Ada sebuah cerita tentang seorang perempuan yang merelakan pendidikannya untuk tidak selesai karena harus berbakti mengikuti suaminya belajar ke negeri Belanda. Menurut sang suami, pengorbanan istrinya itu besar sekali, karena tanpa pengorbanan istrinya, dia tidak akan bisa mendapatkan gelar doktornya di sebuah kampus yang bergengsi di benua Eropa. Karena pendidikan tinggi nya tidak diselesaikan, maka sang istri tidak dapat berkarir, dan hanya fokus mengasuh anak yang kecil-kecil sendirian. Oh.. dan suami memuji bahwa itu pengorbanan istri yang sangat besar. Katanya, mengasuh anak kecil apalagi dua itu susah sekali ya. Setelah menyelesaikan pendidikan di eropa, mereka sekeluarga memutuskan pulang ke Indonesia. Karena kasihan dengan istrinya yang mengasuh anak sendiri, akibatnya adalah sang suamipun membiarkan kesempatan2 besar untuk postdoc yang lokasinya ada di luar negeri terlepas begitu saja. Sekali lagi dengan alasan tidak bisa meninggalkan istri membesarkan anak sendiri. Sebuah paradigma yang menjerat keduanya dalam kenyamanan peran sebagai orangtua.
Memang benar, masing-masing orang memiliki keputusan yang terbaik untuk keluarganya. Mereka bisa mengukur kapasitasnya masing-masing. Hal tersebut sangat subjektif. Namun, sayangnya.. perempuan yang sekali lagi harus mengalah.
Jika boleh memutar waktu, alangkah bijaknya jika kedua belah pihak saling bergantian untuk menyelesaikan pendidikannya. Menyelesaikan pendidikan tidak ada batas waktunya. Apa yang sudah diputuskan di belakang mungkin kurang tepat, tapi bukankah jalan masih panjang? Kenapa tidak diselesaikan sekarang? Ah.. seandainya perempuan dibesarkan dengan visi yang tepat sedari kecil, dia pasti akan memilih mengutuhkan dirinya sebelum mengabdikan diri ke sang suami. Lebih baiknya lagi kalau dia bisa mengangkat suami dan anak-anaknya karena dirinya yang sudah utuh ini tidak perlu lagi dikasihani. Pendidikan adalah hal dasar yang harus dimiliki oleh semua perempuan, mimpi paling minimal yang perlu digapai. Jadi, jika punya kesempatan, raihlah segera. Pendidikan adalah privilege bagi beberapa orang, namun sayangnya tidak semua orang mau memanfaatkan kesempatan dengan baik. Jika kita mendapatkan privilege ini, jangan disia-siakan.