, dan berpuasa pada bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

“Islam dibangun di atas lima perkara, mengesakan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, puasa Ramadhan, dan menunaikan haji.” (HR. Muslim).

Bersyahadat bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali hanya Allah Swt. dan Nabi Muhammad Saw. adalah utusan-Nya adalah pilar pertama di dalam berislam. Keislaman seseorang selanjutnya sangat perlu untuk dibangun dengan empat pilar berikutnya, yakni mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan menunaikan ibadah haji ke tanah suci bagi yang berkuasa atau mampu. Setiap pilar dalam berislam apabila ditegakkan dengan sungguh-sungguh akan mempunyai pengaruh yang sangat dahsyat dalam kehidupan seseorang. Seseorang tidak mudah goyah, hidup menjadi lebih dinamis, dan lebih mudah dalam mencapai kesuksesan dan kebahagiaan.

Salam dari Jogja,
Akhmad Muhaimin Azzet

Dipublikasi di Ibadah | Tag , , , , , , | Tinggalkan komentar

Kunci Utama Hidup Sukses dan Bahagia

Penulis, Akhmad Muhaimin Azzet, saat
mengisi pengajian di Masjid Suciati Saliman.

Dari Umar r.a., beliau berkata, “Pada suatu hari ketika kami duduk di dekat Rasulullah Saw., tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih dan rambutnya sangat hitam. Pada dirinya tidak tampak bekas dari perjalanan jauh dan tidak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Kemudian ia duduk di hadapan Nabi Saw., lalu mendempetkan kedua lututnya ke lutut Nabi, dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua pahanya, kemudian berkata, ‘Wahai Muhammad, terangkanlah kepadaku tentang Islam.’

“Rasulullah Saw. kemudian menjawab, ‘Islam yaitu: hendaklah engkau bersaksi tiada sesembahan yang haq disembah kecuali Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah. Hendaklah engkau mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, dan mengerjakan haji ke rumah Allah jika engkau mampu mengerjakannya.’

“Orang itu berkata, ‘Engkau benar.’

“Kami menjadi heran, karena dia yang bertanya dan dia pula yang membenarkannya. Orang itu bertanya lagi, ‘Lalu terangkanlah kepadaku tentang iman.’

“(Rasulullah) menjawab, ‘Hendaklah engkau beriman kepada Allah, beriman kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para utusan-Nya, hari akhir, dan hendaklah engkau beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk.’

“Orang tadi berkata, ‘Engkau benar.’ Lalu orang itu bertanya lagi, ‘Lalu terangkanlah kepadaku tentang ihsan.’

“(Beliau) menjawab, ‘Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Namun, jika engkau tidak dapat (beribadah seolah-olah) melihat-Nya, sesungguhnya Ia melihat engkau.’

“Orang itu berkata lagi, ‘Beritahukanlah kepadaku tentang hari kiamat.’

“(Beliau) menjawab, ‘Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya.’

“Selanjutnya, orang itu berkata, ‘Beritahukanlah kepadaku tanda-tandanya.’

“(Beliau) menjawab, ‘Apabila budak melahirkan tuannya, dan engkau melihat orang-orang Badui yang bertelanjang kaki, yang miskin lagi penggembala domba berlomba-lomba dalam mendirikan bangunan.’

“Kemudian orang itu pergi, sedangkan aku tetap tinggal beberapa saat lamanya. Lalu, Nabi Saw. bersabda, ‘Wahai Umar, tahukah engkau siapa orang yang bertanya itu?’

“Aku menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.’

“Lalu, beliau bersabda, ‘Dia itu adalah Malaikat Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.” (HR Muslim)

Pembaca yang tercinta, kedatangan Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad Saw. dan bertanya tentang Islam, iman, ihsan, dan kiamat adalah sebuah cara yang sangat indah tentang bagaimana Allah Swt. dan Rasul-Nya memberikan pelajaran bagi umat manusia agar hidupnya sukses dan bahagia, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Tiga hal penting tersebut, yakni Islam, iman, dan ihsan, apabila dipegang dengan teguh dalam hati dan diwujudkan dengan tingkah laku yang nyata dalam kehidupan sehari-hari maka akan membuat hidup seseorang selamat dan bahagia.

Dan, pertanyaan Malaikat Jibril tentang kiamat adalah penegasan bahwa hidup di dunia hanyalah sementara; semuanya akan hancur lebur dan jiwa-jiwa akan dibangkitkan di Hari Pembalasan; setiap perbuatan di dunia akan dimintai pertanggungjawaban dan mendapatkan balasannya; sekecil apa pun.

Semoga kita selamat, baik di dunia, maupun kelak di akhirat. Aamiin…

Salam dari Jogja,
Akhmad Muhaimin Azzet

Dipublikasi di Islam | Tag , | Tinggalkan komentar

Pertanyaan untuk Pemuda: Bila Hati Jatuh Cinta, Bagaimanakah Sikap Kita?

Penulis, Akhmad Muhaimin Azzet

Bila cinta telah hadir ke dalam sanubari seseorang, sesungguhnya ada tugas berat yang mesti diemban. Agar cinta yang notabene adalah anugerah terindah dari Yang Maha Suci, tetap terjaga kesuciannya. Agar cinta tidak ternoda oleh perbuatan-perbuatan berdosa yang hanya menuruti hawa nafsu belaka. Agar cinta tetap bening mengalir sesuai dengan ajaran-ajaran mulia dari Allah Ta’ala yang telah dibawakan oleh Rasulullah Saw. panutan kita.

Maka, ada pertanyaan mendasar yang mesti diajukan kepada setiap kita, pemuda dan pemudi muslim yang sedang jatuh cinta, “Bagaimanakah sikap kita?” Apakah kita memperturutkan begitu saja segala keinginan untuk memenuhi kepuasan cinta. Misalnya, segera menemui orang yang kita cintai saat rindu melanda, menatap wajahnya, menggandeng tangannya, atau bahkan mencium dengan lembut keningnya? Padahal, kita belum menikah. Apalagi, di antara kita tidak sedikit yang sering terjebak dengan atas nama cinta, tetapi malah melakukan perbuatan zina. Astaghfirullahal ‘Azhim.

Sudah barang tentu, sebagai pemuda dan pemudi muslim, segala perilaku atas nama cinta, namun malah berbuat nista sebagaimana tersebut tidaklah sesuai dengan ajaran Islam kita. Sebab, sudah barang tentu pula, orang yang sedang kita cintai adalah bukan mahram kita. Atau, kita memilih sikap yang terbaik pada saat cinta melanda, misalnya dengan sekuat tenaga dan dengan segala upaya menjaga kesucian cinta kita, senantiasa menjaga dan bahkan meningkatkan kualitas keimanan kita? Tapi, bagaimanakah caranya?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, tiba-tiba saya sangat terpesona oleh keagungan firman Allah Swt. berikut ini:

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (QS. an-Naazi’aat [79]: 40-41).

Ternyata, orang-orang yang takut kepada Allah Ta’ala dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya akan mendapatkan sebuah tempat tinggal yang bernama surga. Siapakah yang tidak menginginkan surga? Padahal, di akhirat kelak hanya ada dua tempat, kalau tidak di surga, ya di neraka. Sudah barang tentu, kita semua menginginkan tempat kembali yang penuh dengan kenikmatan, yakni surga-Nya. Sebab, kehidupan akhirat adalah kehidupan yang benar-benar abadi. Sedangkan kehidupan di dunia, sudah barang tentu hanyalah bersifat sementara.

Salam dari Jogja,
Akhmad Muhaimin Azzet

Dipublikasi di Cinta | Tag , , | Tinggalkan komentar

Jadwal Khutbah Jum’at 2025

Akhmad Muhaimin Azzet

JANUARI
3 Januari / Kliwon : Masjid Baabussalaam, Perum Polda
10 Januari / Pahing : Masjid Al-Mujahidin, Japlaksari
17 Januari / Wage : Masjid Ar-Rahman, Nanggulan
24 Januari / Legi : Masjid Kampus Amikom
31 Januari / Pon : Masjid Al-Furqon, Nanggulan

FEBRUARI
7 Februari / Kliwon : Masjid Baitul Amin, Mundu
14 Februari / Pahing : Masjid Darul Falah, Pasekan
21 Februari / Wage : Masjid Ar-Rahman, Nanggulan
28 Februari / Legi : Masjid Al-Ma’arif Dukuhsari

MARET
7 Maret / Pon : Masjid Al-Wahhab, Mrican
14 Maret / Kliwon : Masjid Darul Ikrom, Sambilegi
21 Maret / Pahing : Masjid Nurul Falah, Bedreg
28 Maret / Wage : Masjid Ar-Rahman, Nanggulan

APRIL
4 April / Legi : Insya Allah Mudik Idul Fitri
11 April / Pon : Masjid Al-Ikhlas, Kembang
18 April / Kliwon : Masjid Al-Amien, Kadisoka
25 April / Pahing : Masjid Al-Muhtadin, Perum Purwo

MEI
2 Mei / Wage : Masjid Ar-Rahman, Nanggulan
9 Mei / Legi : Masjid Kampus Amikom
16 Mei / Pon : Masjid Al-Ma’arif Dukuhsari
23 Mei / Kliwon : Masjid Baitul Amin, Mundu
30 Mei / Pahing : Masjid Al-Mujahidin, Japlaksari

JUNI
6 Juni / Wage : Masjid Ar-Rahman, Nanggulan
13 Juni / Legi : Masjid Kampus Amikom
20 Juni / Pon : Masjid Al-Furqon, Nanggulan
27 Juni / Kliwon : Masjid Al-Ma’unah, Saren

JULI
4 Juli / Pahing : Masjid Baabussalaam, Perum Polda
11 Juli / Wage : Masjid Ar-Rahman, Nanggulan
18 Juli / Legi : Masjid Kampus Amikom
25 Juli / Pon : Masjid Al-Ikhlas, Kembang

AGUSTUS
1 Agustus / Kliwon : Masjid Al-Amien, Kadisoka
8 Agustus / Pahing : Masjid Al-Wahhab, Mrican
15 Agustus / Wage : Masjid Ar-Rahman, Nanggulan
22 Agustus / Legi : Masjid Kampus Amikom
29 Agustus / Pon : Masjid Nurul Falah, Bedreg

SEPTEMBER
5 September / Kliwon : Masjid Al-Ma’unah, Saren
12 September / Pahing : Masjid Darul Falah, Pasekan
19 September / Wage : Masjid Ar-Rahman, Nanggulan
25 September / Legi : Masjid Kampus Amikom

OKTOBER
3 Oktober / Pon : Masjid Al-Ikhlas, Kembang
10 Oktober / Kliwon : Masjid Darul Ikrom, Sambilegi
17 Oktober / Pahing : Masjid Al-Mujahidin, Japlaksari
24 Oktober / Wage : Masjid Ar-Rahman, Nanggulan
31 Oktober / Legi : Masjid Kampus Amikom

NOVEMBER
7 November / Pon : Masjid Al-Ikhlas, Kembang
14 November / Kliwon : Masjid Baitul Amin, Mundu
21 November / Pahing : Masjid Baabussalaam, Perum Polda
28 November / Wage : Masjid Ar-Rahman, Nanggulan

DESEMBER
5 Desember / Legi : Masjid Kampus Amikom
12 Desember / Pon : Masjid Al-Muhtadin, Perum Purwo
19 Desember / Kliwon : Masjid Al-Wahhab, Mrican
26 Desember / Pahing : Masjid Al-Furqon, Nanggulan

Dipublikasi di Ibadah | Tag , , | Tinggalkan komentar

Anugerah Terindah itu Bernama Cinta

Penulis, Akhmad Muhaimin Azzet, saat mengisi pengajian di Masjid Nurul Iman Griya Purwo Asri.

Cinta adalah anugerah terindah yang dikaruniakan Allah kepada setiap manusia. Segala yang bernama hubungan akan terasa hampa bila tanpa cinta. Meskipun di surga, sebuah tempat yang paling nikmat dan penuh pesona bahagia, ternyata Adam merasa sendirian dan membutuhkan teman bercengkerama. Maka, atas nama cinta pula, Allah menciptakan Hawa sebagai pendamping setia. Begitu pula setelah Adam dan Hawa turun sebagai penghuni dunia. Meskipun mereka berdua ditempatkan pada sebuah tempat berbeda yang sangat jauh jaraknya, ketertarikan cinta antara keduanya membuatnya bertemu dengan sepenuh kerinduan di sebuah padang, Arafah namanya.

Ya, cinta memang anugerah terindah yang luar biasa. Siapa pun yang sedang dilanda cinta terhadap lawan jenis, akan merasakan getaran-getaran yang tak sepenuhnya dapat diungkapkan dengan kata-kata. Getaran-getaran itulah yang membuat cinta menjadi terasa indah, dan membuat orang-orang yang sedang jatuh cinta mempunyai sebuah rasa yang bernama bahagia. Barangkali perasaan cinta dapat ditutup-tutupi, tapi siapakah yang dapat mengingkari bila kejujuran hati telah terpesona.

Padahal, cinta dapat melanda siapa saja. Cinta dapat mendatangi orang-orang yang menjaga hatinya; hadir kepada saudara-saudara yang menjaga pandangan (ghadhul bashar); cinta juga dapat dengan diam-diam secara tiba-tiba membelai lembut ikhwan dan akhwat yang sungguh-sungguh menjaga keimanan dan ketakwaannya. Sebab, cinta tidak selalu datang lewat pandangan mata, tetapi cinta bisa hadir oleh kebaikan akhlaknya, oleh walau sepintas mendengar suaranya, atau bahkan cinta bisa hadir begitu saja. Ya, begitu saja. Inilah barangkali yang saya sebut bahwa cinta adalah anugerah terindah dari Allah ‘Azza wa Jalla.

Salam dari Jogja,
Akhmad Muhaimin Azzet

Dipublikasi di Keluarga | Tag , | Tinggalkan komentar

Kunci Sukses: Yakin kepada Allah

Penulis: Akhmad Muhaimin Azzet

Seseorang yang menyandarkan keyakinannya kepada Allah, akan mempunyai semangat dan kekuatan yang luar biasa di dalam berusaha untuk mencapai keberhasilan. Ia tak mengenal kata putus asa bila di tengah jalan mengalami halangan atau menghadapi cobaan. Itu semua dikarenakan ia menyandarkan keyakinannya kepada Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dalam hal ini, marilah kita memperhatikan firman Allah Swt. berikut:

“Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab: ‘Allah.’ Maka katakanlah: ‘Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?’ (QS. Yunus [10]: 31).

Seseorang yang menyandarkan keyakinannya kepada Allah, apabila ia mengalami kesuksesan, maka akan ada kesadaran untuk bersyukur kepada-Nya. Ia menyadari bahwa kesuksesannya karena ada peran Allah Swt. yang memberikan bantuan atau pertolongan kepadanya. Sebagai manusia, ia memang berkewajiban untuk berusaha atau berikhtiar dalam meraih keinginannya. Namun, keberhasilan seseorang sangatlah ditentukan oleh pertolongan Allah Swt. Inilah keyakinan seseorang yang bersandar kepada Allah Swt., sehingga bersyukur kepada-Nya adalah sebuah keharusan. Dengan bersyukur, kesuksesan yang diperolehnya membuatnya semakin berbahagia.

Orang yang menyandarkan keyakinannya kepada Allah, apabila mengalami kesuksesan juga tidak membuatnya sombong. Bagaimana bisa sombong jika di dalam hatinya ia merasa bahwa semua keberhasilannya adalah anugerah dari Allah Swt. Bila sudah demikian, biasanya ia juga memiliki sifat mudah berbagi dengan orang lain. Dalam memiliki sesuatu ia tidak pelit. Mengapa? Karena ia merasa apa yang dimilikinya adalah anugerah dari Allah maka ia tidak keberatan untuk berbagi dengan sesama makhluk Allah Swt.

Sebaliknya, orang yang tidak menyandarkan keyakinannya kepada Allah Swt., apabila mengalami kesuksesan ia sulit untuk bisa bersyukur kepada-Nya. Karena, ia merasa bahwa kesuksesannya adalah berkat dari usahanya sendiri. Ia sukses karena memang ia telah berusaha keras. Ia berhasil karena memang ia mempunyai strategi yang baik. Ia memperoleh keuntungan yang besar karena memang mempunyai kecerdasan dan berbakat dalam bidang yang digelutinya. Dan sebagainya. Ya, ia memang mempunyai keyakinan, tapi keyakinan yang kuat pada kemampuannya sendiri. Maka, wajar apabila ia sulit untuk bersyukur kepada Tuhan. Tapi, percayalah duhai pembaca tercinta, kebahagiaan yang ia rasakan karena keberhasilannya tidak bisa sebesar orang yang bersyukur kepada-Nya.

Orang yang demikian, di samping sulit untuk bersyukur, biasanya akan diiringi rasa percaya diri yang berlebihan, sehingga ia pun mempunyai sifat sombong, tinggi hati, atau besar kepala. Hal ini bisa terjadi karena ia merasa bahwa semua kesuksesan yang ia peroleh adalah disebabkan murni karena kemampuannya. Dan, biasanya, ia akan mempunyai dua sifat kesombongan sekaligus, yakni sombong kepada Allah Swt. dan sombong kepada sesama manusia. Lalu, sifat yang biasanya akan mengikutinya adalah kikir. Mengapa? Karena ia merasa bahwa tidak mudah untuk memperoleh semua keberhasilannya. Ia berusaha sendiri dengan tak kenal putus asa, siang dan malam. Maka, segala keberhasilannya akan dinikmatinya sendiri.

Itu semua jika mengalami keberhasilan. Bagaimana jika usaha yang dilakukan seseorang, namun tidak mengalami keberhasilan?

Orang yang menyandarkan keyakinan kepada Allah, bila mengalami kegagalan, maka ia akan mempunyai kesabaran. Ia masih tetap yakin bahwa Allah Swt. akan menganugerahinya keberhasilan. Ia tidak mudah putus asa karena ia bersandar kepada Allah Yang Maha Kuasa. Pada saat gagal, ia akan membangun anggapan positif kepada-Nya, barangkali memang untuk saat ini yang terbaik menurut-Nya adalah demikian. Allah Maha Mengetahui kapan waktu yang tepat untuk berhasil. Maka, ia akan terus berusaha sambil memperbaiki diri dan berdoa.

Sebaliknya, orang yang tidak menyandarkan keyakinan kepada Allah Swt. akan mudah putus asa bila mengalami kegagalan. Ia akan mudah menyalahkan diri sendiri, atau bahkan orang lain. Jika ia termasuk orang yang mempunyai ambisi besar maka ia akan bangkit lagi, meskipun tidak jarang dibarengi dengan emosi. Tapi, jika ia bukan termasuk orang yang mempunyai ambisi besar, ia akan mudah sekali merasa kehilangan harapan. Ia merasa semua usaha sudah ia kerahkan, dan kini ia mengalami jalan buntu yang akhirnya ia merasa sudah tidak mampu lagi berbuat apa-apa.

Sungguh, banyak keburukan yang akan terjadi bila seseorang tidak menyandarkan keyakinannya kepada Allah Swt. Namun, apabila seseorang menyandarkan keyakinannya kepada Allah Swt. maka akan banyak kebaikan yang diperolehnya. Oleh karena itu, kesimpulannya, apabila kita ingin berhasil dalam kehidupan ini, termasuk dalam urusan rezeki, maka kita mesti membangun keyakinan yang kuat. Dengan keyakinan yang kuat bersandar kepada-Nya, maka kita akan lebih mudah memperoleh keberhasilan. Dengan demikian, semoga hidup kita di dunia ini semakin bahagia, lebih-lebih di kehidupan akhirat kelak, semoga semakin lebih bahagia dalam ridha-Nya. Allahumma aamiin.

Salam dari Jogja,
Akhmad Muhaimin Azzet

Dipublikasi di Iman | Tag , | Tinggalkan komentar

Segera Bangun Pagi, Ini Akibat Buruk Bila Tidur Terlalu Lama

Penulis, Akhmad Muhaimin Azzet, saat mengisi
pengajian di Masjid Al-Ikhlas, CRM
.

Bila sudah pagi, mari segera bangun dari tidur. Supaya badan sehat. Jiwa segar dan penuh semangat. Sebab, ada beberapa akibat buruk yang biasanya akan dialami oleh orang yang tidak bangun pagi atau tidur terlalu lama, sebagai berikut:

a. Mengalami lesu badan semenjak pagi; hal ini bisa terjadi karena metabolisme tubuh masih bekerja sebagaimana malam hari. Tubuh membutuhkan waktu lebih lama untuk memulai sistem dan tidak dapat berfungsi secara normal.
b. Mengalami masalah dalam metabolisme; hal ini bisa terjadi karena tubuh tidak berfungsi sesuai ritmenya akibat dari tidur terlalu lama.
c. Mengalami sulit berkonsentrasi dalam waktu lama; hal ini bisa terjadi karena otak mengalami disorientasi akibat tidur lebih dari cukup.
d. Mengalami gangguan atau sakit pada kepala; hal ini bisa terjadi karena cairan serebrospinal bergerak ke otak ketika tidur terlalu lama. Apabila hal ini berlangsung dalam waktu yang lama maka dapat menyebabkan sakit kepala yang parah, bahkan menyebabkan kebutaan.
e. Mengalami banyak kerugian; hal ini bisa terjadi karena waktu pagi adalah waktu yang paling produktif karena pikiran masih segar. Banyak ide-ide besar dalam kehidupan seseorang justru muncul dalam pikiran pada waktu pagi hari. Ketika menghadapi masalah yang pelik, tidak sedikit solusi yang baru ditemukan pada saat pagi.

Selamat bangun pagi. Semoga badan sehat. Rezeki lancar penuh berkah. Aamiin…

Dipublikasi di rezeki | Tag , | Tinggalkan komentar