Kalau dari sudut pandang saya sebagai seorang guru, masalah kurangnya interaksi sosial siswa berkebutuhan khusus di kelas inklusif ini terasa sangat mendesak sekaligus menantang. Di kelas inklusif, siswa berkebutuhan khusus memang sudah duduk bersama teman-teman reguler, tetapi kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa interaksi sosial mereka masih sangat terbatas. Sering kali, siswa berkebutuhan khusus hanya menjadi “penonton” dalam kegiatan kelompok. Mereka hadir secara fisik, tetapi tidak benar-benar terlibat secara sosial maupun emosional. Misalnya, ketika ada tugas kelompok, peran yang diberikan biasanya sangat sederhana atau bahkan diabaikan sama sekali. Hal ini membuat siswa merasa tidak dianggap penting dan akhirnya memilih diam.
Kondisi ini juga diperparah oleh kurangnya pemahaman siswa reguler tentang cara berinteraksi dengan teman yang memiliki kebutuhan khusus. Sebagian memang menunjukkan sikap ramah, namun ada juga yang bingung, ragu, atau bahkan menjauhi. Akibatnya, jarak sosial tetap terbentuk, dan inklusi hanya terjadi di permukaan.
Dari sisi guru, fokus pembelajaran lebih banyak diarahkan pada pencapaian akademik. Padahal, keberhasilan inklusi juga sangat ditentukan oleh keterlibatan sosial. Sayangnya, belum banyak strategi yang secara konsisten diterapkan untuk memastikan setiap anak, termasuk yang berkebutuhan khusus, bisa berpartisipasi aktif dalam dinamika kelas.
Saya melihat masalah ini penting diteliti karena interaksi sosial bukan hanya sekadar “tambahan,” tetapi bagian inti dari pembelajaran. Anak-anak belajar banyak hal bukan hanya dari guru, melainkan juga dari hubungan dengan teman sebaya: bagaimana bekerja sama, berkomunikasi, menyelesaikan konflik, dan membangun rasa percaya diri. Jika interaksi sosial siswa berkebutuhan khusus dibiarkan terbatas, mereka kehilangan kesempatan berharga untuk berkembang secara holistik.
Saya memandang bahwa inklusi sejati bukan hanya tentang menempatkan anak berkebutuhan khusus di ruang yang sama dengan siswa reguler, melainkan tentang memastikan mereka benar-benar diterima sebagai bagian dari komunitas kelas. Ketika saya melihat ada anak ABK yang duduk menyendiri, jarang diajak ngobrol, atau hanya diberi peran kecil dalam kelompok, saya merasa inklusi itu belum tercapai. Dari perspektif saya, ini bukan hanya persoalan sosial, melainkan juga berdampak langsung pada perkembangan emosional, motivasi belajar, bahkan identitas diri anak.
Saya juga melihat bahwa guru memiliki peran penting dalam membangun jembatan interaksi ini. Namun, sering kali kita, para guru, terlalu fokus pada target akademik sehingga aspek sosial terabaikan. Padahal, pengalaman belajar paling kuat justru sering lahir dari interaksi dengan teman sebaya, belajar kerja sama, belajar empati, hingga belajar menerima perbedaan.
Jadi, menurut saya, penelitian tentang topik ini sangat penting karena hasilnya bisa membantu menemukan cara praktis untuk menciptakan suasana kelas yang lebih ramah, adil, dan benar-benar inklusif. Bagi saya pribadi, penelitian ini juga sekaligus menjadi refleksi: apakah saya sudah cukup memberi ruang bagi setiap anak untuk tumbuh bersama, atau masih tanpa sadar membiarkan ada yang tertinggal?
