diktat kuliah ilmu pengetahuan lingkungan

untuk langsung download klik disini

Diktat kuliah Ilmu Pengetahuan Lingkungan ini adalah hasil terjemahan cuplikan dari beberapa text book.
Pada awal tahun 2000 pernah dijadikan sebagai bahan bacaan bagi peserta perkulian Ilmu Pengetahuan Lingkungan di salah satu perguruan tinggi swasta di Jawa Barat.

Bab 1 membahas permasalahan umum lingkungan hidup, contoh kasus interaksi manusia dengan lingkungan.  Dalam bab 1 juga dibahas kecenderungan global, kecenderungan pertambahan penduduk serta kecenderungan dampaknya , degradasi ( semakin memburuknya kualitas ) tanah/lahan , serta perubahan atmosfir global.  Semakin miskinnya keragaman hayati akibat ulah manusia serta dampaknya juga dibahas dalam bab ini.  Bab 1 diakhiri dengan bahan tentang konsep “sustainable development”, pembangunan yang memperhatikan kepentingan kesinambungan kelestarian kualitas lingkungan hidup untuk kepentingan generasi yang akan datang.

Bab 2 membahas tentang apa yang dimaksud dengan ecosystem , kemudian struktur ecosystem serta implikasi-implikasinya terhadap kehidupan manusia.
Bab 3 membahas tentang Principles of Ecosystem Sustainability, prinsip-prinsip dasar menciptakan kelestarian lingkungan, prinsip-prinsip agar tidak mewariskan kerusakan lingkungan kepada generasi mendatang.
Bab 4 membahas : proses-proses alam yang mendasar yang membuat kita semua dan organisme lain hidup, apakah yang dimaksud dengan ecosystem, dan apakah apa sajakah komponen-komponen hidup dan non-hidup –nya yang utama, apakah yang terjadi pada energi dalam ecosystem, apakah yang terjadi pada zat-zat dalam ecosystem, peran-peran apakah yang dilakukan oleh berbagai macam organisme dalam ecosystem, dan bagaimanakah organisme berinteraksi
Bab 5 berupaya membahas hal-hal yang terkait dengan seberapa cepatkah populasi manusia bertambah banyak, apa saja sumberdaya-sumberdaya penting di dunia ini, akankah sumberdaya-sumberdaya ini ber-degradasi , berkurang atau habis,  apakah polusi (pencemaran lingkungan) itu,  ada berapa macam kah polusi itu,   apakah polusi dapat dihindarkan atau dikendalikan. Disamping itu dalam bab 5 juga dibahas keterkaitan antara ukuran populasi manusia , penggunaan sumberdaya , teknologi , degradasi lingkungan , dan polusi.
Bab 6 berisi bahasan yang dimaksudkan untuk lebih dapat memahami apakah ecosystem itu.  Dalam bab ini dibahas pengertian kata sistem, tingkat-tingkat organisasi dalam alam, lingkup ekologi, serta struktur dan fungsi ekosistem.
Bab 7 berisi bahasan tentang : apa yang dimaksud dengan science (ilmu pengetahuan) , apa yang dimaksud dengan enironmental science (ilmu pengetahuan lingkungan), apakah bentuk-bentuk prinsip energi, sumberdaya energi apakah yang diandalkan manusia untuk mendukung gaya hidupnya dewasa ini, hal apa yang menjadikan energi bermanfaat bagi manusia sebagai suatu sumberdaya, apakah yang dimaksud dengan perubahan fisik, apakah yang dimaksud dengan perubahan kimiawi, hukum-hukum ilmiah apa sajakah yang menjelaskan perubahan zat , perubahan dari satu bentuk fisik ke bentuk fisik lainnya , atau perubahan dari satu bentuk kimiawi ke bentuk kimiawi lainnya.

Diktat Kuliah yang dapat di-down-load dengan gratis ini sangatlah tidak tepat untuk dikomersilkan atau dibuat hard-copynya secara masal, diktat kuliah ini hanyalah tepat untuk dipakai untuk keperluan personal dan pendidikan.

untuk langsung download klik disini

my first product – kitchen set kayu jati

my-first-product-1

dirangkai dari potongan-potongan kayu jati tebal 2   cm dan 1 cm, lebar bervariasi antara 3 cm s.d. 6 cm mempergunakan kurang lebih 800 buah sekerup — pintu lemari = pintu lipat (pintu kipas)

Merangkai Papan Menjadi Lemari Gantung / kitchen set / rak piring

KLH 14 – DAUR ULANG PERLU — kalau tidak — HWUADUH — makin rusak dong dunia …

Dunia memiliki deposits hampir seluruh mineral yang sangat besar, namun kapasitas ecosystems (bahkan seluruh biosfir) untuk menyerap material-material buangan atau kotoran (wastes) terhitung sangat terbatas. Keterbatasan ini semakin diperparah oleh kenyataan dimana banyak sekali produk-produk yang kita pakai merupakan material yang non-biodegradle. (tidak dapat teruraikan/terlapukan dengan sendirinya secara biologis alami)

Berbeda dengan pen-daur-ulang-an (recycling) yang dapat berlangsung dengan amat sangat baik dalam natural ecosystem (sistem lingkungan hidup alami), human system (sistem yang dibangun manusia) sebagian besar terbangun sebagai sistem aliran elemen-elemen satu arah.

Fertilize – nutrient phosphate yang ditambang dari sumbernya, kemudian banyak dipakai sebagai pupuk tanaman, sangat banyak berakhir dengan mengalir masuk ke alur-alur aliran air sebagai pencemar.

Aliran satu arah yang serupa dapat juga terjadi dalam hal berbagai macam logam, seperti : alumunium, mercury (air raksa), timah yang merupakan bahan baku dari banyak kegiatan industri. Logam-logam ini ditambang dari dalam perut bumi, kemudian, logam-logam ini banyak yang kemudian bertumpuk, tertimbun, atau larut mencemari lingkungan hidup.

Logam-logam ini, di sumbernya, terus menipis semakin berkurang, dan sangat mungkin ada saatnya akan habis, namun di tempat lainnya, terjadi penumpukan serta timbul berbagai masalah akibat pencemaran logam-logam ini.

Penerapan konsep pen-daur-ulang-an sangat perlu dilakukan, tidak hanya terbatas pada kertas, botol, dan barang-barang pecah belah lainnya, tapi juga semuanya, mulai dari tumpukan tempat sampah sampai pada buangan industri.

dipetik dan diterjemahkan dari buku Environmental Science, The Way The World Works, Bernard J. Nebel & Richard T. Wright, PRENTICE HALL, Upper Saddle River – New Jersey, 1998, sixth Edition , halaman 73 – 74.

KLH 13 – apakah manusia telah berkembang menjadi super consumers yang mampu merampas setiap natural ecosystems di dunia ini?

Dari sudut pandang ekologis, dapat dilihat bahwa setiap species memperbanyak dan menyebar sampai batas kapasitasnya, yakni terbatasi hanya oleh physical barriers dan limiting factor serta dalam range-of-tolerance-nya.

Manusia telah mampu mengatasi “barriers” (penghalang-penghalang) dan the limiting factors yang oleh hewan dan tumbuhan “tak teratasi”. Sehingga manusia telah mampu dan masih terus meng-eksploitasi setiap biome dan marine environment di bumi ini bahkan dengan intensitas yang lebih besar serta kecepatan eksploitasi-nya yang semakin cepat. Ecosystems yang rusak karena polusi (pencemaran) semakin bertambah. Dari sudut pandang ecology, manusia telah memperoleh kapasitas untuk mengatasi “barriers” dan the limiting factors yang membatasi species lain.

Dengan kata-kata lain, manusia dengan pertanian dan teknologi-nya telah mengembangkan dirinya menjadi super consumers yang mampu merampas setiap natural ecosystems di dunia ini. Sudah dan akan menjadi masalahkah yang demikian ini ?

Dengan melakukan pengembangan / pembangunan lebih dan lebih banyak lagi, namun dengan alam yang tersisa menjadi lebih dan lebih sedikit lagi, akankah yang demikian ini akan benar-benar menguntungkan ?

Apakah dunia yang murni artificial yang ingin kita bangun untuk diri kita sendiri atau generasi mendatang ?

Akankah dunia yang seperti ini yang menjanjikan, dalam jumlah yang lebih besar, apa-apa yang untuk diri kita benar-benar bernilai ?

Terhadap pertanyaan-pertanyaan ini, ternyata semakin banyak orang yang memberikan jawaban “tidak” (negatif).

Nilai keindahan alami yang tidak terganggu semakin banyak dihargai (setelah hilang ?). Bahkan lebih dari itu, untuk sebagian orang, telah menjadi kewajiban moral bahwa : “species lain juga memiliki hak yang sama untuk hidup di dunia ini seperti halnya kita “.

Kita menyaksikan natural systems telah banyak digantikan oleh human systems (dalam lingkup pembahasan ini dipakai untuk menyatakan sistem total manusia dimana termasuk didalamnya peternakan, pertanian,, dan semua bentuk pembangunan / pengembangan oleh manusia lainnya). Kita dapat melihat proses dominasi manusia pada lingkungan sebagai suatu penggeseran atau penggantian satu ecosystem menjadi yang lainnya, suatu fenomena yang secara alami terjadi hanya sesekali saja

Human system memiliki ciri-ciri yang sama dengan natural ecosystem, yaitu rangkaian trophic levels mulai dari producers sampai ke human consumers sebagai salah satu contohnya.

Akan tetapi, di sisi lainnya, jauh dari mempunyai nilai, seperti misalnya :

  • gagal untuk menghancurkan / menguraikan dan men-daur-ulang (recycle) “detritus”-nya seperti : sampah, limbah-limbah kimia, serta berbagai produk ikutan lainnya,
  • menderita akibat pencemaran yang diakibatkannya,
  • karena masih tetap tergantung pada fosil fuel (bahan bakar fosil), menderita akibat semakin bertumpuknya karbon dioksida dalam atmosfir.

Tingkah laku yang mencerminkan sikap “kita tidak terikat pada (merdeka dari) natural ecosystems dan biosfir” ternyata lebih salah lagi. Bahkan sementara kita memperoleh kenaikan proporsi makanan dan material dari pertanian, pertanian masih tetap tergantung pada pemasokan gene (plasma pembawa sifat) secara periodik dari species-species liar untuk dapat mempertahankan kekuatan dan kesehatan-nya. Banyak ilmuwan dan akhli pertanian tidak percaya bahwa : kita akan dapat mempertahankan sistem pertanian, dapat hidup terus tanpa dukungan dari natural biodiversity (keragaman hayati alami).

Seluruh ecosystems saling terkait (interconnected) membentuk apa yang disebut sebagai biosfir serta menjadikan biosfir tersebut mendukung seluruh ecosystems. Human system tidak dapat melepaskan dirinya sendiri dari interaksi ini. Begitu kita mulai melakukan tindakan yang berpengaruh terhadap dunia natural, sampai ke tingkat yang berakibat berubahnya parameter-parameter biosfir, seperti misalnya : pemanasan global dan rusaknya lapisan ozone stratospheric, bukan saja hanya berakibat terhadap satu ecosystem dalam satu areal terbatas, namun, tak terhindarkan akan berpengaruh terhadap keseimbangan diantara seluruh species dan ecosystems di bumi ini.

dicuplik dan diterjemahkan dari buku Environmental Science, The Way The World Works, Bernard J. Nebel & Richard T. Wright, PRENTICE HALL, Upper Saddle River – New Jersey, 1998, sixth Edition , halaman 48.

KLH 12 – dapatkah kemajuan tak berdampak merugikan ?

apakah kenyataan memperlakukan alam yang dipandang merupakan fase yang (“katanya”) telah “memajukan” umat manusia sampai sejauh ini, yang kecenderungannya masih akan terus berlanjut, di hari esok dapat terus berlanjut dengan tidak lagi menghasilkan dampak dan/atau dampak ikutan yang merugikan ???

…………. kecenderungan historis yang menerus dari pertumbuhan jumlah penduduk menghasilkan permukiman (kota) yang bertambah besar dan terus bertambah besar didukung oleh perluasan pertanian dan revolusi industri yang terus masih berlangsung.

Dengan kemajuan pertanian (termasuk kemajuan peternakan) manusia memperoleh yang terlihat seperti suatu kemerdekaan terhadap alam.

Telah dianggap menjadi benar dan dipandang sepatutnya untuk merubah natural ecosystems menjadi bentuk-bentuk pengembangan pertanian atau bentuk pengembangan lainnya dalam rangka mendukung pertumbuhan jumlah penduduk.

Lebih jauh dari itu, telah menjadi benar dan sepatutnya untuk berusaha membasmi “musuh-musuh alam” seperti apa yang disebut sebagai : tanaman pengganggu, hama serangga dan predator yang mengganggu pertanian , dengan menggunakan segala cara yang tersedia.

Dengan alasan demi pertanian , menjadi dipandang layak untuk meng-eksploitasi species lain, walaupun sampai punah, hanya untuk keuntungan, tanpa harus membayar konsekuensi nyata yang dengan segera muncul.

Singkatnya, kita dapat melihat kelakukan manusia terhadap alam sebagai sesuatu yang sifatnya, menaklukkan, meng-eksploitasi, atau menekan keluar dari sifat aslinya dengan pengembangan pertanian..

Banyak orang mengatakan bahwa jika manusia tidak melakukan eksploitasi sumberdaya alam dengan cara seperti yang telah dilakukan sejauh ini, kita masih akan tinggal di gua-gua dan memburu binatang liar dengan tombak yang ujungnya dipasangi batu yang tajam. Tidak dapat diragukan, memang agaknya akan demikian.

Walaupun demikian , apakah kenyataan memperlakukan alam yang dipandang merupakan fase yang (“katanya”) telah “memajukan” umat manusia sampai sejauh ini, yang kecenderungannya masih akan terus berlanjut, di hari esok dapat terus berlanjut dengan tidak lagi menghasilkan dampak dan/atau dampak ikutan yang merugikan.

 

dipetik dan diterjemahkan dari buku Environmental Science, The Way The World Works, Bernard J. Nebel & Richard T. Wright, PRENTICE HALL, Upper Saddle River – New Jersey, 1998, sixth Edition , halaman 46 – 48.

KLH 11 – ……… kemanusiaan sedang di persimpangan jalan ………….

Kemanusiaan sedang di persimpangan jalan menghadapi suatu konsekuensi yang sangat besar , yang tidak pernah dihadapi dalam peradaban manusia sebelumnya serangkaian permasalahan se-kritis seperti yang dihadapi dewasa ini. Sebagaimana menakutkan dan mengisyaratkan serta sebagaimana yang dirasakan, yang terpancang adalah : masalah kebertahanan hidup global umat manusia di dunia ini.

…………..suatu kenyataan yang dengan cepat berakumulasi adalah pengaruh manusia terhadap alam telah sampai pada suatu titik dimana kekuatan-kekuatan alam akan segera menjadi kewalahan. Hanya baru-baru saja penduduk bumi mulai menyadari seriusnya bahaya yang mungkin timbul sebagai akibat dari berbagai tindakan manusia di planet kita ini………………… Para Ilmuwan di seluruh dunia, di setiap negara di bumi ini, sedang men-dokumentasi-kan bahaya-bahaya yang akan timbul bila mengabaikan ketergantungan kita terhadap dunia alami……….. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, kemanusian harus menghadapi risiko akibat perusakan / kerusakan fondasi-fondasi hidup di dunia yang dilakukan secara tidak sengaja oleh manusia itu sendiri…………….

Yang tertulis diatas dibawah ini adalah petikan dari versi singkatan yang dibuat oleh Daniel Sitarz (Agenda 21, Boulder, CO : Earth Press, 1993, pp. 1-5). Agenda 21 adalah dokumen resmi yang di-tanda-tangan-i oleh pemimpin-pemimpin dunia yang mewakili 98 persen negara-negara di dunia pada United Nations Earth Summit (Konferensi Tingkat Tinggi Dunia Perserikatan Bangsa-bangsa) yang diselenggarakan di Rio de Janeiro, Brazil, pada bulan Juni tahun 1992.

Agenda 21 adalah dokumen harapan yang pertama dan terpenting …………… Dokumen ini merupakan rencana global utama untuk memerangi dan mengatasi masalah-masalah ekonomis dan ekologis di akhir abad ke 20. Dokumen ini menyajikan cetak biru yang komprehensif untuk kemanusiaan untuk dapat menempa jalannya kehidupan (kelakuan) manusia menuju abad yang akan datang dengan berkelakuan lebih halus terhadap dunia ………………..

Agenda 21 bukanlah dokumen yang sifatnya statis. Dokumen ini merupakan suatu rencana tindak (plan of action). Dokumen ini dimaksudkan dapat menjadi instrument yang diteruskan (diwariskan) untuk dapat menjadi panduan pengembangan dunia dengan cara yang sustainable ………………

Dokumen ini didasarkan pada pemikiran bahwa pengembangan dunia yang sustainable bukanlah satu pilihan sederhana : ini adalah suatu kebutuhan (persyaratan) – suatu kebutuhan yang bebannya bertambah berat akibat keterbatasan alam untuk meredam hukuman yang timbul akibat manusia telah melakukan kesalahan terhadapnya. Agenda 21 juga didasarkan pada pemikiran bahwa pengembangan dunia yang sustainable sepenuhnya masih mungkin dilakukan.

………………………….. isu-isu kemiskinan, pertambahan penduduk, pengembangan industri, semakin berkurangnya sumberdaya alam dan perusakan lingkungan, kesemuanya sangat erat saling terkait.

 

dipetik dan diterjemahkan dari buku Environmental Science, The Way The World Works, Bernard J. Nebel & Richard T. Wright, PRENTICE HALL, Upper Saddle River – New Jersey, 1998, sixth Edition , halaman 15.

KLH 10 – lingkungan hidup yang “sustainable”

Suatu sistem atau proses dikatakan sustainable apabila, dalam waktu yang tak terbatas, sumberdaya material dan energi yang diperlukan untuk tetap beroperasi atau berfungsi secara terus menerus (berkesinambungan) tidak pernah semakin berkurang.

Istilah sustainable pertama kali dipakai dalam kaitannya dengan gagasan sustainable yield dalam berbagai upaya manusia seperti misalnya dalam usaha kehutanan dan perikanan.

Dengan maksud agar populasi-nya tetap terjaga secara seimbang, pepohonan, ikan, dan species biologis lainnya diupayakan untuk mungkin tumbuh dan berkembang biak dengan laju lebih cepat dibandingkan terhadap yang dibutuhkan (dipanen).

Dengan upaya seperti yang diuraikan diatas, dimungkinkan untuk memanen pepohonan atau ikan sejumlah persentase tertentu di setiap jangka waktu tertentu tanpa semakin membuat luas hutan semakin berkurang atau populasi ikan menjadi dibawah suatu angka dasar tertentu.

Sepanjang jumlah yang dipanen tetap menyisakan populasi yang memadai untuk tumbuh dan mengganti yang hilang dengan sendirinya, praktek pemanenan seperti ini tetap dapat terus dilakukan sampai kapanpun. Cara pemanenan yang demikian ini dikatakan sustainable yield.

Konsep sustainable yield
juga berlaku untuk kasus pasok air tawar, eksploitasi lahan, dan kemampuan sistem alam seperti atmosfir atau sungai untuk menyerap pollutant (bahan yang mencemari)
tanpa menjadi rusak.

Kecenderungan global pertambahan penduduk, degradasi lahan, pemanasan global dan loss of biodiversity (hilang/turun-nya keragaman hayati) , ke-empat-empat-nya dapat dilihat sebagai contoh-contoh yang menuju keluar batas “sustainable yield” , ke-empat hal tersebut tidak sustainable..

Mengembangkan konsep sustainability lebih lanjut, kita dapat menyebut masyarakat yang sustainable (sustainable society) sebagai suatu masyarakat yang, dari satu generasi ke generasi selanjutnya :

  • tidak pernah mengalami keadaan semakin menipis atau semakin habisnya berbagai sumberdaya dasar yang ia butuhkan sebagao akibat dari terlampauinya (akibat kegiatan mereka) ambang batas sustainable yields, dan juga
  • tidak menghasilkan pollutants (bahan-bahan yang mencemari) lebih banyak dari kemampuan (kapasitas) alam untuk menyerap , menetralisir , dan/atau “menguraikan” -nya.

Dalam pengertian tradisional, kita mungkin masih mengartikan kata development ( pengembangan / pembangunan ) identik dengan pembabatan bersih areal alami agar tersedia ruang untuk lebih banyak pusat perbelanjaan, jalur-jalur perumahan, atau tanah-tanah untuk pertanian, suatu proses yang telah sangat jelas non-sustainable untuk kurun waktu jangka panjang.

Kita perlu memikirkan development ( pengembangan / pembangunan ) dalam pengertian yang lebih luas yang memperhatikan prinsip-prinsip sustainability.

Konsep sustainable development haruslah tidak di-sama-arti-kan dengan gagasan kembali ke status kebudayaan primitif “hidup harmonis dengan alam” karena hidup yang demikian ini pada kenyataannya melibatkan penderitaan, ke-tidak-nyaman-an, kesakitan, tingkat kematian bayi yang tinggi, dan usia kematian yang lebih dini

dipetik dan diterjemahkan dari buku Environmental Science, The Way The World Works, Bernard J. Nebel & Richard T. Wright, PRENTICE HALL, Upper Saddle River – New Jersey, 1998, sixth Edition , halaman 14 – 16.

KLH 09 – ………….. juga menjuruskan kita semua ke jurang malapetaka ……..

 

…………. sama sekali bukanlah maksud para environmentalist mengecilkan arti kapasitas orang untuk berkiprah dalam kemajuan teknologi, namun ingin mengingatkan bahwa : optimisme yang berlebihan dan berjuang habis-habisan memajukan teknologi, disamping, tak dapat dipungkiri, menghasilkan berbagai macam kemajuan, namun juga menjuruskan kita semua ke jurang malapetaka.

 

……………… kecenderungan global pertumbuhan populasi manusia dan meningkatnya konsumsi per orang, degradasi tanah, perubahan atmosfir global, serta hilangnya (berkurangnya) keragaman hayati (loss of biodiversity) merusak kesinambungan kelestarian lingkungan hidup (un-sustainable).

Kecenderungan ini seluruhnya dalam perjalanan yang saling berbenturan, tidak hanya dengan kebutuhan manusiawi dasar, namun juga dengan sistem-sistem mendasar yang fungsinya menjaga planet kita tetap sebagai tempat hidup yang memberikan kenyamanan.

Planet yang ada batasnya ini tak akan mampu menampung tambahan hampir 90 juta jiwa per tahunnya, dan juga tidak dapat mentolerir berbagai bentuk kehilangan tanah, perubahan atmosfir, kepunahan berbagai species, serta semakin menipisnya sumberdaya air yang berlangsung sejauh ini, tanpa menjurus pada satu keadaan dimana sumberdaya yang ada menjadi tidak lagi memadai untuk mendukung kehidupan populasi manusia.

Environmentalist yakin bahwa dewasa ini ada yang berbeda dibanding dengan yang ada di saat-saat yang lampau, yaitu :

  • tekanan terhadap lingkungan terus semakin besar lebih cepat dari yang terjadi sebelumnya,
  • kita telah sampai pada situasi dimana pemecahan dengan (kemajuan) teknologi telah sampai pada batas maksimumnya.

Dengan teknologi, manusia telah melakukan mekanisasi pertanian, meng-irigasi lahan kering, menambahkan pupuk kimia kedalam tanah, mengembangkan varietas tanaman baru yang lebih produktif, meningkatkan hasil tangkapan ikan dengan metoda-metoda baru penangkapan ikan.

Environmentalist melihat suatu kenyataan bahwa semua teknik-teknik ini telah semakin mendekati potensi maksimalnya, sebagai contoh :

  • karena ketersediaan air yang semakin terbatas (dibanding dengan jumlah manusia yang semakin bertambah dan jumlah air yang telah dimanfaatkan, perubahan pola iklim, dll…) irigasi akan menjadi semakin sulit atau tidak lagi dapat dikembangkan atau diperluas,
  • tidak lagi dapat (akan semakin sulit) dijumpai varietas unggul yang hasilnya dua kali lipat dari yang telah ada sekarang,
  • telah banyak tempat penangkapan ikan yang ikannya telah semakin berkurang (telah overfished),
  • dst……

Telah nampak kecenderungan bahwa tingkat produksi per kapita menjadi leveling off dan bahkan menurun.

dipetik dan diterjemahkan dari bukuEnvironmental Science, The Way The World Works, Bernard J. Nebel & Richard T. Wright, PRENTICE HALL, Upper Saddle River – New Jersey, 1998, sixth Edition , halaman 13-14.

KLH 08 – apakah penting memelihara kelestarian keragaman hayati ?

Keragaman hayati (bio diversity) merupakan landasan utama dapat hidup, tumbuh dan berkembangnya dunia tanaman pertanian dan obat-obat-an. Hilang atau berkurangnya keragaman hayati akan berpengaruh besar terhadap hidup, tumbuh dan berkembangnya dunia tanaman pertanian dan obat-obat-an.Keragaman hayati merupakan faktor kritis dalam memelihara keseimbangan sistem alam dan memungkinkan terjadinya suatu perbaikan kembali setelah terjadinya kerusakan seperti terjadinya kebakaran atau meletusnya gunung berapi

Bersamaan dengan meningkatnya populasi manusia (ledakan jumlah penduduk) yang demikian cepat, yang juga diiringi dengan konsumsinya yang meningkat, terjadi percepatan konversi (perubahan) hutan, lahan-lahan semak belukar dan lahan-lahan basah untuk pengembangan pertanian dan permukiman. Akibat yang tak terhindarkan adalah :

  • terbasminya tumbuhan dan binatang liar yang bermukim hidup di habitat alami tersebut. Bila species yang terbasmi tersebut tidak terdapat di lokasi lain, maka perubahan habitat yang terjadi telah merupakan malapetaka yang memunahkan species tersebut.
  • Polusi yang merubah habitat-habitat aquatis dan laut – menghancurkan berbagai macam species yang menempati habitat-habitat tersebut.
  • ratusan species binatang menyusui, reptil, binatang amfibi, ikan, burung, kupu-kupu, dan sejumlah tumbuhan yang jumlahnya tak terhitung di-eksploitasi untuk keuntungan-keuntungan komersial, walaupun species-species tersebut dilindungi dengan hukum, perburuan, pembunuhan, dan pemasarannya masih terus berlangsung secara ilegal.

Diperkirakan dunia dengan cepat kehilangan banyak species – sebanyak 17 500 species per tahun.

Istilah yang dipakai untuk menyebut keragaman total makhluk hidup (tumbuhan, binatang dan mikroba) yang mendiami planet adalah biodiversity (keragaman hayati).

Kurang lebih 1.75 juta species telah teridentifikasi, namun para ilmuwan memperkirakan bahwa masih ada 100 juta species lagi yang belum teridentifikasi. Karena demikian banyaknya species belum teridentifikasi, jumlah yang tepat species yang punah hanyalah dapat diperkirakan.

Pada saat ini hilang atau berkurangnya keragaman hayati berlangsung semakin cepat dengan semakin maraknya kejadian perubahan habitat, polusi (pencemaran) dan berbagai macam bentuk tekanan untuk berbagai kepentingan eksploitasi.

Mengapa hilangnya (berkurangnya) keragaman hayati demikian kritis ?

Di satu sisi, seluruh tumbuhan dan binatang domestik yang dipakai dalam pertanian berasal dari species liar, dan kita masih memerlukan pemasukan gen dari species liar kedalam species-species domestik agar species domestik tetap produktif dan lebih mampu bertahan terhadap berbagai kondisi. Di sisi yang lainnya, antara tahun 1959 s.d. 1980, 25 % bahan dasar obat-obat-an bahan adalah dari berbagai tumbuhan.

dipetik dan diterjemahkan dari buku Environmental Science, The Way The World Works, Bernard J. Nebel & Richard T. Wright, PRENTICE HALL, Upper Saddle River – New Jersey, 1998, sixth Edition, halaman 12.

KLH 07 – pemanasan global gara-gara produsi asap CO2 semakin meningkat

Kegiatan umat manusia, termasuk pembakaran bahan bakar fosil ………………. semakin meningkatkan konsentrasi greenhouses gases (gas-gas rumah kaca) dalam atmosfir. Perubahan ini ………….. diproyeksikan akan merubah keadaan iklim regional maupun global, serta juga parameter-parameter yang terkait dengan iklim seperti : temperatur, presipitasi, kelembaban tanah dan muka laut.

Dalam sejarahnya semula, polusi dipandang relatif merupakan masalah lokal, hanya sebatas bentang sungai, danau atau pantai tertentu, atau udara di suatu kota. Namun dewasa ini, para ilmuwan menganalisis polusi dalam skala global (dunia), dan yang telah menjadi kekhawatiran dan pusat perhatian diantaranya adalah : bahaya pemanasan global.

Produk ikutan yang tak terhindarkan dari “pembakaran” bahan bakar fosil (bensin dan bahan bakar cair lainnya yang berasal dari minyak mentah, batubara dan gas alam) adalah karbon dioksida (CO2).

Karbon dioksida merupakan komponen alam di lapisan atmosfir bawah disamping nitrogen dan oksigen. Bahan ini dibutuhkan tumbuhan untuk dapat berlangsungnya proses fotosintesa dan berperan penting dalam keseimbangan energy di muka bumi dan atmosfir.

Karbon dioksida bersifat transparan terhadap cahaya yang berasal dari matahari, tapi menyerap energi inframerah (panas) yang di-radiasi-kan dari permukaan bumi, jadi menunda pelepasannya ke angkasa raya. Proses ini menghangatkan (lebih memanaskan) lapisan bawah atmosfir, dimana proses yang demikian ini disebut sebagai efek rumah kaca (greenhouse effect).

Walaupun konsentrasi karbon dioksida berpersentasi kecil dalam atmosfir, perubahan kecil dalam volumenya akan berpengaruh terhadap temperatur.

Karena banyaknya jumlah bahan bakar fosil telah ter(di)bakar sejauh ini, kadar karbon dioksida didalam atmosfir telah meningkat dari 280 ppm (part per million), atau 0.028 % pada tahun 1900, menjadi lebih dari 370 ppm menjelang akhir abad XX (menjelang tahun 2000).

Kadar karbon dioksida meningkat rata-rata 4 % per tahun dan diprakirakan akan menjadi dua kalinya dalam abad mendatang.

Kesimpulan dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), yang dipublikasikan tahun 1995, menyatakan bahwa :

Kegiatan umat manusia, termasuk pembakaran bahan bakar fosil ………………. semakin meningkatkan konsentrasi greenhouses gases (gas-gas rumah kaca) dalam atmosfir. Perubahan ini ………….. diproyeksikan akan merubah keadaan iklim regional maupun global, serta juga parameter-parameter yang terkait dengan iklim seperti : temperatur, presipitasi, kelembaban tanah dan muka laut.

dipetik dan diterjemahkan dari buku Environmental Science, The Way The World Works, Bernard J. Nebel & Richard T. Wright, PRENTICE HALL, Upper Saddle River – New Jersey, 1998, sixth Edition, halaman 10

KLH 04 – kecenderungan global kerusakan lingkungan

Manusia tambah banyak, makin “maju”, namun juga makin cenderung merusak lingkungan, ……… penurunan kualitas (rusaknya) lingkungan hidup sangat terkait dangan empat kecenderungan global sebagai berikut :

  • pertumbuhan populasi manusia (ledakan peningkatan jumlah penduduk) dan meningkatnya konsumsi per orang,
  • degradasi tanah,
  • perubahan atmosfir global, dan
  • hilangnya (berkurangnya) keragaman hayati

Bagaimanakah dunia ini dapat mendukung populasi manusia yang diprakirakan akan menjadi dua kali lipat dalam 50 tahun mendatang, dimana pada saat yang bersamaan standar hidupnya-pun meningkat.

Di mana-mana di dunia, kita saksikan : cadangan air tanah semakin tipis, terjadi degradasi tanah-tanah pertanian, penangkapan ikan di laut telah banyak yang melampaui batas, cadangan minyak bumi semakin menipis, hutan banyak yang ditebangi dengan kecepatan melebihi kemampuan untuk menumbuhkannya kembali

Sumberdaya-sumberdaya vital ditekan oleh kebutuhan ganda : populasi yang meningkat (ledakan jumlah penduduk) dan meningkatnya tingkat konsumsi per jiwa.

Populasi dunia mulai tumbuh dengan cepat di awal tahun 1800-an dan telah berkembang 6 kali lipat dalam 200 tahun terakhir. Yang demikian ini berlanjut tumbuh hampir 88 juta jiwa per tahun.

Populasi manusia di dunia pada tahun 1998 adalah 6 milyar jiwa, yang dari 25 tahun sebelumnya telah bertambah sebanyak 2 milyar jiwa. Pertumbuhan populasi ini masih akan berlangsung dengan lebih cepat dibanding masa-masa sebelumnya, bertambah hampir 88 juta jiwa per tahunnya.

Walaupun laju pertambahan penduduk berangsur-angsur melambat, populasi dunia pada tahun 2050 diprakirakan akan mencapai 10 milyar jiwa. Masing-masing orang akan mempunyai kebutuhan tertentu akan sumberdaya yang ada di dunia ini dan kebutuhan ini cenderung semakin besar menurut tingkat kemakmuran.

………berjuta hektar lahan pertanian terdesak oleh berbagai macam apa yang disebut sebagai pengembangan / pembangunan………..

Tanah yang subur merupakan fondasi untuk dapat tumbuhnya tanaman dan produksi pangan , namun yang masih terus berlangsung sejauh ini di seluruh dunia :

  • banyak terjadi degradasi tanah akibat erosi,
  • semak belukar berubah menjadi padang tandus,
  • lahan-lahan beririgasi tanahnya menjadi mengandung kadar garam yang terlampau tinggi bagi dapat tumbuhnya tanaman,
  • ketersediaan pasok air untuk irigasi menjadi semakin berkurang, dan
  • berjuta hektar lahan pertanian terdesak oleh berbagai macam apa yang disebut sebagai pengembangan / pembangunan.

Kegiatan umat manusia, termasuk pembakaran bahan bakar fosil ………………. semakin meningkatkan konsentrasi greenhouses gases (gas-gas rumah kaca) dalam atmosfir. Perubahan ini ………….. diproyeksikan akan merubah keadaan iklim regional maupun global, serta juga parameter-parameter yang terkait dengan iklim seperti : temperatur, presipitasi, kelembaban tanah dan muka laut.

Dalam sejarahnya semula, polusi dipandang relatif merupakan masalah lokal, hanya sebatas bentang sungai, danau atau pantai tertentu, atau udara di suatu kota. Namun dewasa ini, para ilmuwan menganalisis polusi dalam skala global (dunia), dan yang telah menjadi kekhawatiran dan pusat perhatian diantaranya adalah : bahaya pemanasan global.

Produk ikutan yang tak terhindarkan dari “pembakaran” bahan bakar fosil (bensin dan bahan bakar cair lainnya yang berasal dari minyak mentah, batubara dan gas alam) adalah karbon dioksida (CO2).

Karbon dioksida merupakan komponen alam di lapisan atmosfir bawah disamping nitrogen dan oksigen. Bahan ini dibutuhkan tumbuhan untuk dapat berlangsungnya proses fotosintesa dan berperan penting dalam keseimbangan energy di muka bumi dan atmosfir.

Karbon dioksida bersifat transparan terhadap cahaya yang berasal dari matahari, tapi menyerap energi inframerah (panas) yang di-radiasi-kan dari permukaan bumi, jadi menunda pelepasannya ke angkasa raya. Proses ini menghangatkan (lebih memanaskan) lapisan bawah atmosfir, dimana proses yang demikian ini disebut sebagai efek rumah kaca (greenhouse effect).

Walaupun konsentrasi karbon dioksida berpersentasi kecil dalam atmosfir, perubahan kecil dalam volumenya akan berpengaruh terhadap temperatur.

Karena banyaknya jumlah bahan bakar fosil telah ter(di)bakar sejauh ini, kadar karbon dioksida didalam atmosfir telah meningkat dari 280 ppm (part per million), atau 0.028 % pada tahun 1900, menjadi lebih dari 370 ppm menjelang akhir abad XX (menjelang tahun 2000).

Kadar karbon dioksida meningkat rata-rata 4 % per tahun dan diprakirakan akan menjadi dua kalinya dalam abad mendatang.

Kesimpulan dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), yang dipublikasikan tahun 1995, menyatakan bahwa :

Kegiatan umat manusia, termasuk pembakaran bahan bakar fosil ………………. semakin meningkatkan konsentrasi greenhouses gases (gas-gas rumah kaca) dalam atmosfir. Perubahan ini ………….. diproyeksikan akan merubah keadaan iklim regional maupun global, serta juga parameter-parameter yang terkait dengan iklim seperti : temperatur, presipitasi, kelembaban tanah dan muka laut

dipetik dan diterjemahkan dari buku Environmental Science, The Way The World Works, Bernard J. Nebel & Richard T. Wright, PRENTICE HALL, Upper Saddle River – New Jersey, 1998, sixth Edition, halaman 9 – 10.

KLH 03 – CELAKA kalau banyak orang bersikap : “AH TIDAK APA-APA , CUMA SEDIKIT KO “

walaupun kontribusi pencemaran yang dari setiap masing-masing-nya kecil, apabila polusi yang dihasilkan dari masing-masing ini dijumlahkan keseluruhannya, ternyata : banyak yang telah menunjukan angka-angka indikator tingkat pencemaran yang membahayakan.

Di awal keadaan dimana lingkungan mulai dipermasalahkan, yang terutama dipermasalahkan adalah : sumber permasalahan yang sangat spesifik dan jelas terlihat, dengan demikian sangat mudah untuk menunjuk apa dan siapa pencemar tersebut kemudian mengambil tindakan-tindakan yang dipandang perlu.

Penanggulangan permasalahan relatif sangat jelas, seperti : buat bangunan pengolah limbah, pasang alat pengontrol polusi, hentikan penggunaan DDT ganti dengan pestisida yang lebih aman dll… .

Sumber-sumber pencemar lingkungan yang mudah ditunjuknya semacam ini disebut sebagai point sources.

Untuk point sources ini, teoritis, sangat mungkin untuk memperoleh perbaikan dengan membebankan segala perbaikan yang perlu kepada si Point-Sources tersebut.

Namun, kemudian ternyata, disamping penangganan terhadap Point Sources seperti dimaksud diatas, penanganan terhadap apa yang disebut sebagai Diffuse Sources juga telah menjadi sangat perlu dilakukan.

Yang dimaksud dengan Diffuse Sources disini adalah : sumber-sumber pencemaran seperti sampah, mobil yang mengeluarkan CO2 , kebun dan lahan-lahan pertanian yang kelebihan pemakaian pupuk dan pestisida-nya terbawa aliran air, dll…..

Walaupun kontribusi pencemaran yang dari setiap masing-masing-nya kecil, namun apabila polusi yang dihasilkan dari masing-masing ini dijumlahkan keseluruhannya, ternyata : banyak yang telah menunjukan angka-angka indikator tingkat pencemaran yang membahayakan.

 

dipetik dan diterjemahkan dari buku Environmental Science, The Way The World Works, Bernard J. Nebel & Richard T. Wright, PRENTICE HALL, Upper Saddle River – New Jersey, 1998, sixth Edition, halaman 8.

KLH 02 – kemajuan teknologi mendukung terjadinya krisis lingkungan ?

Haruslah disadari bahwa apa yang dikatakan sebagai kemajuan teknologi, adalah hal yang sangat jelas ikut mendukung terjadinya krisis lingkungan.

Walaupun kemajuan ekonomi telah memungkinkan banyak orang memiliki rumah, mobil, dan lain-lain kepemilikan lainnya, ada suatu masalah yang semakin nyata :

  • Udara di dan di sekitar kota-kota menjadi kotor dan menggangu mata dan sistem pernafasan.
  • Sungai-sungai dan pesisir semakin banyak dijejali sampah, limbah dan buangan-buangan bahan kimia.

Pencemaran dan kontaminasi udara, lahan dan air yang demikian ini sangat berpengaruh merugikan terhadap sistem makhluk hidup.

dipetik dan diterjemahkan dari buku Environmental Science, The Way The World Works, Bernard J. Nebel & Richard T. Wright, PRENTICE HALL, Upper Saddle River – New Jersey, 1998, sixth Edition 1, halaman 6 – 7.

KLH 01 – implikasi tebang pohon dan babat habis hutan

……….. manusia dalam perkembangan kehidupannya, menebangi pohon untuk keperluan pertanian dan bahan bangunan, bahkan membabat habis seluruh hutan.

Tanpa akar tumbuhan, lahan yang “dibabat” ini tidak akan mampu menahan air, serta akan membawa tanah terbawa hanyut ke laut, membunuh ikan dan kerang yang ada di sekitar pantai.

Hamparan tanah yang tererosi akan menjadi keras dan kering pada saat tidak ada hujan (pada saat hari panas / musim kemarau) serta menjadi sangat kurang mendukung keberhasilan pertanian.

Dengan semakin berkurangnya hutan maka akan semakin rusak pula sumberdaya lahan dan sumberdaya air.

Segala upaya untuk mengadakannya kembali , menjadikannya kembali seperti semula akan semakin dan semakin mahal sulit serta imbalan (revenue/pengembalian kapital) yang dapat diperoleh dari upaya yang dilakukan akanlah semakin sedikit dan tidak sepadan, namun itulah harga yang harus dibayar untuk perbaikan suatu kerusakan.

Setiap orang yang hidup sangat tergantung pada sistem lingkungan, untuk memenuhi kebutuhannya akan : energi, makanan, oksigen, air dan terolahnya limbah, namun masih banyak orang yang belum memahami implikasi tindakan-tindakannya terhadap lingkungan.

 

dipetik dan diterjemahkan dari buku Environmental Science, The Way The World Works, Bernard J. Nebel & Richard T. Wright, PRENTICE HALL, Upper Saddle River – New Jersey, 1998, sixth Edition, halaman 5.

jojodog tipe 14

jojodog tipe 14 terbuat dari kayu bekas peti kemas ( pinus ) , tinggi jojodog 48 cm

jojodog tipe 13 – kualitas foto butut

jojodok type 13 dibuat dari kayu kelebihan pembuatan lantai kayu (parket), tinggi jojodog 42 cm

KLH 01 – implikasi tebang pohon dan babat habis hutan

……….. manusia dalam perkembangan kehidupannya, menebangi pohon untuk keperluan pertanian dan bahan bangunan, bahkan membabat habis seluruh hutan.

Tanpa akar tumbuhan, lahan yang “dibabat” ini tidak akan mampu menahan air, serta akan membawa tanah terbawa hanyut ke laut, membunuh ikan dan kerang yang ada di sekitar pantai.

Hamparan tanah yang tererosi akan menjadi keras dan kering pada saat tidak ada hujan (pada saat hari panas / musim kemarau) serta menjadi sangat kurang mendukung keberhasilan pertanian.

Dengan semakin berkurangnya hutan maka akan semakin rusak pula sumberdaya lahan dan sumberdaya air.

Segala upaya untuk mengadakannya kembali , menjadikannya kembali seperti semula akan semakin dan semakin mahal sulit serta imbalan (revenue/pengembalian kapital) yang dapat diperoleh dari upaya yang dilakukan akanlah semakin sedikit dan tidak sepadan, namun itulah harga yang harus dibayar untuk perbaikan suatu kerusakan.

Setiap orang yang hidup sangat tergantung pada sistem lingkungan, untuk memenuhi kebutuhannya akan : energi, makanan, oksigen, air dan terolahnya limbah, namun masih banyak orang yang belum memahami implikasi tindakan-tindakannya terhadap lingkungan.

 

dipetik dan diterjemahkan dari buku Environmental Science, The Way The World Works, Bernard J. Nebel & Richard T. Wright, PRENTICE HALL, Upper Saddle River – New Jersey, 1998, sixth Edition, halaman 5.

teknik pelengkungan kayu LEM-TEKUK-JEPIT

zip-damned-0148.jpg

zip-damned-0149.jpg  zip-damned-0151.jpg  zip-damned-0280.jpg  zip-damned-0279.jpg  zip-damned-0281.jpg  zip-damned-0282.jpg  zip-damned-0283.jpg

Design a site like this with WordPress.com
Get started