Posted in Pemrograman Dasar

Pengenlan Tipe Data


Tipe Data dapat dikelompokkan menjadi dua macam:

    1. Tipe Dasar
      Tipe ini sudah ada sejak zaman dahulu (predefined data type). Tipe data dasar adalah tipe data yang sudah disediakan oleh program sehingga programmer bisa langsung menggunakannya.
      Yang termasuk ke dalam tipe dasar adalah:

      • Bilangan lojik (boolean) : adalah tipe data yang hanya bernilai benar (true) atau salah (false).
      • Bilangan bulat : adalah bilangan yang tidak mengandung pecahan desimal.
        Pascal Rentang Nilai C byte 0 … 255 unsigned char shortint -128 … 127 signed char word 0 … 65535 unsigned int integer -32768 … 32767 int, short int longint -2147483648 … 2147483647 long int

Continue reading “Pengenlan Tipe Data”

Posted in Guru Penggerak

Koneksi Antar Materi Modul 3.3 Pengelolaan Program yang Berdampak Positif pada Murid


Perasaan saya setelah mempelajari modul ini, saya menjadi memahami tentang Pengelolaan Program yang Berdampak Positif pada Murid. Saya sepakat bahwa murid-murid kita dapat melakukan lebih dari sekedar menerima instruksi dari guru. Mereka secara alami adalah seorang pengamat, penjelajah, penanya, yang memiliki rasa ingin tahu atau minat terhadap berbagai hal. Lewat rasa ingin tahu serta interaksi dan pengalaman mereka dengan orang lain dan lingkungan sekitarnya, mereka kemudian membangun sendiri pemahaman tentang diri mereka, orang lain, lingkungan sekitar, maupun dunia yang lebih luas. Dengan kata lain, murid-murid kita sebenarnya memiliki kemampuan atau kapasitas untuk mengambil bagian atau peranan dalam proses belajar mereka sendiri.

Agar kita dapat menjadikan murid sebagai pemimpin bagi proses pembelajarannya sendiri, maka kita perlu memberikan kesempatan kepada murid untuk mengembangkan kapasitasnya dalam mengelola pembelajaran mereka sendiri, sehingga potensi kepemimpinannya dapat berkembang dengan baik. Peran kita adalah mendampingi murid agar pengembangan potensi kepemimpinan mereka tetap sesuai dengan kodrat, konteks dan kebutuhannya. Mengurangi kontrol kita terhadap mereka.

Continue reading “Koneksi Antar Materi Modul 3.3 Pengelolaan Program yang Berdampak Positif pada Murid”

Posted in Guru Penggerak

Aksi Nyata Modul 3.2. Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya


Sebagai sebuah komunitas, sekolah dapat memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya sama seperti komunitas pada umumnya. Pemanfaatan sumber daya yang dimiliki sekolah dapat memanfaatkan konsep yang digunakan pada pendekatan pengembangan komunitas berbasis aset.

Aksi nyata Modul 3.2. Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya.

Posted in Guru Penggerak

Koneksi Antar Materi Modul 3.2. Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya


Seorang pemimpin pembelajaran akan berperan sebagai fasilitator dalam menggerakkan dan memimpin komunitasnya. Seorang pemimpin pembelajaran akan menggunakan metode Asset-Based Community Development (ABCD) dalam Pengelolaan Sumber Daya. Pendekatan PKBA menekankan pada nilai, prinsip dan cara berpikir mengenai dunia. Pendekatan ini memberikan nilai lebih pada kapasitas, kemampuan, pengetahuan, jaringan, dan potensi yang dimiliki oleh komunitas. Dengan demikian pendekatan ini melihat komunitas sebagai pencipta dari kesehatan dan kesejahteraan, bukan sebagai sekedar penerima bantuan. Pendekatan PKBA menekankan dan mendorong komunitas untuk dapat memberdayakan aset yang dimilikinya serta membangun keterkaitan dari aset-aset tersebut agar menjadi lebih berdaya guna. Pendekatan PKBA berfokus pada potensi aset/sumber daya yang dimiliki oleh sebuah komunitas, dimana selama ini komunitas sibuk pada strategi mencari pemecahan pada masalah yang sedang dihadapi.  

Continue reading “Koneksi Antar Materi Modul 3.2. Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya”

Posted in Guru Penggerak

Rukol Modul 3.2. Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya


Sebagai sebuah komunitas, sekolah dapat memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya sama seperti komunitas pada umumnya. Pemanfaatan sumber daya yang dimiliki sekolah dapat memanfaatkan konsep yang digunakan pada pendekatan pengembangan komunitas berbasis aset.

Kita dapat meminjam kerangka dari Green dan Haines (2016)yang memetakan 7 aset utama, atau di dalam buku ini disebut sebagai modal utama. Tujuh modal utama ini merupakan salah satu alat yang dapat membantu menemukenali sumber daya yang menjadi aset sekolah. Dalam pemanfaatannya, ketujuh aset ini dapat saling beririsan satu sama lain. Berikut ini adalah hasil analisa dan diskusi kelompok 2, mengenai 7 aset utama yang dimiliki oleh Kecamatan Bogor Selatan.

Hasil Diskusi Kelompok 2. Ruang Kolaborasi Modul 3.2.

Posted in Guru Penggerak

Koneksi Antar Materi – Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan sebagai Pemimpin


Filosofi Ki Hajar Dewantara dengan prinsip Pratap Triloka (Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani) menekankan pentingnya pemimpin dalam pendidikan yang mampu memberikan contoh, membimbing, dan mendukung siswanya. Prinsip ini berhubungan langsung dengan penerapan pengambilan keputusan oleh seorang pemimpin, di mana keputusan yang diambil harus mencerminkan keteladanan, kemampuan memotivasi, dan memberi ruang bagi murid untuk berkembang.

Nilai-nilai yang tertanam dalam diri seorang pemimpin berpengaruh besar terhadap keputusan yang diambil. Pengambilan keputusan tidak hanya berdasarkan logika atau fakta, tetapi juga berakar pada prinsip-prinsip moral yang kita yakini. Dilema etika sering kali muncul dalam konteks pendidikan, dan pemimpin harus memiliki landasan moral yang kuat untuk memilih solusi yang adil dan tepat.

Materi tentang pengambilan keputusan sangat erat kaitannya dengan kegiatan coaching (bimbingan), di mana fasilitator atau pendamping berperan dalam membantu kita mengevaluasi keputusan yang telah diambil. Sesi coaching memberi ruang untuk refleksi lebih dalam dan memungkinkan kita menguji efektivitas serta keabsahan keputusan yang dibuat, terutama dalam menghadapi situasi dilematis atau etis.

Kemampuan guru untuk mengelola aspek sosial-emosional juga sangat mempengaruhi keputusan yang diambil, terutama dalam situasi dilematis. Pengambilan keputusan yang efektif dalam konteks pendidikan menciptakan lingkungan yang positif dan kondusif, di mana guru dan murid merasa aman dan dihargai.

Studi kasus yang berfokus pada dilema moral menunjukkan bahwa pengambilan keputusan etis kembali pada nilai-nilai pribadi dan profesional yang dianut oleh seorang pendidik. Keputusan yang tepat akan membentuk lingkungan belajar yang inklusif, menghargai perbedaan, dan mendukung pengembangan potensi siswa.

Tantangan terbesar dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan dilema etika sering kali terkait dengan perubahan paradigma dalam lingkungan kita. Paradigma lama mungkin berfokus pada otoritas mutlak, sementara paradigma baru menekankan kebebasan dan otonomi siswa. Hal ini berpengaruh pada bagaimana seorang pemimpin pendidikan memutuskan strategi pembelajaran yang sesuai dengan potensi dan kebutuhan murid.

Pengambilan keputusan yang tepat dan bijaksana oleh seorang pemimpin pembelajaran memiliki pengaruh besar terhadap masa depan siswa. Setiap keputusan yang diambil, baik dalam kurikulum, manajemen kelas, maupun kebijakan pendidikan, berdampak pada cara siswa berkembang secara akademis dan personal.

Pemahaman konsep-konsep dalam modul ini, seperti dilema etika, bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan keputusan, memberikan pandangan yang lebih terstruktur dan mendalam tentang bagaimana mengatasi situasi dilema etis dengan pertimbangan matang. Modul ini memperkuat kemampuan refleksi dalam pengambilan keputusan yang sebelumnya mungkin dilakukan secara intuitif.

Mempelajari modul ini memberikan dampak signifikan terhadap cara pengambilan keputusan. Sebelum memahami konsep-konsep ini, keputusan yang diambil mungkin lebih didasarkan pada insting atau pengalaman pribadi, tetapi setelah mempelajarinya, ada kesadaran yang lebih tinggi akan proses yang sistematis dan terukur dalam menentukan pilihan.

Bagi saya, modul ini sangat penting, baik sebagai individu maupun sebagai pemimpin. Pembelajaran ini memberikan wawasan baru tentang pentingnya etika dalam pengambilan keputusan dan menguatkan kemampuan untuk membuat keputusan yang tepat, adil, dan berdampak positif dalam konteks pendidikan.

Secara keseluruhan, modul ini mengajarkan bahwa pengambilan keputusan yang efektif dalam pendidikan membutuhkan keseimbangan antara logika, prinsip moral, dan kesadaran sosial, serta dukungan refleksi melalui bimbingan coaching.

Posted in Guru Penggerak

Koneksi Antarmateri Modul 2.3. Coaching untuk Supervisi Akademik


Coaching didefinisikan sebagai sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee (Grant, 1999). Sedangkan Whitmore (2003) mendefinisikan coaching sebagai kunci pembuka potensi seseorang untuk untuk memaksimalkan kinerjanya. Coaching lebih kepada membantu seseorang untuk belajar daripada mengajarinya. Ki Hadjar Dewantara menekankan bahwa tujuan pendidikan itu ‘menuntun’ tumbuhnya atau hidupnya kekuatan kodrat anak sehingga dapat memperbaiki lakunya. Oleh sebab itu keterampilan coaching perlu dimiliki para pendidik untuk menuntun segala kekuatan kodrat (potensi) agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia maupun anggota masyarakat. Proses coaching sebagai komunikasi pembelajaran antara guru dan murid, murid diberikan ruang kebebasan untuk menemukan kekuatan dirinya dan peran pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan memberdayakan potensi yang ada agar murid tidak kehilangan arah dan menemukan kekuatan dirinya tanpa membahayakan dirinya. 

Dalam relasi guru dengan guru, seorang coach juga dapat membantu seorang coachee untuk menemukan kekuatan dirinya dalam pembelajaran. Pendekatan komunikasi dengan proses coaching merupakan sebuah dialog antara seorang coach dan coachee yang terjadi secara emansipatif dalam sebuah ruang perjumpaan yang penuh kasih dan persaudaraan. Oleh sebab itu, empat (4) cara berpikir ini dapat melatih guru (coach/ pamong) dalam menciptakan semangat Tut Wuri Handayani dalam setiap perjumpaan pada setiap proses komunikasi dan pembelajaran.

  1. Coach & Coachee adalah Mitra Belajar

Mitra belajar memberikan perspektif keselarasan dalam berinteraksi dan berdialog antara coach dan coachee. Relasi yang apresiatif sebagai mitra belajar melatih cara berpikir bahwa dalam proses coaching keduanya memiliki kesepahaman yang sama tentang belajar. Ketika mendengarkan coachee, seorang coach belajar mengenali kekuatan dirinya juga mengenali coacheenya secara mendalam. Demikian pula sebaliknya, tuntunan yang diberikan coach memberikan ruang bagi coachee untuk menemukan kekuatan dirinya

2. Emansipatif

Proses coaching membuka ruang emansipatif bagi coach dan coachee untuk merefleksikan kebebasan mereka melalui kesepakatan dan pengakuan bersama terhadap norma-norma (rasa percaya, selaras,apresiatif) yang mengikat mereka. Ruang emansipatif memberi peluang bagi coachee untuk menemukan kekuatan dan potensi dirinya. Komunikasi yang emansipatif menciptakan keselarasan cara berpikir antara coach dan coachee.

3. Kasih dan Persaudaraan

Proses coaching sebagai sebuah latihan menguatkan semangat Tut Wuri Handayani yaitu mengikuti/mendampingi/mendorong kekuatan diri secara holistik berdasarkan cinta kasih dan persaudaraan tanpa pamrih, tanpa keinginan menguasai dan memaksa. Coach dan coachee adalah seorang manusia yang memiliki kebebasan untuk mendapatkan cinta kasih dalam setiap interaksi dan dialog yang terjadi.

4. Ruang Perjumpaan Pribadi

Proses coaching merupakan sebuah ruang perjumpaan pribadi antara coach dan coachee sehingga keduanya membangun rasa percaya dalam kebebasan masing-masing. Kebebasan tercipta melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif untuk menguatkan kekuatan diri coachee

Dari empat paradigma berpikir among tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa kegiatan coaching ini tidak akan terlepas dari pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial dan emosi. Kegiatan coaching berfokus pada pertumbuhan pribadi dari coachee, karena setiap individu itu unik maka pembelajaran berdiferensiasi akan mutlak digunakan dalam pembelajaran agar berfokus pada pengembangan diri yang sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Selain itu, kegiatan coaching pun akan selalu menerapkan prinsip prinsip keterampilan sosial dan emosional karena kesadaran untuk melakukan sesuatu dan merubah keadaan harus muncul dalam dirinya sendiri dan bukan atas pendapat orang lain.

Keterampilan coaching seorang supervisor akan berkaitan sangat erat dengan pengembangan kompetensi sebagai pemimpin pembelajaran. Bagaimana tidak, seorang supervisor yang memiliki kemampuan coaching yang baik tentu akan mencoba menggali potensi terbaik dari coachee yang dikembangkan. Berusaha menjadikannya individu yang siap menjadi teladan, memimpin, contoh kebajikan, patut ditiru atau baik untuk di contoh oleh orang lain perbuatan-kelakuan-sifatnya dengan memunculkan motivasi yang berasal dari intrinsik atau dari dalam dirinya sendiri.

Posted in Guru Penggerak

Aksi Nyata Modul 2.2 Pembelajaran Sosial Emosional


Berikut ini adalah refleksi saya menggunakan kerangka 4P (Peristiwa – Perasaan – Pembelajaran – Penerapan), setelah membagikan implementasi saya kepada rekan sejawat atau komunitas.

Peristiwa

Sekolah saya yaitu SMKN 4 Bogor merupakan salah satu SMK Pusat Keunggulan yang mengikuti kegiatan pengutan pembelajaran dengan pendampingan langsung dari Kementrian Pendidikan sejak tahun 2022. Sehingga materi tentang pembelajaran sosial emosional sudah pernah saya dan rekan-rekan saya pelajari sebelum mengikuti kegiatan guru penggerak, bahkan kami sampai mengundang narasumber dari RS Marzuki Mahdi untuk mendeteksi kestabilan emosi seluruh tenaga pendidik dan kependidikan di SMKN 4 Bogor. Kegiatan desiminasi yang saya lakukan hanya untuk sekedar me-refresh  atau mengingatkan kembali tentang apa yang kami pernah pelajari bersama-sama tentang PSE tersebut.

Perasaan

Yang saya rasakan selama mempelajari materi ini adalah perasaan antusias, semangat, sekaligus khawatir. Antusias sekaligus semangat karena artinya setelah mempelajari bab ini saya akan lebih mampu untuk memahami psikologi lawan bicara saya, sekaligus memperbaiki hal-hal yang kurang baik terutama untuk peserta didik di sekolah. Hal lain yang saya khawatirkan adalah tidak semua orang tua peserta didik mau memahami hal tersebut, kebanyakan dari mereka menganggap bahwa kemampuan akademis jauh lebih penting dari kemampuan lainnya. Padahal sudah dikatakan sebelumnya bahwa pentingnya perkembangan murid secara holistik;  bukan hanya intelektual, tetapi juga fisik, emosional, sosial, dan karakter. Banyak orang tua yang denial (menolak), tidak terima bahwa anaknya memiliki kekurangan dalam keterampilan sosial emosional walaupun dari segi akademiknya mumpuni. Akibatnya anak tersebut cenderung mudah stress, tidak memiliki teman karena tidak pandai bergaul, dan merasa orang lain menganggapnya sebelah mata.

Pembelajaran

Dari hal tersebut saya belajar bahwa pembelajaran sosial emosional tidak hanya penting untuk dilaksanakan di sekolah, tapi juga di rumah. Begitu pun dengan yang teman-teman saya rasakan. Kedua orang tua harus mau terlibat pengasuhan aktif, tidak hanya salah satu pihak saja, serta orang tua harus mau untuk mendengarkan nasehat ataupun sudut pandang yang disampaikan oleh sekolah terkait perilaku anaknya. Sehingga anaknya mampu berubah menjadi individu yang lebih baik lagi.

Penerapan

Untuk penerapan ke depannya, saya akan mengundang orang tua siswa secara berkala untuk berbagi pemahaman tentang pembelajaran sosial emosional. Selain itu wali kelas pun diarahkan untuk menginformasikan perkembangan peserta didik tidak hanya berdasarkan nilai akademis yang tertuang di rapor, namun juga berdasarkan perkembangan fisik maupun kemampuan sosial emosional siswa.

Posted in Guru Penggerak

Koneksi Antar Materi Modul 2.2 Pembelajaran Sosial Emosional


Sebelum mempelajari modul ini, saya berpikir bahwa secara naluriah siswa akan mempelajari pembelajaran sosial emosional di lingkungan masyarakat sehingga hal tersebut tidak perlu diajarkan di sekolah. Setelah mempelajari modul ini, ternyata saya menyadari pentingnya perkembangan murid secara holistik;  bukan hanya intelektual, tetapi juga fisik, emosional, sosial, dan karakter. Pembelajaran yang dapat menumbuhkan kompetensi sosial dan emosional murid adalah sebuah urgensi dalam proses pendidikan di Indonesia. Hal ini disebabkan karena meningkatnya jumlah kasus perundungan, tawuran, penyalahgunaan obat-obatan terlarang, pernikahan usia dini dan kehamilan di bawah usia, murid yang memiliki motivasi belajar rendah hingga putus sekolah, murid dengan gangguan emosional seperti stres, kecemasan, depresi, bahkan kasus bunuh diri pada usia remaja, menunjukkan masih lemahnya perkembangan sosial dan emosional para murid kita. Selain itu, PSE di kelas terbukti dapat menghasilkan pencapaian akademik yang lebih baik. PSE memberikan pondasi yang kuat bagi murid untuk dapat sukses dalam berbagai area kehidupan mereka di luar akademik, termasuk kesejahteraan psikologis (well-being) secara optimal.

Menurut kamus Oxford English Dictionary, well-being dapat diartikan sebagai kondisi nyaman, sehat, dan bahagia. Well-being adalah sebuah kondisi individu yang memiliki sikap yang positif terhadap diri sendiri dan orang lain, dapat membuat keputusan dan mengatur tingkah lakunya sendiri, dapat memenuhi kebutuhan dirinya dengan menciptakan dan mengelola lingkungan dengan baik, memiliki tujuan hidup dan membuat hidup mereka lebih bermakna, serta berusaha mengeksplorasi dan mengembangkan dirinya.

Noble and McGrath (2016) menyebutkan bahwa well-being murid yang optimal adalah keadaan emosional yang berkelanjutan (relatif stabil) yang ditandai dengan: sikap dan suasana hati yang secara umum positif, relasi yang positif dengan sesama murid dan guru, resiliensi, optimalisasi diri, dan tingkat kepuasan diri yang tinggi berkaitan dengan pengalaman belajar mereka di sekolah.

3 hal mendasar dan penting yang saya pelajari dalam pembelajaran sosial emosional adalah:

  1. Peningkatan 5 kompetensi sosial dan emosional;
  2. Lingkungan belajar yang suportif
  3. Peningkatan sikap pada diri sendiri, respek, dan toleran terhadap orang lain di lingkungan sekolah.

Perubahan yang akan saya terapkan di  kelas dan sekolah terkait 3 hal mendasar tersebut adalah dengan:

  1. Peningkatan perilaku positif
  2. Pengurangan perilaku negatif
  3. Pengurangan tingkat stres
  4. Peningkatan performa akademik siswa
Posted in Guru Penggerak

Koneksi Antar Materi Modul 2.1 Pembelajaran untuk Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid


Setelah saya mempelajari materi pembelajaran berdiferensiasi, pemikiran dan cara saya dalam menangani murid menjadi berubah. Dulu saya berpikir untuk melakukan pembelajaran berdiferensiasi pada murid dengan cara memberikan soal yang lebih banyak pada murid yang memiliki kemampuan lebih baik, padahal seharusnya saya memberikan tipe soal yang berbeda sesuai dengan kebutuhan murid yang meminta tantangan berbeda.

Setelah memahami hal tersebut saya mempersiapkan kegiatan pembelajaran dengan lebih baik lagi, yaitu dengan memperhatikan peserta didik dan menyiapkan tantangan yang berbeda sesuai dengan kebutuhan setiap individu.

Saya tetap bersikap positif dalam upaya menerapkan pembelajaran berdiferensiasi karena saya berprinsip bahwa tantangan itu pasti, yang tidak pasti itu konsistensi. Intinya adalah bagaimana kita selaku guru mau terus melakukan evaluasi untuk terus memberikan yang terbaik melalui pembelajaran berdifferensiasi bagi kebutuhan siswa.

  • Pembelajaran Berdiferensiasi adalah usaha guru untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu murid. Pembelajaran berdiferensiasi merupakan serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Keputusan-keputusan yang dibuat tersebut adalah yang terkait dengan: Kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas. 
  • Bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar muridnya. Bagaimana mereka menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi.
  • Manajemen kelas yang efektif. 
  • Penilaian berkelanjutan.

Kebutuhan belajar murid dapat dipenuhi dengan menyesuaikan rencana pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar murid tersebut. Misalnya, apakah ia perlu menggunakan sumber yang berbeda, cara yang berbeda, dan penugasan serta penilaian yang berbeda. Hal ini sesuai dengan nilai guru penggerak yaitu inovasi, di mana guru selalu mencari cara dan jalan keluar yang berbeda untuk memenuhi kebutuhan belajar muridnya.