Menelusuri Jejak Sang Sunan di Kota Udang dan Warisan Sentra Batik

sunan_gunung_jatijiunkpe-ns-patterns-design-elements-2006-41405017-3913-batik_tuban-resource1-preview

Salah satu peninggalan Walisongo di Kota Cirebon,Jawa Barat,adalah Keraton Kanoman Cirebon dan makam Sunan Gunung Jati.Selain itu,di Kota Udang ini juga Sang Sunan mewariskan budaya dan tradisi membatik yang hingga kini masih terjaga dengan baik.

Salah satu daya tarik spiritual yang dimiliki Kota Cirebon antara lain antara lain adalah keberadaan makam salah satu penyebar agama islam di Nusantara,Sunan Gunung Jati.Komplek peristarahatan terakhir Sang Sunan yang terletak di Astama Gunung Jati ini tak pernah sepi dari kunjungan para peziarah.Do’a dan zikir tidak pernah ada hentinya di komplek makam yang sudah berusia ratusan tahun ini.

Pengunjung yang dating ke makam Sunan Gunung Jati akan membludak menjelang bulan Syawal.Karena pada bulan itu diadakan Grebeg Syawal,sebuah tradisi yang dilaksanakan setahun sekali oleh keturunan Sunan Gunung Jati,yakni Keraton Cirebon.Ritual Grebeg Syawal sebetulnya adalah prosesi berdo’a bersama,yakni zikir dan tahlil.

Baca lebih lanjut

Ajaran Sunan Kalijaga Kepada Petani

Sunan Kalijaga mengajar petani dengan filsafat luku dan pacul,semua bagiannya mempunyai makna keagamaan yang dalam.Inilah cara wali mengajarkan kepada wong tani dengan kearifan lokal,sesuai dengan pengetahuan mereka.

Bagi wong tani,penemuan alat baru dibidang pertanian merupakan anugerah yang patut dipelajari dan diikuti.Sebab,peralatan baru itu pasti memberikan fasilitas kemudahan bagi para petani untuk bekerja lebih efisien,yaitu mudah dan murah,tetapi dengan hasil yang banyak.Salah satunya adalah penemuan luku (bajak) dan pacul (cangkul),yang konon diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga.

bajak

Soal penemuan bendanya bisa diperdebadkan,bisa saja kedua benda ini lebih dulu ditemukan sebelum lahirnya Sunan Kalijaga.tetapi dalam hal ini,beliaulah yang dipercaya masyarakat Jawa sebagai orang yang memberikan tafsir terhadap ajaran filsafat tentang luku dan pacul dengan segala maknanya.Dengan begitu,orang Jawa menganggap Sunan Kalijaga sebagai penemu luku dan pacul.

Baca lebih lanjut

Syekh Lemah Abang

Tentang asal-usul Syekh Siti Jenar,nama aslinya adalah Hasan Ali Saskar,berasal dari Persia.Ia belajar ilmu syariat atau fikih dan hakikat atau tasawuf kepada Sunan Ampel delapan tahun.Setelah Raden Rahmat wafat,ia belajar dua tahun kepada Syarif Hidayatullah,lalu membuka pesantren di Lemah Abang.

Versi lain mengatakan,ia bernama Ali Hasan atau Abdul Jalil,berasal dari daerah Cirebon.Ayahnya raja pendeta Hindu,Resi Bungsu.Ketika ia berbuat salah,ayahnya menyihirnya menjadi cacing.Saat Sunan Bonang berperahu mengajarkan ilmu gaib kepada Sunan Kalijaga,perahunya bocor dan ditambal tanah tempat cacing itu berada.Ketika Raden Makdum Ibrahim tahu ada makhluk jejadian menguping ajarannya,ia pun memanusiakannya kembali dan memberinya nama Siti Jenar.

Lain lagi mengatakan,Sunan Giri melarangnya ikut mendengarkan ajaran ilmu gaib,namun ia nekad turut dengan cara mengubah diri menjadi burung.Hasan Ali pun berhasil memperolehnya.

Baca lebih lanjut

Mengungkap Kematian Syekh Siti Jenar Karena Fatwa Wali atau Intrik Politik ?

makam-siti-jenar1Dalam pandangan umat Islam Indonesia pada umumnya,barangkali,hukuman mati yang dijatuhkan  pada Syekh Siti Jenar merupakan akibat kesalahannya dalam pengajaran agama.Lebih khususnya,dalam hal pemahaman akan hakikat hablul min al-allah,hubungan manusia dengan Tuhan.Cerita-cerita yang diabadikan dalam seni tradisional Jawa,kethoprak,misalnya,juga demikian.Produk sinematrografi kita pun menyuguhkan jalan cerita yang tak jauh berbeda.Kebanyakan kitab juga menyatakan demikian.

Menurut K.H.Dachlan Abd.Qohar,anggota Konstituante yang menerjemahkan Kanzul Ulum (Gudang Ilmu) Ibn Bathuthah,yang penulisannya dilanjutkan oleh Maulana Maghribi,sepeninggal Sunan Ampel,Raden Paku menggantikannya sebagai pemimpin Walisongo.Ia pun memanggil wali lain untuk bermusyawarah.Mereka sepakat memanggil Syekh Siti Jenar untuk didudukkan sebagai anggota Walisongo.

Baca lebih lanjut

Jejak Sejarah Wali

Meski banyak nama yang saling menggantikan,anggota Walisongo yang paling akrab di telinga masyarakat dan saling sering menjadi objek ziarah tetap saja berjumlah sembilan.Mereka adalah Maulana Malik Ibrahim,Sunan Ampel,Sunan Bonang,Sunan Giri,Sunan Drajad,Sunan Kalijaga,Sunan Kudus,Sunan Muria,dan Sunan Gunung Jati.

Mereka inilah yang dianggap paling banyak meninggalkan jejak sejarah di tanah Jawa.Termasuk beberapa tradisi keagamaan yang bercorak Suni dan bermazhab Syafi’i.Bahkan Indonesia dan beberapa negara tetangganya kemudian menjadi basis mazhab yang berasal dari Mesir tersebut.Ini tidak lepas dari pengaruh Kesultanan ayyubiyyah,penganut fanatic mazhab Syafi’I,yang ketika itu berjaya di Mesir.Kesultanan ini pula yang mengubah paham teologi Universitas Al-azhar,Kairo dari Syi’ah menjadi Suni.Ini terlihat dari tradisi Maulidan,yang menurut sejarahnya diprakasai oleh Sultan shalahudin Al-ayyubi sebagai penggugah semangat keislamian pasukan dan rakyatnya.

Baca lebih lanjut

Mengenal Lebih Dekat Tentang Wali

W Wali atau waily berasal dari akar kata waliya-yawla,yang berarti “dekat” dengan sesuatu. Al-waliyyu mengandung arti ”orang yang memiliki kedekatan dengan

Allah” atau ”orang yang disayang oleh Allah”Dalam bahasa Arab,terkadang ada satu kata yang memiliki makna fa’il (subjek) dan maf’ul (objek) sekaligus memiliki dua pengertian tersebut.Ia bisa berarti orang yang mencintai Allah atau orang yang dicintai Allah bahkan bisa dikatakan orang yang mencintai dan dicintai Allah.sekaligus.

Menurut seorang ulama besar,Imam Qusyari,waliy memiliki dua pengertian.Pertama,orang yang dengan sekuat tenaga berusaha menjaga hati agar tetap hanya bergantung kepada Allah.Mereka ini yang sering kali disebut waliy salik.Kedua,orang yang hatinya secara penuh berada dalam penjagaan Allah.Dalam dunia sufi’,wali-wali kelompok kedua ini dipercaya kerap mengalami kefanaan kesadaran (jadzab),sehingga sering disebut Waliy Majdzub.

Baca lebih lanjut