Hidden Variables

We Learn not for School but for LIfe

Dinding Corat-Coret

with one comment

Kini ada salah satu tembok di Rumah Belajar KM-ITB Sangkuriang (Rubel) yang cukup eye catching dan memang benar-benar mencolok mata. Tembok ini kita namakan Dinding Corat-Coret. Kita beri embel-embel corat-coret karena pada dasarnya setiap orang di Rubel bebas untuk corat-coret apa saja disini. Bisa dalam bentuk tulisan, gambar, dll. Kita hanya mempunyai satu aturan, yaitu  tidak diperkenankan untuk menimpa coretan orang lain. Setelah tanggal 18 Januari 2009 dinding corat-coret ini diperkenalkan kepada anak-anak Rubel, dalam tempo hitungan jam dinding ini sudah mulai penuh. Ada yang menulis nama, cita-cita, ngegambar, propaganda, sekedar ngecat ekspresif, dll. Bagi saya hal ini mengindikasikan semua pihak di Rubel cukup responsif dan apresiatif dengan adanya tembok corat-coret ini. Dengan usia anak-anak Rubel yang masih sekitar sekolah dasar, mencoret tembok masih merupakan hal yang tidak lumrah dan tidak p0pulis. Hal ini terlihat dengan masih “sepinya” tembok ini dari coretan pada jam-jam pertama tembok ini kami perkenalkan. Tetapi ketika diberi pengertian bahwa tidak bermasalah untuk mengekspresikan apa yang mereka mau di tembok ini, maka tembok ini sudah mulai dipenuhi “coretan”.

seorang anak sedang mengisi dinding corat-coret

seorang anak sedang mengisi dinding corat-coret

Pada dasarnya adanya dinding corat-coret ini ditujukan agar anak lebih ekspresif. Mereka mungkin berpikir ulang, ketika di Rumah mereka ingin nyorat-nyoret tembok, bermain tanah, dll tapi takut dimarahi orang tua mereka. Tapi dengan adanya dinding ini, mereka difasilitasi untuk melakukan apa yang mereka tidak mungkin lakukan di Rumah mereka. Pada kenyataannya memang keluarga dan lingkungan mereka sangat membatasi mereka. Padahal bila ditarik lebih esensial, tidak ada hal negatif dari sekedar mencorat-coret tembok selain mencoba lebih ekspresif. Setiap anak pada dasarnya tidak perlu di bendung sifat ekspresifnya. Seperti kata salah satu iklan detergen “ga kotor ya ga belajar”. Setiap anak mempunyai kecenderungan untuk mengekspresikan apa yang mereka lakukan. mereka benar-benar tidak memperhatikan variabel luar sebagai acuan mereka. Perhatikan anak usia dini di lingkungan keluarga anda ketika mereka mempunyai pena atau alat gambar, mereka akan menggambar atau mencoret sesuatu hal yang tidak jelas dimana saja. Sebagian besar sikap orang tua akan melarang mereka untuk melakukan itu. Anak yang melakukannya justru dicap sebagai “anak bandel”. Sebuah larangan yang sangat lumrah, tetapi bagi seorang anak hal ini justru akan mengeneralisasikan larangan tersebut sebagai suatu pembatasan yang lebih besar lagi. Mereka akan merasa “dijeruji” dalam berkelakuan dan bersikap, dan suatu saat pembatasan inilah yang justru membuat mereka memberontak.

Mungkin anda akan berpikir apakah hal ini tidak dihawatirkan akan menggiring sikap ekstrim bagi anak-anak untuk mencoret tembok-tembok umum. Mereka hidup dalam lingkungan secara lebih luas dan terikat dengan norma atau nilai yang ada dalam masyarakatnya. Mereka akan tersadar bahwa ada sikap yang perlu dibatasi dan disesuaikan. Akan tetapi perlu diingat, dinding corat-coret ini memang diadakan untuk memfasilitasi mereka untuk lebih ekspresif dan sikap ekspresif ini mutlak diperlukan dalam perkembangan manusia. Bukan untuk menggiring mereka untuk bersikap vandalis.

Written by Anggia Riksa

January 21, 2009 at 5:50 pm

Posted in Pendidikan

Setiap Manusia itu Baik

with 5 comments

Pada dasarnya semua manusia itu baik, maka perkenankanlah setiap orang untuk berbicara dengan bebas. Tetapi pada dasarnya manusia juga lemah, maka berendah hatilah untuk senantiasa mendengarkan orang lain”

-Nurcholish Madjid-

Written by Anggia Riksa

January 3, 2009 at 3:41 pm

Posted in Kontemplasi

Irasionalitas Kopi dan Rokok

with 2 comments

Apakah yang dimaksud dengan nicotin dan caffein? Masyarakat umum begitu juga dengan saya mengenal nicotin dan caffein sebagai sebuah zat yang terkandung dalam rokok dan kopi. Konotasi kopi dan rokok terhadap gender laki-laki memang merupakan hal yang wajar dikarenakan mayoritas pengkonsumsi kopi dan rokok memang berasal dari kaum adam. Di Indonesia,kebiasaan merokok dan ngopi sudah menempati tingkat yang memprihatinkan. Di kota-kota besar bahkan di daerah, melihat seorang anak berseragam putih-biru bahkan anak di bawah usia itu merokok di tempat umum sudah merupakan fenomena yang lumrah. Perusahaan-perusahaan rokok seperti PT Sampoerna, PT Gudang Garam, PT Djarum merupakan perusahaan besar di Indonesia. Ribuan kepala keluarga di pulau Jawa banyak yang menggantungkan hidupnya dari pertanian tembakau dan tukang linting rokok jenis kretek.

PERINGATAN PEMERINTAH

MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN

Peringatan pemerintah di atas selalu tercantum dalam sebuah bungkus rokok maupun dalam iklan rokok yang bersifat implisit. Akan tetapi, peringatan tersebut tidak pernah menjadi sebuah kebijakan dengan sifat larangan pemerintah karena berbagai dilema baik pada tingkat perekonomian maupun kultural. Lain hal nya dengan kopi yang mengandung caffein, caffein dikonotasikan sebagai obat anti ngantuk. Saya beri kata “konotasi” karena sayapun tidak tahu apakah hal tersebut sudah terbukti secara empiris atau belum. Tetapi kopi tidak terlalu berbahaya bila tidak dikonsumsi secar berlebihan. Dalam sebuah artikel yang saya baca menyatakan bahwa kopi tidak akan berakibat buruk apabila tidak dikonsumsi melebihi tujuh gelas perhari. Konotasi kopi sebagai teman bergadang dalam masyarakat kita merupakan hal yang dikenal.

Sebagai seorang masyarakat biasa yang hidup dalam lingkungan maskulin, keseharian sayapun tidak jauh dari kebiasaan merokok dan ngopi. Saya mulai intens untuk merokok dan menikmati kopi sejak menyandang title mahasiswa. Bagi saya sebetulnya merupakan sebuah prestasi sendiri untuk “telat merokok” mengingat saya tumbuh dalam lingkungan keluarga perokok dan sudah bergaul dengan teman-teman perokok sejak SMP. Setiap pagi saya saya punya ritual sendiri dengan pergi ke warung untuk membeli setidaknya tiga batang rokok dan sebungkus kopi. Bagi saya merokok dan ngopi masih merupakan kegiatan yang irasional. Saya tahu bagaimana dampak rokok dan kopi berlebihan, tetapi saya memutuskan untuk tetap merokok dan ngopi. Saya masih menggunakan kata “memutuskan” karena saya tahu bahwa ini mutlak pilihan yang saya ambil. Untuk berhenti merokok dan ngopi bisa datang dengan sebuah tekad yang kuat. Saya tidak percaya hanya karena sebuah zat yang mengendap dalam tubuh saya dapat mempengaruhi saya dalam perilaku sosial saya dan terhadap setiap keputusan saya. Intinya saya tidak percaya bahwa sebuah konsekuensi fisis dapat mempengaruhi sesuatu hal yang harusnya merupakan konsekuensi sosial. Tapi mencari tekad inilah yang sulit dan memerlukan intervensi eksternal yang memungkinkan.

Dulu dan mungkin sampai sekarang saya melihat ketika ibu saya memberikan sebuah “tips” untuk pekerja kasar entah itu tukang angkut barang dan lain-lain selalu menggunakan kalimat “terima kasih dan ini tambahan buat rokok”. Ketika rumah sedang direnovasi atau dicat ulang, maka sajian wajib yang tersedia untuk pekerja adalah rokok dan kopi. Ketika tukang becak sedang menunggu penumpang, maka kegiatan yang sering saya lihat selain mereka tidur di beca adalah merokok dan ngopi. Begitu pula yang dilakukan para supir angkot, preman pasar, calo terminal, waria di taman, tidak dapat lepas dari merokok dan ngopi. Dulu saya sempat berpikir, kenapa para pekerja kelas bawah itu tidak memanfaatkan uangnya untuk membeli makanan atau pakaian daripada sekedar untuk membeli rokok dan kopi. Mereka dengan pendapatan pas-pasan bahkan kurang hanya menghabiskan uang mereka yang dapat mereka tabung untuk sekedar kopi dan rokok. Tetapi saya sekarang dapat memahami mereka tetapi belum bisa menjelaskan. Ketika suatu malam uang di kantong tinggal empat ribu dan dalam keadaan kelaparan. Saya memutuskan untuk pergi ke warung membeli dua batang samsoe dan dua bungkus kopi susu daripada untuk membeli roti atau mie.

Written by Anggia Riksa

December 24, 2008 at 7:25 am

Posted in Humaniora

KAMUS REALITA DUNIA

with one comment

Suatu pagi dibulan Ramadhan aku terbangun oleh gedoran pintu kamar. Mata masih merah dengan pandangan berbayang, rambut acak-acakan dan masih berbalut sarung. Tiba-tiba seorang dengan rambut sebahu dan senyum yang tak pernah kulupakan berada dalam jangkauan pandang. Ternyata itu kamu, seorang yang beberapa tahun hilang ditelan bumi. Dulu aku ke rumah mu, tapi orang tua mu pun tak tahu dimana keberadaanmu. Dulu aku ke sekolahmu, tapi teman-temanmu hanya tahu kamu yang aktivis sekolah menghilang tanpa memberi kabar.

Beberapa saat aku hanya bisa bengong, entah karena pikiran masih melayang atau memang tak menyangka bisa bertemu kamu di Rumah ini. Kemana saja kamu selama ini adalah pertanyaan pertamaku. Aku hanya tahu dari orang tuamu bahwa sebuah pertengkaran hebat antara kau dan ayahmu adalah pemicu kau kabur dari rumah. Aku hanya tahu dari teman-temanmu bahwa kau sama sekali tidak pamit dari mereka dan kau keluar sekolah tanpa alasan. Ternyata selama ini kamu perpindah-pindah dari Tangerang sampai ke Surabaya tanpa suatu kejelasan dan dengan satu tujuan yaitu menghindar dari duniamu di masa lalu.

Dulu kamu adalah seorang anak yang cerdas, berpenampilan menarik dan populer di sekolah. Dulu aku tahu bahwa kamu punya permasalahan keluarga, tapi aku tahu bahwa permasalahan itulah justru yang membuat kita bisa bertemu dan akrab. Tapi aku tidak menyangka bahwa permasalahan “kecil” itu adalah alasan yang membuatmu memutuskan untuk menghancurkan masa depanmu. Aku ingin meyakinkanmu bahwa “PERMASALAHAN YANG KAMU HADAPI ADALAH SEBUAH PERMASALAHAN KECIL !!!”. Bahkan aku dengan percaya diri dapat mengatakan “permasalahan yang aku hadapi jauh lebih berat daripada yang kamu hadapi !!!”, hanya karena begitu “culasnya” aku sehingga kamu tidak tahu dan tidak bisa mengambil hikmah dariku. Semua orang di dunia ini mempunyai masalah, begitu juga dengan aku. Kamu tidak bisa menilai kebahagiaan seseorang hanya dengan melihat dari senyum mereka. Aku ulangi, semua orang di dunia mempunyai permasalahannya masing-masing begitu juga dengan aku. Kamu telah mengambil sebuah titik ekstrim karena suatu hal yang “sepele”. Resiko yang kamu ambil tidak sepadan dengan jalan yang kamu putuskan. Memang, sekolahmu tidak mengajarkanmu untuk menghadapi duniamu. Pelajaran sekolahmu tidak ada sangkut pautnya dengan permasalahanmu. Tapi disana kamu bisa mendapatkan banyak teman. Seorang yang akan menemanimu ketika kamu berada pada titik terendah. Kenapa selama ini kamu tidak tahu atau tidak menyadari akan hal itu. Kamu harus tahu, itulah satu-satunya manfaat sekolahmu.

Sekarang apa yang kamu rasakan setelah melakukan hal itu. Sorot matamu menjawab bahwa kamu hanya bisa menyesal. Sekarang aku hanya bisa meyakinkanmu bahwa kamu tidak perlu menyesali semua itu. Kata “menyesal” hanya ada dalam kamus akhirat, tapi tidak ada kata itu dalam kamus realita dunia. Rekonstruksi kembali hidupmu, tetap optimis dengan masa depanmu, optimalkan kecerdasan yang dulu kamu perlihatkan kepadaku, kembalilah ke keluargamu, carilah teman sebanyak-banyaknya, dan pelajarilah masyarakatmu. Sekarang aku belum bisa membantumu secara konkret, tapi aku masih bisa berdoa untukmu. Di akhir aku ingin menekankan bahwa permasalahanmu adalah permasalahan kecil.

Written by Anggia Riksa

December 23, 2008 at 2:44 am

Posted in Kontemplasi

Lupa Lagi-lagi !!!

with 3 comments

Suatu hari pas gw masih kelas 2 SMA,

Bu Aat :

Sekarang PR Akuntansi nya  ibu nilai langsung ya anak-anak !!!

Kemudian bu Aat (maaf bu pake nama sebenernya) menghampiri tiap-tiap meja murid-murid, dan tibalah giliran meja gw…

Gw :

Bu, maaf buku saya ketinggalan tadi bu di Rumah. Padahal udah saya kerjakan bu !! (sambil mengumbar senyum)

Bu Aat :

ah…anggia mah ketinggalan terus atuh. Beneran nih udah di kerjain. Minggu depan bawa ya!!!

Gw :

Mudah-mudahan bu, Kalo saya tidak lupa lagi,,,

Obrolan di atas cuman salah satu bualan yg gw lakuin selama gw sekolah. Semua orang di kelas tahu, kalau gw salah satu orang paling malas buat ngerjain namanya PR, LKS, buku agenda Ramadhan, dan tugas-tugas rumah lainnya. Modul yang paling mudah di terima dalam bualan gw adalah modus lupa. Ya…iya lah…puasa aja gak batal kalau lupa, apalagi cuman masalah gak ngerjain PR. Tuhan aja memaafkan kalau makhluknya lupa, apalagi manusia. He..he..he..mungkin itu kali ya yang bikin bu Aat gak pernah bener-bener marahin gw, padahal bukan sekali dua kali gw gak ngerjain PR. Dia percaya gw sah-sah aja sebetulnya, berhubung nilai Akuntansi gw emang gak pernah jelek-jelek amat.

Tapi “lupa” yang dulu cuman jadi modus kebohongan, kini JADI KENYATAAN BUNG. Gw bener-bener jadi orang pelupa, limpeuran, ceroboh, jeung sajabana.

Pernah suatu kali dalam keadaan bulan purnama di tengah malam, gw bener-bener udah capek dan pulang ke kostan berjalan kaki (Lupa lagi gw pas itu abis ngapain). Tiba di kostan gw kaget, motor gw ko ga ada ya?!!. Arghh,,,,gw inget kalo tadi pagi gw ke kampus bawa motor dan sekarang pasti masih di tempat parkir. Terpaksalah dalam keadaan setengah molor, kaki lek-lok, gw kembali berjalan ke kampus tercinta buat ngejemput motor tersayang.

Kasus lupa yang paling sering dan bisa ngerugiin baik gw maupun orang sekitar gw adalah kehilangan barang tanpa jejak. Kehilangan pulpen, duit serebu, gunting, dan barang-barang kecil lain ga perlu ditanyakan karena  emang udah ga aneh. Tapi gw pernah kehilangan tas dan gw bener-bener ga tahu itu tas terakhir posisinya dimana, hilangnya kapan, apalagi sampai siapa yang ngambil ga perlu ditanyain. Untung itu tas cuman ada isi buku dan beberapa lembar kertas. Tapi tetep aja nyesek soalnya bener-bener tas satu-satunya.

Oia…ada satu kasus “lupa” yang rada heboh di keluarga. Kira-kira terjadi pas gw masih SD. Suatu hari gw mau pergi ngaji sekitar jam 2 sore. Di rumah gw cuman ada sodara gw dari babeh, beberapa tahun lebih tua dari gw lah. Berhubung gw liat seragam ngaji gw kusut, gw inisiatif buat nyetrika. Ah,,,tapi gw haus maka turunlah gw ke dapur (kamar gw di lantai 2). Pas gw lewat di depan TV yang emang masih nyala, gw liat ada film kartun (gw juga lupa lagi judulnya apa) yang seru maka gw nyempet-nyempetin buat duduk manis dulu di depan TV. Beberapa menit kemudian tiba-tiba listrik rumah gw ngejepret, gw cek keluar tapi saklarnya tetep ga mau pindah ke posisi on. Tiba-tiba pertolongan itu datang, masya Allah lupa kalo setrika tadi nyolok ke listrik dan ngacir-lah gw ke lantai atas. Wuih…lantai atas rumah gw yang berbahan kayu terbakar dan spontan gw ngebangunin sodara gw yang berada di kamar sebelah. Dasar setrika jadul, belom punya sistem kontrol otomatis trus tambah lagi kebegoan setrika yang udah gw taruh dalam keaadaan siap aksi. Untung api belom terlalu gede dan 2 ember aja cukup buat madamin tuh api. Yang tersisa adalah dag-dig-dug nunggu si Emak balik ngajar, apalagi gw pernah berbuat hal serupa sebelumnya yang menghasilkan sarung babeh bolong.

Yah,,,itulah beberapa kisah si pelupa ini. Dengan pelupa-nya ini, sampe-sampe emak gw pun bilang matakna, istighfar atuh. Begitulah, kayaknya gw emang kurang istighfar. Do’ain aja supaya kelak gw gak lupa kamar istri gw yang mana. Ntar nyasar ke kamar mertua bisa berakibat pidana lagi. Argh…tidak…

Written by Anggia Riksa

December 18, 2008 at 7:35 pm

Posted in Kontemplasi

BUBARKAN PSSI

with 3 comments

Pernahkah masyarakat luas mengetahui berapa uang yang berputar dalam tubuh organisasi olah raga yang dinamakan PSSI. Uang ini berputar untuk penyelenggaraan turnament tahunan, pembinaan di luar negeri, operasional organisasi, dll. Pernahkan mempertanyakan kenapa posisi organisasi bernama PSSI diperebutkan banyak kalangan.

Tidak perlu sebuah survey dengan metode ilmiah yang sangat canggih untuk membuktikan bahwa sepak bola merupakan olah raga paling digemari di dunia. Kalau anda pergi ke daerah pelosok di negeri antah berantah ini pasti anda masih bisa melihat anak-anak kecil bertelanjang kaki menendang bola di lapangan-lapangan sawah kering, halaman rumah, lapangan sekolah reyot tanpa pagar, dll. Kalau sore hari anda melintasi lapangan parkir barat kampus ITB anda melihat anak-anak dengan sepatu seadanya menendang bola plastik di lapangan rumput bertuliskan “dilarang menginjak rumput” . Atau silahkan tanya kepada para pengelola lapangan futsal yang sangat menjamur di kota Bandung berapakah penghasilan mereka selama sebulan.

Suatu hal yang sangat wajar jika perhatian jutaan orang tertumpah pada sepak bola, maka berbagai hal yang berkaitan dengan bidang ini merupakan suatu hal yang strategis dan menguntungkan. Apakah kita pernah bertanya apakah seorang Taksin Sinawatra, Abramovich, Malcolm Glazer, dan Raja-raja Timur Tengah itu benar-benar mengucurkan dana jutaan dollar untuk sebuah hobi.  Apakah tidak janggal ketika perusahaan-perusahaan rokok berlomba-lomba untuk mensponsori orang-orang yang tidak merokok. Apakah logis ketika seorang politikus yang saya curiga tidak tahu-menahu apa namanya offside berani berkata INDONESIA TAHUN 2000 SEKIAN MASUK PIALA DUNIA!!!.

Sekarang beralih ke pembahasan awal, apa untungnya mempertahankan formasi yang ada sekarang dalam tubuh PSSI. Berikut adalah apa yang bisa dilihat kasat mata dari PSSI.

  1. Organisasi yang dikendalikan di balik penjara. Pak RT saja bisa kurus mengurusi sekitar 40 kepala keluarga, apalagi PSSI yang merupakan organisasi nasional berani diurus di balik penjara.
  2. Kompetisi nasional tidak bisa dibedakan dengan kompetisi tingkat antar kampung. Saya sempat tidak terbayang jikalau Highbury merupakan salah satu stadion milik salah satu klub di Indonesia. Jarak penonton dan pemain yang hanya dalam jangkauan beberapa meter sangat memungkinkan kalau ada pemain tamu dihajar salah satu penonton. Ingat penyelenggaraan kompetisi merupakan kewajiban PSSI.
  3. Banyak mengeluarkan keputusan instan. Misalkan untuk mengirimkan tim U-20 ke negeri Belanda dan Argentina. Kenyataannya dimanakah para pemain hasil didikan Belanda dan Argentina tersebut. Tim muda Indonesia bisa membusungkan dada pada event Piala Danone, tetapi setelah para pemain beranjak dewasa mereka tidak bisa dibedakan dengan pemain lainnya yang emosional dan kasar. Permasalahannya putusnya pembinaan pemain muda menjadi tanggung jawab siapa kalau bukan PSSI.
  4. Kebijakan yang tidak konsisten tetapi ambisius. Masih ingatkah anda dengan apa yang dinamakan Liga Super Indonesia (LSI) dengan standar bla-bla-bla (stadion standar internasional, pelatih bersertifikat, dll) malah hanya menjadi liga dengan standar blah-bleh-bloh.

Itulah yang bisa kita lihat dengan pengambil kebijakan terbesar dalam keberlangsungan sepak bola nasional kita. Untuk apa mempertahankan PSSI selain untuk melatih kesabaran kita. Tapi ini tidak tepat juga bila dinamakan kesabaran, yang tepat adalah kedangkalan rohani untuk tidak peka.

Written by Anggia Riksa

December 16, 2008 at 4:13 pm

Posted in Humaniora

Pesantren Kilat

leave a comment »

Suatu hal yang paling diingat dari pemerintahan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yaitu pengeluaran Dekrit Presiden dan libur penuh selama bulan Ramadhan. Bila mengingat libur bulan ramadhan maka muncul ingatan kembali dengan sebuah istilah yang tiba-tiba populer saat itu yaitu Pesantren Kilat.

Waktu itu kalau tidak salah saya masih duduk di bangku kelas 2 SMP (tahun 2001). Orang tua dan beberapa keluarga menyuruh saya dan dua sepupu saya yang dua tahun lebih tua untuk mengisi libur puasa dengan belajar di sebuah pesantren tradisional di Cililin daerah selatan kabupaten Bandung. Menarik, karena pesantren kilat yang kami jalani tidak seperti pesantren kilat yang biasa saya kenal. Saya masuk dalam pesantren “beneran”, ada Pak Kiayi dan Santri, ada asrama santri (istilahnya kobong), penuh kegiatan dengan agenda keagamaan. Sebagian besar santri yang saya temui tidak mempunyai latar belakang pendidikan yang bagus dalam pendidikan formal dan sebagian dari mereka benar-benar memutuskan bahwa pendidikannya ditempuh di jalur Pesantren. Kami benar-benar akan masuk dalam suatu lingkungan yang berbeda dari lingkungan masing-masing.

Kemudian masuklah kami ke pesantren dengan diantarkan oleh kakek yang kebetulan salah satu tokoh masyarakat juga disana dan “dititipkan” ke Pak Kiayi. “Pak, punten pang didikeun we ieu pun incu sabulan ieumah” mungkin itu kira-kira ucapan kakek saya ke pak kiayi. Sebetulnya dibandingkan dengan kedua sepupu saya modal saya untuk belajar di pesantren jauh lebih baik. Dengan sedikit modal tajwid, hafal beberapa surat juz-amma, fasih dalam surat Yasin, pernah belajar kitab kuning safinah, jurumiyah, beberapa bacaan-bacaan umum seperti ayat qursi, do’a-do’a sehari-hari menjadi sedikit selling point saya bila dibandingkan dengan kedua sepupu saya. Sementara kedua sepupu saya memang di kenal sebagai bad boys dalam lingkungan keluarga dan posisi saya disitu sebagai good boy. Bahkan salah satunya sampai harus berpindah-pindah sekolah untuk menamatkan SMA-nya dimulai BPI 2 Bandung terakhir lulus di sebuah SMA di daerah Ragunan.

Tidak banyak yang saya ingat dengan apa yang saya dapat dari pesantren kilat tersebut. Hampir setiap pagi-pagi kami harus berjalan sekitar satu kilometer karena kami memutuskan untuk tinggal di rumah kakek dan hanya sekali-kali tinggal di kobong untuk ikut sama-sama shalat subuh berjamaah. Shalat subuh jadi agenda yang mengawali hari tapi santri yang tinggal di kobong biasa untuk mengaji terlebih dahulu. Satu kebiasaan yang baru saya lihat adalah “ritual” untuk membaca ayat qursi ke empat arah mata angin sehabis shalat (saya lupa isya atau subuh), saya tidak pernah bertanya ke pak kiayi atau santri-santri disana mengenai apa tujuan dan dasarnya tapi ibu saya pernah bilang kalau itu mungkin sebagai sebuah do’a keselamatan saja. Salah satu santri yang paling akrab adalah salah satu anaknya pak kiayi. Tapi bayangan saya mengenai sosok anak seorang kiayi berbeda dengan apa yang saya lihat, agenda rutin yang biasa dilakuin adalah ngerokok bareng (mungkin itu yang membuat kami akrab, tapi saya tidak merokok waktu itu). Santri-santri yang lain memang segan dengan anak pak kiayi ini, selain posisi dia sebagai anak pak kiayi yang membuat orang segan adalah desas-desus dia orang yang paling “jago” berkelahi dan punya semacam ilmu kebal (entah ilmu apa ini, yang pasti saya belum pernah melihatnya langsung). Padahal cuman sekali saya ngeliat langsung dia berkelahi, waktu itu sehabis jumatan kita ngadu bola dengan anak-anak santri pesantren lain dan dia terlibat perkelahian. Waktu itu sama sekali saya tidak melihat adanya pertunjukan seperti di film si Pitung apalagi yang saya lihat di film Dragon Ball. Tapi dibalik “kenakalannya” dia memang rajin shalat, tidak minum alkohol, dan enak didengar kalau membaca ayat Al-Quran. Pergaulan dengan para santri pun masih enak untuk diikuti, tema obrolan kami tidak jauh-jauh dari obrolan mengenai santri perempuan. Walaupun asrama berbeda antara laki-laki dan perempuan tapi sekali-kali ketika pemberian materi harus dilakukan Pak Kiayi secara langsung baik materi aqidah, akhlak, piqih maupun tauhid maka laki-laki dan perempuan berada dalam satu ruangan besar dan tidak ada hijab disana. Walaupun masih terkendali tapi saya bisa tahu mana yang jadi objek obrolan santri-santri laki-laki.

Dari segi fisik, yang saya ingat adalah santri-santri harus mengambil wudlu di sebuah kolam besar bersama-sama dan dibelakang pesantren ada pekuburan. Saya ingat kerena satu sepupu saya sangat penakut dengan hal-hal yang berbau mistis padahal sering para kami dan temen-temen lain ngaliwet bareng di deket kuburan dengan modal ikan asin, beras hasil patungan, bahan sambel yang dipetik sendiri, daun pisang untuk alas nasi, dan tungku yang dibuat sendiri (istilahnya hawu). Asrama pria pun sebenarnya jauh dari kata layak. Jangan heran kalau anak pesantren familiar dengan istilah tumbila, koreng, dll. Karena memang fasilitas dibangun dengan modal dari santri yang berasal dari kalangan ekonomi rendah dan sangat jarang berasal dari hibah apalagi pemerintah.

Dari kesemua kegiatan yang tampak remeh tersebut sebetulnya saya meyakini bahwa itu membantu saya dalam pembentukan pribadi. Semua orang dapat bisa mendapatkan porsi yang berbeda dari apa yang mereka alami. Tapi saya merasakan bahwa lingkungan yang dialami di pesantren tradisional sangat humanis.

Written by Anggia Riksa

December 16, 2008 at 12:10 pm

Posted in Pendidikan

Gedankenexperiment

leave a comment »

Gedankenexperiment berasal dari bahasa German yang berarti eksperimen atau percobaan pikiran. Pengertian ini mengacu kepada percobaan – percobaan yang hanya dilakukan dengan mengimajinasikan percobaan tersebut tanpa melakukannya secara empiris.

Dalam fisika, eksperimen pikiran merupakan suatu hal yang lumrah untuk dilakukan. Mengingat keterbatasan alat eksperimen yang mungkin untuk bisa dilakukan seorang ilmuwan, maka pendekatan imajinatif juga sah-sah saja untuk  dilakukan. Salah satu contoh terkenal dalam fisika yaitu Schrodinger Cat (kucing Schrodinger). Pada awalnya adalah sebuah anekdot yang dikemukakan oleh Schrodinger untuk menyerang para fisikawan dengan mazhab Probabilistik. Seperti diketahui bahwa Schrodinger, Einstein, merupakan fisikawan mazhab deterministik yang tidak akan pernah sepakat dengan mazhab probabilistik yang terkenal dengan born interpretation nya. Padahal sampai sekarang tidak dapat dipungkiri bahwa perhitungan alam semesta hanya bisa dilakukan dengan pendekatan kemungkinan (probabilitas) dan kepastian perhitungan (deterministik) hanya sesuai untuk fisika klasik. Contoh lain yang saya baca pada sebuah buku sains misalkan jika kita mempunyai seribu planet dan meremas seribu planet tersebut menjadi sebesar kelereng, maka kita dapat membuat sebuah mesin waktu. Hal ini dikarenakan adanya kelengkungan ruang yang diakibatkan adanya distribusi energi (boleh dikatakan massa) yang sangat tinggi pada suatu titik.

Dalam kenyataannya, diperlukan suatu daya nalar yang tinggi dan pondasi teoritis bila kita ingin melakukan imajinasi sehingga bisa dikatan Gedankenexperiment. Saya pikir, pendekatan seperti ini merupakan hal yang sangat relevan untuk banyak dilakukan para ilmuwan di negara ini untuk mensiasati segala keterbatasan yang dimiliki. Maka, untuk pertama-tama daya imajinasi merupakan suatu hal yang mutlak tidak boleh dibatasi. Kedua, tidak perlu mengkritik para ilmuwan pribumi dengan alih-alih “bermain dengan suatu hal yang tidak membumi”.

“diakhir tulisan saya ingin mencoba bermain-main dengan eksperimen pikiran. Saya bayangkan jika seluruh laki-laki di Indonesia ditanya apakah anda memperhatikan tingkat pendidikan ketika mencari seorang calon Istri. Maka sebagian besar laki-laki Indonesia akan menjawab saya tidak mempertimbangkan tingkat pendidikan calon istri saya yang penting adalah istri saya baik, pengertian, dan sholehah. Kesimpulan yang saya ambil adalah berarti pendidikan di Indonesia gagal karena rakyatnya sendiri tidak percaya bahwa pendidikan bisa membawa orang menjadi seorang yang baik, pengertian dan sholeh. he..he…punten ah bercanda”

Written by Anggia Riksa

December 2, 2008 at 4:44 pm

Posted in Sains

Design a site like this with WordPress.com
Get started