Singkat cerita, satu tahun terakhir ini heboh pisan. Enam bulan pertama penuh dengan masa transisi (termasuk liburan sejenak dan pulang kampuang *nyengir kuda*). Enam bulan setelahnya, tiba2 ritme hidup saya dikembalikan pada rutinitas yang.. lebih sehat dari biasanya. Yaa.. sudah hitungan tahun, jam tidur-nya kacau balau, jadi terpaksa normal lagi (^ ^). Tapi senang. Saya yakin rutinitas baru ini akan lebih sehat dari (tahun-tahun) sebelumnya. Aamiinn..
Pencapaian paling heboh dalam 6 bulan terakhir ini adalah..
Akhirnya saya punya SIM Jepang, sodara-sodaraaa…
Believe me or not, belajarnya heboh!!! Padahal cuma SIM skuter (<50 cc) doang, cuma harus melewati ujian tertulis plus kursus singkat (2 jam). Tapi asa heboh. Graw, grawww..
Tapi puas abis. Jadi ngerti banyak hal (seus!!), banyak ketawa2 sendiri juga (waktu lagi belajar –> karena nemu topik2 yang “Jepang banget”), dan yang pasti.. (sempet) stress banget!!!
Dari nyari bahan/materinya aja udah heboh. Jaman dulu banget (4 tahun yg lalu kali ya), saya pernah berniat ambil SIM skuter juga. Udah sempet iseng nyoba ujian (sekedar pengen tahu, prosedur dan tempatnya di mana, mumpung waktu itu masih punya temen deket untuk ditanya2). Waktu itu saya juga punya buku tentang peraturan lalu lintas, namanya Rules of the Road, keluaran Japan Automobile Federation (JAF), dan kumpulan contoh2 soal ujian SIM (fotokopian dapet dari temen2). Entah bagaimana, si Rules of the Road ini hilang ketika saya berniat mencoba ambil SIM lagi. Mungkin sempet saya pinjamkan ke teman. Entahlah.
Akhirnya saya pergi ke JAF kota saya lagi, dibela2in naik sepeda. Ternyata JAF-nya sedang tutup, dan kata mas2 yang ga sengaja ketemu di sana, di JAF udah ga jual buku Rules of the Road lagi. Hiyaaa. Heboh. Heboh. Panik.
Tapi satu hal yang saya syukuri. Seringkali, ketika satu pintu ditutup, pintu yang lain dibuka (dan bisa jadi, adalah pintu yang lebih baik dari sebelumnya). Berawal dari frustashion, saya minta Kaigiman untuk googling buku teks materi ujian sim berbahasa inggris. Ternyata ketemu!
Dan kualitasnya luar biasa. Saya sampai jawdrop dibuatnya.
*benerin rahang dulu*
Buku materinya bagus, runut, terstruktur, graww.. seneng banget nemunya. (Alhamdulillaahh…) Lebih seneng lagi waktu nemu bundel kumpulan soal2 berikut jawabannya. Harganya lumayan sih 😀 tapi worth it banget banget. Si buku dan bundel ini ya, walaupun isinya dalam bahasa inggris, tapi kalau googling-nya ga pake bahasa jepang, ga nemu deh! Ajaib. Perhatiin aja situsnya, kanji2 keriting semua begono.
Setelah menghabiskan hampir 2 bulan untuk baca buku teks dari awal sampai akhir, dan mengerjakan seluruh kumpulan2 soal2nya (ampe butek, wkwkwkwk.. berasa brainwash).. akhirnya saya memberanikan diri pergi ke unten menkyo sentaa (Pusat SIM, alias tempat ujian). –> itupun bukan murni karena berani, tapi karena peer pressure :p saya sengaja bilang teman2 dan ke sensei kalau mau ambil SIM, jadi asa tengsin tiap kali bilang mau ambil tapi dicancel terus 😀
Di tempat ambil SIM, tentu saja heboh. Entah bagaimana saya sempat disangka orang Jepang, Juuminhyou (semacam kartu keluarga/kependudukan) saya ditolak karena ga mencantumkan informasi tertentu. Setelah saya tanya detail kenapa saya disuruh pulang (yang bener aje masbro, udah jauh2 nih), ternyata sebabnya cuma karena salah paham. Aheyyy…
Kemudian saya dipersilahkan menuju tahap berikutnya, disuruh mengisi kuesioner berbahasa Jepang. Ee too desu neee.. 😀
Kayanya dulu (4 tahun yg lalu), saya sempet sampai loket ini -deket bahasa Jepang nyaris nol-, ga inget harus ngisi kuesioner bahasa Jepang 
Setelah cengo 2 menit, akhirnya saya balik lagi ke loket, minta kuesioner bahasa Inggris. Bukan kenapa2, kalau buat ngisi kuesioner sih mungkin masih bisa tebak2 buah manggis, tapi pegimane klo ujian SIM-nya juga dikasih yg bahasa Jepang?? Yang bahasa inggris aja udah susah. Nehi nehi!!
Setelah saya request kuesioner bahasa inggris, baru deh keluar kertas terjemahannya. Wahh..
Jadi terharu. Ternyata (sepertinya) saya disangka (cukup) bisa berbahasa Jepang, jadi sejak tadi perlakuannya beda dengan ketika saya masih ah-uh-ah-uh empat tahun sebelumnya.
Belajar dari pengalaman, setelah itu, saya sengaja me-lebay-kan ketidakbisaan saya berbahasa Jepang :p Ternyata malah urusannya jadi lancar 😀
Kehebohan selanjutnya baru terjadi ketika pengumuman ujian tertulis SIM. Supaya bisa lulus ujian tertulis ini, skor saya harus melewati threshold 90 point (out of 100, which is, wueduun). Jumlah soal ada 48, terdiri dari 46 soal tipe A (dengan bobot skor 2/soal) dan 2 soal tipe B (dengan bobot skor 4/soal). Ini berarti kan saya cuma boleh salah maksimal 5 soal A, atau 3 soal (1A+2B), dari jumlah total 48 soal.
Empat tahun sebelumnya, ketika saya mencoba ujian tertulis ini (ketika saya belum khatam membaca Rules of the Road! –>> berani2nya!!), skor saya 84 atau 86 gitu. Beda lumayan tipis dari threshold, huhu. Gemes. Karena itulah saya keukeuh mengkhatamkan buku teks yang baru ini, walaupun buku teks yang baru ini bahkan jauh lebih tebal dari Rules of the Road. Pokoknya “say no to miris”.
Merasa persiapan saya sudah lumayan (walaupun belum sempurna), saya melangkah cukup pede masuk ruang ujian. Ketika soal dibagikan, 5 soal pertama langsung membuat saya keringat dingin. Ternyata buku yang saya pelajari, fokusnya untuk ujian SIM mobil, sedangkan semua soal di situ selalu melihat dari sudut pandang roda dua. Tertekan! Pertanyaan yang paling saya ingat, yang membuat saya merasa dodol tingkat dewa: (kurang lebih)
“Pedal rem motor terletak pada ujung jari kaki atau tumit?”
Denggg…. T___T saya kan rencananya mau naik skuter otomatis (remnya di tangan, persis kaya rem sepeda), meneketehe tentang pedal rem motor. Gyaaa.
Selesai ujian, saya galau bombai. Rasanya pengen pulaaang :p
Tapi akhirnya saya kuat2kan untuk melihat hasilnya. .. dan ternyata, nomor saya ga masuk daftar yang lulus.. saya ga lulus (lagi) T___T
Ya udahlah, kita pulang aja!! Saya kuatkan hati menuju loket “kegagalan” untuk mengambil berkas2 yang diperlukan. Dalam hati, saya sudah menyiapkan beribu kata penghibur. “Steve Jobs dan Thomas Alva Edison juga sempat jatuh bangun, pii. Tapi mereka ga semudah itu menyerah. Kamu harus kuatt!!”
Keajaiban pun terjadi. Sesampainya di “loket kegagalan”, di gedung sebelah, nama saya di-halo2. Narunarupii-san dari Indonesia, goukaku, lulus!! Silahkan ke gedung sebelah.
Huh? Ga salah denger nih? Tadi nomor saya ga masuk daftar lulus lho.
Setelah saya maju ke depan loket untuk konfirmasi, ternyata saya bener2 lulus! Heboh! Saya langsung menuju gedung sebelah. Ternyata orang2 gedung sebelah sebel sama saya, karena (disangka) saya telat datang. Ampun dehh… Setelah diburu2 sana sini. Tiba2 saya sudah di depan tempat foto =___= Yaaa, gimana dong.. Gak sempet dandan, sodara-sodaraaaa… T___T Resmi deh foto SIM saya ga ada yang beres (yang dulu di SIM A di Indonesia juga gitu =___=)
Setelah lulus, saya masih harus ikut kursus singkat mengendarai skuter dari Menkyo Sentaa. Rencana-nya sebelum kursus singkat ini, saya mau review ulang, terminologi2 yang mungkin muncul (dalam bahasa Jepang). Tapi badan rasanya sudah lemas sekali. Mata panda (hampir ga tidur), ngantuk banget, udah capek banget.
Ya sudahlah. Malam sebelumnya saya sudah belajar setengah terminologi (dari index buku). Setengahnya lagi, saya relakan.. zzz. Untung instruktur kursus singkatnya baik bangeeet 🙂 setiap kali saya dodol ga ngerti, dia mencoba menjelaskan dalam bahasa Jepang yang sederhana. Kursusnya pun berguna banget, saya jadi (sedikit) lebih pede setelahnya. 🙂
Setelah agak santai, saya renungkan lagi mengapa nomor saya tidak masuk dalam daftar nomor peserta yang lulus ujian. Ternyata nomor yang saya ingat2 itu nomor registrasi, bukan nomor ujian. Pantas saja ketika diumumkan, nomor saya tidak ada …. (ternyata salah ingat nomor)…