N@R@Y@

TENTANG-MOE (Some One Who I Need)

July 14, 2008
2 Comments

(121106)

Tentang mu, yang tiba-tiba hadir dalam hidupku. Aku tak pernah mengira bisa mengenal, apalagi dekat dengan mu sebelumnya. Tentang mu, yang menyadarkan dan membuka mataku tentang hal-hal yang selama ini tak pernah terbersit dalam pikiranku. Tentang mu yang aneh, dan karena keanehannya itulah membuatku ingin mengenalmu lebih dekat. Tentang mu yang bersahabat dengan sepi, untuk itulah ingin ku ulurkan tangan agar kau tak merasa sendiri. Untuk seseorang yang sering berkutat dengan permasalahan sendiri, dan membuat hati kecilku terpanggil untuk menghiburnya dan selalu ada disisinya. Tentang sosok mu yang biasa, tapi bagiku kau begitu istimewa.

Tentang mu, tentang segala kekurangan mu. Tentang segala kelemahan mu.

Tentang mu, yang membuatku merasa berbeda jika berada di dekatmu. Tentang mu, seorang kawan yang sangat berarti…..

Kawan, aku begini bukan karena semua kelebihan mu… Karena aku melihat banyak kekurangan dalam diri mu. Karena itulah aku selalu memikirkan mu!


Posted in kopi pahit

CAHAYA JINGGA

July 14, 2008
Leave a Comment

Legam… hitam…

Di sudut pandangan culas menerawang

Berkelebat bayangan datang dan hilang

Hitam, putih

Malaikat bersayap berlalu dengan satu kepakan

Meninggalkan seberkas cahaya jingga

Terpancar dari hati yang terluka

Bertetes darah, tercurah

Jatuh dari genggaman

Tak bisa ku gapai, tak juga hilang

Berkas darah, atau kegalauan pikiran

Yang memaksa cahaya menjadi jingga?

By. Laily


Posted in puisi

NYANYIAN PAGI BUAT SEORANG KAWAN

July 14, 2008
Leave a Comment

: Leo

Pagi tak sehijau daun di mataku

Udara tak sebiru langit dalam hembusan nafasku

Karena ada yang berbeda esok.

Aku ingin menahan malam,

Tak ingin meninggalkan ku sendiri menghadapi esok

Aku ingin keharuman mawar yang sama,

Saat purnama menebar cahaya indahnya di ubun-ubun kita

Memantulkan cahaya keperakan pada rambut kita

Dan kau hidangkan senyuman khas

Lalu jadilah malam yang dingin itu hangat

Aku ingin menatap matahari yang sama seperti kemarin,

Seperti matahari yang mengendap dibalik kabut

Saat kita menjelmakan secangkir kopi dipinggiran trotoar

Dan berjuta mata akan memandang penuh tanya ke arah kita

Dan kita hanya akan tertawa

Pagi tak lagi sehijau daun di mataku

Pagi tak akan menghadirkan nyanyian burung yang sama

Namun pagi ini akan tetap menjadi milik kita.

By. Laily LP


Posted in puisi

Oleh Ku, Untuk Mu

June 30, 2008
1 Comment

Keindahan kata, tak mampu memperindah kenangan.

Hanya sebuah pena, tak kan mampu menggoyahkan hati yang bergenggaman erat.

Karena itulah, biar kusimpan kau dalam hati ku saja.


Posted in puisi

Tentang Kebisuan Kita

June 30, 2008
Leave a Comment

Cuma ini yang bisa ku ucap,

karena yang lain aku bisu!

Seperti kau,

yang membisu karena Ku.


Posted in puisi

“Some One Who I Need”

June 20, 2008
1 Comment

Ku Tulis Setahun+2 hari yang lalu:

“Aku tak tahu sejak kapan tembok itu menjulang di hadapan kita.

Begitu kokoh, begitu tinggi.

Sehingga masing-masing diantara kita tidak dapat saling melihat, saling mendengarkan, apalagi untuk sekedar saling mengerti.

Kita tak lagi bisa bicara pada satu meja, dan tak lagi terbiasa minum dari gelas yang sama. Karena kita saling asing.”

Aku tak pernah tahu tentang perasaanmu. Tapi bisa dekat denganmu lagi, bagiku adalah cukup. Aku masih terkenang dengan persahabatan kita yang indah, dulu. Aku berharap suatu saat akan terulang kembali. Tapi, terimakasih karena kau telah mencoba melelehkan kebekuan diantara kita. Maaf, aku tidak memulainya terlebih dahulu. Karena aku bingung harus memulai dari mana. Sekali lagi, terima kasih.


Posted in kopi pahit

Putri Biru Vs Putri Dempal

June 20, 2008
4 Comments

Tiba-tiba pikiran liar itu muncul begitu saja. Ku tulis sms dan ku kirim ke beberapa kawanku (Tiyang Alit dan Kanteen). “Kawan, kalian dimana? Aku ingin melakukan suatu kegilaan. Maukah kalian menemaniku dalam kegilaan ini? Kita kumpul, dan baca puisi bergantian. Kita jadikan malam ini sebagai malam sastra bagi kita. Ku tunggu kalian di biologi.” Berbagai respon unik muncul di Hpku:

“Mbak anak-anak mau ke FSS, sampeyan gak ikut ta?”

“Mbak, sampeyan gak papa ta?”

“Lel, kon gendeng ta?”

“Menyedihkan.”

Tanpa ku pedulikan respon teman-teman, ku tancap gas si moti, dan meluncur ke gedung Biologi bersama seorang kawanku, xodox. Dari kostan sudah kupersiapkan segala hal yang mendukung kegilaanku, lilin; kain hitam; gunting; botol aqua; isolasi; korek api; buku kumpulan puisi; dan kue seharga Rp. 3000,- yang ku beli disakinah. Ya, ku akui, malam itu aku memang gila! Akhir-akhir ini kejiwaanku agak terganggu (red: bukan arti sebenarnya) (^_^). Mungkin ini penyakit bawaan TA…….. tapi tidak menutup kemungknan karena hatiku sedang berbahagia !!!

Sesampainya di biologi, kampus sepi, dan agak temaram karena beberapa lampu sengaja tidak dinyalakan. Di plasa duduk seorang kawan, Tauco, anak angkatan ’07 yang aku kenal di BioArt. Suasana begitu romantis dan melankolis. Angin sejuk… Dan agak gerimis. Segera ku gunakan hasrat seniku untuk membuat sebuah panggung kecil dan sederhana. Dengan prinsip “Trimo ing pandum”, Kugunakan properti seadanya dan ku adakan properti yang berguna. Dengan berbagai jurus, sret.. sret… Ciah… Haiya….. teretttttt… panggung pun jadi…

Tapi aku melupakan sesuatu….

Gerimis, membuatku pesimis…. Malam minggu yang menyedihkan! Benar kata temanku. Aku terlalu berani bersepekulasi dengan perasaan orang lain, kawan-kawanku maksudnya. Teman-temanku belum siap menerima jiwa spontanitasku yang sangat luar biasa ini. Dan benar, sampai jam 21.00 (sekitar 2 jam) tidak ada seorangpun kawanku yang datang. Tergelitik jariku untuk menggoda mereka sekali lagi, “Kawan, aku ingin menguji sesuatu kepada kalian. Apakah kalian masih mengingatnya kawan? Aku tunggu di biologi.” Cikruk… cikruk…. cikruk…. Hp ku berbunyi, “Iya mbak, habis ini kita kesana.” Senyum kemenangan tersungging di bibirku. Ha.. ha.. Ha.. Akhirnya, mereka mengikuti kemauanku.

Karena kesepian, ku undang juga seorang kawan dari BioArt, Mas Agus. Kita bertiga memulai acara dengan tema ketidak jelasan ini. Aku, Xodox, dan Mas Agus berpuisi bergantian…. Ada yang beraliran Romantis, Anarkis, Bengis, dan PDis. Apa pun itu yang penting emosiku tertumpahkan pada puisi-puisi tsb. Mendengar suara kita yang indah, tauco yang dari tadi “Mendelengi” Laptop tergoda masuk dalam kegilaan kita. Dan… ku sahkan saja dia sebagai orang gila, seperti kita.

jam sepuluh…. Kawan-kawan belum datang.

jam sebelas…. Masih belum datang. Padahal tenggorokan sudah kering. Air ludah telah tumpah. hampir putus asa….

Jam setengah duabelas…. Akhirnya… datang juga…….

6 orang kawanku datang, lengkap dengan target operasi “Rinto”. Ical, suketi, febri, mas wignyo dan icha datang membawakanku sebungkus es teh dan sekotak “terang bulan”, sedap… Kata orang bijak, “Kesabaran memang berbuah manis… semanis “terang bulan” (^_^).

Tapi… Ow.. Ow… “Someone who I need” tidak datang. Padahal aku sangat ingin dia datang. Maklum, setelah sekian lama saling diam, baru sehari kemarin kita berusaha saling membuka hati. Meskipun hanya lewat sms yang “gak penting”. Mungkin aku terlalu berharap banyak untuk bisa dekat dengan dia seperti dulu dan menghilangkan rasa kaku di antara kita. Tiba-tiba aku dicekam perasaan aneh… perasaan yang sampai saat ini tidak dapat ku kelola dengan baik. Perasaan ini mendorongku menanyakan tentang dia ke kawanku.

“Mas, si…. mana?”

“Mau wis tak ajak mrene lel, tapi mboh, moro-moro dia ngilang. Kita kehilangan jejak. Mungkin dia keweden, soale mau aku ngomong nek awakmu arep nembak dekne.”

“Ha…. Ha… Yo opo… jarene dekne awakmu arep bunuh diri… ha..ha…ha…”

teman-temanku memang berlebihan. Gak ada romantis-romantisnya sedikit pun! Tidak sensitif dan tidak peka. Mereka berpikiran macem-macem kepada niat baikku yang tulus, suci dan mulia ini. Yo opo maneh… Kehendak nurani memang gak bisa dipaksakan. Iya kan?

Tiba-tiba Hp temenku berbunyi. Dan ternyata yang ada dibalik telepon itu adalah “Someone who I need”. Dia kayaknya penasaran dan bertanya tentang apa yang terjadi di dunia kegilaanku. Ha… Aku merasa sena…ng sekali, karena aku merasa masih diperhatikan. Kemudian dia sms aku dan temanku, sekali lagi menanyakan apa yang sedang terjadi di biologi. Dan oleh temanku dibalas…. tapi sayang, Hp temenku memiliki ketidakcocokan dengan nomor flexi. Alhasil sms kawanku tidak terbaca di hpnya. Lalu dia membalas sms yang tidak terbaca tersebut dengan:

” Wah… Pasti masalahnya gawat ya? Lely arep bunuh diri ta? waduh… cukup ada satu PUTRI BIRU saja! Jangan sampai ada PUTRI GEMPAL!”

Oh shittt… Lagi-lagi dia menyebutku Gempal???!!!! Sebel…..

Dia memang menyebalkan…..

Tapi bagaimanapun dia, aku tetap suka. (^_^).


SAJAK MALAM

May 29, 2008
1 Comment

Malam tak lagi hembuskan nyawa

Ketika Izro’il menghunus pedangnya

dan merobek jantung kegetiran malam

yang tak dapat ditembus oleh kebenaran logika

tak ada senyuman,

tak ada nafas,

bahkan tak kan ada tangis.

Laily_lp


Posted in puisi

About author

Aku yang dingin, tak bisa menyapamu dalam kebekuan.

Search

Navigation

Categories:

Links:

Archives:

Feeds

Design a site like this with WordPress.com
Get started