Feeds:
Pos
Komentar

Tuhan kadang diamkah

Kalamullah dengan huruf dan suara BUKAN perkataan Imam Ahmad bin Hanbal dan BERTENTANGAN dengan akidah Allah Ta’ala senantiasa berkalam tidak pernah DIAM

Pada kenyataannya akidah atau pendapat bahwa kalamullah dengan huruf dan suara TIDAK ditemukan sebagai redaksi eksplisit dalam kitab karangan Imam Ahmad bin Hanbal sendiri melainkan disimpulkan dari riwayat murid-murid Beliau dan pemahaman mereka

Contohnya diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah

تَكَلَّمَ اللَّهُ تَعَالَى بِالْقُرْآنِ، وَسَمِعَهُ مِنْهُ جِبْرِيلُ، وَسَمِعَهُ مُحَمَّدٌ ﷺ مِنْ جِبْرِيلَ

Allah Ta‘ala berbicara dengan Al-Qur’an, Jibril mendengarnya dari Allah, dan Muhammad shallallahu alaihi wassalam mendengarnya dari Jibril.

Konsekuensi akidah muridnya, “didengar” tidak mungkin kecuali sesuatu yang berbunyi

Jadi “mendengar” dipahami secara harfiah-fisik dan disimpulkan “dengan huruf dan suara” lalu dinisbatkan kepada Imam Ahmad bin Hanbal sebagai akidah Beliau.

Dalam akidah umat Islam pada umumnya yakni akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, mendengar (samā‘) pada konteks ketuhanan tidak harus dimaknai dengan suara namun bisa bermakna

idrāk — yaitu Allah Ta’ala menciptakan kemampuan memahami kalam-Nya pada makhluk yang Dia kehendaki.

Contohnya pembesar mazhab Hambali, Imam Ibn al Jawzi al-Hanbali (W. 597 H) dengan kitabnya berjudul Daf’u syubah at-tasybih bi-akaffi at-tanzih MEMBERSIHKAN fitnah-fitnah terhadap Imam Ahmad bin Hanbal (W. 241 H) halaman 122-124 menjelaskan

****** awal kutipan *****
فَإِنْ قَالُوا: سَمِعَ مُوسَى كَلَامَ اللَّهِ، قُلْنَا: إِنَّمَا أَدْرَكَهُ إِدْرَاكًا خَصَّهُ اللَّهُ بِهِ، لَا بِصَوْتٍ وَلَا حَرْفٍ.

Jika mereka berkata: “Musa mendengar kalam Allah”, maka kami katakan: sesungguhnya Musa memahaminya dengan suatu idrāk khusus yang Allah berikan kepadanya, bukan dengan suara dan bukan dengan huruf.

وَاعْلَمْ أَنَّ الْحُرُوفَ وَالأَصْوَاتِ مِنْ صِفَاتِ الْمَخْلُوقِينَ، فَمَنْ نَسَبَهَا إِلَى اللَّهِ فَقَدْ جَهِلَ

Ketahuilah bahwa huruf dan suara adalah sifat makhluk. Barang siapa menisbatkannya kepada Allah, maka sungguh ia telah jahil (tidak berilmu)
****** akhir kutipan *****

Dalam kitab yang sama, Imam Ibn al Jawzi al-Hanbali menafikan kalam Allah dengan huruf dan suara karena

وَالصَّوْتُ يَحْدُثُ وَيَنْقَطِعُ، وَمَا يَنْقَطِعُ يَدُلُّ عَلَى النُّقْصَانِ

Suara itu terjadi dan terputus (DIAM), dan sesuatu yang terputus (DIAM) menunjukkan kekurangan.

Jadi Imam Ibn al Jawzi al-Hanbali menjelaskan konsekuensi keyakinan “Kalamullah dengan huruf dan suara” akan menimbulkan keyakinan “Allah kadang BICARA dan kadang DIAM (TERPUTUS)” dan DITOLAK oleh ulama Hambali yang lainnya.

Contoh al-Khallāl (W. 311H) dalam as-Sunnah dinukil pada bab إثبات أن الله متكلم وليس بساكت ولا عاجز dinyatakan dari Imam Ahmad bin Hanbal (W 241H)

والله متكلم، وليس بساكت، ولا عاجز.

“Allah Maha Berbicara, bukan DIAM, dan bukan lemah (tidak mampu).”

Ulama dari Hanabilah, Ibn Qudamah al-Maqdisi (W. 620H) menegaskan dalam kitabnya Taḥrīm an-Naẓar fī Kutub Ahl al-Kalām, pembahasan penetapan sifat kalam dan penafian النقص.

ومن قال إن الله لا يتكلم، أو سكت بعد أن تكلم، فقد شبّه الله بالمخلوقين، ونسب إليه النقص.

“Barang siapa berkata bahwa Allah tidak berbicara, atau Dia DIAM setelah BERBICARA, maka sungguh ia telah MENYERUPAKAN Allah dengan makhluk dan menisbatkan kepada-Nya kekurangan.”

Begitu pula orang-orang yang merasa atau mengaku-ngaku mengikuti manhaj Salaf dan menisbatkan sebagai SALAFI dan mereka mengaku pula dari kalangan MODERN sehingga dijuluki SALAFI KONTEMPORER (Salaf yang Khalaf) NAMUN pada kenyataannya mereka terjerumus mengikuti paham WAHABISME yakni ajaran atau pemahaman ulama Najed dari bani Tamim, Muhammad bin Abdul Wahab (W.1206H) yang meneruskan KEBID’AHAN tokoh MUJASSIMAH, Ibnu Taimiyah (W. 728H)

Contohnya Ibnu Taimiyah (W. 728H) sebelum bertaubat berkata dan meyakini bahwa Allah berkalam dengan huruf dan suara dan bahwa Allah KADANG BERBICARA dan KADANG DIAM. (lihat Risalah fi Shifat al-Kalam 51, 54, Majmu’ al-Fatawa 6/160, 234, 5/556-557) sebagaimana yang dikabarkan pada https://jihadilmiah.blogspot.com/2017/03/mengenal-sosok-ibnu-taimiyah-661-728-h.html

Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh dalam fatwa nomor 09 tahun 2014 dalam bidang aqidah poin C menetapkan,

C. Mengimani bahwa kalamullah itu berhuruf dan bersuara adalah sesat dan menyesatkan

Fatwa tersebut dapat dibaca pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/wp-content/uploads/2016/02/fatwa-mpu-aceh-nomor-9-tahun-2014-tentang-pemahaman-pemikiran-pengamalan-dan-penyiaran-agama-islam-di-aceh.pdf

Berikut kutipan pertaubatan yang tampak dalam taqrīr (pernyataan pengakuan atau rujū‘) dari Ibn Taymiyyah pada persidangan Damaskus tahun 707 H, dipimpin oleh Qāḍī al-Quḍāt Badr al-Dīn Ibn Jamā‘ah, dan disaksikan oleh sejumlah ulama lintas mazhab

** awal kutipan.**
الحمدُ لله، الذي أعتقدُه أنَّ في القرآنِ معنىً قائمًا بذاتِ الله، وهو صفةٌ من صفاتِ ذاتِه القديمةِ الأزلية، وهو غيرُ مخلوق، وليس بحرفٍ ولا صوتٍ، وليس هو حالًّا في مخلوقٍ أصلًا، ولا ورقٍ ولا حبرٍ ولا غيرِ ذلك.

“Segala puji bagi Allah. Keyakinanku adalah bahwa di dalam Al-Qur’an terdapat makna yang berdiri pada Dzat Allah; ia merupakan sifat dari sifat-sifat Dzat-Nya yang Maha Dahulu lagi Azali; ia bukan makhluk; bukan huruf dan bukan suara; bukan suatu keadaan yang melekat pada makhluk sama sekali; bukan kertas, bukan tinta, dan bukan selain itu.

وكلُّ ما يخالفُ هذا الاعتقادَ فهو باطل، وكلُّ ما في خطِّي أو لفظي ممَّا يخالفُ ذلك فهو باطل، وكلُّ ما في ذلك ممَّا فيه إضلالُ الخلق أو نسبةُ ما لا يليقُ بالله إليه فأنا بريءٌ منه، فقد تبرأتُ منه وتائبٌ إلى الله من كلِّ ما يخالفه.

Setiap keyakinan yang menyelisihi akidah ini adalah batil. Segala sesuatu yang tertulis dalam tulisanku atau terucap dari lisanku yang menyelisihinya adalah batil. Segala hal yang di dalamnya terdapat penyesatan makhluk atau penisbatan sesuatu yang tidak layak bagi Allah, maka aku berlepas diri darinya; sungguh aku telah berlepas diri darinya dan bertaubat kepada Allah dari setiap hal yang menyelisihinya.

وكلُّ ما كتبتُه وقلتُه في هذه الورقة فأنا مختارٌ في ذلك غيرُ مُكره.
(كتبه أحمد بن تيمية)

وذلك يوم الخميس سادس شهر ربيع الأول سنة سبع
وسبعمائة.

Dan segala sesuatu yang aku tulis dan aku ucapkan dalam lembaran ini, aku melakukannya dengan kehendakku sendiri dan tidak dalam keadaan dipaksa.
(Ditulis oleh Ahmad bin Taymiyyah)

Kamis, 6 Rabi‘ al-Awwal 707 Hijriah.”
* akhir kutipan ****

AKIDAH MAYORITAS umat Islam yakni Akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengikuti Akidah Asy’ariyah dan Maturidiyah seperti contohnya mengikuti Imam Abu Al Hasan Al Asy’ari yang berkata di dalam kitab Al Ibanah hal 66 juz 1 :

ﻭﻛﺬﻟﻚ ﻳﺴﺘﺤﻴﻞ ﺃﻥ ﻳﻮﺻﻒ ﺑﺨﻼﻑ اﻟﻜﻼﻡ ﻣﻦ اﻟﺴﻜﻮﺕ ﻭاﻵﻓﺎﺕ

Dan demikian pula, MUSTAHIL Rabb kita disifati dengan sifat yang menyalahi kalam seperti KEHENINGAN (DIAM dari BICARA) dan segala bentuk AFAT (cacat seperti penyakit BISU)

Allah SENANTIASA berkalam tidak pernah diam karena Kalam Allah kekal dan tidak pernah terputus sebagaimana contoh yang dijelaskan oleh Syeikh Nawawi al – Bantani dalam kitab Nur adz – Dzolam yakni kitab syarah dari kitab Aqidatul Awam, Syeikh Ahmad Marzuki Al Maliki (W 1281H)

awal kutipan
وقوله استمر أى دام كلامه تعالى ولا ينقطع

Kalam Allah Ta’ala adalah KEKAL dan TIDAK akan pernah TERPUTUS .

وليس معنى وكلم الله موسى تكليما انه ابتدأ الكلام له بعد ان كان ساكتا فبعد ما كلمه انقطع كلامه وسكت تنزه الله ذلك تنزها عظيما

Adapun makna Firman Allah, dan Allah telah berfirman kepada Musa dengan sebenar – benarnya berfirman maka BUKAN berarti bahwa Allah mengawali Firman-Nya kepada Musa setelah Dia DIAM, kemudian setelah Dia mengfirmankan Firman-Nya kepadanya maka Firman-Nya TERPUTUS dan DIAM lagi. Maha Suci Allah dari demikian itu .

وإنما المعنى أنه تعالى بفضله أزال المانع عن موسى عليه السلام وخلق له سمعا وقوة حتى أدرك به كلامه القديم ثم منعه بعد وروده إلى ما كان عليه قبل سماع كلامه

Adapun makna firman-Nya itu adalah bahwa sesungguhnya Allah telah MENYINGKAPKAN TABIR dari Musa ‘alaihis salam dan telah menciptakan sifat mendengar dan mampu baginya (TAJALLI Allah pada kemampuan pendengaran Nabi Musa) sehingga ia dapat memahami Firman-Nya yang qadim, kemudian Dia menjadikan TABIR lagi setelah Firman-Nya tersampaikan sebelum Musa mendengar Firman-Nya.

وهذا معنى كلامه تعالى لأهل الجنة

Demikian ini adalah makna serupa Kalam Allah Ta’ala kepada para PENDUDUK SURGA (Penduduk Langit).
akhir kutipan

Kitab Aqidatul Awam karya Syeikh Ahmad Marzuki Al Maliki (W 1281H) adalah contoh kitab yang menjelaskan tentang akidah – akidah yang wajib diketahui bagi setiap mukallaf yang beragama Islam, baligh dan berakal sebagaimana yang dikabarkan pada https://palontaraq.id/2021/07/08/mengenal-pengarang-isi-dan-terjemah-aqidatul-awwam/

Jadi makna

“Allah Ta’ala telah berfirman kepada Nabi Musa dengan sebenar – benarnya berfirman”

adalah

Nabi Musa ‘alaihis salam MUKASYAFAH yakni dibukakan tabir oleh Allah Ta’ala dan Allah Ta’ala telah menciptakan sifat mendengar dan mampu baginya (TAJALLI Allah pada kemampuan pendengaran Nabi Musa) sehingga ia dapat memahami kalam Allah yang Qadim (al-Kalam Adz-Dzati) yang bukan huruf-huruf, bukan suara dan bukan bahasa.

Allah berfirman surat Asy Syura ayat 51 bahwa siapapun mendengar kalam Allah secara langsung itu di balik hijab yakni Allah bukakan hijab atau mukasyafah sehingga dapat memahami kalam Allah yang bukan huruf dan suara

Allah Ta’ala berfirman dalam surat Asy Syura [42] ayat 51 bahwa Kalam Allah sampai kepada makhluk melalui TIGA KEMUNGKINAN atau TIGA CARA yakni,

PERTAMA melalui wahyu termasuk ilham dan firasat,

KEDUA dengan mengutus utusan-Nya seperti malaikat Jibril, dan

KETIGA mendengar kalam Allah secara langsung di balik hijab/tabir yakni Allah bukakan hijab/tabir (mukasyafah) sehingga dapat memahami kalam Allah yang bukan huruf dan suara

Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan TIDAK MUNGKIN bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia KECUALI dengan perantaraan WAHYU (termasuk ilham dan firasat) atau di balik HIJAB/TABIR atau dengan mengutus seorang UTUSAN (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana” (QS Asy Syura [42]:51)

Imam Suyuthi (W. 911 H) dalam tafsir Jalalain ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala

من وراء حجاب

yang artinya “di balik hijab/tabir” (QS Asy Syura [42]:51) adalah,

بأن يسمعه كلامه ولا يراه كما وقع لموسى عليه السلام

Seperti Allah memperdengarkan kalam-Nya kepadanya, tetapi dia tidak dapat melihat-Nya, sebagaimana yang telah terjadi pada Nabi Musa alaihissalam.

Tafsir Jalalain dapat dibaca pada https://ibnothman.com/quran/surat-asy-syura-dengan-terjemahan-dan-tafsir/6

Jadi pengertian Nabi Musa berbicara dan mendengar langsung adalah Nabi Musa MUKASYAFAH yakni dibukakan hijab/tabir oleh Allah sehingga dapat memahami kalam Allah yang qadim yakni yang bukan huruf-huruf dan suara

Para Malaikat atau Nabi Musa alaihissalam atau SIAPAPUN yang dikehendaki Allah dapat MENDENGAR kalam Allah secara LANGSUNG bukan berarti Allah Ta’ala mengawali kalam-Nya setelah Dia DIAM dan lalu setelah berkalam lalu DIAM lagi karena Allah Ta’ala Qadim, tidak dipengaruhi oleh ruang dan waktu.

Pada saat mendengar kalam Allah maka terjadi PERUBAHAN yakni TERSINGKAP dan TERTUTUP hijab/tabir adalah pada diri makhluk yang dipengaruhi oleh RUANG dan WAKTU bukan pada diri Allah Ta’ala yang SENANTIASA berkalam

TIDAK BOLEH mengatakan dan meyakini bahwa Allah kadang berbicara dan kadang diam atau mengatakan dan meyakini Allah Ta’ala dahulu berbicara dengan Nabi Musa dan sekarang diam atau mengatakan dan meyakini kalam Allah telah tersampaikan dalam Al Qur’an dan sekarang diam karena Allah Ta’ala bersifat Qadim yakni Allah Ta’ala tidak terikat dengan ruang dan waktu, tidak berlaku bagi-Nya apakah itu masa lalu, kini atau akan datang

Segala SESUATU yakni MUMKINUL Wujud dari sisi Allah Ta’ala yakni dari WAJIBUL Wujud namun terjadinya secara TAJALLI bukan secara TAJAFI yakni BUKAN secara PERPINDAHAN dari suatu arah atau tempat

TAJALLI Allah adalah transformasi dari WAJIBUL Wujud ke Wujud lain yakni MUMKINUL Wujud TANPA mengubah atau mereduksi WUJUD Allah.

Sedangkan TAJAFI adalah perpindahan yakni transformasi satu wujud (MUMKINUL Wujud) ke wujud lain (MUMKINUL Wujud) dengan mengurangi atau menyebabkan hilangnya wujud asli.

Di dalam Al Qur’an, proses TAJAFI dicontohkan di dalam ayat,

تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ ٱلْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ

“TATAJAFA junubuhum ‘an al-madhaji’ yad’una Rabbahum khaufan wa thama’an wa mimma razaqnahum yunfiqun”

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka” (QS as-Sajadah [32]:16).

Maksud ayat ini ialah orang yang sedang meninggalkan tempat tidurnya menuju ke tempat lain untuk berdoa. Setelah pindah (tajafi) dari tempat semula ke tempat lain, maka tempat semula menjadi kosong.

Sedangkan, proses TAJALLI dicontohkan di dalam ayat,

فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُۥ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُۥ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا ۚ فَلَمَّآ أَفَاقَ قَالَ سُبْحَٰنَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلْمُؤْمِنِينَ

Falamma TAJALLA Rabahu lil jabali ja’alahu dakkan wa kharra Musa sha’iqan. Falamma afaqa qala subhanaka tubtu ilaika wa ana awwalul mu’minin

“Tatkala Tuhannya MENAMPAKKAN diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Mahasuci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman” (QS al-A’raf [7]:143).

Maksud ayat ini ialah ketika Allah Ta’ala menampakkan (TAJALLI) di atas gunung, BUKAN berarti Allah BERPINDAH ke suatu tempat NAMUN pengertian TAJALLI adalah ketika bukit atau gunung Sinai hancur dan Nabi Musapun pingsan telah mencapai maqom FANA yakni Allah menyingkapkan tabir (mukasyafah) sehingga Nabi Musa dapat MELIHAT Allah dan berkata, “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada-Mu dan aku orang yang pertama kali beriman (percaya).”

Sultannya para Wali Allah (Kekasih Allah), Syekh Abdul Qadir Al Jilani qaddasallahu sirrahu dalam kitabnya Sirrul Asrar menjelaskan bahwa para kekasih Allah (Wali Allah), mereka FANA’ di dalam kebesaran Allah, yaitu pengosongan dan penghapusan segala macam sifat-sifat manusia dengan menyatakan keabadian sifat-sifat Allah. TERLEPAS DIRI dari MAKHLUK dan KEDIRIANNYA serta sesuai dengan kehendak-Nya Jika sudah demikian, maka ke-fana’-an manusia akan abadi (baqa’) BERSAMA Tuhannya dan keridhaan-Nya”.

Jadi pada hakikatnya sampainya kalam Allah kepada manusia secara langsung seperti contohnya Allah Ta’ala berdialog atau berbicara langsung dengan Nabi Musa alaihissalam BUKANLAH secara TAJAFI yakni PERPINDAHAN dari suatu arah atau tempat namun TAJALLI yakni tersingkapnya TABIR atau HIJAB (mukasyafah) sehingga manusia dengan bahasanya masing-masing dapat mendengar dan memahami kalam Allah yang SENANTIASA berkalam karena Dzat Allah “tidak melahirkan” atau “tidak mengeluarkan” sesuatu.

Imam al-Sanusi mengatakan adalah sebuah kemustahilan bila Dzat Allah melahirkan makhluk karena dalam surat al-Ikhlas [112] ayat 3 dinyatakan bahwa Allah Ta’ala “tidak melahirkan dan tidak pula dilahirkan”

Beliau menjelaskan bahwa kalimat “tidak melahirkan” dalam surat tersebut maksudnya adalah Dzat Allah yang Maha Mulia tidak mengeluarkan eksistensi apa pun dari diri-Nya. (Abu Abdillah al-Sanusi, Syarh Umm al-Barahin, 24).

Jadi Nabi Musa dan para kekasih Allah lainnya dengan bahasanya mereka masing-masing dapat mendengar dan memahami kalam Allah yang SENANTIASA berkalam karena kalam Allah sampai kepada manusia secara TAJALLI bukan secara TAJAFI yakni BUKAN secara PERPINDAHAN dari suatu arah atau tempat

Begitupula kelak Allah Ta’ala akan menghisab seluruh hamba-Nya dari bangsa manusia dan jin.

Allah Ta’ala akan memperdengarkan Kalam-Nya kepada setiap dari mereka.

Mereka yang akan dihisab MUKASYAFAH yakni dibukakan tabir oleh Allah Ta’ala dan dapat memahami dari kalam Allah yang Qadim (al-Kalam Adz-Dzati) yang bukan huruf-huruf, bukan suara dan bukan bahasa. sehingga TIDAK DIPERLUKAN PENTERJEMAH

Rasulullah bersabda: “Setiap orang akan Allah perdengarkan Kalam-Nya kepadanya (menghisabnya) pada hari kiamat, tidak ada PENTERJEMAH antara dia dengan Allah”. (HR. Bukhari 6058 atau Fathul Bari 6539, 6540)

Begitupula Allah Azza wa Jalla akan menghisab seluruh hamba-Nya dalam waktu yang sangat singkat sebagaimana firmanNya yang artinya “dan Dia Allah yang menghisab paling cepat (QS Al An’am [6]:62]

Seandainya Allah menghisab mereka dengan suara, susunan huruf, dan dengan bahasa, maka Allah akan membutuhkan waktu beratus-ratus ribu tahun untuk menyelesaikan hisab tersebut, karena makhluk Allah sangat banyak.

Jelaslah seandainya Kalam Allah berupa suara, huruf, dan bahasa maka dalam menghisab semua makhluk tersebut Allah akan membutuhkan kepada waktu yang sangat panjang. Karena dalam penggunaan huruf-huruf dan bahasa jelas membutuhkan kepada waktu.

Huruf berganti huruf, kemudian kata menyusul kata, dan demikian seterusnya. Dan bila demikian maka maka berarti Allah bukan sebagai Asra’ al-Hasibin (Penghisab yang paling cepat), tapi sebaliknya; Abtha’ al-Hasibin (Penghisab yang paling lambat). Tentunya hal ini mustahil bagi Allah.

Begitupula Allah Ta’ala berfirman: “Inama Amruhu Idza Arada Sya’ian An Yaqula Lahu Kun Fayakun” (QS. Yasin: 82).

Makna ayat ini bukan berarti bahwa setiap Allah berkehendak menciptakan sesuatu, maka dia berkata: “Kun”, dengan huruf “Kaf” dan “Nun” yang artinya “Jadilah…!”.

Karena seandainya setiap berkehendak menciptakan sesuatu Allah harus berkata “Kun”, maka dalam setiap saat perbuatan-Nya tidak ada yang lain kecuali hanya berkata-kata: “kun, kun, kun…”.

Hal ini tentu mustahil atas Allah. Karena sesungguhnya dalam waktu yang sesaat saja bagi kita, Allah Maha Kuasa untuk menciptakan segala sesuatu yang tidak terhitung jumlanya.

Adapun sifat perbuatan Allah sendiri (Shifat al-Fi’il) tidak terikat oleh waktu. Allah menciptakan segala sesuatu, sifat perbuatan-Nya atau sifat menciptakan-Nya tersebut tidak boleh dikatakan “di masa lampau”, “di masa sekarang”, atau “di masa mendatang”. Sebab perbuatan Allah itu azali, tidak seperti perbuatan makhluk yang baharu.

Seandainya Kalam Allah merupakan bahasa, tersusun dari huruf-huruf, dan merupakan suara, maka berarti sebelum Allah menciptakan bahasa Dia diam; tidak memiliki sifat Kalam, dan Allah baru memiliki sifat Kalam setelah Dia menciptakan bahasa-bahasa tersebut. Bila seperti ini maka berarti Allah baharu, persis seperti makhluk-Nya, karena Dia berubah dari satu keadaan kepada keadaan yang lain. Tentu hal seperti ini mustahil atas Allah.

Dengan demikian makna yang benar dari ayat dalam QS. Yasin: 82 diatas adalah sebagai ungkapan bahwa Allah maha Kuasa untuk menciptakan segala sesuatu tanpa lelah, tanpa kesulitan, dan tanpa ada siapapun yang dapat menghalangi-Nya. Dengan kata lain, bahwa bagi Allah sangat mudah untuk menciptakan segala sesuatu yang Ia kehendaki, sesuatu tersebut dengan cepat akan terjadi, tanpa ada penundaan sedikitpun dari waktu yang Ia kehendakinya.

Wassalam

Zon di Jonggol, Kabupaten Bogor 16830

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai