Seri Buku Gerakan Wahhabi (2): Perselingkuhan Wahhabi dalam Agama, Bisnis, dan Kekuasaan

Di buku jilid I sebelumnya, sudah dijelaskan tentang sosok pendiri wahhabi, ideologi pemikiran, dan doktrin ajaran yang kemudian menjadi benih-benih lahirnya paham radikal dalam Islam (berikut pembacaan dua kritikus legendaris; Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahhab dan Syaikh Ahmad Zaini Dahlan). Di buku jilid II ini, episode gerakan wahhabi dibedah dalam konteks geo-sosial dan politik gerakannya. Dalam episode buku ini pula, persekutuan dan perselingkuhan-perselingkuhan antara Muhammad bin Su’ud, Amir Dir’iyah di Nejed, dengan pendiri wahhabi (Muhammad bin Abdul Wahhab), yang ‘berbuah’ kekuasaan dan melahirkan kerajaan Arab Saudi, didedah secara telanjang.

Baca lebih lanjut

Seri Buku Gerakan Wahhabi (3): Membedah Ideologi Kekerasan Wahhabi

Dalam pemetaan atas gerakan wahhabi, dua buku sebelumnya dengan jelas telah memberikan framming pemetaannya. Di buku I, tentang bagaimana sosok pendiri wahhabi, doktrin dan ajaran-ajarannya, serta pandangan dua kritikus legendaris terhadap wahhabi akan bahaya benih-benih radikalisme yang diajarkan, sudah dipaparkan dengan jelas. Sementara di buku II, juga sudah dijelaskan bagaimana geo-sosial dan politik gerakan wahhabi di negeri basisnya (Arab Saudi), serta bagaimana kemudian mereka mengekspor ideologinya ke seluruh dunia. Di buku III ini, selanjutnya akan dijelaskan seputar isu-isu perdebatan yang muncul di kalangan pembela dan pengkritik wahhabi.

Baca lebih lanjut

Seri Buku Gerakan Wahhabi (1): Doktrin Wahhabi dan Benih-benih Radikalisme Islam

Istilah wahhabi sering didengar oleh muslim Indonesia. Di bumi nusantara, istilah ini muncul sejak abad ke-19. Saat itu organisasi-organisasi Islam seperti Persis, Sumatra Thawalib, dan banyak yang lain mulai berdiri dengan membawa jargon-jargon sebagian ajaran wahhabi. Jauh sebelum itu, sebenarnya istilah wahhabi juga sudah dihubungkan dengan gerakan Padri di Sumatra pada abad ke-18.

Baca lebih lanjut

HTI di Jantung-Jantung NU dan Kegamangan Nahdlyin

Mendiskusikan tema NU dan HTI sangat menarik, karena di tengah kantong-kantong NU di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jakarta, HTI memperoleh pengikut yang cukup besar bila dilihat dari aspek organisasinya yang baru muncul. Ismail Yusanto, pernah menyebutkan basis terbesar HTI salah satunya adalah di Jawa Timur. Orang sudah bisa menduga, basis NU itu telah mulai bergeser, dan sebagiannya banyak yang melirik ke HTI. Kantong-kantong NU telah kehilangan warganya, sehingga sebagian warganya kemudian berpindah dan beralih dengan HTI, tidak sebaliknya.

Baca lebih lanjut

“H. Hasyim Muzadi Melanggar Khittah NU”: Risalah Untuk Masyarakat Nahdliyin di Indonesia

TENTANG NU  DAN H. HASYIM MUZADI

Seorang Katib Syuriyah NU di Klaten menyebutkan bahwa: “Jika tidak diselamatkan sekarang dalam Muktamar 2010 nanti, NU akan menjumpai elit-elitnya yang lebih dahsyat lagi ketimbang yang terjadi sekarang, yang akan jualan politik untuk garansi 2014.”[1] Sementara seorang Katib Tanfidziyah di DIY menyebutkan: “Syuriyah PBNU perlu segera mengadakan rapat Munas Alim Ulama, tidak hanya keluarkan statemen di koran. Ambil langkah konkrit. Selama ini Rais Am hanya sibuk diam.”[2]

Baca lebih lanjut

Beberapa Koreksi teknis terhadap Buku Regenerasi NII

Ada beberapa koreksi teknis penting yang perlu penulis lakukan di buku Regenerasi NII (Nur Khalik Ridwan, Erlangga, 2008), yaitu:

  1. Di cover belakang, penyebutan Batalyon Abu Bakar Ba’asyir, terjadi kesalahan, karena seharusnya, cukup Batalyon Abu Bakar, dan tidak ada Ba’asyirnya. Keduanya dua hal yang berbeda.
  2. Di lampiran, di dalam peta NII versi Alchaidar, ada dua koreksi, yaitu: pertama, dalam kotak bawah yang isinya ”Tahun 2001…,” ditulis Alchaidar menyebut ada 12 kelompok NII, padahal seharusnya 13 kelompok; kedua, di kotak yang isi ”Pasca penangkapan tahun 1978…,” disebutkan salah satunya ”Amerika Panji Gumilang”, padahal yang benar adalah AS Panji Gumilang.
  3. Di lampiran, peta NII versi ICG terjadi kesalahan panah: pertama, seharusnya panah yang menghubungkan kotak yang isinya ”1994, KW 9 pecah…” berasal dari kotak atasnya yang berbunyi ”1980-an model usroh…,” bukan dari panah kotak kirinya; kedua, kotak  yang isinya ”Desember 1998…” seharusnya dihubungkan panah dari kotak atasnya yang isisnya ”November 1987…” tetapi di lampiran buku panahnya tidak ada; ketiga, kotak yang isinya ”November 1997…” seharusnya ada panah dari kotak atasnya yang isinya ”1979, pertemuan di Tangerang …” tetapi di lampiran buku tidak ada panahnya; dan keempat, kotak yang isinya ”1980-an, model usroh …”, seharusnya panah yang menghubungkannya berasal dari samping kiri atas dalam kotak yang berbunyi ”1979, pertemuan di Tangerang…,” dan di lampiran buku dihunungkan dengan kotak kirinya, sehingga terjadi kesalahan.

Koreksi ini sekaligus pembetulan, terjadinya kesalahan dalam cetakan.