Tangan mungilnya memegang tangan saya. Mulutnya terus berceloteh tanpa henti. Kami sedang berada di pusat pembelanjaan. Ghea merayu saya untuk ke toko buku. Tempat favoritnya.
”Ma, Ghea beli dua buku ya, boleh?” tanya Ghea
Saya mengangguk. Sementara otak saya berputar. Tanggal ’tua’ gitu loh! Otak ’kalkulator’ saya mulai berhitung. Satu buku harganya bisa 20-50 ribu. Kalau Ghea memilih buku sains, harganya bisa mencapai seratus ribu, dua buku berarti dua ratus ribu. Saat sedang berpikir keras bagaimana caranya agar Ghea memilih buku yang tidak terlalu mahal. Tangan mungilnya menarik tangan saya lagi.
”Pakai duit Ghea aja deh ma, uang yang kemaren itu loh,” katanya. Uang yang dimaksud adalah uang hasil nulisnya saat cerpennya dibukukan. Ah….anak ini dapat merasakan kegalauan hati saya rupanya.
”Jangan, itu kan tabungan Ghea.”
”Nggak apa-apa Ma, Mama juga mau Ghea beliin gak?” tawarnya sambil menyeret saya masuk ke toko buku.
Ini mana yang ibu, mana yang anak ya? Pikir saya
”Pilih aja ma, nanti ketemu di kasir ya,” Ghea melepas pegangan dan berlari ke area buku anak-anak. Saya bengong di lorong toko.
Setengah jam kemudian, kami bertemu di kasir sesuai janji. Saya belum memegang satu bukupun. Sementara dia sudah memegang tas belanja berisi dua buku.
“Kenapa belum pilih buku?” tanyanya
Saya bingung. Tapi akhirnya saya memilih juga. Pilihan saya jatuh pada ”The Unknown Errors of Our Lives” karangan Chitra Banerjee Divakaruni.
“Udah ma, ini aja?” kata Ghea dengan gaya khasnya. Mata bulatnya bergerak-gerak ceria. Dengan bangga ia berjalan ke kasir.
“Mama bayar sendiri ajalah!” tolak saya nggak enak.
“Nggak apa-apa, ma! Sekali-kali Ghea yang beliin, kenapa sih? Mama kan udah sering beliin Ghea.”
“Mentang-mentang punya duit,” goda saya sambil berjalan ke arah kasir.
”Utang Ghea sama mama nyampe dua milyar gak sejak Ghea lahir?” tanyanya polos saat kami keluar dari toko buku menuju tempat parkir.
”Nggak tauk ya, mama gak pernah ngitung!” jawab saya geli
”Gimana Ghea bisa bayar ya?” Dahinya berkerut. Mulut mungilnya berhenti bergerak. Wajahnya berubah murung.
Lalu, matanya membulat. Wajahnya kembali ceria.
”Ghea punya ide!” katanya ”Ghea bayar pake ciuman dua milyar kali aja!” Ghea menarik tangan saya hingga saya membungkuk. Menghujani saya dengan ciuman berkali-kali.
”LUNAS!” katanya
Archives
Flickr Photos
Pages
January 2026 M T W T F S S 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 Blogroll
Meta









