I was busy 😀
Baru sadar papan status di pesan instan masih ‘busy’ melulu. Untung diingetin teman (yang juga ‘lupa’ udah holiday season. Ow, come’ on. It’s holiday! Celebrate the life!
I was busy 😀
Baru sadar papan status di pesan instan masih ‘busy’ melulu. Untung diingetin teman (yang juga ‘lupa’ udah holiday season. Ow, come’ on. It’s holiday! Celebrate the life!
Kalau buncis itu kacang, maka buncah adalah perasaan gua saat ini. Buncah, karena ada yang sesak dalam diri. Energi yang sesak, mendesak, meledak-ledak. Masa ajeb-ajeb yang baru usai masih belum menyalurkan seluruh energi. Masih belum “turun”, masih jaim, masih ingat daratan. Tapi cukuplah untuk mengembalikan memori masa muda hehe..
 Sebetulnya sih, gua percaya muda itu urusan state of mind. Berapa banyak elu lihat orang muda yang menyia-nyiakan kebeliaannya, sementara yang renta malah tegar bersemangat. Tapi semangat di perempatan hidup sepertinya belum cukup. Perlu pikiran jangka panjang, dan mungkin juga peruntungan. Perlu juga menentukan mau menapaki jalan sambil merangkak, berlari, atau berputar-putar.
Yang terakhir itu, meskipun bukan pilihan, kayaknya sedang gua jalani. Agak menyebalkan, serasa disorientasi. Apa gua pakai peta yang salah? Sepertinya sih gua sedang berjalan terus ke Utara. Mungkin pengaruh romatisme yang bikin gue terus ngalor. Tapi apa perlu ngidul hanya karena alasan pragmatis. Hmm, tambah runyam ini tulisan. Cogito ergo doleo. Gua tambah quote yang enggak nyambung sekalian deh, hehe
“Any man who is under 30, and is not a liberal has no heart; and any man who is over 30, and is not a conservative, has no brains” –Sir Winston Churchill   Â
 Biar tambah kacau, mari kita menyanyi.. Hear me in the harmony-nya Harry Connick, Jr. The city don’t even matter, I could be anywhere, I don’t care, There’s a whole lotta hard workin people That could take my place, And it’s easy to leave, When nobody knows your face, Just close your eyes, You can hear me in the harmonyI came up in New Orleans, Fixin what I could find, To peace my mind, I gave what I had to the winners, Just to get along, But it’s really hard to sing, When nobody hears your song, Just close your eyes, You can hear me in the harmonyI thought I learned from getting burned, I bought a suit of armor and a silver cane, I found a little man who’d be proud of me, But he had to get up early, And I had to get back to my painI guess I’ll keep on livin, One day they’ll ask for me, I’ll be free, And if there’s a heaven, I’ll be ready for my life to begin, But I wonder if I call, If they’re gonna let me in, Open your eyes, You can hear me in the harmony
Well, past midnight actually. It’s really good to be at the beach tonight. There was quite a crowd (it’s Saturday night!) but you could feel the serenity comes from the ocean. With the * in hand, the night pass by quickly and it’s suddenly raining. But it’s quite enough to fresh up my spirit that’s wore down throughout the Conference. And I’m sorry that I wasn’t really into the conference. I was busy running here and there for whatever errands ahead.
This is really an exhaustive week, but more should come. There’s not much progress yet on the negotiation. But lets save it ’til Monday. So, tomorow –I mean, this morning, we’ll go to Ubud and elsewhere. I really hope that we could have some more fun.
Laba-laba yang cantik ya? Terlihat kejam peristiwa pemangsaan ini. Tapi ingat saja kita pun sering makan mahluk lain, entah berkaki, tidak berkaki, atau malah berfotosintesis. Yang jelas, tangan ini gatal-gatal setelah mengambil gambar. Mungkin bulu-bulu yang terbang hinggap ke tangan. Waktu itu cuaca memang cukup berangin jadinya si laba-laba berayun ke sana ke mari. Cukup sulit buat mengambil fotonya. Silakan klik foto untuk melihat versi citra yang lebih besar.
Semoga tidak mengurangi selera makan 🙂
Taman Nasional Meru Betiri..
Berhubung lagi sering berkelana masuk ke luar gedung. Jadi kangen masuk ke luar hutan…
May Day telah berlalu. Telah berlalu pula kah ingatan akan hak-hak buruh? Pengusaha mungkin berusaha melupakan, karena mereka sendiri pusing dengan iklim usaha yang relatif mandeg. Para pejabat mungkin lebih ingat dengan penantian reshuffle kabinet. Saya sendiri, terus terang, lebih ingat dengan berbagai hal yang belum selesai. So little time so much to do. Biar begitu, unite!
Foto di atas adalah jeritan hati yang mungkin lebih menyedihkan dari jeritan buruh yang berdemo. Karena dianggap sebagai buruh pun rasanya tidak. Jika ya, mengapa majikan tidak menghargai mereka? Hanya jeritan di ruang gelap yang bisa ditulis. Dan saya yakin sang majikan tidak akan pernah melihat tulisan itu karena letaknya cukup tersembunyi. Walaupun ironisnya, di balik dinding tersebut tersimpan kemegahan suatu kota di negeri ini.
Thanks to zooomr for photo storage.
Waduh, banyak sekali yang ingin ditulis tapi (seperti biasa) belum sempat. Tapi kata orang sih a picture’s worth a thousand words. Jadi, nikmati saja citra-citranya di zooomr (`o’ nya ada tiga) ya, cerita-ceritanya menyusul 😉
Yang saya tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Laporan ilmiah pertama mengenai spa lumpur bakrie yang kesohor itu dalam edisi Februari 2007 jurnal Geological Society of America (abstrak). Sebelumnya, laporan ilmiah saya definisikan sebagai laporan dalam jurnal ilmiah yang peer-reviewed. Memang banyak kritik yang disodorkan terhadap mekanisme peer-reviewed itu (baik yang rasional maupun cuma nyinyir), tapi itulah mekanisme terbaik untuk menghadirkan laporan rasional-objektif saat ini.
Spa lumpur Sidoarjo alais Lusi ini sudah jelas menyengsarakan banyak orang di sana. Yang kemudian menjadi masalah adalah siapa yang seharusnya bertanggungjawab terhadap kejadian tersebut. Beberapa pemberitaan mengatakan PT Lapindo akan memberikan kompensasi sebagai bentuk tanggungjawab. Namun belakangan diberitakan pula bahwa kejadian tersebut adalah bencana alam, sampai bule-bule bertanya Indonesian mud volcano is natural disaster? Apa betul bukan karena kelalaian manusia?
Beberapa upaya telah dilakukan untuk mengatasi erupsi lumpur tersebut namun hingga kini masih mengalami kebuntuan. Upaya mengurangi luasan lumpur juga bukannya tanpa hambatan karena dampak buruk bagi lingkungan masih ditanggapi secara berbeda. Beberapa kalangan menganggap apabila lumpur tersebut tidak bersifat toksik maka tidak masalah jika dibuang melalui sungai ke lautan. Namun kalangan yang memerhatikan lingkungan secara arif akan meninjau permasalahan tersebut dengan lebih luas. Karena masalahnya memang tidak sesempit atau sesederhana itu.
Lumpur yang dibuang memang boleh jadi tidak beracun (toksik), namun tidak berarti tidak mungkin terjadi efek buruk terhadap lingkungan hidup dan manusia. Seperti air hujan yang juga (umumnya/mestinya) tidak toksik, apabila air tersebut menggenangi jalan, siapa yang tidak akan dongkol? Dalam kasus lumpur Sidoarjo, hal yang serupa bisa terjadi. Lumpur yang membawa padatan dapat menyebabkan perairan pesisir menjadi keruh sehingga menghalangi matahari masuk ke badan perairan. Kalau ini terjadi, maka tumbuhan renik seperti alga tidak dapat berkembang dalam air. Lalu mau makan apa hewan renik pemakan alga? Mau makan apa pula ikan-ikan yang biasa memakan alga atau zooplankton? Mau menangkap apa nelayan di sana? Tentu saja dugaan barusan perlu diteguhkan dengan penelitian. Dan semoga ada yang sedang menelitinya.
Kembali ke laptopLusi. Berhubung saya bukan geolog, terus terang saja saya tidak memahami rincian teknis dalam jurnal tersebut. Yang jelas, saya tangkap bahwa erupsi tersebut bukan diinisasi oleh gempa ataupun kejadian alami. Peneliti dari Durham tersebut memaparkan bahwa pengeboran yang dilakukan menyebabkan inisiasi erupsi. Sialnya, diprakirakan bahwa erupsi ini masih akan berlangsung dalam waktu yang lama.
Terus terang saya penasaran apa tanggapan para petinggi dan peneliti lain mengenai artikel ini. Namun yang saya harapkan adalah tanggapan atau koreksi terhadap jurnal ini disajikan dalam laporan ilmiah lain. Alih-alih pernyataan pers tebar-pesona lainnya. Dengan cara diskusi yang rasional dan beradab seperti itulah seharusnya bangsa kita mengembangkan diri. Jangan salahkan ‘alam’ kalau memang lalai. Mengikuti kebiasaan bang Timpakul, saya akhiri dengan: tak penting menyalahkan alam!
Dari blognya why, dia menemukan lowongan pekerjaan dengan syarat yang paling aneh pernah gua temukan. Horoskop! Yang melamar harus berhoroskop aquarius, gemini, leo, libra, atau sagitarius 😀 Yang janggal itu adalah setiap tahun batas horoskop itu sebenarnya berubah. Jadi di halaman iklan lowongannya misalnya dibilang lahir antara 23 September sampai 22 Oktober. Gua yakin itu maksudnya ingin pelamar yang horoskopnya libra. Tapi masalahnya yang lahir 23 September belum tentu libra. Karena batas libranya enggak selalu jam 12 malam, bisa 23 September jam 8 pagi, bisa jam 5 pagi dst.. tergantung tahun lahirnya lah. Kerjaan yang aneh… (dah ga musim ya ngomong xxx yang aneh? :P)
Pagi ini berjumpalitan mengimpor tulisan dari http://obot.f2o.org ke sini. Mau coba akses ke server f2o tapi timeout melulu. Boro-boro mau upgrade wp-nya atau instal plugin, akses juga sulit. Mending migrasi aja sekalian.. Akhirnya bisa akses impor database dan bisa bikin dump. Ya sudah deh. Nah, sekarang pertanyaannya adalah bagaimana ekspor dari situ ke wordpress.com? Fasilitas impor wp.com cuma dari blogspot/livejournal/wordpress lain. Nggak bisa dari dump database. Akhirnya setup instalasi wordpress baru (server lokal), restore hasil dump tadi ke instalasi baru, instal plugin ekspor di wp baru, baru deh ekspor lagi ke wp.com. Sisanya tinggal ngunggah gambar-gambar dan benerin tag/categories. Nanti saja deh. Paling sempatnya baru bulan depan 😀
Last Sunday night I was ready to bed but decided to listen to ‘late night jazz’ for a while before really sleepy. So I put at now + 30 minutes and sudo halt at konsole. Perhaps there was ‘sleep’ or ‘off’ plugins in Amarok but I don’t really care. So then I lay while listening to the soft soothing jazz. And suddenly it was morning already. And guess what. The playlist still played over and over.
Needless to say, it was not a quality sleep. I’ve probably sleeping while sing a long and humming with the tune through the night. Not the kind of sleep I expect. And it really shows since I was grumpy all day. It turn out that I forgot to put ^d after that halt code. Silly me. Perhaps I was already too sleepy then.