Tanggal 8 Juli 2009 dimulai babak baru penentuan siapa yang akan menjadi pemimpin bangsa ini lima tahun yang akan datang.Semuanya tergantung hati nurani kita akan memilih siapa diantara tiga calon Calon Presiden yang sudah ditetapkan KPU.
Siapapun presiden yang terpilih nanti, itu semua aspirasi rakyat Indonesia. Maka sudah sewajarnya pula rakyat juga memberikan dukungan. Walaupun akan ada yang menyatakan bahwa “saya nggak nusuk capres itu kok”. Namun keputusan besar sudah terjadi. Mau tidak mau, kita perlu tetap memberikan dukungan.Terlepas nanti apa kebijakan yang dikeluarkan.Yang terpenting biarkan dulu presiden bekerja optimal. Setelah itu baru memutuskan apakah mau milih presiden itu lagi jika jadi capres lima tahun yang akan datang. Ikuti kata hati, agar bisa memilih capres yang tepat.
Sebuah buku karya Prof DR Tjipta Lesmana MA, yang berjudul “Dari Soekarno Sampai SBY (Intrik dan Lobi Politik Para Penguasa) sepertinya cukup menarik untuk dibaca. Bukan ingin mempromosikan buku ini,tapi dalam buku kita dapat melihat bagaimana pola komunikasi 6 presiden kita yang terdahulu. Dalam buku disebutkan pola komunikasi seorang pemimpin diakui tidak bisa dilepaskan dari tipe kepemimpinan orang itu. Tjipta memberikan analisis terhadap 6 presiden terdahulu berdasarkan cerita narasumber yang diambil Tjipta.
Mengutip dari buku yang ditulis Tjipta Lesmana setebal 396 halaman ini karateristik komunikasi politik 6 presiden kita yakni:
A. SOEKARNO
Terbuka,konsisten, artikulasi penyampaian visi dan misi sangat gamblang. Konteks komunikasinya sangat rendah, tegas. Ia cepat mengambil keputusan dan sangat firmed dalam pelaksanaan keputusan. Ia temperamental namun memiliki sense of humor yang tinggi. Ia pendendam
B. SOEHARTO
Tertutup,konsistensi cukup tinggi,konteks komunikasi bersifat situasional tapi umumnya tinggi, meski ia bisa juga sangat low context. Jika marah ekspresi wajahnya tidak disembunyikan.. Ia kuat dengan bahasa non verbal (angguk-angguk kepala, senyum, mengisap cerutu, bibir yang ditutup rapat-rapat, wajah murung,dsb). Penyampaian visi misi jelas (trilogi pembangunan, menjaga stabilitas nasional, melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni). Emosinya terkendali baik. Ia hampir selalu tampil dengan sosok yang cool, tidak ada rasa humor. Ketika mengambil keputusan, ia tergolong cepat dan firmed pula. Sekali ia membenci seseorang, seumur hidup tidak bisa luntur kebenciannya.
C. BJ HABIBIE
Sangat terbuka, namun terkesan mau menang sendiri dalam berwacana dan alergi terhadap kritik. Tapi ia no hard feeling, sangat demokratir, konteks rendah. Berbicara selalu sepat sehingga khalayak kadang tidak paham. Tidak punya visi misi sebab ia tampil sebagai presiden semata-mata keadaan darurat (UUd 1945 memang mengatur wakil presiden harus mengantikan presiden jika presiden wafat atau berhalangan tetap). Tujuan pokok pemerintahnya adalah menjaga agar repubik ini tidak hancur setelah dihantam krisis ekonomi yang parah sejak akhir 1997. Sebagai pemimpin yang sekonyong-konyong dihadapkan begitu banyak permasalahan pelik, Habibie tidak bisa berpura-pura tapi harus bertindak cepat di semua lini. Maka ia selalu tampak serius jalan cepat, bicara cepat tidak ada sense of humor.
D. KH ABDURRAHMAN WAHID
Sangat terbuka,demokratis (tapi cenderung diktator juga mengingat latar belakang kyai), sangat impulsif. Ia bisa tertawa terbahak-bahak karena rasa humornya yang begitu tinggi. Namun bisa menggebrak meja sekerasnya di depan komunikannya. Ia suka menggertak lawan. Bicara “blong”, seolah tidak filter sama sekali. Konteksnya middle low context. Ia pun tidak pusing dengan kritik terhadap dirinya darimana pun datangnya. Semua lawannya setiap saat bisa dimaafkan. Jadi tidak pernah ada hard feeling, tapi kadang ia bisa dendam juga pada lawan politik. Konsistensi amat sangat rendah. Apa yang dikatakan pagi hari, sorenya bisa dibantah sendiri. Nyaris tidak pernah menyinggung visi misi dalam pidato-pidatonya.
E. MEGAWATI SOEKARNOPUTRI
Cukup demokratis, tapi tertutup, cepat emosional (marah, tertawa terpingkal-pingkal, sedih bahkan menangis di ruang publik sekalipun ), kadar konsistensinya kurang. Dimanapun ia berusaha melempar senyum, namun komunikasinya berkonteks tinggi meski tidak setinggi Soeharto. Kadang ia juga bisa low contex apalagi sebelum menjadi presiden. Dengan orang-orang yang memiliki kedekatan khusus, ia bisa berkonteks rendah bahkan curhat. Ia alergi pada kritik, komunikasi politiknya didominasi oleh keluhan dan unek-unek, nyaris tidak pernah menyentuh visi misi pemerintahannya. Tanpa diragukan lagi ia sangat pendendam
F.SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
Demokratis, menghargai perbedaan pendapat tetapi selalu defensif jika dikritik. Ia ultra hati-hati dalam segala hal sehingg terkesan bimbang dan ragu. Konteks bahasa antara tinggi dan rendah tapi kecenderungannya tinggi. Sebagai seorang yang perfectionist ia selalu berusaha berkomunikasi dengan bahasa tubuh dan verbal yang sempurna. Kata dan kalimat diucapkan jelas sekali, diperkuat oleh intonasi dan suara yang mantap. Konsistensinya termasuk buruk sering plin plan plintut membingungkan publik. Kadang ia tampil dengan medium high context (berputar-putar) terutama ketika ia belum siap dengan keputusannya. Rasa humor kurang dan emosi cukup tinggi bahkan bisa lepas kendali. Dimanapun ia memperlihatkan wajah serius, nyaris tidak pernah tertawa maksimal hanya tersenyum.
Setiap orang memiliki pendapat yang berbeda dari analisis buku yang ditulis Tjipta ini. Tergantung bagaimana kita melihat dari sudut pandang yang mana.
Siapapun pilihan presidenmu nanti pastikan itu sesuai dengan hati nurani. Wah…Maaf ya jika ada yang tidak berkenan dari tulisan ini..
Pengomentar