
Training of Trainer – Talenta Training Centre
Lima Motivasi Kerja
Seorang dewasa sedang berkomunikasi dengan seorang anak kecil berusia 3 tahun saat di sebuah toko. Anak itu kebetulan bersama ibunya, teman dari orang dewasa itu.
“Nak, ke mana bapakmu? Kok nggak ikut bersamamu?”begitu orang dewasa itu memulai pembicaraan.
“Bapak kelja,”setengah pelo anak kecil itu menjawab.
“Untuk apa bapakmu kerja?”tanya orang dewasa itu lagi.
“Cari duit, buat beli susu!”
Pertanyaannya,”Untuk apakah Anda bekerja?” Ketika berangkat dari rumah, adakah motivasi yang menggerakkan Anda hingga Anda harus bekerja? Sungguh, mulia tidaknya pekerjaan kita sangat bergantung pada latar belakang yang mendasari kita untuk bekerja. Setidaknya ada 5 motivasi yang seharusnya dimiliki manusia untuk bekerja.
Pertama, kerja adalah ibadah. Tak terbayangkan jika manusia bekerja dalam rangka beribadah kepadaNya. Salah satu bentuk pengabdian yang dengannya tentu saja bisa mengantarkan manusia pada surgaNya. Bukankah manusia diciptakan dalam rangka beribadah kepadaNya?
Kedua, kerja adalah amanah. Banyak pertanggungjawaban yang harus dituntaskan ketika seseorang bekerja. Amanah menafkahi keluarga dan amanah terhadap pekerjaan itu sendiri. Prinsip ikhlas, itqon, dan sesuai dengan syariatNya, tentu saja harus menjadi landasan untuk menuntaskan amanah ini.
Ketiga, kerja adalah belajar. Ya, belajar apa saja. Belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja, mengemukakan pendapat saat pertemuan, berpakaian rapi saat kerja, berbicara santun melayani orang, dsb. Bahkan manusia dipaksa belajar dengan kondisi yang tidak pas yang ditemuinya di tempat kerja.
Keempat, kerja adalah aktualisasi diri. Tak dipungkiri apa yang sudah manusia punya, misalkan ilmu yang telah didapatkan di bangku kuliah, atau bakat yang terasah ingin sekali bisa diaktualisasikan. Menunjukkan potensi diri, mensyukurinya dengan cara mengabdikannya dengan cara yang benar lagi bermanfaat.
Kelima, kerja adalah rahmat. Bagaimanapun manusia bisa bekerja karena rahmat dariNya. Bukti kasih sayangnya hingga manusia mampu mengaktualisasikan kemampuannya, mampu pula memenuhi hajat hidupnya. Maka, bekerja dengan tulus dan penuh syukur merupakan wujud nyata manusia berterima kasih atas rahmatNya.
Sungguh luar biasa ketika bekerja dengan motivasi yang luar biasa pula. Maka, jika motivasi Anda bekerja sudah benar, teruslah bersyukur, dan ketika motivasi Anda ada kepincangan, perbaikilah!
(Ingat ya para pembaca, bahwa bekerja tak berarti bekerja di kantoran, di pabrik, di sebuah instansi. Bekerja bisa juga belajar, bisa juga aktivitas lainnya. So, …)
Posted in Uncategorized | Tags: motivasi
Who Next “Manusia Robbani”?
Tak dapat dielakkan bahwa manusia satu dengan manusia lainnya memang berbeda. Tak hanya dari “bleger” fisiknya saja. Dalam QS Al Lail ayat 4, Allah mengingatkan bahwasanya manusia itu berbeda dalam tingkatan amalnya. Usaha manusia beragam, baik atau buruk. Dalam surah yang lain yaitu QS Al Hujurat ayat 13, Allah juga berfirman tentang keadaan manusia yang bervariasi suku dan bangsa supaya mereka saling mengenal. Namun, tentu saja Allah mengajak mereka dalam satu tantangan yang sama,”Siapakah yang paling bertakwa?”
“Menciptakan generasi robbani”. Demikian saya pernah mendengar jawaban seorang guru agama yang mengajar di sebuah sekolah ketika ditanya tujuan beliau memberikan ilmu, bahkan tak jarang kalimat ini pun tercantum di papan visi misi sekolah. Suatu visi, cita-cita yang tinggi. Ya, generasi robbani, atau bisa saya katakan manusia robbani.
Maka, yang menjadi sorotan selanjutnya adalah,”Apakah manusia robbani itu?” Dari asal katanya saja mungkin pembaca semua sudah mampu menerka bahwa manusia robbani adalah manusia yang berorientasi ketuhanan. Mungkin. Lalu, bisa dijelaskan detail ketuhanan itu seperti apa? Berikut ulasan ciri-cirinya.
“Barang siapa yang diberikan kebaikan oleh Allah, maka akan dimudahkannya untuk mempelajari agama.”Demikian sabda Rasulullah. Mempelajari agama memang sudah sewajarnya dilakukan oleh setiap insan muslim di dunia. Semakin dia tekun bergaul dengan kitab suci, berinteraksi dengan sunah Nabi, maka sesungguhnya dia akan makin faqih tentang agamanya. Dan Allah senantiasa mengucurkan rahmatNya. Ciri inilah yang melekat pada manusia robbani. Detik waktu adalah ilmu, langkah kaki adalah belajar mendalami. Manusia robbani professional dalam masalah keagamaanya. Sekilas kita mengingat tentang Mu’adz bin Jabal. Mengutip dari http://www.id.wikipedia.org, Mu’adz bin Jabal adalah sahabat nabi yang berbai’at kepada Rasulullah sejak pertama kali. Sehingga ia termasuk orang yang pertama kali masuk Islam. Mu’adz terkenal sebagai cendekiawan dengan wawasannya yang luas dan pemahaman yang mendalam dalam ilmu fiqh, dan bahkan Rasulullah menyebutnya sebagai sahabat yang paling mengerti yang mana yang halal dan yang haram. Luar biasa kan?
Sekarang saya akan bertanya,”Apa perbedaan orang yang faqih dan orang yang alim?” Sekilas terkesan sama, tapi ternyata beda. Faqih saja tidak cukup, maka manusia yang robbani haruslah alim. Alim bermakna memiliki ilmu. Apa saja. Ulama terkenal Yusuf Qardhawi menyarankan kepada para juru dakwah untuk bisa menguasai minimal 5 bidang ilmu selain ilmu agama. Ilmu-ilmu itu adalah:
a. Sosiologi
Apa saja yang terjadi dalam masyarakat, seluk beluk budaya masyarakat, seorang juru dakwah wajib mengetahuinya. Bagaimana mungkin dia akan menyebarkan nilai kebaikan sedang dia tak tahu budaya masyarakatnya.
b. Psikologi
Kepribadian setiap orang adalah unik, yang itu berbeda satu dengan yang lainnya. Cara menghadapinya pun butuh perlakuan yang beda. Maka seorang juru dakwah sangatlah perlu mempelajari ilmu ini agar penanganan kepada setiap orang bisa lebih tepat.
c. Sejarah
Sejarah adalah mata rantai. Jika seorang juru dakwah tak mengenal sejarah apa yang mau disampaikannya, maka manusia yang akan dihadapinya pun akan berkurang kepercayaannya. Sejarah mampu member bukti, sejarah mampu membuat orang terperangah. “Oooo…,”begitu kira-kira kata yang kita harapkan keluar dari mulut orang ketika juru dakwah menampilkan sejarah.
d. Komunikasi
Tahu segalanya namun tak bisa mengkomunikasikannya sama artinya dengan mutiara yang berkilau tapi terpendam di dasar permukaan laut. Maka, manusia robbani perlu mendalami komunikasi. Cara berinteraksi, cara memberi pengaruh, dan cara menyuguhkan kesan positif baik secara verbal maupun non verbalnya.
e. Dunia kontemporer
Dunia memang berkembang pesat seiring dengan ilmu pengetahuan yang laju perkembangannya pun demikian dahsyat. Masalah-masalah pun bermunculan, sedangkan pada zaman Rasulullah dulu belum pernah kejadian. Seorang manusia robbani yang sekaligus berkecimpung di dunia dakwah harus pula menambah wawasan keilmuannya dengan dunia kontemporer ini.
Nah, ilmu sudah ada dan mungkin saja hafal di luar kepala. Selanjutnya, ada aksi menunggu manusia robbani untuk mengamalkannya. Mereka harus melek politik juga. Pertarungan hak dan batil akan selalu ada, tak akan musnah hingga kiamat menjemput alam semesta. Maka politik dalam arti luas mengurusi masalah umat juga merupakan prioritas utama. Manusia robbani harus berani mengambil sikap untuk terjun dan melek politik sekarang juga. Bekal ilmu yang mereka miliki juga harus mampu menjadikan mereka melek untuk mengorganisir kegiatan-kegiatannya hingga yang hak mampu mengalahkan yang batil.
Namun, kereta api tak hanya berhenti di satu stasiun saja. Gerbong panjang ini akan terus berjalan menuju stasiun berikutnya. Manusia robbani demikian juga. Setelah faqih dalam agama, alim dalam bidang keilmuan lainnya, melek politik, dan mampu mengorganisasikan aktivitasnya, maka satu tugas mulia telah menanti mereka, menggenapkan status manusia robbani yang disandangnya. “Mengatur masalah umat dengan memberikan maslahat dunia dan agama bagi mereka.” Ini dia. Sangatlah rugi ketika manusia sudah mumpuni keilmuannya, namun hanya mampu mencela keadaan buruk lingkungan sekitarnya tanpa bersikap solutif dan membawa maslahat bagi mereka. Ingat! Rasulullah adalah nabi rahmatan lil alamin, maka sudah sewajarnya manusia robbani bisa berupaya agar bisa memberikan manfaat, kenyamanan bagi dunia dan agama umat disekitarnya.
Maka, who next “manusia robbani”? Anda? Saya? Saya kira surga masih sangat cukup disediakan untuk kita semua. Mari kita berlomba.
Posted in Uncategorized | Tags: motivasi
Kapan Manusia Dewasa?
Usia. Apa makna bilangan yang disebut dengan usia? Apakah sekedar menyatakan anak-anak, remaja, dewasa, dan lansia? Lalu, kapan manusia dikatakan dewasa?
Fakta sering menunjukkan bahwa usia ternyata tak sebanding dengan kematangan dan kedewasaan seseorang. Ada kalanya orang yang menyandang usia tua justru sikapnya masih kekanak-kanakan, atau sebaliknya. Pengalaman telah membuatku berpikir dan berkesimpulan bahwa usia tak hanya merupakan satu-satunya tolok ukuran kedewasaan.
Pertama, masih kuingat pertengahan April 2009. Yah, tanggal-tanggal belasan. Aku mengisi pelatihan dengan peserta yang sebelumnya belum pernah aku hadapi. Dosen. Pendidik mulia dengan tugas yang sungguh mulia juga, menciptakan guru-guru SD yang siap terjun dan handal nantinya. Dengan segudang senjata lengkap beserta peluru untuk menciptakan generasi guru yang luar biasa. Tak hanya meningkatkan kognitif siswa, tapi juga pembentukan sikap, karakter positif, dan kepribadiannya. Awalnya agak “keder” juga, tapi selanjutnya kutemukan sesuatu yang aneh, yang menurutku tak seharusnya ada. Entah itu disengaja atau sekedar gurauan saja. Tiga hari pelatihan, suasana sering membuatku mengelus dada, beristighfar setiap kali melihat atau mendengar kejadiannya. Perkataan yang tidak semestinya. Bicara tentang “mouse” (itu lho yang dipake ngeklik-ngeklik saat berhadapan dengan computer!) arahnya ke “payudara” (maaf agak vulgar). Bicara tentang besar kecil benda arahnya juga ke sana. Belum lagi tentang kecantikan wanita yang membuat laki-laki tak berdaya. Pembicaraan serasa kurang bermakna (meski trainernya dah ngos-ngosan mencegahnya) karena ujung-ujungnya menuju dua kata : “eksploitasi wanita” dan tetek bengeknya. Ampun deh! Maka, wajar sesi terakhir setiap harinya selalu ada renungan untuk mengingatkan mereka. Apa jadinya mahasiswa yang mereka ajar jika begitu yang disodorkannya. Dunia pendidikan seperti sebuah mainan saja.
Nah, betul kan? Bertambahnya usia kadang tak menambah makna kedewasaannya. Banyaknya data atau informasi terkadang justru membuat orang lupa akan kemanfaatannya. Menjadi tua itu bisa saja, tapi menjadi dewasa, lagi-lagi itu adalah pilihan manusia menanggapi usianya. Beserta segepok pengetahuan yang dimilikinya.
Kedua, seorang bocah kecil kelas 3 SD mengajariku pula. Saat itu ketika aku magang ngajar di sebuah sekolah. Ketika masuk kelas, bocah kecil itu terlambat beberapa menit untuk mengikuti pelajaran. Padahal dia adalah penegak kedisiplinan di kelasnya. Sebagai konsekuensinya, bocah itu pun tahu apa yang harus dilakukannya. Dilepaskannya rompi penanda status penegak kedisiplinan itu dan meminta maaf untuk tidak mengulanginya. Dia pun belajar dengan sikap yang baik, tanpa tingkah polah yang menjengkelkan gurunya.
Lihat! Si bocah kecil itu mengerti. Merangkai kejadian hingga akhirnya tahu bagaimana dia harus mengambil sikap. Dadanya cepat merasa sesak ketika kesalahan dilakukannya. Dia taat asas bahwa ada konsekuensi yang harus dia tanggung dan tak malu dia mengakuinya. Kecil, itu sesungguhnya hanya fisiknya saja. Selebihnya dia dewasa.
Maka, kapan manusia dewasa?
Posted in Uncategorized | Tags: pengalaman hidup
Batang Kayu dan Roda Sepeda
Hidup ini memang ada masalah. Ibarat roda sepeda yang berputar, ada sebatang kayu menyisip di antara ruji-rujinya. Jika roda berputar pelan, maka sebatang kayu bisa menghentikannya. Berarti masalah dalam hidup kita belum terselesaikan. Tapi, jika roda itu berputar kencang, maka sebatang kayu itu bisa-bisa patah atau terpental. Maka sesungguhnya saat itu, masalah berhasil kita kalahkan.
Mau jadi mana? Roda yang berputar pelan atau roda yang berputar kencang?????
Posted in Uncategorized
Recent Comments