
Tatkala cinta menjadi peneguh iman sekaligus titik balik dari sebuah kisah.
Semprotan minyak wangi menyeruak ke seluruh penjuru kamar. Baju biru muda berbelahan dada membalut indah tubuh rampingku. Rok jeans pendek menambah kesan molek. Sebut saja namaku Siska. Saat kecil, aku benci sekali bau parfum dan pakaian mini yang dikenakan oleh perempuan penjaja malam di sekitar rumahku. Nyatanya, malam itu aku berdandan seksi untuk membuat seorang lelaki jatuh dalam pelukku.
Kaki jenjangku menapaki jalanan malam ibu kota. Derik sepatu hak tinggiku berhenti di sebuah kafe yang tak jauh dari kampus. Aku menatap laki-laki di sudut kafe itu dengan sumringah. Ia targetku malam itu. Namanya Yusa, lelaki yang terkenal paling lurus di jurusanku.
Aku menyapanya dengan nada manja nan mendesah. Lelaki bercelana cingkrang dan berjaket kulit itu hanya menatap sekilas. “Pakai ini!” ucapnya sambil membuka jaket dan menyerahkan padaku. “Perempuan mulia itu melindungi tubuhnya. Bukan justru mengumbarnya,” imbuhnya tegas.
Kata-kata pedas darinya itu seperti memantik titik kesadaranku. Meski dengan sebal, aku menutup pakaian miniku dengan jaket. Telingaku terasa panas. Hatiku baur antara malu dan terhina. Selesai menyelesaikan tugas kelompok bersama Yusa, aku bergegas pergi. Misiku malam itu gagal untuk menggodanya. Ia tak seperti lelaki lain yang dengan mudah terpesona dengan kecantikan wanita.
Sejak itu, aku makin penasaran dengan Yusa. Aku bahkan tak segan mendekatinya dengan sok akrab. “Kenapa perempuan harus berhijab?” tanyaku suatu hari padanya. Aku bisa melihat dahinya mengernyit. “Karena itu wajib,” ujarnya singkat sambil berlalu meninggalkanku.
Bibirku mengerucut. Aku kembali dicuekin bahkan ditinggal pergi. Aku menggerutu sebal. Namun tak lama, Yusa balik sambil menyerahkan selembar kertas. Aku berbinar dan hatiku seakan mau melompat saat itu. Aku tatap kertas itu lekat-lekat. Tertulis nomor telepon di sana. Aku dengan riang menyimpan nomor itu di kontak.
Malamnya, aku segera menghubungi nomor itu—nomor yang kukira Yusa. Nyatanya bukan, itu nomor orang lain. Selanjutnya kusebut dengan nama Mbak Indah. Meski bukan Yusa, nyatanya aku merasa nyaman bertukar pesan dengan Mbak Indah. Ia supel dan ramah, membuatku leluasa bertanya banyak hal. Sampai akhirnya kami putuskan untuk bertemu keesokan harinya.
Aku terpana melihat penampilan Mbak Indah di pertemuan pertama kami. Pakaiannya serba hitam. Bajunya kedodoran dengan jilbab besar. Aku hanya bisa melihat matanya yang menyipit saat tersenyum. Awalnya kami agak kikuk saat berbincang, namun lama-lama mengalir dan nyambung. Orang-orang yang melihat kami bersama nampak terheran. Penampilanku dengan baju pendek, jeans ketat dan tak berhijab, sangat kontras dengan penampilan Mbak Indah.
Pertemuan pertama itu, menjadi titik awal pertemuan-pertemuan kami selanjutnya. Mbak Indah mengajakku sedikit demi sedikit belajar tentang agama. Kami menghabiskan waktu berdua untuk saling berdiskusi. Namun tiap kali diajak mendatangi kajian, aku masih kerap menolak. Aku belum siap. Terlebih pakaianku yang masih terbuka. Aku juga malu jika ada yang melihatku ikut kajian.
Mbak Indah yang memahami alasanku, akhirnya menawarkan solusi. Ia meminjamiku satu set baju cadarnya. “Coba pakai ini, sehingga kamu nggak usah malu lagi!” ujarnya sembari tersenyum. Perasaanku berkecamuk, antara iya atau tidak. Hingga kuputuskan untuk mengganti baju ketatku dengan baju bercadar.
Ploong! Rasanya nyaman saat aku menginjakkan kaki keluar. Aku lega karena tak ada yang mengenaliku di balik baju. Seiring waktu aku makin kerap pergi kajian bersama Mbak Indah. Tentunya dengan mengenakan pakaian yang menutup seluruh tubuhku, kecuali mata. Aku merasakan hal berbeda tiap kali mengenakannya, seperti ada angin sejuk yang menelisik masuk ke relung hatiku. Meski selepas kajian, aku kerap memakai baju biasa. Namun kini bajuku mulai melonggar. Aku mulai mengenakan baju dengan atasan yang lebar, tidak membentuk tubuh, dan berlengan panjang. Sesekali aku pakai celana atau rok panjang.
“Aku mau berhijab, Mbak. Tapi aku malu. Mbak kan tahu kalau aku ini anaknya pelacur,” ucapku suatu hari.
“Aku takut kalau orang-orang pikir hijabku cuma sebagai tameng. Padahal asli dalamnya bejat,” rutukku lagi.
Bibirnya selalu menyungging senyum setiap kali mendengar ceritaku. Ia lalu meletakkan sebuah kado di tanganku. Segera aku membukanya karena penasaran. Aku melihat setelan abaya hitam dengan bordiran putih di tepinya. Ada juga hijab besar dan cadar model bandana. Seketika bulir bening di mataku mengalir. Aku memeluk Mbak Indah sambil berlinang. Semenjak itu, aku putuskan untuk bercadar.
Bahkan setelah aku bercadar, masih ada lelaki yang menggoda. Dikiranya aku pura-pura. Dikiranya pula aku hamil sehingga harus kututupi dengan jilbab besar. Teman-teman di kampus banyak yang mencibir. Namun tak sedikit pula yang perlahan menerima perubahan penampilanku. Aku hanya berharap, semoga bisa selalu istiqomah. Entah apa yang dikatakan orang, aku sudah pasrahkan semuanya pada Allah. Mbak Indah juga selalu ada di sisiku, menguatkanku.
Libur kuliah akhir semester 7, aku putuskan untuk pulang menemui ibuku. Aku masih menyembunyikan fakta bahwa kini aku berhijab, bahkan bercadar. Aku ingin menemuinya dan mengajaknya hijrah bersama. Meski dulu aku sangat tidak menyukai perilakunya. Tiap hari ia membawa lelaki hidung belang ke rumah. Tiap hari aroma minyak wangi murahan menyeruak ke seluruh penjuru rumah, hingga aku mau muntah.
Saat umurku 15 tahun, salah satu dari lelaki itu masuk ke kamarku dan merogolku dengan ganas. Meski pelacur, ibu juga tak tega melihat anak gadisnya diperkosa. Sejak itu, ibu menyewakanku kos kecil di dekat tempatku bersekolah. Tiap bulan ia mengirimiku uang kos, sekolah, dan biaya sehari-hari. Dari luar, aku nampak biasa saja setelah kejadian pemerkosaan itu. Padahal batinku menjerit. Aku mulai melampiaskan kegundahan batinku dengan mengajak teman lelakiku berbuat asusila. Toh, aku sudah tidak perawan.
Kebiasaan buruk itu berlanjut hingga aku kuliah. Aku menggoda lelaki sekaligus memoroti uang mereka. Hingga aku bertemu dengan Yusa dan Mbak Indah, titik balik hijrahku. Ah, Yusa, sudah lama aku tak mendengar kabarnya semenjak ia pindah jurusan. Aku malu jika bertanya pada Mbak Indah tentang Yusa. Huuus! Segera kuusir bayangan Yusa dari benakku. Aku mulai fokus mengatur apa yang harus kusampaikan pada ibu.
Sesampainya di rumah, ibu terkaget. Aku ceritakan semuanya pada ibu. Aku mengajaknya hijrah bersama. Namun kutatap sorot matanya garang. “Kalau kamu kesini dengan pakaian seperti itu, mending nggak usah kesini lagi. Pergi saja sekarang!” usir ibu sambil menunjuk-nunjuk cadarku.
Aku keluar dari rumah ibu dengan sendu. Tetanggaku berbisik-bisik, tak jarang menghardik. “Ibunya pelacur, anaknya teroris,” cibir salah satu tetangga. Aku pulang ke kos dengan air mata mengalir membentuk anak-anak sungai.Tiap hari tak lupa aku mendoakan ibuku. Ia satu-satunya keluarga yang kupunya. Aku bahkan tak tahu siapa ayahku. Kejadian di rumah ibu tak memupuskan tekadku bercadar. Semakin hari aku pun makin bersemangat belajar agama. Sampai suatu ketika, Mbak Indah menawariku untuk menikah.“Mbak Indah kan tahu masa laluku, apa Mbak Indah yakin pihak lelaki mau menerimaku?” tanyaku pilu.
Mbak Indah tersenyum. “Pihak lelaki sudah tahu tentang kisahmu. Aku sudah menceritakan semuanya dan ia mantap mau melamarmu,” tuturnya lembut.
Setelah istikharah panjang, aku memutuskan bersedia membuka hati. Aku mulai membaca proposal nikahnya. Ternyata di lembar itu tertulis nama seseorang yang dulu sempat kukagumi. Tak berselang lama, prosesi khitbah dan akad nikah berjalan lancar. Kini aku telah sah menjadi istri Yusa Attaqi.
Kenangan masa laluku suatu saat akan datang tak terduga bagai badai. Namun, kini aku tak sendiri. Ada orang-orang baik yang menggenggam erat tanganku dan mewarnai titik balik hidupku dengan cahaya iman. Aku memang anak penjaja malam, tapi aku juga seorang hamba yang berusaha menggapai ridho-Nya.




