Arogansi Militer dalam Film

Posted in novel on Mei 10, 2008 by naldolover


Judul: Film, Ideologi, dan Militer – Hegemoni Militer dalam Sinema Indonesia, Penulis: Budi Irawanto, Kata Pengantar: Eros Djarot, Penerbit: Media Pressindo bekerja sama dengan Yayasan Adikarya Ikapi dan The Ford Foundation, Yogyakarta, Edisi: Oktober 1999, Tebal: (221 + xxiv) halaman.

UNTUK memenangkan pertarungan politik, paling tidak ada tiga syarat utama yang harus dimiliki oleh sebuah kelompok. Pertama, dukungan massa; kedua, basis finansial yang kuat untuk menopang berlangsungnya program kerja dan program politik, dan ketiga senjata.

Pertama dan kedua adalah syarat yang lazim dimiliki oleh partai-partai politik dalam berebut kekuasaan secara demokratis. Sedangkan syarat ketiga, tidak semua kekuatan politik mempunyai alat represi paling ampuh tersebut. Hanya militer yang biasanya mempunyai dukungan senjata karena memang pada dasarnya militer adalah rakyat yang punya hak istimewa, berbeda dengan rakyat sipil yang lain, yaitu hak miliki senjata.

Bisa dibayangkan ketika militer sebagai kelompok yang mempunyai senjata, ikut bermain dalam arena perebutan kekuasaan. Ketika dukungan massa dan keuangan tidak lagi mampu memberikan arti dan janji kemenangan, senjata sebagai alternatif terakhir yang mereka miliki pasti berbicara.

Dalam sejarah kehidupan negara-negara di dunia, kisah penggulingan kekuasaan sipil oleh militer adalah cerita sekaligus saksi cermin arogansi militer. Atas dasar alasan dan klaim demokrasi serta keberpihakan mereka pada rakyat, biasanya kudeta dilakukan. Akan tetapi, sejarah juga telah mencatat tidak satu pun negara dapat berjalan secara demokratis selama militer masih campur tangan dalam menyelesaikan persoalan politik.

***

DALAM kehidupan politik di Indonesia, militer adalah salah satu kekuatan dominan yang begitu hegemonik. Era Orde Baru, militer punya kekuasaan yang sangat besar dalam menentukan hitam putih perjalanan bangsa. Bagi militer, campur tangan tersebut dirasakan sebagai keharusan atas dasar legitimasi yang mereka dapatkan dari keterlibatannya dalam perang revolusi fisik melawan penjajah. Dari sejarah itu, militer sangat erat dengan citra nasionalisme dan heroisme dalam membela dan menegakkan Negara Republik Indonesia.

Melalui pengamatan terhadap tiga teks film berjudul Enam Djam di Djogdja, Janur Kuning, dan Serangan Fajar, Budi Irawanto mencoba melihat relasi antara sipil dan militer selama perang fisik berlangsung. Ketiga film tersebut, meskipun dengan bahasa yang berbeda-beda, tetapi hendak menampilkan sejarah yang sama, yaitu Serangan Umum (SU) 1 Maret 1949.

Peristiwa tersebut mengangkat nama Letkol Soeharto (pangkat terakhirnya adalah jenderal besar dan menjadi Presiden RI selama kurang lebih 32 tahun) karena ia yang memimpinnya. SU 1 Maret dianggap sebagai peristiwa historis yang menjadi basis ideologis bagi keterlibatan militer dalam politik.

Dalam bahasa lisan maupun bahasa gambar terlihat ada upaya sistematis mempropagandakan keunggulan citra militer dibandingkan sipil dalam ketiga film tersebut. Dalam film Enam Djam di Djogdja hal itu terlihat pada salah satu penggalan dialog: Berkorban?! Apa aku tidak berkorban? Kita mengungsi dari Semarang, Salatiga, Magelang, sampai sini. Apa ini bukan berkorban? Bagi ayah Wiwik, bergabung dengan Republik tidak banyak mengubah nasib keluarganya. Bahkan ketika ia masih bekerja pada Belanda, justru kesejahteraan keluarganya terjamin. Dengan menggerutu ayah Wiwik berkata, “Apa bedanya kita bekerja pada Jepang, Belanda, dan Republik, toh nasibku tetap begini.”

Dalam film ini sipil digambarkan sebagai golongan yang penuh keraguan, memiliki kecenderungan kompromis dan acapkali oportunistik. Sedangkan kelompok militer penuh semangat patriotik, kukuh dalam semangat “anti-Belanda” (tanda petik dari penulis) (hlm 115-117).

Sedang dalam film Serangan Fajar ada salah satu scene yang memperlihatkan sekerumunan pemuda yang berusaha menurunkan bendera Jepang yang masih berkibar di markas tentara Jepang, meskipun Jepang sudah kalah dari Sekutu. Berkibarnya bendera Jepang tersebut memperlihatkan diplomasi para politisi sipil telah gagal. Maka para pemuda tersebut dengan senjata seadanya berusaha masuk markas tentang Jepang dan mengganti bendera Jepang dengan Merah Putih, dan berhasil (hlm 143-144).

Adegan tersebut menjadi semacam penegasan bahwa upaya diplomasi para pemimpin sipil terbukti tidak efektif dan membuang-buang waktu. Hanya perjuangan bersenjatalah yang lebih efektif dan memperlihatkan hasil.

***

SEBAGAI “film sejarah”, ada banyak hal yang patut untuk diajukan pada ketiga film tersebut. Potret yang terlihat di dalam teks ketiga film tersebut jelas sekali tidak obyektif dalam menampilkan fakta sejarah yang berlangsung pada waktu itu. Bahkan ada kesan mengeliminasi peran sipil dalam perjuangan kemerdekaan. Kebenaran sejarah yang sampai saat ini masih menjadi arena perdebatan, terutama dalam rangka menguji legitimasi militer dalam kehidupan politik.

Di tengah situasi semacam itulah buku Budi Irawanto terbit. Di sinilah buku ini memiliki arti penting. Melalui buku ini penulisnya mencoba menawarkan sebuah perspektif lain, menelusuri beragam teks yang tersembunyi dari teks yang divisualisasikan dan ditampilkan pada layar film.

Budi juga berhasil mengungkap bahwa sebagai salah satu media komunikasi, film tidak lantas begitu saja bebas kepentingan dari kelompok-kelompok tertentu. Ketika sejarah dikonstruksi oleh mereka yang bergelut langsung dalam pergumulan sejarah itu sendiri, maka selalu ada bias kepentingan di dalamnya. Seperti ketiga film yang menjadi obyek penelitian ini.

Satu hal yang boleh disebut sebagai “kelemahan” yang agak mengganggu dalam buku itu adalah nada “sinis” penulisnya terhadap perjuangan bersenjata. Nampaknya Budi Irawanto yakin bahwa perjuangan tanpa kekerasan dapat menjadi salah satu alternatif merebut kemerdekaan.

Saya pikir idealnya “kesinisan” tersebut tidak perlu terlontar. Karena bagaimanapun sejarah telah mencatat bahwa hampir semua negara besar di dunia lahir dan rahim pergolakan. Itu artinya adalah kekerasan, dan dalam kekerasan selalu saja senjata ikut berbicara.

(Titok Hariyanto, mahasiswa Fisipol Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.)

BERSAMA KERETA DAKWAH

Posted in Uncategorized on Mei 10, 2008 by naldolover

BERSAMA KERETA DAKWAH
Sukses berdakwah di Era Keterbukaan
(Adil Abdullah Al- Laili asy-Syuwaikh)

Kehidupan kita di dunia ini pada hakikatnya adalah bak perjalanan seorang musafir, “Bagaikan pengendara yang berteduh di bawah pohon, setelah itu ia pergi lagi dan meninggalkan pohon itu.” (al-Hadits) Dalam perjalanan ini terdapat para pendukung kebaikan yang mengajak manusia kepada kebenaran dan mencegah mereka dari kemungkaran, dan pendukung kebaikan kebatilan yang mesti terus di dakwahi.
Sebagiannya menerima seruan tersebut dan sebagiannya lagi menolak. Mereka yan gmenerima berpotensi menjadi orang-orang pilihan, yan gmampu bersikap zuhud dan berkepribadian rahib di tengah dominasi syahwat da materialis saat ini. Orang-orang ini layak mendapat julukan manusia unggul dan terpercaya yang pantas memikul amanah berat dalam kafilah dakwah. Menjadi orang sebagaimana yang disabdakan Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam,”…bagai seratus ekor unta, hampir saja Anda tidak mendapatkan di antaranya (yang layak) menjadi tunggangan.” (Muttafaq ‘alaihi)
Orang-orang inilah yang dimaksud dalam buku ini. Mereka adalah para musafir dakwah yang sedang melakukan perjalanan menuju Allah untuk mendapatkan surga-Nya. Pegangan hidup mereka adalah Kitab dan Sunnah, surat jalannya iman dan amal dan visanya adalah keikhalsan dalam beramal. Bekal perjalanannya adalah taqwa. Adapun teman-teman seprejalanannya adalah “Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tida pula oleh jual beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari membayar zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.” (an-Nur [24] : 37)
Perjalanan mereka mengendarai kereta dakwah, simbol gerbong para aktivis dakwah. Di dalamnya terdiri dari jenis manusia unggul, safarnya ke arah yang tetap dengan langkah yang mantap, tidak daapt dihalangi oleh berbagai penghalang dan tidak menoleh ke belakang. Serta tidak ada yang membelot dari jalan dakwah kecuali yang berpenyakit.
Buku ini mesti dibaca oleh para aktivis dakwah, juga kaum muslimin pada umumnya yang memiliki kepedulian terhadap kondisi umat saat ini. Selamat membaca!

novel “Dalam Mihrab Cinta”

Posted in Uncategorized on April 5, 2008 by naldolover

Novel Dalam Mihrab Cinta ini terdiri dari tiga cerita:

1. Takbir Cinta Zahrana
Seorang wanita bernama Zahrana, yang dulu menunda-nunda menikah. Dulu pinangan datang silih berganti, tapi dia selalu menolak karena alasan karir dan terlalu memilih. Saat usia sudah lebih 30 tahun, dia pun sadar dan akhirnya mau menikah dengan siapa saja, asal dengan laki-laki yang bisa menjadi imam yang baik untuknya. Sempat melewati berbagai rintangan untuk menuju jenjang pernikahan, terutama sejak dia menolak pinangan seorang dekan kampus yang berakhlak buruk.

Tatkala dia harus rela untuk meninggalkan karir yang telah dijalani selama ini, dan harus menempuh jalan karir yang baru sembali dia berharap dapat menemukan jodohnya, Allah mempertemukan Zahrana dengan seorang penjual kerupuk keliling. Hatinya bergejolak saat itu, ketika harus memutuskan untuk dipersunting oleh penjual kerupuk keliling. Akhirnya mantaplah hatinya dan kebahagiaan yang selama ini dia nantikan hadir. Namun Allah bertakdir lain, di malam hari pernikahannya, Zahrana dibuat shock karena sang calon pendamping hidupnya dikabarkan meninggal dunia tertabrak kereta api.

Di akhir cerita ketika Zahrana merasa tiada lagi harapan hidup, kembali dia harus memutuskan sesuatu yang maha penting bagi hidupnya, untuk menyempurnakan agamanya. Kali ini lamaran datangnya dari seseorang yang tak pernah dia perkirakan sebelumnya, yakni dari seorang mahasiswa bimbingannya. Akankah Zahrana menerima lamaran yang menurut dia ‘gila’ ini? Apa kata dunia?

2. Dalam Mihrab Cinta
Syamsul Hadi yang difitnah mencuri oleh salah satu temannya di pesantren sehingga dia diusir dari pesantren. Keluarganya pun kini mencampakkan Syamsul, hingga dia memutuskan untuk hidup menyendiri mengarungi beratnya kehidupan dunia. Dia sempat benar-benar menjadi seorang pencopet karena alasan perut. Tapi berkat pertolongan Allah, dia kembali ke jalan yang benar dan namanya kembali bersih, karena pencuri sebenarnya ‘Burhan’ sudah ketahuan.

Perjalanan hidupnya untuk memperoleh hidayah Allah dengan menjadi seorang guru ngaji ternyata tidak berhenti di situ. Tawaran yang lebih menarik sebagai seorang ustad pengisi ceramah dalam acara sebuah televisi swasta mampu mengembalikan kepercayaan keluarganya terhadap Syamsul.

Cinta adalah sesuatu yang menakjubkan. Kamu tak perlu mengambilnya pada orang lain. Kamu selalu memilikinya lebih dari cukup untuk diberikan pada orang lain

Note: ini hanya petikan dari sebuah roman yang juga diberi judul yang sama, yang sedang digarap Kang Abik.

3. Mahkota Cinta
Zulhadi, pemuda indonesia yang merantau ke Malaysia. Demi bisa melanjutkan kuliah ke jenjang S2, dia banting tulang bekerja siang dan malam. Sempat jatuh cinta – dengan seorang TKW yang dikenal saat perjalan dari Batam ke Malaysia – sehingga membuat dia tidak semangat bekerja dan kuliah. Tapi berkat teman-teman satu kontrakannya yang begitu peduli padanya, dengan nasehat-nasehat mereka, akhirnya dia bisa keluar dari permasalahan tersebut, dan berhasil menyelesaikan kuliahnya.

Satu hal yang menarik dari ketiga novelet ini, karena kesemua tokoh ceritanya bukanlah tokoh yang “sesempurna” ‘ Fahri dan Aisyah di Ayat Ayat Cinta’ dan ‘Azzam di Ketika Cinta Bertasbih’. Mereka ada orang-orang yang sifat-sifatnya mungkin sangat mudah kita temukan di muka bumi ini.

Well, bagi yang sudah terpesona oleh indahnya Ayat Ayat Cinta, atau juga bagi yang telah mengarungi novelet Dalam Mihrab Cinta ini, silakan berikan komentar

Hello world!

Posted in Uncategorized on Februari 11, 2008 by naldolover

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai