Ikhwan Sok Ganteng

Seringkali saya geleng-geleng kepala tiap kali menemui ikhwan pengajian yang sok ganteng. Maksud saya, mereka ini biasanya tipe ikhwan yang selalu merasa bahwa mereka memiliki banyak penggemar, atau yang merasa bahwa setiap akhwat pasti terpikat padanya (dan lebih parah lagi, mereka membangga-banggakannya. Udah GR, bangga lagi. Duh!). Salah satu yang membuat saya tertawa terpingkal-pingkal adalah ketika salah seorang adik saya yang bekerja sebagai operator warnet berkisah tentang salah seorang pelanggannya (yang kebetulan berhijab) yang tiba-tiba datang ke warnetnya menanyakan flashdisknya yang tertinggal di warnet. Saya menahan tawa kecut ketika dia berkata, “Aku tahu sebetulnya dia cuma modus. Paling-paling dia sengaja pura-pura ketinggalan flashdisk.”

Seriously? What is the point? Untuk apa sih membangga-banggakan diri kalo banyak ditaksir orang (apalagi cuma berdasarkan asumsi semata, dan kebanyakan tidak berdasar)? Parahnya, kebanyakan ikhwan menganggap bahwa seseorang menaruh hati pada mereka hanya karena satu atau dua kejadian yang sepele. Misalnya, karena ada akhwat yang SMS, “Teman-teman, presentasi kemarin ada yang punya file-nya nggak?” Lalu Si Ikhwan berpikir, “Wah, ini akhwat pasti naksir ane. Kenapa SMS ane coba? Bisa aja kan dia minta yang lain?”

Atau karena ada akhwat yang SMS “Hadits riwayat Bukhari…” Lalu Si Ikhwan berpikir, “Nah, kan, modus. Ngapain coba dia SMS ane?” Padahal Si Akhwat mengirimkannya pada 20 orang sekaligus.

Atau karena liat akhwat senyum-senyum sendiri tiap kali kalian ketemu? “Nah, kan, positif nih, dia suka sama ane. Ane tahu nih, kalo senyum sama ane pasti naksir.” Parah nih.

Hellooo…? Wake up, Dude! Wake up, Herlino!

Hanya karena seorang akhwat mengucap salam, bukan berarti dia naksir sama situ. Hanya karena kau melihatnya senyum atau tertawa, bukan berarti dia tersenyum padamu. Bisa saja dia sedang tertawa sendiri mengingat kejadian lucu (seperti yang sering saya lakukan, tertawa sendiri mengingat-ingat kejadian yang lalu).

Kalaupun toh bener ada akhwat yang terang-terangan naksir situ (misalnya ente ikhwan yang setype Fachri “Ayat-ayat Cinta”), membangga-banggakannya hanyalah bikin ilfil. Apalagi kalau sampe antum menceritakannya di hadapan akhwat saat sedang khitbah, “Ukh, tau ga, saya ni banyak yang naksir lho. Adek kelas saya dulu aja sampe minta saya nikahin.”

Selamat, nilai anda berkurang 96%.

I know it feels amazing having someone admiring you. Secara manusiawi, siapa, sih, yang nggak seneng punya fans rahasia? Tapi… kalaupun benar antum memiliki banyak penggemar, just keep cool. Diem aja. Elegan dong. Anggap saja seolah semua itu hanyalah lalat yang lewat. Ikhwan sejati malah akan merasa menjadi fitnah jika ada seseorang yang tergila-gila padanya (bukannya malah jingkrak-jingkrak).

Oke, Dude? Ingat, jangan sok ganteng.

Hati-hati Sombong Saat Presentasi!

Bagi beberapa kalangan akademisi, presentasi adalah sebuah ajang pamer isi kepala. Saya pun tadinya berpikir begitu, sampai kemudian saya membaca sebuah hadits  bahwa Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Janganlah kalian belajar ilmu untuk berbangga-bangga di hadapan ulama’, dan jangan pula untuk mendebat orang bodoh, dan jangan pula kalian karena ilmu itu memilih-milih dalam bermajelis, siapa yang melakukan itu maka tempatnya di neraka, di neraka.” (HR. Muslim)

“Barang siapa yang menuntut ilmu untuk mendebat orang-orang awam, atau untuk berbangga dihadapan para ulama, atau untuk mendapat ketenaran dihadapan manusia maka (tempatnya) di neraka.” (HR. Ibnu Majah).

Merinding saya membacanya. Kadang sulit membedakan apakah kita sekedar ‘berbagi ilmu yang kita ketahui’ dengan ‘showing off’, atau seperti dalam hadits di atas, ‘berbangga di hadapan para profesor’. Astaghfirullaahal ‘adzhiem…

“Sesungguhnya Dia (Allaah) tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri.” (QS. An Nahl: 23)

Begitu pula jika kita bertanya dalam sebuah presentasi, atau konferensi. Ada batas yang sangat tipis antara ‘sekedar bertanya’, ‘mengetes kemampuan pembicara’, dan ‘menunjukkan betapa pintarnya kita karena bisa menanyakan pertanyaan yang sulit’. Bahkan sulit juga membedakan antara ingin menyebar ilmu lewat tulisan dengan mencari ketenaran, lewat Facebook atau blog ini. Semoga Allaah mengampuni kita semua.

Namun, hal-hal di atas jangan sampai malah membuat kita ciut nyali untuk terus menyebarkan ilmu, karena Allaah berfirman “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS 58 :11). Marilah kita niatkan segala aktivitas keilmuan kita hanya demi mencari derajat di hadapan Allaah saja, seperti yang dikatakan oleh para nabi, “aku tidak meminta upah sedikitpun dari padamu. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka.” (Qs. Yunus: 72)

Finding Mr. Right

Seorang teman begitu semangat ingin menikah. Sudah lama ia bertualang mencari Sang Mr. Right. Tapi sayang sekali ia menempuh jalan yang salah: pacaran.

Seperti yang sudah saya katakan di postingan sebelumnya, saat kita memilih untuk melanggar syariat, pasti akan ada konsekuensinya. Begitu pula teman saya ini. Bukannya menemukan Mr. Right, yang ia dapatkan lagi-lagi kekecewaan. Heartbreak after heartbreak.

Terus gimana dunk supaya ketemu jodoh? Emang deh, cowok baik-baik jaman sekarang itu susah dicari.

Ya, benar. Laki-laki dan perempuan yang shalih/ah memang susah dicari. Apalagi jika kita mencarinya di tempat yang salah, dengan cara yang salah!

Laki-laki dan perempuan shalih/ah itu seperti peri. Mereka bersembunyi di tempat-tempat yang jarang didatangi manusia. Maka jangan harapkan bertemu mereka di diskotik. If you really care about your love life, cari mereka di tempat-tempat yang positif. Cari di majelis taklim misal. Ini bukan berarti kita bisa ngecengin ikhwan di tempat pengajian! Bukan.

Banyak cerita teman yang bertemu jodoh yang baik di pengajian ibu-ibu. Koq bisa? Ya, karena ada seorang ibu yang ternyata memiliki seorang putra yang sudah saatnya menikah. Dan seringkali di kalangan ibu-ibu pengajian ada seorang yang bertindak sebagai mak comblang. Pokoknya, jangan sepelekan the power of pengajian. Insya Allaah lebih cepat dan aman daripada kita repot-repot ikut klub ini itu yang gak jelas kegiatannya, atau sibuk pedekate kanan kiri.

Selain itu, tingkatkan ibadah. Perbanyak ibadah sekuat yang kita mampu (ibaratnya, se-pol-nya kita dah. Sampe-sampe kita kayanya ga sanggup lagi kalo nambah) lalu kita istiqomah. Yakin deh, jodoh tepat akan datang di saat iman kita berada di titik tertinggi selama hidup kita. Dan keputusan terbaik akan dapat dihasilkan saat ruhiyah kita dalam kondisi terbaik. Makin kita malas ibadah, makin jauh kesempatan kita mendapat jodoh yang baik.

Ok, sahabat Muslimku, para pencari pasangan dunia akhirat, semoga kalian mendapat kebahagiaan sejati ya… saya tunggu testimoninya. ^___^

Ih, Akhi, Gemes deh…

“Ih… kamu lucu deh…”

“Hiks… hiks… lagi sendirian nih, butuh temen.”

“Ih… kamu jahat ya sama aku…”

Saya melongo melihat kata-kata itu. Kata-kata semacam itu sebenarnya wajar ditemui di kehidupan sehari-hari. Namun, akan jadi masalah jika yang mengucapkannya adalah akhwat kepada ikhwan bukan mahram, atau sebaliknya.

Akhwati fillaah yang sudah memutuskan untuk berhijab, saya ucapkan bahwa saya bangga sekali kepada kalian. Kemudian perkenankanlah saya mengingatkan kalian tentang ayat berikut:

“Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara (berkata-kata yang menggoda) sehingga berkeinginan orang yang ada penyakit di dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan-perkataan yang baik. (Al-Ahzaab: 32)

Saudari Muslimahku, tidak baik jika kalian berkata-kata manja kepada para laki-laki. Ada begitu banyak cara mengungkapkan sesuatu, dan gunakanlah kata-kata yang tidak perlu merendahkan harga diri kalian sebagai wanita muslimah. Kalau bisa mengatakan, “Akh Ahmad, tadi Akh Imron titip minta dibelikan buku kas,” tidak perlulah kita mengatakan “Akh Ahmad, tadi Akh Imron minta ane untuk merayu dirimu beliin buku kas. Mau kan? Ahmad baik dech… Ana jadi gemes :P.” Buset dah, ini mau beli inventaris masjid apa mau maen film India? Apa iya kita suka kalo dibilang akhwat genit?

Saran saya, bersikaplah seolah-olah anda sudah punya suami. Maksud saya, berkomunikasilah dengan lawan jenis dengan bahasa yang kira-kira jika dilihat oleh suami anda, maka suami anda tidak akan salah paham.

Moga makin shalihah ya…

Galau Mikirin Mantan?

“Jakarta itu panasnya kaya lo ngeliat mantan lo jadian sama orang yang lo curigain dari dulu, tapi dia selalu bilang ‘ah, cuma temen koq’.”

-Stand up Comedy 15 11 2012-

Ah, entah berapa kali dalam sehari saya melihat kalimat-kalimat galau membicarakan mantan. Di Twitter, Facebook, standup comedy, blog, etc, hampir selalu ada kegiatan mengenang mantan terindah.

Dear Sobat Muslimku, kalian pasti sudah banyak mendengar di mana-mana bahwa pacaran itu haram hukumnya dalam Islam.Yang namanya dilarang, pasti akan membawa konsekuensi jika kita melanggar. Nah, begitu kita kena batunya, baru deh kita nangis gulung-gulung.

Salah satu kerugian pacaran adalah masalah mantan. Teman-teman saya yang hobi pacaran selalu punya masalah dengan mantan. Sekedar mendengar namanya disebut saja selalu menimbulkan sensasi tersendiri. Liat mantan punya gandengan baru, galau. Denger kabar mantan mau nikah, galau.

Atau sebaliknya, denger suami/istri nelpon mantannya, cemburu. Suami/istri ketemu mantannya di jalan, panas. Suami/istri nyebut nama mantannya, langsung ngajak ribut. Tuh, emang dikira enak punya mantan?

Untuk yang sedang tergoda bujukan teman, atau sebab lain, mari saya jabarkan keuntungan jika anda tetap teguh untuk memutuskan tidak ingin pacaran sebelum menikah. Kentungan dari tidak pernah memiliki pacar adalah: Free of guilt! Alias bebas dari rasa bersalah.

Ketika anda memutuskan untuk tidak pacaran dengan orang yang anda idamkan, maka ada dua kemungkinan:

1. Dia jodoh anda.

Jika dia memang jodoh anda, PASTI suatu saat kalian akan dipertemukan kembali. Entah bagaimanapun caranya! Allaah selalu punya cara yang ajaib untuk mempertemukan hamba-Nya. Jangan khawatir.

Memang tampaknya tidak logis. Bagaimana mungkin kita tahu dia jodoh kita jika kita tidak berpacaran?

Saudaraku, iman itu lebih dari sekedar logika. Percaya saja, dan saksikan keajaibannya.

Memang yang namanya hikmah dari sebuah aturan Islam tidak selalu langsung terlihat. Terkadang hikmah dari sebuah larangan justru muncul bertahun-tahun kemudian. Yang jelas, yang namanya hikmah itu selalu indah, dan keindahan hikmah itu hanya akan datang pada yang taat. Justru cinta yang terpendam itu akan terasa lebih hangat daripada cinta yang diumbar pada saat yang belum halal.

2. Dia bukan jodoh anda.

Then nothing to loose! Karena kalian tidak pernah terikat hubungan apapun, maka tidak ada yang perlu disesalkan. Kita bebas dari rasa bersalah. Kita pun bisa bersikap wajar. Tidak perlu merasa malu atau sungkan saat kebetulan bertemu dengannya. Tidak perlu merasa bimbang apakah akan datang ke pernikahannya. Tidak akan ada adegan kalian merasa segan saat menyebut nama mantan di depan suami/istri, karena memang kalian tidak punya mantan. Istri/suami kalian adalah satu-satunya orang yang dekat dengan kalian.

Untuk makin menambah keyakinan kita untuk mengatakan “Tidak” pada pacaran, berikut akan saya kutipkan kata-kata teman saya yang sudah menikah:

“Tahukah kamu? Setelah menikah nanti, predikat mantan akan semakin dalam menyakiti pasanganmu.” -Najika-

“Wah, setelah nikah, aku malah nyesel, ngapain juga dulu pake galau segala? Padahal Allaah sudah menyiapkan jodoh yang baik untukku.” -Ayu-

Jadi, sobat Muslimku, tetap jaga diri baik-baik!

Akhwat PHP

Kali ini, ditemani rintik hujan yang identik dengan kegalauan, ane akan menulis tentang hal yang sedang populer di kalangan remaja ABG, yaitu PHP (Penyebar Harapan Palsu). Buat yang belum tahu, kira-kira PHP itu sejenis spesies yang hobinya bikin GR, lalu saat korbannya sudah mulai jatuh hati, ia menghilang begitu saja, atau malah mencari korban lain.

Harusnya, sih, PHP hanya merebak di kalangan para muda-mudi yang jauh dari tuntunan agama, dan kebanyakan pelakunya adalah cowok (atau, ikhwan). Tapi, sayang sekali, ternyata ada juga segolongan muslimah (bahkan akhwat yang harusnya paham agama), yang ternyata hobi PHP. Ngeriii…

Dari luarnya memang ia mempesona. Sekilas ia tampak seperti sosok Muslimah yang cantik, supel, pandai merangkai kata, perhatian, dan sebagainya. Tapiii… hati-hati ikhwah sekalian. Jangan sampai kalian terjatuh ke dalam perangkapnya. Begitu seorang ikhwan mulai GR dan harapan membumbung tinggi ke awan, Si Akhwat pun kehilangan rasa penasarannya, dan “brug…” ia menjatuhkanmu begitu saja. Minimal, ente digantungin. Dan taraaa… besoknya ia mencari korban lain. Kasian deh lu, Wan…

Dear akhwat, janganlah kalian mempermainkan perasaan kaum Adam. Berapa sih target korban kalian? Mau sebanyak mungkin mematahkan hati saudara kita sebelum antunna menikah, gitu? Mau populer? Bangga gitu kalo direbutin ikhwan? Hellooo… kita bukan seperti cewek-cewek kebanyakan yang tujuan hidupnya hanyalah memikat separuh populasi kaum Adam sedunia!

Membuat seseorang patah hati itu sama sekali tidak indah. Sama sekali tidak! Jangan buka harapan pada siapapun kalau memang anti belum siap menikah. Termasuk juga, jangan buka tawaran ta’aruf kalau memang hati anti tidak mantap. Ingat, adzab Allaah  itu dekat, Dear. Pernah dengar peribahasa ini, kan?

“Siapa menanam angin akan menuai badai.”

Yah, memang laki-laki umumnya suka tantangan. Tetapi menjadikan sifat penasaran mereka sebagai mainan hanya akan menghancurkan diri kita sendiri pada akhirnya. Lebih baik dicintai oleh satu orang yang serius ingin menikahi kita, daripada disukai oleh ribuan laki-laki yang hanya ingin mempermainkan kita. Siap-siap saja nama kita di-“blacklist” oleh para ikhwan sholeh dan bertanggungjawab jika kita terus-terusan menebar harapan palsu. Yang datang kepada kita pun hanyalah para ikhwan galau.

Anyway, saya jadi teringat kata-kata yang saya temukan di Twitter:

“PHP (Penebar Harapan Palsu) itu cocoknya jodohnya sama PKP (Pencari Kebahagiaan Palsu)”

Sedangkan untuk saudaraku para ikhwah yang mendambakan istri shalihah, hati-hatilah. Ikhwan yang bijak akan berhati-hati begitu melihat seorang akhwat yang terlalu mudah menyebar kata-kata manis. Anda juga sebaiknya tidak menanggapi sikap manjanya yang berlebihan itu. Itu sama saja memberi sarden gratis untuk ikan piranha (mungkin agak gak nyambung, sih, tapi semoga paham maksud saya). Justru jika anda terus bersikap tegas padanya, ia akan cenderung bisa menempatkan dirinya. Yah, memang makhluk PHP harus dikerasin.

 

Santunnya Jama’ah Indonesia

Selain negara dengan populasi Muslim terbesar sedunia, Indonesia juga terkenal dengan keramahannya. Orang-orang Muslim di mana saja biasanya begitu senang ketika mengetahui bahwa kita berasal dari Indonesia. Muslim Indonesia dikenal paling santun dan berbudi halus. Bahkan seorang dosen dari Saudi pernah berkata, “Orang Indonesia itu seperti malaikat.”

Maka jangan segan-segan tunjukkan kesantunan khas Indonesia. Biarkan seluruh dunia tahu betapa baiknya akhlak orang Indonesia. Tapi harap diingat, pergaulan antar lawan jenis di Arab Saudi sangat dibatasi. Jadi sebisa mungkin tunjukkan keramahan kita hanya kepada sesama jenis.

Sebarkan salam. Katakan kata-kata yang baik. Bantulah kakek nenek yang kebingungan naik lift. Jangan segan membantu orang untuk memungut barangnya jatuh berceceran. Orang-orang Turki biasanya sangat ekspresif ketika mengucapkan terima kasih. Seringkali mereka mengucapkan terima kasih sambil mengusap-usap punggung kita.

Tak lupa, sapalah saudara setanah air kita yang menjadi TKI di sana, mereka sangat merindukan keramah tamahan Indonesia.

Benda penting yang sering terlupa

Haji dan umroh memerlukan persiapan khusus. Persiapan yang matang akan membuat ibadah nyaman, sekaligus menghemat uang. Berikut adalah barang-barang sepele yang wajib dibawa, namun sering terlupakan:

  1. Tas kresek. Benda ini sangat berguna untuk tempat sampah sementara, tempat baju kotor, dan tentu saja tempat sandal. Selalu bawa kantong plastic ketika ke Masjidil Haram atau Nabawi agar kita tidak kerepotan. Seringkali sandal kita tercampur-campur.
  2. Peniti. Jangan lupakan peniti. Si kecil ini bisa berfungsi sebagai pertolongan pertama ketika baju sobek, pengencang kain ihram, jilbab, dll.
  3. Botol air minum. Jangan buang botol minum anda. Bawalah botol kosong setiap kali ke Masjidil Haram dan Nabawi agar bisa diisi dengan air zamzam gratis. Tetapi jangan membawa botol yang terlalu besar. Biasanya botol di atas 600 ml akan langsung dibuang oleh petugas. Jangan egois, ingatlah bahwa bukan hanya kita seorang yang membutuhkan air zamzam.
  4. Deterjen. Mencuci sendiri akan jauh lebih hemat daripada menggunakan jasa laudry yang mencapai 5 real per potong. Jauh banget kan?
  5. Gantungan baju. Membawa gantungan baju akan membuat kamar lebih tertata.
  6. P*p mie. Makanan ini akan sangat menolong jika kita kelaparan di sela-sela jam makan.
  7. Pemanas air. Jika memungkinkan, bawalah teko pemanas air sendiri dari Indonesia. Sekedar berjaga-jaga jika hotel kita ternyata tidak menyediakan dispenser.

Nah, demikianlah kiranya barang-barang sepele yang kira-kira perlu dibawa. Semoga ibadah anda menyenangkan. Allaahumma labbaik…

Buka Jilbab Online

“Toko online akan menghasilkan uang untuk anda, bahkan saat anda sedang tidur sekalipun!”

Pernah melihat iklan itu kan? Ya, itulah kenyataannya tentang internet.

Namun ane di sini ga mau ngebahas tentang itu. Lebih jauh lagi, ane mau membahas tentang Facebook dan wanita.

Sebelumnya, kita bahas dulu tentang jilbab. Tentu kita tahu bahwa jilbab adalah kewajiban setiap Muslimah.

Sebenarnya, tidak hanya Islam saja yang mengajarkan tentang menutup kepala. Di abad pertengahan, penutup kepala adalah symbol untuk wanita terhormat. Di beberapa literature dapat ditemukan bahwa wanita yang dianggap tidak pantas mengenakan tutup kepala adalah mereka yang akan dihukum mati, atau para asusila.

Pada jaman kerajaan, para wanita dari kalangan bangsawan diperlakukan secara khusus. Jika anda menyukai drama historical korea, anda tentu melihat bahwa ratu hanya akan diperiksa oleh tabib wanita. Para ratu dan putri raja ditempatkan di istana yang tertutup aksesnya dari kaum pria.  Hanya raja yang bebas keluar masuk di sana. Intinya, wanita milik raja hanya untuk raja. Raja adalah orang terhormat, tentu saja berhak mendapat wanita-wanita yang khusus.

Orang bijak mengatakan, “Carry yourself like a queen and you will attract a king.” Bertingkahlah seperti ratu, dan kau akan memikat seorang raja. We, Muslim women, are queens. Para Muslimah adalah wanita terhormat. Jadi Allaah mewajibkan kita melindungi kecantikan kita agar kita, para ratu, terlindungi dari pandangan-pandangan mesum. Tak itu, Allaah pun meminta kita menjaga suara dan gaya bicara kita agar tak sensual. Sebaliknya, permaisuri hanya berdandan untuk kaisar, Allaah memerintahkan para istri untuk berhias untuk suaminya. Elegan di depan orang lain, namun manja di hadapan suami. How cute is that? 😀

Adalah fenomena yang mengejutkan saat melihat para hijabers rame-rame lepas jilbab di Facebook. Aurat yang sudah terbungkus rapi di dunia nyata disediakan dengan bebas oleh pemiliknya di dunia maya. Para pria yang tadinya tidak bisa melihat rambut para muslimah, kini malah diberi akses untuk benar-benar melihatnya.

Tapi, mari kita berpikir dari sisi sang pengupload foto, mungkin mereka berfikir dengan mengupload foto tak berjilbab di Facebook, mereka mendapatkan keuntungan sebagai berikut:

1. Dapet “like”

2. Dapet komentar

3. Dibilang “cantik”

Namun, kerugiannya? Wah, lebih banyak berkali-kali lipat. Nggak sebanding dengan jempol dan komentar yang tak membawa keuntungan apapun. Dapet duit pun kagak. Semua pria, bahkan yang pikirannya mesum sekalipun bebas memandangi rambut sang Muslimah. Belum lagi kalo dia ngebayangin yang enggak-enggak. Rugi kan?

Sisters in Islam, memajang aurat di Facebook berpotensi menghasilkan dosa online, dosa jariyah. Jika anda berjalan di pasar tanpa jilbab misalnya, dosa anda berakhir ketika anda kembali ke rumah. Tidak demikian halnya ketika foto “telanjang” anda dipajang di dunia maya. Dosa akan terus mengalir bahkan saat anda sedang tidur, bahkan ketika anda sudah wafat. Amal kita cuma sedikit, eh, pas udah dikubur dosa nambah terus. Semua ini cuma karena foto di Facebook. Foto yang kita anggap iseng, tetapi akibatnya sama sekali tidak main-main.

Mengenai wanita yang membuka jilbabnya di dunia maya, let me tell you a secret, temen saya yang cowok pernah bilang bahwa ia malah akan berpikir ulang untuk menjadikan mereka sebagai istri. Yeah, mungkin detik pertama mereka akan “Wow,” tapi sedetik kemudian, you lose their respect. Such a great loss for a tiny pleasure!

Ditambah lagi saat kita membuka jilbab, saat menikah kelak, tak akan ada lagi unsur “kejutan” untuk suami kita. Hilang sudah rasa penasaran dari suami. “Ya iya lah, sudah pernah liat fotonya di Facebook. Lagian yang liat ga cuma gue, semua temen-temen gue juga udah liat fotonya.”

Nah, buat yang hobi ngupload foto ga berjilbab, coba deh dipikir lagi. Apa coba tujuannya majang-majang foto tanpa jilbab? Inget akhirat oy. Kecantikan tidak akan abadi. Makanya hapus deh semua foto-foto kita. Jangan pernah lagi menyediakan pemandangan gratis untuk orang yang tidak berhak. Ane ga rela sodari-sodari ane auratnya diliatin dengan bebas sama orang yang ga bertanggung jawab.

Berbanggalah dengan jilbab kita, seperti seorang ratu yang bangga dengan mahkotanya. Jaga kehormatan diri kita di dunia nyata maupun maya. Menutup aurat justru akan membuat kita makin total ketika kita berdandan untuk suami kelak. Mereka akan mempercayai kita sebagai wanita yang pandai menjaga diri walaupun suami tak ada di rumah.