Walisongo (berikutnya saya tulis Wali9 utk mempersingkat), mereka adalah da’i penyebar islam sekitar abad 13–15 di pulau Jawa. Mereka berbeda kebiasaan dengan ulama-ulama terdahulu, katakanlah para ulama mahzab. Apa kebiasaan itu: membuat karya tulis berupa kitab/buku yang berisi teori, pendapat, penjelasan/syarah, ulasan/uraian, tafsir maupun fatwa berbagai soalan dalam agama Islam.
Dari sekian banyak Wali9, yang membuat karya tulis mendekati hal tersebut diperkirakan hanya 2 orang. Yaitu Maulana Malik Ibrahim dan Sunan Bonang. Karya tulis yang diperkirakan karya Maulana Malik Ibrahim saat ini (berupa manuskrip) terimpan di sebuah museum di sebuah kota di negara Italy, populer disebut Keropak Ferarra. Lalu ada Suluk Ushul dan beberapa manuskrip karya Sunan Bonang yang itupun tersimpan di museum Leiden. Lalu ada karya dari beberapa anggota Wali9 lainnya tak lebih dari karya sastra syair & kesenian (bertema akhlak dalam islam), bukan memuat soal akidah maupun fiqih. Para sunan lainnya, hingga kini tidak diketahui atau tidak diketemukan karya tulisnya yang berupa kitab yang membahas mengenai agama Islam.
Saya pernah menulis di web ini sebelumnya, perihal flight domestik dengan transit di negara tetangga beberapa tahun lalu. Beberapa bulan lalu sebelum post ini saya tulis, saya melakukannya. Alasannya mudah saja, saya tidak mau membayar lebih mahal sementara ada rute yang lebih murah.
Semakin kesini semakin marak alasan penggunaan mobil listrik. Endorsannya mulai masif. Tapi apakah sebagus itu mobil listrik? untuk saat ini belum terbukti. Promosi yang pro-mobil listrik ini dibumbui berbagai alasan, mulai dari ramah lingkungan, mengurangi pemanasan global, efisiensi tenaga, kemudahan perawatan dsb. Yang kontra pun nggak kalah seru berteriaknya, mulai dari infrastruktur belum memadai, tidak lebih ramah lingkungan dibanding mobil ICE, dukungan teknis yang masih rendah hingga argumen yang entah benar entah tidak benar bahwa ada motif mengeruk keuntungan oleh oknum yang ada pada sirkel pemerintah.
Bagi Anda yang menganggap bahwa penolakan terhadap LaGiBeTe adalah semata-mata masalah moral atau agama dan seperti biasa, segala tentang moral dan agama selalu bisa diperdebatkan atau bahkan diabaikan dengan idiom “urus saja moralmu sendiri”. Maka mari kita lihat, apa tidak ada sisi lain yang sebenarnya menentang propaganda LGBT? Mari disimak…
Saya menggunakan sudut pandang Islam, karena saya tidak terlalu paham Old atau New Testament.
Kita mulai dulu dari silsilah Nabi Ibrahim & keturunannya.
Dimulai dari Nabi Ibrahim dulu. Beliau menikah dengan istri pertamanya, Sarah, melahirkan anak ke-2, Ishaq. Pernikahan beliau dengan istri ke-2 nya, Hajar, melahirkan anak pertama/sulung, Ismail.
Pertanyaan yang menjadi bahan perdebatan banyak orang: Siapa penduduk asli Palestina?
Mari kita tarik jauuuuuuuhhh ke belakang. Ke zaman Perunggu (3000–1200 SM).
Area ini dulu disebut sebagai Kanaan. Di zaman Perunggu ini udah ada peradaban. Banyak negara-kota (city-states, negara yang terbentuk hanya seukuran kota. Ini adalah bentuk peradaban primitif, jadi masih kecil-kecil ukurannya) terbentuk di Yerikho, Megiddo, dll. Di zaman ini terjadi perkawinan campur antara budaya lokal dengan budaya Mesir, Mesopotamia, Suriah, bahkan sampai Minoa dan Kaukasus. Ini tentu saja terjadi karena perdagangan yang dilakukan kota-kota di Kanaan dengan wilayah-wilayah tersebut.
Di akhir zaman Perunggu ini Kanaan menjadi wilayah dari Kerajaan Baru Mesir. Kota-kota Kanaan menjadi vassal (kerajaan bawahan) dari Mesir.
Masuk ke zaman Besi (mulai 1100an SM) wilayah Kanaan kedatangan bangsa asing yang disebut orang-orang Filistin (Philistines – Wikipedia), mereka membangun pemukiman-pemukiman di wilayah pesisir selatan Kanaan, khususnya di daerah-daerah seperti Gaza dan Ekron. Pada saat yang sama ini arkeologis menemukan adanya satu bangsa Semitik yang melakukan penyunatan, tidak menggunakan seni tembikar yang sama dengan Filistin dan tidak makan babi. Mereka inilah yang disebut sebagai bangsa Israel (Israelites – Wikipedia).
Dalam menentukan algoritma yang tepat dalam menyelesaikan permasalahan dengan menggunakan Pembelajaran Mesin (Machine Learning), ada tahapan-tahapan yang perlu diperhatikan seperti berapa banyak data yang akan diolah, apakah data yang akan diolah sudah ternormalisasi, dst..
Lebih maju, yes. Lebih beradab … hmm saya gak akan menggunakan istilah “lebih beradab” karena orang-orang Arab juga punya peradaban mereka sendiri. Mereka bukan orang barbar, tapi bangsa beradab. Bangsa Yahudi punya budaya dan peradaban, demikian juga dengan bangsa-bangsa Arab. Jadi saya akan mengatakan mengapa negara Israel lebih maju dari negara-negara Arab tetangganya.
Tulisan ini berdasarkan pengalaman pribadi saya berinteraksi (sekedar ngobrol dan berdebat) dengan kelompok “pemuja” petahana. Saya beri istilah “pemuja”, karena mereka ini sudah menganggap petahana satu-satunya sosok yang akan menyelamatkan Idnonesia. “Ratu Adil”-lah istilahnya.
Di depan publik mereka seperti tampak berantem. Di belakang dan diluar sana, kongkow & ngopi bareng. Maka jangan tertipu politisi & kelakuannya. Parteinya juga sama saja.
Saya copas dari tulisan orang dengan update terkini (April 2020). Kurang lebih seperti ini relasi yang tampak.