Minggu lalu, saya membantu Bapak saya mengurus perpanjangan SIM A, yang Alhamdulillah bisa dilakukan full online, bermodal hape, dari rumah saja, Yeay. Kebetulan suami saya juga sudah melakukan jadi bisa meng-guide saya pelan-pelan, sambil sesekali saya omelin karena keliatannya ribet. Namun suami selalu menanggapi dengan sabar, “Nggak ribet sama sekali, tinggal ikuti prosedur, gampang kok Bun.. Ayo sampai mana?” Masalahnya karena saya menguruskan SIM Bapak saya jadi memang agak ribet karena terkadang perlu kehadiran untuk konfirmasi beberapa data, sediki-sedikit scan wajah Bapak, dkk, sementara Bapak saya ke sana kemari. Wkwkwk. Tapi aslinya kalau sabar dan teliti apalagi mengurus sendiri, itu cukup simple dan cepat. Tiba-tiba sudah datang aja itu pak POS antarkan hasil jadi SIM Bapak dan suami saya, gak sampai semingu.
So, kira-kira begini langkahnya:
Download aplikasi Digital Korlantas Polri untuk proses pembuatan SIM (A/C), aplikasi e-Rikkes untuk test kesehatan, serta aplikasi ePPSI SIM untuk test psikologi. Tenang saja, seluruh aplikasi tersebut sudah terintegrasi, jadi begitu dapat hasil tes kesehatan dan psikologi, otomatis terdaftar di aplikasi digital korlantas. Masing-masing aplikasi memerlukan login/verifikasi. Jika ingin lebih cepat terutama saat membantu menguruskan orang lain, siapkan list: email, sandi, nomor hape, nomor SIM, dan KTP yang sewaktu-waktu tinggal copy paste pada 3 aplikasi tersebut. Kalau bisa gunakan 1 hape dengan nomor dan email yang didaftarkan agar memudahkan pengiriman kode OTP dan proses verifikasi.
Digitalisasi SIM pada apps digital korlantas setelah selesai semua proses (kiri) dan tahapan proses pembuatan SIM (kanan)
Melakukan pendaftaran pada aplikasi Digital Korlantas hingga terverifikasi semua dokumen. Selengkapnya bisa dilihat di sini udah komplet ada QnA dan urutan. Jadi yang akan saya tuliskan hanya rangkuman dan tips ya. Siapkan KTP asli, SIM lama yg akan diperpanjang, scan ttd/foto tdt di atas kertas putih, dan pas foto background warna biru. Kalau ga punya foto dengan background warna tersebut, bisa edit sendiri pakai aplikasi remove backgound.
Pada apps Digital Korlantas POLRI, verifikasi harus centang biru semua baru lanjut.
Tes kesehatan dengan aplikasi e-Rikkes dapat dilakukan secara gratis dan cukup mudah/cepat (setahu saya kalau offline berbayar). Di awali dengan scan wajah, lalu mejawab beberapa pertanyaan terkait kesehatan. Jika tidak ingin datang ke rumah sakit yg ditunjuk, pilih Jakarta Pusat dan Pusdok Polri. Karena gratis, maka langsung muncul tulisan Sudah Bayar ketika sudah melakukan tes dan memenuhi syarat.
Pilihan faskes agar tidak perlu datang (kiri) dan hasil pemeriksaan (kanan).
Test psikologi dengan aplikasi ePPSI dikenakan biaya sekitar 27.500 (kalau tidak salah offline 50rb) . Sediakan waktu kurang lebih satu jam untuk konsentrasi menjawab pertanyaan, di mana masing-masing part dibatasi waktu. Saya kemaren tidak sampai 1 jam, tapi lumayan pegal leher dan lelah mata karena banyak sekali angka-angka. Ada 2 macam test, yg pertama test tentang kepribadian, pilih yg paling cocok dengan kepribadian masing-masing. Yang kedua test memilih angka, total ada 250 soal angka.
Voucher Tes Psikologi setelah melakukan pembayaran (kiri), di ambil setelah tes, dan hasil tes psikologi (kanan)
Setelah melalui serangkaian test dan dinyatakan lulus, tinggal lengkapi beberapa persyaratan yang sudah disipakan sebelumnya seperti pas foto background biru, tanda tangan digital, dll. Isi semua hingga melewati beberapa tahap sampai pembayaran.
Setelah sukses semua, pilih pengambilan. Ada 3 cara yaitu diambil langsung, diwakilkan, dan dikirim. Karena mau full online tanpa angkat pantat, saya pilih kirim via POS Indonesia. Udah percayalah kalau sama PT POS langsung.
Rincian Biaya, sudah termasuk ongkos kirim dan layanan (kiri) dan pilihan pengambilan SIM (kanan)
Sudah deh, tinggal lacak proses berapa persen di apps tersebut. Tidak terasa, gak sampai seminggu sudah datang pak Pos membawakan SIM A Bapak dan suami saya. Yihaaa.. Urus SIM full online checked!
TARAAAA!!! Paket Cinta dari Pak Pos kira-kira datang 3 hari setelah proses selesai
Begitu kira-kira alurnya ya, semoga bisa bermanfaat buat yang mager seperti saya. Ada satu hal yang agak menjanggal sih, ini mudah sekali celah tipu-tipu misal tes dikerjakan oleh orang lain atau dimanfaatkan oknum jahat, karena hanya meminta bukti foto wajah di awal tes saja. Saya sendiri juga ikut mengerjakan tes psikologi untuk Bapak saya, karena angka terlalu kecil sehingga menyulitkan dibawa orang tua. Walaupun demikian, saya sangat terbantu dan termudahkan, tanpa perlu repot-repot datang dan antri. Semoga sistem ini terus ada dan lancar ya.
Aku dibesarkan dari keluarga dengan ortu yang cukup sibuk bekerja. Sisi buruknya aku tumbuh menjadi anak manja, yang jika ingin sesuatu maunya serba cepat, didukung dengan posisiku sebagai anak bungsu. Sisi positif, aku memiliki masa kecil yang bahagia karena orang tua membebaskanku untuk melakukan hal yang aku senangi.
Aku tidak pernah dilarang main apapun ke manapun, seperti ke sawah, menangkap ikan di sungai kecil, mandi lumpur, hingga panjat Pohon Talok. Teman masa kecilku cukup banyak karena aku tidak pernah kehabisan ide bermain dari yang permainan anak normal hingga permainan aneh seperti menjadi dalang wayang, penyiar radio yang direkam, menyamar jadi produser untuk prank temen, sampai membuka perpustakaan dan toko kecil.
Meskipun naik turun, Alhamdulillah prestasi akhirku dari SD – SMP cukup bagus. Aku pun bebas memilih SMA negeri mana saja yang aku suka. Pilihan jatuh pada SMA negeri favorit kedua di kotaku, karena lebih kental dalam aqidah. Entah mengapa, aku merasa butuh semacam naungan karena pemikiranku masih sangat liar. Aku yang sudah berhijab dari kelas 3 SMP bahkan sempat berpikiran lepas jilbab dan menjadi cheerleader karena suka sekali film Bring It On. Alhamdulillah aku memilih sekolah yang tepat. Saat itulah perjalananku usia remaja, otw sweet seventeen, yang penuh warna tapi sederhana dimulai.
Waktu kecil aku sempat membayangkan perayaan sweet 17th ala-ala sinetron, tapi setelah bersekolah di SMA yang dijuluki Teladan Jogja tersebut, tak ada sedikitpun keinginanku untuk merayakan. Aku menemui banyak sekali orang pintar tapi sederhana, yang kebanyakan dari berbagai daerah Jogja coret. Beberapa di antaranya bahkan ada anak kaya dari keluarga terpandang, tapi tiap ke sekolah pakai sepatu butut, tas buluk, motor jadul, bahkan naik kendaraan umum. Pokoknya jarang sekali ada teman yang show off. Aku yang terlahir dari keluarga tidak kaya-mungkin menengah, dan tidak sepintar mereka ini mengagumi dan belajar banyak dari mereka.
Sayangnya, menjelang pergantian usia ke 17, di kelas XI, aku malah merenung akan prestasiku yang ambles ambyar. Saat SMP aku sering angkat tangan dan maju menjawab soal, sementara di SMA aku menjadi murid bangku belakang yang pernah dilempar kapur oleh guru Bahasa karena berisik dengan teman sebangku. Fyi, si teman baik sebangku itu sekarang sudah menjadi dokter sukses, padahl dulu mager banget bocahnya. Memang potensi kecerdasan alamiah itu tidak bisa ditutupi.
So, prestasiku anjlok karena aku belum bisa membagi waktu belajar dan organisasi. Aku menjadi reporter di ekstrakurikuler jurnalis, anggota Peleton Inti, dan bendahara OSIS. Sementara untuk kepanitiaan banyak sekali, mulai dari kegiatan ospek penyambutan murid baru hingga acara perpisahan kelulusan. Berbagai ajakan dari kakak angkatan datang mengalir begitu saja, hampir tak ada yang bisa aku tolak. Aku ingin menantang diri belajar berorganisasi karena saat SMP aku minim pengalaman, hanya ikut paduan suara, sisanya main ke warnet dan Gramedia.
Foto lomba Peleton Inti (Tonti) alias paskibra. Ekskul favorit saat itu.. Bikin gosyong, nilai ambrol, dan lelah, tapi paliiiing berkesan dan banyak kawan.
Di tengah kegalauan akan nilai tapi tidak kunjung mengurangi kesibukan ini-itu karena sangat seru, aku sempat didekati oleh sesorang yang aku tolak mentah-mentah. Lucunya meskipun tak pernah bersua hingga 10 tahun kemudian, dia lalu menjadi suamiku hihi. Aku memang berprinsip dan tidak ada niat berpacaran saat SMA. Bukan karena aku sok-sok an terlalu alim atau bagaimana, sebenarnya aku juga tidak ada banyak waktu untuk itu, mengingat nilai-nilaiku yang sering di baris bawah dan beberapa kali ikut remedi ketika ujian. Jadi walaupun minim pengalaman romansa, hanya sekedar suka-sukaan dan mungkin disukai, aku justru bersyukur menjalani usia 17 tahun sebagai jomblo bahagia yang banyak teman dan kegiatan. Saat itu, aku lebih berambisi untuk masuk perguruan tinggi impian warga Jogja, mana lagi kalau bukan UGM. Di kelas XII aku akhirnya bertaubat untuk lebih rajin belajar karena kegiatan organisasi otomatis sudah berkurang.
Buku-buku pelajaran selalu kubawa ke manapun, termasuk buku sejarah buluk yang kami bawa saat beli bubur Ijok tiap Ahad bersama Eta, teman baik yang sudah kukenal sejak TK. Meskipun beda SMA, aku dan Eta sering pergi les dan belajar bersama. Di warung bubur itu, bersama teman kami yang lain, Desti, kami tebak-tebakan sejarah bab peradaban Babylonia dan Mesopotamia. Kami malah salah fokus terpesona akan wajah tampan Alexander Agung di buku Sejarah itu, padalah fotonya hanya patung tanpa mata. Gajelas sekali memang kami ini.
Kami juga sama – sama suka menghafalkan nama ilmiah pelajaran Biologi, hingga suatu hari saat melihat cacing, temanku menjerit bahwa di tanah ada Lumbricus terrestis. Kucing lewat pun, aku panggil “hey hey Felice domesticus”. Sedikit freak tapi kami sangat menikmati kebersamaan belajar saat itu. Aku juga ingat saat kami belajar bersama di teras rumahku dan stuck di soal ujian Matematika, lalu ada tetangga yang terkenal pintar sedang lewat jalan kaki. “Wooy wooyy mbak, nanya dong!”
Me and Eta di Museum Ulen Sentalu, Jogja. Kami penggemar museum btw.
Well, anyway, di usia tanggung itu, aku sadari aku belum punya tujuan hidup yang jelas. Walaupun mantap ingin masuk dan sudah tes UGM, aku masih suka terbawa arus ikut-ikutan teman. Jadilah saat menjelang kelulusan, aku mengiyakan ajakan untuk tes di ITB. Saat itu aku berpikiran tak ada salahnya mencoba sekalian main ke Bandung.
Hari pengumuman tes ujian tulis UGM akhirnya tiba. Aku ingat betul saat itu diumumkan via SMS. Aku sudah menunggu sejak subuh memandangi HP Nokia 3310 pink mungil.
Dan ternyata aku G.A.G.A.L!.
Di hari pengumuman itu, aku ada janji main bersama dua tetangga teman baikku, Nisa dan Eta. Kami janjian ke rumah Nisa, yang satu SMA denganku. Mereka berdua ternyata diterima di UGM dengan gemilang. Berarti di sana hanya aku yang tertolak, sedih rasanya. Rasanya ingin menangis dan pulang saha, tapi ibunya Nisa mengatakan tidak apa-apa masih ada kesempatan.
Beberapa waktu setelah menerima keadaan, aku berjanji akan mempersiapkan kesempatan SNMPTN ke UGM dengan lebih giat. Tapi ternyata saat keluar hasil ujian masuk ITB yang iseng, aku malah diterima. Bukannya Gajah Mada, tapi malah Gajah Mbandung.
Hening. Tak tahu harus senang atau sedih.
Pasalnya, aku tak pernah membayangkan akan merantau karena saat itu hanya ikut-ikutan teman. Di situlah pergulatan batin dimulai karena itu pilihan yang sulit bagi seorang gadis manja yang tidak bisa jauh dari keluarga. Lagi pula aku takut otakku tak mampu mengimbangi para mahasiswa jenius di sana yang datang dari penjuru Indonesia.
Tidak mudah pergi dari kampung halaman tercinta ke suatu kota lebih besar tapi asing bagiku, yang bahasa dan tradisinya berbeda. Akhirnya, bermodal doa orang tua, aku memberanikan diri untuk melebarkan sayap, mengejar mimpi, dan meninggalkan zona nyaman.
Teman-teman SMA yang merantau bersama di ITB
Saat pertama tiba di Bandung, hati masih sedikit tertinggal di Jogja, rindu sekali rasanya. Ada juga perasaan bangga campur takut saat membaca baligo “Selamat datang putera-puteri terbaik bangsa!”. Ketahuan sekali ya aku angkatan jadul, 2008. Tapi saat itu aku yakin, aku akan mendapat lebih banyak pelajaran hidup berharga kelak di sana. Dan saat itulah lembaran baru yang lebih dinamis dan penuh suka duka dimulai. Yang aku syukuri, ternyata modal kesederhanaan yang sudah biasa aku jumpai bisa menuntunku untuk hidup sederhana di sepetak kamar kos. Sementara bekal pengalaman organisasi, kepanitiaan, serta menjaring banyak kawan saat SMA bisa membantuku bertahan menghadapi masa-masa sulit di kampus kala itu.
Di tulisan ini, saya tidak akan membahas panjang lebar mengenai analisis fundamental dan teknikal saham. Ini hanya kisah awal mula saya mengenalnya. Sebelumnya, saya selalu beranggapan bahwa saham itu adalah mainan horang kaya, pejabat, sultan, pakar ekonomi, dekat dengan judi, endesbra endesbre. Ternyata saya salah besar dan malah malu sendiri jadinya. Di usia saya yang menjelang kepala 3 saat itu, bahkan saya sangat menyesal kenapa baru mengenalnya. Tapi, slogan tidak ada kata terlambat dan tak kenal maka tak sayang juga berlaku dalam mempelajari hal apapun dalam kehidupan ini.
Bermula saat suami memutar otak bagaimana cara mendapat penghasilan lebih untuk membeli rumah tanpa jalur yang sudah jelas riba. Dulu saya beranggapan tidak masalah kita KPR karena memang bukan orang kaya, soalnya ngontrak terus lumayan juga pengeluarannya. Meskipun belum tentu jalur KPR itu tidak baik, tapi kami sepakat dan berusaha menghindari yang kami pahami jelas hukumnya. Akhirnya pencarian kami jatuh pada developer Syariah, yang DP nya pun tidak murah. Btw pendapat ini bisa beda pada masing-masing orang. Disclaimer on ya.
Akhirnya suami mempelajari sedikit demi sedikit mengenai investasi dan menambatkan pilihan ke saham. Meskipun baru sedikit meluangkan waktu, suami mengajak pelan-pelan belajar bersama. Kenapa saham? Sekitar dua tahun yang lalu saat wabah melanda, ekonomi merosot, orang-orang berputar otak mencari jalur menyelamatkan pundi-pundi. banyak sekali yang kemudian berbondong-bondong investasi emas dari yang terencana sampai panic buying, sehingga harga emas melonjak naik (Gambar 1). Tapi saya malah jual logam mulia alias LM untuk menambahi modal saham yang lagi anjlok alias diskon. Lumayan LM-nya sudah untung sekian banyak persen, dibanding saat 2017 menikah, karena itu maskawin. Wkwkwk. Pikir saya, nanti kalau LM turun lagi bisa buyback.
Saat itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menukik tajam (Gambar 2), kalau kata influencer investor saham, adalah saat yang tepat untuk membeli bagi pemula, atau average down bagi yang sudah lama invest. Secara sederhananya seperti itu. Karena ketika ekonomi mulai pulih nanti juga akan naik perlahan, terutama saham perusahaan-perusahaan yang memiliki kinjerja bagus atau fundamental oke, seperti saham-saham dengan istilah Blue Chip, yang secara indeks jajarannya masuk LQ45. Is that true? Well, sometimes yes it is, sometimes not so much. Karena namanya juga pasar modal, dikendalikan oleh kekuatan pasar dengan banyak faktor. Slogan para investor adalah “In fundamental we trust!“, tapi beberapa trader mengatakan “In bandarmology we trust!” Terserah mau pakai slogan yang mana, yang penting sudah paham karena style, persepsi, dan tujuan masing-masing di persahaman bisa berbeda..
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama 5 tahun yang anjlok saat wabah melanda dan mulai pulih hingga saat ini. (sumber: IDX composite)
Tapi secara sederhana, investasi saham itu cukup mudah, dengan syarat investasi ilmu terlebih dahulu. Beda dengan trading ya, mungkin itu butuh waktu belajar lebih dan jam terbang tinggi. Karena saya bukan expert, saya akan mencoba membuat tanya-jawab singkat dari yang dulu saya bingungkan dan sudah sedikit dipelajari bersama pak mentor alias suami.
Apa sih bedanya invest dan trading saham? Intinya kalau invest itu untuk jangka panjang, sementara trading jangka pendek-sedang. Biasanya investor, seperti Bapak Warrent Buffett atau Bapak Lee Kheng Hong di Indonesia, akan menerapkan cara Dollar Cost Averaging (DCA) yaitu menabung pelan-pelan tanpa berpatokan apakah market sendang merah atau hijau, yang penting terus nambah lot. Oh iya 1 lot = 100 lembar saham. Beliau-beliau tentunya akan analisis fundamental perusahaan dulu yang kinerja dari laporan keuangan dan prospek ke depan bagus. Selain itu, para investor handal biasanya juga lebih ahli membaca situasi terhadap ekonomi mikro dan makro. Yang ini saya kurang paham, tapi yang saya tahu makro itu seperti adanya krisis, resesi, sementara mikro itu kejadiannya lebih sempit timeline-nya. cmiiw. Nah berbeda dengan invest, trading ada bermacam-macam tipe santai (swing) atau cepat (scalping), yang harus dilandasi pemahaman analisis teknikal chat-chart saham. Trading biasanya tidak terlalu bergantung pada fundamental perusahaan, tapi lebih ke kondisi market. Biasanya para trader akan mendapat keuntungan lebih cepat dari investor, tapi memiliki resiko yang lebih tinggi untuk loss, bergantung pada si bandar dan keahlian para trader juga.
Apakah saham itu halal? Bisa dicek beberapa referensi dari MUI, ceramah ustadz Khalid Basalamah, Yusuf Mansyur, dll. Intinya diperbolehkan karena sama saja seperti dagang. Tapi kita tetap perlu tahu barang dagangan kita dan mekanisme, tidak hanya asal beli-jualan dan berspekulasi karena jatuhnya seperti judi. Ada juga indeks untuk saham-saham syariah seperti ISSI. Bisa dibaca lebih lanjut, atau kalau mau saya share via email.
Harus modal gedhe dulu ya untuk “main” saham?First of all, istilah “main” saham sudah tidak terlalu direkomendasikan karena saham bukanlah mainan. Istilah yang tepat adalah investasi/menabung saham. Untuk menabung saham, dari pemula kita bisa mencoba dengan modal 1 lot dengan mencari harga yang tidak terlalu mahal, misal 100.000. FYI, para investor baru generasi angkatan korona saat ini kebanyakan malah anak muda dari SMP sampai mahasiswa, wow! Tapi ternyata tidak se-wow itu juga karena ini budaya lumrah di Korea atau negara lain yang saya ketahui. Investasi perlu ditanamkan sedini mungkin.
Bagaimana cara memulai saham? Setelah investasi ilmu, bisa sambil berjalan coba langsung. Coba gunakan fitur virtual trading seperi di RTI Bussiness (apilkasi andorid & iphone) jika belum berani terjun keluarkan uang. Tapi untuk yang penasaran dan gemes ingin langsung saja, seperti saya, bisa langsung buka rekening sekuritas dan coba langsung sedikit demi sedikit. Ada banyak sekuritas dengan plus minus masing-masing, tapi secara garis besar sama. Tinggal dipelajari lagi persyaratan, fitur, dan fee broker yang lebih cocok. Contoh yang saya gunakan adalah BNI sekuritas dan Mirae Assets, sementara suami menggunakan Indopremier dan MNC sekuritas. Bukan iklan ya.
Jika belum berani terjun saham, apakah ada cara lain? Banyak jalan menuju Roma. Instrumen investasi itu banyak sekali. Selain saham, ada yang sudah saya sebutkan tadi, LM. Instrumen lain yang saya gunakan yaitu reksadana menggunakan appsBibit (sekalian promo kode referal: alresch4), serta obligasi dan sukuk saya gunakan apps Tanam Duit. Ada juga trading Forex dan Crypto, tapi saya tidak berani terjun karena tidak paham. Pokoknya, jangan sekali-sekali terjun kalau tidak paham atau hanya ikut-ikutan orang.
Seiring mendalami investasi, hal yang paling membuat saya cepat-cepat ingin memulai adalah karena saya tidak mau digerogoti inflasi dan ingin mempersiapkan masa depan terutama untuk anak, yang terbaik. Karena jika ingin cepat kaya itu salah besar. Wkwkw. Rejeki memang sudah diatur oleh Allah, tapi adalah kewajiban kita untuk menjemputnya. Dengan semakin banyak yang kita hasilkan, tentunya kita akan bisa lebih banyak membantu keluarga-kerabat dan sesama. Alhamdulillah saya justru lebih bersyukur dan merasa cukup dengan rejeki yang saya miliki, yang bisa saya porsikan untuk menabung investasi juga, meskipun tidak banyak.
Well, tulisan ini sebenarnya tidak bermaksud terselubung untuk ajakan investasi saham, dan sebagainya, karena bukan ranah saya dan itu terserah masing-masing dengan latar dan kesiapan masing-masing juga. Panggilan berinvestasi biasanya harus muncul dulu dari jiwa masing-masing, baru akan lebih bersemangat menyempatkan waktu untuk belajar dan terjun langsung. Sebelum mulai berinvestasi-pun kita perlu money management, tentukan tujuan ivestasi, dan memiliki ‘dana dingin’ alias yang tidak akan digunakan dalam jangka waktu dekat. Tapi saya berharap tulisan ini dapat sedikit mencerahkan dan bermanfaat bagi yang mulanya sudah berpandangan negatif terhadap investasi terutama saham.
Anyway, saya juga bukan pakar ekonomi dan expert saham, jadi mohon maaf jika ada kesalahan dalam pemahaman saya dan jika ada pendapat lain dan koreksi akan saya terima dengan senang hati.
Aku baru saja bergabung dengan grup mamah gajah ngeblog sebenarnya salah satu alasan terkuat yaitu untuk menemukan kembali motivasi untuk menulis, di samping belajar blogging dari mamah-mamah lain. Tema Tantangan MGN bulan Juli ini adalah cerita lucu. Waini, cukup sulit karena lucu-nya orang kan beda-beda. Aku hanya akan menceritakan beberapa kisah jaman kuliah S1 dulu, sekitar 12 tahun yang lalu. Kisah ini cukup berkesan jadi masih kuingat betul dan beberapa penggalan dialog-nya juga pernah aku tuliskan secara singkat.
Email Alay: nebula atau supernova?
Aku kuliah di jurusan yang cukup nyentrik, Astronomi, dan cukup aktif di himpunan – karena orang kami ga banyak, jadi harus aktif. Well, saat itu aku sebagai kadiv keprofesian, dengan salah satu tugas mengadakan acara talk show/diskusi internal. Sebenarnya waktu itu sedikit dipaksa kahim, Anton, karena menggantikan posisi Rufa yang ditarik jadi kadiv lain. Tapi Alhamdulillah aku banyak dibantu oleh para anggota, salah satunya adik angkatan, panggilannya Bre. Aku dan Bre sering dijuluki bebek dan ayam karena cukup akrab dan sering bertengkar tidak penting. Perlu digaris bawahi bahwa akrab kami bukan dalam hal asmara tapi klop aja mungkin karena sesama Jawa, satu divisi, dan suka ece-ecean (saling meledek). Bre ini banyak sekali brewoknya makanya dipanggil begitu, tetapi suatu hari dia cukur, temanku Mbano, komen “Koyo pithik sing dicabut wulune” (seperti ayam yang dicabut bulunya), kalau mulus tanpa brewok, malah jadi aneh. Aku setuju, jadilah kunamai dia di kontak HP jadul nokia 3310 pink-ku sebagai ‘Bre Pithik’ dan manggil dia dari kejauhan “Woooy Pithik!”. Jika teman seangkatan dia nanya, aku akan mendadak menjadi brand ambassador yang menjelaskan panjang lebar dan meyakinkan semua temannya untuk memanggilnya Pithik saja. Yaampun dulu aku jahat sekali ya membully anak orang, eh tapi dia juga sering mem-bully jadi impas, peace, hihi. Tapi sebenarnya inti ceritaku bukan itu, walaupun masih berhubungan dengan si pithik.
Suatu sore, usai rapat keprof pembahasan acara talk show tentang Dark Matter, bersama anggota lain yaitu Tania, Putri, Wawan, dan Puan, aku dan Bre bertugas menemui pembicara alias dosen kami yaitu Bu Hesti. Kami ke Bu Hesti juga untuk meminta abstrak dari topik Dark Matter yang akan dibahas. Btw untuk yang belum familiar apa itu dark matter, yaitu materi gelap di alam semesta yang tidak dapat dideteksi karena tidak memancarkan/memantulkan radiasi, dengan keberadaannya dibuktikan dari efek gravitasi dari materi tampak seperti bintang dan galaksi. Contoh keberadaan Dark Matter adalah di Galaksi kita sendiri lho, Bima Sakti. Kok tau? Itu dibuktikan dari pengukuran kurva rotasinya yang berbeda dari perhitungan, seperti di gambar ini. Oke-oke sekian kuliah singkat tentang dark matter sebelum tulisanku ganti topik dadakan karena aku emang suka melenceng gak fokus, hadeeuh.
Jadi, suatu sore di depan ruangan Bu Hesti, – aku singkat namanya jadi Bu H dan Bre ini B. Ini aku tuliskan dalam bentuk dialog supaya seperti reka adegan.
“Knock knock …”
Bu H: “Silakan masuk..”
Adegan selanjutnya adalah diskusi kegiatan dan abstrak yang aku gak terlalu ingat.
Bu H: “Ok. Jadi nanti saya kirimkan abstraknya lewat email saja ya, email salah satu dari kalian apa?”
Me : (nengok ke sebelah sambil bisik-bisik) “Heh, email mu apa tuh? Jawab!”
B : (berbisik agak keras) “Lah, kenapa emailku to, mbak aja deh..”
Me : (masih berbisik) “Gak mau please, email ku alay banget.. sok astronomi gitu, nebula2 wkwkw malu pokoknya, kamu aja ya..”
Bu Hesti menatap kami berdua dengan wajah kebingungan, mungkin di pikiran beliau, “Ini dua anak susah amat dimintai email doang kok lama, ngga tau lagi sibuk nih saya.” Sementara kami lanjut adu mulut bisik-bisik.
B: “Lah emailku juga alay e mbaaaaak gimana dong.” (muka melas ala ayam)
Me : “Oh iya, emailmu yang supernova maker itu ya, emang alay banget sih.. “
Melihat Bu H sudah senyum-senyum, sinyal bahwa gelombang suara obrolan kami yang amplitudo sudah minimum sekali ini sudah mencapai membran timpani telinga beliau, aku akhirnya mengalah. Aku juga sudah merasa tidak sopan karena ditanya dosen kok malah bisik-bisik.
Me : “Yasudah, Bu email saya saja, nebula_mum@blabla” (malu-malu karena emailnya sok pakai istilah astro)
dosen: (senyum-senyum lagi) “Nebula apa tadi? Oh iya nebula-nya pakai ‘e’ nggak? jadi nebula (tunggal) atau nebulae (jamak)?”
Fyi, nebulae adalah sebutan untuk nebula lebih dari satu. Nebula itu sendiri adalah awan-awan debu, gas, plasma, tempat kelahiran bintang, sedangkan supernova adalah ledakan/akhir hidup bintang masif akibat keruntuhan gravitasi. Nah lho mulai melenceng lagi. Ok Lanjuuut.
Me: “Nggg.. nggak pake ‘e’ Bu.. nebula_mum, Bu..” (tambah malu dan kaki lemas)
Saat itu kulihat si Bre menahan tawa.Dalam hati, Asem awas aja nanti ya tunggu balasanku.
Singkat cerita kami kemudian keluar ruangan sambil bermuka merah tomat menahan tawa dan malu. Tapi kami masih lanjut berdebat siapa email yang lebih alay, dan aku tetap bersikeras walaupun emailku alay tapi aku mengalah karena merasa email Bre lebih alay.
“Wkwkwk apaan tu pembuat supernova!” Kataku meledek
“Biarin, daripada nebula, tunggal apa jamak gak jelas week.” Balas si Bre.
Dan seterusnya kami berdebat sampai kami tiba di sekre himpunan yang saat itu lokasinya di atas Labtek IV, kami ceritakan kejadian ke teman-teman dan tanggapan mereka kompak. “Kalian berdua alay! Hahahaa”
Anak era 90-an pasti masih ingat transisi trend tulisan, nama, dan pembuatan id email dengan bahasa alay ke bahasa normal. Nah sebenarnya di saat kejadian tersebut beberapa teman yang nama email aneh-aneh sudah transisi ke nama asli sebagai id email, tapi entah kenapa aku masih belum membuat akun baru. Sejak saat itu aku membuat akun gmail dengan namaku yang masih kupakai hingga sekarang.
Distraksi
Adakah yang tahu mainan O2jam? game laptop simulasi piano tapi tidak mirip piano juga sih. Tidak tahu apakah sekarang masih ada atau tidak. Saat itu, beberapa mahasiswa yang sedang dilanda kebosanan dan stress tugas kuliah, ngumpul di himpunan melepas penat dan main O2jam berjamaah. Oh iya, selain game itu, kami juga sering main Plant Vs Zombie. Ada kakak angkatan, sebut saja kak Onta, yang mainnya sudah level tinggi di endless game karena nyontek youtube, tapi aku tidak segitunya. Aku sudah menyerah endless PVZ dan ganti kerajingan O2jam itu. Pokoknya aku ingin menyaingi kak Onta yang bisa memainkan Bethoven Virus dengan lincah, tapi aku tetap saja gagal tidak sebagus dia.
Saat itu aku berencana mengerjakan tugas kelompok Fisika Galaksi dengan Ijik. Kalau tidak salah ingat waktu itu laptop Ijik eror dan dia menungguku dan tentusaja laptopku. Waktu sudah menunjukkan pukul 14.30, aku masih duduk ndlosor di lantai kayu ‘kriyet-kriyet’ himpunan, kadang bersila, dengan jari lincah memainkan O2jam dengan earphone supaya lebih mantap.
J: “Ayok mum kerjain tugaas siah!”
Me: (lagi main O2Jam) “Sorean dong Jiiik, please. Ntar klo jam stengah 4 aku masih sibuk maen, marahin aja ya!”
J: “Oke. Beneran loh.”
Sekitar satu setengah jam kemudian (16.00 WIB). Aku masih main dengan fokus tanpa lihat jam. Angin sepoi-sepoi bertiup dari anjungan himpunan yang pintunya dibuka lebar.
J : “Muuum, udah belomm?”
Me : “Ah iya, oke-oke.. bentar lagi kok ini. Gimana-gimana?”
Aku lupa tentang tugas dan kayaknya lagi dapet, jadi masih ngendon di laptop terus .
J: “Oke, habis kamu main ntar aku pinjem, gantian aku yak!”
5 mins later
Me: “Nih aku udah kok, sok ajah main!”
Adegan selanjutnya J main O2jam dengan serius. Jemari panjangnya sangat lincah sampai aku berdecak kagum. Setelah memainkan beberapa lagu, tiba-tiba ada kilatan ingatan menyambar di otak. Flash!
Me: “Eh, Jik bukannya kita mau ngerjain tugas ya? Udah jam berapa ini?”
J : “…….”
Kitin: “Kalian berdua uwak banget lho!”
Krik-krik, kira-kira begitu ceritanya. Oh iya beberapa dialog ini ditulis di tumblr nya Ijik. Dia salah satu teman baik yang sangat selow orangnya. Kalau aku tidak mengingatkan saat itu mungkin tugas kami tidak akan pernah tersentuh, hahaa. Pada zaman itu, aku juga mulai dijuluki oleh temanku, Hesti, sebagai “the biggest distractor ever”, karena sering ngenalin dan meracuni teman-teman main game mulai dari game online facebook hingga The Sims 3 dan game karaoke online Showtimes. Maapkan aku ya teman-teman, tapi kalian suka kaan. Hahaha (maksa amat). Tapi aku tidak merasa gamer, karena aku hanya butuh pelarian sesaat saat suntuk (ngeles).
Listrik Magnet 3? Mau?
Masih ingatkah nada iklan provider yang bersimbol angka 3? Kalau masih ingat berarti hidup di era yang sama hehe *toss.
Kali ini adalah kisah saat mengambil mata kuliah wajib di Prodi Fisika, yaitu Electromagnetics alias Listrik Magnet (LM). Kuliahnya sok-sokan di international class karena bareng-bareng temen seangkatan, dengan kelas di ruang Bosscha Fisika. Kira-kira bentuk ruangan Bosscha seperti Gambar di bawah tulisan ini tapi aku tidak menemukan foto yang lebih bagus. Petemuan pertama dan kedua dengan Pak Dosen Alex aku udah feeling gak enak karena sama sekali gak bisa mengikuti mata kuliah ditambah lagi dengan banyak istilah bahasa Inggris yang membuat double ketidakpahamanku. Di kelas aku sering sekali mengantuk meskipun mencoba untuk tetap fokus dan membuat coretan yang setelah dilihat ternyata gambar kucing dan bunga. Herannya, temenku si Yola yang tiap kelas sering tidur sampai kadang ngeces (oops, peace), tapi bangun-bangun angkat tangan dan nanya ke dosen atau menjawab pertanyaan dosen. Konon mahasiswa ITB memang ada beberapa pencilan yang seperti itu ya, bikin tambah keder.
Tibalah saat UTS, aku sendiri cuma menguap-nguap sampe berair mata. Aku mengerjakan sebisanya, yaitu menuliskan di lembar kertas jawaban: diketahui, ditanya, dan dijawab yang hampir kosong atau rumus saja seingatnya. Usai UTS aku menunduk lesu dan melihat wajah teman-temanku yang sama saja, kecuali beberapa pencilan-pencilan itu.
Selang beberapa hari/seminggu kemudian.. Kejadian masih di ruang Bosscha.
Saat dibagikan hasilnya, tebak aku dapat berapa? Dapet “3” woww! 3 dari berapa sodara-sodara, dari 10 kah? No! It’s 3 out of 100! Believe it or not, aku syok karena sejelek itu ternyata nilaiku. Awalnya aku sembunyikan dari teman-teman yang nyatanya pada syok juga. Tapi masih yakin kalau nilai mereka semua tetap lebih tinggi dariku. Tiba-tiba salah seorang pencilan yang kupanggil papah profesor, alias Ridlo, menanyakan nilaiku dan dengan polosnya kuperlihatkan tulisan 3 besar sekali di halaman depan lembar UTS yang tertulis nama dll. “Nih puasss.”
Huwaaaaaaaaaaa, aku lalu nangis diejek seperti itu. “Papah emang berapa?” tanyaku kesal, tapi aku menyesal menanyainya.
“Aku juga tri kok, tapi dua kali. 33, alias mau?mau? Hahahahhahahahahaha” Dengan wajah menyebalkan mengejek.
Huwaaaaaaaaaa, aku tambah keras menangis. Tapi tangisanku aslinya bukan karena sakit hati, tapi campur aduk ingin ketawa ngakak, tapi kok miris banget, bisa-bisanya itu lho dapet 3 “mau?” Si mamah Sulis, sang pencilan lain, sampai menertawakan tangisanku.
Dan ternyata temenku Ijik dapat 2 dan diledekin juga entah sama siapa,
“Hahaha 2? kacang 2 kelinci! (pakai nada iklan kacang itu sambil angkat dua jari bentuk peace) Wakakakaka.”
Aku pun ikut ngkaka puas, ternyata sama aja! Nanya-nanya yang lain juga tidak jauh berbeda, Kalo tidak salah Kitin dapat 5, Mbano dapet 8, Rufa dapat 18, Hesti dapat 3 juga. Buahahahahahaaha, lalu kami tertawa bersama di kelas, ketawa miris sedih tapi campur ngakak, begitulah, tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata. Btw maaf ya teman-teman, aku membuka luka lama kita bersama.
Epilog
Begitulah sekilas kehidupan mahasiswa astronomi kala itu, kami dulu berjumlah sedikit, seangkatan 20-an lah, tapi seperti keluarga. Angkatanku bahkan ada silsilah sendiri yang dibuat oleh Rufa. Adegan saling membully sudah menjadi makanan sehari-hari kami, tapi kalau memang kelewatan ya ngambek-ngambek sedikit juga ada. Setelahnya balik lagi karena mau ga mau ketemu itu lagi itu lagi hahaa. Kami mengenal hampir semua beberapa angkatan di bawah dan di atas kami. Kalau sekarang? Wah boro-boro, seangkatan sudah lebih dari 50 jadi tampak banyak sekali dan hanya sedikit yang kukenal. Heheh. Oh iya, pada akhirnya aku dan beberapa teman sekelas LM tidak lulus dan mengulang di kelas reguler dengan bahasa Indonesia. Alhamdulilah kami semua akhirnya lulus. Aku sendiri bersyukur karena hasilnya tak sejelek Mekanika yang tidak mengulang. Setelah kejadian pembagian nilai itu, kami menjadikan momen tersebut sebagai salah satu memori yang sering di-recall ketika kumpul angkatan, karena semua kena dampak kecuali para pencilan hahaha.
Anyway Aku dan Bre hingga saat ini masih berteman, kebetulan sempat bertemu satu semester saat melanjutkan S2 dan akhirnya wisuda online bareng Alhamdulillah. Aslinya Bre orangnya baik sekali sumpah dan pintar suka membantu, walaupun aneh dan suka mengeluarkan jurus ninja alias hilang-hilang dicari dosen hahaha. Dia pernah membantuku masalah programming python saat aku hampir menyerah. Kalau Ijik, S2-nya loncat ke Sains Komputasi tapi hampir tiap ngampus bareng selalu makan siang bersama di tempat favorit kami, Ayam Geprek tunnel, sambil sambat kehidupan mahasiwa pasca yang jauh berbeda dengan dulu. Dia banyak membantuku di detik-detik akhir laporan Tesis masalah per- LaTeX – an dan menjaga anakku saat aku harus simulasi sidang tapi malah ditinggal pengasuh dan suami belum bisa pulang (LDM lyfe). Wkwkwkw. Thank you guys, sukses sehat selalu buat kalian, teman-teman astroku dan juga untuk para pembaca!
Well, Salam langit gelap!
Penampakkan ruangan Bosscha prodi Fisika. Model: MbanoSuasana perkuliahan. Di frame ini ada Kitin, Mbano, Yola, Rufa, Adrian, Hesti, Anton, Riscye, Sulis, dan aku.
Setelah sekitar 4 x 12 purnama aku vakum ngeblog, akhirnya hari ini aku mencoba kembali menulis karena ikutan grup Mamah Gajah Ngeblog dan termotivasi untuk kembali berceloteh. Kemaren aku cerita ke teman yang dulu pernah kubikin kisah dengannya di sini. Lalu dia komen, “Gimana blog kamu? Jamuran ga? Hahahaha”. Dan ternyata beneran jamuran dong, alias banyak hyperlink yang sudah kadaluarsa jadi banyak ga keluar link dan gambar-gambar. Dulu aku paling sering comot foto dari galeri FBku, tapi FB juga udah jamuran malah lebih lama. Hihihii. Waktu mau log in juga udah lupa password dan lupa pakai email apa -__-.
Okay, sepertinya aku akan memberantas jamurnya perlahan di sela-sela waktu, not now! Seperti saat ini, aku menulis sambil curi-curi waktu menunggu anakku berendam air hangat yang lamaaaa sekali. Tak apalah, khusus weekend memang aku bebaskan kemauan anak, karena weekday udah sering disuruh nurut dan terbatas waktu bermainnya denganku. Huhuhu.. Tapi Alhamdulillah aku masih diperbolehkan WFH oleh bos hingga saat ini, jadi bisa sambil membersamai anak lebih banyak daripada ketika masuk kantor.
Aku sempat bertanya pada rumput yang bergoyang, *krik-krik, pada diri maksudnya. Kenapa aku malas sekali nulis di blog atau paling tidak di agenda yang selalu jadi andalanku dalam guideline kegiatanku sehari-hari. Teman-teman dekatku pasti tau aku suka sekali koleksi agenda uwuuww tiap tahun, menuliskan kegiatan atau paling pol jadwal haid, dkk. Bukan, bukan karena aku rajin dan OCD. Justru aku bisa malas mager banget apalagi kalau gak dibikin plan yang jelas. Meskipun sebagian plan tidak tereksekusi dengan baik karena aku anaknya out of the box dan tidak terlalu suka dibatasi, tapi aku senang saja mencentang-centang yang sudah kulaksanakan *yang seringnya lebih banyak poin yang gak kecentang wkwkw. Tapi hal itu tentusaja akan sangat memudahkanku menulis logbook dan laporan bulanan kantor. kalau alasanku suka menuangkan kejadian-kejadian harian adalah: Karena kenangan manis sayang untuk dilupakan, sementara kenangan kurang enak selalu bisa menjadi refleksi. *eaaakkkk
My Little Family
Lalu hari ini kutemukan jawaban dari pertanyaanku itu. Sepertinya karena semunaya uneg-uneg sudah kulontarkan ke orang ini. Karena aku rasa-rasanya mulai mager ngeblog dan jarang nulis di agenda setelah bertemu (dulu masih calon) suami kalau dirunut kronologi. Meskipun hanya via chat atau vcall karena kami LDM, segalanya sudah kutumpahkan ke Pak Suami, sebagai pendengar yang cukup baik.. Meskipun yaaaaaah kadang didengar sambil tidur, dicuekin, sambi ini itu, atau malah dikomen ga nyambung bikin tambah emosi, wkwk. Tapi berbicara sama Pak su cukup untuk melampiaskan kebutuhan wanita mengeluarkan banyak kata-kata. Apalagi kalau lagi bersama dengannya, jika sangat kesal tinggal aku gigitin itu lengan beliau. Alhamdulillah beliau sabar menahan kesakitan dan aku tidak dilaporkan KDRT. Alasanku selanjutnya adalah karena kemudian disibukkan belajar membangun rumah tangga dan menjadi Ibu, yang bersamaan dengan waktu tugas belajar alias lanjut kuliah lagi. Uwawwww, mantap nano-nano pokokonya sampai 24 jam sepertinya kurang.
Well menyadari kembali banyaknya manfaat positif dari menulis, dan demi melatih merangkai kata jika suatu hari bisa menulis buku *melambung jauuh terbang tinggi bersama mimpi, aku akan mencoba konsisten menulis lagi. Bermimpi boleh kan ya, hihii.Salah satu impianku adalah menulis novel dan buku cerita anak kolab dengan ilustrator dan psikologi anak yang berhubungan dengan ilmuku, astronomy and space science! Aamiin. Weleh-weleh kan jadi ngalor ngidul, padahal cuma mau cerita I’m back. Begitulah aku, dengan segala ke-random-an ku. Tulisan-tulisanku nanti mungkin juga akan sangat random seperti yang sudah-sudah hahaha..
Anywayl, Yes I’m Back.. meskipun tidak tahu apakah akan benar-benar kembali atau menghilang lagi. Hahaha. Yang jelas tujuan utamaku menulis adalah untuk self-healing. Syukur-syukur ada tema yang bermanfaat atau sekedar membuat teman-teman flashback, karena aku sering menuliskan memori.
Have you ever heard about the God’s plan? How do we know we’re on the right or wrong path?
Do you have a dream? How do you feel when people can achieve your dream easily and effortless while we are struggling to get it but then end up on failure?
Singkat cerita, saya pernah mempunyai mimpi besar sebut saja mimpi A. Saya kejar-kejar mimpi A itu habis-habisan, bertahun-tahun lamanya. Namun saya juga mempunyai mimpi besar B yang tak kalah pentingnya. Kedua mimpi tersebut bukan mimpi main-main karena saya selalu berdoa dan beikhtiar untuk mendapatkannya. Namun kedua mimpi tersebut ada tenggat waktu yang saya rencanakan dalam jangka waktu panjang di mana mimpi A dulu diraih baru mimpi B. Dengan kata lain, jika dalam waktu tertentu mimpi itu tidak terlaksana maka artiknya saya sudah boleh berpasrah dan ikhlas.
Suatu ketika mimpi A datang mendekat dan akan jadi kenyataan, begitu pula dengan mimpi B dalam waktu yang nyaris bersamaan. Saya merasa mimpi A ini sudah hampir kadaluarsa mengingat situasi dan kondisi, seharusnya dalam waktu itu saya sudah mengejar yang B. Selangkah lagi mimpi-mimpi tersebut dapat saya raih, namun saya tidak dapat memperoleh semuanya karena harus memilih salah satu. Film serial “Saw” yang mengajarkan “life is a choice” kembali menampar saya. Sebenarnya kalau dipaksakan mungkin bisa saya kejar lagi mimpi A dan sedikit menunda mimpi B, jadi saya dapat kedua mimpi. Namun, hati ini berkata lain. Mungkin juga ini jawaban dari sholat istikharah saya. I asked Allah many times and I have decided.. I thought about my parents and my future husband as well. Lupakan mimpi A dan raih mimpi B dulu. Why? Karena situasi dan kondisi tidak memungkinkan untuk meraih keduanya. Saya merasa egois dan terlalu ambis kalau harus mengejar keduanya sekaligus.
Meanwhile, orang-orang disekitar saya dengan mudahnya memperoleh mimpi besar A itu karena memang kesempatan terbuka lebar. Mungkin sekilas tampak kurang adil di saat saya dulu berjuang mati-matian memperoleh itu sedangkan orang lain dengan mudahnya dan dalam waktu singkat memperoleh tanpa usaha sebesar saya yang dulu. Tapi seperti kata pak Emil dalam akun IG beliau, “Equality doesn’t mean justice”. Maka saya hanya bisa tersenyum dan mendoakan mereka yang dimudahkan jalannya karena mungkin saya tidak pernah tahu sebesar apa perjuangan mereka sesungguhnya yang tak kasat mata. Satu hal yang saya tahu, Allah Maha Adil.
For God’s sake, merelakan mimpi besar bukanlah hal yang mudah apalagi ketika itu sudah di depan hidung. Entah sudah berapa waktu, tenaga, pikiran, bahkan materi yang terbuang untuk meraihnya? uncountable! Menyesal? Tidak. Karena ketika kita yakin bahwa Allah sudah menggariskan demikian, maka demikianlah seharusnya. Bukan berarti menyerah seutuhnya, pesimis, dan bermuram durja, dan malah berprasangka buruk, tapi harus bangkit dan optimal untuk meraih mimpi B dan mungkin mimpi-mimpi lainnya. Allah itu sutradara terbaik di jagad raya ini. Saya yakin niatan baik akan dilancarkan jalannya, kalau tidak lancar? Berarti Allah makin sayang sama kita karena diberi ujian kesabaran yang hadiahnya biasanya lebih manis dari senyum itu.. iyaa senyuman itu. heheehe
P.S: Tujian saya tiap kali menulis bukan hanya sekedar curhat nyampah, pamer, atau menyindir pihak tertentu. Saya menulis untuk merenung dan belajar tentang kehidupan, merekam memori perjalanan, untuk memotivasi diri sendiri, dan syukur-syukur kalau bisa berbagi dan memotivasi orang lain. Semangaat :D!
Today is my birthday but I am getting more depressed. Why? Because I realized that I am being soooo old. Hahahaha. I don’t really care about celebration, gifts, etc. All I know that I am really thankful to Allah SWT that I am alive and healthy at this new age (a little bit sick though). Alhamdulillah, I have such a great family and friends who pray for my birthday, even though my special one won’t say single world becuase he still in quarantine :(. I hope you’re doing well there!
Well, my resolution is: to be a better person with better habbits! Yes I know it’s easy to say but I want to ‘hijrah’. And I need you, dear friends, family, and of course you Mr. Menga XD!
Aaaargh akhirnya setelah ke pending lumayan lama, disempetin juga nulis hari ke-6 di Korea.. Thanks to salah satu pembaca blog yang nge-dm fesbuk buat nanyain itin korea ^^. Jadi hari ke-6 ini adalah main mission kami melakukan perjalanan ke korea, yaitu Jinhae Cherry Blossom Festival. Sebenarnya festival bunga sakura di Korea saat musim semi itu banyak. Kata teman-teman saya orang korea juga, kondisi Cherry Blossom tidak menentu dari tahun ke tahun..Penyebabnya? Biasaaaa,, climate change.. global warming, jadi pancaroba gak hanya terjadi di daerah tropis seperti Indonesia. Si bunga sakura ini hanya mekar beberapa hari lalu gampang gogrok alias jatuh berguguran jika tertiup angin kencang apalagi hujan. So, Han oppa bilang kalau aku sampai dapat sakura, berarti memang beruntung. Sepertihalnya saat Minwoo bilang kalo aku sampai ketemu Salju di Seoraksan, berarti saat itu sedang beruntung. Jadilah saat diceramahin gitu, saya langsung gak berharap banyak bertemu sakura dan salju, yang penting enjoy saja karena tiket sudah terbeli pada saat yang tidak bisa kita pilih dengan bebas karena ngepasin tanggal merah dan harga promo.
Han oppa sempat mengirimi saya peta persebaran Cherry Blossom.. Di Seoul sendiri, sakura baru akan mekar sekitar pertengahan April, jadilah aku cari-cari daerah yang ada sakura mekar di akhir Maret sampai awal April, daaaan ketemu Jinhae! Dari sana saya bisa lihat Busan termasuk yang mekar lebih awal. So, i decided to google it more and more.. FYI, Jinhae Cherry Blossom Festival selalu diselenggarakan tiap tahun dari tanggal 1-10 April. Jadi aku dapat hari pertama karena pas sekalian jalan ke Busan, sekitar 2 jam dari Jinhae naik Bus dari Sasang station seharga 5100 KRW.
Setelah mendapat tiket di terminal Bus tersebut, kami sempat mengantri seperti ular karena hari pertama festival. Kebetulan kami bertemu Cewek2 Malaysia yang satu penginapan di Blueboat Hostel dan juga Nak Cakap, solo travel dari Malaysia gebetannya Clara dan Tehe. Wkwkwkwk
Akhirnya, setelah tiket di tangan, kami naik bis sambil menikmati Sakura busan yang berwarna soft pink sepanjang perjalanan. Dan sampailah kami di tempat yang didambakan dari awal… >,< Alhamdulillah.. Kami disambut tarian tradisional Eonnie2 berhanbok cantik bawa kipas.. Sayangnya food marketnya rada kurang ramah buat muslim, ada yang manggang kepala babi juga jadi kami ga berani macam2macam. Untung udah bawa bekal roti telor dari Hostel.
Meskipun sempat berbingung-bingung ria nanya sana sini, sampai juga kami ke tempat impian yang susah namanya, Yeojwacheon Stream yang unch unch banget, tapi ramenyaaaaa beuuuuhh! Isinya kebanyakan pasangan2 co cwit dan sok swit dari yang beneran romantis sampai alay. Jadi Jinhae CBF ini luaaaaaaaaaaas banget, saya salah banget karena tidak mempelajari detail lokasi. Di sana crowded banget bahkan sampai sumuk alias hareudang alias gerah… yang saya tahu dan pengen saat itu hanya dua lokasi yang tidak tahu namanya, salah satunya sudah kesampaian, stream yang ada payung-payung unyuw tersebut, dan satu lagi yang gak kesampaian adalah lokasi yang ada kereta dan rel. Huuuuwww
Setelah berpuas-puas foto nyelip-nyelip di tengah kerumunan orang, kami istirahat sebentar di bawah rontoknya sakura menerpa wajah.. Sebenarnya serbuk bunganya kurang begitu baik sih, tapi kami suka sensasinya dan merekam berkali-kali. Kemudian dalam momen yang sangat romantis tersebut, terdengar jelas dari speaker di sepanjang stream suatu lagu yang tidak asing, apalagi kalau bukan OST DOTS yang menyertai perjalanan kami selama di Korimin, Always-Yoonmirae. Saya, Tehe, dan Clara serentak langsung teriak teriak dan merekam dengan khidmad.. Aaaaaaiiii Looooooovvvvvvyuuuu… Rekaman itu masing-masing tersimpan di kamera dan memori kami. Berikut saya sajikan foto-foto cantik bersama Cherry Blossom
Tidak lupa juga kami beribadah meskipun berada di tempat antah berantah, karena dengan begitu hati jadi lebih tentram dan merasa selalu dijaga dan dilindungi.
Ada kisah lucu tapi uwak saat kami antri kamar mandi.. Sepanjang Korea trip, beberapa kali kami bertemu oppa oppa wamil yang kece tapi trauma karena mereka cenderung cuek dan sombong.. Tapi di sini, kami bertemu seorang oppa wamil yang luar biasa ramah. Saat itu Tehe sedang siap siap sholat dan saya juga Clara antri ke toilet.. Saat antrian penuh, oppa wamil lewat dan Clara histeris, “Mbaak mbaaakkkk,,, oppa wamil senyumin aku, kyaaaaaaaaaa” What? masa sih. Lalu tak lama kemudian oppa wamil yang ramah tadi menghampiri sembari berkata intinya “Kamu mau masuk kamar mandi cowok yang gak antri? silakan tidak apa-apa mumpung masih sepi” Hmmmm,, saya pasang tampang ragu dan menolak halus lalu sang oppa bilang “It’s okay, I will protect you.. I care about you” Diiiieeeeeeeeeeeeeerrrrr. Piye perasaanmu nek dikoyo ngonokke karo oppa oppa wamil gahul kece. Dan kemudian kami melayang dan ngeces.. Nggak ding, saya langsung masuk KM Namja yang dijagain langsung sama oppa wamil kalo-kalo ada cowok masuk. Keluar dari sana, saya sama Clara cerita sama Tehe yang ternyata Tehe juga diajak ngobrol sama Oppa wamil ramah itu dan sedang melayang. kyaaaaaaaaaaa… Satu lagi, jaketku ketinggalan di KM cowok dan si oppa mengambilkannya.. Aaaaaaaakkk… Kami menyesal kenapa tidak meminta foto bersama oppa ramah tersebut. Hiks hiks…
Begitulah kami di Jinhae, sampai kehabisan waktu ke spot foto yanga da kereta dan sempat salah ngira lokasi tersebut. Kira-kira fotonya seperti ini.. Uuuuuuuwwww co cwit kan.
Antrian pulang ke Busan sama seperti antrian saat berangkat, berular ular. lagi-lagi bertemu nak cakap.. wkwkwk. Sesampainya Busan, ternyata udah surup.. kami ke Jagalchi tapi sayang tutup di gedung utamanya.. jadi hanya berkeliling di sekitarnya yang bau amis.. Hahahaha.. Kami sempat nyasar juga di BFF, Busan Film Festival yang banyak cap jari artis padahal gak narget ke sana..
Sekian perjalan misi utama kami di Jinhae Cherry Blossom Festival.. sampai penginapan kaki kaki wes kemropok.. Hari selanjutnya adalah hari terakhir Tehe di Korea, saya dan Clara masih stay sampai lusa.. See you next story!
Di hari ke-5 ini, tenaga kami mungkin sudah terkuras karena trip kami rada gak santai biar tercapai tujuan-tujuan sesuai itin, tapi rasa gembira dan penasaran kami, juga counterpain dan habbatussauda yang kami konsumsi mengalahkan itu semua. Hingga akhirnya kami sampai di bagian selatan Korea Selatan, Busan. Jarak Seoul Busan kira-kira seperti Jogja-Surabaya, sekitar 300-an km, tapi waktu tempuh yang kami lalui luar biasa singkat, hanya sekitar 2.5 jam dengan shinkansen nya korea, KTX. Sebelum berangkat, Fiona, sang pemilik Guesthome menyiapkan peralatan dan ransum di dapur untuk sarapan pagi kami. Seperti biasa kami bekal juga untuk di kereta, dan langsung ciaw ke Seoul Station. Pembelia KTX cukup mudah karena banyak counter, kami langsung beli untuk Seoul-Busan dan Busan-Daejeon (satu orang, total +/- 1 juta rupiah). Tiket seharga pesawat itu, kami simpan dengan hati-hati sambil menanti masuk kereta yang lokomotifnya berbentuk aneh itu.
Sebenarnya cukup banyak alternatif transport Seoul-Busan pp, yaitu Bus, pesawat, dan Kereta. Keretea sendiri ada beberapa jenis, kalau yang mirip di Indonesia namaya Mungunghwa, harga setengahnya KTX, tapi waktu tempuh juga 2 kali lebih lama, mirip dengan bus. Tapi kami megejar waktu dan penasaran dengan KTX, semoga Indonesia segera punya. Kabarnya sedang dibangun untuk Jakarta-Kabupaten Jabar. DI KTX sempet-sempetnya saya foto sama oppa army karena lagi booming Descendant of the Sun, tapi sayang blur dan oppa nya gak terlalu ramah, jadi males ambil lagi.
Btw, sesampainya Busan, entah mengapa kami semua sepakat, Busan bisa aja. Entah karena sedang mendung juga atau bagaimana, tapi kami udah lebih kesengsem sama Seoul, hahaha. Tapi jangan salah, kami cukup takjub dengan kota pelabuhan itu, banyak kapal kapal besar dan gedung-gedung industri tinggi menjulang. Kami juga senang karena di mana -mana banyak bunga bertebaran.
Perjalan kami menyusuri mungkin memang Busan agak sendu, karena kami juga ketinggalan bus. Jadi ceritanya, sesampainya di Busan Station, kami pesan BUTI (Busan City Tour) agar tidak nyasar-nyasar karena Busan tidak segampang Seoul untuk mencari Subway. Sebelum beli tiket BUTIyang kalau dirupiahkan sekitar 150ribu, kami menaruh backpack di loker stasiun, yang sangat banyak tersedia dan cukup mudah dan murah penitipannya.
Destinasi pertama kami adalah yang paling kami penasaran, yaitu Oryukdo Sky Walk. Saya lihat di running man sedangkan Tehe lihat di acara triplet Daehan Minguk Manse. Tapi setelah samapi sana,, alamaaakkk…. Keren sih, tapi sempit juga tempatnya, hahaha…
Di seberang Oryukdo sebenarnya ada Igidae Park, tapi bus terakhir jalur oryukdo tidak lama lagi akan menjemput jadi kami hanya sebentar. Padahal saat menunggu pergantian bus ke Haeundae lumayan membuang waktu juga. Di Haeunda pun kita disambut burung gagak “Koaaakkkk koaaak koaaak” krik krik, ternyata sepi dan bingung karena mendung, tapi bagaimanapun akhirnya sampai juga di destinasi lagu “Busan Vacance” yang dinyanyikan Haha n Skull. Pantainya luas dan sangat bersih, cocok untuk wisata keluarga bawa anak kecil lari-lari.
Setelah sholat di sekitar Busan Aquarium, kami lanjut ke Dongbaekseom dan Gwangali untuk melihat Gwangan Bridge malam-malam. Niat awal masih ingin naik bus BUTI itu, tapi apa daya, karena kita kelamaan ambil video di haeundae, kami ditinggal bus terakhir, hiks hiks. Jadilah kami sempat bingung untuk menuju dongbaeok seom, karena aslinya kami juga gak paham di sana ada apa, hanya karena ada di lagunya Haha jadi ya saya masukin itin. Ternyata Dongbaek seom itu ga terlalu jauh dari Haeundae, kami pun jalan kaki. Di tengah jalan lagi-lagi kami bertemu ahjussi uwak.. Wkwkkww.. Sepertinya di sana kami menjadi favorit ahjuma dan ahjusi (Oppa oppa malah nyuekin-yaiyalaaah, haha).
Hari sudah mulai menggelap, kami akhirnya beremu Gwangali juga. Di sana dapat terlihat Gwangan Bridge, cukup sebagai tombo karena kami tak sempat ke Banpo Bridge di Seoul yang ada rainbow fountainnya.
Setelah berpuas di Gwangali, di sinah saat puncak kelelahan karena kami gak nemu-nemu yang namanya subway. Internet tidak ada, orang-orang juga banyak yang gak bisa ditanyai bahasa Inggris. Jalaan dan jalaaaan sampai ujung lalu bertemu dengan bule yang udah tinggal di Busan lumayan, alhamdulillah. Dia memberi tahu arah subway terdekat yang ternyata masih jauh, lebih dekat bus stop,tapi dia juga gak yakin karena gak hafal. Dan Clara yang matanya sudah setengah hidup berkata,
“Hari ini ketoke aku rodo ‘weng’ deh. Entah apa arti wng itu tapi kami semua tertawa. Akhirnya kami sampai bus stop yang di list nya ada bus malam yang menuju Busan Station, Alhamdulillah.