Oleh: Yahya Ado*

Metty memberikan testimoni pada Perayaan 20 Tahun Plan International di TTU
‘Desa Membangun Indonesia,’ bukanlah sebuah slogan tanpa makna. Pembangunan bangsa telah berevolusi berabad-abad lamanya. Desa dahulu dipandang sebagai obyek sasaran pembangunan. Kini desa menjadi subyek pengharapan peningkatan ekonomi rakyat.
Tak main-main, dana desa yang terkucur ke NTT setelah ditepatkan UU Desa No. 6 Tahun 2014 kini mencapai lebih dari sepuluh triliun rupiah. Ini untuk semua desa di NTT. Sejak tahun 2017 lalu, berbagai inovasi muncul dari desa. Ada desa yang fokus ke pertanian, ada yang ke pariwisata, dan sejumlah inovasi lainnya. Termasuk ramai-ramai desa mengembangkan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes).
Pemerintah pusat sedang gencar melakukan penilaian. Sejauh mana dana desa membawa perubahan kehidupan masyarakat di desa. Terutama dari sisi ekonomi untuk melihat taraf kehidupan masyarakat NTT. Jika data Badan Pusat Statistik Nasional (BPS) tahun 2017 merulis NTT sebagai propinsi termiskin ketiga setelah Papua dan Papua Barat, harapannya di tahun 2019 ini, peringkatnya bisa berubah lebih baik.
Terlepas dari semangat inovasi desa melalui dana desa, di luar sana ada banyak inovasi yang telah dikembangkan oleh berbagai lembaga atau pihak-pihak yang peduli pada kehidupan masyarakat di NTT.
Saya mengangkat cerita Metty. Sebuat tutur yang saya dengar secara langsung dari sang pelaku. Metty seorang gadis desa di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Ia adalah salah satu gadis muda yang tergabung dalam satu proyek yang dinamai ‘Green Skill’ diinisiasi oleh Yayasan Plan International. Metty memberikan testimoni di sela acara seremoni perayaan 20 tahun Plan International berkarya di kabupatan TTU. Latar belakang pendidikan guru biologi. Ia melamar ke beberapa sekolah untuk mengajar dan ditolak. Ketika mendapat kesempatan bergabung di proyek tersebut, ia kini tak berpikir lagi menjadi guru formal di sekolah. Apalagi menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) di luar negeri. Ia malah telah menjadi guru di lapangan sebagai petani bersama rekan-rekan sebayanya.
Menjadi petani itu harus hilangkan gengsi. Banyak anak muda yang enggan turun merumput di lumpur yang kotor. Padahal mutiara tak selamanya ada di tempat yang bersih.
Mengejutkan, Metty mengungkapkan, kini ia memiliki tiga hektar lahan untuk bertani. “Saya memiliki tiga hektar lahan. Menanam aneka sayur dan hoktikultura. Panen terakhir untuk satu hektar saya dapat keuntungan 40 juta. Itu bersih,” katanya saat diskusi.
Bayangkan, kalau dia punya tiga hektar maka sekira 120 juta satu musim panen. Ternyata ia sudah punya ilmu bagaimana menanam yang bisa dipanen hari-hari. Bukan sekali panen.
Inovasi desa dan cerita Metty, sebenarnya tak ada kaitan. Metty bergerak bukan dari dana desa. Saya hanya sengaja mengait-gaitkan saja soal inovasi dan kreatifitas. Sebab keduanya penting dan saling berkaitan. Sekaligus ingin menegaskan bahwa jika saja inovasi satu desa diserahkan kepada anak muda yang tepat seperti Metty, maka kita tinggal mengumpul untung dari satu masa panen ke masa panen berikut. Sebab sejengkal tanah punya hasil yang membanggakan di tangan orang yang tepat.
Investasi terbaik tentu saja kepada manusia, apalagi kepada anak muda yang kreatif. Maka tak ada guna desa membangun monumen jika rakyatnya tak diberdayakan dan diberi ruang berkontribusi. Soal kita masih berkutat pada satu penyakit kronis yang sama dari zaman ke zaman. Korupsi, Korupsi, dan Nepotisme (KKN) yang makin menjamur hingga ke desa.
Karena itu, semakin sulitlah kita menemukan Metty-Metty lain di desa nan subur, permai, dan kaya raya. Malah terbalik, kita lebih mudah menemukan sejumlah kepala desa atau aparat desa yang harus berurusan dengan hukum, karena tega mencuri uang rakyat di dana desa.**
Lasiana, 21 Mei 2019

TEMAN saya sibuk membuat proposal. Jemarinya menari di tuts laptop. Sesekali memencet kalkulator di meja kerjanya. Saya terheran. Kenapa dia membuat proposal dengan komputer tapi masih juga sibuk dengan kalkulator. Apakah ia tak percaya Excel yang begitu canggih menciptakan fitur untuk berhitung. Bahkan segala jenis rumus bisa dimasukan dalam excel.
