Titik Balik

Tatkala cinta menjadi peneguh iman sekaligus titik balik dari sebuah kisah.

Semprotan minyak wangi menyeruak ke seluruh penjuru kamar. Baju biru muda berbelahan dada membalut indah tubuh rampingku. Rok jeans pendek menambah kesan molek. Sebut saja namaku Siska. Saat kecil, aku benci sekali bau parfum dan pakaian mini yang dikenakan oleh perempuan penjaja malam di sekitar rumahku. Nyatanya, malam itu aku berdandan seksi untuk membuat seorang lelaki jatuh dalam pelukku.

Kaki jenjangku menapaki jalanan malam ibu kota. Derik sepatu hak tinggiku berhenti di sebuah kafe yang tak jauh dari kampus. Aku menatap laki-laki di sudut kafe itu dengan sumringah. Ia targetku malam itu. Namanya Yusa, lelaki yang terkenal paling lurus di jurusanku.

Aku menyapanya dengan nada manja nan mendesah. Lelaki bercelana cingkrang dan berjaket kulit itu hanya menatap sekilas. “Pakai ini!” ucapnya sambil membuka jaket dan menyerahkan padaku. “Perempuan mulia itu melindungi tubuhnya. Bukan justru mengumbarnya,” imbuhnya tegas.

Kata-kata pedas darinya itu seperti memantik titik kesadaranku. Meski dengan sebal, aku menutup pakaian miniku dengan jaket. Telingaku terasa panas. Hatiku baur antara malu dan terhina. Selesai menyelesaikan tugas kelompok bersama Yusa, aku bergegas pergi. Misiku malam itu gagal untuk menggodanya. Ia tak seperti lelaki lain  yang dengan mudah terpesona dengan kecantikan wanita.

Sejak itu, aku makin penasaran dengan Yusa. Aku bahkan tak segan mendekatinya dengan sok akrab. “Kenapa perempuan harus berhijab?” tanyaku suatu hari padanya. Aku bisa melihat dahinya mengernyit. “Karena itu wajib,” ujarnya singkat sambil berlalu meninggalkanku.

Bibirku mengerucut. Aku kembali dicuekin bahkan ditinggal pergi. Aku menggerutu sebal. Namun tak lama, Yusa balik sambil menyerahkan selembar kertas. Aku berbinar dan hatiku seakan mau melompat saat itu. Aku tatap kertas itu lekat-lekat. Tertulis nomor telepon di sana. Aku dengan riang menyimpan nomor itu di kontak.

Malamnya, aku segera menghubungi nomor itu—nomor yang kukira Yusa. Nyatanya bukan, itu nomor orang lain. Selanjutnya kusebut dengan nama Mbak Indah. Meski bukan Yusa, nyatanya aku merasa nyaman bertukar pesan dengan Mbak Indah. Ia supel dan ramah, membuatku leluasa bertanya banyak hal. Sampai akhirnya kami putuskan untuk bertemu keesokan harinya.

Aku terpana melihat penampilan Mbak Indah di pertemuan pertama kami. Pakaiannya serba hitam. Bajunya kedodoran dengan jilbab besar. Aku hanya bisa melihat matanya yang menyipit saat tersenyum. Awalnya kami agak kikuk saat berbincang, namun lama-lama mengalir dan nyambung. Orang-orang yang melihat kami bersama nampak terheran. Penampilanku dengan baju pendek, jeans ketat dan tak berhijab, sangat kontras dengan penampilan Mbak Indah.

Pertemuan pertama itu, menjadi titik awal pertemuan-pertemuan kami selanjutnya. Mbak Indah mengajakku sedikit demi sedikit belajar tentang agama. Kami menghabiskan waktu berdua untuk saling berdiskusi. Namun tiap kali diajak mendatangi kajian, aku masih kerap menolak. Aku belum siap. Terlebih pakaianku yang masih terbuka. Aku juga malu jika ada yang melihatku ikut kajian.

Mbak Indah yang memahami alasanku, akhirnya menawarkan solusi. Ia meminjamiku satu set baju cadarnya. “Coba pakai ini, sehingga kamu nggak usah malu lagi!” ujarnya sembari tersenyum. Perasaanku berkecamuk, antara iya atau tidak. Hingga kuputuskan untuk mengganti baju ketatku dengan baju bercadar.

Ploong! Rasanya nyaman saat aku menginjakkan kaki keluar. Aku lega karena tak ada yang mengenaliku di balik baju. Seiring waktu aku makin kerap pergi kajian bersama Mbak Indah. Tentunya dengan mengenakan pakaian yang menutup seluruh tubuhku, kecuali mata. Aku merasakan hal berbeda tiap kali mengenakannya, seperti ada angin sejuk yang menelisik masuk ke relung hatiku. Meski selepas kajian, aku kerap memakai baju biasa. Namun kini bajuku mulai melonggar. Aku mulai mengenakan baju dengan atasan yang lebar, tidak membentuk tubuh, dan berlengan panjang. Sesekali aku pakai celana atau rok panjang.

“Aku mau berhijab, Mbak. Tapi aku malu. Mbak kan tahu kalau aku ini anaknya pelacur,” ucapku suatu hari.

“Aku takut kalau orang-orang pikir hijabku cuma sebagai tameng. Padahal asli dalamnya bejat,” rutukku lagi.

Bibirnya selalu menyungging senyum setiap kali mendengar ceritaku. Ia lalu meletakkan sebuah kado di tanganku. Segera aku membukanya karena penasaran. Aku melihat setelan abaya hitam dengan bordiran putih di tepinya. Ada juga hijab besar dan cadar model bandana. Seketika bulir bening di mataku mengalir. Aku memeluk Mbak Indah sambil berlinang. Semenjak itu, aku putuskan untuk bercadar.

Bahkan setelah aku bercadar, masih ada lelaki yang menggoda. Dikiranya aku pura-pura. Dikiranya pula aku hamil sehingga harus kututupi dengan jilbab besar. Teman-teman di kampus banyak yang mencibir. Namun tak sedikit pula yang perlahan menerima perubahan penampilanku. Aku hanya berharap, semoga bisa selalu istiqomah. Entah apa yang dikatakan orang, aku sudah pasrahkan semuanya pada Allah. Mbak Indah juga selalu ada di sisiku, menguatkanku.

Libur kuliah akhir semester 7, aku putuskan untuk pulang menemui ibuku. Aku masih menyembunyikan fakta bahwa kini aku berhijab, bahkan bercadar. Aku ingin menemuinya dan mengajaknya hijrah bersama. Meski dulu aku sangat tidak menyukai perilakunya. Tiap hari ia membawa lelaki hidung belang ke rumah. Tiap hari aroma minyak wangi murahan menyeruak ke seluruh penjuru rumah, hingga aku mau muntah.

Saat umurku 15 tahun, salah satu dari lelaki itu masuk ke kamarku dan merogolku dengan ganas. Meski pelacur, ibu juga tak tega melihat anak gadisnya diperkosa. Sejak itu, ibu menyewakanku kos kecil di dekat tempatku bersekolah. Tiap bulan ia mengirimiku uang kos, sekolah, dan biaya sehari-hari. Dari luar, aku nampak biasa saja setelah kejadian pemerkosaan itu. Padahal batinku menjerit. Aku mulai melampiaskan kegundahan batinku dengan mengajak teman lelakiku berbuat asusila. Toh, aku sudah tidak perawan.

Kebiasaan buruk itu berlanjut hingga aku kuliah. Aku menggoda lelaki sekaligus memoroti uang mereka. Hingga aku bertemu dengan Yusa dan Mbak Indah, titik balik hijrahku. Ah, Yusa, sudah lama aku tak mendengar kabarnya semenjak ia pindah jurusan. Aku malu jika bertanya pada Mbak Indah tentang Yusa. Huuus! Segera kuusir bayangan Yusa dari benakku. Aku mulai fokus mengatur apa yang harus kusampaikan pada ibu.

Sesampainya di rumah, ibu terkaget. Aku ceritakan semuanya pada ibu. Aku mengajaknya hijrah bersama. Namun kutatap sorot matanya garang. “Kalau kamu kesini dengan pakaian seperti itu, mending nggak usah kesini lagi. Pergi saja sekarang!” usir ibu sambil menunjuk-nunjuk cadarku.

Aku keluar dari rumah ibu dengan sendu. Tetanggaku berbisik-bisik, tak jarang menghardik. “Ibunya pelacur, anaknya teroris,” cibir salah satu tetangga. Aku pulang ke kos dengan air mata mengalir membentuk anak-anak sungai.Tiap hari tak lupa aku mendoakan ibuku. Ia satu-satunya keluarga yang kupunya. Aku bahkan tak tahu siapa ayahku. Kejadian di rumah ibu tak memupuskan tekadku bercadar. Semakin hari aku pun makin bersemangat belajar agama. Sampai suatu ketika, Mbak Indah menawariku untuk menikah.“Mbak Indah kan tahu masa laluku, apa Mbak Indah yakin pihak lelaki mau menerimaku?” tanyaku pilu.

Mbak Indah tersenyum. “Pihak lelaki sudah tahu tentang kisahmu. Aku sudah menceritakan semuanya dan ia mantap mau melamarmu,” tuturnya lembut.

Setelah istikharah panjang, aku memutuskan bersedia membuka hati. Aku mulai membaca proposal nikahnya. Ternyata di lembar itu tertulis nama seseorang yang dulu sempat kukagumi. Tak berselang lama, prosesi khitbah dan akad nikah berjalan lancar.  Kini aku telah sah menjadi istri Yusa Attaqi.

Kenangan masa laluku suatu saat akan datang tak terduga bagai badai. Namun, kini aku tak sendiri. Ada orang-orang baik yang menggenggam erat tanganku dan mewarnai titik balik hidupku dengan cahaya iman. Aku memang anak penjaja malam, tapi aku juga seorang hamba yang berusaha menggapai ridho-Nya.

Antologi Fiksi Mini: Membuat Merenung Lebih Dalam tentang Hakikat Rumah

Kumpulan cerpen mini Rumah Sebuah Tempat untuk Pulang memuat beragam kisah yang menggugah tentang hakikat rumah.

Judul : Rumah #2 Sebuah Tempat untuk Pulang
Penulis : Yulia Nady, Atin Chusniyah, Madiani Shawol, dkk.
Penerbit : Prokreatif Media
Terbitan : Cetakan Pertama, November 2019
Tebal Buku : 209 hlm.
ISBN : 978-623-92215-1-5

BLURB
Buku ini merupakan kumpulan tulisan dari para penulis terpilih Lomba Menulis Nasional Tema Rumah. Dari total 567 naskah telah terpilih 38 cerpen mini dari para peserta lomba.

THE REASON I READ
Saya baca buku ini karena ada karya saya di dalamnya—alhamdulillah dapat juara 3. Selain itu, saya juga ingin membaca karya peserta lainnya yang menginspirasi.

MY IMPRESSION
Membaca buku antologi Rumah #2 Sebuah Tempat untuk Pulang ini terasa menyenangkan sekaligus mengharukan. Karena ada 38 penulis dengan beragam sudut pandang dan gaya penulisan yang berbeda-beda. Sehingga membuat buku ini tidak monoton. Ada yang mengambil sudut pandang rumah yang dihuni oleh sekelompok kucing, rumah dari keluarga yang utuh maupun tercerai, hingga rumah yang tergusur.
Kumpulan antologi fiksi mini ini dapat membuat kita merenung lebih dalam untuk memaknai apa, bagaimana, dan siapakah itu rumah? Banyak sekali hikmah yang dapat dipetik saat membaca tiap kisahnya.Untuk cover buku ini saya menilai tampilannya standar. Untuk ketebalan buku pas dan nyaman untuk dibaca sekilas saat senggang.

WHAT I LEARN
Buku ini sukses membuat saya untuk berpikir ulang serta menyelami definisi rumah yang lebih dalam.

FAVORITE QUOTE
Saya paling suka kalimat yang ditulis oleh juara ketiga—Atin Chusniyah. “Rumah adalah papan tempat bernaung, adalah oleh Yang Maha Pencipta diberi pesan untuk menjaga bilik dengan baik, sebab jika tidak, banyak nyawa akan terkatung.”—hlm. 13

RATE
Overall, rating buku antologi fiksi Rumah #2 ini menurut saya 7 dari 10.
HAPPY READING

Break Your Limit: Kumpulan Cerpen Pemenang Lomba Nasional

Kumpulan cerpen Menisik Jalan Menuju Rumah memuat beragam kisah yang menggugah diri agar berani keluar dari zona nyaman.

Judul : Menisik Jalan Menuju Rumah
Penulis : Amalia Aris Saraswati, dkk.
Penerbit : CV. Jejak
Terbitan : Cetakan Pertama, Januari 2020
Tebal Buku : 308 hlm
ISBN : 978-623-247-174-0

BLURB
Buku ini berisi 50 cerpen pilihan dari para peserta Lomba Cerpen Tingkat Nasional yang diadakan oleh Antariksa dan Jejak Publisher. Cerpen ini bertema Break Your Limit.

THE REASON I READ
Saya baca buku ini karena ada karya saya di dalamnya—alhamdulillah dapat juara 2. Selain itu, saya juga ingin membaca karya peserta lainnya yang menginspirasi.

MY IMPRESSION
Membaca buku Menisik Jalan Menuju Rumah ini terasa menyenangkan. Karena ada 50 penulis dengan beragam sudut pandang dan gaya penulisan yang berbeda. Sehingga membuat buku ini tidak monoton.
Kumpulan cerpen ini sebagian besar mengisahkan tentang bagaimana seseorang itu berjuang untuk keluar dari zona nyamannya dan berjuang untuk menghadapi tantangan di hadapannya. Banyak sekali hikmah yang dapat dipetik saat membaca tiap kisahnya.
Karena ada 50 penulis berbeda, tak dapat dipungkiri, di buku ini masih ada beberapa kata dan penulisan yang kurang sesuai PUEBI. Selain itu, kualitas cetakan buku termasuk kurang bagus, karena lembaran bukunya mudah lepas. Cover buku juga kurang marketable.

WHAT I LEARN
Dari buku ini saya belajar, jangan pernah menyerah terlebih dahulu sebelum benar-benar mencoba. Jika berusaha lebih berani dan lebih keras, maka kita dapat melampaui batas-batas hingga berhasil keluar dari zona nyaman.

FAVORITE QUOTE
Saya paling suka kalimat yang ditulis oleh juara pertama—Amalia Aris Saraswati.“Ketidakmungkinan apa di dunia ini yang telah kau taklukkan. Apakah itu demi cita-cita nafsumu atau dari kejernihan hatimu? Atau kau masih lena dalam kenyamananmu?”—hlm. 35

RATE
Overall, rating Menisik Jalan Menuju Rumah ini menurut saya 6,5 dari 10.
HAPPY READING

Kumpulan Cerita Rakyat Cina: Hikmah dan Budi Pekerti

Sastra klasik ini berisi kumpulan cerita rakyat cina yang sarat hikmah. Buku ini cocok dijadikan bacaan ringan yang bergizi.

Judul : Kumpulan Cerita Rakyat Cina
Diceritakan kembali oleh : Nurul Hanafi
Penerbit : Kakatua
Terbitan : Cetakan Pertama, Mei 2017
Tebal Buku : 152 hlm
ISBN : 978-602-73284-7-1

BLURB
Ada 20 cerita rakyat dimuat dalam buku Kumpulan Cerita Rakyat Cina, baik cerita tentang rakyat jelata, para ksatria dan raja, maupun tokoh legenda. Meskipun semua cerita berlatar Cina masa lalu, ajakan moral dan budi pekerti yang terkandung di dalamnya berlaku universal, dan akan tetap mencerahkan serta memberi ilham bagi siapa pun dan sampai kapan pun.

THE REASON I READ
Cover buku Kumpulan Cerita Rakyat Cina simpel dan menarik. Terus dari blurb-nya ini kan kumpulan cerita, jadi lebih santai pas bacanya. Karena kebetulan, emang lagi nyari buku yang tidak terlalu berat tapi hikmahnya juga mengena di hati.

MY IMPRESSION
Membaca buku Kumpulan Cerita Rakyat Cina ini terasa menyenangkan dan menyegarkan. Dua puluh ceritanya mengandung nilai-nilai moral yang cocok untuk dikisahkan dari orang tua kepada anak-anaknya.Meskipun semua cerita ini berlatar Cina masa lalu, tapi hikmah yang terkandung di dalamnya berlaku universal.
Ini 20 daftar cerita dari buku Kumpulan Cerita Rakyat Cina :

WHAT I LEARN
Dari buku Kumpulan Cerita Rakyat Cina saya belajar, bahwa di mana saja, nilai-nilai moral dan budi pekerti harus dijadikan landasan dalam kehidupan. Semacam sistem tabur tuai—apa yang kita lakukan semuanya akan kembali ke kita.

FAVORITE QUOTE
Saya paling suka quote yang ada di kisah Pulau Angsa Liar :

“Jika kau menolong atau berbuat baik pada orang lain, segera saja kau lupakan perbuatan itu. Sebaliknya, jika seseorang berbuat baik kepadamu, kau harus terus mengingatnya sampai kapan pun.” —hlm. 73

RATE
Overall, rating buku Kumpulan Cerita Rakyat Cina menurut saya 3 dari 5.

HAPPY READING

Review Novel Kemi 3: Trilogi Melawan Liberalisme

Ingin tahu perkembangan pemikiran liberalisme di Indonesia? Kemi 1, 2, dan 3 bisa menjadi pilihan tepat. Adian Husaini sukses meluruskan pemikiran-pemikiran liberal dengan gaya bertutur yang menarik, lugas, dan bernas dalam trilogi novel Kemi. Namun kali ini, saya hanya akan mengulas tentang Kemi 3, sekuel terakhir dalam pergulatan pemikiran melawan liberalisme.

REVIEW NOVEL KEMI 3


Judul : Kemi 3 Tumbal Liberalisme
Penulis : Adian Husaini
Penerbit : Gema Insani
Terbitan : Cetakan Ketiga, Mei 2018
Tebal Buku : 268 hlm
ISBN : 978-602-250-260-9

BLURB
Inilah akhir perjalanan Kemi. Setelah “bermain-main”, kemudian “terjebak” serta “tersesat” dalam kubangan liberalisme, santri cerdas bernama Kemi akhirnya menemui nasib tragis: diperas, dihinakan, disiksa, lalu diakhiri hidupnya.
Melalui Kemi 1 dan Kemi 2, Adian Husaini berhasil menyajikan kisah pergulatan batin dan pemikiran para aktivis liberal. Satu per satu para aktivis liberal ditelanjangi dan dipatahkan logika-logikanya oleh santri kampung. Jaringan penyebaran paham liberalisme—dalam dan luar negeri—pun terbongkar. Skenario perusakan pemikiran terungkap jelas.
Akhirnya, Kemi 3 menutup kisah pergulatan Islam versus Liberalisme  dengan babak akhir yang tragis. Meski telah sadar dan berusaha kembali ke jalan yang benar, Kemi harus jadi tumbal liberalisme.

THE REASON I READ
Setelah menamatkan Kemi 1 dan 2, saya juga ingin membaca Kemi 3. Kebetulan adik saya punya buku ini di rak bukunya, jadi langsung saya lahap dalam beberapa hari.
Selain itu, saya juga penasaran dengan akhir kisah Kemi. Jika di-film-kan, cerita ini pasti seru. Namun sayang, novel ini kurang begitu populer.

CHARACTER
Karakter protagonis di sini ada banyak. Kemi sebagai pusat dari semua kisah ini bermula, yang menjadi kunci, sekaligus penutup. Pak Karmi, paman Kemi, yang menjaga Kemi saat sakit. Pak Karmi dikisahkan sebagai sosok kiai kampung yang shalih dan diminta Dr. Rajil untuk mendampingi proses penyembuhan Kemi.
Ada juga tim pencari hilangnya Kemi, yaitu Ahmad Petuah (wartawan senior), Bejo (mantan wartawan infotainment kontroversial), Dokter Nasrul (pakar kejiwaan), Rahmat (sahabat Kemi di pesantren), dan dibantu Kiai Rois. Dengan dialog-dialognya yang berbobot, mereka dapat membantah pemikiran-pemikiran ala barat yang menyimpang dengan islam.
Sementara karakter antagonis ada Dr. Rajil dan timnya, yang mendapat sokongan dana liberalisme dari luar negeri, dan menggunakannya untuk menyebarkan paham liberalisme di Indonesia.

MY IMPRESSION
Di bagian awal bab, Kemi muncul dalam keadaan tidak berdaya dengan ditemani Pak Karmi dan Dr. Rajil. Sementara tim pencari Kemi—Ahmad Petuah dkk—mendiskusikan tentang hilangnya Kemi dan strategi pencariannya. Di tengah-tengah diskusi, Adian Husaini sukses menelurkan percakapan-percakapan yang bernas. Mulai dari pembahasan sekulerisasi pendidikan, tujuan penciptaan alam semesta, upaya penyelamatan Kemi, islamisasi ilmu, mematahkan argumen-argumen kaum liberal, konsep jihad dan mujahid, perjuangan islam Nusantara, kesesatan ideologi syi’ah, hingga kisah percintaan Rahmat dan Siti yang menjadi bumbu untuk mengendurkan ketegangan.
Semakin ke tengah, kisah semakin seru, karena Kemi dikisahkan sudah sembuh dan ingin kembali ke pesantren. Tentunya membuat tanda tanya besar bagi Ahmad Petuah dkk. Setelah dipukuli lalu diculik, mengapa sekarang dikembalikan begitu saja? Hingga pada akhirnya, Kemi dijadikan tumbal liberalisme.Alur maju yang dipakai untuk mengisahkan Kemi menarik untuk diikuti. Perpaduan unsur antara politik, pergolakan pemikiran, dan agama, mampu mengikat emosi pembaca lebih dekat dengan sosok Kemi dan Ahmad Petuah dkk.
Hampir 90 persen novel ini berisi percakapan antar tokoh. Bahasanya lugas dan mudah dipahami. Sedikit sekali bahasa “sastra” dalam novel ini. Meski demikian, novel ini tetap tak kehilangan esensinya sebagai sebuah fiksi. Serta tujuan utama novel ini, yaitu untuk meluruskan pemahaman sepilis (sekulerisme, pluralisme, liberalisme) yang menyimpang, dapat tersampaikan dengan baik kepada pembaca.Sebagai cendekiawan muslim yang menelurkan banyak karya tentang pemikiran islam, Adian Husaini sukses mengemas tema Liberalisme dengan kemasan yang amat sayang jika dilewatkan. Tanpa menanggalkan unsur faktualitas dan keabsahan logika yang dipaparkan, pembaca diajak mengarungi perjuangan para tokoh dalam meluruskan pemahaman liberal yang berkeliaran di sekitar kita, sadar atau tidak.
Secara keseluruhan, Kemi 3 adalah novel fiksi yang dilatarbelakangi upaya penyelamatan Kemi, yang sarat dengan kumpulan argumen bernas para cendekia. Jika pembaca belum membaca Kemi 1 dan 2, mungkin akan cukup kesulitan memahami Kemi 3, karena kisahnya berkelanjutan. Tak berlebihan juga jika saya merekomendasikan buku ini untuk dibaca para pelajar atau mahasiswa, serta cendekiawan yang bergelut dengan beragam pemikiran di luar sana. Buku ini dapat membawa pencerahan.

WHAT I LEARN
Membaca Kemi 3 menyadarkan saya tentang adanya agenda penting liberalisasi di Indonesia. Paham Sepilis tak mungkin bisa tumbuh pesat jika tak ada sokongan dana yang besar di belakangnya. Ada peran-peran sentral dari orang-orang di balik layar untuk menjauhkan umat muslim Indonesia dari hakikat iman dan islamnya. Sebuah agenda besar, yang menggerogoti keyakinan umat islam secara perlahan.Dari buku ini saya belajar, untuk senantiasa mencari pertolongan Allah dengan doa dan istikharah. Begitu banyak fitnah akhir zaman yang akan kita hadapi nantinya. Memahami agama dengan berdasar Al-Qur’an, As-Sunnah, dan Ijtihad Ulama’ adalah kunci yang paling aman dalam menghadapi fitnah.

FAVORITE QUOTE
Ada banyak sekali quote menarik di novel ini, karena sebagian besar memang isinya percakapan berbobot. Saya ambil dua dialog yang paling saya suka di antara percakapan menarik lainnya.

“Seolah islamisasi ilmu adalah memberikan label-label islam dan menempelkan ayat-ayat alQur’an pada buku-buku pelajaran. Padahal, Islamisasi yang terpenting dengan cara mengislamkan ‘kepala’ para guru. Mereka yang harus tahu, mana ilmu yang benar dan mana yang salah, mana yang manfaat dan merusak, mana yang penting dan kurang penting. Itu istilahnya adab dalam ilmu.”—hlm. 98

“Bahwa manusia harus selalu dalam proses kemajuan, semakin maju, semakin mendekat kepada Allah, sampai dapat meraih kebahagiaan. Musuh abadi kita adalah setan, yang terus berusaha membuat kita jadi ragu dan putus asa karena mengalami kegagalan demi kegagalan dalam pendakian tangga-tangga kebahagiaan.”—hlm. 196

RATE
Overall, rating buku ini menurut saya 3 dari 5.

HAPPY READING