pernah satu masa, aku percaya
bahwa jika apa yang kurasakan padamu tidaklah nyata,
maka tak ada sesuatupun yang nyata di dunia ini…
hari demi hari kujalani dengan memandangimu,
menghirup udara yang sama denganmu,
berbagi emosi yang sebegitu dasyatnya hingga aku rela mengorbankan segalanya…
aku percaya perasaanku nyata
tapi, kenyataannya, aku tidak bisa mempercayaimu…
saat aku bersiap menghadapi yang terburuk,
kau menyalahkan segala sesuatu selain dirimu sendiri
tentang mengapa kita bertemu
tentang mengapa kau jatuh hati padaku
tentang mengapa kau tak sanggup melepaskanku,
sementara di saat yang sama, kau juga terlalu pengecut untuk hidup denganku
mari, biar kujawab konflik batinmu yang sederhana ini
jujurlah pada dirimu sendiri, dan pada orang-orang yang menyayangimu,
karena aku tau
hanya dirimu sendirilah yang sebenarnya kau pedulikan
kau mencintaiku, tapi kau tidak ingin kehilangan impian tentang keamanan dan kenyamanan yang menunggu di depan matamu
kau menangis saat aku pergi, tapi kau tidak mengulurkan tangan untuk mencegahku
karena, hanya perasaan yang kau rasakan saat bersamaku lah yang kau cintai
bukan aku,
yang tidak mengenal batasan,
yang begitu labil,
yang tidak menjanjikan surga untukmu,
yang tidak memenuhi ilusimu tentang wanita penurut dan beriman,
yang tidak akan mengalah sekedar karena terlahir sebagai perempuan…
tapi tidakkah kau menangis?
tidakkah jiwamu terserak dan hancur berantakan saat kita berpisah?
karena itulah yang kurasakan,
dan sekeping dalam diriku masih meyakini bahwa kau merasakannya juga…
berpuluh tahun dari sekarang,
kalau kita bertemu, taukah kau apa yang kuingat?
aku telah mengusahakan segalanya agar kita bersama
dan jika semua itu tidak berhasil,
jika saat aku terpuruk tak ada satupun bukti dari kata-kata cinta yang selalu kau ucapkan muncul,
jika saat hanya kematianlah yang kuinginkan, dan kau masih menakutkan nama baikmu, membohongi semua orang dan perasaanmu sendiri,
apa lagi yang harus kusesali?
jangan salahkan aku atas rasa cintamu, atas perbuatanmu,
karena aku tak pernah memintamu memilih antara aku dan dia
aku tak pernah memaksamu melakukan apapun,
aku cuma ingin tau, antara aku dan ego mu sendiri, mana yang lebih kau cintai…
diantara siluet matahari merah besar yang perlahan terbenam,
teratai bertangkai panjang, dan tangis tak berkesudahan,
aku telah menyadari jawaban dari semua teka-teki yang;
tak pernah berani kau akhiri
selamat tinggal,
semoga kau temukan kedamaian….



