Seringkali saya geleng-geleng kepala tiap kali menemui ikhwan pengajian yang sok ganteng. Maksud saya, mereka ini biasanya tipe ikhwan yang selalu merasa bahwa mereka memiliki banyak penggemar, atau yang merasa bahwa setiap akhwat pasti terpikat padanya (dan lebih parah lagi, mereka membangga-banggakannya. Udah GR, bangga lagi. Duh!). Salah satu yang membuat saya tertawa terpingkal-pingkal adalah ketika salah seorang adik saya yang bekerja sebagai operator warnet berkisah tentang salah seorang pelanggannya (yang kebetulan berhijab) yang tiba-tiba datang ke warnetnya menanyakan flashdisknya yang tertinggal di warnet. Saya menahan tawa kecut ketika dia berkata, “Aku tahu sebetulnya dia cuma modus. Paling-paling dia sengaja pura-pura ketinggalan flashdisk.”
Seriously? What is the point? Untuk apa sih membangga-banggakan diri kalo banyak ditaksir orang (apalagi cuma berdasarkan asumsi semata, dan kebanyakan tidak berdasar)? Parahnya, kebanyakan ikhwan menganggap bahwa seseorang menaruh hati pada mereka hanya karena satu atau dua kejadian yang sepele. Misalnya, karena ada akhwat yang SMS, “Teman-teman, presentasi kemarin ada yang punya file-nya nggak?” Lalu Si Ikhwan berpikir, “Wah, ini akhwat pasti naksir ane. Kenapa SMS ane coba? Bisa aja kan dia minta yang lain?”
Atau karena ada akhwat yang SMS “Hadits riwayat Bukhari…” Lalu Si Ikhwan berpikir, “Nah, kan, modus. Ngapain coba dia SMS ane?” Padahal Si Akhwat mengirimkannya pada 20 orang sekaligus.
Atau karena liat akhwat senyum-senyum sendiri tiap kali kalian ketemu? “Nah, kan, positif nih, dia suka sama ane. Ane tahu nih, kalo senyum sama ane pasti naksir.” Parah nih.
Hellooo…? Wake up, Dude! Wake up, Herlino!
Hanya karena seorang akhwat mengucap salam, bukan berarti dia naksir sama situ. Hanya karena kau melihatnya senyum atau tertawa, bukan berarti dia tersenyum padamu. Bisa saja dia sedang tertawa sendiri mengingat kejadian lucu (seperti yang sering saya lakukan, tertawa sendiri mengingat-ingat kejadian yang lalu).
Kalaupun toh bener ada akhwat yang terang-terangan naksir situ (misalnya ente ikhwan yang setype Fachri “Ayat-ayat Cinta”), membangga-banggakannya hanyalah bikin ilfil. Apalagi kalau sampe antum menceritakannya di hadapan akhwat saat sedang khitbah, “Ukh, tau ga, saya ni banyak yang naksir lho. Adek kelas saya dulu aja sampe minta saya nikahin.”
Selamat, nilai anda berkurang 96%.
I know it feels amazing having someone admiring you. Secara manusiawi, siapa, sih, yang nggak seneng punya fans rahasia? Tapi… kalaupun benar antum memiliki banyak penggemar, just keep cool. Diem aja. Elegan dong. Anggap saja seolah semua itu hanyalah lalat yang lewat. Ikhwan sejati malah akan merasa menjadi fitnah jika ada seseorang yang tergila-gila padanya (bukannya malah jingkrak-jingkrak).
Oke, Dude? Ingat, jangan sok ganteng.