Kurangnya Interaksi Sosial Siswa Berkebutuhan Khusus di Kelas Inklusif.

Kalau dari sudut pandang saya sebagai seorang guru, masalah kurangnya interaksi sosial siswa berkebutuhan khusus di kelas inklusif ini terasa sangat mendesak sekaligus menantang. Di kelas inklusif, siswa berkebutuhan khusus memang sudah duduk bersama teman-teman reguler, tetapi kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa interaksi sosial mereka masih sangat terbatas. Sering kali, siswa berkebutuhan khusus hanya menjadi “penonton” dalam kegiatan kelompok. Mereka hadir secara fisik, tetapi tidak benar-benar terlibat secara sosial maupun emosional. Misalnya, ketika ada tugas kelompok, peran yang diberikan biasanya sangat sederhana atau bahkan diabaikan sama sekali. Hal ini membuat siswa merasa tidak dianggap penting dan akhirnya memilih diam.

Kondisi ini juga diperparah oleh kurangnya pemahaman siswa reguler tentang cara berinteraksi dengan teman yang memiliki kebutuhan khusus. Sebagian memang menunjukkan sikap ramah, namun ada juga yang bingung, ragu, atau bahkan menjauhi. Akibatnya, jarak sosial tetap terbentuk, dan inklusi hanya terjadi di permukaan.

Dari sisi guru, fokus pembelajaran lebih banyak diarahkan pada pencapaian akademik. Padahal, keberhasilan inklusi juga sangat ditentukan oleh keterlibatan sosial. Sayangnya, belum banyak strategi yang secara konsisten diterapkan untuk memastikan setiap anak, termasuk yang berkebutuhan khusus, bisa berpartisipasi aktif dalam dinamika kelas.

Saya melihat masalah ini penting diteliti karena interaksi sosial bukan hanya sekadar “tambahan,” tetapi bagian inti dari pembelajaran. Anak-anak belajar banyak hal bukan hanya dari guru, melainkan juga dari hubungan dengan teman sebaya: bagaimana bekerja sama, berkomunikasi, menyelesaikan konflik, dan membangun rasa percaya diri. Jika interaksi sosial siswa berkebutuhan khusus dibiarkan terbatas, mereka kehilangan kesempatan berharga untuk berkembang secara holistik.

Saya memandang bahwa inklusi sejati bukan hanya tentang menempatkan anak berkebutuhan khusus di ruang yang sama dengan siswa reguler, melainkan tentang memastikan mereka benar-benar diterima sebagai bagian dari komunitas kelas. Ketika saya melihat ada anak ABK yang duduk menyendiri, jarang diajak ngobrol, atau hanya diberi peran kecil dalam kelompok, saya merasa inklusi itu belum tercapai. Dari perspektif saya, ini bukan hanya persoalan sosial, melainkan juga berdampak langsung pada perkembangan emosional, motivasi belajar, bahkan identitas diri anak.

Saya juga melihat bahwa guru memiliki peran penting dalam membangun jembatan interaksi ini. Namun, sering kali kita, para guru, terlalu fokus pada target akademik sehingga aspek sosial terabaikan. Padahal, pengalaman belajar paling kuat justru sering lahir dari interaksi dengan teman sebaya, belajar kerja sama, belajar empati, hingga belajar menerima perbedaan.

Jadi, menurut saya, penelitian tentang topik ini sangat penting karena hasilnya bisa membantu menemukan cara praktis untuk menciptakan suasana kelas yang lebih ramah, adil, dan benar-benar inklusif. Bagi saya pribadi, penelitian ini juga sekaligus menjadi refleksi: apakah saya sudah cukup memberi ruang bagi setiap anak untuk tumbuh bersama, atau masih tanpa sadar membiarkan ada yang tertinggal?

Komitmenku terhadap Kejujuran Akademik

1. Apa yang Anda pelajari dari buku Chris A. Mack pada bagian plagiarism?
Dari penjelasan Chris A. Mack, saya mempelajari bahwa plagiarisme merupakan bentuk pencurian intelektual yang tidak hanya mencakup penyalinan kata-kata, tetapi juga ide, gambar, hingga praktik duplicate publication atau self-plagiarism. Mack menegaskan bahwa, “Plagiarism is generally defined as taking another’s ideas, images, or words and representing them as one’s own. It is intellectual theft”. Hal ini menunjukkan bahwa plagiarisme bukan hanya persoalan teknis penulisan, tetapi juga persoalan etika akademik.

2. Mengapa plagiarisme berbahaya dalam dunia akademik?
Plagiarisme berbahaya karena dapat merusak integritas ilmiah. Mack menjelaskan bahwa bahkan duplikasi publikasi dapat menipu pembaca dan merugikan komunitas akademik, karena “the harm here is to the journal and its readers, who waste their time reviewing and reading old work, thinking that there is something new to learn”. Dengan demikian, plagiarisme tidak hanya merugikan penulis asli, tetapi juga memperlambat kemajuan ilmu pengetahuan serta mencoreng reputasi penulis maupun institusinya.

3. Langkah-langkah pribadi apa yang akan Anda ambil untuk mencegah plagiarisme, baik bagi diri Anda sendiri maupun bagi siswa Anda?
Untuk mencegah plagiarisme pada diri saya, saya akan selalu menuliskan sitasi dengan benar, melakukan parafrasa secara substansial, serta memanfaatkan perangkat lunak pendeteksi kesamaan teks. Mack mengingatkan bahwa “slight changes to a word or two of a copied sentence are not the same as rewriting in your own words”. sehingga saya akan memastikan benar-benar menulis dengan kata-kata saya sendiri.
Bagi siswa, saya akan memberikan pemahaman tentang pentingnya orisinalitas, melatih keterampilan parafrasa dan kutipan, serta menyajikan contoh nyata dampak plagiarisme. Hal ini diharapkan dapat membangun kesadaran akademik mereka sejak dini untuk menghindari plagiarisme.

Sugar Glider Sebagai Hewan Peliharaan: Pro dan Kontra

Sugar glider, atau dikenal juga sebagai tupai terbang, merupakan salah satu pilihan hewan peliharaan yang cukup banyak diminati. Dengan ukuran tubuh yang kecil, tampilan yang menggemaskan, dan kemampuan meluncur dari satu tempat ke tempat lainnya, sugar glider menarik perhatian banyak orang. Namun, sebelum memutuskan untuk memelihara hewan ini, penting untuk memahami pro dan kontra yang datang bersamanya.

Kelebihan Memelihara Sugar Glider

  1. Ukuran yang Kompak: Salah satu daya tarik utama sugar glider adalah ukuran tubuhnya yang kecil. Mereka hanya memiliki panjang sekitar 15-20 cm dan berat sekitar 115-160 gram, menjadikan mereka ideal untuk mereka yang tidak memiliki ruang besar di rumah.
  2. Interaktif dan Sosial: Sugar glider dikenal sebagai hewan yang sangat sosial dan dapat membentuk ikatan yang kuat dengan pemiliknya. Mereka menikmati interaksi dan sering kali menunjukkan perilaku menggemaskan, seperti memanjat, melompat, dan bahkan meluncur di sekitar rumah. Ikatan ini dapat memberikan pengalaman yang menyenangkan dan memuaskan bagi pemilik.
  3. Aktivitas yang Menarik: Hewan ini adalah makhluk malam (nokturnal) yang aktif, yang berarti mereka sering terjaga dan ingin bermain saat pemiliknya pulang kerja atau sekolah. Ini bisa menjadi keuntungan bagi mereka yang mencari hewan peliharaan yang aktif saat malam hari dan tidak memerlukan perhatian di siang hari.
  4. Perawatan yang Tidak Terlalu Rumit: Meskipun membutuhkan perhatian dan lingkungan yang tepat, sugar glider tidak memerlukan perawatan harian yang rumit seperti anjing atau kucing. Mereka juga cenderung tidak mengotori rumah, karena biasanya buang air di dalam kandangnya.

Kekurangan Memelihara Sugar Glider

  1. Kebutuhan Sosial yang Tinggi: Salah satu tantangan terbesar dalam memelihara sugar glider adalah kebutuhan sosial mereka yang tinggi. Mereka adalah hewan sosial yang hidup berkelompok di alam liar dan bisa menjadi sangat kesepian jika dipelihara sendirian. Kesepian bisa menyebabkan stres dan perilaku destruktif. Oleh karena itu, disarankan untuk memelihara setidaknya dua sugar glider agar mereka bisa saling menemani.
  2. Aktivitas Malam Hari: Meskipun aktivitas malam bisa menarik bagi sebagian orang, ini juga bisa menjadi gangguan. Sugar glider bisa sangat berisik pada malam hari, dengan suara mengunyah, melompat, dan bersosialisasi dengan sesamanya. Hal ini mungkin mengganggu tidur bagi pemilik yang lebih sensitif terhadap suara.
  3. Kebutuhan Diet yang Spesifik: Sugar glider memerlukan diet yang bervariasi dan seimbang, termasuk buah-buahan, serangga, dan protein lain. Menyediakan diet yang tepat bisa menjadi tantangan, terutama bagi mereka yang tidak terbiasa dengan kebutuhan nutrisi khusus hewan eksotis.
  4. Kandang dan Lingkungan yang Sesuai: Kandang sugar glider harus besar dan dilengkapi dengan banyak mainan dan tempat bermain untuk menjaga mereka tetap terstimulasi. Ini bisa membutuhkan biaya dan ruang tambahan yang mungkin tidak dimiliki semua orang.
  5. Komitmen Waktu dan Usia Panjang: Sugar glider dapat hidup hingga 12-15 tahun dengan perawatan yang baik, yang berarti memelihara hewan ini adalah komitmen jangka panjang. Pemilik harus siap untuk merawat mereka selama bertahun-tahun dan menyediakan waktu untuk interaksi harian.

Memelihara sugar glider dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan, terutama bagi mereka yang mencari hewan peliharaan kecil yang sosial dan aktif. Namun, penting untuk mempertimbangkan kebutuhan sosial mereka, diet khusus, dan komitmen jangka panjang sebelum memutuskan untuk memeliharanya. Dengan memahami pro dan kontra ini, calon pemilik dapat membuat keputusan yang tepat untuk memastikan kesejahteraan sugar glider dan kebahagiaan mereka sendiri.

Jurnal 8. Going From This Course to a New Mathematical Future

Apa ide-ide utama yang telah anda pelajari dan anda rencanakan untuk digunakan dalam pekerjaan/pola asuh anda?

Hal yang menarik di week 8 ini dan akan saya coba terapkan dalam pekerjaan saya sebagai pengajar atau dalam pola asuh anak nantinya, saya berencana untuk mengadopsi pendekatan inquiry-based untuk mengajarkan matematika. Saya akan mengintegrasikan konsep dan prosedur matematika dalam konteks masalah nyata, menggunakan teknologi dan alat bantu visual untuk memfasilitasi pemahaman yang lebih mendalam. Selain itu, saya akan mendorong kolaborasi dan diskusi di kelas untuk meningkatkan kreativitas dan pemahaman mendalam. Pengembangan keterampilan komunikasi juga akan menjadi fokus utama saya, dengan mengajak mereka menjelaskan pemikirannya secara lisan dan tertulis. Saya juga akan mengaitkan konsep matematika dengan aplikasi dunia nyata untuk membuat pembelajaran lebih menarik dan relevan nantinya. Dengan menerapkan strategi-strategi ini, saya berharap dapat membantu pemahaman yang lebih mendalam untuk mereka dalam mengembangkan keterampilan berpikir kritis, pemecahan masalah, dan aplikasi nyata dari konsep matematika yang mereka pelajari.

Lesson 7. Menghargai aljabar dalam pengajaran.

Pada Lesson 7 ini saya menemukan beberapa ide utama yang sangat berharga dan rencananya akan saya terapkan dalam pekerjaan serta pengasuhan saya. Pertama, pendekatan berpikir visible (Visible Thinking) sangat menarik bagi saya. Dimana pendekatan tersebut bertujuan untuk membuat proses berpikir siswa mudah dideskripsikan dan dapat dievaluasi. Dengan menggunakan rutinitas berpikir seperti “Claim, Support, Question,” saya bisa membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan analitis. Hal ini akan sangat berguna untuk membantu siswa mengeksplorasi alasan di balik konsep-konsep aljabar, bukan sekadar menghafal rumus saja.

Kedua, perbedaan antara pendekatan prosedural dan struktural dalam aljabar sangat memberikan inspirasi bagi saya. Dimana pendekatan prosedural berfokus pada langkah-langkah spesifik untuk menyelesaikan masalah, sementara pendekatan struktural mendorong siswa untuk memahami pola dan hubungan antara konsep-konsep. Kedepannya saya akan mencoba memprioritaskan pendekatan struktural, saya berharap dengan menerapkan hal tersebut dapat membantu siswa mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam dan fleksibel terkait aljabar.

Terakhir, hal yang menginspirasi saya adalah terkait menulis jurnal refleksi dan berdiskusi dengan rekan-rekan, dimana menurut saya merupakan metode yang efektif untuk memperdalam pemahaman dan mengembangkan keterampilan komunikasi. Saya berencana untuk mengadopsi strategi ini di kelas saya, harapannya dapat membuat siswa untuk saling memberikan umpan balik dan mengeksplorasi berbagai perspektif dalam memahami aljabar. Dengan menerapkan ide-ide tersebut, saya berharap dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih interaktif, kritis, dan mendalam. Hal ini akan membantu siswa tidak hanya memahami aljabar tetapi juga mengapresiasi keunikan dan pengaplikasiannya dalam kehidupan sehari-hari.