“Mimpiku itu sebenernya kerja di rumah sendiri, cukup pake sarung dan ga perlu pake baju rapi, terus bisa angkat kaki di atas kursi dan bisa disambi nggiling kopi,” kataku kepada rekan kerjaku akhir tahun lalu.
Waktu itu adalah puncak kelelahan kami. Sebagaimana kebiasaan setiap akhir tahun, banyak sekali kegiatan seremoni yang perlu kami hadiri, dan hampir semuanya menuntut kami untuk berbaju rapi. Sesuatu yang kami berdua tidak sukai.
“Toh kerjaan kita sebenernya bisa dikerjain di mana saja khan?” sambungku, yang disambut dengan anggukan kepala rekanku.
Sifat pekerjaan kami memang bukan operasional. Cukup dengan notebook dan jaringan internet, kami sudah bisa menyusun analisis ekonomi maupun bahan pidato untuk atasan kami.
Seperti doa para nabi yang selalu terpenuhi, ternyata mimpiku itu menjadi kenyataan yang kujalani kini. Meski sama sekali berbeda dengan bayanganku sebelumnya, tapi inilah yang terjadi. Pandemi Covid-19 mengharuskan aku untuk bekerja dari rumah, Work From Home (WFH), begitu istilah yang digunakan oleh kantorku secara resmi. Di satu sisi, memang ada beberapa hal yang aku nikmati. Tetapi lebih besar dari itu, ada banyak hal yang mengganjal di hati.
Sebagaimana serangan negara api dalam serial Avatar, Covid-19 telah membuat semuanya berubah. Covid-19 adalah sebuah fenomena yang mengubah sejarah. Tahun 2020 akan di highlight dalam sejarah panjang peradaban kita. Bahwa bangsa manusia pernah berperang melawan musuh bersama, bukan melawan Thanos seperti dalam cerita Avangers, tetapi melawan sesuatu yang tidak tampak. Namun ia nyata dan mematikan.
Bagi yang mau merenungi, pandemi ini ternyata juga memberi kesempatan kita untuk belajar membaca, iqra.
Kita mulai belajar membaca situasi yang benar-benar baru, yang belum pernah kita hadapi sebelumnya. Kemudian kita berusaha untuk memilih cara terbaik dalam menyikapinya.
Ada sebuah ilustrasi menarik di website themindsjournal tentang pilihan kita menghadapi Covid-19. Digambarkan, kita bisa memilih untuk berada di fear zone, learning zone, atau growth zone. Idealnya, kita memang berada di growth zone. Tapi untuk sampai ke zona itu, ternyata ada proses jatuh bangun yang melelahkan, setidaknya itu yang kurasakan.
Sumber: https://themindsjournal.com/who-do-i-want-to-be-during-covid-19/
Saat pertama kali dijalani, ternyata WFH tak seindah seperti yang kubayangkan akhir tahun lalu. Memang aku tak perlu mengenakan baju rapi atau harus mengikuti berbagai acara seremoni, tetapi suasana rumah dan kantor memang benar-benar berbeda. Selama ini, rumah adalah tempat peristirahatan buatku. Memang kadang aku membawa pekerjaan kantorku ke rumah, tetapi sebagian besar pekerjaanku tetap kukerjakan di kantor. Ada pekerjaan dokumen yang ternyata memang lebih mudah dikerjakan di kantor. Tidak ada lagi diskusi dengan rekan kantor yang bisa dilakukan sembari lewat. Diskusi ringan yang tak jarang memberi solusi efektif. Belum lagi gangguan dari anak-anak yang juga belajar dari rumah, mulai dari yang rewel, mogok tidak mau belajar, sampai godaan bayi yang terlalu menggemaskan.
Sekali lagi, ternyata iqra adalah kata kunci. Setelah membaca dan mempelajari situasi, aku memutuskan untuk melakukan sebuah inovasi atau bahkan revolusi, setidaknya di rumahku sendiri. Setelah melalui proses tawar menawar, anak pertamaku setuju kamarnya aku akusisi. Karena lokasinya paling strategis dan memiliki sirkulasi udara yang baik, kamar anak pertamaku lebih cocok dijadikan ruang kerja daripada kamarku sendiri. Pertimbangan lain adalah karena ada anakku yang masih bayi. Ia masih tidur sekamar denganku dan isteri.
Aku bongkar total lay out kamar anak pertamaku. Meja belajarnya aku sulap menjadi meja kerjaku. Di atas meja itu, aku pindahkan semua peralatan kerja seperti notebook, alat tulis dan buku. Aku jadikan kamar anak ini senyaman mungkin untuk bekerja, termasuk dengan memindahkan ikan hias milikku. Karena melihat layar notebook terlalu lama sering membuat mataku lelah, melihat ikan hias adalah salah satu cara untuk menyegarkan kembali pandangan mataku.
Aku beruntung selama ini dididik dan dibiasakan oleh lingkungan kerja yang menuntutku untuk disiplin dan selalu berinisiatif. Sehingga meski WFH adalah pekerjaan mandiri, aku tetap dapat memotivasi diriku untuk terus berkreasi dan produktif. Perlahan namun pasti, aku mulai bergerak dari fear zone menuju growth zone.
Setelah dijalani, ternyata banyak sekali hal positif dari WFH. Salah satu hal positif yang pertama aku rasakan adalah terselamatkan dari kemacetan di jalan. Saat bekerja di kantor, mau tak mau aku harus menghabiskan waktu, energi, dan emosi untuk menembus macetnya ibukota. Sesuatu yang kadang bisa mempengaruhi mood-ku di kantor seharian.
Dengan bantuan teknologi, ternyata WFH menjadikan pekerjaanku menjadi jauh lebih efisien. Salah satu contohnya adalah rapat yang menggunakan aplikasi rapat virtual. Saat bekerja di kantor, jumlah maksimal rapat dalam sehari (di luar lembur) adalah empat kali, yaitu dua kali sebelum istirahat makan siang dan dua kali setelahnya. Karena rapat menjadi lebih mudah dan efisien, aku pernah rapat sampai enam kali sehari saat WFH. Meski tidak semua, perkiraan waktu yang efektif untuk sebuah rapat adalah sekitar satu sampai satu setengah jam. Terkadang yang membuat sebuah rapat menjadi lama adalah perjalanan menuju ke lokasi rapat atau basa-basi yang mengiringinya.
Dari sisi biaya, WFH juga bisa menekan biaya konsumsi rapat karena tidak lagi perlu disediakan. Lebih lanjut lagi, jangkauan peserta rapat juga dapat lebih banyak karena bisa mengajak peserta rapat dari luar kota dan luar negeri tanpa perlu biaya transportasi. Karena WFH, ada juga beberapa peserta rapat yang kulihat berada di pinggir sawah atau di bawah pohon. Sebuah pengalaman rapat unik yang belum pernah kualami sebelumnya. Meski terkadang ada sedikit kendala sinyal, tetapi rapat bisa tetap berjalan, ide dapat tersampaikan, dan akhirnya keputusan dapat diambil untuk dilaksanakan.
Cerita lain adalah tentang seminar. Kebijakan pemerintah dalam penanganan pandemi Covid 19 tidak lagi memungkinkan untuk mengadakan seminar yang mengumpulkan banyak orang. Oleh karena itu, aku dan timku memilih untuk melaksanakan webinar, sesuatu yang sebelumnya belum pernah kami selenggarakan. Pada awalnya, kami memang sempat agak kerepotan dengan perkara teknis seperti backdrop virtual, cara penyampaian materi, dan mekanisme tanya jawab. Tetapi setelah webinar itu dilaksanakan, kami sendiri terkejut dengan hasilnya. Undangan yang dulu harus kami cetak dalam bentuk surat resmi yang perlu tanda tangan pimpinan atau dalam bentuk poster yang harus kami kirim ke perguruan tinggi dan stakeholder lainnya, sekarang hanya cukup melalui WhatsApp group dan media sosial. Webinar terakhir yang kami laksanakan sold out begitu hari pertama kami sebar pengumumannya ke media sosial dan group WhatsApp yang kami miliki. Hal lain yang membuat kami tersenyum adalah kami juga tidak perlu direpotkan lagi oleh lay out ruangan, meja pembicara, taman bunga, kursi peserta, dan tentu saja snack dan konsumsi. Sebagai moderator, aku juga masih bisa memakai sarung meski atasannya harus tetap memakai batik formal.
Saat WFH, teknologi telah menjadi perangkat utama yang hadir hampir di setiap dimensi kehidupan kita. Oleh karena itu, aku jadi teringat wanti-wanti dari Yuval Noah Harari di buku Sapiens: A Brief History of Humankind. Ada satu tesis menarik yang ia sampaikan tentang revolusi pertanian, khususnya terkait tiga tanaman bahan makanan pokok: gandum, padi dan kentang.
“…these plants domisticated Homo sapiens, rather than vice versa,” tulisnya di halaman 90.
Homo sapiens yang sebelumnya merupakan petualang ulung dengan tingkat survival yang mengagumkan, dipaksa berubah menjadi petani yang menetap serta harus menanam dan merawat tanaman. Tulisan ini tidak ingin memperdebatkan lebih lanjut tentang kebenaran tesis tersebut. Namun ada insight yang dapat dipetik sebagai pelajaran bahwa kita harus tetap berhati-hati dengan teknologi.
Memang teknologi telah banyak memudahkan kehidupan kita, termasuk saat WFH. Namun jangan sampai teknologi memperbudak kita dan mengambil alih kuasa atas diri kita. Padahal, seharusnya yang terjadi adalah sebaliknya, dimana manusia yang mengontrol teknologi dan memiliki kuasa kuasa penuh atasnya. Karena tidak ada lagi waktu yang terbuang untuk perjalanan ke kantor, WFH adalah kesempatan kita untuk menikmati quality time bersama keluarga atau melakukan hobi yang kita suka. Jangan sampai karena kemudahan teknologi kita justru terlena dan tidak sadar bahwa kehidupan kita sesungguhnya ada di alam nyata, bukan dunia maya.
Dari sedikit cerita tentang WFH di atas, pesan yang ingin kusampaikan adalah bahwa selain “mewujudkan mimpiku” untuk bisa bekerja di rumah, ternyata pandemi Covid-19 juga telah mengajarkanku untuk membaca. Bahwa apapun yang terjadi, kita harus tetap berkarya. Lebih dari itu, pandemi ini juga telah menempaku dan jutaan orang lain di dunia untuk menemukan cara baru bekerja.
Tabik
#perpustakaanbankindonesia #worldbookday #shareamillionstories #digitallearning
